A/N : Apa kabar semua? Maaf atas update yang lama karena saya juga lagi ujian, dan saya berterima kasih pada kalian yang mau bersabar. Mohon read dan review ya, makasih.
OH_16
Entah sudah berapa hari semenjak Tifa memutuskan untuk membantu mengurus Cloud, namun yang pasti, setiap hari Tifa selalu datang ke rumah Cloud. Jika di hari biasa, Tifa akan datang sepulang sekolah. Sementara di akhir minggu, Tifa akan datang menjelang makan siang. Sephiroth sendiri tidak keberatan dengan kedatangan Tifa, malah mereka berdua cepat akrab. Sephiroth juga mengatakan bahwa kedatangan Tifa sangat membantu, apalagi dalam hal memasak dan bersih-bersih. Dia bilang makanan di rumah menjadi begitu beragam, tidak ada lagi pakaian-pakaian yang berceceran di lantai, tidak ada lagi perabotan yang berdebu, dan yang terakhir ... Sephiroth melihat sesuatu yang jarang dilihat di wajah anaknya, senyum.
Memar di tangan Cloud sendiri sudah lumayan baik sekarang, namun Dokter masih tidak menyarankannya untuk bermain basket, sehingga Cloud benar-benar istirahat penuh dari basket. Sampai sekarang, penyebab Cloud memar masih belum diketahui, tetapi Dokter bilang kalau memar Cloud cukup parah. Untuk waktu sembuhnya sendiri, Dokter bilang mungkin sekitar dua minggu. Hal itu cukup mengganggu Cloud, karena aktivitasnya menjadi lebih terbatas, kini dia juga harus naik kendaraan umum ke sekolah karena masih sulit untuknya mengendarai motor. Oh ya, Zack-lah yang mengendarai motor Cloud kembali ke rumah Cloud. Selain itu, Zack juga membicarakan rencananya mengenai tim basket sekolah, agar kekalahan yang lalu tidak lagi terulang.
Sambil menghela napasnya, Cloud tengah menuruni tangga menuju ke lantai satu. Pelajaran untuk hari ini sudah selesai, dan Cloud merasa lebih lelah daripada biasanya. Tangannya yang memar membuatnya kesulitan untuk menulis, sehingga dia tidak ada pilihan untuk meminjam catatan teman sekelasnya. Sewaktu pelajaran Olahraga juga sama, Cloud tidak punya pilihan lain selain duduk di pinggir lapangan. Tidak heran kalau mood Cloud tidak begitu bagus setiap dia pulang sekolah. Namun, ketika Gadis itu selalu menyapanya dan mengajaknya pulang bersama, entah mengapa rasa kesal itu langsung hilang seketika.
Ya, Cloud selalu merasa begitu ketika Tifa menjemputnya. Ketika Tifa selalu menungguinya di dekat tangga, dengan sebuah tas berukuran sedang yang selalu dia bawa-bawa. Dengan wajah yang berseri, dia selalu menghampiri Cloud dan menanyakan beberapa hal seperti 'bagaimana keadaanmu?', 'apa lenganmu sudah mendingan?', 'apa makanannya habis semua?', dan lain sebagainya. Sebagai tambahan, Cloud memang selalu dibawakan bekal oleh Tifa semenjak beberapa hari yang lalu, dan mereka selalu makan bersama di atap sekolah. Cloud sebenarnya agak malu, tetapi rasa malu itu dia tahan karena mengingat niat baik Tifa.
Dengan langkah yang tidak terlalu cepat, Tifa berjalan menghampiri Cloud dengan senyum di wajahnya. Entah mengapa, Cloud merasa Tifa terlihat begitu senang hari ini.
"Akhirnya kau datang juga," kata Tifa. "Lenganmu tidak apa-apa, kan?"
Cloud menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu, ayo kita pulang."
Kali ini Cloud mengangguk, dan kemudian mereka berdua berjalan keluar dari sekolah. Cloud dan Tifa yang tengah berjalan berdua seringkali dihujani tatapan heran dari siswa-siswa yang ada di sekeliling mereka, dan itulah yang mereka alami selama beberapa hari ini. Semenjak Cloud dan Tifa terlihat sering pulang bersama, gosip mulai bertebran dimana-mana, baik di kelas, maupun di luar kelas. Cloud tidak begitu peduli, tetapi gosip itu sepertinya memiliki sedikit pengaruh pada Tifa. Terkadang Cloud melihat Tifa sedikit murung setelah melewati kerumunan gadis-gadis. Untungnya, jarak antar sekolah dengan halte bus tidak jauh, jadi Tifa tidak harus 'memanaskan' telinganya dengan mendengar gosip-gosip itu.
"Kau mau makan apa nanti?" tanya Tifa.
"Hm?"
"Kau mau makan apa untuk makan malam nanti?" tanya Tifa lagi. "Kebetulan, aku juga mau pergi belanja nanti setelah mengantarmu pulang."
"Apa saja boleh, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu."
Tidak lama kemudian, bus yang mereka tunggu telah tiba. Berhubung kursi sudah penuh, maka mereka berdua tidak ada pilihan lain selain berdiri. Cloud menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Tifa hari ini, dia terlihat lebih ... murung.
"Ada apa denganmu?" tanya Cloud.
"Aku? Tidak ada apa-apa."
"Kau berbohong," jawab Cloud. "Ada sesuatu yang mengganggumu, kan?"
Tifa memalingkan wajahnya. "Tidak."
Jawaban itu membuat Cloud menyipitkan matanya. "Kau benar-benar pembohong yang buruk."
Untuk sesaat, mereka berdua terdiam. Tifa baru mulai berbicara ketika bus berhenti di halte selanjutnya.
"Ibuku sakit," jawab Tifa. "Sakit demam, dan sudah dua hari masih belum sembuh juga."
"Kau sudah tahu Ibumu sakit, tetapi masih ingin ke rumahku untuk memasak makan malam?"
Tifa tidak menjawab.
"Tifa, kau tidak usah ke rumahku kalau begitu. Aku dan Ayahku bisa memasak sendiri."
"Eh, tetapi..."
Cloud menatap Tifa. "Tidak ada kata 'tapi', Tifa. Kau langsung pulang saja."
"Kau sungguhan tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, percayalah."
Sesampainya di halte tujuan, Tifa sempat dilanda rasa serba salah. Tetapi setelah diyakinkan beberapa kali lagi oleh Cloud, Tifa akhirnya pulang juga. Sayang sekali rumah mereka berlawanan arah, seandainya searah, Cloud ingin sekali menjenguk Ibu Tifa, tetapi dia tidak bisa santai-santai. Dia sudah meminjam sekitar tiga buah buku catatan dari temannya, dan sesampainya di rumah nanti, dia ingin menyalin pelajaran hari ini. Mungkin agak sulit karena tangannya yang memar, tetapi berhubung hari ini Tifa tidak bisa datang, maka dia harus berusaha sendiri, dia bisa pelan-pelan menulisnya.
Cuaca mulai terlihat mendung, dan Cloud bersyukur karena rumahnya sudah tidak jauh dari tempatnya berada. Berhubung masih siang, sepertinya Sang Ayah masih bekerja di kamar seperti biasanya. Namun pemikiran itu langsung dia tepis ketika melihat sepasang sepatu hak tinggi yang ada di balik pintu. Cloud memiringkan kepalanya, sambil berpikir tumben ada tamu yang datang berkunjung, perempuan pula. Cloud melepaskan sepatunya dengan cepat dan kemudian berjalan ke ruang tamu. Samar-samar, dia mendengar suara Ayahnya dan suara si tamu. Awalnya Cloud hanya ingin menengok sebentar sekadar ingin tahu, tetapi setelah melihat sosok si tamu yang tengah mengobrol asyik dengan Ayahnya, Cloud langsung menjatuhkan tasnya.
"Oh, kau sudah pulang?" tanya Sephiroth yang menoleh. "Ini bagus sekali."
Si tamu adalah seorang wanita berambut panjang pirang. Dia tengah memakai kaus berwarna hijau yang dipadu dengan rok selutut berwarna cokelat. Kedua mata birunya yang dipenuhi rasa rindu menatap Cloud, sementara bibirnya menyunggingkan senyum. Entah sudah berapa tahun semenjak Cloud terakhir melihatnya, tetapi wajahnya tetap sama seperti dulu, cantik namun seketika membangkitkan amarah dalam dirinya. Ya, begitulah Sang Ibu menurut Cloud sekarang.
"Cloud," kata Anagaby. "Kau sudah bertambah besar sekarang."
Cloud membuang mukanya. "Kau ... kenapa kau ada di sini?"
"Ibu kangen denganmu," tambah Anagaby. "Entah sudah berapa tahun semenjak Ibu terakhir kali melihatmu. Kau sudah lebih tinggi sekarang."
Anagaby berjalan mendekati Cloud, dan di saat bersamaan, Cloud melangkah mundur menjauhi Ibunya.
"Cloud, kena—"
"Kenapa kau meninggalkan kami waktu itu?" tanya Cloud tanpa mengalihkan pandangannya. "Kenapa kau tega?"
"Cloud, ada banyak alasan?"
"Termasuk meninggalkanku?" jawab Cloud dengan nada yang mulai meninggi. "Apa kau tahu kesedihan Ayah ketika kau pergi meninggalkan kami?"
"Cloud, ada banyak alasan. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian."
Kali ini Cloud menatap Anagaby. "Alasan? Alasan apa yang bisa membuatmu meninggalkanku dan Ayah?"
"Ibu tidak bisa mengatakannya padamu, kau masih terlalu ke—"
"Terlalu kecil, maksudmu?!" kali ini Cloud tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Aku sudah tujuh belas tahun, dan apa kau sendiri merasa bahwa kau sudah dewasa?!"
Anagaby terdiam dengan memasang ekspresi terkejut.
"Kau tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kau pergi, kan? Kau sama sekali tida pernah peduli! Kau tidak tahu bagaimana keadaan Ayah yang seperti mayat hidup, kau tidak tahu itu!"
Anagaby lagi-lagi tidak bisa menjawab, dia masih syok karena ini pertama kalinya dia melihat Cloud bisa begitu marah.
"Sejak saat itu, aku tidak mau menganggapmu lagi sebagai Ibuku," kata Cloud. "Tidak akan pernah, sekalipun."
Tanpa mempedulikan jawaban dari Anagaby, Cloud mengambil kembali ranselnya dan berjalan keluar rumah. Di saat bersamaan, hujan juga turun dengan deras diiringi dengan suara guntur. Tetapi meski begitu, Cloud tetap berjalan sembari membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya. Baginya, lebih baik dia basah kehujanan di luar ketimbang satu rumah dengan salah satu orang yang sangat dibencinya.
"Kenapa dia harus datang lagi?" gumam Cloud. "Dan kenapa Ayah membiarkan dia?"
Entah kemana Cloud akan pergi, Cloud sepertinya tidak peduli. Kini dia hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya.
...
"Syukurlah, panasnya sudah turun."
Tifa meletakkan termometer ke lemari kecil dan kemudian memegang kembali kening Ibunya. Evelyn masih terlihat pucat, namun nafsu makannya sedikit lebih tinggi dibanding sebelumnya, panasnya juga sudah turun menjadi 38 derajat setelah sebelumnya sempat menyentuh 39 derajat. Tifa mengangkat nampan yang di atasnya terdapat sebuah mangkuk kosong, gelas, dan obat, lalu berjalan keluar kamar dengan alasan ingin memanaskan makanan. Tifa berpikir, rasanya lucu juga karena Ibunya masih memiliki nafsu makan tinggi meski sedang sakit.
Hujan masih turun, malah sepertinya semakin deras. Untung saja Tifa sudah menyalakan pemanas di kamar Ibunya tadi. Tifa sendiri juga merasa kedinginan, dan setelah meletakkan piring-piring kotor ke wastafel, Tifa segera berniat untuk membuat susu panas. Tetapi ketika Tifa membuka kulkas, susu kotaknya ternyata sudah habis. Tidak ada susu, maka Tifa menggantikannya dengan kopi, tetapi sialnya ... tidak ada juga. Dengan lesu dan kesal, Tifa segera mengambil dompetnya yang ada di kamar, payung, dan segera pergi ke supermarket terdekat. Ibunya baru saja tertidur pulas, mungkin tidak apa-apa jika dia tidak minta izin terlebih dahulu, lagipula dia hanya sebentar.
Ketika Tifa sudah berada di luar, ternyata hujan turun lebih lebat dari yang dia duga. Tetapi berhubung Tifa sudah berada di luar, maka Tifa pikir, ya sudahlah lebih baik dia berjalan saja. jika dia kebasahan, dia tinggal ganti baju sepulangnya ke rumah. Angin yang kencang juga memaksanya memegang erat payungnya agar tidak terlepas.
Hujan yang deras membuat Tifa agak sulit berjalan dan pandangan di depan menjadi agak kabur, rasanya seperti tengah menerjang di tengah badai saja. Padahal kan dia cuma ingin membeli kopi dan susu di supermarket saja. Ketika Tifa berjalan melewati taman, meski tidak ada yang memanggilnya, tetapi entah mengapa dia menoleh ke sana. Idealnya sih, saat hujan tidak mungkin ada yang ke taman, tetapi tiba-tiba saja dia melihat sosok seseorang yang tengah duduk di kursi taman. Tifa langsung berhenti dan mengamati sosok itu. Sosok itu yang pasti bukan anak-anak karena tubuhnya tinggi dan agak besar. Lalu, sepertinya dia juga laki-laki. Untuk apa orang itu duduk sendirian di sana? Hujan-hujanan pula?
Tifa seperti tengah galau. Apakah dia biarkan saja sosok itu? Atau mengunjunginya dan ... membujuknya agar dia pulang? Rasanya konyol, tetapi pada akhirnya Tifa memilih pilihan yang kedua. Sambil memantapkan hatinya, Tifa berjalan perlahan mendekati sosok yang tengah duduk termenung itu. Suara hujan menyamarkan suara langkahnya sehingga sosok itu tidak menyadari kedatangannya. Tetapi entah mengapa, semakin dekat jarak antara mereka berdua, Tifa semakin merasa bahwa dia seperti familiar dengan sosok itu. Semakin dekat, semakin dekat, hingga pada akhirnya jarak mereka hanya terpisah beberapa senti saja. Tifa akhirnya sadar bahwa sosok ini bukan hanya familiar, melainkan sosok yang dia kenal.
"Cloud?" tanya Tifa.
Panggilan pelan itu membuat sosok itu menoleh pada Tifa, dan memang benar, dia adalah Cloud. Entah apa yang dia lakukan di sini sampai basah kuyup. Bahkan, da masih mengenakan seragamnya dan ranselnya masih tergantung di pundaknya. Cloud hanya sekadar kepalanya sesaat, dan kemudian dia menunduk kembali.
"Cloud?" tanya Tifa lagi. "Ada apa denganmu? Kenapa kau ada di sini?"
Cloud tidak menjawab, dan kemudian Tifa duduk di samping Cloud tanpa mempedulikan kursi yang sangat basah. Tifa membagi payungnya dengan Cloud sehingga mereka berdua terlindungi dari hujan.
"Jawablah, Cloud. Sebenarnya ada apa denganmu?"
Cloud masih tidak menjawab.
"Apa barusan terjadi sesuatu? Apa kau memiliki masalah besar?"
Keheningan terjadi di antara mereka, dan Tifa juga tetap diam sembari menunggu jawaban dari Cloud. Entah sudah berapa lama Tifa menunggu, dan Cloud sendiri sepertinya juga menyadari bahwa Tifa tidak semudah itu menyerah. Hingga pada akhirnya, Cloud menatap Tifa dan dia mulai berbicara.
"Aku bertemu dengan Ibuku hari ini," kata Cloud pelan.
"Ibumu?"
"Ya, Ibuku," lanjut Cloud. "Sosok yang kurindukan, dan juga yang paling kubenci."
Tifa langsung terkejut ketika mendengarnya, tetapi dia lebih memilih diam ketimbang menjawab.
"Aku tidak tahu apakah aku sudah menceritakannya padamu atau belum, tetapi orangtuaku juga bercerai, sama sepertimu," kata Cloud. "Bedanya, aku lebih memilih untuk bersama Ayahku. Karena ... bagiku, alasan mengapa Ibuku meninggalkanku dan Ayahku sangat tidak masuk akal juga keterlaluan."
Tifa menganggukkan kepalanya, tetapi dia masih memutuskan untuk tidak menjawab.
"Sejak saat itu, aku membenci Ibuku, sangat ... sangat membenci Ibuku. Aku terus berpikir bahwa aku tidak ingin dekat-dekat dengan dia lagi, bahkan melihat wajahnya saja aku tidak mau. Karena itulah, ketika Ayahku memutuskan untuk pindah, aku merasa lebih lega," ada jeda sesaat sampai Cloud bicara lagi. "Tetapi, entah mengapa ahri ini dia tiba-tiba muncul lagi. Begitu melihat wajahnya, kebencian dalam diriku langsung bangkit lagi."
Cloud mengepalkan tangannya, dan secara spontan, Tifa meletakkan tangan kanannya di atas tangan Cloud.
"Meski orangtua kita sama-sama bercerai, tetapi kita tidak sepenuhnya berada dalam pihak yang sama. Karena jika kau membenci Ibuku, aku malah membenci Ayahku," bisik Tifa. "Tetapi, aku mengerti perasaanmu, Cloud. Aku mengerti perasaanmu, aku mengerti bagaimana rasa sakitmu."
Mendengar itu, Cloud perlahan menatap Tifa. Kedua matanya terlihat memerah dan berair, entah berair karena hujan, atau berair karena...
"Rasanya, aku masih tidak bisa memaafkan perbuatannya. Aku sama sekali tidak bisa melupakan apa yang telah diperbuatnya pada Ayahku, dengan teganya dia..."
"Cloud, sudahlah," sela Tifa. "Tidak ada gunanya kau marah-marah dan merenung di sini. Aku mengerti kau kesal, tetapi kalau kau kehujanan di sini, bisa-bisa kau sakit. Bagaimana jika aku mengantarmu pulang?"
Cloud menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau."
"Cloud, tapi..."
"Lebih baik aku kehujanan di sini daripada harus bertemu lagi dengan wanita itu," jawab Cloud dengan dingin. "Pergilah Tifa, tak ada gunanya kau membujukku."
Perkataan itu sungguh mengejutkan Tifa. Cloud yang biasanya selalu baik dan ramah terhadapnya, hari ini berubah drastis karena sebuah masalah keluarga yang mendadak 'memanas' kembali. Rasanya Tifa ingin sekali mengajak Cloud pergi dari sini, karena jika dia terus hujan-hujanan, Cloud tentu saja bisa jatuh sakit. Tapi bagaimana caranya? Bahkan diajak kembali pulang saja dia tidak mau. Masa Tifa harus meninggalkannya di sini terus sampai hujan reda? Tifa terus diam di tempat sambil berusaha untuk memikirkan cara, hingga akhirnya ... terpikirlah satu cara yang mungkin berhasil membawa Cloud pergi dari sini.
"Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mau pulang ke rumahmu," kata Tifa. "Tetapi kau tidak bisa hujan-hujanan di sini."
Cloud tidak menjawab.
"Bagaimana kalau ... aku mengajakmu ke tempat lain?"
"Apa?" tanya Cloud dengan tidak percaya. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika kau ke rumahku?" tanya Tifa. "Kalau kau memang tidak mau pulang ke rumahmu, bagaimana jika kau ke rumahku kalau begitu?"
Cloud menatap Tifa dengan tak percaya, dan Tifa sendiri juga tidak percaya dengan kata-katanya sendiri. Tetapi Tifa memang tidak ada pilihan lain, selain menggandeng tangan Cloud secara paksa dan kemudian memaksanya datang ke rumahnya.
"Tetapi..."
"Tidak ada tapi-tapi lagi, Cloud. Ikutlah denganku, mungkin tidak ada yang spesial di sana, tetapi setidaknya kau bisa berteduh di sana."
"Tetapi..."
"Cloud, dengarkan aku," kata Tifa sambil menggandeng tangan Cloud. "Lebih baik kau ke rumahku daripada hanya basah-basahan di sini. Kalau kau mau basah-basahan, di rumahku ada air hangat. Kalau kau mau marah-marah, di rumahku aku siap menjadi pendengar yang baik. Selain kedua hal itu, aku juga bisa menyajikan makanan dan minuman hangat sebagai pelengkap. Sekarang kau tidak ada alasan untuk menolak, kan?"
Sebelum bisa menjawab, Tifa sudah menyeret Cloud untuk ke rumahnya. Payungnya dia arahkan di atas kepala Cloud sehingga kini Tifa yang kebasahan.
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih.
