A/N : Hai! Jumpa lagi dengan saya dan chapter baru ini! Semoga kalian menikmatinya dan mohon read serta review, terima kasih!

OH_22

Sephiroth seolah tidak mampu berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataan mantan isterinya, menyerahkan hak asuh Cloud untuk dia? Kalau saja Sephiroth adalah tipe orang yang lepas, dia pasti sudah berkata 'Kau gila ya?', yang benar saja ? ! Semenjak mereka bercerai, Sephiroth memang tidak pernah melarang Anagaby untuk datang melihat anaknya, tetapi untuk masalah hak asuh anak ... Sephiroth sama sekali tidak mau menyerahkannya, tidak akan! Setelah Anagaby pergi meninggalkannya dan Cloud waktu itu, Sephiroth tidak akan mempercayai wanita itu lagi. Tidak, Sephiroth bukannya dendam pada Anagaby, dia tidak dendam padanya dan bahkan sudah memaafkannya, hanya saja, dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Apa Anagaby tidak tahu bagaimana ekspresi Cloud setelah dia pergi? Bagaimana terlukanya dia, bagaimana menderitanya dia, dan sosoknya yang menangis diam-diam?

Memejamkan mata, Sephiroth menggelengkan kepala dan lagi-lagi membuang muka. Rasanya Sephiroth ingin sekali merampas kertas itu dan langsung merobeknya sampai tinggal serpihan-serpihan, tetapi tentu saja, dia tidak bisa melakukannya dengan keadaan tangan yang seperti ini, dan lagi kertasnya juga masih dipegang oleh Anagaby. Sephiroth tidak pernah merasa sangat marh seperti ini sebelumnya, malah sebelumnya dia tidak pernah marah. Memang benar kata orang, seseorang yang tidak pernah marah, jika marah, dia pasti akan langsung meledak. Tetapi sayangnya, lagi-lagi Sephiroth tidak akan bisa meledak dengan kondisi seperti ini.

Seolah bisa membaca isi otak Sephiroth, Anagaby hanya tersenyum dan bergeser mendekati Sephiroth. Kertasnya dia masukkan ke dalam tas, sepertinya dia berubah pikiran, sepertinya.

"Kau tidak usah menjawab sekarang kalau kau memang ragu," kata Anagaby.

Sephiroth menyipitkan matanya. "Aku tidak perlu nanti untuk memberi jawaban."

"Oh, jadi apa jawabanmu?"

"Tidak."

Anagaby memiringkan kepalanya, ekspresinya seperti pura-pura kaget.

"Sudah jelas, kan? Aku tidak akan membiarkan Cloud diurus oleh orang sepertimu."

"Oh, kukira kau orang yang suka berbagi, Seph?"

Sephiroth menggelengkan kepalanya. "Anakku-tidak, anak kita-bukan barang, Ana."

"Tetapi aku hanya ingin meminta hak asuhnya, seorang Ibu selalu ingin berada di dekat anaknya, kau tahu?"

"Kalau kau memang berniat begitu, kenapa kau meninggalkannya waktu itu?"

Anagaby terdiam sejenak. "Itu hal lain, Seph."

"Tidak, Ana. Itu adalah sama, sama, dan sama."

Setelah berkata begitu, mereka berdua bertatapan dalam waktu yang cukup lama, mata hijau Sephiroth bertemu dengan mata emas Anagaby. Hijau dengan kuning keemasan, rasanya memang kedua warna itu begitu berbeda, namun juga begitu indah. Tiba-tiba saja, Sephiroth menjadi teringat akan momen pertama mereka bertemu, di mana warna mata mereka bisa dibilang menjadi penyatu mereka berdua. Sephiroth yang mengatakan bahwa warna emas mata Anagaby sama sekali bukan tandingan perhiasan emas mana pun. Sementara Anagaby berkata kalau warna mata Sephiroth sungguh indah. Tetapi sayangnya, itu dulu.

"Aku tidak menyangka kalau kau begitu keras kepala," kata Anagaby.

"Cloud adalah anakku, wajar kalau aku keras kepala untuk memperjuangkan dia."

"Dan dia anakku juga, Seph."

Sephiroth menggelengkan kepalanya. "Kau bukan Ibu yang baik untuknya, Ana, bahkan kau mau menukar anakmu dengan uang," lanjutnya, "asal kau tahu, tidak ada uang yang dapat menggantikan Cloud."

Perkataan yang begitu mantap, dan ekspresi Anagaby tiba-tiba berubah, dari yang tampak begitu anggun menjadi kaget dan serius, alisnya mengerut. Seolah tersinggung dengan pernyataan mantan suaminya, Anagaby menghampiri Sephiroth dan kemudian menampar pipi kanannya dengan keras, meninggalkan memar merah yang terlihat jelas.

"Dasar keparat!" teriak Anagaby. "Kau lihat saja nanti, aku akan mendapatkan Cloud bagaimana pun caranya!"

"Ana, kau... "

Tanpa mempedulikan balasan Sephiroth, Anagaby segera berjalan keluar dari kamar dan membanting pintu. Sephiroth masih meringis kesakitan di posisinya, dia sama sekali tidak menyangka kalau mantan isterinya bisa sekuat itu. Tetapi, terlepas dari semua itu, Sephiroth harus memikirkan cara untuk keluar dari sini dan menyelamatkan putranya, karena putranya dalam bahaya! Kondisi Sephiroth memang sedang tidak memungkinkan, tetapi dia harus menyelamakan putra semata wayangnya itu.

Sephiroth menggerakkan tubuhnya, dan seketika rasa sakit langsung menderanya. Memang kedengarannya seperti bunuh diri jika mencoba bergerak dengan tubuh seperti ini, tetapi Sephiroth tidak punya waktu lagi. Setelah susah payah memindahkan kakinya dan menggeser tabung infusnya, Sephiroth yang bercucuran keringat mencoba berjalan sambil bersandar di dinding, astaga ini benar-benar susah setengah mati. Sephiroth membutuhkan waktu sekitar 15 menit hanya untuk berjalan ke pintu, dan karena saat ini hanya satu tangannya yang berfungsi normal, Sephiroth juga kerepotan ketika memutar kenop pintu dan menarik tiang penggantung tabung infus secara bergantian.

Sambil mengatur napasnya, Sephiroth menengok ke kiri dan kanannya, dan kedua matanya disambut oleh lorong yang memanjang dari kiri ke kanan, lorong ini tidak terlalu luas dan didominasi oleh cat berwarna merah. Jika dia ingat-ingat kembali, Anagaby berkata padanya kalau tempat ini bukan rumah sakit, melainkan ... rumahnya? Kalau tidak salah memang dia bilang begitu tadi. Seandainya perkataan Anagaby bisa dipercaya, dan jika Sephiroth menganalisa semua kejadian, besar kemungkinan Cloud juga ada di sini, tetapi ... dimana?

"Cloud, Ayah akan segera ke sana."

Sambil berpegangan pada dinding, Sephiroth berjalan dengan terhuyung-huyung menyusuri lorong. Dia tidak tahu harus kemana terlebih dulu, tetapi entah mengapa tubuhnya seperti membimbingnya ke arah kanan.

...

Cloud hanya bisa menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil menyumpah dalam hati, bagaimana tidak? Ketika dia baru mau mengutarakan perasaannya, tiba-tiba saja dia dipukul hingga pingsan, dan sadar-sadar, dia sudah berada di sebuah ruangan sempit dan berdebu, dan lebih parahnya lagi adalah dia diikat di sebuah kursi, tidak cuma kaki melainkan tangannya juga! Tubuhnya terasa sakit di sana sini, tetapi anehnya dia tidak ingat kapan dia disakiti dan bagaimana dia disakiti. Dia hanya ingat bahwa dia terbangun belum lama ini, dan begitu sadar, dia sudah seperti ini. Astaga, sebenarnya dia ada dimana?

Cloud mencoba untuk mencari tahu dimana dia berada, dan dari begitu banyaknya barang-barang yang diletakkan di sana sini, serta kondisi ruangan yang begitu tidak terawat, bisa dipastikan kalau ruangan ini adalah gudang. Karena sudah lama tidak dibersihkan, bau lembab gudang ini seolah menusuk hidungnya.

"Aku ... aku harus keluar dari sini, dan ... astaga, Tifa! Kau ada di mana?" gumam Cloud dalam hati.

Cloud menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi usaha itu percuma karena tali yang diikatkan padanya sangat ketat. Cloud mencoba lagi untuk yang kedua kalinya, tetapi lagi-lagi, usaha itu percuma dan Cloud malah makin tersiksa. Cloud menggigit bibirnya, dan dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa meloloskan dirinya hanya dengan tenaga sendiri, dia membutuhkan alat, alat yang tajam entah apa pun itu. Tetapi apakah dia bisa menemukan benda itu di di sini? Dan lagi ... bagaimana dia mencari di saat kondisinya seperti ini?

"Sedang apa kau, hah?!"

Tanpa disadari, sekitar dua orang pria bertubuh besar tiba-tiba masuk dan melihat Cloud yang tengah berusaha kabur, salah satu dari mereka membawa sebuah pemukul kasti. Cloud tentu saja kaget, dan ketika salah satu pria itu melayangkan tinjunya pada Cloud, Cloud langsung terjatuh dengan keras, sisi kiri mulutnya mengeluarkan darah.

"Bodoh! Jangan memukulnya!" teriak pria yang memegang pemukul kasti.

"Tapi tadi dia berusaha kabur!"

"Kau tetap tidak boleh sembarangan memukulnya!" sahutnya, "entah apa yang akan dilakukan Tuan dan Nyonya jika melihatnya terluka, bisa-bisa kau langsung habis!"

Pria yang barusan memukul Cloud hanya bisa mendecakkan lidahnya.

"Sekarang bantu dia bangun lagi!"

Dengan ogah-ogahan, pria itu mendirikan kursi yang tengah diduduki Cloud, setelahnya pria yang satu lagi berjalan mendekati Cloud.

"Nanti Bos akan datang menemuimu, jadi kau harus bersikap baik, mengerti ?!"

Cloud hanya diam, dan entah mengapa kedua pria itu kembali keluar sambil membanting pintu. Cloud mengutuk di dalam hatinya, jadi cuma itu tujuan mereka masuk ke gudang? Hanya untuk memukulnya dan sekadar memberitahu hal itu? Sial, seandainya posisinya tidak sulit seperti ini, dia pasti sudah menghajar dua pria itu.

Berhubung kedua pria itu sudah pergi lagi, maka Cloud lagi-lagi memanfaatkan kesempatan. Cloud lagi-lagi berpikir keras, dan dia menguras pikiran dan tenaganya untuk mencari cara untuk keluar dari sini. Sekuat tenaga, Cloud menggeser-geserkan kursinya sembari mencari cara untuk bisa lolos dari kursi sial ini, susah memang, tetapi jika dia tidak terus berusaha, bisa-bisa dia akan … entahlah, yang pasti hal buruk pasti akan terjadi, apalagi salah satu dari pria itu berkata bahwa 'Boss' mereka akan datang, astaga.

Cloud menggelengkan kepalanya, dan kemudian dia kembali bergeser-geser. Sekitar 15 menit kemudian, Cloud berhasil menggeser kursinya ke kanan, tetapi meski matanya sudah melihat ke segala arah, dia tetap tidak menemukan barang-barang yang berguna. Kali ini Cloud menggeserkan kursinya ke arah lain, dan hasilnya … nihil, tidak membantu sama sekali. Cloud yang sudah kelelahan, akhirnya hanya bisa pasrah, dan akhirnya dia mencoba untuk menggeserkan kursinya lagi ke posisi semula, dia sungguh membuang-buang tenaganya.

Tetapi sepertinya, nasib cukup berpihak padanya.

Kursi yang digunakan untuk mengikat Cloud, tiba-tiba Cloud seperti mendengar suara 'krek'. Sebelumnya Cloud memang tidakmemperhatikan, tetapi kursi yang dia duduki kali ini ternyata adalah kursi yang sudah tua, dan karena dia terus-terusan bergeser, hal itu berpengaruh pada kursi ini. Menyadari hal ini, Cloud segera mengulang apa yang dilakukannya tadi, bergeser dan bergeser.

Entah karena mendapat tambahan tenaga atau apa, rasa lelah Cloud tiba-tiba menghilang seluruhnya. Bak orang kurang kerjaan, Cloud menggeser-geserkan kursinya ke sana dan kemari, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan lagi. Sesuai dugaan Cloud, semakin dia bergeser, semakin rusak pula kursinya, sepertinya hanya tinggal sedikit lagi sampai kursi itu benar-benar rusak.

"Jadi, dia ada di dalam?"

Hampir selangkah lagi sampai akhirnya kursi itu hancur seluruhnya, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara dari luar.

"Benar, Tuan."

"Bagaimana keadaannya?"

"Masih sama seperti sebelumnya."

Sial! Sial! Sial! Begitulah sumpah Cloud dalam hatinya. Buru-buru, Cloud segera menggeserkan kursinya kembali ke posisinya semula, tetapi karena kondisi kursi yang sudah rusak, kursi itu menjadi sulit sekali untuk digeserkan.

"Apa dia terluka?"

"Tadi Ukio tidak sengaja memukulnya, padahal sebelumnya sudah kuperingatkan."

"Si bodoh itu."

Rasa panik semakin menghantuinya, dan dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Cloud berjuang untuk menarik kursi itu. Cloud menggertakkan giginya dan memejamkan kedua matanya, hingga akhirnya ... dia berhasil. Kursi itu akhirnya bisa bergerak dari posisinya, dan ... kursi itu juga hancur di saat bersamaan. Cloud memang terjatuh, tetapi ... dia berhasil! Dia berhasil menghancurkan kursi ini!

"Lalu, Ukio ada di mana?"

"Dia sedang di ruangan lain."

Berhubung kursinya sudah hancur, kini Cloud lebih bisa meloloskan diri. Pertama, Cloud meloloskan tubuhnya, dan kemudian barulah kedua kakinya. Ketika Cloud baru saja berdiri, tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan dua sosok pria. Salah satu pria itu adalah pria yang tadi memegang pemukul kasti berwarna besi, sementara yang satunya lagi, Cloud tidak pernah melihatnya sebelumnya. Melihat Cloud sudah lolos, pria itu hanya tersenyum kecil.

"Oh," katanya singkat.


Hmm ... mungkin di antara kalian ada yang merasa aneh, tetapi percayalah, saya sebisa mungkin mendeskripsikan mengenai perjuangan Cloud, tetapi jika ada saran dan perbaikan, saya akan menerimanya dengan senang hati. Mohon read dan review!