A/N : Maaf ya karena update yang sangat lama, tetapi saya pasti akan tetap melanjutkan cerita ini. Saya berterima kasih atas pengertian kalian, tetapi sekali lagi, saya mohon kalian bersabar dan terus mengikuti cerita ini. Really love you all, and please read also review.

OH_17

Rasanya memang agak aneh, untuk pertama kalinya, Tifa mengundang seorang laki-laki dating ke rumahnya, dan lagi, dia yang mengundang. Tetapi apa boleh buat, kan? Tifa tidak bisa membiarkannya begitu saja kehujanan di sana, meski Cloud dan dirinya tidak sedekat itu, tetapi Tifa bukanlah orang yang tidak punya perasaan. Pada akhirnya, Tifa juga lupa untuk membeli kopi dan susu seperti rencananya semula.

Setibanya di rumah, Tifa langsung mengambil handuk untuk dirinya dan Cloud, setelahnya Tifa juga menyiapkan air panas secepat mungkin agar mereka bisa mandi. Untuk baju ganti Cloud sendiri, Tifa meminjamkan baju Pamannya yang kebetulan sengaja ditinggalkan di sini beberapa pasang, hanya untuk berjaga-jaga kalau saja sang Paman mau menginap lagi. Ukurannya juga pas, meski sedikit kebesaran. Cloud tidak banyak bicara seketikanya mereka tiba di rumah, dia hanya murung, bahkan ketika masuk ke kamar mandi sekali pun. Rasanya, Tifa jadi seperti melihat orang lain, bukan Cloud yang suka tersenyum seperti akhir-akhir ini.

Tifa mempersilahkan Cloud mandi terlebih dulu, dan tanpa diduga, Cloud berada cukup lama di dalam, mungkin sekitar 25 menit. Entah apa yang Cloud pikirkan atau lakukan di dalam, tetapi yang pasti, Cloud tetap seperti itu bahkan ketika Tifa selesai mandi. Rasanya ingin sekali Tifa menanyakan lebih lanjut, tetapi Tifa ingat bahwa dia masih ada kesibukan lain, jadi Tifa memutuskan untuk membuat makan malam untuk porsi dua orang, kalau untuk Evelyn sih, Tifa membuatkan bubur. Tetapi ketika Tifa hendak memecahkan tiga buah telur, pandangannya kembali tertuju pada Cloud, yang tengah merenung di sofa tanpa melakukan apa-apa.

Tadi aku bertemu dengan Ibuku.

Tiba-tiba saja Tifa teringat lagi dengan ucapan Cloud tadi. Ah, benar juga, kalau tidak salah Cloud memang berkata seperti itu. Selain itu, seingat Tifa Cloud juga mengatakan bahwa kedua orangtua-nya juga sudah bercerai. Perkataan itu sebenarnya sebuah kejutan bagi Tifa, maksudnya, siapa sangka juga bahwa dibalik wajah Cloud yang tampan dan dingin, ternyata tersimpan sebuah masalah yang cukup besar. Kebetulannya, masalah mereka berdua juga bisa dibilang kurang lebih sama.

Selesai menggoreng telur, menumis sayur, mengantarkan bubur ke atas, Tifa berjalan perlahan dan menjatuhkan dirinya di kursi makan. Dia lelah sekali, meski cuaca terasa agak dingin karena masih turun hujan, tetapi keringat masih tetap mengalir di dahinya. Padahal dia sudah mandi, tapi malah keringatan lagi. Mungkin setelah makan, dia harus mandi lagi.

Tifa melepas celemeknya dengan asal dan kemudian meletakannya begitu saja ke kursi di sampingnya. Ketika pandangan Tifa teralih ke ruang tamu, Cloud masih saja seperti itu. Berada di posisi yang sama dan lokasi yang sama. Dia masih tetap duduk di sofa dengan wajah yang merenung.

Sejak itu, aku membenci Ibuku, sangat … sangat membenci Ibuku. Aku terus berpikir bahwa aku tidak ingin dekat-dekat dia lagi, bahkan melihat wajahnya saja aku tidak mau.

Rasanya, aku masih tidak bisa memaafkan perbuatannya. Aku sama sekali tidak bisa melupakan apa yang telah diperbuatnya pada Ayahku, dengan teganya dia…

Kata-kata dari Cloud entah mengapa terus terbayang di pikirannya, seolah agar Tifa tidak melupakan semua itu. Tetapi memang hal itulah yang membuat Cloud terus-terusan murung hingga sekarang. Dulu, Tifa juga pernah tiba-tiba didatangi Ayahnya, dan kedatangan Ayahnya sungguh menjengkelkan karena Ayahnya bertindak seperti tukang tagih hutang, memaksa Ibunya untuk memberitahu di mana dia berada. Waktu itu sih Tifa meneriaki Ayahnya dan bahkan melempari batu, kalau Cloud sendiri? Tifa tidak tahu, rasanya tidak bisa dibayangkan jika misalnya Cloud melempar bola basket ke Ibunya, dan sepertinya Cloud sendiri juga bukan tipe yang seperti itu. Lalu, apa yang dilakukannya sampai-sampai dia murung begitu?

Menghembuskan napasnya, Tifa beranjak dan kemudian menghampiri Cloud. Cloud hanya melihat Tifa sekilas sampai akhirnya menunduk lagi.

"Cloud, kau baik baik saja?" tanya Tifa.

Cloud mengangguk pelan.

"Baguslah, ayo kita makan bersama."

"Kau saja."

Tifa memiringkan kepalanya. "Jangan begitu, makanlah. Aku sudah memasakkan bagian untukmu."

Cloud tidak menjawab, dan hal ini membuat Tifa menjadi lebih cemas.

"Cloud, aku mengerti kalau kau marah, tetapi menyiksa dirimu sendiri tidak ada gunanya juga," kata Tifa. "Ayolah, kita makan."

"Kau saja, aku tidak lapar."

Tifa menghembuskan napasnya lagi, dia tidak menduga kalau akan jadi sesulit ini.

"Aku sungguh tidak apa-apa, kau makan saja," kata Cloud.

"Jangan bohong, Cloud. Orang bodoh sekali pun tahu kalau kau ada apa-apa," jawab Tifa. "Ayolah, kita makan, lalu pelan-pelan membicarakan ini, bagaimana?"

"Tapi…"

"Cloud," kali ini nada suara Tifa agak tegas. "Masa kau mau aku menarikmu ke meja makan seperti aku menarikmu ke sini?"

Cloud terdiam, dan dengan pelan, Cloud beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja makan. Melihat ini, senyum berkembang di wajah Tifa. Segera dia berjalan mendahului Cloud dan mengambil piring serta sendok. Menu makan hari ini didominasi oleh makanan berkuah, salah satunya adalah sup krim ayam. Tifa menyendoki sup itu secara perlahan ke mangkuk Cloud dan kemudian mangkuk miliknya.

"Selamat makan," kata Tifa, yang dijawab dengan anggukan pelan dari Cloud.

Tifa mengira suasana akan lebih mencair ketika mereka makan, tetapi sayangnya hal itu tidak benar, karena Cloud terus makan dengan diam, bahkan ketika meminum sup, tidak terdengar suara 'sruput' seperti orang-orang umumnya. Rasanya Tifa ingin sekali bertanya lagi, tetapi karena dia sudah diajarkan bahwa makan sambil berbicara itu tidak sopan, maka Tifa memutuskan untuk menyelesaikan makan malamnya terlebih dulu, baru setelahnya mencoba untuk mengajaknya bicara lagi.

Biasanya tidak butuh waktu lama bagi Tifa untuk makan, tetapi karena suasananya begitu canggung, waktu makan jadi terasa seperti selamanya. Cloud terus makan dengan pelan sambil sesekali menatap piringnya, dan dia tidak mengambil lauk lain sampai Tifa yang mengambilkan a. Alhasil, butuh waktu lebih dari setengah jam sampai mereka benar-benar selesai makan. Cloud tidak berkata apa-apa dan hanya terdiam.

"Kau sudah kenyang?" tanya Tifa, yang dijawab dengan anggukan. "Kalau begitu, aku ke atas mau mengambil mangkuk dulu, mau sekalian kucuci."

Tifa naik tangga dan kemudian mengambil mangkuk di kamar Ibunya yang tengah tertidur pulas, dengan sepelan mungkin, Tifa menutup pintu kembali dan turun ke bawah. Buburnya habis, sepertinya keadaan sang Ibu sudah membaik sekarang, obatnya juga sudah diminum. Ketika kaki Tifa baru saja menapak lantai satu, tiba-tiba saja dia mendengar suara air mengalir dari arah dapur. Saat hendak dilihat lebih jauh, ternyata itu adalah suara Cloud yang tengah mencucikan piring makan bekas mereka. Melihat itu, Tifa langsung berlari dengan panik.

"Cloud, ya ampun! Kau tidak usah repot-repot begini!" kata Tifa.

"Tidak apa, biasanya juga aku mencucinya sendiri."

"Tetapi … kau kan tamu."

"Tidak apa, kau juga sudah mengundangku makan," jawab Cloud. "Lagipula … aku ingin menceritakannya pelan-pelan denganmu."

Tifa tidak lagi protes ketika mendengar kalimat terakhir, dan setelahnya, Tifa meletakkan mangkuk bekas Ibunya ke wastafel lalu mencucinya bersama dengan Cloud. Ada jeda sampai akhirnya pembicaraan dimulai.

"Awalnya Ibuku adalah orang yang sangat baik," kata Cloud. "Dia menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu dan Isteri dengan baik, bangun pagi, menyiapkan makanan, mengingatkan kami untuk hati-hati, dan lain sebagainya. Keluarga kami sangat baik waktu itu, dan juga bahagia."

Tifa terus mendengarkan sambil mencuci piring.

"Sampai orang itu muncul."

Tangan Tifa langsung berhenti mencuci ketika mendengarnya.

"Aku tidak ingat jelas siapa," lanjut Cloud. "Tetapi tiba-tiba saja, ada seorang pria di rumah kami. Pria itu mengenakan jas hujan sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Waktu itu aku baru pulang sekolah sehingga aku tidak mendengar pembicaraan mereka sampai selesai, tetapi Ibuku dan pria itu berdebat dengan Ayahku. Pria itu dengan lantang berkata kalau Ayahku tidak bisa apa-apa, tidak bisa memberikan Ibuku apa yang dia inginkan, semua itu dia katakan dengan enaknya."

Tifa masih tidak bergerak dari posisinya, tetapi dia melihat tangan Cloud yang menggenggam spons menguat.

"Tapi yang ebih tidak bisa kumaafkan adalah … mengapa Ibuku setuju dengan perkataan pria itu?" kata Cloud. "Lalu dengan enaknya pergi sambil meninggalkan Ayahku yang membatu, dan juga meninggalkanku tanpa berkata apa-apa."

Mata Cloud terlihat memerah setelah mengatakan itu, tubuhnya bergetar, dahinya mengerut, genggamannya menjadi semakin kuat seolah hendak menghancurkan spons dan piring yang tengah dipegangnya.

"Setelah dua tahun ini, dia muncul lagi, bahkan memintaku untuk memeluknya," kata Cloud. "Setelah apa yang dia perbuat pada Ayahku dan aku, dengan enaknya dia memintaku untuk memeluknya?! Dia … dia pikir dia…"

Perkataan Cloud terhenti setelah dia merasakan kehangatan di kedua tangannya. Cloud menundukkan wajahnya, dan melihat kedua tangan Tifa yang tengah menggenggamnya.

"Kau tahu?" tanya Tifa. "Kita memiliki kisah yang sama, dan kita juga sama-sama membenci salah satu dari Orangtua kita."

Cloud terdiam.

"Aku juga awalnya sangat membenci Ayahku, karena dia begitu semena-mena padaku dan Ibuku. Dia juga sebenarnya adalah orang yang baik, tetapi obsesinya pada uang telah mengubahnya menjadi orang lain. Sekejap, aku dan Ibuku sudah kehilangan sosok kepala keluarga yang begitu kami dambakan dan cintai."

Tifa mengangkat wajahnya menatap Cloud.

"Karena itulah, Cloud, aku mengerti perasaanmu, aku mengerti bagaimana sakitnya hatimu, aku juga bisa mengerti betapa … betapa hancurnya dirimu selama ini," lanjut Tifa. "Mungkin itulah juga alasan mengapa kau begitu dingin ketika kita pertama kali bertemu."

"Tifa…"

Setelah berkata begitu, Tifa menggunakan sebelah tangan kanannya untuk melepaskan spons dan piring dari tangan Cloud, lalu dia kembali menggenggam tangan Cloud.

"Kau tidak perlu bersedih seorang diri," kata Tifa. "Kalau kau sedih, kalau kau membutuhkan teman untuk berbicara, kau bisa mencariku. Mungkin nasehatku tidak sehebat seorang psikolog, tetapi … mungkin aku bisa membantumu."

"Aku … tapi…"

Tifa mempererat genggamannya. "Kau tenang saja, aku bisa menjaga rahasia. Aku juga akan selalu berusaha menjadi teman yang baik untukmu. Kita berteman, kan?"

Ucapan yang begitu tulus dari hati, pandangan yang seolah bisa menembus segalanya, wajah yang begitu perhatian, rasanya Cloud sudah lama tidak melihat semua ini. Sudah begitu lama Cloud tidak melihat semua ini selain Ayahnya, rasanya begitu … senang, selain senang, dia juga merasa lega. Lega karena beban di hatinya seolah terangkat meski tidak seutuhnya. Cloud memejamkan matanya, dan spontan, dia menjatuhkan kepalanya ke pundak Tifa. Tifa sempat terkejut, tetapi pada akhirnya dia hanya diam.

"Terima kasih," bisik Cloud.

Tifa tersenyum, lalu dia mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Cloud. "Sama-sama."

Mereka berdua terus berada di posisi seperti itu, bahkan ketika hujan di luar sudah mulai berhenti. Entah apa yang Cloud pikirkan, tetapi yang Cloud butuhkan adalah sandaran. Tifa tahu hal itu, karena itulah dia bersedia berbagi penderitaan dengannya. Mendengar perkataan Cloud barusan, kemungkinan besar karena tidak ingin menambah kekhawatiran Ayahnya, maka Cloud tidak pernah menceritakan semua ini pada sang Ayah, sehingga dia memilih untuk memendam hal ini seorang diri. Yah, sekali lihat juga Tifa langsung tahu bahwa Cloud tidak seperti dirinya, dia lebih pendiam.

Tidak lama setelahnya, Tifa merasakan sesuatu yang hangat membasahi pundaknya. Tifa segera menoleh, dan meski wajah Cloud yang terbenam di pundak terus diam, Tifa tahu bahwa dia tengah menangis.

Suasana sempat melunak, dan pada akhirnya, Cloud mau berbicara lebih banyak lagi mengenai masalah yang tengah dihadapinya. Seperti yang dikatakan Tifa sebelumnya, masalah yang mereka alami kurang lebih sama, sehingga Tifa dapat memberikan masukan-masukan yang tepat untuk Cloud. Sebisa mungkin, Tifa menggunakan segala cara untuk membesarkan hati Cloud. Mereka berdua menjalani sesi 'curhat' selama hampir dua jam, dan tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Bagaimana? Kau sudah mau pulang?" tanya Tifa, yang dijawab dengan anggukan pelan. "Baguslah kalau begitu."

"Yah…"

"Oh ya, bagaimana dengan memar di tanganmu?"

"Sudah agak mendingan, Dokter dan Zack memberiku obat."

"Oh," jawab Tifa sambil mengangguk. "Lalu, apa yang akan kalian lakukan?"

Cloud memiringkan wajahnya sebagai tanda bingung.

"Yah, maksudku, kan kalian kalah di pertandingan sebelumnya. Apa kalian ada rencana untuk selanjutnya?" tanya Tifa, yang juga merasa sedikit tidak enak hati.

Cloud menghembuskan napas sebelum menjawab pertanyaan Tifa. "Entahlah, aku juga belum merencanakan apa-apa, begitu juga dengan Zack. Kami masih dalam tahap membicarakan strategi," jawabnya, "tetapi, Kepala Sekolah adalah pihak yang paling kecewa."

"Kepala sekolah?"

"Ya, begitulah, Kepala Sekolah berharap begitu banyak pada kami," kata Cloud. "Karena itulah, dia paling tidak menyangka kalau kami akan kalah."

"Lalu … apa Kepala Sekolah membantu memberikan solusi juga?"

Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah gelengan kepala.

"Tidak bertanggung jawab sekali," kata Tifa sambil melipat kedua tangannya. "Tidak seharusnya dia berbuat begitu, seolah dia cuma sekadar memanfaatkan kalian, habis manis sepah dibuang."

Cloud tertawa kecil. "Aku dan yang lain sudah terbiasa, jadi kau tenang saja."

"Mana bisa aku tenang akan ini?" kata Tifa. "Bisa-bisa klub pemandu sorak akan kena getahnya juga."

"Oh, tenang saja, Kepala Sekolah suka melihat yang seperti itu, kok."

"Sayangnya, itu sangat tidak membantu."

Cloud lagi-lagi tertawa, dan kemudian, dia berdiri. "Baiklah, aku pulang dulu ya. Terima kasih untuk jamuannya."

"Sama-sama," jawab Tifa. "Ah, mau kuantar?"

"Tidak usah, hujannya sudah reda, dan lagi, bahaya bagi perempuan untuk jalan sendirian."

"Kau yakin?"

"Sangat."

Tifa mengangkat bahunya, dan kemudian dia mengantar Cloud sampai ke depan pintu. Hujan memang sudah berhenti.

"Hati-hati," kata Tifa. "Agak dingin karena hujan, apa kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, tenang saja. Lagipula kaus ini berlengan panjang."

Tifa menganggukkan kepalanya, dan kemudian dia menatap punggung Cloud yang mulai berjalan menjauh meninggalkan rumah Tifa. Tetapi ketika Cloud baru saja melewati empat-lima rumah, tiba-tiba saja Cloud membalikkan tubuhnya kembali, dan mulutnya seperti mengucapkan sesuatu, hanya saja, tidak ada suaranya karena hanya sekadar gerak bibir. Awalnya Tifa tidak langsung menangkap apa yang diucapkan, namun setelah dipikirkan sesaat, barulah Tifa tahu.

Terima kasih, kau sangat membantuku.

Tifa langsung tersenyum, dan kemudian dia juga membalas dengan gerak bibir yang untungnya langsung dimengerti oleh Cloud.

Sama-sama, jangan sungkan untuk datang lagi.

Keduanya saling melambaikan tangan, dan kemudian barulah Cloud benar-benar pergi.


Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih.