A/N : Saya rasa cuma satu kata yang bisa saya katakan, maaf. Begitu banyak tugas dan yang lainnya sampai-sampai saya tidak ada waktu untuk update fic. Untuk ke depan sepertinya butuh waktu sampai saya update lagi. Karena itulah, saya mohon kesabaran kalian, terutama untuk Cloti Lovers dan KEN, terima kasih karena kalian sudah bersabar. Sebenarnya sih saya ingin membalas review kalian, tapi karena kalian pakai guest mode, saya tentu saja tidak bisa apa-apa.
Tifa menoleh ke kiri dan ke kanan sembari mencari cara untuk bersembunyi, dan kedua matanya kemudian terfokus ke kebun yang ada di seberangnya, kebun itu terdiri dari akar tanaman yang tinggi, sehingga dia bersembunyi di sana. Tifa bergerak dengan cepat namun tidak menimbulkan banyak suara, untungnya, dia berhasil. Tifa agak bersandar pada tanaman itu dan mencoba menguping, tetapi Ayahnya hanya mengatakan sesuatu yang tidak penting, seperti mengenai persiapan untuk acara malam nanti. Tifa tidak begitu mengerti tentang acara itu, tetapi sepertinya yang dimaksud ayahnya adalah acara penyambutannya, seperti yang dikatakan ayahnya sewaktu masuk ke kamarnya, acara makan malam. Tifa mendengar suara langkah kaki mereka yang sudah semakin jauh, setelah memastikan kalau kondisi sudah aman, barulah Tifa mulai mengendap-endap menuju gudang.
Ternyata ayahnya dan anak buahnya adalah sosok yang ceroboh, karena pintu gudang dibiarkan tidak terkunci sehingga siapa saja bisa masuk, termasuk dirinya. Gudang ini cukup luas dengan barang-barang yang sedikit, debunya tebal, dan tidak ada lampu yang terpasang, penerangan dia dapatkan hanya dari cahaya matahari yang memasuki jendela. Tifa mencari-cari pintu ruang bawah tanah, dan langsung ketemu dalam waktu singkat, sebuah pintu mencurigakan berbentuk persegi. Pintu bawah tanah itu lagi-lagi tidak dikunci, payah, tetapi setidaknya itu mempermudahnya dalam melaksanakan rencana. Tifa membuka pintu itu dan dia langsung disambut oleh bau yang sangat menyengat, Tifa reflek menutup hidungnya. Lubang itu jauh lebih gelap, dan ada tangga yang menurun ke bawah. Tifa merapikan roknya sebelum menuruni tangga.
Tanpa diduga, tangga yang digunakannya untuk turun ini agak licin, ditambah dengan model sepatunya, Tifa harus lebih berhati-hati ketika menuruni tangga. Oh, Tifa tidak lupa menutup pintu bawah tanah itu kembali ketika dia mulai turun, dia tidak boleh ceroboh seperti ayahnya, dan dia juga tidak boleh terlalu lama di luar. Sekarang ayahnya masih mengira dia ada di kamar, tetapi jika ayahnya memeriksa kamarnya dan tidak menemukan dirinya, tentu saja itu gawat. Setidaknya dia harus bisa keluar dari sini sebelum waktu makan malam.
Sekitar lima menit kemudian, Tifa akhirnya sampai juga di dasar. Dengan pencahayaan remang-remang, Tifa dapat menebak bahwa tempat ini adalah selokan, pantas saja bau. Jalan di selokan ini hanya satu arah, sehingga Tifa tidak akan tersesat, namun suasana yang sepi serta tikus yang berlarian ke sana dan kemari membuat suasana menjadi menegangkan dan menakutkan. Tifa rasanya ingin teriak dan menangis, tetapi dia mau tidak mau harus bersabar. Dia harus keluar dari sini bersama Cloud dan Sephiroth, dan dia—tentu saja—tidak boleh dikalahkan dengan rasa takut. Tifa terus berjalan hingga dia akhirnya tiba di ujung, sebuah pintu tengah berdiri kokoh di depannya. Apakah ... Cloud ditahan di balik pintu ini.
Rasa takut dan ragu tiba-tiba memenuhi dirinya, dengan sedikit bergetar, Tifa menjulurkan tangan kanannya dan meraih kenop itu. Perlahan Tifa memutarnya dan membukanya, dan dia sungguh kaget melihat sosok seorang remaja pria yang tengah terkapar tidak berdaya di atas lantai, tubuhnya terikat di kursi, dan kedua matanya terpejam seperti menahan sakit. Rasa takut dan tegang itu hilang berganti dengan rasa panik, Tifa segera menghampiri Cloud dan melihat lukanya.
"Cloud, kau bisa mendengarku? Cloud?!"
Cloud perlahan membuka matanya. "Kau ... Tifa?"
"Astaganya, wajahmu berlebam. Apa yang mereka lakukan terhadapmu?" tanya Tifa sambil melepas tali yang mengikat tubuh Cloud.
"Aku ... tunggu, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Cloud balik. "Aku tahu kita berdua diculik, tetapi apa kau bisa sebebas itu berkeliaran sampai mencariku seperti ini?"
"Ceritanya panjang, tetapi aku juga disandera sepertimu, hanya saja dengan cara yang lebih halus," jawab Tifa. "Kau bisa berdiri?"
Cloud mengangguk, tetapi ternyata anggukannya tidak sama dengan kondisinya sekarang. Terlalu lama diikat membuat kondisinya lemah, sehingga Tifa harus menopangnya.
"Kita harus keluar dari sini," kata Cloud. "Kau tahu jalan keluarnya?"
"Aku tahu, tapi tidak bisa semudah itu."
Cloud menatap Tifa. "Mengapa? Ada banyak penjaga?"
"Salah satunya memang itu, tetapi yang lain adalah karena ayahmu ada di sini."
Cloud nyaris saja berteriak 'APA?!' seandainya Tifa tidak langsung meletakkan jari telunjuknya ke bibir sebagai ganti 'sst'. Sambil jalan, Tifa menjelaskan semuanya dengan singkat, padat, dan jelas. Cloud sembari mendengar sembari menganggukkan kepalanya. Sesekali dia juga bereaksi terhadap cerita Tifa dengan memaki. Cloud sungguh tidak menyangka bahwa ayah Tifa berbuat setega itu terhadap ayahnya.
"Em, kau bisa naik tangga sendiri?" tanya Tifa.
"Bisa, tenang saja, aku sudah tidak apa-apa sekarang."
Cloud melepaskan dirinya dari rangkulan Tifa dan kemudian dia mulai memanjat, gerakannya begitu cepat, tidak seperti orang yang barusan dihajar hingga tidak berdaya. Tifa segera memanjat ketika melihat Cloud yang sudah setengah jalan menuju ke atas, Cloud diam sejenak untuk memeriksa apakah ada orang atau tidak, setelah memastikan, barulah dia membuka pintu. Cloud menjulurkan tangannya untuk membantu Tifa keluar.
"Oke, sekarang kemana?" tanya Cloud.
"Kita ke tempat ayahmu dan kemudian kabur, jangan cemas, aku masih ingat jalannya."
"Lalu?"
"Kita lapor polisi."
Cloud sempat kaget, tetapi kemudian dia tersenyum. "Ide yang bagus."
Mereka berdua berlari keluar dari gudang dan masuk kembali ke dalam rumah. Seperti sebelumnya, suasana di dalam rumah nampak sepi, entah apa yang mereka lakukan. Tifa dan Cloud mengendap-endap dari satu tempat ke tempat lain, dan pada akhirnya mereka tiba di depan gedung dimana Sephiroth dirawat. Daerah ini juga tidak begitu diawasi, sehingga Tifa dan Cloud dapat dengan mudah masuk ke dalam. Sephiroth tengah terbaring di atas kasurnya, dan ketika dia melihat putranya muncul dari balik pintu yang terbuka, dia langsung terlihat gembira dan matanya berkaca-kaca. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih sakit, dia mencoba untuk bangun, namun langsung ditahan oleh Cloud yang memeluknya. Mereka berdua memeluk dengan erat dan menangis.
Cloud memang menduga kalau ayahnya tidak akan diperlakukan baik di sini, namun dia sungguh tidak menyangka bahwa kondisi ayahnya akan separah ini. Perban dimana-mana, berat tubuh yang menurun hanya dalam waktu singkat, Cloud sungguh tidak menyangka kalau ayahnya akan diperlakukan dengan sekejam ini. Ketika memeluk ayahnya, pelukan Cloud tiba-tiba menguat dan kedua tangannya mengepal dengan erat, hatinya mendidih, rasanya dia ingin sekali menghajar Liam, pria keparat yang sudah melakukan ini.
"Cloud, syukurlah ... syukurlah kau baik-baik saja," ucap Sephiroth di tengah tangisannya, lalu dia melepaskan pelukannya. "Apa kau terluka? Mereka tidak melakukan apa-apa padamu, kan?"
"Tou-san, aku tidak apa-apa. Tetapi yang penting, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau..." jawab Cloud. "Mereka sungguh keterlaluan!"
"Cloud, aku tidak apa-apa, beruntung ada gadis itu menolongku," kata Sephiroth sambil menunjuk.
Cloud menoleh ke arah jari Sephiroth menunjuk, dan tentu saja, dia melihat Tifa. Tifa hanya menunduk sambil malu-malu.
"Kita harus keluar secepatnya dari sini," kata Sephiroth setelahnya. "Tifa, apa kau menemukan jalan keluar dari sini?"
Tifa menganggukkan kepalanya. "Sewaktu aku mencari Cloud, aku menemukan gerbang keluar tidak jauh dari sana," jawab Tifa. "Kita bisa keluar dari sana."
"Benar, tetapi tidak langsung keluar."
Cloud dan Tifa menatap Sephiroth heran.
"Aku ada ide," jawab Sephiroth. "Tifa, apa tadi di luar ada orang?"
Tifa menggelengkan kepalanya.
"Bagus," gumam Sephiroth. "Sebenarnya aku tadi melihat telepon di meja ruang depan, kau bisa..."
"Menelpon polisi."
Sephiroth mengacungkan jempolnya, dan langsung saja Tifa keluar ruangan. Oh, memang aneh rasanya kenapa di tempat ini sering tidak ada orang, kesannya jadi mereka benar-benar tengah memeriksa sesuatu, tetapi tidak apa, hal itu justru memudahkannya bergerak. Sesuai yang dikatakan Sephiroth, memang ada telepon di meja ruang depan, telepon wireless berwarna hitam. Sedikit deg-deg an, Tifa meraih telepon itu—untungnya, telepon itu berfungsi—dan segera menelepon 110. Berhubung waktunya terbatas, Tifa hanya menjelaskan inti kejadiannya saja pada polisi, dan kemudian segera kembali lagi. Tetapi sebelum Tifa masuk lagi ke ruangan Sephiroth, dia melihat kursi roda yang tengah menganggur tidak jauh dari posisinya berdiri. Karena menggendong Sephiroth sangat tidak mudah, pakai kursi roda pasti lebih praktis.
"Kau sudah kemba... oh?"
"Untuk kabur, pakai ini lebih praktis."
Sephiroth tersenyum. "Yah, kau memang tidak salah."
Cloud memindahkan ayahnya dengan hati-hati ke kursi roda setelah melepaskan selang infus, lalu mereka segera keluar. Cloud dan Tifa sedikit berlari, namun tetap hati-hati agar kursi rodanya tidak jatuh. Tifa bergerak lebih dulu sambil memberitahu jalan. Namun ketika dia hendak membuka pintu besar yang ada di hadapan mereka, pintu itu mendadak tidak bisa dibuka. Tifa dan Cloud merasa panik, padahal tadi mereka bisa dengan mudahnya keluar masuk, tetapi kenapa pintunya tidak bergeming sama sekali kali ini? Cloud menyusul membantu Tifa membuka pintu.
"Percuma."
Suara berat yang tiba-tiba muncul itu mengagetkan mereka bertiga, dan pemilik suara itu adalah ... Liam. Di samping Liam ada seorang wanita lain, sementara di belakangnya ada sekitar sepuluh bodyguard bertubuh besar. Melihat mereka, Cloud dan Tifa mengeluarkan suara di saat bersamaan.
"Tou-san," kata Tifa.
"Ibu," kata Cloud.
Setelahnya, Cloud dan Tifa langsung bertatapan dengan pandangan tidak percaya. Lagi-lagi, mereka berbicara di saat bersamaan.
"Kau anaknya?"
"Kau tidak ada di ruanganmu selagi aku dan seluruh pelayan tengah mempersiapkan pesta penyambutanmu, dan benar saja, kau menyelamatkan mereka," kata Liam, yang setelahnya mengeluarkan sesuatu dari belakang, pistol. "Tapi usahamu percuma."
Cloud berjalan melindungi Tifa, sementara Sephiroth menggerakkan kursi rodanya mendekati Cloud dan Tifa.
"Tenang, aku tidak akan menembak anakku sendiri," tambah Liam. "Yang akan kutembak adalah..."
"Jangan! Jangan tembak Cloud!" teriak Tifa yang langsung mendorong mundur Cloud. "Tou-san, kumohon jangan tembak dia!"
"Aku memang tidak akan menembaknya," kata Liam. "Karena yang akan kutembak adalah dia."
Suara DOR tiba-tiba terdengar begitu keras dan membuat Cloud serta Tifa mengangkat tangannya untuk melindungi diri. Tetapi seperti kata Liam, dia tidak menembak Cloud atau Tifa, yang dia tembak adalah...
"Tou-san!" teriak Cloud, yang menghampiri Sephiroth yang berlumuran darah di perutnya.
Update ketika persiapan UTS, maaf ya jika kurang begitu bagus atau kurang banyak, saya sudah berusaha sebaik mungkin. Mohon read dan review ya, dan mohon kesabaran untuk chapter berikutnya. Terima kasih!
