The Golden Prince, siapa yang tidak kenal dia, seluruh penyihir didunia, baik organisasi hitam atau-pun bukan, The Golden Prince adalah orang yang sangat ditakuti dengan kekuatan mengerikannya. Di usia yang baru menginjak 9 tahun Ia sudah menjadi agen rahasia Jepang, yang berperan sebagai kartu Joker dalam pertempuran melawan organisasi hitam.
Setelah Satu tahun Ia sebagai kartu Joker untuk Jepang, Ia telah menghancur lebih dari 20 organisasi hitam bersama kelompoknya. Diusia 11 tahun Ia sudah menjadi pemimpin dalam perang besar sihir antar negara yang berlangsung 6 bulan berturut-turut tanpa henti, dan jelas dimenangkan oleh Jepang yang menggunakan Joker mereka, The Golden Prince.
Wajah The Golden Prince tidak pernah dilihat satu orang-pun, kecuali anggota timnya yang berjumlah 5 orang jika bersama dengannya. Wajah tampan yang dianugrahi Tuhan padanya selalu Ia tutupi dengan topeng tengkorak yang mengerikan, dengan bola mata yang bersinar, tapi selain itu Identitas asli The Golden Prince tidak ada yang tahu, dan dia adalah...
Naruto Fernandes.
.
Disclamer: Naruto dan Mahouka Koukou no Rettousei bukan punya ku.
Naruto and Mahouka Koukou no Rettousei: The Golden Prince/黄金の王子
Genere: Action, Romance, Adventure, Fantasy, Sci-fi, School.
Raiting: M
Pairing: [Naruto x ?]
.
Summary: Naruto yang telah berhasil mengalahkan Kaguya, terlempar kedimensi lain karena mata Obito yang tidak dapat ia kendalikan dengan sempurna.
.
[Opening 1: Lisa - Jet Rocket]
.
Chapter 2: Murid Baru
.
(SMA sihir 1)
Dengan pandagan datar Naruto berjalan disekitar sekolah yang masih sepi. Murid yang berada dikelas utama rata-rata mencemoh murid kelas cadangan yang mereka lewati, kecuali Naruto, karena Naruto memakai jaket milik Jellal sewaktu muda, yang otomatis menutupi seragam sekolahnya.
"Hey kau" seorang perempuan berambut hitam panjang, yang memakai sergam SMA sihir 1 memanggil Naruto.
Naruto membalik badannya, dan melihat lambang bunga bertangkai delapan dilengan gadis itu, yang menandakan kalau dia berada dikelas utama. "Ada apa nona?" tanya Naruto tersenyum tipis.
"Bisakah kau lepasakan jaket mu, kau tidak tahu kalau ini ada dikawasan sekolah, dan dilarang memakai jaket jika ada dikawasan sekolah" tegur perempuan lawan bicara Naruto dengan lembut.
"Kakak kelas" batin Naruto. "Baiklah Senpai" ucap Naruto melepas jaket yang Ia kenakan, karena Ia sekolah tidak membawa ransel karena masih hari pertama, jadi mau tidak mau, Ia meletakan jaketnya dipundaknya.
Siswi perempuan baik dari kelas utama atau cadangan, kakak kelas atau bukan, yang melewati Naruto pasti berhenti sesaat dan kemudian wajah mereka memerah, terutama wanita didepannya yang tersenyum menggoda, entah Naruto tak tahu itu kenapa, yang jelas Ia tak peduli.
"Fufufu padahal kau orang yang tampan jika menggunakan seragam sekolah, kenapa kau menutupinya?" goda perempuan lawan bicara Naruto dengan mengedip-kan sebelah matanya.
"Tidak ada alasan tersendiri Senpai" balas Naruto tersenyum tipis. "Senpai kau tahu dimana gedung aula?" tanya Naruto kikuk dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Jadi kau murid baru?" tanya perempuan dihadapan Naruto, dan dijawab dengan anggukan malu-malu oleh Naruto. "Souka, dari sini kau tinggal jalan ke Utara, lalu terlihat gedung dengan warna krem, hijau, dan itu gedung aula" jelas perempuan yang menjadi lawan bicara Naruto.
"Arigato Senpai" Naruto tersenyum tipis. "Kalau begitu aku pergi dulu sampai, Jaa ne" Naruto jalan dengan senyum melewati perempuan yang menjadi lawan bicara Naruto.
Perempuan yang menjadi lawan bicara Naruto membalik badanya dan menatap punggung Naruto dengan seyum. "Setidaknuya beri tahu nama mu sebelum pergi" ucap perempuan itu sedikit berteriak.
Naruto berhenti melangkah, dan membalikan badannya dengan seyum terukir di wajah tampan nan imutnya.
"Naruto Fernandes, itulah nama ku Senpai"
.
Naruto berjalan dengan pandangan datar, dan tidak mempudilikan cemohan-cemohan yang diberikan oleh siswa ataupun siswi yang diberikan untuknya. Memang pada awal masuk tadi Ia tidak diberikan cemohan karena seragamnya tertutup jaket biru milik ayah angkatnya, tapi setelah Ia melepaskannya banyak sekali cemohan yang diberikan untuknya.
Setidaknya Naruto itu sudah menjadi makan utamanya dulu di Konoha, bahkan lebih parah dari sebuah cemohan saja, dipukuli, dilempari Shuriken, dilempar, dibuang dihutan, itu semua sudah menjadi makan setiap hari bagi sang mantan Shinobi, jadi kalau hanya sebuah cemohan bisa membuat Naruto marah, atau kesal jangan harap sekaras apapun mecemohnya Ia tidak akan marah, kecuali sudah menyankut ayah angkatnya yang telah tiada, pasti Ia akan marah, malah mungkin membunuh orang yang telah mencemoh ayah angkatnya.
"Onii-sama seharusnya, Onii-sama yang berdiri dan brpidato sebagai murid terhebat bukan aku"
"Aku memang hebat dalam Teori, tapi dalam Sihir yang diperlukan bukan teori melainkan praktek"
Naruto berheti melangkah ketika pendengarannya menangkap suara pertengkaran kakak beradik. Naruto mengalihkan pandannya, dan menatap 2 insan yang berbeda Gener. Tatsuya Shiba, dan Miyuki Shiba, Naruto tahu mereka berdua, Naruto tahu saat ujian, Ia memperhatikan mereka berdua, terutama Miyuki.
Entah kenapa Naruto tertarik dengan Miyuki, bukan tertarik dalam artian suka, melainkan tertarik dengan sihir yang dimiliki Miyuki. Naruto tahu mungkin suatu saat rasa tertariknya bisa berubah menjadi suka tapi Ia tidak peduli, karena Naruto berfikir mungkin Miyuki suka dengan Tatsuya.
"Kalian tahu suara kalian terlalu berisik" Naruto berjalan kedua insan yang beralih menatapnya tajam. "Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Naruto.
"Siapa kau?" tanya Tatasuya menatap tajam Naruto.
"Bukan kah lebih sopan jika kau memperkenalkan diri mu dahulu, tuan" balas Naruto tersenyum tipis.
"Tatsuya Shiba, dan ini adik ku, Miyuki Shiba" ucap Tatasuya memperkenalkan dirinya dan adiknya.
"Silver Taurus" batin Naruto. "Naruto Fernandes, senang berkenalkan dengan mu" Naruto mengelurkan tangannya, dan dijabat senang hati oleh Tatsuya, dan Miyuki.
"Jadi apa maksud mu, berkata seperti itu?" tanya Tatsuya menatap tajam Naruto.
"Kau tidak lihat, kalian menjadi pusat perhetian orang lain" ucap Naruto yang menunjuk sekitar mereka. "Apa kalian sudah mengerti?" tanya Naruto pada Tatsuya, dan Miyuki yang memandang sekitar mereka, dan benar apa yang dikatakan Naruto kalau mereka menjadi pusat perhatian orang lain.
"Seperti benar apa kata mu" balas Miyuki yang menatap lekat mata biru saffir dan merah darah Naruto. "Kalau begitu aku pergi dulu Onii-sama, Naruto-san, Jaa ne" pamit Miyuki, dan melangkahkan kakinya pergi masuk keruang aula, dan memberikan sebuah senyum pada Naruto sebelum beranjak pergi.
Naruto menaikan bahunya tanda kalau Ia tidak peduli. Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Tatsuya dengan senyum. "Masih ada 20 menit lagi sebelum mulai, bagaimana kalau kita jala-jalan" ajak Naruto.
Tatasuya memjamkan matanya, dan menyinggungkam sebuah senyum tipis. "Boleh juga" balasnya.
.
Naruto bersama Tatsuya berjalan mengelilingi sekolah, dan tidak mempedulikan cemohan yang diberikan siswa maupun siswi lain pada mereka. Tidak kelas 1, 2, maupun 3, yang berada dikelas utama mereka semua saja bagi Naruto, orang-orang bodoh yang menganggap remeh kelas cadangan.
Naruto bisa saja menghajar mereka kalau Ia mau, tapi sayang Ia tak peduli dengan cemohan murid lain, Ia lebih peduli dengan perasaan Miyuki atau Tatsuya, jika dipisahkan oleh teman sekelas Miyuki yang notebadnya adalah kelas utama, pasti ada perasan kesal diantara mereka, itu lah yang Naruto fikirkan.
"Naruto-kun" Naruto mengalihkan pandangan kebelakang ketika telinganya menangkap suara yang Ia kenali. Suara perempuan yang tadi pagi menegurnya karena memakai jaket dikawasan sekolah.
"Kita bertemu lagi Senpai" ucap Naruto terseyum tipis. "Ada apa memanggil ku Senpai?" tanya Naruto ramah.
"Kalian tahu sebentar lagi akan mulai penobatan murid baru?" tanya perempuan dihadapan Naruto.
"Ehmm" jawab Naruto mengangguk kecil. "Oh iya Senpai nama Senpai sebenarnya siapa?" tanya Naruto terseyum tipis.
"Mayumi, Mayumi Saegusa" perempuan dihadapan Naruto memperkenalkan dirinya yang bernama Mayumi Saegusa.
"Number" secata tidak sadar Naruto, dan Tatsuya membatin bersamaan. "Ah iya Senpai, perkenalkan ini Tatsuya Shiba" ucap Naruto memperkenalkan teman barunya.
"Tatsuya Shiba, senang berkenalan dengan mu Mayumi-san" ucap Tatsuya menjulurkan tangannya, dan dengan senang hati dijabat Mayumi.
"Senang berkenalan dengan mu Tatsuya-kun" ucap Mayumi melepas jabat tangan mereka. "Neh Naruto-kun" Mayumi memgalihkan pandangannya, dan menatap Naruto. "Apa setelah ini selesai kau ada waktu?" tanya Mayumi.
"Sepertinya tidak Senpai, jadwal ku padat hari ini dan besok" jawab Naruto terseyum tipis. "Bagaimana kalau lusa Senpai?" usul Naruto.
"Ya baiklah, tapi kau janji kan?" tany Mayumi memastikan.
"Akan aku usahakan Senpai" balas Naruto menganguk kecil, disertai senyum tipisnya.
"Kaicho" mereka bertiga, Naruto, Tatsuya, dan Mayumi mengalihkan pandanagan mereka pada sosok lelaki yang memanggil Mayumi dengan Kaicho. "Kaicho sedang apa dengan mereka? Kaicho kau ini ketua OSIS, dan berada dikelas utama jadi tak pantas kau berbicara dengan mereka" ucap lelaki yang memanggil Mayumi dengan sebutan Kaicho.
"Ta-tapi Hanzo-kun..."
"Tidak ada tapi-tapian Kaicho" potong lelaki yang dipanggil Hanzo oleh Mayumi.
"Huh baiklah" Mayumi menghela nafas pelan. "Aku permisi dulu Naruto-kun, Tatsuya-kun" ucap Mayumi yang pergi bersama Hanzo, tapi sebelum pergi Hanzo menatap tajam Naruto, dan Tatsuya yang berekspresi datar.
Naruto menaikan bahunya, tanda kalau Ia tidak tahu apa maksud dari tatapan tajam Hanzo. "Menurut mu dia kenapa Tatsuya?" tanya Naruto.
"Entah lah aku juga tak tahu" jawab Tatsuya datar.
.
(SMA sihir 1: Ruang Aula)
Dua orang dengan ekspresi berbeda masuk kedalam ruang aula yang mulai ramai. Naruto, dan Tatsuya, mereka lah dua orang yang masuk kedalam ruang aula.
"Kenapa harus dipisahkan" batin Naruto yang duduk ditempat khusu murid cadangan, yang sudah disediakan. "Neh Tatsuya apa menurut mu, Miyuki-chan akan bisa melakukan pidato agar tidak gugup?" tanya Naruto pada Tatsuya yang duduk disisi kirinya.
"Entah, semoga saja Ia tidak gugup" jawab Tatsuya datar. "Dan kenapa kau memanggil Miyuki dengan embel-embel chan?" tanya Tatasuya tajam.
"Tidak bolaeh kah? atau kau menyukai adik mu sendiri?" selidik Naruto dengan pandangan penuh curiga.
"Tentu saja tidak baka, dia sudah menyukai lelaki lain" jawab Tatsuya datar.
"Souka, memang siapa?" tanya Naruto penasaran.
"Entah aku juga tak tahu identitas aslinya yang jelas Ia pernah menolong hidup ku dan Miyuki, kalau tidak salah Ia dijuluki 'The Golden Prince' oleh para penyihir lain" Naruto membulatlan matanya dengan sempurna, Ia adalah 'The Goleden Prince' tapi Ia benar-benar lupa kalau Ia pernah menyelamatkan hidup Tatsuya dan Miyuki atau mungkin Ia melupakannya, Ia tak tahu itu. "Selain itu aku juga mengaguminya, tapi sayang kita hanya bisa bertemu dengannya selama satu minggu, dan itu juga Ia selalu memakai topengnya" tambah Tatsuya.
"Souka, kau sungguh beruntung bisa bertemu dengannya" balas Naruto tersenyum, yang berhasil menyembunyikan ekspresi shoknya. "Sial, aku harus mengingat kembali saat aku menyelamatkan mereka" batin Naruto kesal.
"Ya aku tahu itu" balas Tatsuya datar.
Dua gadis berwajah cantik tiba-tiba sudah ada disebelah mereka, tanpa mereka berdua sadari hawa kehadiran mereka. "Bolehkah aku duduk disebelah mu tuan?" tanya salah satu gadis itu yang memakai kacamata.
"Tak masalah nona" jawab Tatsuya tersenyum tipis. "Mata itu, aku harus menjaukan diri dari mereka" batin Tatsuya yang Identitasnya sebagai 'Silver Taurus' tidak ingin ketahuan, yang sebenarnya sudah ketahuan dari awal oleh Naruto. Tentu saja Naruto salah satu agen pemberantas organisasi hitam dijepang, mana mungkin Ia tidak mengenal Tatsuya Shiba, yang dijuluki 'Sliver Taurus' oleh penyihir-penyihir lain karena keahliannya dalam membuat CAD.
"Mata yang bagus" batin Naruto. Walaupu perempuan itu mempunyai mata yang dapat merasakan aura dan melihat jenis sihir roh, atau sebagainya, Naruto yakin kalau Identitasnya tidak akan terbongkar, pasti perempuan itu akan merasakan aura yang bercampur aduk jika ingin menyelidiki tentangnya.
"Na-nama ku Mizuki Shibata" ucap gadis berkacamata yang bernama Mizuki, dan menjulurkan tangannya kepada Tatsuya, dan Naruto.
"Nama ku Tatsuya Shiba, salam kenal" ucap Tatsuya menjabat tangan Mizuki.
"Naruto Fernandes" ucap Naruto tersenyum tipis, dan menjabat tangan Mizuki yang terulur.
Gadis yang ada disebalah Mizuki maju selangkah didepan Mizuki. "Perkenalkan nama ku Erica Chiba, salam kenal" gadis berambut merah yang ada disebalah Mizuki memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Salam kenal Erica-san" balas Naruto tersenyum tipis, begitu juga dengan Tatsuya.
.
Acara penyambutan Murid baru di SMA sihir 1 berjalan dengan lancar. Murid-murid baru memperhatikan sosok Miyuki yang berpidato dengan baik dan sangat berwiba, tapi tidak untuk Naruto Fernandes.
Walaupun dia mengagumi, atau tertarik dengan Miyuki, tapi Ia tidak tertarik dengan acara penyambutan Murid baru di SMA sihir 1, Ia lebih memilih membaca novel yang Ia bawa dari Apartemennya. Walaupun begitu Naruto dapat merasakan aura Miyuki yang dikeluarkan saat membaca pidato.
"Dia dapat menjadi Istri yang baik" guman Naruto menutup buku Novelnya yang belum selesai Ia baca. Naruto mengalihkan pandangannya kepada Tatsuya yang seperti belum beranjak dari tempatnya, padahal murid-murid lain sudah berhamburan ke kelasnya masing-masing.
"Kau tidak berniat membolos kan dihari pertama?" ucap Naruto menatap Tatsuya.
Tatsuya mengalihlan pandangannya ketika pendengarannya, menangkap suara selidik dari teman barunga. "Tentu saja tidak, aku tidak suka jalan berdesakan, lebih baik menunggu lama dari pada seperti itu" balas Tatsuya datar.
"Souka" ucap Naruto tersenyum tipis. "Bagaimana dengan kalian?" tanya Naruto menatap Mizuki dan Erica yang juga menatapnya.
"Kami menunggu kalian saja, kita kan satu kelas" jawab Erica tersenyum pada Naruto, dan dibalas dengan anggukan saja oleh Naruto.
Tatsuya berdiri dari duduknya, "Kita ke kelas" ucap Tatasuya datar yang bernjak pergi, diikuti oleh Naruto, Mizuki, dan Erica dibelakang Tatsuya.
.
Naruto, Tatsuya, Mizuki, dan Erica kini berdiri diambang pintu ruang aula. Mizuki dan Erica mereka tidak tahu sebenarnya dua pemuda tampan itu mau melakukan apa, tapi yang jelas mereka hanya mengikuti dua pemuda tampan tersebut.
Naruto yang bersandar di dinding dengan membaca Novel bersampul Hitam, tiba-tiba saja menutup Novelnya, dan memasukannya kedalam saku celananya. "Kau terlalu lama Miyuki-chan" ucap Naruto tiba-tiba, dan tentu saja membuat Tatsuya, Mizuki, dan Erica menatap yang dipandangan Naruto.
"Apa dia mempunyai Indra keenam" batin Tatsuya. Dan betapa shoknya dia ketika benar, sosok Miyuki keluar dari tempat yang dipandang Naruto. "Apa kau memaksakan diri utuk datang kesini?" tanya Tatsuya pada adiknya yang baru datang.
"Tidak Onii-sama" jawab Miyuki diikuti dengan gelengan kecil kepala.
"Kalian berdua kakak beradik kan?" tanya Mizuki mrnatap Tatsuya dan Miyuki.
"Kau tahu dari mana?" tanya (balik) Tatsuya shok
"Dari aura yang kalian pancarakan, kalian mempunyai aura yang sama, dan tentu saja orang seperti Mizuki akan megetahuinya" bukannya Mizuki yang menjawab melainkan Naruto.
"Naruto-san apa maksud mu?" tanya Miyuki menatap lembut Naruto.
Naruto memejamkan matanya beberapa saat, dan kembali membukanya. "Aura yang kalian pancarkan sama, jadi orang seperti Mizuki atau aku, pasti merasakannya" jawab Naruto tenang.
Ekspresi wajah Tatsuya kembali shok. Ia tidak tahu Naruto itu siapa, tapi yang jelas Ia harus berhati-hati dengan pemuda yang kelewat santai tersebut. "Aku harus selalu waspada padanya" batin Tatsuya.
"A-ano Naruto-san..."
"Ada apa Miyuki-chan?" tanya Naruto yang menyela ucapan Miyuki yang gugup.
"E-eto kenapa aura Naruto-san seperti pernah kurasakan, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Miyuki lembut.
"Sial, jika yang dikatakan Tatsuya benar, maka memang aku pernah bertemu dengannya seminggu" batin Naruto kesal. "Ehmm mungkin kita pernah bertemu tidak sengaja, entah dimana, tapi aura Miyuki-chan dan Tatsuya memang pernah kurasakan, mungkin 5 tahun yang lalu" jawab Naruto dengan senyum tipis. "Setidaknya ini berjalan sesuai sekenario, tanpa perlu repot-repot" batin Naruto memandangan lembut Miyuki.
"Miyuki-san apa yang kau lakukan dengan murid-murid menjijikan ini?" tanya seorang perempuan bertubuh tinggi dengan Oppai yang cukup besar.
"Jaga ucapan mu nona" balas Naruto ketus. "Kalau kau tidak bisa menjaga ucapan mu, akan aku potong lidah mu itu" lanjutnya.
"Fufufu~ Memangnya kau bisa apa siswa cadangan?" tanya salah satu dari 10 orang yang menghampiri Miyuki, yang bergener perempuan.
"Kau mau tahu aku bisa apa?" Naruto memejamkan matanya sesaat, dan kembali membukanya. Tiba-tiba ada datang Mayuni seorang ketua OSIS yang menghampiri mereka.
"Naruto-kun ini ada apa?" tanya Mayumi yang berjalan menghampiri mereka.
"Mereka menantang kami Senpai" jawab Naruto teeseyum tipis pada Mayumi.
Seorang lelaki siswa utama yang merupakan salah satu dari 10 orang yang menghampiri Miyuki memdecih kesal. "Akan aku balas kalian" ucapnya tajam yang segera beranjak pergi diikuti dengan teman-temannya yang memandang tajam Naruto dan Tatsuya
"Arigato Senpai" ucap Naruto membungkuk terima kasih pada sang ketua OSIS.
"Tak masalah Naruto-kun" balas Mayuni terseyum kearah Naruto, tanpa mereka sadari, Miyuki mentap cemburu mereka, Miyuki tidak tahu kenapa Ia bisa cemburu, tapi sepertinya Ia mempunyai sebuah ikatan dengan teman barunya dan kakaknya.
.
(Di kelas 1-E)
Naruto duduk dengan tenang di bagian pojok belakang dengan membaca Novelnya yang akan mencapai halaman akhir sebentar lagi. Naruto tak mempedulikan suara berisik dari murid-murid lain yang saling berkenalan. Matanya tetap fokus membaca sebuah Novel, hingga seorang guru datang kekelas mereka.
Naruto menutup Novelnya yang Ia baca, dan mengeluarkan sebuah kacamata mins yang Ia taruh dikantung blazer sekolahnya. Jaket biru dongker yang Ia bawa, Ia letakan dibagian sisi kiri mejanya, dan Ia mulai menyimak apa yang dikatakan gurunya, yang jelas hari ini Ia tidak membawa apa-apa selain Novel, dan Kacamatanya, jadi Ia tidak bisa mencatat pelajaran yang diberikan oleh guru.
SKIP TIME
Bel Tanda berakhirnya sekolah untuk hari ini berbunyi dengan keras. Siswa-siswi baik kelas utama atau pun bukan berhamburan keluar kelas, tapi tidak untuk beberapa Siswa-siswi kelas 1-E, yang manunggu teman sekelas mereka entah melakukan apa.
"Naruto sebenarnya apa yang kau lakukan sih?" tanya Erica tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Naruto
Mata Naruto yang terpejam kembali terbuka, dan menampakan dua mata yang berbeda warna. "Siapakan diri kalian, beberapa murid kelas utama sedang menunggu kita di gerbang sekolah"
.
.
.
BERSAMBUNG!
.
Bagaimana dengan chapter ini? menarik kah? atau tidak sama sekali?
Pairing sudah ditentukan, Naruto x Miyuki, yang berarti jalan cerita akan sedikit berbeda dengan canon. Dalam chapter ini terungkap ternyata Naruto pernah menyelamatkan hidup Miyuki dan Tatsuya, yang Ia lupakan.
Dalam fic ini ada beberapa, mungkin agak banyak tokoh dalam anime lain, termasuk 4 orang tim Naruto yang dari anime lain. Sedangkan musuh utama Naruto adalah OC.
.
Tanya Jawab:
Apa Naruto kehilangan cakra dan ninjutsunya? Iya
Kemana semua biju yang ada pada tubuh Naruto? tentu saja tidak ikut, pelemparan dimensi bukannya hanya seperti Hirashin, pelemparan dimensi mempertaruhkan nyawa, karena tidak adanya oksigen di ruang hampa, tempat 1000 lubang dimesi berada, dan tentu saja ke-9 biju mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Naruto. Bukannya itu masuk akal?
Apa Naruto hilang ingatan? tidak
Kenapa Naruto tidak membantu Jellal? Karena itu bagian awal cerita yang menentukan musuh utama untuk Naruto.
Cukup Sekian kolom tanya jawabnya.
.
Mohon Review
.
