Didalam mobil Lamborghini hitam, Kris dan Tao hanya diam tanpa ada yang membuka suara. Keadaan sangatlah canggung saat ini. Hanya tangan Tao yang memberi arah rumahnya.
Sesampainya dirumah Tao, mereka berdua turun. Entah kenapa tangan Kris yang membuka pintu mobil dan kaki Kris yang turun dari mobil bisa bekerja sama.
'Terimakasih' Tao membungkuk dan tersenyum sangat manis.
DEG
'Ada apa dengan jantungmu, Yifan? Kenapa jantungmu berdebar kencang hanya karena gadis bisu ini tersenyum?' batin Kris mulai berbicara.
"Ahh, sama-sama Zitao. Cepatlah masuk, udara sangat dingin" malam ini sangat dingin. Untungnya dimobil ia membawa jaket. Angin terus meniup. Rasanya Kris ingin memeluk erat gadis dihadapannya ini.
Tao berjalan kearah pintu masuk rumahnya. Tetapi Kris menahan tangan mungil Tao.
"Aku harap kau melupakan hal tadi. Maaf" kata itu membuat Tao menoleh ke Kris. Tao mengangguk dan dengan lembut berusaha melepaskan tangannya dari Kris dan masuk kedalam rumah kecilnya.
Tao menyenderkan dirinya di belakang pintu dan memegang dadanya yang berdetak cepat.
Ia mengintip lewat jendela kaca yang ditutupi kain coklat. Kris masih diam disana sambil memegang dadanya. Apa jantungnya dan jantung Kris sama-sama berdetak cepat? Entahlah. Tao meletakkan tasnya dikursi dan berjalan menuju dapur. Mengingat malam ini sangat dingin, apakah dirinya gila tidak menyuruh Kris untuk pulang cepat? Ia kembali ke jendela dan mengintip lagi. Ternyata Kris sudah tidak ada. Tao mengambil handuknya dan segera masuk kekamar mandi. Mungkin dengan berendam bisa menenangkan pikirannya dan jantungnya juga.
Pagi hari dirumah keluarga Wu, suasana tampak tenang. Hanya bunyi dari sendok, garpu dan piring yang beradu. Kris hanya memainkan dan melihat nasi goreng kimchinya, tidak ada niatannya untuk melahap sampai habis makanan itu. Jessica Wu yang melihat cucu pertamanya seperti itu hanya menatap bingung. Pasalnya, Kris tidak pernah seperti ini. Apa dia sedang patah hati? Tidak mungkin! Ia hanya bermain-main dalam hubungannya dengan wanita manapun, pikir nenek Wu.
"Sepertinya ada yang sedang galau" Sehun berseru. Sepertinya untuk menyindir kakaknya.
"Siapa yang sedang galau?" Tanya Kris hanya melirik kearah adiknya yang berada didepannya.
"Siapa lagi kalau bukan kau. Aku tahu kau galau karena apa"
"Apa?"
"Karena kau tidak jadi mencium Tao noona kan? Nenek menghentikan tinadakanmu? Kau menyukainya yah? Haha " Sehun mulai tertawa jahil.
"Sehun! Cepat habiskan sarapanmu dan berangkat sekolah! Jangan menjahili kakakmu" Sehun terpaksa menghentikan tawanya dan segera menghabiskan sarapannya.
Kris berdiri dan berangkat sekolah tanpa pamit pada nenek dan adiknya. Kris memasuki mobil pribadinya yang sudah ada dihalaman rumah. Ia menyenderkan kepalanya dikaca pintu.
"Karena tadi malam kau tidak jadi mencium Tao noona kan? Nenek menghentikan tindakanmu? Kau menyukainya yah? Haha"
Zitao, sosok gadis bisu yang memiliki paras cantik. Dialah pertama kali gadis yang secara tak sadar dirinya akui sebagai gadis cantik?
Sebenarnya banyak gadis yang sudah Kris bilang cantik, tapi itu hanyalah omong kosong.
Apa benar apa yang dikatakan oleh adiknya?..
Apa benar dirinya menyukai gadis bisu itu?
'Kau menyukai gadis itu, Kris. Kejar dan takhlukan gadis itu. Aku yakin kau pasti berhasil' - (Angel)
Kris mengangguk tetapi rasa gengsi dan egoisnya muncul.
'Tidak. Kau tidak menyukai gadis bisu itu! Jauhkan dan jangan fikirkan dia! Atau hari-hari kau akan selalu sial!' – (Devil)
Kris mengangguk mantab. Ia setuju apa yang dikatakan oleh setan itu. Ia menyalakan mesin mobilnya dan berjalan menuju emm sepertinya dia hari ini tidak mood untuk bersekolah. Mungkin berjalan-jalan mencari wanita cantik dan seksi akan lebih baik.
Kau sangat bodoh Kris…
.
.
Tao tampak tidak semangat bekerja. Entah mengapa tubuhnya menjadi lemas dan kepalanya terasa pening. Temannya banyak yang menanyai keadaannya yang lemas dan ada yang menyuruhnya pulang untuk istirahat. Yah namanya orang pekerja keras, sakitpun akan selalu bekerja.
"Tao, kenapa wajahmu pucat? Apa kau sedang sakit?" Tanya sang bos Tao, Suho.
'Tidak ge. Aku tidak apa-apa. Percayalah' Tao memaksakan dirinya tersenyum agar bos atau kakaknya percaya padanya.
"Tidak. Kau pasti sedang sakit. Jangan main-main dengan anak seorang dokter sepertiku. Kau cuti dulu hari ini. Apa kau mau aku antarkan ke rumah sakit atau rumahmu? Sekalian aku jalan untuk kerumah Yixing-ie" Suho mengambil kunci mobilnya dari kantong celana.
'Apa tidak apa-apa aku cuti dulu hari ini?' Suho mengangguk.
"Apa aku bos yang kejam sampai pekerjaku yang sedang sakit ku paksakan untuk terus bekerja? Lagian aku sudah menganggapmu adikku sendiri. Cepat ganti bajumu. Aku akan mengantarkanmu pulang"
'Tidak usah repot-repot ge. Aku bisa pulang dengan bus'
"Yasudah, cepat ganti bajumu dan langsung pulang. Wajahmu pucat sekali" Tao membungkuk dan terima kasih. Ia langsung pergi keruang ganti.
"Kau cuti Tao?" Tanya Zelo yang habis mengantarkan makanan ke pelanggan dan melihat Tao menyelempangkan tasnya dan mengganti baju biasa.
'Ya. Aku pulang dulu Zelo' Tao membungkuk pamit.
"Hati-hati Tao. Jaga kesehatanmu. Istirahat yang cukup" ujar Zelo yang khawatir dengan chef cantiknya. Tao hanya membentuk tangan 'ok'.
Tao berjalan keluar restaurant dan berjalan dengan gontai menuju halte bus yang memang cukup jauh dari restaurant. Ia merasa kepalanya bertambah sakit.
Sesampainya ia dihalte, ia duduk menunggu bus lewat dan berhenti dihalte ini. Lumayan juga ia bisa mengurangi rasa lelah jalan dari restaurant. Tao memejamkan matanya dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia membuka matanya perlahan dan melihat seperti kunang-kunang yang mengitari dirinya. Akhirnya Tao memejamkan matanya lagi dan tidak sadarkan dirinya.
"Zitao/Tao noona!"
.
.
.
Rasa hangat dan basah menghinggap dikeningnya. Tao membuka matanya perlahan. Rasa sakit dikepalanya sudah lebih mendingan. Sebentar? Mengapa dirinya sudah ada dikamarnya? Siapa yang membawa dirinya?
"Kemana anak bodoh itu? Di sekolah tidak ada, ditelfon tidak diangkat. Apa dia ke club lagi? Huh!"
"Maybe"
Tao mendengar percakapan seseorang diluar kamarnya. Ia sangat tahu suara itu, Nenek Wu dan Sehun. Apa mereka yang membawa dirinya kerumah? Tao menggapai handuk kecil dari dahinya dan bangun dari ranjangnya.
CRIET
Sehun membuka pintu kamar Tao dan mendapati 'kakaknya' yang ingin bangun dari ranjang tempat tidur. "Noona sudah bangun? No no no! jangan keluar dari ranjangmu!" ucap Sehun yang agak berteriak dan nenek Wu menghampiri mereka.
"Zitao.. kau sudah bangun nak? Bagaimana keadaanmu sekarang?"
'Aku baik-baik saja nek. Jangan khawatirkan aku, aku tidak mau tekanan darahmu tinggi lagi.'
Sehun naik keatas ranjang Tao dan duduk diatas paha Tao. "Sepertinya panasmu sudah agak turun noona. Tidak seperti tadi dihalte, wajahmu sangat pucat sekali. Aku khawatir kau tidak bisa mengajarkan aku lagi" Sehun mempoutkan bibirnya dan membuat Tao gemas melihatnya.
"Syukurlah kalau kau sudah membaik Tao. Sebentar ya, nenek ingin menelfon pelayan Cho untuk mencari Yifan" nenek Wu keluar dari kamar Tao. Tao menatap kearah Sehun 'Ada apa?'
"Tadi sewaktu nenek datang ke sekolah untuk mengontrol keadaan sekolah miliknya, Kris gege tidak masuk sekolah. Itupun tidak ada keterangan sama sekali. Padahal sekitar dua minggu lagi lagi, ia akan ujian kelulusan. Aku yang bodoh saja tetap masuk walau malas"
'Kenapa dia bisa seperti itu? Apa orang tuanya tidak khawatir?' batin Tao yang masih bertanya-tanya.
'Mengapa dia tidak memakai bodyguard sepertimu kalau caranya seperti ini?'
"Bodyguard atau pelayan pribadinya selalu angkat tangan dengan sikapnya" Tao berfikir, apa sangat susah menghadapi pria berandal macam kakak kandung Sehun? Sepertinya menarik untuk dicoba.
"Kurang ajar! Ternyata anak itu sudah pulang dan mematikan handphonenya! Hah. Tao, tadi sebelum kau sadar nenek membelikan kau bubur. Ayo dimakan dan minum obat agar kau cepat sembuh" Tao mengambil bubur itu dan menyuapkan ke mulutnya.
'Nenek..'
"Ada apa, dear?"
'Apa aku bisa bekerja menjadi pelayan pribadi kakak Sehun (Kris)' Nenek Wu mengernyitkan dahinya. Mengapa Tao mau menjadi pelayan anak badung itu, fikir Jessica Wu.
"Kau yakin bisa menghadapinya?" Tanya nenek Wu.
"Kau serius noona akan menjadi pelayan Kris gege? Yeyy berarti noona bisa tinggal denganku dan selalu mengajariku" ucap Sehun dengan senang melompat-lompat diatas kasur Tao.
"Baiklah" ucapan nenek Wu membuat senyum Tao muncul dibibir peach merah. Tetapi senyum itu tidak berlangsung lama mengingat ucapan Sehun.
'Aku tinggal dengan Sehun? Maksudnya?'
"Ya?"
"Siapapun pelayan pribadi itu, dia harus tinggal dirumah kita. Selalu mengurus kami, menghadapi sikap kami" Tao melihat langit-langit rumahnya. Rumah ini sudah ia tempati selama empat tahun. Apakah ia bisa melupakan moment-moment dirumah ini.
"Bagaimana?" Tanya nenek Wu memastikan cucunya. Tao mengangguk lemah.
"Baiklah kalau begitu. Besok kalau keadaan kau sudah membaik, kau kirim pesan saja ke nenek kalau keadaanmu sudah membaik. Nanti ada yang menjemputmu. Mungkin nanti malam nenek akan berbicara pada Kris kalau dia punya pelayan baru. Oke?" ucap nenek Wu. Dan Sehun tersenyum lebar karena besok noonanya itu tinggal se-atap dengannya.
'Hmm, mungkin besok keadaanku sudah benar-benar baik dan nanti malam aku akan merapihkan semuanya' Tao percaya bahwa besok dirinya sudah membaik. Karena nenek Wu sangat tau dengan sikap Tao yang keras kepala ini, hanya mengangguk.
KRIUK
"Nenek.. aku lapar.. bisakah kau membuat makanan untukku? Aku akan membantumu" Sehun memegang perutnya yang sedaritadi mengeluarkan bunyi aneh.
Tao tertawa 'Aku sudah menyiapkan stok makanan dikulkas. Nenek ambil saja disana'
"Yasudah. Kau sekarang istirahat saja. Nanti setelah Sehun selesai makan, kita akan pulang. Cepat sembuh ya sayang" Nenek Wu bangun dari ranjang tempat tidur Tao dan mengecup dahi Tao. Sehun yang melihat itu langsung mengecup noonanya di pipi.
"Cepat sembuh noona. Dadah"
"Kenapa rumah ini sepi sekali? Kemana Sehun dan nenek?" Kris yang sehabis berdiam diri di kamar keluar dari kamarnya dan mengelilingi seluruh tempat dirumahnya.
Entah itu kamar adiknya,kamar neneknya,dapur,taman dan kamar mandi pun juga diperiksa hanya untuk mencari keberadaan nenek dan adiknya. Ini sudah jam tiga sore, mengapa adiknya belum pulang? Kalau neneknya kemungkinan sudah pulang kerumahnya. Ada rasa khawatir pada adiknya. Kris takut adik yang paling ia sayang dan adik satu-satunya ini diculik.
Well, walaupun pemikiran orang-orang tidak mungkin tetapi menurutnya mungkin saja. Kris dan Sehun adalah anak dari Wu Yunho pewaris saham perusahaan Wu dan sekolah yang Kris tempati. Mungkin saja adiknya diculik oleh musuh Papanya yang tidak terima perusahaan Wu menjadi perusahaan terbesar se-Korea selatan. Karena nenek dan adiknya benar-benar tidak ada dirumah, ia duduk dan menyalakan televise untuk menunggu adiknya pulang.
Ngomong-ngomong masalah orang tua, kapan mereka pulang dan mengurusi Kris dan Sehun? Sudah satu tahun lima bulan mereka ke negara kelahiran Kris (Kanada). Mereka bukan untuk liburan, tetapi untuk mengurusi perusahaan disana yang mulai menurun.
Sejak kecil , Kris diurusi oleh neneknya. Begitupun juga dengan Sehun. Seminggu orang tuanya dan Kris kecil pulang dari Kanada, orang tua Kris menitipkan dirinya ke neneknya dengan baik hati mau mengurusinya sampai ia besar dan pergi ke China untuk mengurus perusahaan disana. Setelah pulang dari China, Kris sudah berumur lima tahun. Ia menjadi anak yang sangat pintar disekolahnya. Tetapi ada yang membuat ia sakit hati pada orang tuanya.
FLASHBACK
Hari ini Kris kecil atau orang-orang yang sangat menyayanginya memanggilnya Yifan itu terlihat sangat senang. Pasalnya ia mendapatkan lima bintang dari gurunya untuk hasil gambar Kris. Ia menggambar keluarganya yang terdiri dari Aayah,ibu,Kris dan jangan lupa dengan nenek cantiknya dan seorang adik kecil yang diharapkan Kris.
Hari ini ia akan menunjukkan hasil gambarnyake ayah dan ibunya. Pasti mereka sangat senag melihat gambarku, fikir Kris kecil. Kris segera menuju kearah ruang kerja ayahnya dan mendapati ayahnya terlihat sedang kebingungan. Kris berlari kearah ayahnya.
"DAD!" Kris kecil berterik senang memanggil ayahnya. Dan itu membuat Yunho terkejut.
"Hmm? Ada apa jagoan daddy?" Tanya Yunho yang merespon Kris.
"Disekolahku, aku disuruh menggambar keluarga. Lihat ini dad, aku mendapatkan lima bintang. Aku hebatkan? Bagaimana perasaan daddy?"
"Kau hebat Kris dan perasaan daddy sangat senang tentunya" Kris melihat senyum terpaksa dari Yunho. Itu membuat Kris memasang wajah seolah-olah 'ini-baik-baik-saja'.
"Kau sudah makan? Segera lah makan dan jangan ganggu daddy kerja! Oke?" Kris langsung berlari keluar luar ruang kerja ayahnya.
Sekarang ia berlari kearah dapur. Mungkin ibunya berada didapur karena Kris mencium aroma masakan ibunya.
"Joongie mom!" panggil Kris pada ibunya yang bernama Kim (Wu) Jaejoong.
"Ada apa, Kris? Mama sedang memasak! Jangan ganggu mama dulu!"
"Aku hanya ingin kau melihat hasil gambarku yang mendapat lima bintang dari guruku"
"Gambar apa? Mungkin kau mendapatkan lima bintang karena kau anak pengusaha Wu. Makanan belum matang, kau main saja dulu dengan pelayan Kang" mata Kris sudah memerah menahan tangis dan berlari menuju kamarnya tetapi ketika Kris belok kearah ruang tamu, neneknya memeluknya erat dan tangisan Kris tumpah begitu saja.
FLASHBACK OFF
Tidak salah kan kalau Kris lebih menyayangi neneknya daripada orang tuanya. Tidak salahkan Kris bersikap playboy dan berandal karena kurang kasih sayang dan kurang arahan dari orang tuanya walaupun neneknya sudah memberikan semua?
"Mengapa pipiku basah? Hah. Apa aku menangis karena orang tua ku?" Kris bermonolog sendiri dan tersenyum miris.
"Kriss gege! Sehun yang tampan pulang! Where are you?" teriak yang diketahui pelakunya adalah adik kesayangannya.
"Aku diruang tamu, Hunnahh!" Sehun datang dan belari kearah kakaknya.
"Hey! Kenapa kau baru pulang?" Tanya Kris pada Sehun yang sudah membaringkan tubuhnya disamping kakaknya duduk.
Pletak
Jessica Wu menjitak kepala Kris dengan kesal "Kau sendiri kenapa kau tidak mengangkat telfon nenek!"
"Tidak apa-apa. Cuma ingin hari ini tidak ada yang menggangguku!" jelas Kris menjawab pertanyaan neneknya.
"Kan sudah ku bilang kalau Kris gege sedang galau haha" Sehun tertawa sambil memegang perutnya.
"Bagaimana dengan kau? Pulang sekolah sudah tiga jam yang lalu tapi baru sampai rumah sekarang hah?" Kris mencubit pipi adiknya antara gemas dan kesal.
"Kita habis dari rumah Zitao, Yifan"
Deg
Nama itu lagi …
Yang membuat dirinya sekarang gila…
Yang membuat otaknya memikirkan orang yang mempunyai nama itu…
Yang membuat jantungnya berdetag dua kali lipat untuk pertama kali pada seorang gadis…
Apa kau benar-benar bisa melupakan, menjauhi dan tidak menyukainya, Kris?
"Ho'oh, kita habis ke rumah Tao noona. Tadi di jalan dia-" Sehun tidak melanjutkan perkataannya. Dia menyeringai dan neneknya tau kalau cucu keduanya menyeringai. Untungnya Kris terlihat masa bodo dan tidak menatap adiknya sedang apa.
Walaupun begitu hatinya sangat resah, fikirannya kemana-mana dan tertuju pada Tao, gendang telinganya sangat siap untuk mendengar perkataan selanjutnya yang dilontarkan oleh sang adik.
"- Diperkosa oleh dua orang pria"
Bisikan geli adiknya membuat matanya terbelalak, tangan mengepal-membuka untuk mengontrol kekesalannya, jantungnya yang hampir copot, nafasnya yang seperti terhambat, matanya panas dan merah ada pancaran amarah dan tenggorokan yang terasa perih dan panas.
Kris melirik kearah neneknya yang asik dengan handphone pintarnya dan duduk disofa single tanpa peduli percakapan kakak-adik. Tidak. Sebenarnya Jessica Wu sangat memerhatikan gerak-gerik cucu pertamanya. Ia hanya pura-pura tidak peduli dan tidak mendengar.
"Apa peduliku! Bangs*t!" perkataan Kris yang tidak patut dikeluarkan didepan anak sepuluh tahun. Tetapi adiknya hanya memasang wajah datar saja.
"Wusshh,, Slow Dragon Wu. Kau terlihat kesal? Apa penyebabmu kesal?" Sehun terus memberikan pertanyaan ke Kris. Pertanyaan itu bukan membuat Kris kesal sebenarnya.
"Karena kau sangat berisik! Kau terus berbicara tentang gadis bisu itu!"
Sehun tertawa (lagi) "Aku sangat berisik? Sejak kapan aku berteriak seperti orang gila? Aku terusberbicara tentang gadis bisu itu? TERUS? Aku hanya menjawab pertanyaan bodohmu! Kau kan tanya yang intinya aku darimana saja baru pulang jam segini. Iya kan? Dan aku jawab aku habis dari rumah Tao noona dan apa penyebabku kesana. Hanya itu saja"
Kris meneguk ludahnya kasar. Apa yang dikatakan adiknya benar. Sebenanya Kris kesal bukan karena adiknya yang berisik dan teus membicarkan Tao. Sesungguhnya ia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Tao. Penyebabnya hanya diri Kris lah yang tahu. Sehun membawa tas sekolahnya dan jalan menuju kamarnya.
Disitu tinggal Kris dan nenek cantiknya. Jessica Wu menyimpan handphonenya ke tas Guccinya dan duduk disamping Kris. Ia hanya senyum-senyum melihat cucu pertamanya tidak bisa berkata-kata lagi pada percakapannya dengan adiknya.
"Kau kenapa diam? Kau kalah dan mati kutu dengan perkataan Sehun yah?" ujar nenek Wu menggoda cucunya. Kris hanya mendelik kearah neneknya dan focus lagi dengan acara yang Kris tonton.
"Adikmu memang benar-benar yah. Zitao tidak diperkosa. Di halte dia pingsan dan wajahnya pucat" ucap nenek Wu yang melihat Kris tidak peduli sama sekali tetapi nenek Wu tau kalau hati cucunya ini masih resah.
"Yifan.. nenek ingin bicara denganmu"
"Bicara saja nek" ucap Kris sambil mengganti-ganti channel televisi. Nenek Wu merebut remote televise yang dipegan Kris dan mematikan tv itu. "Dengarkan dan tatap nenek!"
Kris menghadap neneknya dengan ekspresi datar "Besok pelayan pribadimu datang" Kris mengernyitkan dahinya "Aku tidak membutuhkannya! Aku sudah besar!"
Nenek Wu menyimpan tangan keriputnya di atas tangan kanan Kris "Tapi nenek sangat membutuhkan itu"
"Apa yang nenek butuhkan?" Tanya Kris.
"Nenek membutuhkan sifatmu yang baik. Tidak bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua darimu, tidak berandal yang sering kelayapan malam hari ke tempat berkumpulnya orang-orang kafir, dan jangan sakiti hati gadis yang kau permainkan"
Kris menghela nafas "Itu sangat mustahil!"
"Memang ini mustahil. Tapi untuk kau berubah sepertinya tidak"
"Terserah"
"Okeh.. nenek anggap kata terserahmu itu menyetujui. Dan besok Zitao akan tinggal disini"
Kris membulatkan matanya "Hah?"
"Zitao akan menjadi pelayan pribadimu mulai besok, sayang"
.
.
.
Pagi-pagi dengan awan yang masih sangat gelap gulita, Tao sudah sampai dirumah milik pengusaha Wu. Tadi malam neneknya mengirimkan pesan padanya bahwa ia harus sampai rumah majikannya pagi buta agar bisa membangunkan Kris.
Dan sekarang dirinya sedang berada dikamar yang dikhusus kan untuk pelayan. Ia merapihkan pakaiannya dan barang-barangnya. Dan dia juga sudah memakai baju pelayan.
"Zitao.." Tao menoleh kearah pintu tepat pada sumber suara dan tersenyum.
"Selamat datang dirumahku" ucap wanita tua yang masih terlihat cantik itu dan Tao menatap neneknya bingung. Nenek Wu dan Tao duduk ditempat tidur "Kau bingung yah? Sebenarnya ini rumah nenek yang diberikan pada anakku dan aku memilih tempat kecil dengan daerah terpencil itu untuk menghabiskan masa tua-ku" Tao yang mendengar nenek Wu sangat baik menjadi terharu dan memeluk neneknya.
"Nenek jadi terharu mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi. Apa kau sudah merapikan barang dan pakaian mu?"
'Tidak apa-apa. Walaupun nenek sudah tua tapi nenek masih terlihat cantik dan awet muda. Sudah aku rapihkan semuanya'
"Yasudah ini sudah pukul enam tolong kau bangunkan Yifan dan kalau bisa kau juga bangunkan Sehun. Dan oh ya, nanti siang bodyguard nenek yang mengurus pernyataan kau keluar dari restaurant itu."
'Iya ne, terimakasih' Tao dan nenek Wu keluar dari kamar pelayan yang sekarang ditempati Tao dan berjalan menuju kamar Sehun dan Kris.
"Semoga kau berhasil membangunkan Sehun yah. Dia kalau dibangunin sangat susah sekali" ucap Nenek Wu setelah iu pergi entah kemana. Tao membuka pintu kamar Sehun dan masuk kekamar dengan warna dominan biru muda. Tubuh Sehun tertutup oleh selimut besar.
Tao menyibakkan selimut itu dan terlihat Sehun sedang tertidur miring ke kanan. Tao menepuk-nepuk pipi Sehun pelan. Tidak ada respon dari Sehun. Dan sekarang apa yang harus Tao lakukan? Ia kan bisu mana mungkin bisa berteriak memanggil nama Sehun. Tao berbaring di samping Sehun dan memeluk Sehun sangat erat.
Erat lagi
Erat lagi
Erat lagi
"Uhuk,,uhukk,, siapa sih yang memelukku sangat erat sekali! Aku akan- NOONA!" akhirnya Sehun bangun dan memeluk Tao dengan senang.
'Selamat pagi Sehun. Ayo bangun. Kau kan hari ini sekolah' kata Tao. Sehun bangun dari ranjangnya. "Apa noona sudah membangunkan Kris gege"
'Belum. Memangnya kenapa?'
"Ayo! Aku akan membantumu untuk membangunkannya" ucap Sehun sambil menarik tangan Tao.
'Noona bisa membangunkannya sendiri' Sehun menatap noonanya.
"Kau yakin bisa membangunkannya sendiri tanpa bantuan suaraku? " Tao mengangguk mantap.
"Yasudah aku mandi saja. Mungkin noona tidak mau aku mengganggu acara memeluk sangat erat tubuh Kris ge untuk membangunkannya"
Tunggu ! 'Memeluk sangat erat tubuh Kris ge'? Astaga! Tao lupa. Benar juga apa yang dikatakan Sehun.
Tao menarik tangan Sehun yang sudah sampai pintu kamar mandi "Ada apa noona?" Tao tersenyum seperti anak kecil hanya untuk membantunya membangunkan kakaknya.
"Okeh.. aku akan membantumu" Tao tersenyum dan menarik tangan Sehun ke kamar disamping kamar Sehun.
CRIET
Sehun segera berlari dan menaikki ranjang Kris melompat-lompat disana "KRIS GEGE BANGUN SUDAH SIANG!" Tao membuka jendela kamar Kris dan menyibakkan selimut Kris.
"Aku masih ngantuk! Lima menit lagi bisakan!" Tao yang mendengar itu menepuk-nepuk pipi Kris membuat Kris menggeliat."Wu Sehun! Mengapa kau berani me-" perkataan Kris terputus karena ketika ia membuka matanya di depannya persis ada wajah cantik yang teduh. Mereka saling berpandangan sampai Sehun berkata
"Hah! Seandainya aku tidak membatu Tao noona untuk membangunkan Kris gege, jadi aku tidak melihat adegan dewasa" Sehun duduk disamping Kris dan menutup matanya.
Kris bangun dan mengambil handuk mandinya dengan wajah dingin. Tao menepuk pundak Sehun 'Cepat mandi. Noona akan merapihkan kasur kakakmu' Sehun mengangguk dan keluar dari kamar kakaknya. Dan Tao merapihkan kamar Kris.
.
.
.
Tao melihat hasil masakannya di ruang makan. Harapannya adalah semoga Kris menyukai masakannya. Ia membersihkan peralatan masaknya.
"Apa kau sudah menyiapkan sarapan untuk Yifan, Zitao?" kata nenek Wu yang datang tiba-tiba.
'Sudah nek. Aku juga membuatkan sarapan untuk nenek dan Sehun'
"Hmm? Kan ada Chef yang memasakan untukku dan Sehun. Mengapa kau membuatkan sarapan untukku dan juga Sehun?"
'Aku hanya ingin nenek dan Sehun menyicipi masakanku. Apa itu salah?' wajah Tao sudah tampak bersalah dan mempoutkan bibirnya. Menurutnya nada bicara neneknya itu seperti orang marah.
Jessica Wu tertawa "Sayang, jangan merasa bersalah seperti itu. Nenek pasti akan menyicipi masakanmu. Nenek sudah lama tidak makan masakanmu" Nenek Wu mengusap rambut pendek Tao. Wanita tua itu duduk dikursi meja makan dan menyumpitkan masakan Tao.
Tao menggigit bibir merahnya. Ia berharap neneknya menyukai masakannya "Ini… sangat luar biasa Zitao! Kau hebat" puji nenek Wu mengacungkan dua jempol untuk Tao.
"Morning nenek! Morning Tao noona" sapa Sehun pada neneknya dan Tao. Dia segera duduk dan menyuapkan sarapannya. "Mengapa masakan noona chef Hyoyeon semakin lezat?" Tao tersenyum mendengarnya.
"Yang masak bukan Chef Kim, tetapi seorang gadis cantik yang tadi membangunkanmu" bisik nenek Wu pada Sehun yang masih terdengar jelas dengan Tao.
"Woaah! Kau sangat hebat sekali noona! Mengapa tidak aku saja yang menjadi anak pertama? Kalau begini sih aku akan menikahi Tao noona secepatnya"
"Kau ini, berhayal ingin menikahi Zitao hn? Nenek hanya setuju dia dengan Yifan" senyum Tao memudar saat nenek Wu menyebut nama china Kris. Dimana dia sekarang?
"Morning" sapaan dingin dari pria bertubuh tinggi dan atletis. Kris mengambil gelas kaca yang berisi susu putih dimeja makan dan meminumnya sampai habis.
"Yifan, sarapan dulu. Ini masakan Tao lho" ujar nenek Wu. Kris melirik kearah Tao yang sedang menunduk. "Aku sudah kenyang minum susu. Aku berangkat dulu"
Tao memejamkan matanya untuk mengusir rasa sakit dihatinya karena Kris menolak masakannya.
"Jangan dengarkan perkataan Yifan ya Zitao? Dia memang belum terbiasa dengan pelayan baru mungkin"
Belum terbiasa? Sebelum Tao menjadi pelayan Kris, mereka sudah saling kenal. Apa yang belum terbiasa? Dan lusa, Kris kemarin hampir mencuri ciuman pertama Tao.
"Ini benar-benar lezat. Noona, besok tolong masakan bekal untukku ya? Aku berangkat sekolah dulu. Bye nenek dan Tao noona" ujar Sehun.
"Zitao.. duduk disamping nenek sini nak" sahut nenek Wu memanggil Tao yang daritadi masih diam berdiri.
Tao menggeserkan kursinya dan duduk disamping neneknya 'Ya?'
"Apa kau sakit hati karena Kris menolak masakanmu?"
'Tidak. Mungkin dia memang tidak suka masakanku'
Tangan Jessica Wu yang hangat diletakkan diatas tangan Tao "Tolong jangan dengarkan ucapan dingin dan menusuk Yifan yah. Dia memang orang yang seperti itu" ujar nenek Wu.
'Aku sudah tau nek. Aku sudah terbiasa dengan orang sepertinya' jawab Tao.
"Hmm, ngomong-ngomong dua minggu lagi Yifan akan melakukan ujian kelulusan, apa kau yakin bisa merubah sikap cucuku yang selalu membolos? Walaupun sekolah yang ditempati dia adalah milikku, aku menyuruh kepada kepala sekolah dan guru-guru agar menganggapnya seperti siswa biasa" ujar nenek Wu dengan wajah memohon ada Tao.
Tao menarik nafas dan membuangnya perlahan 'Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha merubah sikapnya seperti yang nenek inginkan' Tao dan Jessica tersenyum manis.
"Terimakasih, sayang. Kau pasti bisa"
TBC
