ABOUT ABNORMALITY – Chapter 8

Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi

Anime/Manga: Naruto

Genre: Romance, 'lil bit humour

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M.

Warning: OOC, Typos, abal, dan juga –Tidak mendidik.

A/N:

Hay! Ini belum owari loh! Hehehe *senyum2 gaje*

Btw mungkin chap lalu saya agak kelewatan terhadap imej cool Kakashi kita tersayang, dan juga isinya agak serius. Ok, chap ini saya coba kembali santai. Enggak tahu cukup lucu apa nggak?

Arigatou

.

.

.

"Bodoh. Selama ini aku mencintaimu, Anko… Kau tidak tahu?"

Hening. Anko yang masih beruraikan air mata tertegun mendengar ungkapan ganjil itu.

Dan kemudian entah kenapa tiba-tiba disana terdengar backsound alunan musik romantis seperti yang kerap terjadi dalam tampilan sinetron Korea. Mendayu-dayu. Mengiringi tatapan keduanya yang begitu lekat.

Kemudian, bagaikan disambar geledek, hati Anko bagai meronta. Setelah barusan ia menjadi korban perbuatan bejat Kakashi, kini ia malah dihadapkan fakta lain bahwa Kakashi sedang mengatakan cinta padanya.

Tunggu, cinta?

Bagaimana mungkin?

Bukankah selama ini samasekali tidak ada clue bahwa pria berambut silver itu memiliki perasaan spesial padanya?

"Ka-kau..mencintaiku, katamu?" Anko samar-samar merasakan ketakutannya mulai ludes, berganti dengan rasa penasaran yang membuncah. Dan juga –entah kenapa, ada sedikit aura bahagia yang perlahan tapi pasti muncul dari dalam batinnya.

Kakashi mengangguk, masih menatap Mitarashi dalam konsentrasi penuh.

"Aku sudah lama mencintaimu, Anko… memangnya kau tidak tahu? Bukankah aku sudah berkali-kali menyatakannya?"

Anko membalas tatapan penuh konsentrasi dari partnernya. Hatinya bertanya-tanya.

"Apa maksudmu? Kau samasekali tidak pernah mengatakan apapun padaku?!" ungkap Anko setengah protes. Ia jadi khawatir, jangan-jangan Kakashi sedang mempermainkannya.

"Surat-surat yang kukirimkan padamu…. Apa kau tidak menerimanya Anko?" Kakashi berucap dengan tenang dan datar, setenang aliran sungai Konoha –dimana banyak pemancing yang berada disana.

Surat? Apa maksud Kakashi?

"Ja-jadi maksudmu, selama ini kau pernah mengirim surat cinta padaku, begitu?" Anko seolah tidak percaya. Bukan, ia tidak mempermasalahkan betapa kunonya metode yang dipilih Kakashi itu. Akan tetapi, yang namanya Surat Cinta, Anko samasekali tidak pernah menerimanya. Yah, kalau surat tagihan listrik dan air sih, sudah rutin dalam kehidupannya. Begitu pun dengan surat undangan rapat mingguan dari Pak RT Sarutobi.

Ya, meskipun terdengar aneh, lelaki tua yang menjabat sebagai Ketua Rukun Tetangga di lingkungan tempat Anko tinggal itu selalu rajin mengirimi para gadis-gadis serta kunoichi muda sebuah surat undangan rapat. Rapat rutin warga Konoha, katanya. Yang bikin aneh itu adalah orang-orang yang dikirimi undangan. Semuanya para wanita. Ck ck. Sudah bisa ditebak. ABG Tua.

Lanjut. Kembali ke Kakashi.

"Bukan hanya surat, aku sudah mengirimkan banyak hal padamu, yang mewakilkan perasaan terdalamku. Apa kau samasekali tidak menerimanya? Surat, cokelat, bunga, balon, dan lain-lain Anko!?" Kakashi mulai gelisah. Sepertinya Anko memang tidak mengetahui apa-apa perihal pemberiannya. Bisa dibuktikan oleh waut wajah melongo gadis itu. Ah, benar-benar sial!

Anko menautkan alisnya. Apa ia tidak salah dengar? Apa Kakashi sudah gila? Surat Cinta? Cokelat? Bunga? Balon?

Astaga!

FLASHBACK ON.

"Nenek Chiyo, apa kau ada dirumah?" sapa seorang gadis –Anko Mitarashi dengan suara malu-malu di ambang pintu rumah nenek Chiyo sang wanita tua.

"Neneek~?!" panggil Anko sekali lagi dengan cukup nyaring, karena merasa masih tidak mendapat jawaban. Akhirnya setelah keheningan singkat yang nyaris membuatnya frustasi, ia pun mendapat sambutan dari si empunya rumah.

"Masuk saja, Anko! Pintunya tidak dikunci kok!"

Lega dan bersyukur, Anko pun menurutinya. Perlahan tapi pasti ia melangkahkan diri, bersiap untuk menemui sang nenek kesayangan.

Ya, Nenek Chiyo yang selalu menjadi tempatnya bersandar. Terutama pada saat ia belum gajian seperti ini. Nenek Chiyo menjadi tempat untuk meminjam uang yang sangat bisa ia andalkan.

"Nenek?" panggil Anko kemudian dengan nada heran. Didapatinya wanita renta yang selalu penuh semangat itu sedang terpaku pada beberapa benda yang tergeletak di atas meja. Beberapa buah kertas, dan juga –seperangkat alat make up.

Haah?!

"Ne-nenek sedang apa sih?" tanya Anko Mitarashi hati-hati. Tidak biasanya ia melihat wanita berusia senja itu berkutat pada peralatan make-up. Biasanya hanya Kurenai yang ia dapati melakukan hal semacam itu.

Yah, meskipun ia masih bisa berdecak 'itu wajar, mereka kan wanita', akan tetapi kali ini ia merasa linglung. Ada apa gerangan yang membuat manusia bau tanah ini masih mempedulikan penampilan wajahnya? Bukankah nenek Chiyo sudah terlampau tua untuk berdandan? Lagipula –ia sudah lama hidup seorang diri di dunia ini, tidak lagi mempunyai pasangan hidup.

Lantas, untuk apa dia melakukan hal semacam itu? Apakah ada pria yang sedang diincarnya, yang sedang ingin ditarik perhatiannya oleh sang nenek?

Jangan-jangan nenek Chiyo terlibat cinta lokasi dengan Kakuzu?

Kening Anko berkerut semakin dalam. Berbagai pikiran nista bergelayut dalam benaknya. Ia bahkan nyaris lupa tujuan utamanya mengunjungi tetangganya ini; yakni untuk meminjam uang.

"Kenapa nenek berdandan?" tanya Anko terus menerus –tidak tahan pada rasa penasaran yang hampir membunuhnya.

Sekilas nenek Chiyo memandangnya, menyampirkan pandangan teduh penuh arti, lalu kembali asyik memoles kulit keriput di wajahnya dengan bedak nan tebal.

Puff. Puff. Berkali-kali tepukan busa spons yang terlapisi oleh bedak berwarna kuning muda terjadi pada permukaan kulit yang tak rata itu. Nenek Chiyo tersenyam-senyum, memandangi keindahan rupa dirinya yang kini sedang lupa diri di depan cermin ditangannya, bagaikan ABG-ABG ganjen yang sedang jatuh cinta.

Tunggu. Nenek Chiyo sedang jatuh cinta!?

Anko menganga. Itu adalah kemungkinan terburuk. Rupanya puber kedua itu adalah isu yang tidak benar. Puber ketiga, keempat, bahkan kelima mungkin bisa benar-benar terjadi dalam kehidupan seorang manusia.

Sungguh-sungguh nista.

"Kau sendiri, ada apa kesini Anko? Kenapa mencari nenek?" tukas sang nenek dengan suara rendah. Kali ini sebuah lipstick dengan warna merah maroon akan segera mengolesi bibir uzur-nya.

Dan terjadilah. Bibir tua itu sudah berwarna merah oleh balutan gincu. Sungguh errr –mempesona.

CUP. CUP. Sang nenek kemudian menggerakkan bibirnya sedemikian rupa dengan pose mencium –monyong ke depan dengan begitu seksi, mengamati betapa manis dan ranumnya bibir yang ia pikir kini tampak menggoda itu.

Anko pun memandang dengan tatapan jijik.

"Ah! Begini, nenek. Saya kesini ingin meminjam uang. Mau beli dango" ucapnya kemudian polos. Berusaha tidak menganggu sang nenek dengan hajatnya yang kurang penting itu.

Nenek Chiyo tertegun sejenak. Ia memang sudah hafal dengan perangai gadis disebelahnya ini. Anko memang kerap meminjam uang. Untuk membeli dango, untuk membayar tagihan listrik, bahkan untuk pergi ke laundry. Sang nenek sampai heran. Memangnya gaji jounin spesial itu cukup rendah ya? Sampai-sampai seolah-olah uang yang dimiliki Anko tidak pernah cukup tiap bulannya. Padahal gadis itu masih lajang.

Pemboros. Begitulah komentar batin sang nenek. Dan kemudian tanpa mengalihkan perhatiannya pada keajaiban yang tengah ia dalami, ia menyahut.

"Pinjam uang lagi, Anko? Kenapa sering sekali?"

Membatu. Anko hanya membatu mendapatkan respon yang tidak ia duga tersebut. Sejak kapan nenek Chiyo berubah seperti ini? Sejak kapan?

Nenek chiyo yang ia kenal, tidak pernah terkesan menolaknya. Nenek Chiyo yang ia kenal, selalu bermuka dan berkata-kata manis padanya.

Nenek Chiyo yang ia kenal –samasekali tidak seperti sekarang ini….

"Eh? A-apa nenek keberatan? Bukannya biasanya nenek selalu bilang 'iya, baiklah' atau 'kamu perlu berapa' pada saya nek?" sahut Anko setengah histeris. Batinnya menjerit. Tidak! jangan sampai nenek Chiyo menolak pinjaman uangnya saat ini. Jangan sampai!

"Bukannya nenek keberatan, Anko… hanya saja…"

Menggantung. Kata-kata perempuan yang sudah uzur itu terhenti. Begitupun dengan detak jantung Anko. Berhenti sejenak untuk kemudian berdetak kembali.

"Sebaiknya kamu segera cari pacar saja, Anko. Agar ada yang membantumu menangani keuanganmu yang morat-marit itu. Lihat saja nenek. Di usia setua ini, masih ada pria yang mau menjadi pacar nenek".

Petir imajinasi menyambar. Membuat Anko kehilangan kesadarannya. Ada pria yang mau menjadi pacar nenek Chiyo?

Dunia pasti sudah kiamat.

Anko menelan ludah. Apa buktinya? Pasti nenek Chiyo hanya berkata omong kosong. Dia yang cantik seksi bohay ini saja susah untuk mencari pacar. Apalagi dia yang sudah senja itu?!

Nenek Chiyo menghela nafas sok bijak, untuk kemudian berkata dengan sedikit arogan.

"Lihat surat-surat ini, Anko. Seseorang telah menjadi pengagum rahasia nenek selama ini. Dia telah memendam cinta pada nenek sejak lama. Ini, bacalah!" perintah sang nenek dengan sombong sembari menyodorkan beberapa helai kertas berwarna pada Anko.

Anko terperangah. Surat-surat? Surat cinta? Dari –siapa?!

Dengan jemari bergetar, gadis seksi itu mengambil sepucuk kertas berwarna merah muda. Dengan rasa pening yang kini memenuhi kepalanya dengan hebat, ia membaca isi surat itu.

'Gadisku tersayang,

Akhirnya aku beranikan diri untuk menuliskan surat ini padamu… dikarenakan aku tak kuat lagi untuk menahan rasa di dalam dadaku…

Lewat surat ini, aku ingin menyampaikan apa yang telah terpatri dalam hatiku, sebuah perasaan indah yang konon dinamakan sebagai CINTA.

Akh, bicara soal cinta. Mungkin hal itulah satu-satunya yang ditakdirkan untuk hadir diantara kita berdua…

Aku mungkin bukan seorang pujangga, yang pandai berpuisi romantis. Aku juga bukan sosok pria menawan yang berani untuk menggenggam tangan halusmu –untuk mengajakmu turun ke lantai dansa…

Aku hanyalah aku –yang saat ini mabuk kepayang hanya karena membayangkan senyummu…

Gadisku…

Setiap ku tatap wajahmu, hatiku merintih-rintih, meronta penuh kegalauan…

Lautan asmaraku untukmu bergejolak penuh ombak rindu, penuh gairah kasih sayang yang mengharapkan balasan asa darimu.

Rona wajahmu yang begitu manis, desah suaramu yang begitu merdu, geraian rambutmu yang begitu indah… Ah, tak mampu lagi aku gambarkan betapa sempurnanya perwujudanmu wahai bidadari….

Aku yakin, kau pastilah sesosok wanita dari khayangan yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku…

Gadisku,

Aku sungguh-sungguh ingin kau tahu, bahwa aku sangat mendambamu, sangat merindukanmu, sangat menginginkanmu…

Tiap malam aku tidak bisa tidur, disamping karena banyak nyamuk dikamarku, tapi juga karena aku selalu memikirkanmu, sayang…

Terimalah perasaan suci ini, karena aku bagaikan tubuh tak berjiwa tanpamu.

Penuh cinta,

Dari seorang pengagummu.

.

.

.

Anko langsung mual membacanya. Tak lama kemudian ia pun berniat membaca surat-surat yang berikutnya. Dengan warna amplop dan isi kertas tidak berbeda dari yang pertama –berwarna pink. Begitu menyiratkan sebuah rasa cinta yang tulus.

Belum lagi selesai membaca keseluruhannya, Anko Mitarashi terserang muntaber.

Damn! Nenek Chiyo selangkah didepanku!?

Benak Anko pun mengomel-ngomel tak karuan, memaki siapa gerangan pria norak yang telah jatuh cinta pada nenek Chiyo. Dan juga menebak-nebak bahwa lelaki itu pasti kena katarak. Kalau tidak, matanya mungkin buta. Entahlah, rasanya sangat sinting mengetahui ada pria yang jatuh cinta pada wanita tua yang sudah kehilangan sinar kecantikannya itu.

Siapapun itu, yang jelas sang pengirim surat pasti bukanlah Kakashi Hatake. Batin Anko memantapkan pendapat pribadinya.

Mungkin Kakuzu yang menyebalkan itu lebih pantas untuk menjadi tersangka dalam aksi-aksi romantis ini. Ya, benar. Kakuzu. Pria itu memang sinting.

"Dia memang sangat menawan, dan sudah pasti sangat dibutakan oleh cinta. Dia melihat nenek yang sudah tua ini layaknya seorang gadis. Lihat saja, ia memanggil nenek dengan sebutan 'gadisku', bukan?" Nenek Chiyo berujar dengan bangga. Anko sweatdrop total mendengarnya.

"Tidak hanya surat, Anko. Pria misterius ini juga sudah memberikan banyak hal pada nenek. Selama sebulan belakangan ini nenek mendapati banyak hal romantis. Dia memberi nenek banyak hal yang mampu membuat seorang wanita merona serta terpana"

"Ba-banyak hal?" Anko lagi-lagi merasa sulit untuk percaya.

"Iya. Dia pria yang sangat baik hati, murah hati…. Dia memberikan cokelat enak dalam kotak cantik berbentuk hati, yang kemudian nenek makan bersama Sasori"

"Cokelat?" ulang Anko keki.

Kesal. Kenapa Neneknya hanya membaginya dengan Sasori?

Sekedar info, Sasori adalah anak tetangga mereka, yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sangat dekat dengan nenek Chiyo yang sesekali merangkap sebagai pengasuhnya. Bocah lelaki berambut merah yang –entah kenapa- sangat gemar bermain boneka. Koleksinya sangat banyak dan lengkap, mulai dari boneka Barbie, Teddy Bear, hingga boneka Dakocan ada dalam lemarinya. Kedua orangtuanya memang sangat memanjakannya.

Aneh, padahal Sasori anak lelaki, tapi kenapa orangtuanya tidak melarangnya main boneka?

Oh ya, kedua orangtua Sasori adalah pengusaha terkenal. Mereka memiliki usaha berbasis rumah tangga yang sangat tersohor yang bergerak dalam bidang bumbu masak. Produk mereka yang mendunia yaitu SASORI SAUS TIRAM. Dinamakan dengan nama anak tunggal mereka.

Dan produk tersebut laku keras di pasaran, terutama seantero Konoha.

Kembali ke nenek Chiyo.

Sang nenek mengangguk. "Dia juga pernah memberi beberapa buket bunga yang indah. Yang nenek yakin dibelinya dari toko bunga Yamanaka karena masih ada label harga dari tokonya…. Pertama adalah buket mawar, kedua adalah bunga Lily"

"Bu-bunga?" Anko kembali menanggapi dengan perasaan yang sama; masih keki.

"Lalu terakhir, ia juga meletakkan balon-balon lucu berbentuk LOVE di depan rumah nenek…. Ada banyak, dan juga berwarna-warni. Persamaannya adalah, pada balon-balon itu tertera tulisan 'I Love You'…"

Balon berbentuk love? Dengan tulisan I Love You?!

"Di depan rumah nenek?!"

"Iya. Dia memang misterius. Nenek tidak tahu siapa dia, dimana rumahnya, siapa orangtuanya, tetapi yang nenek tahu hanya satu –"

Anko mengerutkan dahinya yang sudah tak berbentuk itu. Ia merasa sangat kalah sekarang. Dan juga –iri hati yang hebat.

"Dia-pengagum-rahasia-nenek. Dia mencintai nenek"

Anko Mitarashi kini merasakan jantungnya seolah berhenti. Tak tahan pada cerita yang didengarnya. Baginya Nenek Chiyo benar-benar menghidupkan kembali sebuah kisah dongeng yang absurd.

"Dia memang hanya mengirimkan hal-hal romantis ini tepat di depan pintu rumah nenek, tanpa memberikannya langsung secara bertatap muka. Akan tetapi kesederhanaan dan kemalu-maluannya itu membuat batin nenek tersentuh. Siapapun pria itu, pasti nenek akan menerima cintanya dengan sepenuh hati….."

FLASH BACK OFF.

Begitulah. Sambil penuh linangan air mata lebay, Anko menceritakan flashbacknya kepada Kakashi. Ia tidak habis pikir, rupanya selama ini ada kemungkinan besar Kakashi telah salah alamat, sehingga salah mengirim segala hal romantisnya.

"Kau yakin, sudah menuliskan alamat rumahku dengan benar, Kakashi? Lantas kenapa kau bisa salah mengirimnya? Surat-surat pink itu, itu semua darimu kan?" pekik Anko penuh rona keputus asaan. Ia sudah sangat yakin dengan kebenaran topik pembicaraan mereka ini.

Kakashi-salah-mengirim-surat-cintanya. Salah alamat!

Sementara Kakashi, dengan mata nanar ia memandangi wajah gadisnya. Pikirannya berkecamuk bagaikan badai brutal. Astaga! Demi kami-sama…

Sekali lagi, astaga!

.

.

.

Kakashi Hatake bungkam. Ini adalah kesalahan terbesarnya seumur hidup. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin ia ternyata salah alamat. Ternyata alamat rumah Anko yang ia tuju selama ini lewat surat dan paket-paketnya, malah digantikan oleh alamat rumah nenek Chiyo.

Padahal ia hafal diluar kepala dimana rumah Anko, serta alamat detilnya. Apa nama jalannya, berapa nomor rumahnya, bahkan siapa RT-nya. Kediaman Anko adalah terletak di jalan Badai Asmara, nomor 68, RT 07, Kecamatan Konoha Timur. Dengan nama ketua RT Sarutobi.

Oh, mungkin segala sesuatu hal yang disampaikan secara langsung akan jauh lebih baik ketimbang lewat pos. Sudah memakan waktu, uang, juga menguras pikiran karena selama ini sang pengirim selalu harap-harap cemas akan surat-surat cintanya.

Pria tampan itu mengurut dada. Belum pernah ia merasa semalu ini. Rasanya bagaikan ditelanjangi lalu disuruh berlarian keliling Konoha seperti orang gila, kemudian diteriaki dan dilempari dengan tomat sekaligus telur busuk.

Pria itu langsung merasa harga dirinya hancur.

Sudah jelas, kemungkinan terbesarnya adalah ia salah menuliskan alamatnya. Mungkin saja nomor rumah kediaman Anko ia tulis sebagai angka 69, sehingga kiriman-kirimannya nyasar ke tempat nenek Chiyo. Rumah dua manusia itu kan memang bersebelahan.

Pantas saja selama ini ia selalu bertepuk sebelah tangan.

Kakashi memang mengakui, diam-diam ia mencintai Anko dan berniat menyatakan cinta secara tersurat pada wanita itu. Namun apa yang ia kirimkan tidak pernah sampai pada sang gadis. Apa yang selama ini ia nyatakan malah tertuju pada sosok lain. Sosok wanita renta yang kelewat GeEr.

Beruntung, ia tidak menuliskan namanya dalam setiap hal-hal romantis yang ia sampaikan beberapa waktu yang lalu. Jika tidak, tamatlah sudah riwayatnya.

Bergegas dilepaskannya tubuhnya dari tubuh Anko. Mereka lantas berbaring berdampingan. Masih dengan sisa-sisa persetubuhan kasar yang tadi sempat mereka lakukan.

Oke, kini keduanya lupa bahwa beberapa saat yang lalu Kakashi telah memperkosa Anko. Kali ini dua mahkluk itu malah sibuk dengan topik yang baru saja mereka bahas.

"A-aku tidak menyangka kalau selama ini aku salah alamat, Anko. Maaf….. Pantas saja –selama ini kau tidak pernah memberikan jawaban padaku…."

Anko menoleh, memandangi Kakashi. Pria keren itu tampak lemas. Selain karena telah menghabiskan banyak tenaga untuk aksi kejahatannya, pria itu juga pasti sedang berenang dalam rasa sesal karena baru menyadari bahwa selama ini Anko tidak pernah menerima kiriman-kirimannya.

Tahu begitu, kutembak secara langsung saja gadis ini!? Pikir Kakashi meracau.

Akhirnya, nasi sudah menjadi bubur. Surat-suratnya tak kunjung sampai. Kisah cinta mereka tak kunjung dirajut. Dan beberapa saat yang lalu, ia malah memperkosa gadis yang dicintainya.

Ah, salahkan takdir?

Tidak, biar bagaimanapun Anko juga tetap salah karena sudah menghinanya sebagai seorang maho. Ngomong-ngomong soal maho, Kakashi pun jadi penasaran. Memangnya apa yang telah selama ini Anko dengar? Dan mengapa ia yang keren ini bisa digosipkan sebagai pria menyimpang seperti itu? Walhasil ia pun mulai mengajukan pertanyaannya.

"Anko… tapi aku juga mau tanya…. Kenapa kau mengataiku homo? Lagipula –apa yang sesungguhnya selama ini kamu dengar dari sekelilingmu? Apakah telah beredar gosip tak mengenakkan tentangku?" Kakashi bertanya dengan polos. Sepolos tubuhnya saat ini.

Anko menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak percaya pada pernyataan rekannya. Kakashi ini –sungguh malang. Selain karena kasus salah alamat, dia bahkan tidak tahu bahwa dirinya sendiri belakangan santer menjadi buah bibir.

"Hampir semua orang menggosipkanmu sebagai homo, Kakashi…" sahut Anko dalam raut prihatin.

Kedua alis sang pria silver bertaut.

"Entahlah –aku juga tidak mengerti. Siapa yang mencetuskannya, dan mengapa bisa menyebar seperti wabah begitu… "

"Mereka bilang, kau pria tidak normal. Tidak tertarik pada wanita. Bahkan beberapa testimoni mengatakan bahwa ada diantara mereka yang melihat kau sedang bermesraan dengan sesama lelaki!"

Wajah Kakashi mendadak suram. Bisa-bisanya ia menerima nasib seperti itu. Itu adalah murni sebuah fitnah. Gosip bejat yang tidak bertanggung jawab. Membuat dirinya merasa teriris harga dirinya, hancur lebur berkeping-keping.

"Namun seperti yang kubilang, awalnya aku tidak percaya. Aku telah berusaha sekuat tenaga, sekeras mungkin –untuk membuktikan gosip itu…"

Perlahan Kakashi mengingat kembali aksi-aksi Anko yang mengagumkan. Mulai dari mendekatinya setiap saat, mencoba membuka topengnya beberapa kali, mencoba menciumnya, bahkan juga menggodanya dengan tubuh yang nyaris polos.

Diam-diam Kakashi takjub serta kagum akan semangat juang gadis itu. Begitu membara. Sama persis dengan api cintanya terhadap si gadis. Hanya saja, perasaannya itu ia simpan baik-baik –tak berani untuk ia ungkapkan terang-terangan.

"Kau selalu menghindariku. Kau menolak ciumanku… Bahkan, kau juga samasekali tidak memandang serta menyentuh tubuhku pada waktu itu…"

Anko bercerita dengan pandangan menerawang, menyisakan Kakashi yang tertegun melihat raut serius serta cantik dari wajahnya.

"Kau juga lebih sering bersama Iruka. Kenapa, Kakashi?!" suara Anko tiba-tiba meninggi, seolah ia sedang marah.

"Selain itu, mana buku Icha-Ichamu? Biasanya kau selalu mesum dengan buku jelek itu?! Hal itu jugalah yang semakin memantapkan argumenku. Aku pikir, kau benar-benar tidak tertarik padaku. Aku pikir –kau benar-benar homo!?"

Ah! Iruka, ya?

"Kau jangan berfikiran yang macam-macam… Aku dan Iruka hanya sering bertukar pikiran. Kami sering berdiskusi bersama-sama…"

"Oh ya? Mengenai apa?" Anko bertanya dengan antusias.

"Banyak hal. Termasuk mengenai masalah cinta –para gadis yang kami sukai. Entah mengapa, kami sama-sama bingung dengan tingkah kalian. Kalian para perempuan, selalu jinak-jinak merpati. Terkadang mendekati, terkadang pula menjauhi kami.. Yah, pokoknya buatku, Iruka itu rekan berbicara yang asyik…"

Anko menatapnya dengan sedikit tidak percaya.

"Hei, jangan begitu! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya! Yah, meski terkadang aku bertanya-tanya mengapa ia terkadang mencubit gemas wajahku… Pernah juga ia mengatakan bahwa aku ini tampan dan sangat menarik"

Anko semakin menatap Kakashi dengan tidak percaya. Tuh, kan…

"Lalu bukumu? Kenapa kau bilang sudah tidak pernah kau baca lagi, Kakashi?" Anko sekarang menampilkan raut muka sedikit jengkol. Eh, jengkel.

"Ah! Kalau soal itu –aku hanya merasa aku harus berubah, Anko…"

"Berubah?" tukas Anko heran.

Kakashi mengangguk. Wajahnya masih terlihat tampan. "Ya, kalau boleh aku bilang… Sebenarnya aku sudah ada niat untuk melamarmu….."

"Me-melamar, katamu?!"

Tiba-tiba rona merah kembali menyusupi wajah mulus Mitarashi. Membuatnya terlihat semakin manis. Kakashi Hatake pun tersenyum menanggapinya.

"Aku capek dengan sikapmu yang tak kunjung memberikan jawaban. Sebenarnya aku ingin melamarmu, aku ingin langsung memintamu menjadi istriku. Karena itulah pelan-pelan aku ingin berubah, ingin menjadi pria gentle yang sopan. Yang tidak lagi lekat dengan aura mesum, yang tidak lagi sering jam karet, dan juga tampil dengan lebih cool. Karena itulah aku berhenti membacanya…."

Anko terpana. Ia bagaikan baru saja mendengarkan sebuah nyanyian yang indah luar biasa. Nyanyian yang disenandungkan oleh para malaikat dari langit. Benarkah? Benarkah yang barusan ia dengar ini?

Kakashi… Oh, Kakashi…

Tiba-tiba Anko merasa ia rela diperkosa berkali-kali oleh Kakashi setelah mendengar pernyataan Kakashi kali ini.

"Lalu –bagaimana dengan semua sikap dinginmu padaku, Kakashi? Kau pikir aku bisa menerimanya dengan lapang dada? Bersyukur aku masih punya jiwa muda yang kental karena sering bergaul dengan Guy, jika tidak –aku pasti sudah menyerah mendekatimu sejak awal"

Sekarang Kakashi yang terpana. Ia lalu memejamkan mata, lantas kembali mengeluarkan jawaban. Sebuah penuturan yang ia harap bisa menenangkan Anko.

"Aku samasekali tidak bermaksud menyakitimu, Anko. Sekali lagi kukatakan, aku ingin menjadi sosok pria yang keren dimatamu…"

"Tapi semua sudah terlambat. Lihatlah,segalanya hampir kacau. Aku malah telah memperkosamu…. Aku sudah mengambil apa yang seharusnya belum boleh aku dapatkan…"

.

.

.

Kedua insan itu pun terdiam.

"Maafkan aku, Anko. Aku sudah mengambil kegadisanmu. Apa kau –marah padaku?" sebuah tanya berbalutkan nada hati-hati terlontar dari bibir tipis sang jounin pria. Ia menatap rekannya penuh arti. Rekan wanitanya yang sangat ingin untuk ia miliki sepenuhnya. Bukan hanya tubuh Anko, Kakashi juga ingin memiliki hati dan cinta gadis itu.

Kakashi mencintainya. Ia mencintai Anko.

Anko mengalihkan pandangannya, sedikit tersipu. Ya, awalnya ia marah dan benci pada Kakashi. Akan tetapi, mendengar penuturan jujur lelaki itu, ia kembali menjadi Anko yang dulu. Yang mencintai Kakashi tanpa pamrih.

"Aku tidak marah. Asalkan, kau tidak membatalkan niatmu itu –"

"Niat apa?" Kakashi menyahut, sambil mendekatkan tubuhnya pada Mitarashi. Mereka berbaring menyamping, masih saling berhadapan. Dengan jarak yang kembali mendekat.

"Katamu kau ingin melamarku, bukan?" ucap Anko lagi dengan tersipu.

Bola mata gelap Kakashi membesar. Sungguh gemas rasanya ia melihat raut wajah malu-malu Anko saat ini. Mendadak, ia beranikan diri untuk mencium kembali bibir gadis itu.

Anko mendesah pelan, terkejut pada ciuman lembut yang baru saja bibirnya dapatkan. Ia menatap Kakashi dengan wajah makin merona.

"Tentu saja aku akan tetap melakukannya, Anko. Tapi sebelumnya –"

Anko menyelami mata gelap Kakashi yang masih memandangnya.

"Boleh kita bercinta lagi? Aku janji kali ini lebih lembut, kita akan melakukannya pelan-pelan. Boleh kan?" Pria itu lantas mengedipkan matanya dengan nakal. Tak lama kemudian kedua matanya menyusuri seluruh tubuh polos Anko. Menyadari hal itu, Mitarashi langsung sedikit memucat dan segera menarik selimut untuk menutupi dirinya.

"Tidak perlu malu, Anko…" rayu Kakashi kembali. Lelaki itu makin merapatkan tubuhnya pada gadis di sebelahnya.

Anko yang ingin menolak sedikit meronta, namun gerakan tubuhnya melemah seiring dengan Kakashi yang mendekap tubuhnya erat. Ia pun kembali terbius oleh pesona sang scarecrow tampan.

.

.

.

T B C

.

.

A/N:

Uwooo… lama juga saya baru update. Fic yang satunya malah terbengkalai. Hahaha. Masih dipertengahan jalan pengerjaannya. Mandeg.

Gomen saya terkesan bashing nenek Chiyo. Ada penggemarnya disini? n_n

Soal Kakashi-san, gomen juga dia jadi penjahat (kelamin) dalam chap kemarin. Tapi entah kenapa, kalo dia melakukannya dengan Anko saya ngerasa fine-fine aja. Hahahah. #tendang.

Review yo!?

Makasih banyak buat kalian semua. Maaf nggak balas tiap review. Gomen.