ABOUT ABNORMALITY – Chapter 5

Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi

Anime/Manga: Naruto

Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?

Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei

Rate: M.

Warning: OOC, OTP, miss typo.

.

.

.

Anko berjalan dengan gontai menuju ruangan Hokage. Sembari mengayunkan langkahnya, kepalanya ikut bergerak mengimbangi gerakan kakinya. Otaknya yang sedang diliputi kegelapan itu pun berpikir yang macam-macam, sampai akhirnya terhenti pada saat peristiwa kemarin siang. Saat dimana ia terlibat percakapan dengan nenek Chiyo.

FLASHBACK

Anko tampak habis menangis. Paras ayunya terlihat begitu sedih. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Dan batinnya yang masih terasa suram itu masih menyisakan lelehan air mata bening yang keluar sesekali dari kedua mata cokelatnya.

Anko masih menatap sendu pada jalanan berdebu di depan rumah. Memperhatikan bagaimana dedaunan kering terbang dengan santai, tersapu angin ringan yang mampu membuat lembaran-lembaran cokelat tersebut melayang.

Sedari tadi gadis itu memang melamun, menyendiri di teras. Kedua kakinya yang ia tekuk, membuatnya mampu untuk terus memeluk lututnya sambil membenamkan sebagian wajahnya. Dan hal itu –tetap tidak mampu menyembunyikan hatinya yang galau.

Di dalam batinnya, lagi-lagi ia hanya bisa menyalahkan nasib, serta mengadu kepada Kami-sama.

Sial sekali, pikirnya.

Kenapa pada saat aku menangis sedih seperti ini, tidak ada seorang pun di sampingku? Tidak ada seorang pun yang menghapus air mataku? Tidak ada seorang pun yang menawarkan bahu sebagai tempat bersandar bagi hatiku yang pilu?

Justru yang datang padanya malah hanya paman pedagang bercadar yang rutin berkeliling desa. Menyapanya, menawarkan dagangannya, bahkan kemudian menggoda Anko dengan kata-kata genitnya.

Benar-benar sial.

Kakuzu, pria bertutup muka –namun tidak mampu menyaingi kekerenan Kakashi- itu memang akrab dengan penduduk se-desa Konoha. Ia seringkali singgah disana-sini, berjualan tanpa rasa pamrih dan malu.

Kakuzu, yang tak lain serta tak bukan adalah seorang pedagang mata duitan yang menjual serba-serbi pakaian wanita. Mulai dari kebaya, daster, sampai kepada pakaian dalam (?).

Kakuzu, yang sebenarnya nama aslinya adalah KAKUS, namun dipleset-plesetkan biar terdengar lebih keren.

Ngomong-ngomong soal nama, saya jadi ingin menceritakan perihal nama asli dari Kakashi Hatake.

Tahukah kalian, nama Kakashi yang sebenarnya itu adalah 'Kekasih Hatiku'. Mendiang ibunya yang saat itu sangat mellow serta terobsesi pada hal-hal yang serba romantis-lah yang mencetuskan idenya. Namun suaminya Sakumo sang Konoha White Fang tidak rela, serta memprotes si istri yang berkeras memberi nama aneh tersebut. Ia pun lantas langsung memplesetkannya menjadi sebuah nama bergaya Jepang yaitu Kakashi Hatake.

Begitulah. Kembali ke Kakuzu.

Beberapa menit yang lalu Kakuzu datang menghampiri Anko yang duduk termangu, menawarkan barang dagangannya dengan senyum sumringah tanpa dosa (padahal senyumnya tak mungkin kelihatan karena tertutupi cadar).

Anko yang sedang depresi berat itu pun mengangkat wajahnya, mengeluarkan death stare tingkat dewa, serta berhasil mengusir si pedagang pergi hanya dalam hitungan detik.

Tak ayal, pria yang entah berasal dari mana –tetapi sepertinya dari negeri yang jauh (Arab mungkin?)- itu pun buru-buru pergi meninggalkan si nona Mitarashi. Anko pun kembali melamun. Merenung, dan menerawang.

Otomatis, tingkah Anko yang tampak sangat galau itu juga menarik perhatian tetangganya.

Sebut saja si nenek Chiyo. Wanita renta namun berjiwa pendekar tersebut sampai saat ini masih tetap hidup, dan juga masih memiliki hati malaikat. Di usianya yang sudah senja, ia mati-matian bertahan dalam dunia yang kejam serta fana ini untuk terus berjuang mencari sesuap nasi.

Lihat saja, nenek tua tersebut tampak merasa kasihan pada Anko.

Ia bahkan rela menghentikan sejenak perjalanannya untuk mencari kayu bakar di hutan kematian hanya untuk sekedar menghibur gadis yang kerap dianggapnya seperti cucu sendiri itu.

Ya, Anko dan Nenek Chiyo memang cukup akrab. Bagaikan majikan dan pembantu. Ah, tidak. Bagaikan seorang nenek dengan cucunya. Lebih tepatnya, Anko sering menjadikan si nenek sebagai tempat curhat, juga tempat meminjam uang ketika ia tengah kepepet.

"Ada apa, Mitarashi?" ucap sang nenek dengan bijak. Yang tanpa dipersilahkan langsung mengambil tempat serta duduk di samping Anko Mitarashi.

Anko Mitarashi diam saja, tidak mengeluarkan jawaban apa-apa.

"Ada apa, ayo, ceritakan kepada nenek…." Tukas nenek Chiyo lagi dengan lebih lembut. Bahkan hampir menyamai lembutnya kain handuk usang yang dimilikinya. Handuk biru pastel dengan bolong di sana-sini.

Anko masih tidak menjawab, enggan untuk mengeluarkan respon.

Sang nenek pun menghela nafas. Ia tidak habis pikir, apa yang membuat si gadis cantik yang biasanya ribut serta bersuara nyaring ini bisa menjadi sedemikian galaunya. Anko yang berisik, hari ini menjadi pendiam. Anko yang biasanya murah senyum, ringan tangan, juga sedikit temperamental itu kali ini berubah menjadi sosok yang tidak banyak bicara.

Ada apa ini sebenarnya?

Batin wanita tua itu tiba-tiba terkesan ikut-ikutan galau.

Kemudian tanpa sengaja ia terbatuk-batuk, dengan suara yang begitu memprihatinkan, yang sontak membuat Anko merasa kasihan karenanya.

"Nenek tidak apa-apa?" tanya Anko dalam nada khawatir. Akhirnya. Akhirnya ia masih mampu mengeluarkan suara juga. Diam-diam si nenek merasa lega setelah mendengarnya.

"Tidak apa-apa kok. Barusan tadi nenek habis nyobain permen lolipopnya Sasori, eh ternyata malah jadi sakit tenggorokan" sahutnya polos, dan jujur.

Anko sweatdrop. 'Ini nenek-nenek kenapa masih suka sama snacknya anak kecil ya? Masa sudah tua masih ngemut permen lollipop, harusnya kan nyirih?!' Batinnya keki.

"Kamu sendiri kenapa, Anko? Nenek perhatikan sedari tadi melamun saja. Apa sedang ada masalah?"

Anko hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu menggelengkan kepalanya yang cantik. "Tidak ada apa-apa kok nek…" tukasnya senormal mungkin. Berusaha menyembunyikan aura tak normalnya dengan lebih baik lagi.

"Ah, yang benar?" Nenek Chiyo seolah tak percaya.

Anko tertawa kecil. Setelah berpikir, mau tak mau ia pun harus jujur kali ini. Yah, setidaknya separuhnya. Ia akan bercerita sedikit mengenai pengalaman pahitnya.

"Sebenarnya, saya cuma lagi galau saja"ucap Anko setenang mungkin. Berusaha terlihat dewasa.

Keriput-keriput di wajah nenek tua disebelah Anko itu semakin bertambah untuk sesaat. Tak lain dan tak bukan adalah karena terkejut pada ceritera sang gadis muda.

Hare gene masih galau? Hellooooo?

Begitulah raut wajah sang wanita tua itu menggambarkan sebuah kalimat.

"Galau kenapa lagi, Anko? Coba ceritakan sejujurnya kepada nenek. Siapa tahu nenek bisa membantu?" tukas si nenek mulai bersemangat. Rupanya efek makanan manis memang selalu bagus. Kadar gula memang seringkali membangkitkan semangat serta gairah hidup.

Anko Mitarashi menjawabnya lewat helaan nafas. Panjang dan berat.

"Saya lagi patah hati, nek" ujarnya kemudian. Dengan suara yang sayu, sama lemasnya dengan air mukanya.

Nenek Chiyo tampak terkejut. Bagaimana bisa? Pikirnya.

Anko adalah gadis yang menarik. Wajahnya cantik. Rambutnya unik (meskipun ia mengira Anko menggunakan pewarna rambut untuk surainya yang ungu tua itu). Tubuhnya seksi nan aduhai. Dan terlebih lagi, dadanya cukup besar. Ah, bokongnya pun cukup oke. Cukup membuat pria-pria Konoha gemas untuk menepuknya (atau mencoleknya).

Bisa dibilang, Anko tidak jauh beda menariknya dari artis terkenal Mei-Mei Terumi, si seksi yang ngetop lewat serial 'Upin & Ipin Si Bocah Konoha'.

"Patah hati? Karena siapa?!" ucap Nenek Chiyo menggelegar (karena sound effect dari tetangga sebelah). Terdengar suara petir menyambar dari sekeliling nenek Chiyo tersebut.

Sejenak Anko ragu untuk memberitahukan perihal masalahnya dengan sang pria pujaan. Terlebih lagi, jika harus memberitahu orang lain mengenai keabnormalan Kakashi.

Tidak. Terlalu memalukan. Lagipula, rasa cinta yang masih tersisa di dasar samudera hatinya terhadap Kakashi, masih mampu membuat gadis itu menahan diri untuk tidak membenci Kakashi seratus persen. Ia masih menyayangi pria itu. Yah, meskipun sang lelaki sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Anko memutuskan untuk menyimpan aib Kakashi rapat-rapat. Sebisa mungkin.

Sungguh, apa untungnya menjelek-jelekkan orang yang kau cintai di depan orang lain? Malah hanya akan membuat batin semakin terluka. Lagipula, jika kita mencintai seseorang dengan begitu dalam, seharusnya kita rela menerima apa saja kekurangan (aib) orang tersebut, bukan malah memproklamirkannya kemana-mana.

Tapi aib ini berkaitan dengan abnormality!?

Batin Anko langsung gundah seketika. 'Uhm… kasih tahu nggak yaa?' desis batinnya lebay.

Tapi toh, keabnormalan Kakashi belum seratus persen terbukti, baru 99%. Yah, masih ada satu persen lagi. Setidaknya begitu pikir si Mitarashi. Ia pun bersiap mengeluarkan kalimat selanjutnya.

"Bukan siapa-siapa, nenek Chiyo. Hanya seorang pria yang tidak penting. Samasekali tidak penting".

Nenek Chiyo tertegun mendengarnya. Terdiam dengan cukup dramatis. "Oh ya?" tukasnya tak percaya.

"Iya. Saya serius!" Anko mencoba meyakinkan.

"Oh.. baiklah jika memang begitu. Nenek tidak akan memaksamu untuk bercerita…." Sang nenek kemudian mengangguk-angguk bijak.

Anko tersenyum tipis. Lalu kembali memandangi jalanan di depan rumahnya. Daun-daun kering yang berserakan. Tampak jelas sekali sang empunya rumah adalah seorang pemalas yang tidak rajin untuk menyapu halamannya. Dan itu adalah –Anko sendiri.

"Tapi biar bagaimanapun, entah kenapa saya tak bisa berhenti untuk menyalahkan takdir dari Kami-sama…" ucap Anko pelan.

Dari kedua mata cokelatnya, sang nenek bisa menangkap ungkapan jujur serta getir dari Mitarashi.

"Kenapa Kami-sama begitu jahat, tega sekali membuat kami tidak bisa bersatu. Padahal –saya mencintainya dengan begitu dalam".

Si nenek lalu menepuk bahu Anko, mengelusnya pelan –dengan harapan bisa memberikan sensasi menenangkan.

"Kenapa harus begini…. Kenapa rasa sakit ini hanya terjadi pada saya…. Saya sudah berdoa setiap hari, berharap Kami-sama mau membukakan hatinya. Namun saya dapat malah –sebuah penolakan keras. Dia –dia tidak tertarik pada saya, nek?!"

"Kami-sama sudah sangat keterlaluan pada makhluknya!? Bukan begitu, nenek Chiyo?!" ungkap Anko meminta dukungan, dalam curahan hatinya yang begitu sarkas serta menyentuh –pada waktu yang bersamaan.

Nenek Chiyo memasang raut sangat khawatir. Anko Mitarashi sudah mulai meragukan kebesaran serta kekuasaan Kami-sama. Sepertinya isu aliran sesat Dewa Jashin yang digaungkan pria aneh bernama Hidan belakangan ini mulai terbukti.

Benar, belakangan ini desa Konoha sedikit rusuh dengan isu munculnya aliran sesat. Seorang pria misterius dengan rambut rapi seringkali muncul di perempatan lampu merah, atau di bawah jembatan, serta terkadang di pojokan-pojokan pasar tradisional, mengumandangkan ceritera mengenai seorang Dewa suci bernama Jashin. Hidan, itulah nama pria itu. Pria eksentrik yang dengan lancang menyebarkan aliran tak jelas yang dianutnya.

Herannya, pasukan Anbu seolah tidak melakukan apa-apa atas isu yang meresahkan ini. Hokage pun terkesan hanya berpangku tangan. Nenek Chiyo menjadi semakin geram. Sekarang ia menyesal memilih Tsunade pada saat Pemilihan Umum beberapa saat yang lalu. Tsunade si pemimpin wanita yang payah! Batin renta sang nenek pun menggelegak.

Andai ia tahu bahwa Tsunade adalah pemimpin yang tidak tegas serta plin-plan seperti ini, maka beberapa saat yang lalu Nenek Chiyo tidak akan ragu untuk memilih golput, ketimbang mencoblos foto Tsunade-sama dalam bilik suara.

Sampai Anko terbukti menjadi penganut aliran sesat Dewa Jashin, demi harga dirinya sebagai tetua Konoha (bukannya Suna?), nenek Chiyo tidak akan segan untuk memporak-porandakan pemerintahan Konoha saat ini.

"Nek? Nenek kenapa?" tanya Anko –kembali dengan nada cemas. Bukannya mendengarkan curahan hatinya, nenek aneh tersebut malah terkesan melamun –lebih tepatnya, memikirkan sesuatu.

"Sudahlah, nenek lanjutkan pekerjaan nenek saja. Bukankah nenek harus segera berjualan ke pasar?" tanya Anko kemudian sok innocent.

Alam pikiran nenek Chiyo kembali buyar, tersadarkan oleh suara lembut sang cucu angkat. Ia pun lantas tersenyum tulus serta mengiyakan saran wanita muda kesayangannya itu.

FLASHBACK OFF.

Anko Mitarashi menghentikan langkahnya. Kini, ia sudah tepat berada di depan ruangan sang Hokage. Kedua matanya lalu memperhatikan dengan liar tampilan depan ruangan yang terkenal cukup disegani tersebut.

Perlahan diangkatnya tangan kanannya untuk menciptakan sebuah ketukan sopan berirama pada daun pintu di hadapannya.

Tok. Tok. Tok.

Hening sesaat. Dan beberapa menit kemudian kedua telinganya mendengar suara sambutan yang berasal dari dalam ruangan.

.

.

.

"Masuk!" perintah sang Hokage wanita seksi –Tsunade-sama dengan nada cool. Ia menghentikan sejenak aktifitasnya mencermati tumpukan kertas di atas mejanya, karena menyadari ada yang datang untuk menemuinya.

Memang benar, barusan terdengar suara ketukan elegan bergema dalam ruang kerjanya. Membuat dirinya yang berprofesi sebagai pejabat pemerintahan tertinggi di Konohagakure itu terpaksa mengalihkan fokus –bersiap menghadapi seseorang yang kini telah datang.

Ah, jika boleh jujur, sebenarnya sedikit menyebalkan setiap saat harus menghadapi begitu banyak pekerjaan. Tsunade-sama cenderung sedikit bosan karenanya. Oleh karena itulah, terkadang dia melakukan hal-hal yang cukup unik –sekedar untuk me-refresh diri.

Sebut saja dengan beberapa ide gila berupa larangan masuk ke ruang kerjanya –untuk para oknum tertentu. Hal itu pun membuat para shinobi Konoha menjadi heboh, heran sekaligus takjub dengan ketegasan sang Hokage wanita.

Lihat saja, di pintu ruangannya ada tulisan besar terpampang "PEMULUNG, PENGAMEN, DAN PEMINTA SUMBANGAN DILARANG MASUK!"

Heh, memangnya sejak kapan pemulung dan pengamen tertarik untuk masuk ke ruangan Hokage? Jika peminta-minta sumbangan sih, masih masuk akal.

Oh, bahkan Shizune yang sweatdrop ketika menempel tulisan itu juga masih harus menanggung malu karena masih ada peringatan lain yang pernah diminta Tsunade untuk ditempel di muka pintunya, tak lain adalah peringatan "TIDAK MENERIMA BON".

Kontan saja para staf terdekat Hokage menjadi pihak yang merasa paling depresi, malu dengan tingkah konyol sang pemimpin. Dan masih banyak penderitaan-penderitaan lainnya yang harus dialami mereka, terutama Shizune sang asisten mellow. Yah, Tsunade-sama memang cukup gila.

Salah satunya juga mengenai tulisan "AWAS ANJING GALAK" yang batal untuk ditaruh di pintu ruangannya, bersanding dengan dua tulisan unik sebelumnya. Tentu saja batal, karena "Mana ada anjing di ruangan ini?!" ungkap Shizune yang protes setengah mati.

"Baiklah, jika begitu berikan tulisan ini pada keluarga Inuzuka atau Kakashi Hatake saja!" begitulah komentar santai Tsunade saat itu.

"Kenapa tidak sekalian saja pasang tulisan 'Hati-hati ada wanita gila!' di muka pintu!?" desis Shizune yang sudah kehabisan kesabaran. Walhasil gumamannya menghasilkan benjol di kepala –Tsunade melemparnya dengan buku tebal.

Lupakan, kembali kepada cerita pintu yang diketuk oleh Anko tadi.

Setelah mendapat intruksi, Anko Mitarashi pun masuk dengan wajah datar. Syukurlah jounin spesial itu masih sadar diri untuk mandi sebelum berangkat ke akademi pagi ini. Jika tidak, bisa dibayangkan betapa tidak nyamannya harus menghirup aroma kurang wangi dari kunoichi yang berada di dekatmu.

Senyuman tipis kemudian terpatri di wajah cantiknya saat bertemu pandang dengan sang Hokage yang menyapanya ramah. Seperti biasa, Anko mengagumi Hokage wanita tersebut. Rupa yang cantik, dada yang besar (meskipun menurut Anko ukurannya agak berlebihan –dan Anko lebih bangga dengan ukuran miliknya yang lebih natural), dan juga –bibir yang sama merahnya dengan warna bibir Kurenai.

Heran, apakah dua wanita ini memakai merk lipstick yang sama?

Sebab warna lipstick mereka sungguh terlihat menggoda dan juga tampak tidak mudah luntur. Padahal tahu sendiri, Tsunade-sama seringkali tertidur saat sedang bekerja di ruangannya. Terlelap dalam pose yang tidak cantik. Namun herannya warna merah di bibirnya sama sekali tidak berubah, mengingat bibirnya itu sudah pasti mengenai meja, buku, kertas, tangan, bahkan tersapu oleh –maaf, air liur sang Hokage itu sendiri.

Anko pun menduga seperangkat alat kosmetik canggih yang pernah ditawarkan Kakuzu kepadanya beberapa minggu yang lalu adalah jawabannya.

.

.

.

"Anko Mitarashi" tukas Tsunade dengan anggun.

"Ya, Hokage-sama?" Anko menyahut dalam nada hormat. Berusaha tidak lagi merasa moody, ataupun uring-uringan saat ini. Sudah cukup, ia tidak ingin menderita selamanya hanya karena Kakashi Hatake.

Anko pun membayangkan dengan penuh harap, agar setelah ini Hokage memberinya misi sadis di mana ia harus membantai banyak orang. Membunuh, menghabisi para penjahat dengan kejam. Yah, semacam itulah. Ia hanya merasa, kemarahannya memang harus segera tersalurkan.

Karena adalah memang sangat tidak mungkin untuk membunuh Kakashi, makanya setidaknya Mitarashi itu ingin membantai orang lain. Mungkin terinspirasi dari kisah Battousai si pembantai. Bunuh-membunuh. Pokoknya, yang berdarah-darah, seru, dan menantang.

Assassination, dengan kata lain.

Begitulah, angan-angan gadis itu kelewat tinggi. Padahal Hokage hanya ingin menyuruhnya menjalankan misi kelas rendah bersama seseorang.

"Begini, kau aku tugaskan untuk mengantar sesuatu ke desa Suna…" Tsunade-sama memulai penjelasannya.

"Mengantarkan apa, Hokage-sama?" tanya Anko kurang antusias. Ia mulai merasa 'assasination mission'-nya sudah tidak mungkin di dapatkan lagi.

"Gulungan rahasia, Anko…."Tsunade melanjutkan ceritanya.

'Gulungan rahasia?' batin Mitarashi mulai penasaran. Dan belum sempat gadis itu menanyakan mengenai benda tersebut dengan lebih lanjut, sang Hokage sudah melanjutkan pendeskripsian misi kepadanya.

"Ini adalah gulungan yang sangat penting. Harus dijaga dengan sangat hati-hati. Karena itu, mulai besok, kau harus berangkat. Aku sudah meminta seorang jounin elit lain untuk menemanimu!"

Apa? Besok?

Dan juga –siapa orang yang akan menjadi partnernya dalam misi kali ini?

Anko Mitarashi berfikir keras. Setidaknya ia berdoa pada Kami-sama agar tidak ditugaskan bersama Kakashi Hatake. Yah, tidak ada salahnya bukan untuk meminta?

Anko kemudian membayangkan dirinya yang sedang asyik merokok bersama Asuma, jika ia memang diharuskan bertugas bersama Asuma Sarutobi esok hari.

Kemudian ia pun membayangkan dirinya sedang belajar berdandan dan memakai lipstick merah tua tebal pada bibirnya –andai ia ditugaskan bersama Kurenai sahabatnya.

Lalu ia membayangkan betapa bangganya menjadi seorang shinobi teladan yang kalem serta digandrungi oleh anak-anak genin, saat ia mengira besok ia bertugas bersama Iruka. Eh? Bukannya Iruka masih chuunin?

Dan setelahnya ia bahkan mengimajinasikan dirinya yang tertawa lebar dalam pose nice guy –with thumb up, senyum lebar cemerlang, rambut rapi berkilau, serta tatapan mata yang berkilat. Siapa lagi jika bukan terpengaruh pada Guy Maito –andai besok mereka bertugas bersama.

Anko Mitarashi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang, mencoba menghilangkan gambaran di kepala mengenai betapa payahnya dirinya bersanding dengan Guy dalam kedinamisan masa muda yang norak itu. Yah, biar bagaimanapun Guy memang norak.

'Semoga tidak bersama Kakashi' batin gadis itu kini. Ia pun mencoba untuk tetap tenang. Ia lalu memberanikan diri bertanya dalam nada yang cukup sopan.

"Siapa rekanku kali ini, Hokage?" ucapnya tanpa ragu.

Yang ditanya hanya manggut-manggut, sedikit mengantuk tampaknya. Shizune serta Anko yang melihatnya kemudian sweatdrop sambil memonyongkan bibir mereka.

"Kau lihat saja, sebentar lagi ia juga akan datang" sahut Tsunade pelan, kemudian menguap. Bibir merahnya yang menggoda itu tiba-tiba tak terlihat menarik lagi karena membuka begitu lebar seperti barusan.

"Siapapun itu, aku harap bukan Kakashi Hatake" desis Anko berbicara seorang diri.

Terlambat, dua wanita di hadapannya mendengarnya. Mereka berdua lantas senyam-senyum dengan mencurigakan.

"Eh? Kenapa?" tanya Anko keki.

"Rekanmu kali ini memang Kakashi, Anko" Tsunade berkata sambil tersenyum. Sungguh sebuah senyum yang menyebalkan.

"EEEHHH?!"

"Tenang, tak perlu panik begitu" Shizune berusaha menenangkan Anko yang terkejut. Babi lucu bernama PONTON (?) dipelukannya ikut menguik-nguik tidak jelas. Sepertinya mengatakan ucapan yang sama dengan wanita yang memeluknya –hanya saja dalam bahasa binatang.

"Ya, kau tenang saja! Kakashi tidak akan macam-macam padamu, bukan? Karena sekarang dia sudah pindah haluan, Anko" Tsunade berkoar dengan santainya. Menyisakan perih di hati Anko. Luka yang terkuak kembali tiap mengingat Kakashi dengan gelar 'abnormal'nya.

Kami-sama, hati ini sakit sekali rasanya!

Anko pun meremas mantel creamnya.

"Justru aku sedang tidak ingin bersama dia, Hokage! Aku kelewat patah hati! Aku tidak lagi ingin melihat pria gay itu!" seru Anko penuh emosi. Entah kenapa ia berani meluapkan perasaannya pada orang asing kali ini. Ya, ia dan dua wanita ini tidak pernah cukup dekat. Tidak pernah.

"Ada apa?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul. Dibarengi dengan kepulan asap tipis yang mulai menghilang.

Itu Kakashi Hatake. Ia datang dan memasang tampang heran karena melihat Anko sebegitu hebohnya bersikap di depan sang Hokage wanita.

"Ah, kau datang juga Kakashi! Baiklah, aku akan segera membicarakan sebuah misi untukmu!" Tsunade lantas menyampaikan ucapannya dengan senyuman lebar. Kakashi yang tampak tenang itu tidak sadar, tiga wanita didekatnya sedang sibuk dengan argument mereka masing-masing. Namun kesamaan dari semuanya adalah –mereka mengatakan bahwa tuan Hatake ini seorang pria abnormal yang malang, serta menyebalkan.

.

.

.

Hari berikutnya. Matahari sudah hampir selesai menjalankan kewajibannya. Dan kini, semburat oranye dari langit senja tampak sangat indah menghiasi pesisir desa Suna.

Memang indah, sangat indah. Apalagi jika menikmatinya bersama dengan orang-orang terkasih, maupun pasangan hidup sejiwa kita.

Tapi tidak dengan Anko Mitarashi.

Hari ini, ia harus menjalankan misi dengan kesulitan yang cukup merepotkan. Yah, meskipun semangat membunuhnya cukup membuat aktifitasnya lancar hari ini –ia mampu membasmi musuh dengan gampangnya bagaikan kilat yang menyambar dengan instan.

Ia –dan Kakashi. Keduanya sudah berhasil menjalankan misi dengan sempurna. Gulungan rahasia sudah sampai ke tangan yang berhak, dan juga mereka kini bisa bernafas lega karena tinggal melakukan perjalanan pulang ke desa Konoha tercinta.

"Hari sudah gelap, Anko. Kita mencari penginapan saja" ucap Kakashi Hatake pada rekan wanitanya. Ia sedikit heran, Anko menjadi pendiam seharian ini. Gadis itu bahkan samasekali tidak menampilkan ekspresi ceria ketika bersamanya.

Padahal tahu sendiri, Anko selalu bersuara lantang bak para fan girl penggemar Boy Band yang sedang menonton konser. Tetapi hari ini malah hanya ada Anko yang membisu.

Dan meskipun Kakashi tidak terlalu menampakkannya, sebenarnya ia bertanya-tanya di dalam hati.

Sudut mata gelapnya pun tak henti memperhatikan serta mengawasi gerak-gerik gadis tomboy yang ia anggap sebagai seorang teman tersebut. Berharap akan ada petunjuk mengenai sebab musabab dari tingkah aneh sang jounin wanita.

.

.

.

Setelah berjalan bersusah payah dalam rasa lelah, keduanya secara asal membuat keputusan untuk mendatangi penginapan pertama yang mereka lewati dalam perjalanan pulang kali ini. Dan disinilah mereka, dalam sebuah penginapan sederhana yang terkesan sedikit memprihatinkan –juga mencurigakan.

Misi kali ini perjalanannya memang cukup jauh. Namun berdua dengan Kakashi kali ini –terasa biasa saja bagi Anko- merupakan kisah petualangan yang kurang seru. Andai bisa bertiga, berempat, berlima, bahkan bersepuluh mungkin akan terasa lebih ramai. Tetapi hal itu tidak mungkin untuk dilakukan. Ini misi, bukan karya wisata.

Jika biasanya berada di dekat Hatake bisa membuat Anko girang setengah mati, tapi kali ini lain. Bagi gadis itu, hatinya saat ini hanya dipenuhi oleh kehampaan. Begitulah, hati-hati jika sedang patah hati. Hati akan terasa hampa, dan mood jadi uring-uringan, serba tidak jelas.

Dua sejoli Konoha yang tidak terlibat asmara itu pun memesan dua buah kamar untuk ditempati. Malangnya, (entah apakah ini takdir dari Kami-sama) mereka terjebak di sebuah kamar yang sama. Satu kamar yang sama.

'Maaf, kamar kami yang tersisa hanyalah satu'. Kira-kira begitulah ucapan sang resepsionis lugu saat keduanya masuk ke dalam pintu depan penginapan tadi.

Tak ayal, sebuah kamar berukuran agak kecil malam ini akan ditiduri oleh sepasang shinobi yang berstatus bukan sepasang kekasih tersebut.

Anko pun memasang tampang ruwet. Sambil agak cemberut ia memimpin partnernya untuk menuju ruangan kamar mereka di lantai dua. Dan tepat ketika mereka telah menemukan tempat yang dimaksud, mereka dikejutkan oleh sesuatu.

"Aah…Ya-Yahiko..aku sudah tidak tahan lagi~".

"Begitupun dengan aku, sayang. Ayo cepat kita lakukan di dalam!"

CUP. CUP. Kiss.

Anko dan Kakashi terpana. Melihat sepasang anak muda yang sedang berpelukan erat dengan bibir saling memagut. Langkah mereka sempoyongan tak terarah, dan berhenti tepat di depan pintu kamar yang terletak di sebelah kamar milik Anko serta Kakashi.

Blam. Suara pintu kamar yang ditutup kencang.

Dua anak muda yang sedang mabuk cinta itu masuk ke dalam kamar tanpa menghentikan aksi romantis menggelora mereka yang cukup menjijikkan –menurut Anko.

Sudah sangat jelas pasangan itu akan berbuat mesum di dalam sana. Seorang pemuda berambut orange jabrik mirip Naruto serta seorang gadis berambut sebahu dengan warna biru.

Anko dan Kakashi kemudian sama-sama memasang tampang pucat. Sepertinya mereka akan menjadi saksi hidup atas suara-suara desahan dari adegan asusila tetangga kamar mereka.

'Se-sepertinya ini bukan penginapan baik-baik' desis Anko dalam hati sambil menelan ludah. 'Apa disini sudah lazim orang memesan kamar untuk tujuan seperti itu?'. Dengan sedikit ragu ia pun menenangkan diri sejenak, berusaha tidak merasa terlalu sial di malam ini.

.

.

TBC

.

.

A/N:

Hwaah. Lama banget saya baru bisa update…

Maafin saya yah. Hiks.

Alasan keterlambatan ini sama kayak fic KakaAnko saya yang satunya. Saya sampe nangis darah karenanya #lebay

Entah apa masih ada yang mau nunggu fic ini? T_T

Ehm, apakah chap ini garing?

Gomen.

Review jika berkenan. Ok?

Arigatou.