A/N : Maaf karena update yang lama, alasannya klasik kok, karena sibuk dan ... yep, UAS. Saya harap saya gak mengecewakan kalian, karena jujur, saya sangat stres akhir-akhir ini. Selain UAS, ada beberapa hal lain yang membuat saya pusing. Mungkin kedengarannya cuma alasan, tapi percayalah, itu memang betul.
OH_21
Rasa pusing menjalar di kepalanya, tubuhnya terasa lemas, kepalanya terasa berat, dan hidungnya mencium bau yang tidak enak. Dengan sedikit kesusahan, Tifa membuka kedua matanya. Awalnya memang agak buram, dan Tifa harus mengedipkan matanya berkali-kali sampai akhirnya penglihatannya jelas kembali. Setelah mengedip sebanyak lima kali, Tifa mulai bisa menilai keadaan di sekelilingnya. Pemandangan awal yang dilihat Tifa adalah sebuah ruangan, ruangan cukup besar, ruangan ini ... kamar tidur, ya betul, dan dia ternyata tengah berbaring di ranjang. Selain ranjang, di kamar ini juga memiliki sebuah meja kayu dengan desain klasik, lengkap dengan kursinya, lalu lemari baju, kaca raksasa, permadani, lampu gantung, dan lain-lain. Tifa juga menyadari kalau bajunya sudah berbeda dengan sebelumnya, dia tidak lagi mengenakan busana kasual, melainkan gaun tidur seperti di film-film. Sebenarnya apa yang tengah terjadi? Dia ada di mana?
Sambil berusaha mengumpulkan tenaganya perlahan, Tifa mencoba turun dari kasur. Entah mengapa tubuhnya terasa lemas, dan jika dia tidak berpegangan, pasti dia sudah jatuh. Dengan langkah perlahan dan kaki yang masih lemas, Tifa berjalan ke depan cermin besar untuk melihat kondisinya. Wajahnya terlihat pucat, rambut sedikit acak-acakan, dan jika diperhatikan baik-baik, seperti ada noda kemerahan di pergelangan tangannya, sebenarnya apa yang... Tifa memejamkan matanya dan mencoba mengingat yang terjadi, dan tidak lama kemudian matanya melebar. Ada seseorang yang membekapnya. Ya, ada seseorang yang membekapnya dari belakang, lalu tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri. Saat itu dia sedang bersama Cloud, dan...
Ya ampun, benar juga, Cloud! Di mana dia? Apakah dia juga berada di tempat ini?
Selagi masih panik, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Badan Tifa menegang, dan kedua matanya melebar ketika melihat sosok di balik pintu yang saat ini tengah masuk.
Ayahnya. Sosok Ayahnya yang tengah mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan senyum di wajahnya.
"Halo," katanya, "kau sangat cantik meski kau hanya mengenakan gaun tidur."
Tifa tidak menjawab.
"Maaf kalau Ayah membawamu dengan cara seperti ini, tetapi Ayah harus melakukan hal ini untuk sedikit ... memaksamu."
Tifa mengerutkan keningnya. "Memaksaku?"
Liam menganggukkan kepalanya. "Memaksamu untuk tinggal bersama Ayah."
"Apa ?!"
"Ayah tidak bisa hidup tanpa kau, Tifa."
"Apa-apaan maksud semua ini ?! Aku tidak mau!" balas Tifa. "Aku mau pulang! Aku ingin bertemu Ibu!"
"Kau tidak akan bertemu dengannya."
Tifa lagi-lagi melebarkan matanya.
"Kau tidak akan bertemu dengannya lagi, sekarang, besok, dan selamanya."
Kata-kata itu bagaikan pisau yang menusuk jantungnya, TEPAT di jantungnya. Dengan mata yang berurai air mata, Tifa menggertakan giginya dan langsung melemparkan dirinya ke Ayahnya. Kedua tangannya memukul-mukul dada Ayahnya dengan sekuat tenaga. Tetapi meski belajar karate, pukulan Tifa tidak membuat Ayahnya bergeming.
"Aku benci kau! Aku benci kau!" teriak Tifa. "Aku tidak pernah mau tinggal di sini! Aku tidak pernah mau tinggal denganmu! Aku hanya mau tinggal dengan Ibuku! Aku mau pulang!"
Teriakan Tifa hanya dibalas dengan diam oleh Liam. Tidak lama kemudian, Liam memegang kedua pundak Tifa dan kedua matanya menatap putri semata wayangnya.
"Istirahatlah, sebentar lagi makanan akan siap."
Untuk kali ini, Tifa entah mengapa tidak bisa melawan. Sehingga ketika Ayahnya melepaskan pundaknya dan berbalik badan, Tifa sama sekali tidak berkata apa-apa. Liam membuka pintu dengan perlahan sambil berkata menu makanan yang disajikan akan sangat enak, tetapi baru saja dia hendak menutup pintu kamar, dia seperti teringat akan sesuatu.
"Ah ya, mengenai anak laki-laki berambut pirang itu..."
Ketika dia mendengar kata 'berambut pirang', Tifa langsung tahu kalau yang dibicarakan Ayahnya adalah Cloud. Astaga, apa yang sudah dilakukannya pada Cloud?
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja," lanjut Liam, seolah mengetahui apa yang dipikirkan putrinya. "Hanya saja, aku menempatkan dia di ruang khusus."
Tifa lagi-lagi dibuat kaget. "Ruang khusus?"
"Ya, ada di bawah, aku sengaja menempatkannya di sana," jawab Liam dengan santai. "Tetapi tenang saja, dia aman kok di sana."
"Ruang khusus itu ... ruang apa?"
Mendengar pertanyaan putrinya, entah mengapa Liam tersenyum. Tetapi sebelum menjawab, Liam merapatkan pintu kamar sampai hampir benar-benar tertutup, baru akhirnya dia buka suara.
"Gudang."
Tanpa mempedulikan jawaban putrinya, dan lagi Tifa juga tidak sempat menjawa karena pintu langsung ditutup. Gudang? Gudang? GUDANG? Ayahnya mengurung Cloud di gudang? Astaga, Ayahnya benar-benar sudah gila-kah? Bagaimana mungkin Cloud dikurung di gudang? Tifa harus bisa keluar dari kamar ini dan kemudian mencarinya. Kalau tidak salah, Ayahnya tadi bilang kalau gudang itu ada di ... eh, ada di mana? Astaga, Ayahnya sama sekali tidak bicara apa-apa! Tifa sungguh merasa serba salah. Dia tidak bisa dan tidak mau hanya diam di sini, tetapi di sisi lain, dia juga tidak tahu mengenai denah rumah ini. Kalau-kalau dia masuk ke ruangan yang aneh-aneh dan malah mencelakai dirinya bukankah itu lebih parah? Tifa pun galau.
Tetapi tentu saja, galau sungguh tidak ada gunanya. Berlandaskan nekad dan ingin tahu, Tifa memegang pegangan pintu dan kemudian menariknya. Sesuai dugaannya, rumah ini sangat luas bak istana. Ketika Tifa melihat ke kanan dan kiri, Tifa menyadari kalau lorong rumah ini luas, sangat luas malah! Begitu dia keluar, dia sudah disambut dengan karpet merah yang memanjang hingga ke seberang ruangan, di kiri dan kanan terdapat patung serta barang-barang antik. Jendela-jendela besar terpasang di tembok kiri dan kanan, lengkap dengan gorden raksasa berwarna emas. Tetapi cukup aneh, tidak ada siapa-siapa yang melewati ruangan ini, yah setidaknya, Tifa mengira dia akan melihat pelayan-pelayan bolak balik sambil membawa barang, tetapi lorong ini sangat sepi. Dengan nekad, Tifa diam-diam keluar dari kamar dan dengan langkah yang tidak terlalu cepat menyusuri lorong dan berlari ke seberang. Tifa tidak berani cepat-cepat karena dia takut menarik perhatian.
Sesaat, Tifa terpana dengan pemandangan taman yang ada di kiri dan kanannya, taman itu ditanami berbagai macam jenis bunga dan tanaman buah lainnya, tidak ada siapa-siapa di sana, anehnya, bahkan tukang kebun juga tidak ada. Tifa menggelengkan kepalanya dan kemudian teringat akan tujuannya semula, tanpa mengurangi rasa waspadanya, Tifa berjalan, berjalan, dan berjalan sampai akhirnya dia mencapai pintu. Untuk berjaga-jaga lagi, dia menempelkan telinganya di pintu, mencoba untuk mencuri dengar percakapan di luar, tetapi lagi-lagi, semuanya terasa sunyi. Meski awalnya tidak yakin, tetapi akhirnya Tifa memberanikan untuk membuka pintu. Terdengar bunyi 'kreeeet' yang cukup keras, sampai akhirnya pintu itu terbuka seluruhnya.
Pintu ini ternyata menghubungkannya ke ruang tengah, dan sama seperti lorong yang dilewatinya tadi, desainnya klasik, lengkap dengan lampu gantung antik raksasa yang menggantung di langit-langit. Di tengah-tengah ruangan juga terdapat sebuah tangga kayu yang melingkar ke lantai dua, lalu ada karpet raksasa bergambar yang sangat luas di lantai, patung-patung, lukisan-lukisan, dan lain-lain sampai membuat Tifa pusing, Tifa rasa dia bukan berada di rumah, tetapi di sebuah sangkar emas. Ya, bagi Tifa, rumah Ayahnya ini adalah sangkar emas, bukan istana, bukan rumah mewah, tetapi sangkar emas. Sampai kapan pun, Tifa tidak akan suka dengan rumah ini, terlepas dari segala kemewahan yang tersedia, Tifa lebih memilih rumah sederhananya dibanding rumah yang satu ini.
Tifa melanjutkan lagi eksplorasinya, dan lagi-lagi hanya didasari oleh rasa nekad, Tifa langsung berjalan tanpa pikir panjang. Awalnya memang dia begitu hati-hati, tetapi setelah memastikan tidak ada saiapa-siapa di sini, Tifa segera mempercepat langkahnya. Kali ini dia mengincar pintu yang ada di seberang. Tifa menjulurkan tangan kanannya dan membuka pintu dengan sedikit kencang, pemandangan pertama yang ditangkap oleh kedua matanya adalah ... rak buku?
Ya, mata Tifa jelas-jelas melihat rak buku, tetapi bukan rak buku biasa, melainkan ... rak buku yang menjulang ke atas dan berjejer! Bak perpustakaan, segala jenis buku seolah ada di sana. Tifa berjalan masuk dengan kepala yang mendongak ke atas, dan baru disadari kalau perpustakaan dua lantai ini memiliki langit-langit yang sangat tinggi. Astaga, Tifa sungguh heran bagaimana Ayahnya memperoleh banyak uang sampai-sampai dia bisa memodifikasi rumahnya menjadi seperti ini. Seandainya ada anak-anak yang bermain petak umpet, pasti anak-anak yang bermain itu akan tersesat. Tapi yah, tentu saja hal itu tidak penting sekarang, yang penting adalah dia harus terus mencari cara untuk menemukan Cloud, dan Tifa tidak tahu apakah mencari jalan ke gudang lewat sini adalah pilihan yang baik, memang sih mencoba tidak ada salahnya, tetapi mana mungkin juga dia seorang diri mencari-cari jalan di perpustakaan yang sangat luas ini? Bisa-bisa dia malah kepergok duluan.
Entah sudah berapa kali dia dibuat galau, dan pada akhirnya, Tifa memutuskan untuk keluar dari perpustakaan dan mencoba mencari jalan lain lagi. Oke, selain pintu yang mengarah ke perpustakaan, di sebelah kiri masih ada sekitar tiga pintu lagi. Desain ketiga pintu itu sama, dan jaraknya tidak begitu jauh, sepertinya ruangan yang berada di balik pintu-pintu itu bukan ruangan besar. Mungkinkah Tifa harus memeriksa sampai ke sana juga?
Ketika Tifa hendak berjalan ke pintu sebelah, tiba-tiba saja dia mendengar suara dari lantai atas, suara langkah kaki, dan bukan hanya satu-dua orang. Panik, Tifa langsung berlari dan bersembunyi di balik tangga, sambil mengintip. Ternyata yang turun adalah para pelayan, pantas saja Tifa tidak melihat mereka dari tadi.
"Aduh, rasanya Tuan Liam semakin aneh saja."
Liam? Mendengar nama Ayahnya disebut, Tifa langsung menajamkan pendengarannya.
"Iya, entah apa maksud permintaannya tadi."
"Semenjak wanita itu datang menghampiri Tuan Liam, rasanya Tuan Liam jadi semakin aneh."
Wanita?
"Sudahlah, kita laksanakan saja perintah Tuan, bisa-bisa nanti kita diocehi."
"Lalu, bagaimana sekarang?"
"Bagaimana sekarang? Tentu saja bekerja seperti biasa."
"Tetapi, bagaimana dengan pemuda itu? Kita sungguh tidak perlu memberinya makan selama seharian?"
Pemuda? Apakah yang dimaksud mereka adalah...
"Sebenarnya aku tidak tega juga, tetapi mau bagaimana lagi?"
"Waduh, padahal dia sudah ditempatkan di gudang, dan masih tidak diberi makan juga?"
Astaga, ternyata mereka memang membicarakan Cloud, dan lagi dia juga tidak diberi makan?
"Gudang itu saja padahal sudah cukup jorok, ah ya, gudang yang di bawah tanah itu, kan?"
"Iya, begitulah."
Para pelayan itu terus mengobrol sampai akhirnya masing-masing dari mereka menyebar, ada yang ke perpustakaan, ada yang ke ruangan di sampingnya, ada juga yang keluar, untungnya tidak ada yang ke kamar Tifa. Tetapi karena para pelayan itu sudah tersebar, maka Tifa tentu saja harus lebih hati-hati. Sialnya, para pelayan itu tidak menyebutkan bagaimana untuk ke gudang itu, Tifa hanya mendengar kata 'bawah tanah', tetapi dia tidak menyebutkan bagaimana untuk ke bawah tanah. Oh, rasanya Tifa seperti berada di sebuah game, di mana dia harus memecahkan sebuah misteri. Aduh, apakah tidak ada cara lain untuk menolong Cloud? Masa dia harus berhenti sampai di sini?
...
Seluruh tubuhnya terasa sakit, tangannya sulit untuk digerakkan, kepalanya sakit, dan kakinya ... entah mengapa terasa berat. Dia sungguh tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya, dan dia juga tidak ingat mengapa dia jadi begini. Perlahan-lahan, dia mencoba untuk membuka matanya, dan yang dia lihat pertama kali adalah lampu, namun lampu saja tidak mampu membuatnya menebak dia ada di mana atau apa yang terjadi dengan dirinya. Dia mencoba untuk menolehkan kepalanya ke kanan, dan di sana dia melihat sebuah lemari kecil yang di puncaknya terdapat tabung, sepertinya tabung obat. Kini dia menolehkan kepalanya ke kiri, dan kedua matanya menangkap selang kecil yang memanjang ke atas, dan ujungnya tersambung ke ... tabung infus. Setelah ke kiri dan kanan, dia mencoba untuk mengangkat kepalanya sedikit, meski samar, tetapi dia melihat kaki kirinya diperban, dan dia juga baru sadar kalau tangan kanannya juga diperban, dan sepertinya ... kepalanya juga, entah mengapa dia merasa begitu.
Apa dia berada di Rumah Sakit?
Ketika dia mencoba untuk mengamati lagi, tiba-tiba dia mendengar suara pintu yang terbuka yang diiringi dengan suara langkah kaki, langkah kaki yang sepertinya ... langkah sepatu hak. Ketika dia melihat siapa yang berjalan masuk dan mendekatinya, rupanya itu adalah seorang wanita, bukan sembarang wanita, karena itu adalah wanita yang sempat mengisi hidupnya dulu, Anagaby. Dia terlihat cantik seperti biasa, terutama dengan gaun selututnya yang ebrwarna putih dan agak tipis.
"Hai Seph," katanya, "tidak kusangka kau sudah sadar."
Sephiroth tidak menjawab.
"Kau sekarang berada di rumahku, dan mengenai luka-lukamu, tenang saja, menurut Dokter lukamu tidak terlalu serius, tetapi kau harus istirahat."
Sephiroth menyipitkan matanya. "Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Kau kecelakaan."
"Bagaimana kau tahu aku kecelakaan?"
"Karena ... aku lah yang membuatmu kecelakaan."
Kali ini mata Sephiroth melebar. "Kau mencoba untuk membunuhku?"
"Tidak juga," jawab Anagaby sambil duduk di samping ranjang Sephiroth. "Mana mungkin aku mencoba membunuh pria yang sangat baik sepertimu, Seph? Setidaknya tanpa alasan."
Ketika Anagaby hendak menyentuh wajah Sephiroth, Sephiroth langsung membuang muka.
"Oh, kasar sekali."
"Cukup," kata Sephiroth. "Apa maumu?"
"Wah, tidak kusangka kalau kau bisa begitu tidak sabaran," jawab Anagaby sambil tersenyum. "Tetapi baiklah, akan kujawab pertanyaanmu."
Anagaby menarik tas tangannya, membuka resletingnya, dan kemudian tangan kanannya merogoh sesuatu. Tidak butuh waktu lama sampai tangan kanannya mengambil selembar amplop besar berwarna cokelat. Tanpa pikir panjang, Anagaby segera mengeluarkan isinya dan memberikannya pada Sephiroth, lengkap dengan pulpen hitam, meterai, dan stempel. Sephiroth-tentu saja-tidak mengerti, dengan tangannya yang tidak diperban, dia mengambil kertas itu dan membacanya dari atas ke bawah. Ketika kertas itu selesai dibaca, Anagaby langsung mengambilnya dengan paksa tanpa menunggu komentar Sephiroth.
"Itulah permintaanku," kata Anagaby. "Aku ingin kau menyerahkan hak asuh Cloud ke aku, dan jika kau bersedia, aku akan memberimu 500 juta gil sebagai imbalan, bagaimana? Tawaran yang menarik bukan, Seph?"
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih.
