ABOUT ABNORMALITY – Chapter 4
Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi
Anime/Manga: Naruto
Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Rate: M.
Warning: OOC, OTP, miss typo.
.
.
.
'Mungkin Kakashi hanya malu saat itu?' Benak Anko mengeluarkan kata-kata.
Ia ingat dengan jelas. Sejelas-jelasnya. Saat bibirnya sudah begitu dekat dengan bibir Kakashi. Hendak mengecupnya dalam sebuah gairah cinta yang membara.
Hanya tinggal beberapa inchi lagi jaraknya, namun kebrutalan tangan kanan Kakashi dengan terpaksa menghentikan itu semua. Menutupi wajahnya, memaksa bibir –penuh nafsunya- untuk urung beraksi.
Ah, sungguh memalukan. Biar bagaimanapun Anko memang harus mengakui hal itu.
Aksi ciumannya yang gagal beberapa waktu yang lalu mungkin memanglah sudah ditakdirkan untuk menjadi sebuah kenangan buruk dalam hidupnya.
Mengingatnya saja sudah membuat dirinya sweatdrop.
Kami-sama, kenapa kau begitu jahat pada saat itu? Tidak bisakah kau mengizinkanku untuk mengecap sedikit kenikmatan dari bibir jounin tampan itu?
Anko Mitarashi manyun. Andai saja saat itu mereka benar-benar berciuman, mungkin saat ini Anko suudah mengadakan pesta syukuran besar-besaran. Namun apa mau dikata. Takdir memang kejam, setidaknya begitulah petikan dari sebuah lagu kuno jaman dulu.
Namun para shinobi Konoha memang semuanya sudah diberkahi dengan tekad api. Mereka semua memang tidak kenal dengan yang namanya 'menyerah'. Mati satu tumbuh seribu. Begitulah. Gagal satu kali, bukan berarti ia akan gagal terus selamanya. Anko berusaha menyemangati dirinya yang sudah mulai luntur antusiasmenya.
Ia yakin, dengan beberapa usaha lanjutan, maka ia akan bisa menaklukkan hati Kakashi. Dan dengan begitu, ia juga bisa menunjukkan pada dunia bahwa lelakinya itu adalah pria normal baik-baik yang lurus.
Tentu saja! Demi leher Orochimaru terkutuk sialan –yang bisa memanjang hingga bermeter-meter, mana mungkin Kakashi Hatake itu pria abnormal!?
Anko berdiri, mengayunkan genggaman kuat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Aku tidak akan menyerah!" ucapnya kemudian dengan semangat berapi-api. Karuan saja gambaran api besar merah menyala yang hanya fatamorgana menghiasi background posisi berdirinya. Mewakili semangat masa mudanya yang tak kunjung pupus.
Hmm, rupanya ada baiknya juga berteman dengan Guy Maito.
Anko pun berpikir. Meskipun Kakashi kemarin tidak mengiyakan atau menerima pernyataan cintanya, tetapi Kakashi juga tidak menolak pernyataannya. Yah, meskipun sudah terang-terangan Kakashi menolak ciuman darinya. Menempelkan tangan besarnya beraromanya (?) pada wajah cantik Mitarashi. Menutupi muka unyu-nya dengan sangat tidak sopan.
Tapi itu tidak membuat semangat Anko surut. Ia akan terus menguji Kakashi. Sampai pria itu benar-benar menunjukkan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya terhadap Anko Mitarashi.
"Aku tidak akan menyerah, Kakashiiiiii!" jeritnya lagi pada diri sendiri. Gadis itu lalu menghempaskan dirinya dengan keras di atas tempat tidurnya.
'Ah, nyamannya kasur yang empuk ini.' Batinnya sambil tersenyum lebar.
.
.
.
Sekitar tiga jam kemudian, desa Konoha tengah diselimuti oleh malam. Di malam itu Kakashi lagi-lagi terlibat pertemuan dengan Anko. Tidak, Ankolah yang menuntut sebuah pertemuan. Dan mau tak mau Kakashi memenuhinya meskipun sebenarnya ia malas.
Dan setelah menyita waktu keterlambatan sekitar satu jam lamanya, Kakashi memulai perjalanannya. Ia langsung menuju tempat tinggal Anko. Tanpa mempedulikan suasana malam sejuk yang nyaman –yang sebenarnya membuatnya enggan untuk keluar rumah-, ia mempercepat langkahnya.
Lelaki itu telah sampai, lalu kini berjalan menyusuri lorong –menuju sebuah pintu berwarna cokelat gelap. Itu adalah pintu depan tempat tinggal Anko. Apartemen kecil sederhana yang dihuni oleh gadis lajang tomboy itu.
Dahi Kakashi Hatake sedikit mengernyit. Aneh, daun pintunya sudah sedikit terbuka. Tangan Kakashi yang semula hendak mengetuk jadi urung melakukannya.
Memangnya sedang apa gadis itu, sampai-sampai lupa merapatkan daun pintunya? Memangnya dia tidak takut akan ada penjahat yang masuk? Atau –dia juga tidak khawatir akan kedatangan hantu yang belakangan santer menjadi gosip di Konoha?
Asal tahu saja, belakangan diberitakan bahwa ada shinobi yang stress kemudian bunuh diri. Lalu arwahnya bergentayangan mengganggu siapa saja yang ia temui, terutama para berondong Konoha. Hmm, bisa dipastikan hantu tersebut adalah seorang Kunoichi.
Kakashi lantas kembali memikirkan alasan yang lebih logis, kemungkinan besar Anko hanya LUPA menutup rapat daun pintunya.
"Anko?" panggilnya lelaki itu dengan pelan. Dibiarkannya keheningan berjalan selama beberapa menit, berharap langsung ada jawaban dari sang gadis, namun nihil. Ia samasekali belum mendapat sahutan dari Anko Mitarashi. Sedang apa gadis itu? Apa ia sedang ada dirumah? Lagi-lagi sang jounin keren bertanya-tanya.
"Anko, aku sudah datang!" ulangnya lagi dengan suara sedikit dikeraskan. Berharap akan ada respon kali ini.
Masih belum juga ada jawaban. Kakashi pun mau tak mau merasa sedikit gelisah. Mungkinkah Mitarashi sedang tidak ada di dalam? Itu berarti, sia-sia saja ia berkorban –berjalan dalam rasa malas yang mendalam, menuju kediaman Anko ini?
Benar. Masih terdengar hening.
Akibat merasa tidak mendapat respon akhirnya Kakashi memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Toh, sang pintu sedang tidak tertutup rapat, sudah sedikit terbuka. Dan kemudian setelah memantapkan diri, hati, serta tekad yang dimilikinya, Hatake tersebut melangkah masuk dengan hati-hati.
Ia pun berjalan perlahan –menyibak pintu kayu itu dengan sopan.
Rasa was-was dalam benak lelaki itu semakin menjadi. Ia memandang horror pada suasana rumah Anko yang ternyata thriller itu. Sunyi, sepi dan sayup-sayup terdengar bunyi aneh dari dalam hunian. Juga diikuti oleh sebuah aroma wewangian.
Angin dingin tiba-tiba lewat berkelebat membuat kuduk jounin populer itu sedikit merinding. Ah, rupanya itu hanya efek AC yang juga lupa dimatikan sang pemilik rumah. Benar, terasa dingin sekali. Padahal cuaca diluar juga sedang dingin, kenapa harus repot-repot mendinginkan rumah jika suhu lingkungan sudah cukup minus.
Kakashi lagi-lagi menebarkan pandangannya, berharap mendapati clue bahwa Anko Mitarashi masih hidup dan ia temui dalam keadaan segar bugar saat ini.
Namun penantian lambat ini sedikit membuatnya jengah. Akhirnya dipercepatnya langkahnya, dan setelah memeriksa berbagai ruangan di apartemen itu, Hatake tersebut masuk kedalam kamar tidur Mitarashi.
"Anko?" panggilnya lagi.
Kini betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang agak kurang familiar di hadapannya. Berselimut dalam kabut tipis yang entah datang dari mana.
Seorang wanita sepertinya, berambut panjang gelap tergerai.
Dan, oh –bukan rambut gadis itu yang membuatnya kaget. Justru apa yang tengah dikenakannyalah yang menciptakan keterkejutan. Karena Kakashi tahu bahwa itu memang seorang Anko.
"Ah, Kakashi-san! Kau sudah datang?!" kata Anko dengan ceria. Pakaiannya terbuka. Sedikit terbuka. Seperti daun pintu kamarnya yang tadi juga tidak tertutup rapat. Tidak, itu bukan pakaian. Lebih tepatnya adalah –handuk.
Apa? Anko hanya mengenakan handuk?
Kakashi menautkan alisnya.
Itu sungguh mengejutkan, sama persis seperti rasa kaget yang muncul ketika tahu bahwa seri Icha-Icha memiliki seri lanjutan yang baru terbit. Hanya saja karena Kakashi bukan seorang gadis, mana mungkin ia menjerit-jerit histeris hanya karena sebuah rasa kaget. Jeritan hanya milik para wanita.
Sebelah mata Kakashi kini melihat Anko yang tampak berdiri dengan berbalutkan handuk berwarna cream. Berdiri tegak dengan pose sedikit menggoda.
Handuk yang tidak terlalu besar itu tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh sang Mitarashi.
Sepertinya Anko baru saja habis mandi. Aroma tubuhnya wangi. Tercium dalam jarak radius beberapa meter di mana Kakashi terpaku menatapnya. Rambutnya yang gelap tergerai. Agak berbeda. Berbeda dari tampilan Anko yang biasanya.
Kakashi bingung dengan apa yang dilihatnya. Mungkin ia sebaiknya tidak langsung masuk begitu saja. Mungkin ini adalah sebuah kesalahan. Tentu saja, lelaki mana yang tidak salah tingkah jika melihat gadis cantik sedang berpenampilan seksi seperti itu.
Kakashi Hatake pun berniat mengayunkan langkahnya untuk berbalik –pergi dari sana.
Anko terkesiap melihatnya. "Jangan pergi Kakashi! Aku mau minta tolong!" ucap Anko ketika melihat gelagat Kakashi yang hendak pergi itu. Ia lantas menatap Kakashi dengan penuh harap.
"A-apa?" sahut Kakashi pelan. Pria itu merasa tidak enak hati. Dan sepertinya ada firasat bahwa akan ada hal aneh yang bakal terjadi, mengingat ini adalah sebuah saat langka.
Dilihatnya Anko sedang memegang sesuatu di tangannya.
"Bisa tolong pakaikan kalungku? Tadi aku tanpa sengaja melepaskannya" ucap Mitarashi dengan polosnya. Tersenyum, serta memandang Hatake dengan tanpa dosa. Ia bahkan seolah cuek dengan beberapa bagian tubuhnya yang tereskpos itu. Leher jenjang, kedua bahu, separuh bagian dada, serta sepasang paha. Semuanya terlapisi kulit putih mulus yang menggoda.
'Apa?' Pikir Kakashi. Ia mengernyitkan dahinya. Sebelah matanya itu memandang Anko dengan ekspresi takut-takut yang sedikit sulit dibaca. Takutkah, atau enggan?
"Sulit untuk kembali memasangnya" lanjut Anko. Wajah manisnya masih tampak penuh harap. Ia kira Kakashi yang baik hati itu cukup gentle untuk bisa menolong wanita lemah cantik macam dirinya.
Dengan sedikit terpaksa Kakashi pun maju dan mendekati Anko. Ini adalah sesuatu yang agak aneh. Tidak pernah ia mendapati Anko dalam keadaan hampir telanjang seperti ini.
Hampir telanjang? Ya, handuk kecil itu bisa melakukan apa? Ukurannya terlalu kecil untuk menyembunyikan tubuh Anko yang sudah bukan anak-anak itu lagi. Kedua paha gadis itu dengan jelas terlihat. Bahkan sampai kebagian pangkalnya. Sementara di bagian atas, dada gadis itu hanya tertutupi separuhnya. Menampilkan ukuran memukau yang sungguh bisa membuat para pria mimisan.
Dan yang makin aneh lagi, Anko tidak membalikkan badannya agar Kakashi bisa memasang kalungnya dari bagian belakang. Ia justru meminta Kakashi –tanpa lewat kata kata- untuk memasangkannya dari bagian depan.
Sedikit merepotkan memang, bagi Kakashi.
Mungkin benar tebakannya, Anko sedang berusaha menggodanya. Tampilan seksi ditambah lagi dengan aroma tubuh yang wangi. Rambutnya yang kini membuatnya terlihat seperti gadis manis lemah yang suka diperlakukan lembut oleh seorang lelaki. Sangat feminin. Berbeda dari biasanya. Itu sungguh tidak bisa menghalangi khayalan seorang pria akan sebuah hal yang mesum.
Siapa yang tidak tergoda? Lelaki mana yang tidak tergoda, andai sedang melihatnya.
Tetapi, apa Kakashi merasa seperti itu?
Sambil melihat wajah tertutupi topeng tersebut, otak Mitarashi mulai penuh dengan pemikiran serta asumsi –mengenai apa yang akan dilakukan oleh Kakashi. Mungkinkah pria itu akan memandangi tubuhnya –seperti yang ia kira? Atau paling tidak, ia bisa melihat sedikit rona merah dari balik wajah tampan yang tersembunyi itu.
Sungguh, ia sudah sangat merasa percaya diri dengan tubuhnya ini. Tidak sia-sia ia menjaga berat badan selama bertahun-tahun. Mengganti jatah makan nasinya hanya dengan cemilan macam dango.
Tidak sia-sia pula ia meminta ramuan rahasia –lulur tradisional Bali dari nenek Chiyo tetangganya, untuk membersihkan kulitnya secara teratur. Tunggu, Lulur Bali? Anko bahkan tidak tahu apa dan di mana itu Bali. Kata nenek tua yang berprofesi sebagai pedagang sayur mayur tersebut, Bali itu adalah sebuah kota wisata terkenal yang berada di Indonesia.
Ah, namun Anko tak peduli. Yang penting, body sudah oke. Wajah sudah manis menggoda. Kini ia siap membuat Kakashi mimisan, atau mungkin lebih dari sekedar mimisan.
Sayang, pucuk dicinta ulam tak kunjung tiba. Anko bisa melihat, dengan tenangnya pria itu memasangkan kalung miliknya. Tidak ada kegugupan yang terlihat. Tidak ada getaran dari tangannya. Tidak ada wajah yang memerah –karena topeng sial itu. Tidak ada debaran jantung yang terasa keras –karena organ vital itu letaknya di dalam dada dan tulang.
Dan juga yang lebih parah –sorot mata tunggal Kakashi tampak tidak tertarik untuk memandangi tubuhnya. Padahal dadanya sudah sangat lapar –meminta untuk dipandangi atau mungkin disentuh oleh Kakashi. Kedua paha indahnya pun sudah sangat meminta perhatian, berharap setidaknya akan ada seseorang yang membelainya dengan lembut.
Anko jadi merasa bingung. Sebenarnya Kakashi ini pria macam apa sih? Apa godaannya kali ini akan berakhir dengan kegagalan –sama seperti ciuman waktu itu?
Akhirnya kalung sudah selesai terpasang. Dan karena kebuntuan dari menunggu sikap agresif Kakashi itu, Anko memutuskan bahwa ialah yang akan memulainya. Ia akan melakukan rencana kedua, rencana B.
Kakashi baru berniat menjauh dari tubuh seksi Mitarashi. Namun entah kenapa –sepertinya disengaja, gadis itu seolah kehilangan keseimbangannya dan merasa limbung, lalu jatuh ke depan mendorong tubuh Kakashi. Malangnya, pria itu seolah tidak sedang memiliki pijakan yang kuat pada lantai di kaki mereka.
Brukk. Keduanya pun jatuh di lantai kamar Anko. Dengan posisi gadis itu berada diatas tubuh Kakashi. Menindih sang pria yang masih berpakaian shinobi lengkap tersebut.
Kakashi mendengus, mungkin karena terkejut dan merasa sedikit kesakitan akibat terjatuh dengan keras di atas lantai kayu dingin kamar Anko. Ia juga merasa bingung, mengapa Anko bisa sebegitu cerobohnya sampai-sampai bisa terjatuh serta 'mengajak'nya.
Belum hilang keheranan itu, perasaan ganjilnya itu semakin mencuat. Mata gelapnya melebar karena melihat pemandangan di depannya: Anko yang tampak polos.
Kakashi Hatake tak habis pikir, sejak kapan dan mengapa kain penutup tubuh gadis itu sudah terlepas. Teronggok di samping mereka, memandangi mereka berdua yang berpose menantang itu dengan tanpa dosa.
Handuk itu menjadi saksi bisu mengenai apa yang baru saja terjadi. Dua insan yang tubuhnya sedang berhimpitan, dimana Anko Mitarashi yang sedang telanjang, totally naked, berada tepat di atas tubuh Kakashi yang masih berseragam formal.
Kemudian terlihat jelas Kakashi membuang pandangannya ke arah lain, ketika ia tahu Anko menatapnya dengan pandangan romantis yang memabukkan.
Menghindar? Atau tidak suka?
'Oh Kakashi, apa aku tidak cukup membuatmu berdebar saat ini?!'
Anko tersenyum kecil dengan kedua pipi putih yang merona. Jantungnya sedikit berdebar. Ia sungguh gila, berharap akan ada aksi agresif ataupun kasar dan liar sekalipun dari seorang Kakashi Hatake. Tapi nihil. Jounin itu tidak memandanginya lebih lama. Dan juga, pria itu samasekali tidak mimisan. Oh, bahkan tangan pria itu samasekali tidak menjamah tubuhnya. Anko bahkan sampai sempat meragukan keindahan tubuhnya sendiri.
Padahal dadanya yang tidak bisa dibilang kecil itu berada tepat di atas dada Kakashi. Tubuhnya sudah sangat terlihat. Punggungnya, pinggang dan pinggulnya. Dan untunglah masih ada kain berbentuk segitiga yang menutupi bagian tubuh kecilnya yang sama menariknya dengan dadanya tersebut.
Anko Mitarashi meracau di dalam hati. Ia tahu ia agak kelewatan. Tetapi seharusnya pria yang juga mencintainya tidak akan menahan diri terlalu lama bukan? Mana Kakashi, mana aksimu yang bisa membuatku merasa benar-benar seperti wanita sejati? Anko terus bergumam di dalam hati kecilnya.
Ia terus dan terus menunggu. Sampai akhirnya ia bisa mendengar bibir pria itu menggumamkan sesuatu. Lebih tepatnya –menggerutu.
"Aduuh, Anko. Kau ini….." setidaknya itulah kalimat yang keluar dari mulut Kakashi.
Ya, hanya itu. Bahkan dari nada bicaranya sangat bisa ditangkap sebuah reaksi tidak suka. Kakashi –tidak tertarik pada aksi menantang Anko kali ini? Gadis itu menelan ludah. Bayangan kegagalan sudah menghampirinya dengan jelas. Kakashi tidak merespon godaannya. Habislah sudah!
Usaha Anko benar-benar gagal.
Kakashi bangkit dari posisi jatuhnya, spontan membuat Anko juga ikut melepaskan dirinya dari menindih tubuh sang jounin. Hatake sudah duduk, lalu mengambil handuk Anko yang terbuang.
Kain lembut itu lantas dilemparkan Kakashi ke arah Anko yang kedua tangannya sibuk terlipat untuk menutupi bagian dadanya.
"Cepat pakai bajumu!" perintah Kakashi datar. Eh tidak, nada suaranya agak sedikit ditinggikan.
"Setidaknya carilah handuk yang lebih besar!" gerutu Kakashi yang kini berdiri. Pria itu pergi, menjauh darinya, dan menghilang dari pandangannya. Anko melongo. Bengong dan heran seratus persen. Andai ada orang lain di sisinya, ia sudah pasti akan berkata 'Cubit aku jika ini mimpi!'.
Ya, ia seolah bermimpi. Kakashi menyia-nyiakan dirinya, menyia-nyiakan tubuhnya. Ah, barangkali benar, Kakashi Hatake adalah tidak normal? Anko menghela nafas panjang berkali-kali, menenangkan dirinya yang mulai merasa gila.
Frustasi, eh? Siapapun pasti kecewa berat jika gagal menggoda sosok yang disukai. Terlebih sorotan Anko kali ini adalah Kakashi si pria dingin.
Kakashi sudah keluar melewati pintu, menghilang dalam sekejap. Anko diam, menunduk dan mendramatisir suasana hatinya. Barangkali saja ia setelah ini akan menangis habis-habisan dalam kamarnya. Memeluk bantal sambil banjir air mata.
Ah, sungguh buruk. Kenormalan seorang Kakashi memang sungguh diragukan!
Kami-sama, lagi-lagi takdirmu terlalu kejam untukku!
.
.
.
Hari demi hari pun berlalu. Ah tidak, tepatnya genap tiga hari setelah peristiwa naas itu terjadi. Peristiwa malang nan mengenaskan yang akan selalu terpatri dalam kamus kehidupan si gadis Mitarashi. Anko yang (nyaris) patah hati, merasa kecewa pada Kakashi Hatake. Sangat kecewa.
Kakashi, sang copy-ninja keren yang selama ini selalu didambakannya. Kakashi teman lamanya yang diam-diam sudah mencuri hatinya. Kakashi yang kini membuatnya merasa sangat menderita.
Oh, Anko bahkan kini tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. 'Perampok asmara' tersebut sudah membuatnya uring-uringan. Tentu saja, menahan gejolak asmara memang tidak gampang. Dan tatkala gadis itu yakin bisa berakhir bahagia dengan sang lelaki, Kami-sama malah tidak mengijinkannya.
Dunia seolah menertawakannya, dan Anko benci akan hal itu. Selain uring-uringan, gadis itu menjadi makin moody, juga malas mandi. Mungkin jika seseorang menawarkan gadis itu untuk mendengarkan lagu Gloomy Sunday yang terkenal menyeramkan itu, Anko tak ragu akan menerimanya. Ia akan mendengarkannya dengan seksama kemudian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Ah, skip mengenai aksi bunuh diri itu. Dunia masih cukup indah untuk dinikmati –setidaknya setelah ia bisa melupakan patah dan kfrustasian hatinya.
Kembali kita bahas mengenai Anko yang malas mandi itu. Benar, gadis itu kini seperti tunawisma atau gembel dengan pakaian compang-camping. Ia tak lagi memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Lupakan juga mengenai gosok gigi, karena sekali lagi penampilan kini tidak terlalu penting lagi baginya. Ia juga tidak merasa berpenampilan menarik. Terang saja karena tragedi 'aksi tampilkan tubuh seksi' kemarin-kemarin yang berakhir dengan kecuekan dari Hatake. Sungguh, rasanya tidak ada guna memiliki tubuh ramping proposional dengan dada serta bokong besar, kulit lembut terawat serta wajah mulus kinclong di depan Kakashi. Pria itu tidak tertarik padanya!
Ha! Anko benar-benar merasa muak sekarang. Pokoknya dunia seakan-akan telah runtuh. Menyisakan puing-puing harapan yang berdiri lemah dengan nista.
Nasibnya seperti orang yang hina. Bahkan mungkin tak lama lagi ia akan menjadi orang gila. Gadis itu lantas mulai berkata-kata di dalam hati.
'Kami-sama, mengapa takdirmu ini kejam sekali?'
'Tak pantaskah aku mendampingi Kakashi? Apa dosaku? Dan apa juga dosa Kakashi hingga ia berubah haluan menjadi sesosok pria yang tidak bernafsu kepada perempuan?'
Anko berpuisi dalam kegalauannya. Ia kini juga bahkan ikut dalam grup lebay milik para alay di desa Konoha.
Gadis yang cantik namun tomboy serta overacting itu lalu melanjutkan deklamasinya –berpuisi di dalam hati.
'Kami-sama, mungkinkah? Apakah seri Icha-Icha yang dahulu selalu dibaca oleh Kakashi itu yang membuatmu menghukumnya?'
'Kenapa kau tega membiarkannya menjadi seorang pria gay?'
'Aku mohon, ampunilah dia. Aku sangat mencintainya….'
'Kami-sama, aku –'
TOK. TOK. TOK. Suara pintu diketuk.
'Aku ingin kau mengizinkanku untuk menjadi kekasihnya….'
TOK. TOK. TOK. Kali ini ketukan lebih keras.
'Kami-sama, aku –'
"Ada orang di dalaam?!" teriak sebuah suara yang tadi mengetuk pintu.
Anko langsung gondok dengan parah. Sedang asyik berpuisi dramatis malah diganggu oleh kehadiran seseorang.
'Siapa sih?' pikirnya kesal. Ia lantas bangkit dari kasur yang jadi tumpuan keresahannya selama tiga hari ini. Anko pun berjalan keki, dengan enggan menuju pintu.
"Hey, Anko-sensei apa kau ada di rumah?! Jika ya, tolong buka pintunya!"
Mitarashi merasa makin jengkel, lebih tepatnya –marah. "SABAR DONG!?" teriak Anko dengan kencang. Membuat si tamu tak dikenal terkejut setengah mati.
Dan tatkala pintu sudah ia buka, gadis itu malah menatap dengan tatapan makin miris. Ternyata Naruto si bocah yang sedang mencarinya.
"Ada apa? Kenapa mencariku?" ujarnya bad mood sambil melipat –menyilangkan kedua tangannya di dada. Anko bersandar pada sisi samping pintu rumahnya. Wajahnya menyiratkan tatapan tajam. Bibirnya tidak tersenyum. Rambutnya berantakan. Dan jikalau andai ia merokok seperti Asuma Sarutobi-sensei bisa dipastikan wanita tersebut tak jauh beda dari preman pasar.
Naruto menelan ludah. Ia bisa merasakan aura kegalauan yang kental dari sosok sensei di depannya tersebut. Sepertinya Mitarashi sensei sedang dalam frustasi stadium akhir.
"Ah! A-anu… Hokage-sama mencari sensei. Katanya sensei harus menghadap ke ruangannya, sekarang" sahut Naruto takut-takut.
'Aah, menghadap Hokage? Paling-paling akan mendapat misi' batin Anko malas. Ia masih menatap Naruto dengan tajam. Menyisakan ketakutan serta grogi dari si bocah berambut pirang. Bagaimana mungkin tidak takut? Anko sudah pernah memberi benjolan pada kepalanya. Guru wanitanya ini sudah masuk dalam list 'guru galak' baginya.
"Kalau begitu, saya pergi dulu ya, sensei.." tukas Naruto cepat –sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang cukup gatal –juga sebagai antisipasi menyembunyikan rasa kekinya.
"Ya, pergi sana!" jawab Anko Mitarashi sambil menampilkan gesture tangan kanan yang mengibas –mengusir bocah tersebut. Lalu dengan pelan ia kembali masuk ke dalam rumah. Menyiapkan diri untuk segera meluncur ke akademi.
.
.
.
To Be Continued
A/N:
GOMEN ya, lama updatenya…. Meskipun lama saya tetap mikirin fic ini kok.
Btw readers sekalian pada nggak percaya kan kalo Kakashi-san itu abnormal? Jika ya, syukurlah. Heheh.
Sekali lagi gomen, jika terkesan kurang fokus pada hubungan KakaAnko. Tapi nanti endingnya akan fokus pada mereka kok. Jujur saya masih kurang puas sama fic ini. Keterbatasan jam terbang, nggak punya banyak waktu buat latihan menulis T_T
Lain kali saya bikin fic KakaAnko lagi yang lebih bagus deh…
Biar gimana pun makasih dah mau baca or ngikutin fic ini. Review minna, please?!
