A/N : Akhirnya cerita ini memasuki akhir, yep, chapter 25 ini adalah chapter terakhir. Akhir kata, saya mau mengucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah mau setia dan bersabar untuk membaca cerita ini. Maaf jika saya update-nya lama, karena ada banyak hal yang harus saya kerjakan, dan ada saat-saat saya mengalami writer block, sehingga saya sering tidak update untuk beberapa waktu, namun saya sudah berusaha memberikan yang terbaik. Silahkan kalian menikmati chapter terakhir ini, dan mohon ditunggu karya-karya saya yang lain, terima kasih banyak! Jangan lupa untuk baca dan memberi review!

Peluru itu menembus tubuh Sephiroth dan menyebabkan luka yang parah, Sephiroth yang tertembak begitu syok dan langsung tidak sadarkan diri, Tifa berteriak sambil menutup wajahnya, sementara Cloud terpaku sesaat sampai akhirnya dia berlari menghampiri ayahnya. Belum puas, Liam kembali meluncurkan timah panas kedua, namun bukan Sephiroth yang jadi sasarannya, melainkan Cloud. Timah panas itu mendarat di pundak kanan Cloud dan membuat Cloud terpental, untuk ke sekian kalinya, Tifa berteriak. Dengan enak dan tenang, Liam sudah membuat dua orang terkapar tidak berdaya. Liam sempat mengarahkan pistolnya ke Tifa, namun tentu saja, dia tidak menembak putri semata wayangnya itu. Dia hanya tersenyum, dan tanpa suara memerintahkan anak buahnya untuk membawa Tifa. Tifa yang masih syok tidak memberontak.

"Maaf Anaby," kata Liam.

"Tidak apa," jawab Anagaby. "Yang penting kau tidak melukai Cloud di bagian penting."

Liam menganggukkan kepalanya, dan kemudian dia menyuruh anak buahnya untuk membawa Tifa ke hadapannya.

"Tidak kusangka kalau kau begitu lihai, Tifa. Sampai-sampai kau bisa mengelabui pelayan-pelayanku dalam waktu lama."

Tifa tidak menjawab.

"Tetapi sayangnya, semua itu masih belum cukup," kata Liam lagi. "Sekarang lebih baik kau diam di kamarmu, tunggu sampai waktu makan malam tiba."

Tatapan sang ayah membuatnya takut, tetapi kali ini dia memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

"Tidak mau," katanya singkat. "Aku mau pulang ... bersama Cloud."

Liam menyipitkan matanya. "Jangan bicara begitu, aku hanya ingin memberi yang terbaik untukmu."

Mendengar itu, rasa takut dalam diri Tifa lenyap dan darahnya mendidih, dan entah darimana, dia memiliki tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman keras bodyguard. Dia mengangkat tangan kanannya dan bermaksud untuk menampar ayahnya, tetapi sayang, gerakan tangannya masih bisa ditangkap oleh Liam. Ketika Tifa hendak menggunakan sebelah tangannya lagi, usahanya tetap gagal, dan akhirnya Tifa ditangkap lagi boleh bodyguard.

"Ternyata kau bisa jadi durhaka, ya?" tanya Liam sambil tersenyum.

"Kau tidak pantas berkata begitu setelah menembak 2 orang!"

"Ya ya," jawab Liam santai. "Ah, agar dia tidak kabur lagi, tolong bius dia."

Mata Tifa melebar ketika mendengar kata 'bius', dan belum sempat berkata apa-apa, mulutnya sudah disumpal dengan sebuah saputangan. Tidak sampai 15 menit, kesadarannya perlahan-lahan menghilang dan pada akhirnya dia tidak sadarkan diri. Setelah memastikan Tifa sudah benar-benar tertidur pulas, bodyguard itu menggendong Tifa menuju ke kamarnya.

"Yang lain, urus mereka berdua."

Sisa bodyguard yang lain mengangkat tubuh Cloud dan Sephiroth yang tengah terluka parah, Liam menyuruh bodyguard-nya untuk membawa mereka kembali ke perawatan, namun dengan 'tambahan', yaitu tubuh mereka harus diikat di kasur. Tetapi Tifa yang kesadarannya sudah mulai lenyap, tentu saja tidak tahu mereka akan dibawa kemana. Rasanya Tifa ingin sekali melepaskan diri dan menolong mereka, tetapi pengaruh obat bius yang begitu kuat membuatnya kehilangan tenaga. Pada akhirnya, Tifa hanya bisa menangis dalam diam, sambil berjanji dalam hati bahwa dia akan menolong mereka berdua.

Sementara Anagaby, dia seperti tidak ada ekspresi. Melihat putra semata wayang serta mantan suaminya ditembak, reaksinya hanya satu, diam. Dia tidak protes, tidak marah, menangis pun tidak. Ketika Liam memeluknya dari belakang, Anagaby malah tersenyum dan membalas pelukan Liam. Liam seperti membisikkan sesuatu ke telinga istrinya, dan kemudian mereka berjalan meninggalkan ruangan, membiarkan para pelayan lanjut berbenah dan membersihkan noda darah di lantai.

"Hei, kira-kira kapan anakmu bangun?" tanya Anagaby. "Kau tidak memberikan dosis yang besar, kan?"

Liam tersenyum. "Obat itu tidak akan terlalu mempengaruhi kesadarannya, seharusnya dia hanya tertidur selama dua jam."

"Hoo..." jawab Anagaby. "Pesta kali ini, apa kau akan mengundang mantan istrimu?"

Mendengar pertanyaan itu, Liam mendadak mengerutkan alisnya, tapi bibirnya tetap tersenyum. "Kenapa kau mendadak bertanya begitu?"

"Tidak ada apa-apa, hanya saja, aku mengundang mantan suamiku, bukankah akan seimbang kalau kau juga mengundang mantan istrimu."

Liam tampak berpikir sejenak, lalu dengan entengnya dia berkata. "Tidak."

"Tidak?"

"Iya, tidak. Aku tidak akan mengundang Evelyn. Dia sudah sangat membenciku sampai-sampai tidak ingin melihatku lagi."

Seolah sudah puas dengan jawaban Liam, Anagaby hanya mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Mereka berdua terus berjalan ke kamar, bersiap-siap menghadiri pesta besar yang akan diadakan Liam nanti.

...

Tifa bermimpi.

Di dalam mimpi itu gelap, namun Tifa tetap dapat melihat dirinya. Dia seperti tengah berada di sebuah teater luas yang tidak ada bangkunya, di depannya terdapat layar besar, dan di layar besar itu adalah...

Kenangan-kenangannya.

Kedua mata Tifa melotot, entah sudah berapa lama sejak dia bermimpi, dan kali ini, dia bermimpi mengenai keluarganya saat masih utuh. Tifa masih berumur 6 tahun, dan jika dia ingat-ingat lagi, ini adalah pemandangan ketika mereka sekeluarga tengah berpiknik ke sebuah taman. Mereka bertiga tampak begitu bahagia, senyum selalu terpancar di wajah mereka bertiga. Tifa tidak begitu ingat dengan kata-kata yang mereka ucapkan, tetapi mereka bertiga terus bersenda gurau sambil bercerita hal lain yang menyenangkan. Selain bercerita, mereka juga makan bekal bersama, bermain air di sungai dekat sana sampai-sampai Tifa tidak sengaja terpeleset. Untungnya, ayahnya sempat menangkapnya sebelum Tifa terbawa arus. Kejadian itu sempat membuat Tifa trauma akan sungai selama beberapa saat.

Mimpi Tifa kembali berubah, kali ini adalah ketika dia diantar ke sekolah oleh ayahnya. Sebenarnya ayahnya harus pergi bekerja, tetapi untuk kali ini, dia menyempatkan diri untuk mengantar Tifa yang saat itu duduk di kelas 4 SD. Liam bilang, dia ingin sekali melihat Tifa yang tengah menggendong ransel kecilnya berlari ke dalam sekolah sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Tidak lupa, Liam juga mencium kening Tifa lebih dulu sambil berkata 'selamat belajar', 'jangan malas', 'jangan pilih-pilih makanan', dan sebagainya. Tidak lama setelahnya, Liam pun kembali ke mobil untuk berangkat kerja. Saat itu, Liam masih belum sesukses sekarang, dan Liam adalah salah satu pria yang bisa dibilang sangat pekerja keras. Keadaan keluarga yang belum begitu baik, ditambah dengan mimpi Liam untuk membeli rumah yanng lebih besar, membuat Liam selalu seperti itu.

Dari mengantar ke sekolah, mimpi Tifa berubah lagi ke saat Liam mendengarkan cerita Tifa mengerjakan PR, saat itu Tifa sudah duduk di kelas 2 SMP, sudah menjadi gadis. Karena sudah beranjak remaja, Tifa menceritakan Liam mengenai pengalaman pertamanya jatuh cinta, waktu itu nama laki-laki yang disukai Tifa adalah Rufus, Rufus memiliki perawakan tinggi dan wajah yang tampan, ahli olahraga, dan memiliki otak yang pandai. Sebenarnya sih tidak cuma Tifa, tetapi hampir semua murid perempuan di sekolahnya menyukai Rufus. Liam, yang mendengar alasan-alasan Tifa menyukai Rufus, hanya bisa tersenyum dan terus memberikan nasehat-nasehat akan hubungan percintaan. Rasa suka Tifa pada Rufus tidak bertahan lama, karena toh, itu hanya cinta monyet. Rufus juga dikenal suka gonta-ganti pacar, ada untungnya juga Tifa tidak memacari pria playboy seperti dia.

Entah apa maksud dari mimpi ini, tetapi pemandangan yang lain muncul kembali, kali ini mengenai Tifa yang baru saja lulus SMP. Tifa yang saat itu mendapat nilai tertinggi dan memberikan pidato di acara kelulusan. Liam dan Evelyn yang saat itu datang tidak berhenti menangis bahagia. Setelah turun dari panggung, Tifa dan Liam terus memeluk Tifa dan berbisik bahwa mereka sangat bangga. Ah, momen itu sungguh momen yang membahagiakan. Ketika mereka masih begitu kompak, masih bersama-sama, dan saling mencintai.

Namun, semua itu berubah tidak lama setelahnya.

Sekitar beberapa bulan kemudian, karir Liam ikut sukses. Liam yang naik pangkat menerima kenaikan gaji yang besar. Dengan gajinya yang sekarang, Liam bahkan bisa membeli rumah dan mobil baru dalam waktu singkat. Namun, kenaikan pangkat itu juga membuat kesibukan Liam bertambah. Awalnya sih tidak masalah, tetapi lama kelamaan, 'efek samping' dari kesuksesan Liam mulai terasa. Mulai dari jarang pulang ke rumah, sampai ke mabuk minuman keras, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Liam sebelumnya. Rumah mewah yang seharusnya membahagiakan, malah terasa begitu menyiksa bagi Tifa. Liam yang lembut dan baik hati sudah tidak ada lagi, yang ada hanya Liam yang sudah berubah menjadi sosok yang kasar dan ambisius. Entah sudah berapa kali ibunya dipukul dan dimaki oleh ayahnya, hingga akhirnya mereka bercerai.

Sebenarnya, meski Tifa sangat membenci ayahnya, tetapi dia selalu merasa ingin tahu mengapa ayahnya bisa jadi seperti itu. Dia ingin sekali tahu, apakah masih ada rasa cinta yang tersisa di dalam hati ayahnya, cinta terhadap ibunya, cinta terhadap dirinya. Apakah semua itu masih tersisa? Memikirkan itu membuat air mata Tifa menetes, menetes karena dia sudah tidak memiliki keluarga yang utuh lagi karena satu hal, uang.

...

Mimpi itu berakhir, dan Tifa perlahan membuka matanya. Tifa tidak begitu ingat kejadian setelah dia dibius, tetapi Tifa rasa dia digendong kembali ke kamarnya. Tifa mengumpat di dalam hatinya, selanjutnya dia pasti harus mengunjungi pesta yang telah diatur ayahnya. Penjagaan juga pasti akan diperketat, sehingga dia tidak bisa kabur lagi. Namun, ada yang aneh, mengapa lampu, serta langit-langitnya menjadi berbeda? Mengapa langit-langit kamarnya yang sebelumnya dicat berwarna-warni, kini menjadi warna putih?

"Tifa?"

Suara ini, Tifa mengenal suara ini, tapi ... bagaimana bisa?

"Tifa, kau sudah sadar?"

"Sepertinya begitu."

Tifa tidak mengenal suara pria yang muncul setelahnya, tetapi suara yang tadi...

"...ibu?" bisik Tifa.

"Tifa, Tifa! Oh, syukurlah kau sudah sadar!" kata Evelyn sambil memeluk Tifa. "Ibu sangat khawatir karena kamu tidak pulang, dan ternyata..."

"I ... ibu, tunggu sebentar, kenapa ibu bisa tahu?" tanya Tifa sambil membalas pelukan ibunya.

"Polisi yang ada di samping ibu yang menelepon, dan dia menceritakan semuanya."

Kepala Tifa menoleh, dan dia melihat seorang pria tinggi dengan rambut panjang warna hitam, berkulit putih, matanya tajam, dan memakai seragam polisi yang didominasi oleh warna hitam. Dia memberi hormat terlebih dulu sebelum memperkenalkan dirinya.

"Selamat malam, nama saya Tseng, dan saya adalah inspektur kepolisian daerah ini," ucapnya, "sekitar jam 3 sore, kantor kami menerima panggilan dari seseorang bernama Tifa Lockhart, dan setelah melakukan beberapa pemeriksaan serta persiapan, barulah kami dapat bergerak."

Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kami melakukan operasi sekitar 1 jam setelahnya," ucap Tseng. "Dari sana, kami berhasil menangkap tersangka utama, Liam Lockhart, dan juga seorang wanita bernama Anagaby. Mereka telah ditahan atas tuduhan penculikan dan penganiayaan. Keduanya ditangkap tepat sebelum pesta dimulai."

Flashback

Rumah Liam sudah dihias dengan begitu mewah, hiasan-hiasan bergantung dimana-mana, makanan-makanan enak nan mewah berjejer dengan begitu rapi sambil menyembulkan uap serta wangi yang sedap. Tidak lupa, Liam juga menyewa jasa sebuah grup orkes musik, meminta mereka untuk memainkan musik klasik. Ruangan makan ini terasa begitu hebat, tidak kalah dengan hotel bintang lima atau sejenisnya. Liam dan Anagaby juga tampak sudah bersiap-siap, Liam mengenakan sebuah tuksedo berwarna hitam, sementara Anagaby mengenakan gaun tanpa lengan berwarna biru gelap, gaun itu begitu pas di tubuhnya, memperlihatkan keindahan lekuk tubuh Anagaby.

Namun, di balik pesta yang meriah itu, terdapat beberapa mobil polisi yang diam-diam tengah mengawasi. Masing-masing mobil diisi oleh dua sampai tiga orang polisi, sementara belasan anggota polisi berseragam serba hitam tengah mengawasi dari sisi samping rumah, dipimpin oleh Tseng. Selain penutup kepala, mereka juga membawa senapan dan bom asap. Tidak lupa, mereka juga sudah menumbangkan penjaga di depan terlebih dulu. Mereka berbadan besar, tetapi payah dalam skill, tidak bisa beladiri sama sekali, hanya bisa pamer badan. Tseng hanya perlu melakukan sedikit teknik karate dan dua buah suntikan berisi obat bius.

Sampai sekarang, Tseng beserta anak-anak buahnya masih berdiri di samping pintu belakang rumah Liam, mungkin sudah sekitar setengah jam mereka semua berdiri terus. Rasa tegang dan gugup memenuhi hati mereka, sambil bertanya-tanya dalam hati, kapan operasi ini harus dimulai?

"Inspektur, apa kita tidak masuk saja sekarang?" tanya salah satu polisi.

"Nanti," jawab Tseng. "Ah ya, apa kau yakin orang yang menelepon berasal dari rumah ini?"

"Sangat yakin, Inspektur."

"Lalu ... kau sudah tahu dimana lokasi taget kita?"

"Ya, Inspektur. Target tengah berada di ruang tengah, saat ini perjamuan besar tengah diadakan."

Tseng menganggukkan kepalanya. "Beritahu aku sekali lagi informasi mengenai target kita kali ini."

"Baik, target bernama Liam Lockhart, berusia 39 tahun, dan merupakan seorang pengusaha terkenal dengan kekayaan berlimpah, hampir menyentuh 500 milyar Gil. Belum lagi asetnya yang..."

"Tunggu dulu, seorang kaya seperti dia menculik?"

"Sebenarnya kami sempat bingung untuk menyebut apakah ini penculikan atau bukan," lanjut sang polisi. "Karena yang menelepon kami adalah putri dari Liam sendiri, yang bernama Tifa Lockhart."

Mendengar itu, Tseng ingin bereaksi dengan berkata 'apa?!' dengan suara keras, tetapi alih-alih begitu, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia teringat momen ketika ibunya tengah menonton drama seri keluarga di televisi, episode hari itu klise sekali (maksudnya, klise dalam adegan drama seri kebanyakan), yaitu satu keluarga yang orangtuanya bercerai, lalu masing-masing pihak berusaha untuk memperebutkan hak asuh anak, tidak peduli bagaimana caranya. Karena sang ibu adalah penonton drama seri 'garis keras', ibunya sering menunjukkan berbagai macam reaksi, dari berbicara sendiri sampai marah-marah ke televisi. Lucu memang, tetapi Tseng hanya bisa melihat ibunya sambil geleng-geleng kepala. Padahal menurutnya, konflik seperti itu tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi. Namun, kasus hari ini seolah membuktikan kalau drama seri itu ada benarnya juga. Tseng berpikir sial, masa iya aku harus mulai menonton drama seri untuk referensi kasus? Tidak mungkin, kan?

Menggelengkan kepalanya lagi, Tseng kembali mencoba mengintip, dan pesta sepertinya masih belum mulai juga. Pelayan-pelayan masih membawakan makanan, dan dilihat dari jumlah makanan yang berada di prasmanan, sepertinya akan ada banyak tamu yang datang. Kalau dugaannya benar, itu berarti Tseng harus menyelesaikan operasi ini secepatnya, bisa repot kalau dia menjalakan misi ketika ruangan sudah dipenuhi orang-orang.

"Bagaimana, Inspektur?"

Tseng menganggukkan kepalanya. "Kita masuk sekarang, dan suruh tim lain untuk masuk dari pintu yang berbeda, perintahkan mereka untuk mencari dan menyelamatkan korban."

Tseng mulai beraksi, dengan semacam kawat, dia membongkar kunci pintu belakang dengan mudah dan langsung masuk. Pintu belakang ini ternyata terhubung dengan dapur raksasa, dan ada banyak sekali koki yang tengah memasak. Koki-koki itu terus memasak sampai ketika mereka melihat Tseng dan rombongannya yang masuk, mereka kaget dan berteriak, tetapi sebelum koki-koki itu berhamburan keluar, Tseng dan rombongannya sudah bergerak cepat untuk menahan mereka. Koki-koki itu mereka tahan agar tidak mempersulit operasi penangkapan mereka. Setelah memberikan penjelasan singkat, Tseng dan rombongannya berjalan perlahan ke arah pintu dan menguping terlebih dulu. Tersangka tengah asyik mengobrol dan menyuruh para pelayannya, bagus. Setelah menunggu sekitar 5 menit, barulah Tseng serta rombongannya keluar dan beraksi. Pintu yang terbuka dengan keras membuat Liam serta Anagaby kaget, dan mereka lebih kaget lagi ketika melihat rombongan polisi bersenjata memasuki rumah.

"Apa-apaa..."

"Liam Lockhart," sela Tseng. "Kau ditangkap atas tuduhan penculikan dan penyiksaan, dengan hukuman minimal 15 tahun penjara dan denda sebesar 500 juta Gil."

"Tunggu, apa-apaan itu?!" kata Liam. "Aku sama sekali tidak mengerti, kalian seenaknya masuk ke rumahku dan menuduhku macam-macam?"

"Barusan kami menerima telepon dari anakmu, dan dia yang melaporkan semua ini."

"Dan kalian hanya bergerak berdasarkan bukti itu?! Atas dasar apa kalian mau menangkapku?!"

Mendengar itu, Tseng mengangkat bahunya. Lalu, dia mengeluarkan walkie-talkie miliknya sambil mengeraskan suaranya hingga ke volume maksimal.

"Tim 2, apa yang kalian temukan di sana?" tanya Tseng santai.

"Siap, Inspektur! Kami menemukan seorang gadis yang tengah dibius dan tertidur di kamarnya!"

"Apa apa lagi?"

"Ya, ada seorang remaja laki-laki yang mengalami luka tembak, serta pria paruh baya yang mengalami luka yang sama. Kami juga menemukan sebuah pistol yang dibuang di sekitar sini, kami juga berhasil menemukan sidik jari di sana."

Tseng tersenyum. "Bagus, lanjutkan pekerjaan kalian. Segera bawa korban ke rumah sakit terdekat, jangan sampai terlambat!"

"Siap!"

Komunikasi lewat walkie-talkie berakhir sampai di sana.

"Inilah buktinya," kata Tseng.

"Tu—tunggu!"

"Liam Lockhart," kata Tseng lagi. "Kau ditangkap."

End of flashback

"Begitulah ceritanya."

Tifa menganggukkan kepalanya. "Lalu, sekarang ayahku dimana?"

"Liam dan Anagaby kami tahan di penjara sementara, mereka bilang akan memanggil pengacara untuk menemaninya saat persidangan nanti."

Lagi-lagi Tifa menganggukkan kepalanya. Ayahnya akan masuk penjara, aneh, padahal selama ini Tifa selalu membenci ayahnya, seharusnya dia senang mendengar ayahnya akan dipenjara. Tetapi entah mengapa, hati Tifa malah merasa sedih. Membayangkan ayahnya akan masuk penjara, lalu hidup bersama tahanan-tahanan lain, makan makanan yang disediakan di sana, membayangkan semua itu membuat hati Tifa tiba-tiba merasa cemas. Apakah ayahnya bisa menyesuaikan diri di sana? Bagi ayahnya yang selama ini hidup dalam kemewahan, sepertinya hampir mustahil.

Namun, Tifa juga berharap ayahnya bisa introspeksi diri dengan hidup di penjara. Semoga saja ayahnya bisa sadar bahwa uang bukanlah segalanya, dan uang juga-lah yang menyebabkan keluarga ini hancur. Semoga ayahnya juga sadar bahwa menembak orang sembarangan juga bukan hal yang patut.

"Ah, Cloud! Inspektur Tseng, bagaimana dengan Cloud?!" kata Tifa yang mendadak panik.

"Cloud?" Tseng bertanya saling memiringkan kepalanya. "Ah, maksudmu anak berambut pirang itu?"

"Iya, dan ayahnya! Bagaimana dengan mereka?!"

"Kalau itu..."

Tifa dan Evelyn mendengarkan penjelasan Tseng. Katanya, anggota tim 2 menemukan Cloud dan Sephiroth dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Mereka berdua diikat, dan luka mereka hanya diobati dengan seadanya, padahal pendarahan mereka begitu parah. Cloud dan Sephiroth dikurung di dalam gudang, dan gudang itu dijaga lumayan ketat oleh pengawal pribadi Liam. Tidak lama setelah mengamankan pengawal-pengawal itu, tim 2 segera membawa Cloud dan Sephiroth ke rumah sakit, terutama Sephiroth, yang pendarahannya jauh lebih parah.

Setibanya di rumah sakit, Cloud dan Sephiroth segera dibawa ke ruang operasi. Berhubung tidak ada sanak saudara lain, operasi mereka ditunggu oleh personil polisi yang lain. Operasi berlangsung di ruangan yang sama, dan sekitar 3 jam kemudian, seorang dokter keluar untuk memberi kabar. Dokter itu berkata, luka Cloud tidak begitu parah, dan mereka berhasil mengangkat peluru yang bersarang di pundaknya. Meski untuk sementara lengan Cloud tidak boleh terlalu sering digerakkan, tetapi selama Cloud menuruti nasehat dokter untuk istirahat dan terapi, bahu Cloud pasti bisa sembuh.

Sementara Sephiroth, dokter sangat kaget ketika pertama kali melihat kondisi tubuhnya. Selain ada patah tulang, luka tembak, memar, Sephiroth juga mengalami pendarahan yang sangat parah. Ruang operasi sempat panik karena persediaan golongan darah yang sama dengan Sephiroth habis, untungnya, ada personil polisi lain yang memiliki golongan darah sama dengan Sephiroth. Selesai operasi, Sephiroth harus dirawat lebih lama dari Cloud dan juga harus rawat jalan. Kondisi Sephiroth juga masih sangat lemah sehingga polisi tidak bisa meminta keterangan darinya.

"Tapi, mereka baik-baik saja, kan?" tanya Tifa.

"Iya, Anda tenang saja."

Tifa menghembuskan napas lega. "Lalu, mereka dirawat dimana?"

"Cloud dirawat di ruang 405, kalau Sephiroth di sebelahnya, ada apa?"

Tifa mencoba untuk bangun. "Maaf, bisa ... bisa bawa aku ke sana?"

Tseng dan Evelyn bertatap mata sesaat, lalu kembali menatap Tifa dengan bingung.

"Aku ... ingin bicara dengan Cloud."

Tifa mengira idenya ini akan ditentang, dan ternyata ... tidak. Sesudah mencarikan kursi roda, Tifa, Evelyn, dan Tseng berjalan menuju kamar Cloud dan Sephiroth. Tidak butuh waktu lama, dengan lift dan berjalan sebentar, hanya butuh waktu 10 menit sampai akhirnya mereka sampai. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar Cloud, dan Cloud ternyata Cloud tengah makan. Dia terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Tifa dan yang lainnya.

"Maaf, bisakah tinggalkan kami berdua?"

Evelyn dan Tseng lagi-lagi tidak menolak. Mereka berdua berjalan keluar dan berjalan menuju kamar Sephiroth.

Kini di dalam hanya ada Tifa dan Cloud. Suasana kamar agak canggung, sampai Tifa akhirnya memulai pembicaraan.

"Maafkan aku," katanya.

"Apa?"

"Aku bilang, maafkan aku."

Cloud menyipitkan matanya. "Kau tidak perlu minta maaf."

"Tapi ... itu semua adalah ulah ayahku."

"Ayahmu adalah ayahmu, kau adalah kau. Aku sama sekali tidak pernah menyalahkanmu."

Tifa menggelengkan kepalanya, dan kedua matanya tiba-tiba berair. "Tapi ... dia tetap ayahku. Entah mengapa, aku ... aku tetap merasa aku harus minta maaf padamu. Ayahku ... dia ... dia menembak kalian, apa kau tahu bagaimana perasaanku saat ... saat itu?"

Air mata Tifa akhirnya tumpah, membuat Cloud tidak bisa berkata apa-apa.

"Cloud, aku ... aku sungguh-sungguh minta maaf."

Tifa menutup kedua mukanya, berusaha untuk meredam isak tangisnya. Namun, Cloud malah menggenggam kedua tangan Tifa, pelan-pelan menariknya agar ia bisa melihat kembali wajah Tifa.

"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu," kata Cloud. "Malah ... aku merasa sangat tidak berguna, karena tidak bisa melindungimu."

Tifa tidak menjawab.

"Bagiku, kau adalah gadis yang amat sangat berharga dalam hidupku. Kau adalah wanita pertama yang membuatku berubah drastis. Hampir setiap saat aku memikirkanmu, dan ketika kita tidak bertemu, rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang membuatku merasa rindu sekali padamu. Lalu ketika melihatmu dilukai oleh orang lain, rasanya ... amarah langsung memenuhi diriku."

"...Cloud? Apa ... apa maksudmu?"

"Awalnya aku juga tidak mengerti artinya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya aku sadar apa arti dari perasaan ini."

Cloud melepas tangan Tifa, dan kali ini dia memindahkan kedua tangannya ke ajah Tifa.

"Aku ... ada yang ingin kukatakan padamu."

Entah mengapa, jantung Tifa berdegup kencang.

"Tifa, aku..." Cloud berkali-kali menundukkan wajahnya, sampai akhirnya dia memberanikan diri menatap Tifa, lalu berkata, "aku mencintaimu."

Seperti mendadak diberikan sebuah berlian, hati Tifa begitu berbunga-bunga ketika mendengar pengakuan itu. Tifa melepaskan diri dari genggaman Cloud, dan kemudian dia memeluknya begitu erat. Tetapi sepertinya Tifa memeluknya terlalu keras, sampai Cloud menggumamkan kata 'aw'. Tifa lupa kalau bahu Cloud terluka.

"Ma ... maaf!"

"Tidak apa, tapi ... kenapa?"

"Bukan apa-apa, aku hanya ... senang. Terlalu senang untuk mendengarnya."

Cloud tersenyum. "Jadi?"

"Aku..." kata Tifa sambil menggenggam kemeja Cloud. "aku juga mencintaimu, Cloud."

Kali ini senyum Cloud berkembang begitu lebar, dia balas memeluk Tifa, dan tangan kanannya kemudian mendongakkan wajah Tifa sehingga kini mereka saling bertatapan. Cloud mendekatkan wajahnya ke wajah Tifa, perlahan-lahan namun pasti, bibir mereka akhirnya bertemu. Sambil di temani oleh cahaya bintang di luar, mereka terus berciuman, seolah merasa bahwa dunia dan waktu ini hanyalah milik mereka berdua.