ABOUT ABNORMALITY – Chapter 3
Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi
Anime/Manga: Naruto
Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Rate: M.
Warning: OOC, OTP, miss typo.
.
.
.
Wajah Kakashi Hatake benar-benar sempurna. Tampan. Tidak –sangat tampan, malah. Dan Anko pikir menyembunyikan wajah semenarik itu bisa dikatakan sebagai sebuah tindakan kejahatan. Namun gadis itu benar merasa terpukau karenanya. Tanpa sadar ada sedikit tetesan darah keluar dari hidung mancungnya.
Darah? Ah!
"Kau mimisan, Anko" komentar Kakashi yang kini sudah menutupi wajahnya kembali. Menghilangkan pemandangan indah sempurna yang baru saja dilihat oleh Mitarashi. Sesuai perjanjian, Kakashi hanya membuka penutup wajahnya dalam waktu lima detik.
"Ah! A-apa iya?" ucap Anko cepat sembari menyapu cairan yang terasa kental –yang berada di bagian lubang hidungnya itu dengan punggung tangannya. 'Ah, aku ini payah!' celetuk batinnya sendiri memaki.
Kakashi geleng-geleng kepala melihatnya. Kenapa melihat wajahnya saja gadis itu sampai mimisan seperti itu? Apa ia tidak pernah melihat pria tampan? Ataukah wajahnya memang kelewat tampan? Hmm, mungkin saja makin lama tertutupi topeng, maka tingkat kesempurnaannya semakin tinggi. Jadi saat dibuka, akan mengeluarkan sinar –cahaya ajaib yang menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya.
Kakashi kemudian tertawa kecil, menertawakan kekonyolan temannya itu. Anko hanya menyengir tanpa dosa. Dan kemudian memberanikan diri untuk berucap.
"Wajahmu tampan seperti itu… Kenapa –kenapa masih belum punya pacar juga, Kakashi?" tanyanya takut-takut. Ia nekat. Ia benar-benar penasaran, tentu saja karena masih mengingat isi buku pedoman cinta barunya.
Masih ingat? Bukankah jika pria tampan menjomblo, itu adalah sesuatu yang pantas untuk dicurigai? Benar begitu, bukan.
Pacar? Kakashi membatin heran mendengarnya. "Memangnya harus ya?" ia balik bertanya. "Tentu saja!" potong Anko cepat.
Kakashi masih menatap Anko dengan malas. Masih dengan posisi duduknya di tepi tempat tidur, menatap Anko yang tengah berdiri lemas dari sudut matanya.
"Aku bisa menjadi pacarmu! Ah –maksudku, aku bisa mencarikan pacar untukmu!" ucap Anko yang tiba-tiba merasa sangat gugup karena tanpa sengaja nekat serta salah bicara. Aduhhh. Dan batin nona itu hanya bisa mengaduh penuh penyesalan. Rona merah masih setia pada pipi putihnya.
"Tidak usah, terima kasih. Perempuan itu merepotkan" sahut Hatake. Merepotkan? Kedua alis Anko pun bertaut paksa.
"Ma-maksudmu?"
Heran, apakah Kakashi kini sudah masuk ke dalam klan Nara, sampai-sampai menganggap sesuatu hal sebagai hal yang 'merepotkan'?
Kakashi menghela nafas, kemudian menatap bantal di kasurnya. "Sudahlah, pulang sana, Anko!" usirnya. "Aku mau tidur. Jangan sampai kau mengangguku lagi. Mengerti?" perintahnya tegas.
"Tapi kan…." Protes Anko lemah dalam nada suaranya.
"Tak ada tapi-tapian. Pulang saja sana!" Kakashi pun menutup perjumpaan mereka di malam itu dengan perintahnya, menyisakan Anko yang pulang dengan damai serta perasaan yang bercampur aduk.
.
.
.
'2. Lelaki dengan tubuh atletis, bahkan nyaris sempurna. Untuk apa mereka terus melatihnya? Jangan salah sangka, bukan wanita yang mereka ingin perdayai. Gender sesama mereka juga menyukainya. Justru pria yang rajin membentuk tubuhlah yang tidak kalah patut dicurigai. Semakin mantap tampilan otot-otot kekar mereka, maka mereka akan semakin percaya diri'.
Apa lagi ini? Masih ingat tidak? Ini adalah poin kedua dari acuan unik yang baru-baru ini mengilhami otak Anko. Acuan unik untuk mewaspadai apakah pasangan kita itu memiliki orientasi keromantisan yang menyimpang atau tidak.
"Aah, aku benar-benar bodoh karena masih mengingat isi buku itu!" Anko berkomentar menyadari kenaifannya. Kemudian ia mengingat-ingat lagi berbagai peristiwa dimasa lalu. Kakashi Hatake, pria itu memang bertubuh atletis. Dan….bagi Anko dia sangat seksi.
"Ah! Masa' sih?" Anko berbicara pada dirinya sendiri. Terbayang jelas di benaknya ketika pada saat-saat terdahulu ia melihat Kakashi sedang bertelanjang dada. Wow. Pemandangan yang indah bagi Anko.
Otot perut yang kokoh, dada bidang yang menggairahkan. Dan lengannya yang sangat maskulin itu –bahkan mungkin Anko bisa mimisan hanya karena mengingatnya! Ah, Hatake itu memang sempurna. Tidak hanya lelaki yang bisa bergairah melihat tubuh indah wanita, sebaliknya –perempuan pun menikmati setiap detik dari tampilan seksi dari tubuh seorang pria atletis.
Dan tak terkecuali dengan Anko. Kini wajah gadis itu sedikit merona, diiringi dengan kekehan tidak jelas yang sangat mencurigakan. Entahlah, mungkin saja otaknya berubah sedikit mesum. Tapi yang pasti, ia sedang membayangkan tubuh seksi Kakashi.
'Ah~ betapa indahnya'. Desis gadis itu melayang. Di dalam kepalanya masih setia memikirkan tubuh kekar Kakashi yang sangat menarik itu.
Namun tiba-tiba raut keterpesonaan tersebut langsung lenyap ketika salah satu sisi otaknya kembali menyadarkannya. Justru tubuh seksi menggairahkan semacam itulah yang harus dicurigai. Ya, bukan hanya wanita, para pria pun juga menyukainya bukan –untuk memandanginya?
"Apa benar tubuh seperti itu tidak hanya ditujukan untuk dinikmati atau dipandang oleh wanita?" gumam Anko lagi –menegaskan hatinya yang bimbang. Kunyahan dangonya kali ini belum selesai. Belum selesai dan masih ada tiga tusuk dango lagi yang harus ia habiskan. Tidak, bukan harus –tetapi mau.
Tubuh atletis…wajah yang tampan… tetapi memang benar, Kakashi masing seorang diri –belum punya pasangan. Ah, itu sungguh tidak mungkin! Kakashi hanya belum menemukan wanita yang cocok saja! Eh? Tapi bukankah dirinya ini cukup berpotensi untuk menjadi wanitanya, kenapa Kakashi tidak pernah memintanya untuk mendampinginya?
Bahkan –bahkan kemarin pria itu bilang bahwa wanita itu hanya 'merepotkan'!
Ini sungguh-sungguh tidak masuk di akal.
Akhirnya Anko menghabiskan sisa dangonya dengan ekspresi wajah yang bervariasi –penuh dengan kebingungan. Mungkin saja otaknya terlalu banyak berfikir.
.
.
.
'3. Para lelaki dengan kecenderungan 'berbeda', biasanya seringkali risih jika harus berdekatan dengan wanita. Berdekatan dengan para lelaki lah yang akan membuat mereka nyaman. Apakah pasangan anda seperti ini? Anda harus berhati-hati!'
"Provokatif sekali sih, kalimat-kalimat ini!?" Anko mendengus kesal. Kali ini ia tengah berjalan sambil membaca buku kecil terbarunya, yang beberapa saat lalu ia temukan tanpa sengaja di rak perpustakaan.
Benar-benar mirip Kakashi. Berjalan sambil membawa buku. Lalu mengeluarkan ekspresi khas. Perbedaannya adalah, ekspresi khas Kakashi biasanya adalah tersenyum tidak jelas secara berulang kali, sedangkan pada Anko, ekspresinya adalah dahi yang mengkerut, lalu mulut yang mengomel tidak jelas.
"Lihat apa kau!" bentak Anko tiba-tiba begitu menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh seorang Naruto Uzumaki. Bocah ingusan itu tengah memandangnya dengan pandangan tidak percaya –sekaligus merasa geli. Dan Anko kesal karenanya.
Tak berapa lama kemudian, Anko segera menutup bukunya. Ia tersenyum lebar dan segera bergerak maju, menuju sekumpulan kecil ninja Konoha: Iruka, Genma dan Kakashi.
"Kakashi!" panggil Anko ceria.
Yang dipanggilnya malah hanya berekspresi datar –tidak menyahut. Bergegas Anko mengambil tempat di samping Kakashi. Malangnya, dalam sepersekian menit ternyata pria itu beranjak pergi dari sana. Bahkan tanpa sempat melibatkan sebaris percakapan pun antara mereka berdua. Hatake itu berjalan dengan cueknya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, santai seperti yang seharusnya.
'Apa? Kenapa Kakashi lagi-lagi menghindariku?!' Jerit hati kecil Anko.
"Ka-Kakashi? Kau mau kemana?" ucapnya kaku –serta keki. Dan kedua kakinya tidak berkompromi, tidak berani langsung mengejarnya. Kelewat resah dengan tindakan amoral Kakashi barusan.
Ahaha. Amoral.
Anko yang tampak sedih tetapi lucu hanya menatap punggung Kakashi yang tampak semakin menjauh. Dari wajah gadis itu tampak sekali bahwa Anko benar-benar kecewa, sedih, sekaligus ingin berteriak nyaring dalam keadaan marah. Tetapi semua itu hanya tampak dari wajahnya, tidak ada teriakan sungguhan di sana.
Genma Shiranui hanya memandang Anko dengan sedikit merasa prihatin. Sementara Iruka Umino hanya tersenyum sambil merasa kasihan kepada Anko. Benar-benar gadis yang malang, pikir mereka berdua.
.
.
.
Poin 4, 5, 6….. bahkan sampai sepuluh. Rangkaian kalimat dan ratusan kata-kata itu membuat Anko hampir gila. Mencekiknya dengan paksa. Membuatnya ingin muntah karena begitu pusing memikirkannya.
"Buku sialan! Kenapa aku harus membacamu, sih!?" teriak Anko kesal di dalam kamarnya –sambil melempar buku pedoman cintanya hingga terpental ke dinding kamar dan jatuh ke lantai. Malang, padahal benda itu baru saja disentuh-sentuh oleh Anko. Di bolak-balik serta dibaca dan ditatap dengan penuh penghayatan. Tetapi akhirnya nasibnya tidak beda jauh dengan kaleng minuman softdrink yang sudah kosong. Dilempar ke tempat sampah. Dibuang karena sudah tidak berarti lagi. Dicampakkan.
Ah. Lebay juga narasinya.
'Yang benar saja! Masa' berbagai tingkah sederhana dari seorang laki-laki harus semuanya dicurigai sebagai sebuah penyimpangan?' Alis Anko tak hentinya bertaut.
Ada beberapa poin yang mengatakan bahwa pria yang bertubuh wangi, berwajah teduh, pandai berkata-kata alias sopan, dan lain-lain, dan kawan-kawan, serta bla bla dan bla –adalah juga ciri-ciri khas dari seorang laki-laki gay. Pokoknya, pengarang buku itu terkesan tidak waras –paranoid. Segala tingkah polah lelaki yang Anko rasa cukup 'normal', disebut sebagai sebuah kecurigaan atas sebuah penyimpangan seks.
Ia yang gila karena sudah nekat membacanya, ataukah pengarang buku itu yang sudah tidak sehat pola pikirnya?
Oke, mungkin saja pengarang buku itu adalah seorang psycho –atau wanita paranoid sinting. Dan dirinya –Anko Mitarashi adalah gadis labil yang sedang jatuh cinta, sehingga tanpa sengaja terjerumus dalam sebuah buku bacaan yang sesat!
Anko memandang buku tipis yang tergeletak jauh, berada di dekat jendela kamarnya itu. Teronggok di atas lantai dengan begitu sederhananya.
"Buku seri Icha Icha jauh lebih baik daripada kau, tahu!?" makinya pada buku tak berdosa tersebut. Buku itu hanyalah benda mati. Namun isinya bisa mempengaruhi orang yang masih hidup. Dan Anko merasa nyaris gila karenanya.
Anko menghela nafas. Menyadari kebodohannya selama ini. Semenjak Konoha menjadi damai, banyak hal yang berubah. Semenjak banyak hal yang berubah, ia mendapat gosip bahwa Kakashi adalah pria menyimpang. Semenjak ia mendengar gosip tersebut, tanpa sengaja ia terpengaruh oleh isi dari sebuah buku tidak jelas yang ia temukan –dimana isinya sedikit menyenggol gosip tentang Kakashi. Ah, benar-benar hal yang tolol.
"Kenapa otakku ini gampang sekali terpengaruh" keluh Anko lagi. Masih pada dirinya sendiri. "Apalagi jika mengenai Kakashi….."
Anko menunduk. Pikirannya melayang-layang. Namun tiba-tiba ekspresi sendu itu berubah dengan bangkitnya gadis itu dari duduknya. Ada sekelebat wajah tegas dan nekat dari air muka gadis itu. Anko yang nekat. Lagi dan lagi.
.
.
.
"Sedang sibuk, Kakashi?" Tanya Anko yang hadir tiba-tiba di depan Kakashi. Pria itu tengah duduk di kursi menghadap meja. Mereka sedang berada di akademi.
"Tidak juga" jawab Kakashi sekenanya.
"Apa boleh aku mengganggumu sebentar?" lanjut Anko langsung to the point. Menembakkan kalimat lewat bibir tipisnya.
Kakashi menatap Anko sejenak. "Hm? Ada apa?" sahutnya dengan nada malas. Semalas wajahnya. Semiskin semangatnya. Setua usianya yang terus bertambah –namun masih setia menjomblo itu.
"Kakashi, aku…..".
Tiba-tiba saja Anko merasa tenggorokannya tercekat. Benar-benar konyol, kenapa pada saat berduaan seperti ini ia malah merasa gugup? Mungkin saja pengaruh takut pada kalimat lanjutan yang akan ia utarakan.
Krik-krik. Entah kenapa tiba-tiba ada semacam suara jangkrik disana.
Kakashi sweatdrop karena rekannya tak juga kunjung berucap –malah hanya memasang tampang sedikit pucat.
"Oh ya.. Maaf Anko, aku harus segera mencari Iruka. Nanti dia keburu pulang" Kakashi langsung berdiri, meninggalkan Anko dengan tanpa dosa. Gadis itu masih mematung.
Lagi? Kakashi meninggalkannya lagi? Kedua tangan Anko pun mulai mengepal. Gadis itu menggigit pelan bibir bawahnya. Gara-gara tak bisa menyelesaikan ucapannya, kini pria itu malah langsung nyelonong pergi. Padahal urusan mereka belum selesai. Dan gadis itu menjadi jengkel setengah mati saat ini.
Dan kemudian, di sebuah ruangan yang tidak jauh dari situ, ke sanalah Kakashi menuju. Anko mengikutinya dengan perasaan dongkol. Kesal bukan kepalang. Oh, Kakashi tidak tahu dan tidak menyetujui aksi menguntit yang dilakukan Anko kali ini. Gadis itu berjalan pelan –sedikit mengendap-endap bagai seorang pencuri.
Dari balik pintu, sambil dengan penuh rasa hati-hati, Anko mengintip ke dalam. Ada Kakashi yang sedang berbicara dengan Iruka. Keduanya memasang tampang serius.
Kakashi dan Iruka? Sedang apa mereka disana? Dan sedang membicarakan apa? Kenapa wajah keduanya serius sekali?
Ah!
Raut wajah Anko Mitarashi tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk digambarkan. Mungkin saja –karena ia telah melihat hal yang agak aneh.
Ia melihat –Kakashi memegang bahu Iruka. Sementara pria berambut hitam seperti nanas itu –memasang tampang sedih. Tampaknya Kakashi sedang menghiburnya. Dan juga, mereka terlihat sangat akrab.
Tapi, sejak kapan dua pria itu menjadi sedemikian dekat?
Benak Anko pun mulai berpikiran macam-macam, teringat pada isi buku nista yang sudah ia campakkan waktu itu. Menebak-nebak. Menyangka-nyangka –dan juga, berperang kecil di dalamnya. Saat otak Anko asyik bertanya-tanya, ketika itu pula ia merasa sebelah sikunya mengenai sesuatu yang ganjil.
Rumput? Atau rambut?
"Sedang apa kau disini, Narutooo! Pergi sana!" hardik Anko dengan super galak kepada Naruto yang ternyata juga tengah ikut-ikutan mengawasi (baca:mengintip) Kakashi. Ternyata tadi siku tangannya mengenai rambut pirang bocah tersebut.
Bocah itu cemberut dengan gaya lucu khasnya. Anko menatapnya dengan sangat-sangat kesal. Sniper sedang mengawasi target dengan konsentrasi penuh, eh ternyata ada hal yang mengganggu. Bocah iniiiii, benar-benar!
"Anko-sensei sendiri kenapa mengendap-endap seperti ituu?! Sedang mengintip ya?!" ucap Naruto dengan suara yang nyaring –seperti biasa. Tak ayal, keributan mereka itu membuat Kakashi dan Iruka geleng-geleng kepala karenanya.
"Diam! Dasar bocah! Nanti ketahuan!" teriak Anko sembari menampilkan kepalan tangannya serta wajah sangarnya. Naruto yang terkekeh langsung sedikit memucat.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Kakashi yang tahu-tahu sudah menemui mereka –diiringi Iruka Umino. "Kau menguntitku, Anko?" lanjut pria bersurai perak itu.
"Ah! Ti-tidak juga" Anko terbata. Sementara Naruto sudah kabur entah kemana.
"Kau memata-mataiku, bukan?" ucap Hatake dengan alis yang bertaut. Iruka tersenyum penuh keprihatinan pada Anko yang tengah merasa gugup setengah mati itu.
"Dasar kau ini" desisnya sambil kemudian beranjak pergi. "Ayo Iruka!" ucapnya sambil memberi sinyal lewat gerakan kepalanya –agar rekan lelakinya itu menurut. Mereka berdua pergi perlahan meninggalkan Anko. Berjalan menjauh dari situ.
"Ka-kalian mau kemana? Aku ikut, Kakashi!" Anko setengah berteriak pada para pria itu.
"Tidak usah. Ini urusan pria!" sahut Kakashi cuek sambil terus berjalan tanpa menoleh.
Ah, urusan pria!? Anko speechless. Dan tentu saja, muncul sweatdrop dari wajah kecewanya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian ada sedikit kemajuan. Kakashi tidak lagi bersikap terlalu dingin kepada Anko. Setidaknya, lelaki itu sudah mulai menghidupkan lagi harapan Anko yang sudah kelewat tinggi.
Mungkin ini adalah sebuah pertanda baik, pikir sang gadis Mitarashi. Dan ia sangat senang, di sore itu ia bisa meyakinkan Kakashi untuk menghabiskan waktu bersama.
Tentu saja, Anko tidak sadar bahwa Kakashi menyetujui ajakannya itu karena merasa tidak enak pada dirinya. Beberapa hari sebelumnya gadis itu mengomel dan memarahi Kakashi. Ia protes dengan sedemikian hebohnya. Ia bilang 'Urusan kita belum selesai, Kakashi!'. Selain itu ia juga mengatakan 'Kenapa kau hanya mempedulikan Iruka, bukannya aku!?'.
Begitulah. Suara cemprengnya membuat Kakashi tidak enak hati serta tidak tega untuk menolak permintaannya. Anko memang cukup cerewet, membuat Kakashi akhirnya mengalah serta memenuhi tuntutan darinya.
Dan seperti yang baru dijelaskan tadi, kedua manusia itu akan bertemu. Mereka berjanji akan menghabiskan waktu di suatu tempat. Berdua, membahas sesuatu. Seperti dulu. Tapi kini semua berbeda. Ada debaran di dada Anko. Debaran cinta yang dahulu belum pernah muncul.
'Aku harus membuatnya terjun ke dalam obrolan asyik yang menyenangkan dulu, lalu setelah itu aku bisa menyatakan perasaanku padanya!' Pikir Anko girang. Ia pikir menyatakan perasaan itu adalah sesuatu yang gampang.
Ya, lupakan soal Kakashi yang cukup mencurigakan sebagai seorang pria abnormal. Saat ini Anko ingin menyatakan perasaannya pada jounin itu. Ia sudah hampir tidak tahan lagi. Menahannya hanya akan membuat suasana hatinya semakin buruk. Ia benar-benar harus bicara sekarang.
Siapa tahu, Kakashi menerima pernyataan cintanya. Siapa tahu, Kakashi memang benar-benar pria normal. Anko bahkan lupa beberapa saat yang lalu Kakashi pernah bilang bahwa ia tidak minat pada perempuan karena dirasa 'merepotkan'. Gadis itu terlalu sibuk pada obsesinya. Ia kelewat jatuh cinta.
Gadis itu kini sudah menunggu rekannya di tempat pertemuan mereka.
Tak lama kemudian Kakashi datang. Tidak terlampau lama dari waktu yang disepakati untuk janjian. Oke, itu pertanda baik. Sangat baik. Kakashi mulai mencemaskan dirinya yang mungkin akan menunggu terlalu lama, oleh karena itulah kali ini pria itu mulai belajar untuk tepat waktu. Anko mulai melambung perasaannya. Biasanya kan, Hatake ini super jam karet.
"Sudah lama menunggu, Anko?" Tanya Kakashi datar. Anko menggeleng cepat sambil tersenyum manis. Keduanya lalu duduk dalam gazebo sederhana yang terbuat dari kayu dan sudah cukup tua.
"Ada apa kau memanggilku ke sini?" Tanya Kakashi heran.
Anko masih dan masih terus menatap Kakashi dengan lekat. Dengan perasaan ceria sekaligus berdebar."Bagaimana harimu belakangan ini?" Anko malah bertanya balik.
Kakashi tertegun. "Yaah…. Biasa saja" jawabnya singkat.
"Hmm?" komentar Anko dengan memasang wajah yang menunjukkan perasaan ingin tahu lebih lanjut.
"Sebenarnya ada sedikit hal yang menggangguku" lanjut Kakashi seolah sedang mencurahkan isi hatinya.
Anko masih menunggu. Masih menunggu kelanjutannya. Tapi Kakashi samasekali tidak memberi kalimat lanjutan. Anko berinisiatif untuk mencari tahu.
"Apa itu, Kakashi?"
Kakashi masih diam. Menatap Anko dengan cukup intens. Dan gadis itu jadi sedikit salah tingkah karenanya.
"Aku tidak bisa memberitahukanmu sekarang, Anko. Maaf"
"Oh!" Anko pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Mengerti akan otoritas Kakashi dalam menjaga privasinya.
Kini keduanya terdiam. Mulut Kakashi terkunci. Sementara Anko nyaris kehilangan ide. Kehilangan ide untuk membuat Kakashi terlibat obrolan panjang menarik dengannya.
'Aduh, bagaimana ini? Kenapa lidahku jadi kelu?' batin Mitarashi galau.
Dan setelah beberapa menit yang membosankan itu, Anko memutuskan sesuatu. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera langsung menyampaikan maksud utamanya. Dengan sedikit bumbu basa-basi tentunya.
"Kakashi!"
"Hm? Kenapa?" sahut si lelaki.
"Apa pendapatmu….tentang aku?" Tanya Anko sedikit ragu.
"Ah…apa maksudnya?" jawab Kakashi ringan.
"Apa aku cukup menarik bagimu?" tembak Anko menyampaikan isi hatinya. Kakashi menaikkan alisnya. Pertanyaan macam apa itu. Mendadak sekali. Kenapa Anko tiba-tiba bertanya mengenai itu.
Wajah Anko menyiratkan bahwa gadis itu butuh jawaban.
"Yah…..lumayan" Kakashi menyahut dengan santai. Anko tersenyum penuh harap setelahnya.
"Lalu… apa aku ini seksi?"tanyanya lagi. Menyerang Kakashi dengan statementnya.
Hah? Lagi-lagi pertanyaan yang aneh. Kakashi kini mengerutkan alisnya.
"Ayo jawab!" gumam Anko yang terdengar oleh telinga Kakashi.
Kakashi tampak berfikir keras. Mungkin ia ragu untuk menjawab. Namun kecerewetan Anko bisa muncul jika ia bertingkah macam-macam.
"Ehm…. Entahlah Anko? Mungkin bisa dibilang begitu" sahut Kakashi kemudian.
Anko tersenyum lebar. Merasa ada harapan yang sangat-sangat besar. Dan ia pun melanjutkan sesi wawancara dadakannya. Aneh, padahal jawaban Kakashi terkesan ragu-ragu dan tidak mantap. Kurang berkualitas-lah, pokoknya.
"Lalu Kakashi…. Bagaimana perasaanmu padaku?" Tanya Anko sekarang. Nah, kali ini tema utamanya. Pernyataan perasaan.
"Hah?!" Kakashi sedikit kerepotan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai diri Anko.
"Pe-perasaan apa?" jawab lelaki itu. Ia kian bingung.
"Apa kau…memiliki rasa yang sama denganku, Kakashi?" Anko berucap sambil menatap lurus matanya. Gadis itu sedikit berdebar-debar.
'Rasa yang sama? Rasa yang sama?' Kakashi terdiam. Dunia terasa sedikit memusingkan.
"Aku…..telah jatuh cinta padamu, Kakashi" ucap Anko dengan jujur. Sniper kali ini telah menembakkan dengan tepat pada sasarannya. Selanjutnya kita bisa melihat, apakah korbannya akan mati, atau tidak.
Anko? Jatuh cinta? Jatuh cinta padanya? Kakashi memandang Anko dengan merasa sangat-sangat hampir tidak percaya. Benarkah itu semua, Anko?
Anko masih menatap Kakashi tanpa henti. Wajah gadis itu sedikit merona. Dan ia tidak tahu apakah partner disebelahnya itu juga memiliki warna wajah yang sama dengannya saat ini. Tentu saja, wajah Kakashi kan ditutupi topeng.
Membisu. Bibir Kakashi membisu. Dan Anko yang sadar penantiannya akan jawaban yang terlalu lama untuk didapatkannya, malah mulai mendekatkan dirinya pada Kakashi. Jarak duduk mereka kini makin merapat. Dan Kakashi tidak menolaknya.
.
.
.
Dengan penuh debaran di dadanya Anko makin mendekat dan mendekat lagi pada lelaki muda di sampingnya itu. Wajahnya yang manis seperti dango itu mulai menuju wajah tampan Kakashi yang tertutupi topeng.
Hanya beberapa senti. Sedikit lagi. Dan tangan Anko sudah siap untuk menurunkan masker wajah Kakashi itu untuk terus menghidupkan episode ciuman pertamanya.
Dapat. Topeng menyebalkan itu sudah menghilang. Dan saat hangatnya nafas Anko sudah mulai terasa di wajah pria berambut perak itu, sesuatu terjadi.
Tap. Telapak tangan Kakashi yang lebih besar dari telapak tangan Anko itu mendarat tepat menutupi wajah Anko. Sungguh. Mata, hidung, dan bibir gadis itu menjadi terhalang. Terhenti untuk melanjutkan aksi romantisnya, mencium bibir Kakashi Hatake.
Apa-apaan ini!? Anko kaget setengah mati. Namun tidak bisa bersuara.
"Di sini banyak orang, dasar bodoh!" desis Kakashi berkomentar. Segera dipasangnya kembali penutup wajahnya dengan cepat lewat tangan kirinya. Kemudian didorongnya sedikit wajah Anko dengan pelan, mundur kebelakang. Dan kemudian diturunkannya tangan pengganggunya itu.
Sial! Ciuman yang gagal. Entah omelan siapa itu. Bukan Anko dan bukan Kakashi. Anko terlalu terkejut dan malu untuk mengumpat seperti itu di dalam hatinya. Dan Kakashi terlalu malas untuk berkomentar walaupun hanya di dalam benaknya.
Akhirnya Kakashi bangkit dari duduknya dan berjalan pergi dengan santainya.
Wajah Anko memerah dengan sempurna. Kesal. Malu. Bingung. Memangnya ada siapa disini? Tempat ini benar-benar sepi. Tidak ada orang! Batin Anko menjerit galau.
Tak lama kemudian gadis itu menyusul pergi. Tidak untuk mengiringi Kakashi. Terlalu memalukan baginya saat ini bila terus berada disamping pria itu.
"Aaah! Guru Kakashi payah!" umpat Naruto yang kecewa. Sakura hanya terdiam sambil tersenyum dan memperlihatkan sedikit wajah yang tersipu. Sementara Sasuke menatap dua temannya itu dengan pandangan kesal. Mengintip tindak-tanduk Kakashi memang benar-benar ide yang buruk. Kenapa ia harus mengikuti ide bodoh Naruto kali ini?!
"Jangan-jangan Kakashi-sensei memang benar seperti yang digosipkan itu, ya?" tukas Naruto sambil meletakkan dua tangannya di kepala belakangnya.
"Ah~ mengenai masalah 'itu' ya?" sahut Sakura antusias.
"Iya, Sakura! Masa' ada yang bilang kalau Kakashi-sensei itu gay!"
Wajah gadis bersurai pink itu langsung memucat –setelah mengingatnya.
"Tapi ngomong-ngomong, gay itu apa sih Sakura?" Naruto kini berbisik dengan wajah yang lucu –membuat Sakura sweatdrop. Naruto dan Sakura pun lantas bergosip dengan hangat, membuat rekan Uchiha mereka menatap datar dengan semangat hidup yang hilang entah kemana.
.
.
.
T B C
