A/N : Maaf untung update yang sangat lama, dan seperti biasa, saya berterima kasih atas kesabaran kalian. Akhir-akhir ini memang saya agak sibuk, tapi akan saya usahakan untuktetap update, oke? Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih.

OH_18

Entah sudah berapa lama semenjak kejadian itu, mungkin sudah seminggu, atau mungkin lebih. Selama itu juga, hubungan Cloud dan Tifa semakin lama semakin akrab, mungkin lebih tepatnya semenjak hari itu. Semenjak Tifa mencoba untuk membesarkan hati Cloud, dan tanpa diduga, Cloud menangis di pundak Tifa. Entah mengapa, di hati Tifa seperti ada rasa yang belum dia pernah rasakan sebelumnya. Rasa yang aneh, terkadang terasa menggebu-gebu, namun juga terasa menyenangkan, dan lebih aneh lagi, rasa itu hanya 'aktif' ketika dia tengah bersama Cloud. Jika sebelumnya dia bisa dengan santai berjalan dan mengobrol bersama Cloud, sekarang rasanya ada yang … yah, aneh. Ada saat-saat di mana Tifa tidak ingin Cloud melihat wajahnya.

Klub pemandu sorak berjalan seperti biasanya, dan kali ini, Tifa mendengar kabar yang cukup menggembirakan dari Aerith. Dia bilang, tim basket sekolah sudah mulai bangkit kembali setelah kekalahan mereka. Awalnya memang butuh usaha cukup keras dari Zack untuk terus menyemangati para junior-juniornya, tetapi pada akhirnya Zack berhasil meluluhkan hati mereka. Kini, Zack merencanakan latihan intensif lagi mulai minggu depan. Karena pihak sekolah juga sudah setuju, maka klub pemandu sorak selaku pendukung juga harus latihan lagi. Beberapa kegiatan di klub karate juga terpaksa harus dikorbankan.

Keadaan lengan Cloud yang memar juga sudah jauh lebih baik, sudah nyaris hilang tak berbekas. Akhir-akhir ini, Tifa sering melihatnya rutin latihan bersama yang lain, berhubung mereka sama-sama latihan di luar. Tidak jarang, mereka berdua sering tanpa sengaja bertatapan. Cloud biasanya memberikan senyum kecil, sementara Tifa, dia hanya membalas samil tersipu malu. Tidak jarang, tingkahnya ini sering memancing keisengan Aerith. Pernah suatu hari, Aerith mendorong Tifa untuk menghampiri Cloud yang tengah beristirahat di tengah-tengah latihan, dengan alasan menyuruh Tifa memberikan handuk, atau inilah itulah. Seperti biasa, Tifa hanya membalas dengan wajah yang tersipu malu.

Hari ini latihan berjalan seperti biasa, dan Tifa baru pulang sekitar jam setengah lima sore. Badannya sungguh berkeringat, jadi seusai mengelap keringat, Tifa langsung mandi secepatnya dan ganti baju dengan kaus putih tipis, hotpants, dan sepatu. Dengan sedikit buru-buru, Tifa mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya dan berlari keluar. Berhubung sekarang sudah sore, maka Tifa memutuskan untuk segera pulang, dia khawatir jika sang Ibu menunggu terlalu lama. Evelyn memang sudah lama sembuh dari demamnya, tapi Tifa tetap tidak mau membiarkan Ibunya bekerja terlalu keras lagi.

Seperti biasa, latihan klub basket juga selesai bersamaan dengan klub pemandu sorak. Tifa bisa melihat satu persatu anggota klub basket yang juga sudah bersih-bersih tengah berjalan keluar. Kebanyakan dari mereka sudah semangat kembali, baguslah, dan paling belakang, Tifa melihat Cloud yang tengah mengobrol dengan Zack. Niat Tifa yang ingin menyapa duluan langsung batal ketika Cloud juga menyadari kehadiran Tifa, langsung saja, Cloud meninggalkan Zack dan berjalan menuju arah Tifa. Entah mengapa, Tifa langsung membatu, apalagi ketika Cloud sudah berada di depannya.

"Kau mau pulang juga?" tanya Cloud.

"Em, iya, bagaimana latihanmu tadi?"

"Lumayan melelahkan, soalnya akan ada pertandingan lagi minggu depan."

Tifa memiringkan kepalanya. "Memangnya jadwal pertandingan ulang sudah keluar?"

"Oh, pertandingan dengan sekolah lain, maksudku," jawab Cloud lagi. "Untuk melawan Jony lagi, baik Zack maupun pihak sekolah masih belum bisa memutuskan kapan."

Tifa menganggukkan kepalanya sambil berkata 'oh' tanpa suara.

"Lalu, bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

"Kau mau pulang, kan? Bagaimana kalau kau ikut denganku?" tanya Cloud. "Lagipula, hari juga sudah sore."

"Denganmu lagi? Rasanya kau selalu mengantarku pulang setiap selesai latihan."

Cloud tersenyum. "Tidak apa, kan? Lagipula rumah kita tidak begitu jauh."

Kalau sudah berkata begini, ya sudah, Tifa tidak bisa berkata apa-apa. Sebelumnya sih Cloud hanya sesekali mengantarnya, tetapi semenjak hari itu, Cloud-lah yang selalu mengantarnya pulang. Sebenarnya Tifa tidak begitu keberatan sih, tetapi … Zack dan Aerith itu loh. Mereka selalu memberikan tatapan aneh ketika melihat Tifa yang tengah dibonceng oleh Cloud. Seperti sekarang ini, entah sejak kapan mereka berdua berkumpul, tetapi Zack dan Aerith sudah senyum-senyum sendiri sambil berbisik satu sama lain. Oh, yang benar saja.

"Ayo," kata Cloud, dan kemudian dia mendekati bibirnya ke telinga Tifa. "Jangan pedulikan mereka."

Tifa awalnya sedikit kaget, lalu dia mengangguk dan berjalan bersama Cloud ke tempat parkir. Di sana hanya ada dua motor lagi selain motor milik Cloud. Ketika motor sudah dinyalakan, Tifa langsung reflek naik ke jok belakang.

"Siap?" tanya Cloud.

"Iya, pelan-pelan saja."

Motor pun dipacu, dan mereka keluar dari gerbang sekolah. Tidak seperti hari-hari biasanya, jalan raya tampak dipenuhi oleh orang-orang yang tengah memasang hiasan di pinggir jalan. Selain itu, kios-kios juga dipersiapkan di pinggir jalan, baik kios makanan, atau pun kios souvenir. Gedung-gedung dipasangi poster mengenai promosi Midgar, dan lampu-lampu hias digantung di tiang-tiang lampu. Entah akan ada acara apa, tetapi sepertinya akan ada acara besar dalam waktu dekat nanti.

"Cloud, apa besok ada acara?" tanya Tifa dengan sedikit berteriak, karena mereka naik motor, Tifa harus melantangkan suaranya agar tidak kalah dengan angin.

"Besok?" Cloud diam sejenak. "Oh, kalau tidak salah ada festival."

"Festival apa?"

"Kau belum lama tinggal di sini, jadi wajar kalau kau tidak tahu," jawab Cloud. "Besok adalah festival berdirinya kota Midgar yang ke dua puluh."

"Festival berdirinya kota Midgar? Hoo, pantas besok libur."

Cloud menganggukkan kepalanya. "Kau mau pergi? Terakhir kali kita jalan-jalan bersama, kelihatannya kau suka dengan festival."

Ah, Tifa sama sekali tidak menyangka kalau Cloud masih ingat-ingat saat itu, saat dia dan dirinya berjalan di distrik perkotaan, apalagi dia mengenakan gaun.

"Boleh, aku mau pergi," kata Tifa. "Jam berapa dimulai? Memangnya kau tidak ada latihan?"

"Tidak, festival besok sudah seperti hari libur nasional, jadi semua diharuskan bersantai sambil menikmati makanan dan riuh festival," jawab Cloud. "Biasanya, festival akan dimulai jam dua siang, dan selesai jam dua malam."

"Wow, lama sekali. Kau menjemputku jam tiga sore saja."

Cloud mengangguk. "Bukan masalah."

Motor terus melaju melewati jalan demi jalan, dan pada akhirnya berhenti di depan rumah Tifa. Kedai bakmie milik Evelyn tengah di penuhi banyak pelanggan, melihatnya, Tifa langsung buru-buru turun. Dia takut kalau Ibunya akan bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit lagi, dan lagi, Tifa malas mendengar ocehan Ibunya yang berkata karena kedai tutup, mereka sudah rugi berapa banyak.

"Terima kasih sudah mengantarku," kata Tifa. "Hati-hati di jalan."

"Sama-sama, jangan lupa janji kita besok."

Cloud tersenyum, dan sebelum dia meninggalkan rumah Tifa, Evelyn sudah menghampirinya duluan. Wajahnya berkeringat, dan sambil mengeka keringat dengan sebelah tangannya, Evelyn memberikan sebuah kantong yang di dalamnya berisi dua bungkus bakmie. Cloud sempat bingung dan agak segan menerimanya, tetapi Evelyn bersikeras.

"Bibi, sungguh tidak usah."

Evelyn menggelengkan kepalanya. "Ambillah, anggap saja sebagai tanda terima kasih."

"Tapi…"

"Ambillah," kata Evelyn mantap. "Di rumahmu juga jarang memasak, kan? Lumayan untuk kalian makan nanti."

"Lalu, aku harus bayar…"

Evelyn menggelengkan kepalanya. "Gratis. Sudahlah, sekarang ambil, pulang, lalu makan bersama Ayahmu. Kalau kau ingin lagi, Bibi bisa membuatnya lagi untukmu."

Cloud masih ragu-ragu untuk menerimanya, tetapi akhirnya dia menyerah saja. Setelah menggantungnya, Cloud mengucapkan terima kasih dan segera pulang.

"Dia pria yang baik," kata Evelyn. "Ya?"

"Iya, sangat baik."

"Lalu?"

Tifa menatap Ibunya. "Lalu? Lalu apa?"

"Maksud Ibu…" lanjut Evelyn. "Kau menyukainya? Akhir-akhir ini kau sering diantar olehnya sih."

Mendengar itu, wajah Tifa langsung memerah. "I—Ibu, apa-apaan sih?! Kami hanya teman!"

"Yakin? Tetapi pandanganmu padanya tidak bisa dibohongi, lho."

Tifa mau menjawab, tetapi yang ada wajahnya semakin memerah dan untuk berbicara saja menjadi susah. Akhirnya, Tifa hanya masuk rumah sambil menutup wajahnya, membuat Evelyn tersenyum.

"Dasar anak muda."

Waktu ternyata begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin Cloud mengajak Tifa menghadiri festival, dan tahu-tahu, hari esok sudah tiba. Seperti perkataan Cloud kemarin, jalan di luar sudah sangat ramai dengan lampion dan hiasan-hiasan lainnya. Ketika Tifa sedang sarapan atau sedang santai sejenak, selalu ada orang-orang yang mampir dan memberikan selebaran, tidak cuma satu dua orang atau sekali dua kali, ada banyak sekali orang yang datang. Sampai sekarang, total sudah lima selebaran yang Tifa terima, berikut dengan hadiah kecil seperti gantungan kunci. Banyaknya orang yang lewat juga membuat kedai mie milik Evelyn semakin ramai, sehingga Tifa harus ikut membantu.

Festival ini bisa dibilang cukup ramai, karena pihak panitia juga menyewa sejumlah besar orang untuk melakukan parade di tengah jalan. Suara tiupan terompet, dentuman, nyanyian, sorak sorai, semua bercampur menjadi satu, bahkan ada masyarakat sekitar yang juga ikut-ikutan. Berisik memang, tetapi kelihatannya begitu asyik sampai Tifa juga ingin ikut-ikutan, namun dia harus menahan diri, karena dia masih harus membantu Ibunya, dan lagi Cloud juga akan datang sebentar lagi.

Tifa sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah kaus putih, rok selutut berwarna senada yang agak tipis, dan sebuah jepitan berbentuk bunga dafodil di rambutnya, rambutnya dibuat model jilbrik. Jepitan ini adalah hadiah dari Ibunya sewaktu Tifa masih kecil, hanya saja sudah lama tidak dipakai, dan entah mengapa Tifa ingin memakainya lagi hari ini. Selain jepitan, rok putih ini sebenarnya juga pakaian lamanya semenjak kelas 3 SMP, beruntung masih muat. Meski sederhana, tetapi penampilan Tifa menjadi daya tarik di kedainya, beberapa kali, ada anggota parade yang iseng-iseng melirik Tifa yang tengah bekerja, ada juga yang langsung menghampiri dan memberi tambahan souvenir. Tifa hanya menerima sambil tersenyum malu.

Parade terus berlangsung bahkan hingga siang hari, dan selama itu, kedai juga semakin dipenuhi banyak orang. Tifa terus membantu sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa di antara kerumunan orang-orang yang tengah memesan, ada seorang pria berambut jabrik kuning yang tengah tersenyum kagum. Dia mengenakan kaus berwarna biru tua, celana jeans, dan sepatu yang biasa dia pakai saat bermain basket, kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong, sementara kedua mata birunya terus terfokus pada Tifa yang terus-terusan melayani pelanggan. Baginya, Tifa terlihat begitu cantik. Antrian sedikit demi sedikit terurai, dan ketika gilirannya sudah tiba, kedua mata Tifa langsung melotot sambil berteriak 'ah' pelan.

"Hei," kata Cloud sambil tersenyum. "Sedang sibuk?"

"Yah, begitulah."

Cloud menatap sekelilingnya. "Apa … rencana kita harus dibatalkan?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi kasihan kalau Ibuku kerja sendirian saat…"

Belum selesai bicara, mendada Evelyn sudah muncul di samping mereka berdua. Meski berkeringat, tetapi Evelyn tetap tersenyum. Setelah Cloud memberikan salam, Evelyn mengeluarkan beberapa lembar uang 10.000 gil dan menyerahkannya pada Tifa. Belum sempat Tifa berkata apa-apa, Evelyn sudah menyelanya.

"Pergilah."

"Tapi, kedai sedang penuh."

Evelyn menggelengkan kepalanya. "Pergilah, Ibu bisa mengurus semuanya."

"Pengunjung ada banyak sekali, Bu, apa Ibu yakin…"

"Yakin," jawab Evelyn tegas, dan kemudian dia mendorong Tifa. "Sekarang kau pergilah, sesekali melepas penat juga bagus. Cloud, tolong kau jaga Tifa ya."

Cloud lagi-lagi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dan kemudian dia memegang lengan Tifa untuk mengajaknya pergi. Sementara Tifa, dia akhirnya menurut meski sempat cemas. Mereka berdua berjalan karena motor tidak mungkin bisa melewati parade panjang ini, dan ketika berjalan, sesekali Tifa menoleh ke belakang. Antrian terlihat lebih banyak, dan kalau saja tidak ada Cloud di sampingnya, dia pasti sudah berlari lagi ke dalam.

"Kau mau makan apa nanti?" tanya Cloud. "Ada banyak makanan yang dijual nanti."

Tifa mengangkat bahunya. "Entahlah, memangnya makanan apa yang enak di Midgar?"

"Ada banyak, tapi Zack sering mentraktirku Ether."

Tifa memiringkan kepalanya. "Apa itu Ether?"

"Minuman energi, dengan beberapa tambahan lagi, rasanya sangat manis dan segar."

Mulut Tifa membentuk huruf 'O' tanpa suara.

"Parade nya lama sekali ya?"

Mata Tifa mengarah ke depan, dan dia mendapati parade yang ramai itu tengah berhenti dan melakukan pertunjukkan. Tadinya Cloud menanyakan apakah Tifa mau berhenti sejenak untuk menonton, tetapi Tifa langsung menggelengkan kepalanya, dia bilang dia sudah menonton parade itu semenjak kedai baru dibuka, sehingga mata dan telinganya sudah cukup 'panas'. Karena parade sepertinya akan berlangsung lumayan lama, Cloud segera membujuk Tifa untuk meninggalkan tempat ini. Situasi juga sangat ramai karena ada banyak sekali orang, dan agak sulit untuk melewati kerumunan. Agar mereka tidak terpencar, Cloud langsung menggandeng tangan Tifa dan menyusuri kerumunan. Tifa awalnya kaget, dan sebelum dia sempat protes, Cloud langsung menghadap Tifa sambil tersenyum untuk ke sekian kalinya.

"Jangan sampai terlepas."

Dengan malu-malu, Tifa menganggukkan kepalanya dan membiarkan Cloud menarik tangannya. Kerumunan ini benar-benar ramai, dan bertubrukan dengan orang lain sungguh tidak bisa dihindari, bahkan terjepit. Karena berada di kerumunan, Tifa juga tidak tahu kapan mereka bisa keluar. Di sekelilingnya hanya ada orang dan orang, dan Tifa juga tidak bisa melihat parade dengan jelas karena terhalang oleh tingginya badan orang-orang yang menonton. Tifa pikir, kasihan sekali jika ada yang membawa anak kecil ke sini.

Setelah bersusah payah, mereka berdua akhirnya bisa keluar juga. Parade sungguh menarik perhatian banyak orang, dan antrean juga mengumpul serta memanjang ke berbagai arah. Kali ini mereka telah tiba di sebuah gang kecil yang mengarah ke jalan raya, napas Tifa terengah-engah, sementara Cloud terlihat baik-baik saja, di wajahnya tidak ada keringat yang mengalir seolah panasnya matahari tidak mempengaruhinya. Melihat Tifa yang begitu kelelahan, Cloud merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Sambil mengangguk sebagai tanda mengucapkan terima kasih, Tifa menerima saputangan itu dan mengelap keringatnya.

"Maaf, apakah aku seharusnya menarikmu terlalu keras? Wajahmu merah sekali," tanya Cloud.

Tifa menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, justru tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa keluar dari sana karena pingsan duluan."

Cloud tersenyum. "Ya sudah, bagaimana kalau kita jalan sekarang? Aku yakin di depan ada banyak makanan dan minuman yang kau suka."

Tifa tersenyum, dan kemudian mereka berdua kembali berjalan menjauhi kerumunan. Entah lupa atau apa, tetapi Cloud tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Tifa. Tifa sendiri juga baru menyadari ketika dia melihat tangan kanannya yang tengah digandeng, wajahnya menjadi semakin memerah.

Sesuai perkataan Cloud, pinggir jalan alias trotoar sudah dipenuhi oleh banyak sekali kios-kios. Selain makanan dan minuman, ada juga yang menjual semacam souvenir. Souvenirnya ada yang berupa boneka Chocobo, miniatur kota Midgar, kalung dengan batu-batu permata (imitasi, tentunya), baju warna-warni, cincin, dan lain sebagainya. Rasanya menyenangkan sekali, selama berjalan melihat-lihat dan membeli sesekali, senyum Tifa tidak pernah hilang sedikit pun. Seumur-umur, baru kali ini Tifa senang berada di tengah-tengah keramaian. Cloud sendiri juga sering mengajak Tifa ke arena permainan yang sering dikunjunginya sejak dulu, salah satunya adalah arena menembak. Di sana tertulis, kalau berhasil menembak dengan tepat target paling ujung, maka mereka akan mendapat hadiah utama. Tetapi, tentunya tidak semudah itu, ada banyak halangan seperti kertas yang digantung dengan tali dan berayun-ayun.

Tifa adalah yang pertama mencoba, dan akhirnya … dia gagal. Setiap orang diberi kesempatan tiga kali, dan Tifa gagal seluruhnya. Dengan sedikit kecewa, Tifa menyerahkan senapan mainan itu untuk Cloud. Cloud menerima senapan itu dengan tersenyum, seperti biasa, dan kemudian berkata bahwa dia akan mendapatkan hadiah utama. Tifa awalnya sih tidak begitu yakin, tetapi pada akhirnya dia hanya berdiri di samping Cloud sambil melihat wajahnya yang tengah berkonsentrasi. Wajahnya itu entah mengapa terlihat … keren, sama seperti ketika dia tengah membidikkan bola basket. Ketika Tifa masih mengagumi wajah pria itu, tiba-tiba Cloud menekan pelatuknya. Berbeda dengan dirinya, peluru itu meluncur dengan mulus mengenai target di ujung, membuat orang-orang yang tengah melihat, termasuk Tifa, kaget serta terkagum-kagum.

"Selamat!" teriak si pemilik kios. "Kau berhak mendapat hadiah utama!"

Si pemilik kios yang adalah seorang pria paruh baya berambut cepak mengeluarkan sebuah boneka beruang besar berwarna merah muda. Boneka beruang itu diterima oleh Cloud, dan kemudian diberikan lagi ke Tifa.

"Kau suka?"

Tifa menerima dengan mulut menganga lebar. "Wow Cloud, ini … ini terlalu…"

"Jelek?"

"Bu—bukan! Aku sangat menyukainya, terima kasih!" jawab Tifa sambil memeluk bonekanya. "Terima kasih, Cloud."

"Aku senang kalau kau menyukainya."

Sambil memeluk boneka beruangnya erat-erat, mereka berdua kembali berjalan keliling. Kali ini di samping mereka terdapat sebuah stand peramalan. Orang yang meramal adalah seorang wanita dengan make-up tebal serta lipstik hitam, dia memakai baju yang tertutup dari atas sampai bawah, seluruh jarinya terpasang banyak sekali cincin, kalungnya pun sama, sementara kerudungnya yang berwarna hijau terlihat begitu serasi dengan dandanannya. Tifa sebenarnya tidak begitu percaya dengan hal-hal seperti ini, dan jika Tifa tidak, seharusnya Cloud juga sama, apalagi dia laki-laki. Tetapi di luar dugaan, ternyata Cloud malah menawarkan Tifa untuk ke sana.

"Cloud, kau percaya dengan ramalan?" bisik Tifa.

"Sebenarnya tidak," jawab Cloud. "Tetapi tidak ada salahnya sesekali mencoba, kan?"

"Entahlah, aku tidak begitu suka dengan ramalan."

"Tidak apa-apa, ayo," kata Cloud. "Kata Ayahku, mencoba sesuatu yang baru adalah hal yang bagus."

"Kau mau meramal apa?"

Cloud mengangkat bahunya. "Apa saja boleh."

Dengan sedikit ragu, akhirnya Tifa mengangguk dan berjalan menuju stand peramalan itu. Atmosfernya terasa berat, apalagi ketika mereka berdua langsung duduk berhadapan dengan peramal itu. Berlawanan dengan dandanannya, dia memperlihatkan sebuah senyum ramah ketika melihat Cloud dan Tifa duduk hendak meminta 'jasa'nya.

"Selamat datang," katanya, "apa yang ingin Anda berdua ramalkan."

Di luar dugaan, peramal ini benar-benar to the point.

"Aku ingin bertanya mengenai nasibku di bidang olahraga."

Oh, dan Cloud sendiri ternyata juga begitu to the point.

"Baik, tapi sebelumnya…" kata si peramal sambil mengambil sebungkus kartu, kartu Tarot sepertinya. "Aku ingin kau mengambil lima kartu dulu."

Si peramal menjejerkan seluruh kartu dengan sekali gerakan tangan kanan, dan kemudian, barulah Cloud mengambil lima kartu secara acak. Si peramal mengambil semua kartu itu, dan kemudian melihatnya satu persatu sampai diletakkan di atas meja seluruhnya. Tifa dan Cloud hanya menatap kartu-kartu itu dengan heran, mereka tidak mengerti maksud-maksud dari gambar itu.

"Hmm," si peramal itu mulai bergumam. "Harus kuakui, kau memang memiliki potensi yang bagus."

"Dalam olahraga?"

Si peramal itu mengangguk, tetapi kemudian dia buru-buru menambahkan lagi. "Tetapi, ada lagi, selain olahraga."

Cloud memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu?"

"Dari kelima kartu ini, kartu inilah yang menurutku paling menarik," lanjutnya sambil mengambil kartu paling kanan. "Kau memiliki potensi yang besar dalam … percintaan."

"Percintaan?" kata Cloud dan Tifa bersamaan, dan melihat itu, si peramal tiba-tiba tersenyum.

"Kau sebenarnya sedang mencintai seseorang, hanya saja, kau tidak menyadarinya," kata si peramal. "Tetapi tidak apa-apa, kau akan menyadarinya, tidak lama lagi."

Isi ramalan itu membuat Cloud sempat tidak percaya, tetapi di sisi lain, entah mengapa dia juga merasa … senang. Lagipula unik juga, karena Cloud yang pada awalnya meminta untuk diramal mengenai olahraga, ternyata yang lebih diramal malah masalah percintaannya, yang sangat bertolak belakang.

Meramal selesai sampai di sana, dan Tifa ternyata menolak untuk diramal. Ketimbang diramal, dia lebih memilih untuk berjalan-jalan lagi sambil melihat-lihat. Tetapi di dalam hatinya, dia juga sebenarnya agak tertarik dengan ramalan tadi. Karena kepikiran, akhirnya Tifa sering sekali terlihat terbengong-bengong ketika tengah mengunjungi kios-kios. Ah, Tifa juga sudah mencoba minuman bernama 'Ether', rasanya seperti asam dan manis mejadi satu.

"Kau mau ke mana lagi?" tanya Cloud.

Tifa menyesap jusnya terlebih dulu. "Ke mana saja boleh, di sini ramai, dan aku takut tersesat kalau hanya sendirian."

Cloud tersenyum. "Baiklah, ayo kita keliling-keliling lagi, kudengar nanti malam ada kembang api."

"Sungguh?! Ayo, kita ke sana!"

"Hari masih sore, jadi tenang saja, jadi lebih baik kita jalan-jalan lagi saja dulu."

Tifa lagi-lagi menganggukkan kepalanya, dan kemudian mereka berdua berjalan lagi. namun Tifa langsung menghentikan langkahnya ketika melihat dua tiga orang yang tengah mengenakan jas lengkap berwarna hitam serta kacamata berwarna senada. Mata Tifa langsung melebar, dan jus yang dipegang tangan kirinya langsung terjatuh. Tifa ingat dengan mereka, mereka adalah … pengawal Ayahnya.


Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih.