A/N : Maaf untuk update yang lama sangat ini. Tetapi saya harap kalian dapat menikmati chapter ini. Maaf untuk segala kekurangan yang ada, dan saya mohon kritik serta saran lewat review.
OH_15
Rasanya semua terasa berputar, begitulah yang dirasakan Tifa ketika dia membuka matanya. Kepalanya terasa pusing, sementara pandangannya agak samar-samar. Setelah dia mengedipkannya berkali-kali, barulah pandangannya menjadi jernih. Pemandangan pertama yang dilihat Tifa adalah langit-langit yang dicat warna putih, lalu Tifa menoleh ke kanan, dan dia melihat jendela yang ditutup. Sepertinya dia berada di sebuah kamar, hanya saja dia tahu ini bukanlah kamarnya. Tifa lalu menolehkan kepalanya ke arah kiri, dan matanya menangkap meja belajar lengkap dengan kursi serta tumpukan buku-buku di atasnya. Selain satu set meja belajar, Tifa juga melihat lemari pakaian berukuran sedang di sampingnya.
Dengan sedikit memaksakan diri, Tifa berusaha bangun sambil memegang kepalanya. Entah mengapa, ingatannya terasa agak samar. Dia hanya ingat ketika seorang pria tak dikenal tiba-tiba saja menghampirinya, dan kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi karena segalanya menjadi gelap. Lalu apa yang terjadi dengan Cloud juga dia tidak tahu. Eh, atau mungkin lebih baik dia mencari tahu terlebih dahulu sekarang dia tengah berada di mana. Begitu banyak 'misteri' yang ingin sekali dia pecahkan, sampai-sampai rasa pusing di kepala Tifa menjadi lebih parah. Akhirnya, Tifa tidak bisa menahan dirinya untuk berbaring kembali di ranjang. Tifa langsung menyumpah dalam hatinya, sambil bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
Suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengalihkan perhatiannya, dan dibalik pintu, terlihat sosok seorang pria berambut jabrik pirang yang tengah mengenakan kaus t-shirt abu-abu yang dipadu dengan celana pendek berwarna hitam. Tangan kanannya diperban, sementara tangan kirinya memegang segelas air. Ekpresi wajah Cloud terlihat lelah, tetapi langsung mencerah ketika melihat Tifa yang telah membuka kedua matanya kembali. Sambil sedikit mempercepat langkahnya, Cloud berjalan menuju pinggir ranjang dan duduk di sana.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Cloud. "Kau sudah tidur selama berjam-jam."
"Ini ... dimana?"
"Rumahku, atau mungkin lebih tepatnya ... kamarku."
Tifa langsung syok ketika mendengar bagian terakhir kalimat Cloud. Namun Cloud buru-buru membuka mulutnya kembali sebelum terjadi kesalahpahaman.
"Kau pingsan setelah ada pria aneh yang tiba-tiba memukulmu," kata Cloud. "Kemudian aku membawamu kabur karena kau nyaris diculik dan dibawa entah kemana. Cukup susah payah karena lenganku seperti ini."
Tifa mengamati lengan Cloud yang dililiti perban. Melihat perban itu, Tifa jadi teringat ketika Cloud tiba-tiba ambruk di awal-awal pertandingan kedua. Bau obat tercium dari perban, dan tangan Tifa entah mengapa terasa menggelitik untuk memegang perban itu. Tetapi tentu saja, hal itu dia tahan.
"Maafkan aku," kata Tifa. "Karena aku selalu merepotkanmu."
"Kau tidak perlu minta maaf. Sekarang bagaimana keadaanmu?"
Tifa memegangi kepalanya. "Agak pusing."
"Tidurlah lebih lama kalau begitu."
Cloud merentangkan tangannya untuk meletakkan gelas di atas meja belajar. Ketika Cloud menggerakkan lengan kanannya, dia langsung meringis kesakitan. Ringisan itu membuat Tifa kembali terbangun dan menghampiri Cloud yang masih belum beranjak dari pinggir ranjang.
"Memarmu ... bagaimana dengan memarmu?" tanya Tifa. "Astaga, sepertinya makin parah."
"Aku tidak apa-apa, sungguh."
Tifa menggelengkan kepalanya. "Kau ... apa kau menggendongku dengan lengan yang memar seperti itu?"
Cloud mengangkat bahunya. "Aku tidak punya cara lain untuk mengangkatmu."
"Tetapi bagaimana dengan tanganmu? Kau tahu kalau tanganmu begitu berharga, kan?"
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku hanya perlu mengistirahatkan lenganku."
Tifa lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Kurasa, akan kesulitan bagimu untuk melakukan aktivitas biasa sekarang."
Cloud tidak menjawab, dan Tifa menganggap itu sebagai 'iya'. Kemudian, dia tersenyum dan menyentuh pundak Cloud.
"Aku akan membantumu," kata Tifa. "Mulai sekarang."
Perkataan itu membuat Cloud kaget, namun ketika dia baru mau menjawab, tiba-tiba saja Tifa terbangun dari tempat tidur dan keluar kamar. Seolah sakit kepala hebat yang dia rasakan sudah tidak terasa lagi. Cloud dengan terburu-buru mengikuti Tifa, di rumahnya memang tidak apa-apa, namun membiarkan seorang gadis melakukan semacam 'inspeksi' terhadap rumahnya rasanya ... agak aneh. Dengan langkah yang sedikit cepat, Tifa menuruni tangga dan segera menuju dapur. Dengan sedikit lancang, Tifa membuka isi kulkas dan membuka-buka isinya. Seolah-olah dia adalah seorang relawan yang tengah mengunjungi rumah-rumah para fakir miskin, tetapi tentu saja hal itu sungguh berkebalikan dengan Cloud. Isi kulkas Cloud penuh dan ada banyak sayuran, tetapi ada beberapa yang sudah mulai tidak segar.
"He—hei, kau sedang apa?" tanya Cloud.
"Siapa yang memasak di rumahmu?" tanya Tifa sambil mengambil tomat. "Atau ... apa kalian sering makan masakan rumah?"
Cloud menjawabnya dengan sebuah gelengan, dan Tifa membalasnya dengan menghembuskan napas.
"Berarti, kalian sering memesan makanan ya? Atau paling tidak, pasti makan makanan instan."
Cloud memiringkan kepalanya. "Ada susu juga sebenarnya."
"Tetap tidak sehat, Cloud. Wah, ada banyak buah juga ternyata."
Biasanya Cloud akan marah jika ada yang melakukan hal yang sama dengan yang Tifa lakukan, tetapi entah mengapa kali ini Cloud tidak merasa begitu. Alih-alih marah, dia malah merasa malu.
"Memang, rasanya keputusanku untuk membantumu rasanya tepat," kata Tifa yang masih melihat-lihat isi kulkas. "Oh, apa aku boleh memasak sekarang?"
"Hah?"
"Memasak, aku akan memasakkan sebuah makanan yang simpel untukmu. Kau sekalian mencoba bagaimana rasanya."
"Em ... anu."
"Sudahlah, aku anggap saja itu boleh."
Belum sempat Cloud melanjutkan kata-katanya, Tifa sudah mengambil celemek yang tergantung di kursi dan memakainya. Dengan lihai, dia memilih bahan-bahan dari kulkas dan kemudian memisah-misahkannya. Kebanyakan yang Tifa ambil adalah sayur-sayuran, seperti brokoli, wortel, kol, bawang putih, dan lain sebagainya. Sayur-sayur itu kemudian di potong-potong dan semuanya ditaruh di sebuah mangkuk berukuran besar. Setelah itu, Tifa celingak-celinguk mencari sesuatu, dan dia kembali 'menjelajah' rak-rak konter di dekat kompor. Ketika Tifa membuka konter atas, akhirnya Tifa menemukan apa yang dia cari, sebuah kuali besar berwarna hitam.
Cloud mengamati Tifa dengan decak kagum. Seumur-umur, baru kali ini ada orang selain orangtuanya memasakkan makanan untuknya. Terutama setelah sang Ibu pergi, maka sudah tidak ada orang yang memasak di rumah. Cloud sendiri juga tidak bisa memasak, bahkan untuk memasak air saja bisa sampai gosong karena dibiarkan terlalu lama. Dia sendiri juga tidak punya pacar yang bisa memasakkan makanan untuknya, dan Cloud memang tidak pernah punya pacar sebelumnya. Karena itulah Cloud bisa dibilang paling anti untuk berurusan dengan dapur.
Tetapi kali ini, semuanya menjadi berbeda. Ada seorang wanita yang bukan pacarnya, namun bisa begitu perhatian padanya dalam waktu singkat. Padahal tadi nyawanya sempat terancam bahaya, tetapi kali dia masih bisa memikirkan orang lain. Mulai dari menawarkan untuk merawatnya sampai lengannya sembuh, sampai memasak menu makanan setiap hari seperti sekarang ini. Tifa sungguh wanita yang berbeda dari yang lain, di antara para wanita zaman sekarang yang terkesan tidak mau susah dan manja. Pemikiran Cloud tidak berlebihan, karena teman sekelasnya yang perempuan sudah bisa menjadi bukti nyata. Seumur-umur, baru kali ini Cloud bisa merasa kagum terhadap orang lain, wanita pula.
Berpikir seperti itu tanpa sadar membuat Cloud lupa waktu. Kini Tifa sudah hampir selesai memasak, dan tidak lama kemudian, Tifa sudah meletakkan masakannya dari kuali ke sebuah mangkuk putih berukuran sedang. Masakan itu terasa begitu harum dan penampilannya menarik. Tidak lupa, Tifa juga menaburkan sesuatu ke atas masakannya, bawang goreng. Entah darimana Tifa bisa menemukan bawang goreng itu.
"Kau mau mencoba?" tanya Tifa. "Aku akan memindahkannya ke piring kecil, piring kecil ada di mana?"
"Di rak atas, tepat di hadapanmu," jawab Cloud. "Kau bahkan bisa menemukan bawang goreng, tetapi tidak bisa menemukan piring kecil?"
"Ah, sudahlah."
Menuruti perkataan Cloud, Tifa membuka rak dan mengambil dua buah piring kecil dari sana. Dengan hati-hati, Tifa mengisi masing-masing mangkuk itu dengan sejumlah besar sayuran dan sendok kecil. Baru setelahnya, dia menyerahkan salah satu mangkuk ke Cloud untuk membiarkannya mencoba.
"Ini adalah salah satu resep yang diajarkan Ibuku," kata Tifa. "Kau coba, apakah enak? Atau ada yang kurang?"
Cloud mencoba sesuap dari sayuran itu dan langsung mengunyahnya. Hanya dengan tiga kali kunyahan, Cloud dapat menyimpulkan satu kata untuk menggambarkan rasanya, "enak."
...
"DASAR BODOH!"
Sebuah gebrakan tangan di meja membuat dua pria bertubuh besar itu terkejut, dan tanpa disuruh lagi, mereka segera pergi meninggalkan ruangan. Liam menghembiskan napasnya dengan kesal, rencananya lagi-lagi gagal. Sudah kesekian kalinya dia mencoba untuk menangkap putrinya dan membawanya untuk tinggal di sini, namun entah mengapa rencananya selalu saja gagal. Dia menyumpah dalam hatinya, dan terbawa emosi, Liam langsung menyambar gelas yang ada di atas meja dan segera melemparnya ke tembok hingga pecah berkeping-keping. Air yang ada di dalamnya pun merembes dan membasahi kursi yang ada di bawahnya.
Setelah melempar gelas, hatinya kini merasa sedikit lebih lega, dan kemudian dia menjatuhkan dirinya di kursi. Liam sungguh lelah, sangat lelah malah. Dia sudah beberapa kali memikirkan rencana untuk membawa Tifa kemari dan hidup bersamanya, namun hasilnya selalu nihil. Rencananya selalu gagal, dan sebabnya juga entah mengapa selalu sama, ada seseorang yang membantu Tifa untuk kabur. Pada rencana sebelumnya memang tidak terlihat berhubung sosok itu mengenakan helm dan jas hujan, tetapi kali ini, bawahannya berkata bahwa yang menolong Tifa adalah seorang pemuda berambut jabrik pirang. Dia mengenakan baju basket, bertubuh tinggi, dan kelihatannyasebaya dengan Tifa. Entah siapa dia, tetapi Liam belum mau memikirkan itu sekarang.
Liam mengacak-acak rambutnya karena stres, dan tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya kembali terbuka. Dari balik pintu, terlihat sosok perempuan cantik berambut pirang yang dikuncir, mengenakan dress berwarna putih, serta hak tinggi yang menimbulkan suara ketukan setiap kali dia melangkah masuk. Liam tidak perlu mengangkat wajahnya untuk mengetahui siapa sosok wanita yang kini berada di hadapannya.
"Kau terlihat sungguh berantakan," katanya, "rencanamu gagal lagi?"
Liam tidak menjawab.
"Aku ingat ketika kau memikirkan rencana ini sekitar seminggu yang lalu, kau juga terlihat stres," katanya lagi, sambil duduk di kursi yang terletak di sampingnya. "Tetapi kali ini, kau kelihatan jauh lebih parah."
"Diamlah, Anagaby," jawab Liam yang pada akhirnya membuka mulut. "Dia putriku, dan aku akan melakukan segala cara untuk membawanya ke sini."
"Dasar keras kepala."
"Meski Tifa membenciku, tetapi aku selalu ingin bersamanya. Karena itulah, aku selalu berusaha untuk membujuknya meski harus dengan paksaan."
"Wah wah, kau jahat sekali pada mantan Isterimu, kau tidak memikirkannya seandainya Tifa kau rebut?"
Pandangan Liam tiba-tiba menyipit. "Dia yang terlebih dulu menggugat cerai, untuk apa juga aku memikirkannya?"
"Ya ya, aku mengerti itu. Karena waktu itu juga aku yang terlebih dulu menggugat cerai mantan Suamiku," kata Anagaby. "Sephiroth adalah sosok pria yang terlalu lembut, dan dia terlalu disibukkan dengan naskah-naskahnya. Sampai-sampai dia seperti melupakanku, dan hanya memperhatikan Cloud."
"Cloud? Siapa dia?"
"Anakku dan Sephiroth, tentu saja. Meski dia mewarisi warna rambut dan mataku, tetapi dia lebih mirip Ayahnya," jawab Anagaby. "Semoga saja dia mampu mendapat pekerjaan yang lebih baik, tidak seperti Ayahnya."
Kali ini Liam tidak menjawab lagi.
"Oh ya, aku rasa kau belum memikirkan rencana selanjutnya untuk merebut puterimu, kan?"
Liam tidak langsung menjawab, setelah beberapa detik barulah Liam menjawab dengan mengangguk.
"Ya sudah, aku akan membiarkanmu berpikir pelan-pelan," kata Anagaby yang tiba-tiba beranjak dari kursi. "Meski sebenarnya aku memiliki rencana."
"Rencana?"
Anagaby mengangguk. "Rencana yang cukup brilian, apa kau mendengarnya?"
"Selama itu mampu membawa Tifa ke sini."
"Aku ingin memberitahumu, tetapi tidak seru kalau kau langsung menyerah," kata Anagaby. "Lebih baik kau pikir-pikir dulu, jika kau memang kehabisan akal, barulah aku akan memberitahumu."
Dengan langkah yang anggun, Anagaby meninggalkan meja dan keluar dari ruangan. Pandangan Liam tidak teralih sedikit pun darinya. Semenjak bertemu dengan wanita itu untuk pertama kalinya, Liam sudah merasa bahwa Anagaby bukanlah wanita biasa. Meski mereka memiliki ambisi yang sama, namun entah mengapa Liam merasa dia tidak bisa percaya pada Anagaby sepenuhnya. Seolah-olah di balik senyum serta keanggunannya, terdapat sebuah rencana. Bukan rencana biasa, melainkan sebuah rencana yang sangat berbahaya. Saking berbahayanya, sampai-sampai tidak menutup kemungkinan bahwa nyawanya suatu saat bisa terancam juga.
"Anagaby, kau memang selalu misterius dan mencurigakan."
Mohon isi kotak review yang di bawah ya. Dan jika kalian ada ide untuk kelanjutan fic ini, silahkan sampaikan lewat review atau message. Karena akhir-akhir ini saya sering terkena writer's block alias kekurangan ide. Selain itu, kuliah juga semakin sibuk. Tetapi tenang saja, saya tidak akan menelantarkan fic ini.
