A/N : Maafkan untuk update yang agak lama, tetapi akhirnya saya bisa selesaikan juga chapter ini. Mohon sampaikan kritik dan saran lewat review ya! Oh ya, saya juga ada fanfic baru yang berjudul 'Catatan', mohon read dan review juga ya. Berhubung reviewnya masih agak kurang, sementara saya masih membutuhkan kritik dan saran lebih. Jangan lupa, ya! Dan makasih lagi!

OH_14

Tifa nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat, dan tanpa pikit panjang, Tifa segera meninggalkan Aerith dan berlari ke tengah lapangan. Dia tidak peduli dengan wasit yang memperingatinya, yang pasti kedua kakinya seperti bergerak sendiri. Dan setelah berlari dengan rasa panik, Tifa akhirnya mencapai kerumunan pemain dan mencoba menerobos mereka. Harus diakui, agak sulit untuk menerobos tubuh pemain yang tinggi-tinggi dan besar, belum lagi tatapan serta hujatannya. Namun, Tifa sama sekali tidak mempedulikan semua itu. Dia lebih mempedulikan sosok Cloud yang tengah terbaring di lantai dengan wajah yang kesakitan, tangan kirinya memegang tangan kanannya. Meski tertutup, tetapi Tifa dapat melihat semacam lebam di sana. Ketika Tifa baru mau menyentuh lebamnya, Cloud langsung menahan sakit.

"Cloud!" kata Tifa. "Apa yang terjadi denganmu?!"

"Lenganku ... sakit," kata Cloud. "Tadi ... ada yang memukul lenganku dengan begitu keras, tapi aku tidak tahu siapa."

Ketika Tifa mau bertanya lagi, dia sudah disela dengan dua laki-laki yang mengenakan seragam berwarna kuning, yang juga adalah petugas medis. Postur tubuh mereka yang besar mampu mengangkat tubuh Cloud dengan mudah ke atas tandu, dan kemudian mereka membawanya keluar dari lapangan. Tifa, lagi-lagi, spontan mengikuti mereka bertiga. Bahkan ketika Cloud dibawa ke dalam sebuah ruangan, Tifa juga ikut-ikutan masuk. Kedua petugas yang membawa tandu sempat kaget karena dia tidak memperhatikan Tifa tadi. Tetapi pada akhirnya, mereka membiarkan saja dan keluar dari ruangan itu. Mereka bilang, mau mengambil obat-obatan serta perban sebentar. Tifa menjawab dengan mengangguk, sambil berkata kalau dia akan menjaga Cloud di sini.

Cloud tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya, dia seperti tidak bisa bicara karena menahan sakit. Tifa mengamati memar Cloud yang semakin lama semakin membiru. Rasanya dia ingin sekali mengobati, tetapi sayangnya, tidak ada apa-apa di ruangan ini selain beberapa buah ranjang kosong serta rak kecil yang tidak ada isinya. Petugas yang tadi juga belum kembali, dan sayangnya fakta itu semakin menguatkan bukti bahwa dia memang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi rasanya, Tifa tidak tahan untuk melihat wajah kesakitan Cloud lebih lama lagi. Dan secara perlahan, tangan kanan Tifa menyentuh tangan Cloud yang tengah menggenggam lengan lainnya yang memar. Tifa tahu kalau ini tidak akan membantu, tetapi hanya ini yang bisa dilakukan.

Tidak lama setelahnya, kedua petugas yang tadi keluar sudah kembali lagi sambil membawa dua buah kotak berwarna putih. Tifa langsung buru-buru melepaskan genggamannya sebelum kedua petugas itu melihat. Dan lagi, sepertinya Cloud juga tidak sadar kalau Tifa menggenggam tangannya tadi. Agar tidak mengganggu, Tifa berjalan keluar ruangan dan membiarkan petugas itu mengobati Cloud.

Di luar, pertandingan ternyata sudah berjalan lagi. Dan meski tidak kenal, tetapi Tifa tahu ada cadangan yang menggantikan Cloud, seorang pria berambut pendek dan berwarna silver. Tifa memang tidak tahu namanya, tetapi dia tahu kalau itu adalah salah satu teman sekelasnya. Sayang, dia masih belum begitu akrab dengan seluruh teman-teman sekelasnya. Tetapi sepertinya, dia tidak seahli Cloud dalam bermain. Terlihat bahwa dia seringkali terkecoh oleh perlawanan lawan, bahkan bukan Jonny sekalipun. Lawan memang belum mencetak angka, tetapi entah mengapa perasaan Tifa sungguh tidak enak. Tifa tidak mengatakan kalau tim basket sekolahnya payah, tetapi harus diakui, kalau Cloud adalah salah satu penyerang andal.

Suara pintu yang terbuka di belakangnya membuat Tifa membalikkan tubuhnya. Dua petugas tadi sudah keluar, dan wajah mereka terlihat agak khawatir. Apakah memarnya separah itu? Tifa segera berjalan ke ruangan tadi dan mengintip. Cloud sudah tidak tiduran lagi, dia sudah duduk di atas ranjang dan lengannya yang memar sudah diperban. Wajahnya sudah lebih tenang sekarang, dia tidak terlihat kesakitan lagi, tapi keringatnya terlihat mengalir lebih deras. Sepertinya karena dia menahan sakit, meski hebat juga karena Cloud tidak sampai berteriak. Tifa berjalan menghampiri Cloud, dan kemudian dia duduk di sebelahnya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tifa.

"Sudah mendingan," jawab Cloud. "Aku ... aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi barusan."

"Maksudmu?"

"Aku juga tidak ingat, rasanya ada seseorang yang langsung berlari ke arahku, tapi..."

Cloud menggosok-gosokkan kepalanya, dan kemudian dia menggumam 'cih' pelan. Sepertinya dia masih syok sehingga dia tidak ingat kejadian tadi. Dari wajah, pandangan Tifa kemudian beralih pada lengan Cloud yang diperban. Ketika Tifa baru saja menyentuhnya sedikit, Cloud langsung menyipitkan matanya karena menahan sakit.

"Maafkan aku," kata Tifa. "Sakit sekali, ya?"

Cloud menganggukkan kepalanya. "Mereka bilang, memarku akan sembuh dalam seminggu lebih."

"Seminggu lebih? Selama itu?"

"Begitulah, karena itu aku tidak bisa bermain," jawab Cloud yang kemudian menghembuskan napas. Wajahnya terlihat sangat kecewa. "Sial, kenapa di saat seperti ini? Kalau begini, aku juga tidak bisa mengantarmu pulang."

Ah, benar juga. Tadi pagi Cloud yang mengantarnya kemari, dan dia juga bilang kalau dia akan mengantarnya pulang kembali. Dan berhubung lengannya seperti itu, otomatis Cloud tidak bisa mengendarai motor. Sebenarnya Tifa bisa saja naik kendaraan umum, tetapi dia tidak bisa meninggalkan Cloud begitu saja. Rasanya jahat sekali, apalagi jika mengingat Cloud sudah repot-repot mengantarnya tadi pagi. Tapi kalau dia terus menunggunya di sini, tentunya juga tidak mungkin. Motor Cloud juga berbahaya jika ditinggal di sini, dan masa iya harus ditinggal sampai tangan Cloud sembuh?

"Daripada hanya terus duduk di sini, bagaimana kalau kita kembali ke lapangan?" tanya Tifa. "Kita bisa menonton pertandingan."

Tadinya Tifa mengira kalau Cloud akan menolak, tetapi ternyata dia mengangguk. sambil didampingi oleh Tifa, mereka berdua berjalan kembali menuju lapangan. Namun, ketika melihat pertandingan yang tengah berjalan, langkah mereka langsung terhenti. Bukan karena kagum, justru malah sebaliknya. Karena tim sekolah Midgar terlihat terpojok. Bahkan Jonny terlihat begitu menguasai pertandingan ini. Dan parahnya lagi, tidak ada satupun rekan satu timnya yang mampu mengimbangi permainan Jonny.

Cloud hanya bisa mengamati pertandingan itu dengan kesal, dan kedua tangannya dia kepalkan. Tifa tahu, pasti di dalam lubuk hatinya, Cloud ingin sekali terjun ke sana dan membantu teman-temannya. Tetapi sayangnya, lengan yang memar ini seolah menahannya. Sehingga Cloud hanya bisa berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa. Tifa, yang ada di sampingnya, hanya bisa menatap Cloud. Sayang dia tidak tahu harus bagaimana menghiburnya, atau berkata apa untuk mengatasi amarahnya. Tetapi berdiri terus di sini juga untuk apa? Tifa menepuk pundak Cloud dan memberinya isyarat untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Cloud tidak menjawab dan pergi meninggalkan Tifa.

Tifa melihat punggung Cloud yang semakin menjauh dan kemudian dia mengobrol dengan Zack. Zack terlihat cemas dan lega di saat bersamaan, dia menepuk-pundak Cloud dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa Tifa dengar. Tetapi kemungkinan besar, Zack mencoba untuk menghibur Cloud. Reaksi Cloud sudah bisa ditebak, hanya diam tanpa kata, lalu duduk. Tifa juga bergabung kembali dengan pemandu sorak lainnya tidak lama kemudian.

"Bagaimana dengan Cloud?" tanya Aerith. "Tadi kau ke ruangannya, kan?"

"Dia mengalami memar di lengannya, dan katanya butuh seminggu lebih untuk pulih total."

Aerith terkejut. "Seminggu lebih?! Selama itu?!"

"Setidaknya, itulah yang Cloud katakan padaku," lanjut Tifa. "Ah ya, bagaimana pertandingannya?"

"Tidak begitu baik, tim kita berkali-kali nyaris kemasukan angka. Tetapi untungnya, cadangan kita gerakannya lumayan cepat."

Tifa kembali memperhatikan pertandingan, tetapi bunyi pluit wasit sudah terdengar kembali. Bunyi pluit yang juga merupakan tanda akhir dari ronde kedua. Para tim langsung bubar, dan tim basket SMA Midgar tampak paling kelelahan. Wajar, jika mengingat perjuangan mereka dalam menghadapi tim lawan, malah bisa dibilang, mereka cukup kewalahan. Melihat seluruh tim basket yang langsung terkapar dan tersengal-sengal, para tim pemandu sorak langsung spontan menghampiri mereka dan memberikan semangat. Tanpa terkecuali, Tifa dan Aerith. Tugas utama mereka memang mendukung dengan menari, tetapi setidaknya mereka juga bisa mendukung dengan melakukan hal kecil lain seperti membawakan minuman. Lagipula, Tifa juga sudah melakukan itu pada Cloud sebelumnya.

"Si Jonny itu cepat sekali!" kata salah satu anggota tim. "Rasanya nyaris mustahil untuk mengimbangi kecepatannya."

Tifa yang sedang memberikan botol minum tidak sengaja menguping. Dengan langkah pelan, dia mundur perlahan untuk mencuri dengar lebih banyak.

"Rasanya tidak percaya kalau itu adalah manusia, entah metode latihan apa yang dia gunakan," lanjutnya, "ah ... rasanya aku tidak akan sanggup untuk bertanding lagi. Cloud juga cedera, rasanya harapan menang tim kita akan semakin tipis."

Tifa terus mendengar dengan hati yang semakin kesal. Ternyata anggota tim basketnya begitu pesimis atau bahasa kasarnya adalah ... lembek. Pada akhirnya, Tifa memutuskan untuk tidak mau mendengarkan lebih jauh lagi dan memilih untuk menyemangati tim basketnya. Sambil sesekali mencuri pandang ke Cloud yang tengah cemberut daritadi, bahkan dia tidak menghampiri timnya yang tengah 'sekarat'. Suasana hati yang buruk memang mampu mengubah kepribadian seseorang dalam sekejap mata.

...

Setelah 40 menit berlalu, pertandingan yang menegangkan itu akhirnya selesai juga. Namun, pada akhirnya, tim SMA Midgar harus menelan pil kekecewaan karena mereka kalah. Dengan skor 70-50, mereka harus menerima kenyataan dan pulang sambil gigit jari. Wajah mereka terlihat lemas, tanpa terkecuali—apalagi, Cloud dan Zack. Zack sebagai pelatih, merasa gagal karena timnya gagal. Sementara Cloud, yang juga adalah tangan kanan, merasa tidak berguna dan tidak bertanggung jawab karena tidak dapat menolong anggota-anggota timnya.

Tidak ada yang tersenyum atau berbicara ketika tim SMA Midgar berjalan keluar stadium. Mereka semua tampak lesu, dan bahkan tidak jarang yang terluka. Permainan tim SMA lawan memang tidak melanggar aturan, tetapi harus diakui, permainannya kasar sekali! Beberapa kali Tifa melihat tim lawan seperti menyikut atau menabrak tubuh anggota tim sekolahnya, tetapi karena masih belum melewati batas, maka wasit juga tidak melakukan tindakan apa-apa. Namun rasanya Tifa cukup tidak terima dengan itu, karena meski tidak melewati batas, tetapi luka yang ditimbulkan lumayan parah. Bahkan, ada yang hampir menyamai memar di lengan Cloud. Sehingga cukup banyak dari anggota tim yang harus diperban, seolah-seolah mereka baru saja bertanding berdarah-darah dalam pertandingan tinju.

Karena lengan Cloud tidak memungkinkan untuk naik motor, maka Cloud memutuskan untuk naik kendaraan umum dan meninggalkan motornya di stadium. Dia juga sudah memberitahu petugas, dan untungnya Cloud hanya perlu membayar biaya parkir saja. Sebenarnya Zack sudah minta izin dari pihak sekolah untuk menyewa mini bus, tetapi Cloud langsung menolak. Entah karena dia masih kesal, atau karena dia ingin sendirian, tetapi yang pasti Tifa cukup khawatir. Sehingga dia juga tidak ikut naik mobil dan memilih untuk menemani Cloud naik kendaraan umum. Awalnya Tifa mengira Cloud tahu mengenai rute yang harus dipilih, tetapi ketika melihat bus yang hendak dia naiki, entah mengapa dia seperti tidak berniat untuk pulang. Arahnya malah semakin mendekati pusat kota dan menjauhi rumah.

"Kau tidak usah menemaniku, aku bisa sendiri," kata Cloud sambil memalingkan wajah.

"Cloud," kata Tifa. "Kau jangan terlalu kecewa, kalian sudah berusaha sebaik mungkin di pertandingan tadi."

Tidak ada jawaban dari Cloud.

"Aku melihat pertandingan juga, dan aku merasa mereka bermain begitu kasar!" lanjut Tifa. "Mereka lebih menggunakan tubuh mereka untuk bermain ketimbang menggunakan teknik!"

Tidak lama setelahnya, sebuah bus datang. Cloud bersiap untuk naik, tetapi tangan Tifa langsung menyambar pelan lengan Cloud.

"Cloud, dengarkanlah aku dulu."

"Aku mau pergi."

"Aku tahu mungkin aku terkesan sok tahu atau sok peduli padamu, tetapi bisakah ... setidaknya kau dengarkan aku?"

Cloud menatap Tifa dengan wajah heran.

"Aku tahu dan yakin betul kalau kekalahan tadi bukan salahmu," kata Tifa. "Karena itu, kumohon ... jangan menanggung rasa bersalah seorang diri."

Tangan Tifa yang memegang lengan Cloud menjadi mengendur, mengira bahwa Cloud mungkin akan melepaskan diri dari genggamannya. Tetapi di luar dugaan, ternyata Cloud bahkan tidak bergerak sedikitpun.

"Semua orang, termasuk aku, tahu bahwa kau sudah berusaha sangat keras. Seandainya kalah, kami tidak akan dengan seenaknya menyalahkanmu," kata Tifa. "Jadi, tidak ada alasan untuk bersedih, kan? Jangan membuat orang lain khawatir, Cloud."

Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tetapi waktu seolah berhenti bagi Cloud dan Tifa. Mereka terus berada dalam posisi seperti itu, sementara orang-orang yang berada di halte sudah berjalan masuk ke dalam bus. Beberapa ada yang mengamati mereka, beberapa ada yang menatapi mereka dengan pandangan aneh. Mungkin ada yang mendengarkan percakapan mereka tadi, meski Tifa sudah berusaha sepelan mungkin selama dia berbicara dengan Cloud. Namun, rasanya mereka benar-benar sudah tidak peduli dengan apa yang ada di sekeliling mereka. Semua itu terbukti dari tatapan mereka yang terus saling terkunci, dan untuk beberapa saat, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.

Entah sudah berapa lama mereka terus dalam posisi seperti itu, hanya diam sambil bertatap muka. Hingga ada bus lain yang datang menghampiri, barulah Tifa melepaskan genggaman tangannya dan menatap bus berwarna merah yang kini berada di hadapannya. Bus merah itu adalah bus yang sesuai dengan rute pulang. Tifa kembali menatap Cloud dan tersenyum.

"Ayo, kita pulang," tanya Tifa.

Entah mengapa, Cloud mengikuti kata-kata Tifa dan dia juga berjalan menuju bus. Namun baru saja Tifa hendak menginjakkan kakinya ke dalam, tiba-tiba saja dia merasakan sebuah genggaman di lengan kanannya. Ketika dia menoleh, ternyata yang menggenggamnya adalah seorang pria yang tidak dia kenal. Pria setinggi Cloud yang mengenakan kacamata hitam dan setelan berwarna serupa. Penampilan ini ... rasanya mengingatkan Tifa pada...

"Kau ... suruhan Ayah?"

Pria itu tersenyum, dan kemudian dia meninju perut Tifa hingga pingsan. Dan dengan mudahnya, Tifa digendong ke bahunya dan dia segera berlari secepat mungkin menjauhi halte. Cloud yang terkejut sempat membatu di posisinya, tetapi kemudian dia langsung mengejar pria itu tanpa banyak basa-basi. Pada awalnya, Cloud juga sepertinya merasa familiar dengan sosok pria itu. Dan ketika dia mencoba untuk mengingat-ingat, dia akhirnya menyadari bahwa sosok pria itu mirip sekali dengan sekumpulan pria yang mengejar Tifa sewaktu dia sedang berangkat ke sekolah. Mungkinkah pria itu juga adalah orang yang sama?

Cloud terus dan terus mengejar, hingga pada akhirnya mereka tiba di sebuah taman. Di sana, sebuah mobil sudah tersedia. Dan ada beberapa pria lain yang sudah ada di sana berjaga-jaga. Cloud sungguh bertambah panik, dan sambil berlari, dia juga memikirkan cara untuk bisa membebaskan Tifa. Dia seolah sedang bermain video game yang misinya adalah menyelamatkan seseorang dalam kurun waktu tertentu, dan apabila tidak sesuai dengan kurun waktu yang tersedia, maka tentu saja permainan akan berakhir dengan kegagalan, alias Game Over.

Tetapi tentu saja, Cloud tidak boleh menyamakan keadaan ini dengan sebuah video game, karena kejadian ini adalah sungguhan! Cloud terus melirik ke kanan dan ke kiri, dan kemudian dia melihat sebuah batu bata berukuran cukup besar yang ada di dekatnya. Batu bata ... mungkin dia bisa menggunakan cara yang sama ketika dia mengembalikan barang Tifa yang dicopet waktu itu. Tetapi waktu itu dia membawa bola basket, dan lengan kanannya juga sedang tidak memar seperti sekarang. Dia bisa saja menggunakan tangan kirinya, tetapi tangan kirinya tidak sekuat tangan kanannya. Apalagi, yang akan dilempar itu adalah ... batu bata.

Namun, sepertinya sudah tidak ada jalan lain lagi. Mungkin memang terkesan nekad, tetapi daripada Tifa diculik dan akhirnya menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Pada akhirnya, Cloud menggelengkan kepalanya dan tangan kirinya meraih batu bata itu, terasa lebih berat daripada yang diduga. Apalagi ketika Cloud mencoba untuk melempar dan mengarahkannya, rasanya berat dan sulit sekali! Dengan menggunakan seluruh tenaganya, Cloud melempar bata itu ke belakang kepala si pria yang hampir setengah jalan mencapai mobil. Batu bata itu terus melayang, dan meski Cloud sempat tidak yakin dengan lemparan tangan kirinya, batu bata itu akhirnya ... tepat pada sasaran! Kelihatannya cukup sadis, tetapi batu bata itu setidaknya berhasil membuat Sang Penculik ambruk perlahan-lahan. Langsung saja, Cloud segera memanfaatkan kesempatan ini. Dia berlari secepat mungkin menuju Tifa yang masih belum sadarkan diri dan langsung menggendongnya.

"Hei, berhenti!"

Cloud menatap ke arah suara itu berasal, dan itu adalah suara pria yang berjaga di dekat mobil. Cloud benar-benar nyaris lupa karena terlalu senang, dan kemudian dia segera membawa Tifa menuju halte. Lengannya terasa sakit ketika mengangkat Tifa, dan kini lengan kirinya juga mulai terasa sakit.

Kecepatan kaki Cloud untungnya melebihi kecepatan dua pria yang kini tengah mengejarnya. Dan ketika halte mulai terlihat, dia juga melihat sebuah bus berwarna merah yang juga akan berhenti di sana. Bagus! Begitulah isi pikiran Cloud, dan memang, sangat berbahaya apabila tidak ada bus yang akan berhenti di sana. Selain karena Cloud tidak tahu harus sembunyi dimana, kedua tangan Cloud juga rasanya tidak mampu untuk menggendong lebih lama lagi. Memar sial pikirnya lagi.

"Hei, jangan lari kau! Serahkan gadis itu!"

Tetapi Cloud tidak peduli, dan begitu bus sudah tiba di halte dengan pintu yang terbuka, Cloud segera menerobos masuk. Napasnya terengah-engah dan keringatnya mengalir begitu deras. Selagi orang-orang menatapnya dengan heran, Cloud segera berteriak pada supir.

"Jalankan busnya! Kami berdua dikejar oleh penculik!" teriak Cloud. "Cepat!"

Sang supir tidak menoleh, tetapi ketika mendengar teriakan Cloud, dia langsung menutup pintu dan menancap gas hingga bus meninggalkan halte. Cloud langsung menghembuskan napas lega.


Mohon isi kotak review yang di bawah ya. Dan jangan lupa untuk baca fic saya yang baru, makasih.