A/N : Saya nggak mau berucap banyak-banyak, seperti biasa, saya berterima kasih atas kesabaran kalian dalam menunggu. Mohon maaf kalau ada kesalahan atau ada kekurangan, semuanya bisa disampaikan lewat review dan tentunya dengan bahasa yang baik-baik, terima kasih.

CATATAN 19

Mata Tifa seolah tidak bisa mengedip ketika melihat sosok pria-pria itu di kerumunan, seolah tanpa halangan, mereka terus berjalan tanpa mempedulikan kerumunan orang-orang yang bisa dibilang ramai. Meski mereka mengenakan kacamata, tetapi Tifa tahu bahwa pandangan kedua pria itu terfokus pada dirinya, dan … Cloud. Tifa sungguh merasa ketakutan, dan kakinya yang tadi terus melangkah mendadak seperti membeku, kedua tangannya gemetaran, dan hampir menjatuhkan jus yang tengah dipegangnya.

Di sisi lain, pegangan tangan Cloud di tangan Tifa juga mengeras, menyadarkan Tifa dari lamunannya. Tifa mengalihkan pandangannya pada Cloud, dan ternyata dia juga menyadari keberadaan dua pria itu. Tifa bisa melihat dahinya yang mengerut, dan Cloud juga menggigit bibirnya. Keringat terlihat mulai mengucuri wajahnya, namun bukan karena cuaca yang memang terasa panas, melainkan karena otak Cloud dipaksa untuk memikirkan cara untuk kabur dari sini. Meski di sekeliling mereka masih ada banyak orang, tetapi pria-pria itu pasti akan menangkap mereka cepat atau lambat, jika mereka berdua terus-menerus diam membatu. Di saat seperti ini, mereka berdua seperti tengah bermain judi, seandainya mereka salah menentukan pilihan, maka habislah mereka.

Jumlah orang-orang yang mengunjungi festival semakin banyak, namun tidak menghalangi kedua orang itu untuk mendekati mereka. Tifa sungguh takut, namun dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Dia sudah beberapa kali hampir diculik, dan dia tidak mau jika dia harus mengalami hal yang sama lagi sekarang. Entah apa yang dilakukan oleh padanya seandainya dia diculik nanti, selain harus bertatap muka dengan Ayahnya, dia pasti akan dipaksa tinggal bersamanya, atau mungkin saja, Ayahnya lebih kejam dari yang dia kira, bisa saja dia diperlakukan seperti di film-film. Bisa saja, dia diikat di kursi, diinterogasi, atau mungkin dikunci paksa. Tidak tahan untuk berpikir lebih jauh, Tifa memejamkan matanya sambil menunduk, benar-benar pasrah.

Genggaman tangan yang mengeras itu kembali menyadarkan Tifa, namun ketika Tifa menoleh, bukan ekspresi tegang lagi yang nampak di wajah Cloud, melainkan sebuah … seringai. Tifa sungguh tidak mengerti, kenapa ekspresi Cloud bisa berubah secepat itu? Dan seolah menjawab pertanyaannya, Cloud membisikkan sesuatu ke telinga Tifa.

"Jangan khawatir," katanya, "kita akan kabur dari mereka."

"Kabur? Tetapi … bagaimana caranya?"

"Aku sudah memikirkannya, dan lagi … aku sudah cukup mengenal daerah ini."

Tifa sedikit menyipitkan matanya. "Kau yakin?"

"Tenang saja, " kata Cloud. "Sekarang, kau terus tatap aku, dan dalam hitungan ketiga, kita akan lari."

"Lari? Lari kemana?"

"Ke kanan," jawab Cloud tanpa mengalihkan pandangannya. "Kau lihat ada gang, kan?"

Tifa menganggukkan kepalanya. "Tapi … di sana jalan buntu, dan ada tumpukan kardus juga, bagaimana kita bisa kabur dari sana?"

"Kau lihat ada pintu?"

Mendengar ini, mata Tifa kembali mencari-cari di gang itu, dan di sebelah kanan, memang tampak sebuah pintu. Entah apa yang ada di balik pintu itu, tetapi pintu itu terhubung dengan sebuah bangunan tua. Dari jendela, Tifa dapat melihat kalau ruangan di dalam bangunan itu gelap, entah apa fungsi bangunan tua itu, atau mungkin pertanyaannya, apa bangunan itu masih dipakai?

"Maksudmu, kita akan masuk ke sana?"

"Tepat," jawab Cloud.

"Tapi … itu bangunan apa? Kelihatannya…"

"Seram?" tanya Cloud. "Dulu memang sempat terjadi kebakaran di sana, dan memakan korban jiwa."

Tifa menegang karena kaget, dan terima kasih untuk Cloud, kini Tifa menjadi semakin takut. Tetapi tentu saja, dia tetap tidak mau memilih untuk ditangkap oleh bawahan Ayahnya.

"Mereka sudah semakin dekat," kata Cloud. "Kau bersiaplah, dan jangan sampai melepas tanganku."

"Eh? Tapi…"

"Tifa," kali ini Cloud mengalihkan pandangannya. "Pecayalah padaku, dan kita akan baik-baik saja."

Mereka berdua saling bertatapan, dan pada akhirnya, Tifa menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kembali menatap kedua pria berbadan besar itu, jarak mereka memang sudah semakin dekat. Kini, mereka berdua seperti sedang bermain film genre action, di mana mereka harus berakting kabur dari penjahat berbahaya. Kalau benar-benar sama, mungkin saja mereka juga akan melewati medan-medan yang berbahaya, jadi mereka harus melompat, menendang, memukul, dan apalah, duh! Rasanya pikiran Tifa malah jadi menyasar kemana-mana. Bahkan Tifa sampai sempat-sempatnya memikirkan kalau mungkin saja mereka akan bertarung.

Imajinasi selesai sampai di sana, dan Tifa menapakkan kakinya untuk bersiap-siap lari, Cloud sendiri juga melakukan hal yang sama. Ketika jarak di antara mereka semakin menipis, mulut Cloud mulai melakukan hitung mundur, dengan sedikit berbisik, Cloud menggumamkan kata 'tiga … dua … satu dan…' ada jeda beberapa saat sampai akhirnya Cloud berkata 'sekarang!'. Cloud menarik tangan Tifa ke arah yang ditunjuknya tadi, dan kemudian tangan yang sebelahnya meraih pintu. Di luar dugaan, pintunya tidak dikunci, sehingga mereka berdua tentunya bisa masuk dengan mudah.

Setibanya di dalam, suasananya ternyata lebih mengerikan, gelap, dan berantakan dari yang Tifa duga. Kasus kebakaran yang dikatakan oleh Cloud sepertinya memang benar, karena bekas terbakar itu masih sangat jelas di sini. Mesin-mesin berukuran besar yang sudah hangus, kain-kain yang terbakar (sepertinya bangunan ini semacam pabrik tekstil), struktur bangunan yang sudah sangat lama, dan sebuah jalan yang menuju ke bagian atap, ada sebuah tangga juga yang mengarah ke sana, tangga yang sudah berkarat seperti tangga-tangga lain di seisi gedung. Rasanya wajar jika tidak ada orang yang mau memperbaiki gedung yang memiliki tiga lantai ini.

Cloud terus menggandeng tangan Tifa, dan mereka berdua tengah berlari menuju tangga. Tetapi ketika mereka berdua baru menginjak anak tangga pertama, kembali terdengar suara pintu yang terbuka. Sesuai dugaan, kedua pria itu mengikuti mereka. Tifa yang syok sempat membeku di posisinya, tetapi genggaman tangan Cloud membuatnya bergerak kembali. Sambil menatap mata Tifa, Cloud memberikan tambahan semangat pada gadis itu, dan kembali mengajaknya ke lantai atas. Entah apa rencana Cloud dengan terus naik ke atas, mereka akan kabur dengan cara apa?

Langkah kaki terus dipacu tanpa melambat sedikit pun, gedung ini sangat luas, dan yang jelek dari desain gedung ini adalah jarak masing-masing tangga yang jauh, yakni berseberangan. Sehingga ketika mereka tiba di lantai dua, mereka tidak bisa langsung naik ke lantai berikutnya. Tetapi toh, mereka berdua juga tidak peduli, rasa lelah mereka seolah terlupakan karena mereka tahu kalau kabur dari kedua orang itu adalah yang utama. Tetapi kedua pria itu sungguh keras kepala, karena tanpa lelah dan kepanasan meski memakai pakaian tiga rangkap, mereka tetap mengejar Cloud dan Tifa tanpa terlihat kelelahan.

"Mereka masih di sini ya?" kata Cloud. "Dasar keras kepala."

"Lalu, apa rencanamu? Apa kau ingin kita naik sampai ke atap?"

"Betul sekali."

"Tapi … bagaimana kita bisa kabur dengan lewat atap?"

"Agak ekstrim memang, tetapi tenang saja, aku akan membantumu," jawab Cloud. "Ingat satu hal, jangan melihat ke bawah."

"Melihat ke bawah?"

Cloud menganggukkan kepalanya, dan Tifa hanya menunduk sambil berpikir maksud dari perkataan Cloud tanpa berhenti berlari.

Kini mereka menginjak anak tangga menuju lantai tiga, tetapi sepertinya mereka tidak bisa lebih leluasa, karena dua pria bertubuh besar itu mengeluarkan sesuatu yang tidak terduga … pistol. Entah apa yang ada di pikiran mereka, dan salah satu dari pria itu melepaskan tembakan, untungnya tembakan itu meleset dan mengenai tangga. Tifa berteriak seiring dengan suara dentingan peluru yang mengenai tangga, sementara Cloud, dia lebarkan matanya karena terkejut, dan kemudian lari kembali.

"Sekumpulan otak udang, mereka tidak terpikir seandainya peluru tadi mengenai salah satu dari kita," kata Cloud.

"Cloud, mungkin kita bisa pikirkan itu nanti, yang lebih penting kita harus bisa kabur dari mereka, kan? Kalau bisa lolos dari mereka, maka sudah pasti kita aman."

"Yah, kau memang benar."

Sambil menghindari tembakan, mereka berdua berhasil mencapai lantai tiga, lantai ini berbeda dengan dua lantai sebelumnya, penuh dengan kotak-kotak kayu berbeda ukuran, entah apa isinya. Sepertinya ruangan ini khusus menyimpan peralatan untuk memperbaiki mesin seandainya ada kerusakan.

Ketika Tifa mengira mereka akan langsung naik tangga lagi, tetapi ternyata dia salah, Cloud malah mengajaknya ke balik sebuah tumpukan kotak-kotak kayu. Tumpukan kotak-kotak itu terletak tidak jauh dari tangga yang barusan mereka gunakan.

"Cloud, apa yang kau…"

"Ssst," kata Cloud. "Lihat saja."

Tifa, meski bingung, akhirnya memilih untuk diam. Sambil mengamati keadaan, Cloud dan Tifa mendengar suara langkah kaki yang semakin terdengar jelas, dan tentu saja, dua pria itu sudah tiba. Sambil celingak celinguk ke segala arah, mereka mencari tahu dimana Cloud dan Tifa berada.

Di sisi lain, Cloud dan Tifa terus diam sambil menelan ludah. Sambil berhati-hati, mereka berdua mengamati kedua pria yang semakin lama posisinya semakin dekat dengan mereka. Merasa posisinya sudah pas, Cloud melepas genggamannya dan kemudian langsung mendorong tumpukan kotak-kotak kayu itu. Tifa, yang ada di samping Cloud, sungguh kaget dan tidak menyangka. Ternyata dia mengajaknya bersembunyi di sini untuk menjebak mereka, toh? Tetapi ternyata rencana 'dadakan' itu berhasil, karena kedua pria itu sukses tertimbun.

"Bisa-bisanya kau memikirkan rencana ini."

Cloud tersenyum, dan kemudian dia menggandeng tangan Tifa lagi. "Ayo, kita pergi."

Karena cukup sulit untuk keluar dari tumpukan itu, Cloud dan Tifa memiliki tambahan waktu untuk kabur ke atap. Tifa pikir dia akan menemukan sesuatu seperti jembatan atau apalah, tetapi ternyata … tidak. Hanya ada pemandangan deretan gedung, gedung, dan gedung. Harapan yang sempat bersinar di hati Tifa langsung sirna seketika. Astaga, sekarang bagaimana mereka bisa kabur dari sini?

Selagi Tifa panik, Cloud kembali melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke bagian belakang, setelah terdengar suara 'krasak' dan 'krusuk', Cloud kembali dengan membawa sesuatu, sebuah tangga.

"Cloud, jangan bilang kalau kau mau…"

"Kau lihat saja."

Cloud berjalan sampai ke pinggir gedung, dan kemudian dia perlahan membaringkan tangganya, menciptakan sebuah jalan penghubung antara dua gedung. Dugaan Tifa ternyata menjadi kenyataan, ternyata mereka akan menggunakan cara ini untuk kabur. Tetapi rasa khawatir itu sepertinya tidak dialami oleh Cloud, terbukti dengan tindakannya yang langsung menyeberangi tangga, dengan kecepatan yang tidak terlalu lambat, dia sampai di gedung seberang dengan selamat. Menyeberangi gedung sudah seperti sekadar menyeberangi jembatan.

"Tifa, giliranmu," kata Cloud.

"Eh? Ta … tapi, ini tinggi sekali. Aku tidak yakin aku bisa."

"Kau pasti bisa," kata Cloud. "Jangan gugup, dan jangan melihat ke bawah, itu yang paling penting."

"Tapi … tapi, aku…"

"Tifa," sela Cloud. "Mungkin kau mengira aku tidak punya perasaan, tetapi kalau kau tidak cepat, kedua pria tadi bisa-bisa menyusul ke sini. Kau tentunya tidak mau ditangkap mereka, kan?"

Kalimat terakhir itu seolah menjadi dorongan semangat untuk Tifa, dan sambil memberanikan diri, Tifa segera melewati tangga itu sambil merangkak, dan tentunya tanpa melihat ke bawah. Hal ini membuat Tifa berkeringat dingin, meski Cloud terus menyemangatinya dari ujung, tetapi mata Tifa selalu berkali-kali hampir melihat ke bawah. Entah apa yang akan terjadi kalau Tifa melihat ke bawah, yah … dia bukan tipe yang takut ketinggian, tetapi yang namanya tempat tinggi tetap saja menakutkan.

Selagi Tifa sudah setengah jalan, tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Tifa menoleh ke belakang, dan alangkah kagetnya, ternyata kedua pria itu berhasil lolos dari jebakan 'dadakan' Cloud!

"Itu dia! Tangkap sekarang!" kata salah satu pria itu.

"Astaga, Tifa cepatlah kemari!"

"I … aku mengerti!"

Tifa kembali menatap Cloud dan mempercepat gerakannya, ketika dia hanya tinggal selangkah lagi, Cloud langsung menangkap Tifa dan menggendongnya ala bridal style. Bertepatan dengan itu, salah satu dari kedua pria itu melepas kan tembakan ke tangga sehingga tangga itu bergeser dan terjatuh.

Cloud menatap Tifa. "Untung saja aku menangkapmu, kan?"

"Me … mereka mau membunuhku?" tanya Tifa. "Kalau saja aku masih di sana bisa-bisa…"

"Tidak apa-apa, yang penting kita berhasil kabur dari mereka," kata Cloud yang kemudian membawa Tifa pergi dari sana. "Entah aku harus lapor polisi atau tidak."

"Kalau hanya melapor, malah tidak ada bukti, kita tidak sempat memotret atau merekam," kata Tifa. "Ngomong-ngomong, Cloud. Apa kau bisa membiarkanku turun? Aku takut kalau aku terlalu be…"

"Tidak, percaya atau tidak, aku pernah disuruh menggendong Zack untuk latihan angkat beban," kata Cloud sambil tersenyum. "Kau ringan, kok."

"O—oh ya? Aku kira aku bertambah gemuk."

Cloud lagi-lagi hanya tersenyum, dan kemudian mereka berdua terus turun. Kali ini gedung yang mereka masuki adalah gedung berpenghuni, lebih tepatnya, sebuah apartemen kecil. Setelahnya tiba di lantai satu, Cloud masih belum menurunkan Tifa dan membawanya ke tempat lain lagi, membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.

"Cloud, setelah mengajakku kejar-kejaran di sebuah gedung kuno, menggendongku, kau masih mau mengajakku kemana lagi?" tanya Tifa. "Orang-orang tengah melihat kita, kau tahu?"

"Biarkan saja mereka," jawab Cloud. "Atau … kau tidak suka jika aku menggendongmu?"

"Em, maksudku bukan itu, tapi…"

"Tidak apa-apa, lagipula, aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih indah. Lumayan untuk menghilangkan ketegangan atas kejadian tadi."

Tifa hanya menyipitkan matanya, dan sambil tetap memeluk Cloud, mereka berdua terus berjalan menjauhi kerumunan dan tatapan orang-orang (sejujurnya, Tifa sangat malu). Tanpa disadari, waktu berjalan dengan cepat, dan kini sudah sore. Entah apa yang dilakukan Ibunya sekarang, entah sudah tutup atau belum, Tifa jadi merasa bersalah lagi membiarkan Ibunya sibuk menyiapkan segalanya.

Cloud mengajak Tifa ke jalan yang tidak pernah diketahui atau dilihat sebelumnya oleh Tifa. Berbeda dengan daerahnya yang merupakan perumahan, daerah di sekitarnya masih berupa taman yang rindang dan hijau, sehingga rasa panas yang dia rasakan seketika berubah menjadi sejuk. Di taman ini tidak ada fasilitas bermain, tetapi ada jalan-jalan yang disusun dengan bata, ada air mancur berukuran lumayan besar, bunga-bunga dengan berbagai jenis, dan yang paling membuat Tifa takjub adalah, ternyata taman ini berbatasan dengan sebuah danau yang terhampar luas. Airnya begitu jernih, arusnya juga tenang, serasa melihat cermin. Tetapi tidak ada orang di sini, sepertinya kebanyakan orang tengah pergi ke festival.

Mereka berdua memasuki taman, dan kemudian Cloud mengajak Tifa duduk di pinggir danau. Pada akhirnya, mereka berdua bisa menghela napas lega, lagipula kedua pria itu juga tidak mengejar mereka, salah sendiri, kenapa juga mereka harus menembak tangga itu, padahal tangga itu kan satu-satunya jalan.

Setelah menghela napas, Cloud memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin mengenai tubuhnya. Sementara Tifa, dia hanya menatap Cloud sambil memeluk kedua kakinya.

"Kenapa?" tanya Cloud.

"Tidak," jawab Tifa. "Aku cuma penasaran, kenapa … kau sering sekali membantuku?"

Cloud memiringkan kepalanya. "Apakah tidak boleh? Dan lagi, rasanya semua itu hanya kebetulan."

"Kebetulan sampai dua-tiga kali?"

"Yah, mungkin saja, mengapa tidak? Lagipula menolongmu juga bukan hal yang buruk."

Setelah berkata begitu, mereka berdua terdiam sesaat. Baru tidak lama setelahnya, Cloud memulai pembicaraan kembali.

"Beberapa hari ini…"

"Hm?" tanya Tifa.

"Beberapa hari ini, sebenarnya aku merasakan sesuatu yang aneh," kata Cloud. "Mengenai dirimu."

Tifa terkejut mendengarnya. "Aku? Apakah … aku melakukan sebuah kesalahan?"

Cloud menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku memang mengatakan perasaan ini aneh, tetapi entah mengapa, aku malah … menyukainya."

Tifa semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Cloud.

"Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku memang sudah merasakan perasaan ini, hanya saja masih samar-samar, dan belum terlalu jelas. Tetapi … semakin sering kita melewati waktu bersama, semakin sering kita bertemu di sekolah, semakin sering kita mengobrol, semakin sering aku menyelamatkanmu, rasanya … aku … aku mulai menyadari perasaan apa ini."

Tifa mendekatkan posisinya pada Cloud. "Dan … perasaan apa yang kau maksud itu?"

Cloud menatap Tifa, ekspresinya mendadak menjadi serius. "Kau … kau sungguh adalah satu-satunya alasan dan orang yang membuatku berubah," kata Cloud. "Sebelumnya, tidak ada orang—bahkan kedua orangtuaku—yang bahkan mampu melunturkan sikap dinginku, meski hanya sedikit, kau … bisa kubilang istimewa."

"Cloud…"

Tidak lama setelahnya, Cloud memegang tangan Tifa. "Tifa…" katanya, "aku mencintaimu."


Mohon read and review ya, makasih.