ABOUT ABNORMALITY – Chapter 7

Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi

Anime/Manga: Naruto

Genre: Romance, 'lil bit humour

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M.

Warning: OOC, Typos, abal. LEMON. Adult scenes. Rape.

DON'T TRY THIS AT HOME.

Diharapkan kebijakan pembaca. Yang belum 18 tahun kalo bisa jangan baca yah. hehe.

.

.

.

"Kau-ho-mo" bisik Anko Mitarashi penuh penekanan, dalam jarak hanya beberapa senti dari wajah Hatake.

Orang yang secara telak mendapatkan ucapan semacam itu hanya bisa diam membeku. Kedua mata yang terkadang hanya menampakkan aura malas itu kali ini memejam, untuk kemudian membuka kembali. Ia tak habis pikir, mengapa di malam ini ia harus menerima sebuah tindakan tak terduga dari rekan wanitanya.

Homo? Apa aku tidak salah dengar?

Meragukan kenormalan dirinya yang macho ini sama saja dengan melakukan dosa besar. Sejak kapan putra mendiang Sakumo Hatake yang kharismatik itu berlabelkan dengan gelar maho yang nista? Ayahnya yang memiliki banyak jasa pada desa Konoha itu pun pasti tidak akan tenang di alam sana, jikalau ia mendengar kabar buruk semacam ini.

Kakashi mendelik, lalu memejamkan kedua matanya.

Baginya ini benar-benar tidak bisa dimaafkan.

Begitu rendahnyakah aku di matamu, Anko? Kau menganggapku tidak lebih dari seorang lelaki yang tidak normal?

Malangnya, Anko adalah satu-satunya manusia pertama yang berani menyampaikan gosip tak mengenakkan itu –secara terang-terangan. Dan juga –lewat ungkapan sarkas yang makin membuat Kakashi naik darah.

Ditatapnya sekali lagi bola mata cokelat gadis itu. Ia ingin memastikan sekali lagi. Ingin sekali rasanya Kakashi menangkap kesan bercanda ataupun tidak serius dari gadis di hadapannya. Tetapi nihil. Ia masih bisa membedakan dengan jelas antara ucapan yang diungkapkan karena bercanda ataupun tidak.

"Kupastikan kau akan menyesalinya, Mitarashi..." bisiknya setengah mengancam, mengalun dan memasuki tepat ke dalam gendang telinga Anko.

Anko tiba-tiba merasakan aura tidak nyaman yang mulai menyerang benaknya. Apa Kakashi tidak main-main?

Bersamaan dengan berlalunya percakapan itu, Kakashi pun memulai sebuah rencana gila –hal yang ia sendiri pun tak pernah bayangkan sebelumnya.

.

.

.

"Akh!" Anko memekik, sebagai respon keterkejutan dirinya.

Didapatinya Kakashi dengan kasar menahan sebelah bahunya dengan sebelah tangan kanan, sementara tangan kirinya menjelajah paksa perut gadis itu, menyelinap dengan lihai melewati bawah pakaian longgar Anko.

Jemarinya menari -berjalan pada senti demi senti di atas perut rata Mitarashi, merasakan kelembutan kulit berwarna putih tersebut. Begitu halus. Membuat jari-jari tangannya betah berlama-lama disana, meskipun tubuh yang disentuhnya meresponnya dengan penolakan secara signifikan.

Bibir Kakashi pun secara serempak melakukan penyatuan pada bibir Anko. Menciumnya dengan kasar. Menempel dan menyapukan bibirnya sendiri sebagai sebuah bentuk ciuman yang sangat tidak romantis.

Bisa dirasakannya nafas partnernya yang menyatu tidak seirama dengan nafasnya. Namun ia tidak peduli, benar-benar tidak peduli.

Anko terkesiap. Belum pernah ia melihat Kakashi yang seperti ini. Kasar. Liar. Dan samasekali tidak bersikap gentleman. Ia kewalahan mendapati serangan ciuman Kakashi pada bibirnya. Mulut lelaki itu terus melumatnya paksa, mengecupi bibirnya, menghisapnya.

Tiba-tiba Anko serasa ingin menangis. Ia seakan tidak bisa melawan. Ralat –ia sudah mencoba untuk melawan. Ia meronta sebisanya. Sayang, Kakashi menekan tubuhnya terlalu kuat. Dan bagi Anko itu adalah sebuah kebrutalan dari seorang Kakashi. Ia tidak menyangka dirinya telah membangkitkan sisi kelam Kakashi, sisi yang tidak pernah ia ketahui.

.

.

.

Mungkin ini salahnya, sudah menghina pria itu. Mungkin ia keliru, Kakashi bukanlah seorang gay. Perlahan rasa sesal mulai menjalari benaknya, ditolak cintanya jauh lebih baik ketimbang harus dipelakukan seperti ini.

Apa yang ia lakukan? Apa ia sudah gila?

Hentikan! Aku masih belum ingin kehilangan kegadisanku!

Gadis itu berontak, namun aksi Kakashi benar-benar tak dapat terhentikan. Ciuman panas pria itu masih berlanjut, menyapu dan mengecup bibirnya dengan ganas.

"Uummh!" Anko mengerang dari dalam mulutnya yang tertutup -tertutupi mulut Hatake.

Kakashi, masih dengan tindakan liarnya –mencium bibir perempuan itu dengan paksa. Tangan kirinya mengimbangi dengan meraba tubuh Anko. Masih mengelus kulitnya, dan makin lama makin naik ke bagian payudara.

"Kakashi –"

Anko menjerit kala pagutan bibirnya sempat terlepas untuk sesaat. Lidah Kakashi kembali menerobos masuk ke dalam mulut, memaksanya untuk bermain. Dan mau tak mau ia tidak bisa lagi menghindar, membiarkan Kakashi terus menguasai ciuman mereka kali ini.

Berkali-kali ia mencari lidah Anko dan menggigitnya pelan.

Anko mendesah sekaligus merasakan takut yang semakin menjalar. Sangat sulit untuk menikmati ciuman dari seseorang jika sedang dalam keadaan terpaksa seperti ini. Apalagi dengan kedua tangan Kakashi yang kini kompak menelusuri dadanya.

Tangan besar pria itu mengangkat ke atas kaus putihnya, meraba kedua bukitnya yang masih ditutupi bra, menekannya disana.

.

.

.

"Kakashi hentikan –" pinta Anko kembali masih dalam perjuangannya melepaskan serangan Kakashi. Kedua tangan gadis itu meremas rambut perak sang pria, berusaha menjauhkan wajah tampannya yang sudah tidak bertopeng tersebut dari wajahnya.

Anko yang terus memberontak itu berkali-kali gagal membuat tangan pria itu menjauh dari tubuhnya.

Hatake samasekali tidak menggubrisnya. Tubuh bagian bawahnya menindih tubuh bagian bawah milik Anko, menekannya dengan kuat. Ciuman bibirnya mengganas, bersaing dengan kedua tangannya yang semakin nakal –menyibak paksa bra Mitarashi dan menggenggam isi dibaliknya. Menyentuh bagian tubuh yang empuk itu berkali-kali,meremasnya sekuat tenaga.

"Aahh! He-hentikan!" Anko mendesah. Belum pernah ia menerima perlakuan semacam ini. Ia memang seorang gadis yang tidak pernah tersentuh.

Ja-jangan sentuh bagian itu!

Percuma saja rasanya Anko mencoba melakukan perlawanan. Tenaga pria itu memang lebih kuat.

Ia mendesah tertahan. Rasanya cukup sakit mendapati payudaranya yang disiksa oleh Kakashi. Dadanya disentuh dan diremas dengan begitu tak berperasaan.

Kulit wajah Anko memerah, sudah cukup lama semenjak Kakashi menciumnya. Ia bukan sekedar merona, akan tetapi ia merasa sangat malu. Malu dan takut.

Perasaan takut itu masih belum bisa ia kendalikan. Yang ada di pikirannya hanya satu –ia khawatir Kakashi akan memperkosanya.

Dan sepertinya, Kakashi memang benar-benar akan melakukannya.

Setelah pergulatan antar mulut yang melibatkan bibir, lidah, dan saliva mereka –tiba-tiba Kakashi melepaskan ciumannya.

Bibir pria itu kini bergabung dengan kedua tangannya, menggantikan posisi mereka untuk menikmati bagian tubuh seksi Mitarashi tersebut. Dan ketika ia mulai memberikan kecupan terlarang pada bagian dada Anko, tangan Kakashi berpindah ke bagian perut dan menahan tubuh gadisnya dari rontaannya yang masih belum berhenti.

"He-hentikan! Kakashi –"

Anko kembali memegangi kepala Kakashi, setengah menjambak rambut silver sang jounin yang kini sudah tampak tidak karuan akibat ulah tangannya. Wanita itu mencoba mendorong kepalanya –membuatnya menjauh dari payudaranya.

Tidak berhasil. Pria itu malah terus berhasil menciumi tubuhnya, membuatnya merasakan hangat dan geli yang tidak tertahankan.

"Ka-Kakashi! Kumohon hentikan! Ah –"

Bagian kecil sensitifnya dilumat oleh jounin itu. Membuatnya menegang. Salah satu sisi mendapat remasan kuat dari tangan Hatake, dan sisi sebelahnya lagi masih dilumatnya.

Rasanya sedikit perih, Kakashi menghisapnya terlalu kuat. Membasahinya lewat lidahnya sekaligus memberikan gigitan kecil disana.

Anko ingin mendesah sekaligus menjerit dalam satu waktu, akan tetapi rasa itu ditahannya dalam hati dan dirinya lebih memilih untuk menggigit bibir bawahnya.

Saat rasa takutnya makin bersanding dengan perasaan nikmat, gadis itu mengendurkan rontaannya. Hatake pun semakin intens dalam aksi bibirnya. Anko bisa merasakan seluruh tubuhnya juga menegang dan pasrah pada ciuman Kakashi. Direlakannya dadanya menjadi santapan empuk dari bibir dan tangan lelaki tampan diatas tubuhnya. Bibir Kakashi terasa basah dan hangat, menciuminya dengan liar.

Merasa rekannya mulai pasrah, jounin dari tim tujuh tersebut makin lupa diri dan seolah tak bisa berhenti merasai tubuh Anko dibawahnya.

.

.

.

Beberapa saat kemudian semuanya terhenti, Kakashi melepaskan ciumannya. Masih dengan menduduki bagian tubuh bawah Anko, ia meluruskan tubuh atletisnya dan melepaskan pakaiannya sendiri, memperlihatkan dada bidang serta otot tubuh terlatih yang membuat Anko makin merona.

Apa lagi yang akan dia lakukan?

Nafas Anko terengah-engah. Ciuman dahsyat tadi nyaris tidak memberinya kesempatan untuk bernafas dengan bebas. Remasan kuat tangan Kakashi dan juga permainan mulutnya pada payudaranya membuat tubuhnya terasa lemas.

Sensasi apa ini? Ia bahkan seolah pasrah dengan Kakashi yang kini mengamati fisiknya.

Pria itu tidak berkata apapun, hanya kedua matanya yang asyik menatap tubuh Anko yang tidak terbalut pakaian dengan sempurna itu. Tubuh Anko yang terlihat indah, sangat menggoda akal sehatnya. Ia pasti sudah gila jika membiarkan tubuh menarik Mitarashi itu tidak tersentuh. Ia tidak akan melewatkan kesempatannya kali ini.

Kau yang memulainya, Anko.. Dan aku -akan pastikan setelah malam ini kita tidak akan pernah melupakan momen saat ini.

Perlahan dilepaskannya pakaian serta bra Anko yang dirasa cukup mengganggu itu. Cukup sulit karena tangan Anko menolak bereaksi. Dan akhirnya dengan sedikit paksaan, ia berhasil membuat rekannya menurut –dan tampil dengan tampilan tubuh bagian atas yang polos.

Dada Anko yang cukup besar dan menggoda itu terlihat jelas, berpadu dengan warna kulitnya yang sama indahnya. Leher jenjang gadis itu menambah sempurna pemandangan tubuh erotis di hadapan Kakashi.

Kakashi tersenyum kecil, diperhatikannya beberapa noda merah pada payudara teman wanitanya. Yang kesemuanya adalah hasil karyanya.

Menyadari itu, dengan cepat Anko menutupi dadanya dengan kedua tangan sebisanya. Tak lama kemudian Anko kembali terkejut, dengan begitu cepat ia tahu-tahu langsung merasakan nafas Kakashi yang hangat dilehernya. Terlalu hangat –mungkin lebih tepat jika disebut 'panas'. Dan nafas itu terdengar memburu. Menciumi leher jenjangnya dengan tanpa ampun.

"Kakashi -"

Anko kembali memegangi kepala Kakashi, mencoba melepaskan wajah pria itu dari lehernya sekali lagi.

.

.

.

Kakashi masih tidak mau berhenti. Ciuman berlanjut, bagaikan sebuah penyiksaan mental yang hebat bagi salah satu pihak. Begitupun dengan ketakutan Anko yang tengah menyergap gadis itu. Takut. Gugup. Segalanya yang berkaitan dengan hilangnya pertahanan diri yaitu keberanian. Berpadu dengan kepasrahan yang memaksa.

Dada mereka bertemu –tanpa penghalang tangan Anko, membuat Mitarashi juga merasakan hangat yang kental dari tubuh pria diatas dirinya. Sementara Kakashi samasekali tidak keberatan merasai bagian tubuh lembut yang empuk itu menekan dada bidangnya.

Dari sudut mata Anko, punggung Kakashi terlihat begitu lebar, menutupinya sekaligus menguncinya untuk bergerak bebas.

Kakashi tersenyum, melepaskan bibirnya dari bagian leher Mitarashi. Dipandanginya wajah Anko yang memerah namun masih tampak ketakutan itu. Dan kemudian dengan secepat kilat ia telah berhasil menyibak rok pendek ungu Mitarashi, menariknya ke bagian atas –menampilkan pemandangan lain yang juga sangat disukai oleh para pria.

Tak berhenti sampai disitu, jounin lelaki -yang entah kenapa seperti sedang kerasukan setan- itu pun membuka paksa penutup bagian kewanitaan Anko. Memperlihatkan semburat warna merah muda yang begitu menggoda, yang membuatnya semakin bernafsu.

Aku pasti sudah gila. Perasaan ini sudah tidak mampu untuk kutahan lagi..

Kakashi meregangkan kedua paha sang gadis lebar-lebar, dan bersiap untuk memasukkan miliknya sendiri. Ia sadar betapa dirinya sudah tidak tahan lagi, ia begitu bernafsu melihat Anko. Miliknya mengeras, dan gairahnya yang menggila harus segera tersalurkan.

Sebentar lagi, Anko. Aku akan membuatmu merasakannya.

Anko terkesiap, entah sejak kapan Kakashi sudah melepas celana panjang hitam miliknya. Kini ia makin ketakutan setengah mati, menyadari nasibnya telah di ujung tanduk. Kakashi dengan birahinya yang membara, bersiap untuk melakukannya.

Habislah sudah...

Detik berikutnya, ia hanya mampu berucap dengan lemah, memohon kebaikan hati Kakashi yang sudah sangat tidak mungkin untuk ia dapatkan.

"Jangan, Kakashi.. Aku mohon –"

.

.

.

Raut wajah tampan itu mendadak berubah menjadi semakin serius. Dipandanginya air muka Anko yang menatapnya takut-takut. Ia sadar kini tubuh bagian bawahnya sedang terekspos, memperlihatkan organnya yang sudah mengeras. Namun ia tidak ambil pusing. Perlahan, didekatinya kembali wajah gadis itu untuk membisikkan sesuatu di salah satu daun telinganya.

Pemandangan wajah cantik yang ketakutan itu membuatnya tidak tahan untuk menggodanya lewat kata-kata.

Kau pernah memperlihatkan keindahan ini sebelumnya padaku, bukan?

"Kenapa takut, Anko? Bukankah sebelumnya kau juga pernah menggodaku –"

"dengan tubuh ini?" Kata-kata Kakashi yang berupa bisikan itu mengalun hangat, membuat degupan jantung Anko kian tidak teratur. Mungkin saja organ vital itu sedang meronta sekuat tenaga, hendak keluar dengan paksa dari tempatnya berada.

Anko memejamkan matanya kuat-kuat, tak tahan pada kalimat-kalimat Kakashi yang baginya saat ini terdengar begitu mengintimidasi. Bertepatan dengan kalimat 'tubuh ini' yang diucapkan oleh Kakashi, Anko merinding hebat karena tangan pria itu kembali menggelayuti tubuhnya, merabanya dengan pelan.

Kakashi -Kakashi benar-benar sudah gila!

"Ku-kumohon jangan…" desah Mitarashi sekenanya, berharap gemetar dari tubuhnya bisa terasa oleh pria yang kemungkinan besar akan memperkosanya.

"Kenapa? Bukankah kau sudah basah…" sahut Kakashi tenang –masih dalam bisikannya. Ia tersenyum –yang mana tidak bisa dilihat oleh mata cokelat Anko.

Kakashi perlahan kembali ke posisinya semula, dengan sebelah tangan yang sempat meraba pelan bagian intim Mitarashi, kemudian mengelus kulit paha yang lembut didekatnya.

Sial. Tubuh ini begitu merangsang...

Kedua tangannya itu lalu memegang kuat paha gadisnya, membukanya kembali untuk akses yang lebih lebar. Dan dalam detik berikutnya, Anko menjerit.

.

.

.

Kakashi mengatur nafasnya. Bibirnya sempat melenguh pelan tatkala ia merasakan sensasi luar biasa barusan –hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia sudah memasuki Anko, dan kini tugasnya selanjutnya adalah membuat miliknya masuk semakin dalam. Ia pun bergerak, semakin masuk dan masuk. Menembus milik Anko yang baginya terasa begitu erat dan nikmat.

Anko memekik, mengeluarkan ungkapan protes yang juga menyatakan bahwa ia sedang kesakitan.

Rasanya sakit sekali. Pertahanan tipisnya mulai tertembus. Kakashi semakin mendorong tubuhnya, menekan Mitarashi dengan seluruh tenaganya. Anko bisa merasakan benda tumpul tersebut menghujamnya tanpa belas kasihan. Ia tak tahan lagi. Rasa perih semakin tak tertahankan.

Tak lama kemudian, secercah warna kemerahan muncul dari penyatuan mereka.

Darah. Pria itu tertegun dan berniat untuk memperhatikannya sejenak. Dan disaat berikutnya dimana ia ingin terus melakukan aksinya, ia menyadari Anko sedang menangis.

Gadis itu memejamkan matanya, dengan cairan bening yang keluar dari sudut-sudut indera penglihatannya itu. Wajahnya yang selalu tampak menarik itu makin memerah, yang mana menurut Kakashi hanya tambah membuatnya terlihat semakin manis.

Bersikap tak peduli, Kakashi menggerakkan tubuhnya kembali -membuat dua fisik yang sedang menyatu itu bergerak dengan seirama. Segalanya begitu sempurna. Tubuh Anko, kewanitaan Anko. Ia semakin melayang oleh nafsu. Dikendalikan oleh gairah yang membuatnya lupa bahwa ia sedang melakukan pemaksaan.

Namun semakin ia merasakan nikmat yang merayapi otaknya, ia juga menyadari gadis yang sedang ia paksa saat ini tidak merasakan hal yang sama.

Anko tidak menikmatinya. Cukup jelas bahwa gadis itu sedang kesakitan. Kakashi masih bisa melihat gadis itu mengeluarkan air mata yang terus turun membasahi wajahnya.

Seketika pria itu pun berhenti -menghentikan sejenak pompaan tubuhnya. Tanpa melepaskan kejantanannya ia mengubah sedikit posisi dirinya, berniat mendekatkan wajahnya sekali lagi pada Anko.

.

.

.

Perlahan ia merasakan kontrol emosinya kembali. Dirinya yang sebelumnya menjadi pria mesum tak berperasaan itu berubah menjadi sosok tenang yang selama ini sudah seharusnya melekat pada kepribadiannya.

Dipandanginya wajah Anko yang tampak sendu, untuk kemudian menempelkan nafasnya pada wajah gadis itu –untuk kemudian mengecup pipinya dengan lembut.

Apa aku sudah menyakitimu? Apa aku sudah begitu keterlaluan?

Sedikit rasa bersalah hinggap di dalam hati Hatake.

Anko pun membuka mata merasakan ciuman di pipinya, dan tak lama kemudian menutup kembali dengan aura kesakitan yang masih kental. Kakashi Hatake masih mendominasi tubuhnya, kembali bergerak perlahan –membuat rasa perih masih bergelayut pada tubuhnya. Sakit. Benar-benar sakit.

Rasanya begitu menyiksa –merasakan Kakashi yang bergerak di dalam dirinya, menghujamnya dengan dalam berkali-kali, seolah tak mau berhenti. Bahkan alunan pelan tersebut lama-kelamaan berubah. Getaran dari tubuh sepasang anak manusia yang sedang menyatu itu makin lama makin memuncak. Kakashi menambah kecepatannya, menekan Anko semakin kuat –semakin dalam, membuat si gadis mendesah tanpa kendali.

Beberapa menit setelahnya sang gadis bersurai violet itu merasakan sesuatu yang hangat pada bibirnya. Tepat beberapa detik setelah ia merasakan kehangatan yang sama pada bagian rahimnya.

Kakashi menciumnya –jauh lebih lembut ketimbang ciuman mereka beberapa saat yang lalu. Entah untuk tujuan apa Kakashi melakukan itu. Menyatukan bibir mereka dengan manis, seolah-olah pria itu lupa bahwa telah menyakiti gadisnya.

Tubuh Kakashi yang lebih besar dan tenaganya yang lebih kuat itu masih mengunci tubuh Anko –membuatnya tidak bisa bergerak banyak. Berontak pun percuma, semua sudah terlambat.

Kakashi sudah mengambil hal yang sangat berharga dari diri seorang gadis. Anko pasrah akan nasibnya. Meskipun dalam kepasrahannya ia masih tidak bisa menghentikan tangisannya. Air mata yang keluar meskipun tanpa terisak, mengalir dengan sendirinya dan tanpa suara.

Penyatuan mereka masih terjadi, meskipun Kakashi sudah tidak menggerakkan tubuhnya lagi. Mendadak, ia terlihat lemas. Anko sadar, laki-laki itu sudah mengakhiri seks mereka –dan merasa yakin bahwa kehangatan yang diterima oleh tubuh bagian bawahnya tak lain adalah cairan sang pria.

Pria itu terdiam. Ekspresi wajahnya kembali terlihat dingin. Jikalau Anko tidak sedang merasa frustasi akibat pemaksaan ini, sudah pasti gadis itu akan terpesona dengan aura cool menusuk yang sedang ditampilkan Hatake padanya. Jarang-jarang ia bisa mendapati wajah Kakashi dalam tingkat kekerenan sempurna seperti saat sekarang.

"Sebelum aku meminta maaf, aku ingin tanya satu hal padamu" ucap Kakashi setelah ciuman mereka berlalu.

Anko yang mendengarnya dengan jelas hanya menatapnya. Wajahnya masih terlihat lemah, dengan rona merah yang masih menghiasi pipi.

"Kenapa kau tega mengataiku dengan hinaan itu, Anko?"

"Hinaan?" desah Anko dalam suara kecil.

"Kau mengataiku tidak normal, bukan?"

Yang ditanya cuma membulatkan matanya, menampilkan lingkaran cokelat tanpa pupil itu menjadi semakin besar dan lebar.

"Aku hanya menyampaikan yang aku dengar… "

Sebuah sahutan kecil mengalun. Kakashi memandangi bibir tipis Anko yang baginya terlihat merekah itu dengan penuh perhatian. Meskipun hatinya kesal –masih sangat jengkel pada Anko, ia tidak bisa menepis betapa menariknya gadis itu –wajah dan tubuhnya. Ditambah lagi, ia sudah merasakannya.

"Seperti yang kau lihat? Aku bukan homo!"

Anko hanya bisa terdiam, menarik nafas sejenak untuk kemudian mengeluarkan komentar.

"Kau pemerkosa, pria mesum!" tepisnya sembari mendorong dada Kakashi agar menjauh dari tubuhnya dengan sisa-sisa tenaganya yang sedikit.

Kakashi tak bergeming, masih terus menatap Anko dengan mimik serius. "Aku hanya membuktikan bahwa kau sudah salah memandangku, Anko!"

"..."

"Kau sudah lihat sendiri? Aku bukan maho. Aku normal… Apa kau masih perlu bukti yang lebih otentik daripada ini?"

"Tapi kau sudah pernah menolakku ? Satu hal yang aku dapatkan dari penelitianku terhadap kenormalanmu adalah –kau tidak tertarik padaku!"

Anko menggigit pelan bibir bawahnya, membuang pandangannya. Enggan bertatapan dengan Kakashi –yang sudah menidurinya. Bagian pribadinya masih terasa sakit. Jika tidak bisa dibilang perih. Ia harus menerima fakta bahwa ia telah kehilangan kesuciannya ditangan Kakashi. Dan hal itu membuat benaknya terasa pusing, pikirannya berkomentar macam-macam mengenai peristiwa yang baru saja ia rasakan.

Cukup lama keheningan menyertai mereka berdua. Kakashi menghela nafas berkali-kali, mencoba mencerna alasan Anko yang dirasanya tidak masuk akal. Namun kemudian ia menyerah, mungkin saja cara pandangnya samasekali berbeda dengan Anko. Ia mulai yakin kesalahpahaman telah terjadi diantara mereka selama ini.

"Bodoh. Selama ini aku mencintaimu, Anko... Kau tidak tahu?"

.

.

.

T B C

.

.

A/N:

Njiiir… ini lemon pertama saya. T_T

Gomen yah, cuman segini. Klik review! biar nanti bisa saya perbaiki dimana kurangnya ;)

Gomen jika kurang memuaskan. Maklum lah, masih belajar. Jarang baca lemonan sih XP #ditabok

arigatou... XD

Terutama yang masih setia pada saya #ditendang

Saya bahagia bisa mengenal kalian... *lebay lu thor!*

Ikuti chap selanjutnya yah?