Aichi menggeliat tidak nyaman setelah cahaya mentari pagi mulai menembus kamarnya, membuat suhu di kamarnya menghangat. Anehnya, ia sulit sekali bergerak saat itu. Rasanya seperti sedang dililit oleh sesuatu yang hangat.
Ketika matanya melirik ke samping, kesadarannya langsung pulih seketika.
"GYAAAAAAAAA!"
NEW FAMILY? OR NEW LOVE?
Cardfight! Vanguard © Bushiroad, etc etc
This fic © me a.k.a Urihana
Warning: AU, (some) OC, OOC, typo(s), delusi berlebihan, penistaan karakter, dll
Pair: Ren - Aichi - Kai
Tidak ada keuntungan materi dalam pembuatan fic ini. Kecuali keuntungan asupan untuk authornya yang sudah kehilangan kewarasan.
Aichi berteriak hingga suaranya serak, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan cepat ia berdiri lalu menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Sayangnya, yah, sayangnya. Kamar seorang Sendou Aichi itu kedap suara, jadi meskipun ada konser topeng monyet dadakan di kamarnya pun tidak akan terdengar hingga keluar pintu kamarnya. Apalagi saat itu para pelayan kelihatannya sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Karena ini hari minggu, jadi mereka sengaja tidak membangunkan tuan mereka.
By the way, sudah tahu kan 'mereka berdua' yang dimaksud Aichi itu siapa? Yep, Suzugamori Ren dan Kai Toshiki. Calon kakak tirinya. Sebenarnya sih Aichi tidak kaget dengan kehadiran mereka berdua di kamarnya, tapi yang jadi masalah adalah posisinya saat hendak bangun tidur tadi.
Yaa, Ren hanya memeluk pinggang sang bluenette seolah itu teddybear yang biasa yang ia peluk saat tidur di rumahnya. Sedangkan Kai— err— kepalanya berada di dekat pundak Aichi, dan tangan kanannya (entah bagaimana caranya) terselip di bawah balutan piyama Aichi.
Bagaimana ia tidak spontan menjadi terompet tahun baru dadakan kalau posisi mereka sangat ambigu seperti ini?!
Teriakannya yang sangat un-manly itu membuat keduanya terbangun dadakan. Kai langsung melotot dramatis lalu merubah posisinya menjadi duduk, seperti di sinetron-sinetron. Sedangkan Ren hanya membuka matanya sebentar, menerawang sekitar, lalu sepertinya ia tertidur lagi.
Aichi mojok, ia sudah dalam keadaan keadaan ingin menggebuk tembok lalu menangis.
'M-mama, anakmu Aichi sudah tidak perawan lagi….' Batinnya menutup matanya dengan kedua tangannya. Wait, rasanya ada kalimatnya yang terdengar salah.
"Ada apa, Aichi?!" Tanya Kai panik, masih tidak mengerti situasi. Entah dia yang terlalu polos atau pura pura.
"U-uuh…. hueee…" Aichi menangis. Kai makin panik, Aichi makin terisak, Ren malah tidur lagi, author panik, pembaca panik, bumi gonjang ganjing.
Oke balik ke cerita.
Butuh waktu cukup lama agar Kai bisa menenangkan Aichi. Ia terus terusan berusaha menggapai tangan Aichi, tapi selalu dipukul pelan (pelan banget, sampe kayak lekong lagi coba flirting ke mas-mas random). Setelah Aichi sudah cukup merasa tenang dan aman, ia mulai memberitahu Kai tentang alasan kenapa ia berteriak tadi dengan tergagap gagap. Sedangkan sang pendengar pun pipinya bersemu merah mendengarnya.
"Demi Tuhan, Aichi! Itu hanya salah paham! Aku tidak sengaja!"
"Tidak!"
"Aichi!"
"Bohong! Bohong!"
"Aichi—"
"BERISIK!"
Suasana mendadak hening. Kai yang tadinya sedang berusaha bernegosiasi dengan sang surai biru yang mengira telah diperkaos olehnya langsung menoleh dengan firasat tidak enak.
Ren, yang Aichi dan Kai kira masih tertidur, menatap mereka dengan wajah penuh amarah. Ia mencengkeram selimut dengan tangan kanannya, sedangkan yang kiri digunakan untuk mengangkat poninya yang mengganggu pandangannya.
"R-Ren…"
"R-R-R-Ren-san…"
Jujur, sekarang mereka berdua malah mendadak ketakutan. Ren yang biasanya menjadi orang yang masa bodo dengan sekitarnya bisa menatap mereka dengan murka. Apakah karena tidurnya terganggu? Apakah karena ia benci suara berisik? Apakah karena—
"Aku bermimpi sedang berada di dunia kartun kesukaanku! Dan kalian telah membuatku terbangun!"
Kai kayang dadakan.
Ketiga kaum adam yang diketahui tadi bangun pagi dengan suasana chaos di kamar pun berjalan ke ruangan makan dengan loyo. Aichi yang lesu karena masih memikirkan pose mereka yang mirip mirip video JAV ilegaltadi pagi, Ren yang lesu karena telah terbangun dari mimpi yang selama ini diidamkannya, dan Kai yang lesu karena melihat tingkah abstrak kedua orang yang disebut sebelumnya, juga kelakuannya tadi.
Aichi duduk dengan gerakan slow motion, lalu mulai mengambil sendok dan melahap makanan yang telah disediakan. Diikuti oleh Ren dan Kai.
Ngomong-ngomong, pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa mereka bisa satu kamar, itu karena sang satu dua hal. Pertama, beberapa bagian rumah keluarga Sendou atapnya rusak karena hujan semalam dan hanya beberapa kamar yang selamat dari terpaan badai. Jadi salah satu kamarnya dipakai Ayaka. Kedua, Ren yang tidak bisa lepas dari Aichi merengek untuk ikut tidur dengannya.
Awalnya Aichi tidak masalah, karena ranjangnya memang berukuran king size, tapi di pagi hari ini ia menyesal karena telah setuju akan permintaan ayahnya dan ingin bersembah meminta ampunan pada lukisan mendiang kakeknya di ruang tamu akan dosa-dosanya.
Sebenarnya sih, Kai ingin menggunakan kamar tamu yang satunya. Tapi Ren yang terus menempel pada Aichi semenjak di restoran membuat firasatnya tidak enak, jadilah akhirnya ia ikut tidur bersama mereka. Dan lagi, ia juga lumayan penasaran dengan sosok mungil Sendou yang entah bisa membuatnya tertarik.
"Sepertinya kalian berantakan sekali, habis main perang-perangan ya? Hahaha!" Tawa sang ayah Aichi diikuti tawa kecil Ayaka. Mau tak mau membuat Aichi ikut tertawa garing.
Ha, kriuk kriuk. Lawakan sang Ayah sejak jaman fir'aun memang jayus sangat.
"Y-yah… begitulah… ada sedikit 'perang' tadi." Ujar Aichi canggung, memang benar kok. Tadi Aichi malah hampir melempar Kai dengan vas bunga di meja yang ada di dekatnya.
"Ya." Timpal Kai pendek.
Suasana mendadak hening. Hanya ada bunyi dentingan sendok dengan piring dan suara kunyahan Ren saat itu. Entah mereka sedang terbawa pikiran masing-masing atau memang tidak ada topik untuk dibicarakan. Atau memang keduanya.
Kai ingin cepat-cepat menghilang lalu menenggelamkan diri di gunung Krakatau menyadari kelakuannya tadi pagi. Baginya tidak ada yang lebih memalukan daripada menjadi pihak yang dituduh telah melakukan sekuhara pada calon adiknya.
"Ibu, kapan kita akan pulang?"
Kai berusaha melupakan insiden tadi pagi dengan bertanya pada ibunya. Ia ingin cepat cepat menghilang dari tempat ini karena rasa malu masih menjalar di ubun-ubunnya. Tapi hey, padahal kan nanti juga ia akan tinggal di sini! Percuma saja meminta pulang!
"Oh, kau kurang nyaman di sini, Toshiki?" Tanya sang ibu dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Ia merasa tidak enak jika anaknya merasa kurang suka berada di tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya itu.
"Tidak. Aku hanya— yah, masih ada tugas osis yang belum selesai kukerjakan." Jawab Kai berbohong. Padahal ia sudah menyelesaikan semua tugasnya. Dasar anak durhaka.
"Oh begitu. Kalau kau bagaimana, Ren?" Sang wanita bertanya kepada anaknya yang satunya. Yang hanya menggembungkan pipinya.
Masih ngambek, ternyata.
"Aku anggap itu sebagai persetujuan." Timpal Kai enteng. Yang dibalas dengan deathglare Ren (tapi ndak serem sama sekali).
"Sayang sekali ya," Ujar Aragaki dengan desahan kecewa. "Kupikir kalian akan di sini lebih lama lagi. Kalau begitu bagaimana sehabis makan ini sekalian aku dan Aichi antar?"
Aichi melotot, padahal ia ada janji dengan teman-temannya untuk bermain nanti siang. Dan ayahnya lagi-lagi dengan seenak keteknya melibatkan anaknya dalam hal ini.
"A-ayah, sepertinya aku—"
"Tidak usah repot-repot, kami bisa sendiri kok," Ujar Kai dengan senyum.
Demi cepot sirkus, Kai senyum?!
Senyum?!
Senyuuuuum?!
Aichi jantungan. Rumornya seniornya yang satu ini sangat miskin ekspresi. Bahkan di sekolah ia tidak pernah menunjukkan ekspresi lain selain pokerface andalannya sehingga para fans-nya menjuluki-nya The Ice Prince.
Namun kali ini untuk pertama kalinya ia bisa melihat senyuman sang pangeran sekolah itu. Senyumannya membuat Aichi membeku seketika, benar-benar sesuai dengan julukannya. Mungkin Aichi bisa dicap seperti curi start kalau saja para fans Kai mengetahuinya. Ah, tapi dia tidak terlalu tertarik dengan Kai kok, seriusan! Apalagi setelah insiden tadi pagi— ehem!
"Oh, baiklah kalau itu keinginan kalian," Balas sang ayah dengan senyum pula. Sang bluenette terheran heran, apakah ayahnya tidak kebingungan dengan perilaku lelaki dengan panggilan Toshiki itu?
Ah, Aichi mendadak migrain memikirkan hal ini. Lebih baik melanjutkan makannya yang tertunda dulu.
"Terima kasih untuk kemarin malam dan hari ini ya, sangat menyenangkan." Ujar Ayaka sedikit membungkukkan badannya. Benar-benar sifat seorang nyonya besar pemilik perusahaan ternama. Sedangkan Kai langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun.
Sombong? Sepertinya lebih menjurus ke tsun.
"Aichi-kuuuuuun, nanti kalau kita sudah tinggal bersama aku ikut tidur di tempatmu sekali-sekali ya! Sampai jumpa di sekolah!" Ujar Ren ceria tanpa dosa sembari melambaikan tangannya di kaca mobil yang terbuka. Sedangkan Aichi hanya tertawa hambar sembari membalas lambaian tangannya.
Amit-amit, mendingan rodeo naik Dragonic Overlord daripada harus tidur dengan posisi normal lalu bangun dengan pose yang bisa mencemarkan nama baik keluarga seperti tadi.
Setelah mobil hitam yang dinaiki keluarga itu mulai menjauh dari mansion itu, keduanya kembali masuk ke dalam rumahnya. Aichi tersenyum senang. Dengan cepat ia menyentuh ponselnya dan menekan nomor salah satu temannya, kemudian mendekatkannya ke telinga kanannya. Setelah mendapat jawaban, ia mulai berbicara.
"Halo, Misaki-san? Aku ke rumahmu hari ini, ya? Oke, jam sepuluh ya."
Akhirnya ia bisa bermain bersama temannya hari minggu ini!
Sosok itu berlari cepat ke rumah sekaligus toko itu. Membuat pintu otomatis itu terbuka spontan. Jaketnya yang terpasang rapi sudah berantakan karena diterpa angin terus menerus saat berlari menuju ke tempat itu. Dengan terengah engah ia menghampiri sosok gadis berambut ungu pucat yang sedang berdiri di dekat kasir bersama dengan seorang bocah lelaki berambut jabrik dengan warna hitam.
"H-aah… maaf, aku terlambat… tadi jalanan macet sekali. Aku terpaksa lari biar tidak terlambat." Ujar sosok yang diketahui adalah Aichi itu. Sedangkan pihak yang berada di hadapannya hanya menggeleng dan facepalm.
"Aichi, kau sepertinya agak berlebihan. Aku saja baru selesai berganti shift kerja." Ujar sang wanita bersurai ungu pucat sembari menunjuk apron di dekatnya. Sedangkan bocah berambbut jabrik hanya mengangguk-angguk.
Mereka berdua adalah Tokura Misaki dan Katsuragi Kamui, teman Aichi sejak setengah tahun yang lalu (sebelum Aichi masuk SMA!). Waktu itu, Kamui menantang Aichi untuk berkelahi untuk memperebutkan Emi, adik Aichi. Saat itu Emi sedang berkunjung ke rumah Aichi dan mereka berjalan jalan sore bersama sekedar untuk melepas kerinduan setelah sekian lama orangtuanya bercerai, tanpa disadari dari kejauhan sosok Kamui memperhatikan Emi, ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat gadis itu.
Eaa bahasanya.
Misaki yang numpang lewat saat itu tidak sengaja melihat kejadian langka itu. Awalnya Aichi menolak permintaan Kamui karena bingung. Kamui yang sudah siap untuk menghajar sang lelaki bermarga Sendou itu dikejutkan oleh kehadiran Misaki yang notabene memiliki julukan onna banchou, alias bos wanita, karena tampangnya yang memang cukup mengerikan. Kamui yang ketakutan pun tidak jadi melakukan aktifitasnya, dan sebagai gantinya Aichi berusaha meminta penjelasan (dan terpaksa harus menjelaskan juga tentang adiknya, Emi). Karena kesalahpahaman itu, mereka akhirnya malah berteman dan sering bermain bersama.
Misaki adalah kakak kelas Aichi di Cray Private Academy, sekolah yang dikhususkan untuk mereka yang orangtuanya… ehem, super kaya raya. Tetapi Misaki berbeda, ia adalah siswi yang memperoleh beasiswa karena kejeniusannya. Sehingga ia bisa bersekolah di akademi elit itu. Pamannya, Shin, adalah seorang pemilik toko roti terkenal sekaligus walinya, karena orangtua Misaki sudah meninggal karena kecelakaan.
Sedangkan Kamui adalah seorang anak remaja labil dari SMP Hitsue. Ia sering membolos dan nilainya pun tidak bisa dibilang bagus. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya yang sibuk bekerja, jadi ia adalah tipikal anak yang kurang diperhatikan.
Inilah salah satu alasan mengapa mereka bertiga bisa menjadi bestie. Ketiganya adalah anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang orangtua. Mereka bertiga menamai grup mereka dengan sebutan 'Quadrifoglio' atau disingkat Q4.
"Hei, Aichi-onii-san," Kamui memanggil Aichi, yang dibalas dengan tatapan penuh tanya, "Ada apa, Kamui-kun?"
"Kemarin kau makan malam dengan orangtuamu, kan? Tumben sekali." Ujarnya polos. Sedangkan Aichi hanya bisa sweatdrop. Ia harus menjawab apa ini.
"Err, lebih baik kita bicarakan di kamarnya Misaki-san saja, ya?" Tawarnya, yang dibalas dengan anggukan kedua temannya. Kemudian ketiganya masuk ke lantai atas bangunan itu melewati tangga belakang yang memang dikhususkan untuk ke ruangan pribadi Shin dan Misaki.
Sesampainya di sana, Aichi mendudukkan diri di lantai yang beralaskan karpet di kamar Misaki lalu mencoba mengatur napasnya sembari berpikir, bagaimana cara menjelaskan bahwa ia dan kedua seniornya yang super populer akan menjadi kakak adik.
Sedangkan Kamui menyusul sembari membantu Misaki membawakan roti hangat buatan paman Misaki serta minuman dingin. Setelah mereka berkumpul, Aichi menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Ia pun mulai berbicara.
"Jadi, kemarin siang ayahku mengajakku makan malam, sekaligus untuk bertemu seseorang." Ujarnya sepotong. Sedangkan Kamui dan Misaki ikut mendengarkan sembari memakan roti yang sengaja dihidangkan.
"Aku bertemu dengan seorang wanita, namanya Kai Ayaka." Kalimat lanjutan ini membuat Misaki mengingat sesuatu, nama itu terasa familiar. Jangan bilang kalau dia itu—
"Ayahku bercerita bahwa wanita itu akan menjadi istrinya nanti. Aku juga diperkenalkan dengan kedua anaknya, yang namanya Kai Toshiki dan Suzugamori Ren! Siswa yang satu angkatan dengan Misaki-senpai yang sangat populer itu!"
—ibu Kai Toshiki.
Misaki facepalm. Sudah ia duga kalau itu orangtua dari seorang Toshiki, siswa serbabisa yang sangat populer di sekolahnya. Hei, jangan remehken daya ingat seorang Tokura Misaki. Bahkan kalimat kecil pun bisa ia ingat sampai bertahun-tahun.
Sedangkan Kamui hanya bisa kaget mendengar perkataan Aichi.
"Ayah onii-san akan menikah lagi?!" Pekik Kamui kaget. Ia tidak menduga pemilik perusahaan ternama Sendou Corporation bisa mendapat pasangan hidup lagi. Ini memang agak kurang ajar, tapi kenyataannya memang benar. Jarang-jarang orang super sibuk seperti itu bisa mendapat waktu untuk jatuh cinta. Perkataan Kamui hanya bisa dibalas anggukan oleh Aichi.
"Ngomong-ngomong," Misaki menyela. "Kenapa Suzugamori Ren ada di situ? Tadi kau bilang ia juga anaknya kan? Tapi yang kuherankan kenapa marganya berbeda."
Aichi benar benar lupa soal itu. Salahkan kejadian di kamarnya yang membuatnya lupa dengan itu. Mengingatnya lagi membuat wajahnya terasa panas.
"A-aku juga bingung, tapi akhirnya aku malah lupa menanyakannya."
Kemudian Aichi kembali menjelaskan perihal pernikahan orangtuanya yang akan dilangsungkan satu bulan lagi, serta kepindahan kedua calon kakaknya. Dan dilanjutkan dengan masalah hujan badai yang membuat ketiga orang itu terpaksa menginap di rumahnya. Dan tidak lupa juga ia memberitahu mereka tentang kejadian mengerikan pada pagi hari di kamarnya. Hal itu membuat kedua sahabatnya kaget, Misaki geram dan Kamui syok berat.
"A-Aichi onii-san tidak diapa-apakan?! Tidak ada bekas bekas aneh kan?!" Tanya-nya penuh dengan nada kekhawatiran. Tetapi justru hal itu malah membuat sang bluenette langsung kembali down seketika.
"Dua lelaki brengsek itu…" Desis Misaki sembari mengepalkan tangannya. Aichi dan Kamui hanya bisa bergidik ngeri. Sang bos wanita muncul. Tetapi memang, bahkan Kamui yang ketakutan pun setuju dengan makian yang dilontarkan gadis itu. Seorang Sendou Aichi adalah pemuda yang pure yang tidak boleh dikotori sebelum waktunya.
Oke ini fic Rated T jadi lebih baik kalimat tadi tidak usah dilanjutkan.
Daripada memperkeruh suasana, Aichi pun akhirnya mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mereka main game, mengobrol santai soal liburan, dan membantu Kamui mengerjakan PRnya.
Mereka selalu seperti ini hampir setiap hari. Kegiatan yang dilakukan bergantian di rumah satu sama lain. Tetapi biasanya mereka berkumpul di rumah Misaki. Bukan, bukan karena dapat makanan gratis (di rumah Kamui dan Aichi juga dikasih makanan enak, kok!). tapi karena suasananya yang cukup sepi dan tidak diganggu oleh orang lain seperti pelayan Aichi.
Tanpa sadar jarum panjang jam di kamar Misaki sudah menunjukkan angka 4, tanda mereka harus pulang. Memang, kalau sudah bermain dan tertawa bersama teman-teman seperti ini, mereka selalu hampir lupa waktu. Aichi dan Kamui bergegas merapikan buku-buku serta kaset game yang dibawanya.
Ketiganya lalu berjalan ke depan toko, Aichi tidak lupa untuk membeli beberapa roti dari toko keluarga Tokura untuk camilan di rumahnya, sekaligus ucapan terima kasih. Lalu pulang ke rumahnya bersama Kamui (karena memang satu arah, meskipun rumah Aichi lebih jauh).
Sesampainya di rumah, Aichi langsung merebahkan badannya di ranjang empuknya. Tunggu, rasanya ada yang mengganjal.
Ia kembali terduduk lalu melihat ke belakangnya. Ternyata ponsel berwarna merah marun tadi ditindihnya. Ia memeriksanya, mungkinkah milik Ren? Atau Kai?
"Ah, ada email." Ujar Aichi. Ia ragu, apakah lebih baik membukanya? Tapi ia takut dibenci jika membukanya tanpa seizin empunya. Tapi, kan, si bluenette juga harus tahu ponsel siapa ini. Dengan ragu Aichi membuka isinya dan membacanya dengan perlahan.
From: Kai
Subject: Tertinggal.
Aichi-kun, ini Ren, kakakmu. Aku menggunakan ponsel Kai. Apakah ponselku tertinggal di situ? Kalau iya, bisa besok saat di sekolah memberikannya padaku? Terima kasih
P.s: simpan alamat emailku dan Kai di ponsel itu ya :*
-=END=-
Reply | Delete | Back
Aichi bersemu, kalimat 'kakak' entah kenapa rasanya membuatnya senang. Sudah sekian lama ia menginginkan sosok kakak (tapi tidak bisa, yeah, ia anak sulung). Tetapi saat itu juga ia langsung menghela napas. Kenapa ponsel kakaknya bisa tertinggal di sini? Tidak hanya kekanakkan, namun Ren juga sangat ceroboh.
Yang jelas, Aichi hanya bisa berdoa, semoga tidak menjadi pusat perhatian karena mendekati salah satu sosok populer di sekolah itu.
Dewi fortuna memang sedang tidak bersahabat dengan Sendou Aichi.
Pasalnya, waktu Aichi baru saja ingin masuk gerbang ia dikejutkan oleh sosok yang memeluk lehernya dengan erat dari belakang. Surai sang pemeluk yang panjang dan berwarna crimson tentu saja membuat Aichi tersambar petir dadakan.
Suzugamori Ren baru saja memeluknya di depan khalayak ramai.
'Oh Tuhan…' batin Aichi nelangsa. Sudah ia duga siswa-siswi yang ada di situ langsung menatap keduanya dengan penuh tanda tanya. Aichi, kan, hanya siswa biasa yang sangat pemalu. Sedangkan Ren bagaikan sosok pangeran kedua di sekolah itu (setelah Kai, tentunya). Kejadian itu tentu membuat mata semua orang tertuju pada mereka. Ada yang menunjukkan ekspresi kaget, bersemu (yang ini pasti fujoshi), cemburu, kebingungan, dan lain-lain.
"A-i-chi-kuuuuun!" Panggil Ren dieja, sangat kekanakkan. Yang dipanggil hanya mendesah putus asa, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. Ponsel Ren.
Sembari mengambil keuntungan, ia melepas pelukan maut Ren lalu memberikan gadget itu ke pemiliknya.
"Ini ponselmu, Ren-san. Jangan tertinggal lagi di kamarku, ya."
Ups, salah ngomong. Aichi langsung menutup mulutnya. Meskipun suaranya tidak begitu jelas, tapi mereka yang memperhatikan Aichi dan Ren seperti memiliki ekstra kuping. Ada yang memekik kaget, ada yang berteriak tidak jelas, ada yang menangis (?), dan malah ada yang mengambil gambar mereka dengan ponsel ber-resolusi rendah dan menamainya dengan 'otp-baru . jpg'
Sedangkan yang disodorkan bersiul senang lalu mengambilnya. "Trims, Aichi-kun. Oh iya, panggil aku Ren-nii saja. Tidak usah seformal itu. Kan kita akan jadi kakak-adik."
Ren bodoh, sungguh bodoh. Harusnya tidak usah mengatakan hal seperti itu. Penonton mereka mendadak syok berat dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Ren yang dijuluki The Flame Prince itu. Gimana tidak kejang dadakan pas tahu kalau mereka akan menjadi saudara?
"Hey, itu bukannya Sendou Aichi dari kelas 10 bunga mawar?"
"Iya, dia teman sekelasku. Kok bisa mereka jadi saudara?"
"Kyaaaaa incest! Incest!"
Bisikan-bisikan ghaib itu membuat Aichi ingin pulang ke rumah Tuhan saja. Bikin malu, seriusan.
Namun kemudian semua orang di tempat itu dikagetkan dengan seseorang yang di belakang Ren kemudian menjitaknya, tak lupa menarik kerahnya. Ya, si Ice Prince. Dengan kesal Kai memarahi Ren karena terlalu lama berada di gerbang. Yang diprotes Ren dengan nada kekanakkan sembari menghentakkan kaki; kesal.
Kai lalu menatap Aichi di depannya. Ia kemudian menyentil dahi Aichi tanpa sebab.
"Itta!" Pekik Aichi saat disentil dahinya.
"Maaf akan kelakuan si bodoh ini." Kemudian Kai menyeret kerah belakang Ren dengan paksa. Yang dibalas dengan berontakan Ren karena saudaranya ini sungguh disiplin waktu dan juga menyebalkan. Tak lupa, ia melambaikan tangan ke Aichi yang tertinggal di belakang mereka lalu menyamakan langkah kakinya dengan Kai.
"S-sampai jumpa lagi, R-Ren-nii, Kai-nii!" Teriak Aichi tidak begitu keras. Hal itu membuat Kai tersedak ludahnya sendiri. Ia lalu melirik Ren, yang sudah pasti penyebab Aichi memanggilnya seperti itu. Sedangkan sang surai merah hanya memasang gerakan tangan peace.
Kai melirik ke belakang, lalu melambaikan tangannya kembali, sembari berkata, "Daah, Aichi."
Semua orang yang masih ada di situ menatap Aichi horor. Tidak hanya akrab dengan Ren, namun ia juga dapat membuat Kai bisa menjawab sapaan seseorang.
Dan sekarang Aichi pucat, sudah pasti tidak lama lagi akan tersebar rumor tentangnya di seluruh akademi ini.
~~To Be Continued~~
A/N: ha, bisa juga selesai. Author udah lama ndak nulis fic jadi lelet banget progress-nya h4h4h4h4h4 /digebuk. Sori kalo terlalu lama apdet. Abisnya asyik banget buka pixiv coretKaiChiratingR18coret.
Btw, terima kasih atas review-nya! Saya seneng bacanya! Saya ga nyangka masih ada yang mampir ke fandom ini lol. Mari saya balas terlebih dahulu:
Aria: untungnya saya berhasil lanjutin ke chap 2, makasih supportnya! Saya seneng banget bacanya loh. Sip, ini sudah lanjut. Happy reading and thanks for the review!
Ketrin'Shirouki: ya sudahlah paksain saja boleh lovey-dovey /heh/ ini sudah apdet. Thanks for the review and happy reading!
Guest: jiwa dan raga lelaki, namun otak dan perasaan wanita /dibuangkeatlantika/ engga, Aichi cowo tulen loh. Mungkin saya yang lupa taro tulisan yaoi di warning-nya, maaf yah! Thanks for the review!
Mamitsu27: ya kan ya kan ini mah sebenernya fetish saya / mungkin kayaknya family-nya lebih sedikit, soalnya saya lebih merujuk ke friendship sama romance. Sudah apdet! Thanks for the review and happy reading!
Mungkin A/N-nya kebanyakan yah? Hehehe, sori kelepasan. Terima kasih atas dukungan-nya! Saya ga bakal ngemis review kok, tapi bakal pantengin kotak views-nya /HEH/
See you in the next chapter! Ciao!
