A/N : Maaf untuk update yang sangat lama, karena kalau boleh jujur, saya mengalami banyak sekali masalah, selain pc sempat rusak, microsoft office saya juga sempat tidak bisa diinstall, sehingga saya harus bersusah payah untuk mencari segala cara. Sekali lagi, saya minta maaf, dan saya berterima kasih atas pengertian kalian.
Tifa sungguh tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, malah dia merasa bahwa dia sepertinya sedang bermimpi. Apa? Sungguh? Benarkah? Apakah ini mimpi? Semua itu dia ulang-ulang di dalam otaknya. Selain itu, bagaimana mungkin Cloud Strife bisa mencintainya? Seorang Cloud Strife yang terkenal, hebat, dan disukai banyak orang, bagaimana mungkin orang yang hebat seperti itu bisa menyukai gadis sepertinya? Gadis biasa yang sederhana, yang orangtuanya hanya berprofesi sebagai penjaga warung bakmie pinggiran. Bagaimana mungkin semua itu dapat terjadi? Namun,meski ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya, tidak ada satu pun kata yang dapat diucapkan untuk membalas ucapan Cloud.
Mereka berdua masih di sana, dalam keadaan terdiam dan saling menatap satu sama lain. Cloud dengan wajahnya yang serius menanti jawaban dari Tifa, sementara Tifa membeku karena pertanyaan Cloud. Padahal sebelumnya mereka masih bisa bersenang-senang dan tertawa karena mereka bisa lolos dari kejaran pengawal Ayahnya, tetapi hanya karena satu kalimat pertanyaan itu, suasana itu langsung berubah drastis. Tifa merasa jantungnya berdetak begitu cepat, dan sepertinya, Cloud juga, perbedaannya adalah Cloud masih mampu menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, sementara Tifa sudah tidak tahu ekspresi wajahnya seperti apa.
"Maaf karena tiba-tiba aku mengucapkan ini padamu," kata Cloud. "Tetapi, inilah kata-kata yang ingin kukatakan sejujurnya padamu."
Tifa terdiam.
"Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, dan aku sendiri juga tidak tahu kepada siapa aku harus bercerita," kata Cloud. "Ayahku terlalu pendiam, dan aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Zack jika aku menceritakan hal ini padanya, sehingga aku memilih untuk diam, dan berpikir sendirian mengenai apa makna sebenarnya dari perasaan ini."
Tifa masih terdiam.
"Hari demi hari, minggu demi minggu, aku terus berpikir dan berpikir akan makna dari perasaan ini, tetapi semuanya sia-sia," kata Cloud lagi. "Lalu, aku juga tahu kalau jawaban ini tidak bisa ditemukan hanya dengan membaca buku, buku apapun itu."
Selama mereka menghabiskan waktu berdua, baru sekaranglah Tifa melihat Cloud menjadi begitu serius. Wajahnya yang begitu tenang kini seperti terlihat ... gelisah? Ucapannya yang biasanya singkat, kini menjadi begitu panjang dan lebar. Tifa memang sering mendengar teman-temannya bercanda tentang hal ini, tetapi ... mungkinkah ini memang tanda-tanda seseorang yang jatuh cinta? Lalu, mengapa dirinya juga begitu berdebar-debar ketika mendengar pernyataan cinta dari Cloud? Dan wajahnya memanas, sepertinya juga memerah. Tifa buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Selama ini aku tidak pernah jatuh cinta."
Perkataan itu menarik perhatian Tifa kembali.
"Atau lebih tepatnya, aku tidak berani jatuh cinta," lanjutnya, "semenjak Ayahku bercerai dari Ibuku, lebih tepatnya."
Cloud tiba-tiba menundukkan kepalanya dan ekspresinya berubah menjadi sedih. Melihatnya seperti itu, Tifa perlahan menurunkan kedua tangannya dan dia membungkukkan tubuhnya.
"Aku memang sudah bercerita padamu sebelumnya," lanjutnya lagi, "bahwa aku sangat membenci Ibuku semenjak dia pergi dengan seenaknya meninggalkan aku dan Ayahku. Namun, tidak hanya sampai di sana, aku juga seperti membenci wanita."
Tifa akhirnya mulai bersuara kembali. "Hah?"
Cloud menganggukkan kepalanya. "Ibu yang meninggalkan kami berdua, bagiku dia adalah sosok yang sangat kejam dan materialistis. Jika aku membandingkan dia dengan kebanyakan perempuan zaman sekarang, mereka sungguh tidak jauh berbeda, malah sama."
Cloud mendongakkan kepalanya menatap Tifa.
"Tetapi, hadirnya kau dalam hidupku seolah mematahkan dugaan itu," kata Cloud. "Awalnya aku memang sempat bersikap dingin padamu, tetapi ketika aku mengenalmu lebih dan lebih dalam lagi, aku sadar bahwa kau tidak sama dengan wanita lain."
Mendengar kalimat terakhir dari Cloud, wajah Tifa kembali memerah. Ketika dia mau menutupi wajahnya lagi, kedua tangan Cloud sudah memegang kedua tangannya lebih dulu.
"Kau cantik," ucap Cloud. "Tetapi aku tidak akan mencintaimu hanya karena kau cantik. Bagiku, ada begitu banyak kelebihan di dalam dirimu yang membuatku tertarik padamu, sampai akhirnya aku jatuh cinta padamu."
Mata mereka berdua saling bertatapan, mata biru laut Cloud bertemu dengan mata cokelat keemasan Tifa. Sesaat, Tifa terkagum dengan warna mata Cloud, karena jarang ada orang yang memiliki warna mata itu. Kedua tangan Cloud kemudian naik dari tangan ke wajah Tifa.
"Kau baik, sederhana, dan meski kau sering menemui kesulitan, tetapi kau tetap berjuang dan pantang menyerah dalam menjalani hidupmu," kata Cloud, tanpa memalingkan wajahnya. "Kau adalah sosok pekerja keras dan disukai oleh banyak orang, sampai-sampai, aku sempat iri denganmu."
Apa Cloud sedang memujinya? Apa dia tidak sedang salah dengar? Semua yang dikatakan Cloud pada dirinya, apakah itu kenyataan? Rasanya Tifa antara ingin percaya dan tidak ingin percaya. Seorang Cloud Strife bagaimana mungkin bisa berbicara seperti ini kepadanya? Tifa memang tidak seratus persen mengerti kepribadian Cloud, tetapi dia tahu bahwa Cloud bukanlah tipe yang bisa memuji habis-habisan—terutama perempuan—seperti ini! Bahkan Zack yang merupakan senior dan pelatihnya tidak pernah dipuji-puji sampai seperti ini, padahal Zack bisa dibilang sudah berteman cukup lama dengan Cloud. Sementara dirinya? Dia dan Cloud memang sudah berteman lama, namun tidak selama Cloud dengan Zack, tetapi ... Cloud bisa berkata dan memujinya panjang lebar. Bisa mengubah kepribadian seseorang 180 derajat, untuk kedua kalinya Tifa berpikir, inikah tanda seseorang yang sedang jatuh cinta?
"Tifa, aku..." kata Cloud yang sempat menoleh sebentar, lalu dia kembali menatap Tifa. "Bagaimana?"
"Bagai ... mana?"
Cloud menganggukkan kepala untuk kedua kalinya. "Bagaimana denganmu? Aku sudah berbicara panjang lebar padamu, dan kini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Tifa menelan ludah, dan ketika Cloud hendak mengucapkan pertanyaan 'itu', jantung Tifa langsung berdetak begitu cepat.
"Tifa, apa kau juga mencintaiku?" tanya Cloud sambil tersenyum.
Sesuai dugaan Tifa, pertanyaan itulah yang akan diberikan padanya. Otak Tifa langsung berpikir keras, memikirkan jawaban apa yang sebaiknya harus dia berikan pada Cloud. Tifa bukannya membenci Cloud, dan dia tidak mungkin membenci Cloud yang selama ini sudah membantunya. Hanya saja, Tifa tidak pernah di 'tembak' sebelumnya, bahkan diajak kencan oleh pria lain juga tidak pernah. Oleh karena itulah, ketika tiba-tiba ada yang bertanya seperti ini padanya, Tifa sungguh bingung. Seandainya ini mimpi, Tifa ingin sekali langsung bangun sekarang, atau seandainya saja Cloud hanya bercanda dengannya.
Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak hanya Cloud yang ingin berkata panjang lebar, Tifa sendiri juga, dan yang ingin dikatakannya juga kurang lebih sama dengan Cloud. Tifa ingin sekali berkata pada Cloud, bahwa Cloud juga telah mengubah penilaiannya terhadap para laki-laki di seluruh penjuru Gaia, yang sebelumnya sangat negatif akibat perubahan sikap Ayahnya dulu. Sejak saat itu, Tifa menjadi agak enggan untuk berhubungan lebih dekat dengan lelaki, dan malah dia merasa risih ketika ada laki-laki yang mencoba untuk mendekatinya, bahkan dulu dia juga pernah merasa takut ketika berada dikelilingi oleh laki-laki, meski mereka tidak melakukan yang macam-macam padanya. Penilaian Tifa kepada Ayahnya pun menjadi semakin jelek karena Ayahnya beberapa kali berusaha untuk menculiknya. Karena takut mengalami sakit hati mendalam yang sama seperti Ibunya, Tifa sempat berpikir bahwa lebih baik dia tidak usah menikah saja, alias seumur hidup menjadi 'jomblo'.
Tetapi kedatangan Cloud dalam hidupnya seolah merubah segalanya, meski awal pertemuan mereka tidak terlalu baik, namun hubungan mereka lama kelamaan menjadi dekat. Secara 'kebetulan', Cloud sudah berulang kali menolongnya, dan seiring dengan itu, hubungan mereka berdua juga menjadi semakin dekat. Mulai dari berteman, bersahabat, hingga akhirnya jadi seperti ini. Tifa sebenarnya juga memiliki ketertarikan pada Cloud, dan Evelyn, Sang Ibu juga seolah 'merestui' jika Tifa dan Cloud berpacaran. Hanya saja, Tifa belum berani untuk berpikir terlalu jauh, terutama untuk hal percintaan, karena itulah, Tifa merasa bahwa rasa ketertarikannya pada Cloud ini bukanlah sesuatu yang spesial, dan ternyata pemikirannya selama ini salah besar.
Ternyata, perasaan Cloud padanya dan perasaannya pada Cloud itu adalah...
"Cloud, a—aku..."
Tifa tampak terbata-bata dalam mengucapkan jawabannya, namun Cloud tetap bersabar menunggunya berbicara.
"A ... aku, em..." kata Tifa masih terbata-bata. "Astaga, aku... mengapa susah sekali?"
"Pelan-pelan saja, tidak apa-apa."
"Tapi aku ... aku sungguh..."
Cloud memiringkan kepalanya.
"Aku ... sangat senang dan tidak menyangka ... kalau kau memiliki perasaan seperti itu padaku," kata Tifa yang setelahnya mengambil napas dalam-dalam. "Dan, aku sendiri sebenarnya..."
Wajah Cloud menunjukkan rasa penasaran.
"Aku sebenarnya..."
Belum sempat mengucapkannya, dari belakang tiba-tiba saja ada yang menyumpal mulut dan hidung Tifa dengan sapu tanga, namun itu bukan sapu tangan biasa, melainkan sapu tangan yang juga dioleskan alkohol. Kesadaran Tifa perlahan-lahan menghilang, penglihatannya semakin kabur, dan sebelum penglihatannya kabur seutuhnya, dia masih bisa melihat Cloud juga mengalami hal yang sama dengannya. Tidak berdaya, penglihatan Tifa akhirnya menjadi gelap seutuhnya.
...
Sephiroth tengah mengamati segunung tawaran pekerjaan yang ditujukan olehnya, mulai dari tawaran membuat novel berjenis cinta remaja, novel misteri, sampai-sampai tawaran untuk menjadi pembicara dalam suatu acara. Bertumpuk-tumpuk undangan dan dokumen ada di depannya, namun Sephiroth merasa malas untuk mengerjakannya. Dia sungguh tidak menyangka kalau tawaran pekerjaannya bisa menumpuk seperti ini, padahal belum lama ini dia baru saja menyelesaikan salah satu naskah novel romantis dari sebuah penerbit bernama 'Wallace Redaction', judul Novel itu adalah 'When Heart Melts by Love', Sephiroth bahkan membuat copy-nya untuk berjaga-jaga dan membacanya ulang.
Terkadang Sephiroth suka tertawa sendiri ketika membaca novel terbarunya itu, karena dia tidak pernah membuat novel romantis sebelumnya, dan inspirasi untuk novel ini adalah anaknya sendiri, Cloud. Sebenarnya Sephiroth sendiri sempat ragu ketika diberikan tantangan oleh pihak penerbit, apalagi dirinya yang biasanya menulis novel berjenis misteri dan fiksi disuruh menulis novel romantis. Tetapi ketika dia baru mau menolaknya, tiba-tiba saja dia melihat perubahan sikap pada putranya. Cloud yang biasanya nampak dingin, sekarang sudah mulai 'menghangat', kata-katanya yang bernada tajam kini menjadi halus, wajahnya yang datar sudah muali sering tersenyum. Semua itu terjadi bukan karena tanpa sebab, melainkan karena gadis itu, Tifa.
Sephiroth sendiri sebenarnya tidak menyangka bahwa seorang gadis biasa bisa mengubah putranya begitu drastis, tetapi harus diakui, bahwa gadis yang bernama Tifa itu memang terasa spesial. Sephiroth sendiri baru sekali-dua kali bertemu dengannya, tetapi Sephiroth tahu bahwa ada sesuatu yang spesial dari gadis itu. Dari sanalah, Sephiroth menulis novel ini dari awal sampai akhir, dengan total 450 halaman, bahkan Sephiroth tidak mengalami kendala berarti selama menulis. Seandainya novel ini sudah terbit dan laku keras, Sephiroth pasti akan menulis sekuelnya, karena di novel yang sekarang ini Sephiroth 'menggantung' akhir cerita, untuk membuat pembaca penasaran.
Setelah melihat-lihat selama dua kali, Sephiroth meletakkan copy novel itu dan melihat ke jam dinding, sudah jam tujuh malam, dan Sephiroth baru sadar kalau dia sudah berada di depan meja kerjanya selama tiga jam lebih, pantas saja pinggangnya terasa pegal. Tetapi sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di pikirannya, di mana Cloud? Kenapa dia belum pulang sampai sekarang, padahal festival harusnya sudah selesai pada jam 6 sore tadi? Mungkinkah dia masih tengah bersenang-senang dengan gadis itu sampai lupa waktu? Meski Cloud sudah terbiasa pulang malam, entah mengapa Sephiroth merasa khawatir. Semoga saja Cloud tidak terjebak hal yang aneh-aneh.
Ketika Sephiroth hendak turun ke bawah untuk mencari makanan, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Awalnya Sephiroth mengira bahwa itu adalah telepon dari redaksi, tetapi ternyata nama yang muncul di layar ponselnya adalah 'Private Number'. Sephiroth tidak langsung mengangkatnya karena curiga, tetapi pada akhirnya, dia menjawabnya juga dengan didorong oleh rasa penasaran.
"Halo?" tanya Sephiroth.
"Hai, Sephiroth."
Terdengar suara wanita yang anggun di sana, dan Sephiroth langsung mengetahui bahwa itu adalah suara Anabagy.
"Anagaby?"
"Oh, hebat sekali kau masih mengenali suaraku, kau memang sangat manis, Sephiroth."
Sephiroth terdiam sejenak. "Apakah ada sesuatu?"
"Yah, begitulah," jawab Anagaby. "Dan ini mengenai putra kita."
"Mengenai Cloud? Ada apa dengannya?"
Anagaby tidak langsung menjawab, dan kemudian dia memperdengarkan suara tawanya yang tidak begitu keras namun begitu anggun.
"Cloud sekarang berada di tanganku, Sephiroth! Dan mulai sekarang, aku akan membawanya pergi ke tempat yang jauh untuk hidup bersamaku, dan kau akan sendirian lagi, Sephiroth!"
Mata Sephiroth melebar, dan sebelum dia menjawab, Anagaby sudah menutup telepon. Dalam keadaan panik, Sephiroth segera turun ke bawah dan menyalakan mesin mobil miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah rumah Anagaby yang jaraknya lumayan jauh dari sini.
"Ana, kau ... kau sungguh wanita berbahaya," bisik Sephiroth. "Cloud, tunggulah, aku akan menyelamatkanmu sekarang."
Mobil dijalankan, dan dengan kecepatan tinggi, Sephiroth segera menuju ke rumah mantan istrinya itu. Tetapi tiba-tiba saja dari depan ada sebuah mobil hitam berukuran cukup besar yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Sephiroth yang terkejut tentunya tidak sempat mengerem dan langsung membanting setirnya, namun karena ini jalan kecil, mobil Sephiroth pun menabrak tiang yang ada di sana dengan cukup keras. Seketika, bagian depan mobil hancur, dan Sephiroth sendiri juga tidak sadarkan diri dengan luka di wajah dan pundaknya. Dari mobil hitam itu sendiri, keluar sosok seorang perempuan yang mengenakan gaun berwarna ungu dan kedua tangannya tengah terlipat, sebuah senyuk merekah di bibirnya.
"Kerja yang bagus."
Mohon read dan review ya, makasih.
