A/N : Maaf untuk update yang lama, semoga kalian suka dengan chapter kali ini.
Berkali-kali Tifa berusaha untuk mengatur napasnya, bersikap tenang, dan tidak bersikap mencurigakan, namun ... hal itu sangat sulit. Keberuntungan memang berpihak padanya kali ini, tetapi untuk selanjutnya ... entahlah. Ah, yang dimaksud dengan keberuntungan kali ini adalah seragam pembantu yang tengah dia kenakan sekarang, yap, kini dia sedang menyamar. Sebenarnya waktu dia bersembunyi di balik tangga, dia sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa, tetapi semua berubah ketika dia melihat ada seorang pelayan wanita yang tiba-tiba masuk ke toilet sambil marah-marah. Bajunya kotor kena lumpur, dan mulutnya menggumamkan kata 'sebal' beberapa kali, dugaan Tifa, sepertinya pelayan itu terjatuh di halaman.
Tetapi karena itu, sebuah ide justru muncul di kepalanya.
Ketika pelayan itu melepas seragamnya dan bersih-bersih di toilet, Tifa segera diam-diam masuk ke dalam toilet dan ... mencuri seragam itu! Seragam itu memang kotor sekali, tetapi Tifa tidak peduli. Jika dia menggunakan seragam ini, dia bisa mencari Cloud tanpa memperlihatkan identitasnya sebagai Tifa Lockhart, Tifa juga menguncir rambutnya untuk memaksimalkan penyamarannya, dan dia juga 'mengutak-atik' poninya. Takut si pelayan keluar dari kamar mandi, Tifa segera berjalan keluar sambil berjalan seperti biasa. Astaga, rasanya dia seperti seorang agen rahasia yang sedang menyamar.
Tifa berjalan-jalan sambil melihat sekelilingnya, untungnya, seragam ini mempermudah dia dalam bereksplorasi. Dia tetap tidak boleh melupakan tujuannya, mencari ruang bawah tanah dan menolong Cloud. Namun, tetap saja hal itu tidak mudah berhubung rumah ayahnya sangat luas bak istana. Kalau mau mudah sih dia bisa bertanya pada pelayan lain, tetapi bisa-bisa dia dicurigai.
"Hei kamu!"
Tubuh Tifa tiba-tiba menegang, siapa yang dipanggil? Dia?
"Hei kamu, kemari!"
Tifa membalikkan tubuhnya, dan dia melihat sosok seorang pria paruh baya yang juga mengenakan baju pelayan, wajahnya seperti marah. Merasa gugup, Tifa berjalan menghampiri pria itu dengan langkah sedikit tergopoh-gopoh.
"Apa-apaan penampilanmu ini?!" teriaknya, "tidak bisakah kau berpenampilan rapi sedikit?!"
"Ma ... maaf, tadi saya ja ... jatuh, jatuh saat mengurus bunga di halaman."
Prie itu menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya. "Kau pelayan baru, ya? Bagaimana mungkin terjatuh hanya karena mengurus bunga?"
Tifa hanya diam sambil menundukkan kepalanya, mulutnya komat-kamit mencoba untuk merangkai kalimat, sayangnya usahanya gagal.
"Sudahlah, kau cepat ke ruang pelayan dan ambil seragam baru di sana."
"Ruang ... pelayan?"
"Kau tidak tahu ruang pelayan di mana? Astaga, kau cukup naik tangga dan pergi ke ruangan sebelah kanan, lalu kau ambil seragam dari lemari."
Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian dia segera ke lantai dua sesuai instruksi. Oh ya, kalau tidak salah tangga itu dekat dengan toilet dimana dia mencuri baju, kalau begitu, dia harus buru-buru naik sebelum ada keributan. Untungnya, ruang pelayan mudah ditemukan, dan ruangan itu juga tengah kosong. Dengan gerakan cepat, Tifa membuka lemari, memilih seragam pelayan yang baru, berganti baju, dan kemudian keluar. Kali ini Tifa memilih desain baju pelayan dengan warna lain, dan untuk rambutnya, dia ganti dengan model kepang.
"Oke, sekarang aku harus ke ruang bawah tanah, entah dimana ruang bawah tanah."
Tifa kembali menuruni tangga, dan ketika dia sampai di bawah ternyata sedang ada ribut-ribut. Sosok seorang perempuan yang hanya berbalut handuk dari dada ke bawah tengah menangis merengek-rengek kepada beberapa pelayan lain, tidak terdengar jelas, tetapi dia seperti mengatakan kalau dia kehilangan seragamnya. Astaga, ternyata itu pelayan yang tadi! Tifa langsung buru-buru turun dan berjalan ke arah yang berlawanan sebelum dia dicurigai. Gawat, gawat, gawat, kata-kata itu terus terulang di dalam otaknya.
Kaki Tifa berjalan tanpa arah, dan tahu-tahu, dia sudah jauh sekali dari pelayan yang dia curi bajunya itu. Tifa menghembuskan napas lega, tetapi ... dia ada dimana sekarang? Ya ampun, lagi-lagi dia tersasar!
"Astaga, kenapa aku bodoh sekali, sih?!" kesalnya dalam hati.
Ruangan tempat dia berada ini lebih besar dari ruangan lain, ada dua tangga besar di sisi kanan dan kiri, di langit-langit tampak sebuah lampu gantung raksasa beredesain klasik. Tifa kembali mengamati seisi ruangan ini, di dinding seberang terdapat sebuah pintu dua pasang raksasa dengan ukiran naga , lalu di sisi kiri dan kanan ruangan juga terdapat pintu yang ukurannya lebih kecil, entah pintu apa itu. Tifa berjalan ke tengah-tengah ruangan, aneh, ruangan sebesar ini tapi suasananya sepi sekali. Sebenarnya apa yang sedang dikerjakan pelayan-pelayan itu? Mereka memang tampak sibuk daritadi, haya saja Tifa tidak tahu sedang sibuk apa dan mengapa.
"Istana emas yang sangat merepotkan," kata Tifa dalam hati. "Sekarang aku harus kemana? Kenapa rasanya sangat sulit hanya untuk menemukan ruang bawah tanah?"
Rasanya menyebalkan, dan memanfaatkan intuisinya, Tifa akhirnya berniat untuk mencoba satu persatu pintu itu. Dia memulai dari pintu sebelah kiri(astaga, dia serasa sedang bermain game tipe survival, dimana dia harus menjelajah satu persatu ruangan untuk mencari jalan keluar), ketika pintu dibuka, Tifa disambut oleh sebuah lorong yang berbentuk seperti sudut siku-siku, dimana lorong itu kemudian membelok ke arah kanan. Lorong ini dikelilingi oleh taman bunga lili, membuatnya terlihat sangat indah untuk dipandang. Tetapi Tifa buru-buru mengabaikan rasa kagumnya, dan kemudian dia berjalan menelusuri lorong itu. Lorongnya cukup panjang, dan meski masih agak jauh, tetapi Tifa dapat melihat kalau lorongnya berakhir di sebuah gedung berukuran sedang. Tifa mempercepat langkahnya, siapa tahu gedung itu terhubung dengan ruang bawah tanah.
Ketika Tifa hendak berbelok, dia dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Tifa sungguh kaget dan langkahnya langsung terhenti, jantungnya berdegup kencang, tiba-tiba saja rasa takut memenuhi dirinya. Apakah dia akan ketahuan?
Buru-buru dia menenangkan hatinya, dan kemudian Tifa kembali berjalan. Mengapa juga aku harus takut? Pikirnya dalam hati. Toh, dengan penampilannya yang sekarang ini, seharusnya tidak ada yang bisa menebak bahwa dia adalah Tifa Lockhart. Tifa merapikan seragamnya, Tifa kembali berjalan dengan penuh percaya diri. Mungkin selagi berjalan dia juga bisa menyiapkan alasan seandainya dia bertemu dengan pelayan lain, misalnya seperti 'oh, saya baru bekerja di sini' atau 'rumah ini sangat besar, jadi saya tersesat'. Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya, alasan itu simpel tapi sepertinya cukup bagus.
Pintu terbuka secara perlahan, dan Tifa sudah siap seandainya yang keluar dari balik pintu adalah kepala pelayan lain atau siapalah, tetapi ternyata dia salah.
Tifa sungguh kaget ketika melihat sosok seorang pria paruh baya berambut panjang yang tergopoh-gopoh berjalan, salah satu tangannya mengalirkan darah, wajahnya begitu pucat, dan hampir seluruh tubuhnya diperban. Melihatnya begitu tidak berdaya, Tifa langsung berlari secepat mungkin dan menghampiri pria itu. Beruntung, Tifa langsung menangkap pria itu sebelum dia terjatuh. Ya Tuhan, ketika Tifa bisa melihatnya secara langsung, keadaannya ternyata jauh lebih parah.
"Paman, ka—kamu kenapa?" tanya Tifa dengan panik.
"Aku ... aku harus menolong anakku."
"Apa?"
"Aku harus menolong anakku!" katanya, "sebelum semuanya terlambat, dia ... dia adalah satu-satunya putra yang kumiliki."
Putra?
"Paman, putra paman ada di sini?"
"Dia ... dia diculik, kalau aku tidak segera menyelamatkannya..."
"Paman, lukamu terlalu parah, jangan dipaksakan, bisa-bisa..."
Tifa berusaha menahan tangan pria itu, tetapi ternyata usahanya sia-sia. Tidak berdaya, akhirnya pria itu terjatuh.
"Paman! Astaga, bagaimana ini?"
"Biarkan ... biarkan aku pergi," katanya lagi, "Cloud..."
Kedua mata Tifa melebar ketika mendengar kata 'Cloud'.
"Cloud?"
"Anakku, putraku, aku harus menyelamatkannya. Aku harus menyelamatkannya!"
"Paman, aku ... aku tahu Cloud."
Pria itu berhenti memberontak, dan kemudian dia menoleh ke Tifa.
"Kau tahu anakku?"
Tifa menganggukkan kepalanya. "Dia ... dia adalah ... kakak kelasku. Aku dan dia juga dibawa diam-diam ke sini, dan aku juga sedang mencari dia. Tetapi sampai sekarang, aku masih belum menemukan ruangan tempat dia dikurung."
"Dia ... dia dikurung?"
"Setidaknya itulah yang kudengar," jawab Tifa. "Paman, namamu siapa?"
"Sephiroth."
"Sephi—hah?! Kau penulis terkenal itu?!" kata Tifa sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Pria bernama Sephiroth itu seperti tidak begitu peduli dengan reaksi Tifa, dia hanya terus berusaha bangun dan berjalan menyusuri lorong. Tifa sungguh merasa ngeri melihatnya, pendarahan di tangannya jadi semakin parah, kemungkinan besar itu adalah bekas infus yang dipaksa lepas.
"Paman, jangan seperti ini, pendarahanmu sangat parah, kalau tidak cepat-cepat diobati bisa-bisa jadi fatal."
Kali ini Sephiroth tidak menjawab.
"Begini saja," kata Tifa. "Aku akan mengantar paman ke ruangan paman kembali, dan aku akan mencari Cloud. Seandainya sudah ketemu, aku pasti akan membawa dia ke sini, lalu kita kabur bersama-sama."
"Tapi ... bagaimana caranya?" tanya Sephiroth.
"Paman tenang saja, aku akan berusaha sebisaku," jawab Tifa ambil tersenyum. "Aku akan berusaha untuk tidak mengulur banyak waktu."
Wajah Sephiroth terlihat agak ragu, tetapi pada akhirnya dia mengangguk dan menuruti perkataan Tifa. Perlahan, Tifa menggiring Sephiroth untuk kembali ke ruangannya, dia juga membaringkan Sephiroth di ranjangnya. Tetapi suasana kamar Sephiroth sungguh berantakan, meja dan kursi yang letaknya tidak beraturan, kasur yang bergeser, serta tabung infus yang tergeletak begitu saja di lantai. Agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi dokter atau perawat yang masuk ke sini, Tifa segera membereskan semuanya, minus tabung infus itu, karena—tentu saja—dia tidak bisa menyuntik. Tifa juga menemukan sepasang piyama pasien abru di bawah kasur dan menawarkan Sephiroth untuk membantunya berganti pakaian, karena piyama Sephiroth yang sekarang basah kuyup oleh keringat.
Setelah merasa semuanya sudah beres, Tifa segera menekan bel perawat.
"Aku akan segera kembali, paman percayalah padaku."
Sephiroth mengangguk. "Tapi ... kau tahu Cloud dikurung dimana?"
"Di ruang bawah tanah, tapi ... aku masih belum tahu ruang bawah tanah ada dimana."
"Ruang bawah tanah?" tanya Sephiroth. "Kau sudah mencari dimana saja?"
"Entahlah, rumah ini sangat luas, dan..."
"Carilah gudang."
Tifa mendadak menghentikan ucapannya.
"Aku memang belum pernah menjelajah rumah ini, tetapi sepertinya kau bisa mencari gudang," katanya lagi, "gudang biasanya terletak di luar rumah, dan ada yang membangun ruang bawah tanah di sana untuk melepas kecurigaan."
Mulut Tifa menganga. "Bagaimana paman bisa tahu semua itu?"
"Insting seorang novelis misteri," jawab Sephiroth sambil tersenyum. "Dan lagi, aku pernah melihat kasus serupa di berita televisi. Mungkin belum tentu seratus persen benar, tetapi tidak ada salahnya mencoba."
Tifa berpose ala orang berpikir. "Aku mengerti, aku akan mencari jalan keluar dari sini."
Tifa membungkukkan badannya dan segera keluar dari ruangan, aneh juga mengapa tidak ada perawat yang datang setelah Tifa memencet bel perawat tadi. Memang sih tempat ini bukan rumah sakit, tetapi harusnya mereka tetap cepat tanggap karena bagaimana pun juga ada orang yang tengah dirawat di sini. Tifa menggelengkan kepala dengan cepat sambil berpikir 'ah, sudahlah'. Usul dari Sephiroth ada benarnya juga, dan mumpung suasana masih sepi, dia harus mencari jalan keluar dari sini lalu mencari gudang. Jika Tifa ingat-ingat lagi, ada sepasang pintu besar di ruang besar tadi, sepertinya dia harus kembali ke sana lagi.
Dengan sedikit berlari, Tifa menyusuri lorong dan membuka pintu secara perlahan. Masih tidak ada orang di ruang besar itu, bagus, hal itu memudahkan Tifa untuk berpindah tempat. Tifa menarik pintu itu secara perlahan, untungnya pintu itu tidak terkunci, dan ... dugaannya benar! Pintu ini mengarah ke luar! Tifa segera bersyukur dalam hati dan berjalan keluar dengan kegirangan. Oke, tugasnya kali ini adalah mencari gudang, seandainya perkataan Sephiroth benar, seharusnya ada di sekitar sini.
"Ah, rasanya melelahkan sekali."
Tiba-tiba terdengar suara dari arah kiri, Tifa segera bersembunyi di balik salah satu pilar besar di dekat pintu. Sambil mengintip, Tifa melihat sosok dua orang pria bertubuh kekar yang tengah bercakap-cakap.
"Memang, tuan Liam memang tidak ada ampun kalau memberi tugas. Apa ada benda lain yang harus dibawa ke gudang?"
"Tidak ada, tenang saja, hanya saja tuan Liam sedang mengurus anak itu sampai sekarang."
Tifa mempertajam pendengarannya.
"Oh, anak laki-laki itu? Heh, entah apa yang sudah dilakukan anak itu sampai-sampai tuan Liam mengurungnya."
"Entahlah, tetapi dengar-dengar anak itu menggoda anak perempuan tuan, siapa juga yang tidak marah kalau anak perempuan mereka digoda pria asing, kan?"
Rasanya Tifa ingin sekali meninju mereka berdua, bicara seenaknya saja, laki-laki kok suka sekali bergosip.
Kedua pria itu masuk ke dalam ruangan, dan kini giliran Tifa untuk kembali melanjutkan pencarian. Halaman ini memang luas, tetapi Tifa hanya perlu berjalan ke arah pria tadi berasal, sehingga tidak begitu sulit. Tifa sungguh kagum dengan intuisi Sephiroth, padahal biasanya intuisi wanita adalah yang paling tepat, tetapi ini malah intuisi laki-laki yang membimbingnya sampai kemari. Tifa mengintip terlebih dulu, dan dia melihat ... sebuah gudang! Astaga, benar-benar sebuah gudang! Entah sudah berapa kali dia rasanya ingin berteriak kegirangan, tetapi tentu saja dia tidak bisa. Lalu bagaimana sekarang? Apakah dia harus masuk ke gudang itu sekarang? Tapi akan sangat berisiko jika ayahnya ada di sana. Bisa gawat kalau ketahuan. Namun di sisi lain, jika dia tidak segera ke sana bisa-bisa Cloud...
Di tengah kebimbangannya, pintu gudang tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok dua orang laki-laki (lagi). Tifa sungguh tidak mempercayai kedua matanya ketika melihat salah satu sosok yang tengah keluar.
Ayahnya.
Chapter ini sudah mau mendekati akhir, dan karena itulah saya mohon dukungannya yah. Mungkin akan memakan waktu cukup lama, tetapi saya mohon dukungannya ya. Maaf jika chapter ini kurang bagus, dan mohon read dan reviewnya. Terima kasih banyak.
