ABOUT ABNORMALITY – Chapter 6

Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi

Anime/Manga: Naruto

Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M.

Warning: OOC makin parah, miss typo, sedikit bahasa yang tak baku serta ungkapan yang agak kasar, pembahasaan yang lebay minta ampun.

.

.

.

Kakashi dan Anko melangkah masuk. Menyeruak ke dalam ruangan berukuran kecil yang telah resmi menjadi tempat singgah mereka pada malam ini. Peduli amat dengan pemandangan menyebalkan yang baru saja mereka lihat. Kira-kira begitulah batin mereka berdua. Padahal sesungguhnya mereka sama-sama merinding disko, khawatir akan terkontaminasi oleh suara-suara sensual dari penghuni kamar sebelah mereka yang tak beradab itu.

Namun dengan tekad api yang membara serta mendarah daging dalam diri keduanya, keributan apapun tidak akan menjadi penghalang. Yang lebih penting di malam ini adalah fisik lelah mereka mendapat hal yang layak. Sudah seharusnya, bukan? Tubuh juga punya hak untuk berisitirahat. Memaksanya tenggelam dalam kelelahan tiada tara adalah aksi nekat yang bisa berujung pada bunuh diri.

Dan tidak, terima kasih. Anko masih belum mau mati. Ia belum menikah. Oh, bahkan ia masih harus membayar beberapa lembar Ryo yang merupakan utangnya pada Kurenai dan Nenek Chiyo. Yang benar saja, andai ia mati, Kurenai pasti mengamuk-ngamuk di depan nisannya kelak. (Kurenai adalah orang yang cukup sensitive mengenai keuangan, catat itu). Selain itu, jika ia mati, nenek Chiyo juga pasti akan jantungan. Ujung-ujungnya mereka akhirnya akan bertemu (?).

Kembali ke plot.

Tampilan dari beberapa perabot sederhana pun menyambut mereka. Lantai kayu, dinding dengan beberapa hiasan yang tak berarti. Meja dan kursi, cermin besar di dinding… Dan terutama, sebuah tempat tidur.

Sialnya, entah kenapa sebuah ranjang dengan porsi double itu cukup mengganggu penglihatan Anko.

Faktanya, ia berada satu kamar dengan Kakashi pada malam ini. Dan juga, tempat tidur yang mereka dapati hanya ada satu.

Ah, takdir aneh dari Kami-sama. Kira-kira skenario apa yang akan terlaksana sekarang? Dengan sedikit berpeluh gadis jounin nan tangguh itu memikirkan berbagai kemungkinan dalam hidup mereka setelah ini. Mulai dari kemungkinan yang positif, juga sampai pada kemungkinan yang negatif.

Perempuan berusia kepala dua yang masih berstatus lajang itu pun kemudian menepuk jidatnya. Ia heran, bisa-bisanya ia sempat memikirkan sebuah adegan asusila bersama sang lelaki yang sedang bersamanya.

'Kakashi itu abnormal! Hey, sadarlah Anko!' suara inner dalam diri Mitarashi menjerit. Akan tetapi di lain pihak, ia sudah terlanjur terkontaminasi oleh film-film romantis yang pernah ia tonton.

Pernah pada saat itu, ia memergoki si dua sejoli tak terpisahkan Kotetsu dan Izumo sedang membawa beberapa kotak kardus yang isinya terlihat berat. Anko pun bertanya apakah gerangan kotak-kotak tersebut. Sayang, kedua pria yang bagaikan perangko di atas amplop itu malah tutup mulut, diam seribu bahasa. Dibujuk-bujuk dengan beberapa tusuk dango pun mereka tetap tidak mau memberitahu Anko mengenai kotak-kotak misterius mereka.

Akhirnya setelah kecerewetan membabi buta yang mereka terima dari Anko, keduanya menyerah. Anko pun tersenyum puas. Tak lama kemudian senyuman lebarnya itu memudar karena ternyata ia baru mengetahui bahwa Kotetsu dan Izumo adalah pedagang kaset DVD & VCD bajakan.

Kotak-kotak aneh itu berisikan ratusan kaset illegal yang akan mereka perdagangkan di pasar Konoha.

'Kenapa kalian berdagang hal semacam itu? Itu menyalahi hukum, bukan?!' tanya Anko sadis.

'Mau bagaimana lagi, Anko. Gaji kami sebagai penjaga gerbang tidaklah seberapa. Kami sudah protes puluhan kali pada Tsunade-sama mengenai kenaikan gaji, tetapi kami malah kena damprat!' sahut Izumo sedih.

Kotetsu pun menimpali 'Itu benar. Dengan harga BBM yang kian melambung, kami harus terus menyambung hidup. Lagipula, aku punya kucing-kucing yang harus diberi nafkah. Jika kami tak punya uang tambahan, bagaimana kami bertahan hidup dalam dunia fana yang kejam ini?' ujar pemuda itu dramatis.

Anko pun berurai air mata mendengarnya–tanpa ia sadari ia sedang berdiri berdampingan dengan Guy Maito yang mengeluarkan ekspresi yang sama (Anko tertular atmosfer lebay dari Guy).

Kotetsu dan Izumo pun menunduk. Suasana diantara mereka berempat semakin haru. Mengharu biru. Isak tangis dan deru ingus yang mengalir sesekali menghiasi kebersamaan di antara keempatnya.

Keheningan syahdu di antara mereka pun pecah tatkala Guy meneriakkan jargon masa mudanya yang khas. Ia berpose nice guy dengan aura kejayaan masa muda yang menggila, membuat rekan-rekannya Anko, Izumo dan Kotetsu langsung nyungsep di tanah dengan damai.

'Lanjutkanlah perjuangan masa muda kalian, Izumo, Kotetsu! Semangat masa muda yang terpatri dalam kegigihan kalian menyambung hidup akan menciptakan akhir yang gemilang! Aku percaya kejayaan akan kalian raih selama jiwa dan semangat masa muda kalian terus berkobar!' koar lelaki dengan rambut aneh itu dalam nada ambisius (?).

Ah, semakin melantur flashbacknya. Akhirnya, Anko dan Guy pun diberkahi kebaikan duo penjaga gerbang tersebut. Mereka diperbolehkan meminjam film manapun yang mereka suka. Anko dengan film-film bergenre action, thriller, dan dramanya. Sedangkan Guy lebih memilih film-film dengan tema masa muda (?). Akan tetapi tatkala gadis tomboy itu menyelipkan sebuah film romantis dengan cover sepasang muda-mudi yang melakukan French Kiss, Kotetsu menggodanya. 'Ciee ciee, Ankoo… sekarang suka film yang romantis-romantisan!'.

'Lagi jatuh cinta yaaaa?' Izumo dengan kompak menimpali. Tak lama kemudian duo itu pun terjerembab ke selokan berlumpur dengan Anko yang berkacak pinggang meninggalkan mereka.

Kembali ke cerita sebelumnya. Singkat kata, Anko telah rusak pikirannya karena sering menonton adegan-adegan romantis dalam film. Laki-laki dan perempuan berduaan, kemudian berciuman. Tangan mereka tidak bisa diam, dan akhirnya….. (tebak sendiri).

Rona merah yang menebal kini menghiasi wajah cantik Anko Mitarashi. Sampai akhirnya ia tersadar bahwa pria di dekatnya yang masih ia cintai ini samasekali bukan seorang pengabul harapan dalam mewujudkan angan mesumnya.

Kakashi adalah pria tak normal. Kakashi adalah Gay. Dan Kakashi –tidak tertarik pada dirinya.

Kami-sama, ini lebih sakit ketimbang segel terkutuk Orochimaru yang dulu melekat di lehernya! Anko hanya merasa, ini penyiksaan batin dan psikologis yang sungguh menghujam dalam ke dalam relung hatinya.

Kakashi…. Andaikan ia bukanlah pria dengan kecenderungan yang menyimpang…

Diam-diam inner Anko menangis Bombay tanpa sepengetahuan rekan lelakinya tersebut.

.

.

.

BRAKK.

Kakashi nyaris kaget. Suara dari tas milik Anko yang terbanting di atas meja sukses membuat jantungnya nyaris copot. Namun diam-diam ia bersyukur, untunglah ia tidak mengeluarkan ceplosan latah yang terkadang muncul dari mulutnya itu. Jika ia latah, mau ditaruh di mana wajah tampannya? Itu adalah sebuah hal yang sangat memalukan. Sangat tabu untuk bisa terjadi dalam kisah hidupnya yang merupakan jounin bertopeng tampan nan keren ini.

Tas berat Anko yang tadi diletakkan dengan kasar di atas meja itu juga mengeluarkan bunyi denting. Aksi tangan brutal perempuan itu sukses membuat isi dari sang tas sedikit terguncang. Bisa diketahui bahwa benda itu di dalamnya kebanyakan adalah senjata-senjata khas shinobi yang terbuat dari besi dan semacamnya.

Kakashi lalu memperhatikan Anko dengan dahi berkerut. Anko pun balas menatapnya dengan tatapan sangar 'apa yang kau lihat, pria bertopeng?!.' Melihat tampilan jutek tersebut raut wajah Kakashi terkesan makin menua saja. Kerutannya bertambah. Usai saling menatap, keduanya membuang muka mereka masing-masing.

Di luar, matahari sudah terbenam dengan sempurna. Dan itu artinya, fase malam tengah dijalani saat ini.

Seperti yang diketahui, Kakashi dan Anko kini tengah berduaan di dalam sebuah kamar. Kamar penginapan. Yah, meskipun keduanya sebenarnya merasa sangat terpaksa. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Dan mereka –tidak punya pilihan.

"Kenapa? Kau tidak mau sekamar denganku?!" ucap Anko kemudian dengan tatapan jengkel kepada sang rekan shinobi yang sedari tadi memperhatikannya dengan intens layaknya seorang pengamat yang meresapi sebuah lukisan fenomenal.

Kakashi Hatake kali ini mengangkat alisnya dengan takjub. Separuh diri Anko kembali seperti dulu. Galak. Dan samasekali tidak menyiratkan kefeminiman.

"Tidaak…." Desah Kakashi. Ia berusaha menepis semua pikiran negatif Anko. Setidaknya itulah yang lelaki itu pikirkan serta coba untuk lakukan. "Aku tidak berpikiran seperti itu, Anko…" ujarnya bijak.

Anko pun mendengus."Kali ini bukan karena dana kita tidak cukup. Tetapi nasib yang tidak beruntung saja, hingga kita cuma mendapat satu kamar sisa seperti ini" ucap Anko dalam lanjutan kata-katanya yang masih terasa agak kurang lembut di telinga Kakashi.

"Aaah..menyebalkan!" desisnya yang kemudian menghambur ke atas kasur.

Kakashi Hatake hanya bisa diam melihatnya. Namun otaknya terus berpikir. Paling tidak, benaknya masih sibuk berkomentar mengenai ketidak ramahan Anko padanya. Ia cukup heran, padahal Anko dulu selalu bersikap manis padanya. Kenapa malam ini Anko sebegitu galaknya?

Memang sih, Anko itu bagaikan ABG-ABG labil. Terkadang penuh senyum dan ceria, akan tetapi lima menit kemudian menyemprotkan makian kasar. Yah, meskipun Anko seperti itu, sebenarnya Kakashi tidak pernah punya masalah yang berarti dengan kepribadian uniknya. Kakashi justru menyukainya. Akan tetapi belakangan ini masalah yang membebaninya membuatnya acapkali tak punya banyak waktu untuk meladeni sang teman wanita.

Kembali ke Anko.

'Sialan, kasurnya ukuran untuk dua orang. Tetapi satu ranjang dengan orang itu tidak akan membuatku terharu kali ini!' Batin Anko masih dengan wajah yang terlihat agak kelelahan.

Sementara di lain pihak Kakashi lebih memilih untuk duduk di kursi. Setelah mendaratkan bokong seksinya (?!), ia pun membuka rompi shinobinya. Menyisakan kaos hitam legam di tubuhnya serta celana dengan warna biru gelapnya. Dan oh –topeng yang kita kira akan abadi itu dilepasnya, menampilkan sebuah wajah tampan maskulin yang sempurna. Mungkin ia merasa gerah malam ini.

Tampilan yang penuh dengan nuansa kekerenan itu menyinari sekeliling tubuh Kakashi, bahkan sampai pada tempat Anko berada. Sayangnya Anko samasekali tidak tertarik, karena pada dasarnya ia memang tidak sedang melihat Kakashi. Baginya, Hatake sedang memakai topeng atau tidak, itu sama saja. Ia sudah kehilangan gairah akan cinta pria itu. Padahal ia jelas-jelas tahu, kalau wajah Kakashi itu tampan.

Tanpa disangka, gadis dari klan Mitarashi (yang mungkin sudah punah akibat seleksi alam) itu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sebuah buku. Dan dengan bersandarkan pada bantal –setengah duduk sekaligus berbaring, Anko mulai membaca buku misterius itu.

.

.

.

Wajah Anko tampak serius, membaur menjadi satu dengan sedikit aura tidak mood. Pakaian shinobi khasnya yang biasa ia pakai masih menempel pada tubuhnya. Menutupi lekuk tubuh mempesona miliknya. Sebagaimana kita ingat, Anko pernah memamerkan tubuh seksi itu pada Kakashi, namun ditolak mentah-mentah lewat sebuah pengabaian yang sempurna.

Kakashi pun memperhatikan dengan intens dari sudut mata gelapnya. Anko membaca buku? Sungguh hobi baru yang mengherankan. Begitulah yang ada dibenak sang jounin lelaki.

Anko masih fokus dengan pekerjaan barunya. Buku di tangannya dibacanya dengan perlahan. Gadis itu tenggelam dalam konsentrasinya pada sebuah jendela dunia di tangannya. Detik demi detik pun berlalu. Dan setelah menit demi menit berganti satu sama lain, kemudian Anko menutup buku itu, menandakan aktifitas membaca yang terhenti dengan begitu mendadak.

"Boleh aku pinjam buku Icha Ichamu, Kakashi? Buku ini samasekali tidak menarik!"ucapnya datar pada pria bersurai keperakan itu.

Kakashi bengong untuk kedua kalinya. Ada apa ini? Sampai-sampai Anko hendak meminjam buku miliknya. "Kau mau membaca Icha Icha?" Tanya Kakashi penuh dengan keheranan sekaligus antusiasme. Bukannya langsung menjawab, ia malah mengajukan sebuah pertanyaan yang lain pada sang Mitarashi.

Anko mengangguk. "Iya, ada tidak? Yang mana saja boleh, Icha Icha Tactics, Icha Icha Paradise ataupun seri lainnya."

Mendapat penjelasan seperti itu, yang ada Kakashi malah hanya menatap Anko lekat-lekat. Sesungguhnya ia ingin sekali berbagi kebaikan pada gadis Mitarashi ini lewat cara meminjamkannya dengan senang hati. Akan tetapi buku semacam itu….

"Tidak ada, Anko. Sudah tidak pernah kubawa lagi".

Anko terdiam mendengar jawaban dingin dari Kakashi. Ia nyaris tidak percaya, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Dia kan seorang Kakashi Hatake? Kakashi Hatake, seseorang yang katanya tidak bisa dipisahkan dari buku yang katanya mesum itu. Kenapa sekarang mereka bisa terpisahkan?

Kakashi memang sudah berubah. Benar-benar berubah. Begitulah pendapat Anko.

"Yang benar?! Ah, kau ini!" protes Anko. Ia pun lantas merasa kecewa. Apalagi yang harus dibacanya? Membosankan. Namun sebenarnya hal itu malah hanya semakin memantapkan argument pribadi Anko akan keabnormalan seorang Kakashi Hatake.

Ya, jika Kakashi masih mesum dan normal seperti dulu, kenapa sekarang malah berpisah dari buku Icha Ichanya? Apa mereka sudah resmi bercerai? Jika memang iya, mana bukti surat cerainya?

Sekali lagi, Kakashi memang sudah berubah. Benar-benar berubah. Tidak tertarik pada dirinya yang seksi ini, sering bersama (berduaan) dengan Iruka, dan juga tidak lagi membaca membawa buku mesumnya.

Kakashi memang semakin dekat dengan aura ketidaknormalan. Menyimpang. Out Of Character.

Akhirnya daripada semakin pusing Anko langsung mengambil keputusan baru. Ia lebih memilih untuk beranjak serta melesat pergi dengan santai ke kamar mandi. Ia akan membersihkan dirinya, lalu berniat untuk langsung pergi tidur.

Sementara Kakashi kita tercinta masih tampak tidak banyak bicara. Dibiarkannya gadis itu mandi duluan, lalu ia akan menyusul setelah giliran antriannya tiba. Ia harap Anko tidak akan lama karena ia juga sudah tidak nyaman lagi dengan tubuhnya yang terasa kotor ini.

Beberapa saat pun berlalu. Kini keduanya sudah resmi membersihkan diri. Anko telah berganti pakaian dan tampil dengan lebih fresh serta wangi. Gadis itu membiarkan rambutnya terurai, menampilkan surai ungu gelap yang cukup panjang. Ia juga mengenakan sebuah kaos putih polos berukuran besar dengan lengan yang panjang.

Sepertinya kostum itu cukup nyaman untuk dipakai saat tidur. Kainnya terlihat sejuk. Mungkin semacam piyama khusus Anko di malam hari. Sementara sebagai bawahannya, dirinya memilih rok pendek berwarna ungu dengan panjang di pertengahan paha.

Sementara Kakashi sedang terlihat memakai kaos hitam berlengan panjang yang digulung sampai ke siku. Celana panjang yang juga berwarna hitam, dan topeng yang masih tetap lepas dari wajah tampannya. Rambut perak miliknya sedikit basah akibat terkena air di waktu mandi barusan.

Sebagai langkah awal peristirahatannya, Anko naik ke atas tempat tidur. Masih ingat kan jika kasur itu untuk ukuran dua orang? Ukuran tubuh Anko yang tidak tinggi besar itu masih menyisakan tempat tepat untuk satu orang lagi.

.

.

.

"Aku mau tidur" pamit Anko pelan. Tanpa dijelaskan pun sudah cukup eksplisit bahwa ucapan tersebut ditujukan untuk Kakashi Hatake.

Gadis berambut violet itu berbaring. Diletakkannya kepalanya pada bantal yang dilapisi kain berwarna putih –senada dengan seprai tersebut. Dipejamkannya mata indahnya, berharap alam mimpi akan segera menjemputnya dengan cepat.

Di lain pihak, Kakashi Hatake tengah merasakan bimbang. Ia cukup bingung, apakah ia akan menuju ruang di sisi Anko, ataukah ia akan tidur di bawah, di lantai saja? Sedikitpun tidak terlintas di pikirannya untuk berbagi tempat yang sama dengan gadis itu di atas ranjang. Apa alasan sebenarnya, hanya ia yang tahu.

"Kau tidak mau tidur disampingku, Kakashi?" Tanya Anko dengan nada datar dan kedua mata yang masih terpejam. "Masih ada cukup ruang".

Kakashi memperhatikan ruang yang di maksud Anko. Kebimbangan makin menyergapnya. Apalagi jika bukan karena tawaran Anko. Dalam waktu dekat ia pun harus segera membuat keputusan.

"Aku belum mengantuk. Kau duluan saja" jawab lelaki itu akhirnya. Dan itu berhasil membuat Anko memutuskan untuk tidak lagi mempedulikan pria itu. Sekarang dan selamanya.

Beberapa saat kemudian Kakashi berdiri. Dengan perlahan tapi pasti ia mendekati tempat tidur Anko. Pria itu duduk di tepi ranjang dalam gerakan sepelan mungkin. Dan setelah memastikan gadisnya tidak terganggu dengan gerak-geriknya, pandangannya tertuju pada buku milik Anko yang terletak pada atas meja di dekat mereka.

Kakashi tersenyum kecil melihat benda tersebut, tak lama kemudian ia pun meraihnya untuk sekedar mencari tahu kebenaran apa yang tersembunyi di dalam isi sang buku.

.

.

.

Malam semakin larut. Suasana hening penginapan berpadu dalam alunan nyanyian serangga-serangga malam yang berisik. Di dalam kamar, Kakashi masih asyik membaca buku milik Mitarashi. Namun malang, sebaliknya Anko malah tidak bisa sepenuhnya mengistirahatkan kepalanya.

Ia belum bisa tidur. Matanya terbuka dan kemudian terpejam lagi. Tertutup dan membuka kembali. Sungguh, hal itu terjadi berulang kali. Rasanya sangat sulit untuk mengontrol kantuk yang tidak melekat padanya, Anko pun berakhir tenggelam dalam rasa kesal di dadanya.

Gadis pencinta dango itu kemudian membalikkan badannya untuk mengontrol keadaan. Menangkap basah Kakashi yang tengah sibuk menjamah properti pribadinya. Ia sedikit terkesiap, tak menyangka rekannya itu tertarik dengan barang-barang miliknya. Membacanya tanpa izin, pula.

Untung saja buku tersebut hanyalah sebuah instruksi ringan mengenai 'bagaimana cara berdandan yang baik' yang ia pinjam dari Kurenai beberapa saat yang lalu. Heran, jika tema bukunya semacam itu, kenapa Kakashi terus saja membacanya? Apakah pria itu memang benar-benar gemar membaca, sehingga bacaan apapun pasti akan dilahapnya?

Anko mengernyitkan dahinya –yang tidak selebar area dahi Sakura Haruno tersebut.

"Bisa tenang tidak? Kau benar-benar berisik, Kakashi!" hardik Anko bergema. Ia marah pada Kakashi yang membolak-balik lembaran buku miliknya. Sungguh berisik. Kertas yang bergesekan –aduh, terasa sangat mengganggu.

Pelampiasan. Padahal bukan salah Kakashi. Mata bodoh yang belum mengantuk itulah penyebab utamanya. Anko memang kerap tidak berfikir panjang sebelum berbicara. Tetapi Kakashi paham akan hal itu, dan dengan begitu bijaknya dia tetap memilih untuk diam.

Lagi-lagi Anko merutuki nasibnya dalam omelan batin yang berulang. Kalau saja partner misinya kali ini bukan Kakashi. Bersama Iruka, Kurenai atau Asuma akan terasa lebih baik. Oh, bahkan si nyentrik Guy Maito pun mungkin akan lebih menghidupkan suasana dan membuat mood jelek Anko tergusur.

Kakashi! Kakashi yang pendiam. Cuek. Bodoh. Menyebalkan. Mungkin makian beruntun itu karena cinta yang bertepuk sebelah tangan dari Anko untuk Kakashi.

Dan juga –Kakashi yang abnormal.

Lengkaplah sudah. Pria bertopeng itu sudah cukup hina di matanya. Dan pada detik-detik berikutnya terjadilah sesuatu hal yang mengerikan.

"Dasar kau homo!" pekik si gadis dalam makian yang terlontar dari bibirnya. Kata-kata itu keluar begitu saja dengan penuh amarah. Anko benar-benar melakukannya. Ia memaki Kakashi Hatake karena sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.

.

.

.

Bagaikan kilat yang menyambar. Dan bagaikan api yang membakar kertas dengan cepat. Kakashi pun mengarahkan wajah rupawannya kepada partner lancangnya.

Apa itu? Makian terkasar dari Anko yang pernah ia dengar. Ditampar atau ditendang oleh gadis itu masih jauh lebih baik daripada dikatai dengan cercaan hina barusan. Kakashi merasa tersinggung, tersungkur dalam kehancuran harga diri yang absolut.

"Apa katamu? Coba ulangi sekali lagi" tantang Kakashi dengan nada tenang yang terdengar sedikit menakutkan.

Anko menyeringai puas dalam aura perang yang ditawarkannya."Aku bilang kau homo! Kau tidak dengar?" sahutnya dalam kalimat yang makin menantang. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia sudah muak dengan Kakashi. Kakashi yang selalu mendiamkannya. Menjauhinya. Menolak untuk berciuman dengannya. Dan juga –menolak menjamahnya.

"Kau itu maho! Semua orang menggosipkanmu begitu, Kakashi Hatake! Hanya aku yang mencoba untuk tidak percaya! Tidak sampai akhirnya kau menolakku waktu itu!" jelas Anko panjang lebar. Genderang perang sudah ditabuh. Kedua belah pihak sudah menyiapkan pasukannya. Perang dunia shinobi mungkin akan terjadi di antara mereka berdua. Ehm, mungkin.

"Mungkin jauh lebih baik jika kau sekamar dengan Guy saja!?" lanjut Anko semakin lancang. Kakashi balik menatapnya dengan tatapan membunuh, penuh kebencian. Ia tidak terima dirinya dikatai homo. Ia tidak suka dirinya dikatai maho. Dan ia –tidak terima fakta bahwa Anko memakinya dalam sebuah hujatan terkejam mengenai ketidaknormalan.

Berani-beraninya Anko mengatakan hal keji semacam itu. Benak Kakashi dipenuhi dengan kekalutan dan juga rasa amarah. Pria itu memejamkan matanya dan menarik nafas. Mencoba untuk tetap tenang sebisanya –menghadapi Anko Mitarashi yang tengah mengkonfrontasi dirinya. Belum sempat ia menjawab, Mitarashi malah terus asyik menjejal dengan ceramah serta komentar yang absurd.

"Oh, aku tahu… Iruka mungkin jauh lebih baik di atas ranjang jika ia ada disini bersamamu sekarang Kakashi!".

Kedua mata milik Kakashi terbuka sepenuhnya.

"Kalian bisa puas bercumbu dan juga mempraktekkan isi dari Icha-Icha milik –".

"Kyaaa!" ucapan-ucapan Anko langsung tergantikan dengan sebuah jeritan. Gadis itu terkejut setengah mampus. Kakashi menerjangnya. Kini keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat di atas ranjang, dengan Kakashi di posisi atas tubuh Anko.

Keduanya bertatapan dengan penuh kebencian. Menyambung aura elektrik yang saling berpadu kemudian meledak dalam ledakan imajinatif. Anko tidak takut. Ia tidak takut pada Kakashi –Kakashi yang kemungkinan besar homo itu. Gadis itu mendesiskan kata 'sialan' karena tangannya terasa sakit akibat dicengkeram oleh Hatake.

"Lanjutkan ucapanmu dan aku tidak segan-segan akan menyakitimu".

Kakashi berkata pada Anko, mirip dengan sebuah ancaman. Suaranya begitu dingin dan mematikan. Anko balas menyeringai, hendak menertawakan ancaman Kakashi.

Ia dianggap remeh. Begitulah pikir Kakashi. Parahnya lagi, ia dianggap tidak normal oleh gadis itu, oleh Anko Mitarashi. Gadis lancang yang kasar namun sebenarnya manis dan menggoda.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan padaku, Kakashi?" Anko tersenyum dengan licik, bagaikan orang yang penuh dendam pada rivalnya.

Kakashi diam. Diamatinya wajah Anko dalam-dalam, namun dengan aura masih penuh dengan rasa benci di balik wajah yang begitu tampan itu. Tampan, tapi semuanya percuma, batin Anko angkuh.

"Ucapkan sekali lagi jika kau berani…" pancing Kakashi lagi berusaha tetap tenang. Ia akan menguji Mitarashi. Jika perempuan itu berani menghinanya sekali lagi saja, ia bersumpah hal buruk akan ia lakukan pada sang jounin wanita.

Anko tersenyum kembali. Ia samasekali tidak takut. Toh, ia sudah pernah satu kali memancing Kakashi dengan tubuh-nyaris-telanjang-nya, dan semua itu sia-sia. Tidaklah mungkin jika malam ini Kakashi berani melakukan kemungkinan terburuk.

Dan kemudian Anko pun memantapkan jawabannya. Ia mengeluarkan suara kecil beritonasikan ejekan pada pria di atas tubuhnya."Kau-ho-mo" bisiknya tepat penuh penekanan, dalam jarak hanya beberapa senti dari wajah Hatake.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N:

Gyaaaaaa! Gomen ya, gomen.. nggak bisa lebih panjang lagi...

Trus, saya juga minta maaf nggak bisa konsisten fokus pada adegan KakaAnkonya doang. Maaf. #gampared

Ada yang penasaran sama next chap?

REVIEW.

Makasih udah mau baca XP

PS. buat fic Kill the Heart, sabar ya.. T_T