Ada yang bilang Kematian adalah hal terburuk yang pernah di alami oleh setiap manusia.
Tapi itu salah! Karna hanya keputus asaanlah episode terburuk dalam setiap kehidupan manusia.

Drak Yagami


FlashBack : Koneko stories [Golden and Silver] part 1

Siapa aku?

Tidak peduli sebanyak apapun aku bertanya. Aku tidak akan pernah mendapatkan jawaban, karna memang tidak akan ada yang akan menjawab. Namun, aku selalu bertanya pada diriku sendiri pertanyaan itu.

Aku yang telah kehilangan kedua orang tuaku, ditangan mereka para Ex-Exorcist. Dan sekarang diburu kembali oleh para Iblis dan Exorcist akibat kejahatan yang dilakukan kakaku sendiri. Dan terpaksa hidup berpindah-pindah tempat, mecuri untuk medapatkan makanan, dan berteduh di bangunan tua yang sudah di tinggalkan.

Di usiaku yang baru mencapai enam tahun. Aku di paksa untuk hidup terlunta-lunta di jalanan, dibayangi ketakutan oleh setiap Exorcist atau Iblis yang inggin memusnakanku. Membuatku sering berfikir bahwa dunia ini tidak pernah adil.

Apa yang aku miliki hanyalah sebuah pakaian lusuh. Dan prinsip bertahan hidup, walau aku tidak punya tujuan dan berjalan tanpa tujuan. Namun aku inggin tetap hidup, walau apapun...

Aku inggin hidup.

Berpindah tempat sudah menjadi rutinitasku sehari-hari. Jika para Exorcist atau Iblis sudah mencium keberadaanku. Bukannya hanya di wilayah Netral, tapi jika aku menginjakan kaki di wilayah merekapun hasilnya juga akan tetap sama. Bahkan jauh lebih buruk.

Awalnya perjalananku berlansung aman, meski harus bertaruh nyawa. Namun sepertinya ketenanganku harus segera pupus.

Itu bermula ketika sebuah keluarga pendeta yang tak sanggup menanganiku, memanggil sekelompok Exorcist untuk menangkapku yang kebetulan sedang bersembunyi di dalam sebuah rumah tua kosong. Mereka menghubungi Exorcist setelah mendapatiku yang ketahuan mencuri sedikit danganggan mereka.

Panik.

Tentu saja aku panik saat itu. berbagai fantasi liar masuk kedalam kepalaku, fantasi bagaimana kematianku nanti. Masih dengan kepanikan yang amat sangat, aku berlari kesegala penjuru rumah berusaha untuk mencari jalan keluar agar secepatnya kabur dari sini.

Namun, pada kenyataanya aku tidak bisa keluar dari sini. Berbagai Anti-sihir menghalangi termpat pelarianku. Atau lebih tepatnya telah membungkus rumah ini, aku terjebak. Terjebak dalam genggaman tangan mereka.

Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku melawan? Tapi anak kecil sepertiku bisa apa melawan mereka?

Dengan tubuh gemetar, aku memilih untuk bersembunyi dalam lemari pada sebuah kamar. Berharap agar mereka tidak mengetahui keberadaanku. Dan berharap agar aku bisa melihat matahari pagi esok.

. . . . . . . . .

Matahari telah menerpaki langit, aku terbagun ketika cahayanya masuk menerpa wajahku dari cela-cela lemari tua ini. Perlahan pintu lemari kubuka secara hati-hati berusaha untuk tidak menunjukan suara sekecil apapun.

Mengintip dibalik jendela dari lantai dua. Kulihat hanya ada dua Exorcist yang masih berdiri disana. Seorang pria berambut putih panjang dengan tato dibawah matanya, dan seorang anak kecil yang lebih besar usianya dariku berdiri disampingnya. surai pirang itu membuatku terdiam melihat betapa mencoloknya warna rambutnya.

Tapi, aku terdiam ketika Iris biru milik anak pirang itu, entah bagaimana bisa tiba-tiba menatapku.

Dan hal yang terburukpun akhirnya terjadi, mereka melangkah masuk kesini.

. . . . . . . . . . . . . . .

"Apa yang kau lihat?" Jiraiya hanya heran melihat Naruto, ketika bocah yang baru berusia sembilan tahun itu mengadahkan kepalanya keatas seakan melihat sesuatu.

"Tidak ada... " Naruto kemudian berjalan mendahului Jiraiya dan melangka masuk kedalam rumah tua itu. "... ku rasa hanya perasaanku saja.

Tua, berdebu dengan jaring laba-lana disana sini. Dan perabotan rumah yang sudah peda rusak, menjadi pendangan Naruto ketika pertama kali dia memasuki tempat ini. Terus berjalan pelan, Naruto burusaha untuk tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Walau dia tau kedatangannya sudah di ketahui.

Namun sebagai Exorcist yang baru duduk di posisi Esquire dia tidak boleh gagal. Apa lagi mengecewakan Jiraiya, yang sudah susah-susah mengusir secara halus para Exorcist lain yang sudah mengetahui lokasi Nekomata ini. Entah apa yang ada dipikirannya, Naruto merasa yakin dia mampu menjalankan misi ini.

Langkah Naruto terhenti ketika dia melihat ada bekas-bekas jejak kaki tercetak jelas di dalam debu tebal ini. Melihat dari jejak kakinya, Naruto yakin pemiliknya adalah seorang anak kecil. Mengikuti arah dari jejak kaki ini. Naruto sampai pada sebuah kamar di lantai dua.

Dan terus mengikuti, sebuah senyum kecil terkembang di wajah Naruto ketika jejak kaki itu berakir pada sebuah lemari tua.

Nekomata. Ya, dari cerita yang didengarnya, Nekomata ini hanya menjadi objek pelampiasan nafsu pada Iblis atau Exorcist yang tidak mempu menangkap sang pelaku sesungguhnya. Yaitu kakak Nekomata itu sendiri.

Membunuh majikan sendiri dan menjadi Iblis terbuang. Membuatnya menjadi Objek pemburuan Iblis-Iblis lainnya. Namun akibat kemampuan kemampuan Youjutsu dan Senjutsu yang sempurna mengakibatkab banyaknya Iblis pemburu yang mati, ketika berusaha menangkap kakak Nekomata.

Bukan hanya Iblis saja yang menjadi korban keganasan Nekomata itu. Tapi, para Exorcist yang di perintahkan untuk memburu Nekomata itupun juga menjadi korban.

Dan seperti yang diketahui, sang adik yang masih tetap berada di tempatnya mulai dipertanyakan eksistensinya. Ketidak puasan mereka terhadap sang kakak Nekomata, membuat mereka mulai menyalahkan sang adik dan yang paling buruk adalah mulai memburunya.

Namun sepertinya takdir berkata lain. Tepat sebelum rencana pembunuhan itu, entah bagaimana bisa di kabur dan berkelana di dunia manusia di usia yang masih belia.

Naruto menutup matanya ketika mengingat cerita itu. tatapan matanya lurus menatap lemari tua didepannya, berjalan secara perlahan Naruto mulai membuka pintu lemari tua itu. dan mendapati, Nekomata itu yang memandangnya takut.

Perlahan tangan Naruto mencoba untuk mengelus surai perak itu pelan. Sialnya, seperti kucing liar lainnnya Nekomata itu mendesis kearahnya. Dan mencoba memukulnya, walaupun pukulan itu lemah. Tapi, akibat reflek Naruto secara spontan tetap melompat kebelakang.

Dan Naruto menyumpahi kebodohannya ketika Nekomata itu yang mencoba berlari keluar pintu. Tapi, Naruto menyeringai ketika sebuah anti-sihir telah menutup ruangan ini. Sepertinya dia harus berterima kasih pada Jiraiya untuk anti-sihirnya.

"Tenanglah,... aku tidak akan menyakitimu" ucap Naruto ramah seraya mendekati gadis Nekomata itu.

Melihat tubuh yang gemetar itu, entah mengapa Naruto seketika menghentikan langkahnya. Menatap gadis itu, dia bisa merasakan bahwa gadis itu sangat ketakutan. Dan yang terlebih pandangan itu...

Pandangan yang sama dengannya ketika dia mengemis untuk sebuah kehidupan.

Naruto semakin berjalan maju mendekat, berbanding terbalik dengan gadis itu yang berjalan mundur kebelakang.

Maju...

Mundur...

Maju...

Mundur..

Dukk..

Hingga akhirnya gadis Nekomata itu tidak bisa lagi berjalan mundur, karena terlahang di sudut tembok. Dan untuk kesekian kalinya Naruto kembali berhenti. Sebenarnya dia bisa saja saat ini membunuh Nekomata itu.

Tapi, entah mengapa dia menjadi tak tega. Tubuh yang gemetar ketakutan dan air mata yang mengalir dari Nekomata itu membuatnya tak tega.

"Jangan bunuh aku hiks... hiks... "

Sekali lagi dalam hidupnya Naruto dibuat terdiam oleh suara itu. suara sendu yang penuh ketakutan, seakan memohon hidup darinya. Melihat wajah pucat gadis Nekomata itu, Naruto lebih memilih untuk menjauh dan kemudian duduk, dlanjutkan mengembangkan tikar bekal yang tadi di bawanya atau yang lebih tepatnya dimasaknya tadi pagi.

Melirik Nekomata yang masih memandangnya takut, Naruto memberi isyarat tangan agar mendekatinya. Dia tau bahwa Nekomata itu belum makan seharian, karna dari kemarin pagi anti-sihir sudah dipasang untuk menjebak Nekomata ini.

Melahap beberapa makanan, Naruto menjadi gusar melihat Nekomata itu masih tetap diam mematung ketakutan. Dan sekuat tenaga juga Naruto berusaha menahan tawa, ketika suara perut milik Nekomata itu terdengar nyarig beberapa kali.

Menggelengkan kepalanya lemah, Naruto memilih bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Nekomata itu. semakin dekat, semakin Naruto mendapati tatapan takut dari gadis itu. semakin dekat hingga akhirnya.

"Ini, aku tau kau belum makan" ucap Naruto tersenyum ramah, sambil menyerahkan sebuah kotak bekal dengan isi ikan tuna disana. Naruto melirik gadis itu yang ragu-ragu menerima pemberiannya, bosan menunggu Naruto kemudian memberika paksa kotak bekal itu. dan kembali berjalan menuju tempatnya makan bersama Nekomata itu.

Nekomata yang masih ketakutan menghadapinya.

"Aku tidak akan menyakitimu... " Naruto menatap gadis itu, gadis yang masih diam menatap kotak bekalnya. "Sekarang makanlah"

Lama dan walau sanagat lama. Tapi, akhirnya semua itu terbayarkan ketika bagaimana Naruto melihat Nekomata itu, perlahan memakan ikan tuna yang kebetulan ada disana. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya gadis itu menagis bahagia sambil memakan ikan tuna buatannya sambil berucap "enak" berulang kali.

. . . . . . . . .

Jiraiya tak habis pikir bagaimana cara Naruto dapat menjinakan Nekomata itu. Yup, saat ini dia, Naruto dan Nekomata itu telah berada halama di luar rumah tua ini. Sekali lagi Jiraiya harus menghela nafas berat ketika Nekomata itu menatapnya takut dan memilih bersembunyi di balik tubuh Naruto.

Gadis kecil yang unik.

Menatap jauh kedepan, seharusnya dia tau mengajak Naruto bisa menimbulkan masalah yang panjang kedepan. Tapi, entah mengapa dia lebih senang menunggu datangnya masalah itu dibanding hanya duduk tenang di dalam Gereja.

"Ayo pergi" ucap Jiraiya penuh wibawa pada dua anak kecil itu. pergi dari rumah tua itu menyonsong matahari sore yang sudah membayang di langit senja.

0o0o0

Satu Tahun Kemudian

Ada yang mengatakan kebahagiaan akan datang setelah kau menempuh penderitaan yang panjang. Dan kurasa itu memang benar adanya.

Saat ini aku, Koneko nama yang diberikan tuanku, Naruto-sama. Sedang asik memperhatikan bagaimana Naruto-sama memotong sayuran dengan teliti. Meski usia Naruto-sama masih sepuluh tahun, tapi jangan ragukan skill memasak miliknya yang sudah seperti koki profesional.

Yup~ saat ini Naruto-sama sedang membuat lasagna sebagai sarapan kami. Ohhhh,... kegiatan ini sudah kami mulai dari pukul lima pagi.

Bau harum segera masuk kedalam indra penciumanku ketika Naruto-sama menumis bawang putih dan bawang merah. Dan lalu,... hei itu danging yang aku beli kemarin. Juga telah digiling dan ikut dimasukan.

Pandanganku beralih ketika Naruto-sama membuat saus tomat dengan cepat. Menambahkan tomat dan Tomato pasta dan aduk rata, juga Naruto-sama memasukan sesuatu yang tak aku suka disana susu. Jika ditanya Naruto-sama hanya berkata agar aku cepat tinggi. Oh ya,... Naruto-sama juga memasukan garam, dan merica bubuk kemudian mengaduk mereka kembali sampai rata.

"Koneko-chan awasi tumisannya" Naruto-sama memintaku untuk mengawasi tumisan danging tadi. Dan tentu saja dengan senang hati aku awasi. He he he he he he

Kulirik Naruto-sama kemudian membuat saus keju. Caranya cukup sederhana, namun rumit. Dengan memaskan margarin, kemudian Naruto-sama menambahkan tepung terigu lalu negaduknya sampai sebutir telur, dan lagi-lagi susu ditambahkan sampai sedikit-demi sekit mejadi licin. Lalu kemudian masukan keju cerdar parut, garam dan merica bubuk. Dan terakir masak sampai meletup-letup.

Beberapa saat kemudian, Kulihat Naruto-sama mengeluarkan lasagna dan diletakan di dasar piringan tahan panas yang di olesi margarin. Beri tumisan. Tata lagsana, dan beri lagi tumisan. Dan Naruto-sama terus melakukannya hingga terakir disiran dengan saus keju.

Naruto-sama kembali mengangkat wajan anti panas itu. meletakannya di oven, Naruto-sama mengatur oven selama 50 menit dengan suhu 170 derajat.

Menunggu matang, Naruto-sama pergi untuk mengerjakan beberapa urusan lainnya. Berbeda denganku yang setia menunggu hingga lasagna itu matang. Menunggu bunyi oven yang bagaikan suara merdu ditelingaku. Ekor kucingku tak henti-hentinya melambai kesana-kemari, tak tahan lagi untuk menunggu.

Think...

"Naruto-sana... Naruto-sama" aku berteriak kencang ketika oven itu sudah berbunyi. Dan dari luar dapur, bisa kudengar bunyi suara gaduh jatuhnya beberapa barang. Seraya Naruto-sama yang berkata, "Tunggun sebentar"

Namun aku tidak peduli, aku terus berteriak agar Naruto-sama dapat segera datang. Masakan Naruto-sama memang yang terbaik, apalagi lasagna yang memang kesukaanku. Kulihat Naruto-sama datang sambil kedapur sambil tergesah-gesah. Aku tersenyum lebar ketika melihat kedatangannya. Beranjak pergi memberi ruang, aku kemudian mengambil piring dan mulai meletakannya diatas meja makan.

Pandanganku masih fokus pada Naruto-sama yang sepertinya sedang berusaha mengangkat wajan anti panas tempat lasagna. Meletakan di atas meja, Naruto-sama mulai memotongnya dan memberikan potongan itu padaku.

"Jangan dimanakan dahulu... " ucap Naruto sambil meletakan potongan lasagna di atas piring Koneko. "... biarkan agak dingin dahulu " sambung Naruto seraya beranjak pergi sejenak.

Aku hanya mengangguk patuh mendengar ucapan Naruto-sama, mentapa lasagna itu sambil meniup-niupnya. Dari luar dapur bisa kudengar kembali suara gaduh, dan detik berikutnya Naruto-sama datang kembali bersama, sang Exorcist mesum Jiraiya.

"Sudah jadi ya?" ucap Jiraiya yang segera duduk menyusul Koneko dan di ikuti Naruto.

Yup~ ini lah yang terjadi setiap pagi. Naruto-sama yang memasakkan kami makanan, dan keributan yang dihasilkan Naruto-sama dan Jiraiya-mesum tiap pagi. Menjadi rutinitas kami hampir setiap hari.

Lalu kegiatan dilanjutkan dengan aku, Koneko dan Naruto-sama yang sama-sama pergi berangkat sekolah. Namun sayangnya kami berbeda sekolah. Aku bersekolah, di sekolah umum biasa. Sedangkan Naruto-sama bersekolah di Academy yang entah apa namanya, tapi Academy itu bertujuan untuk mendidik dan menghasilkan para Exorcist tangguh.

Academy itu menggunakan sistim asrama. Tapi, Naruto-sama mendapat pengecualian kusus. Karna secara lansung dia berada di bawah bimbingan Jiraiya-mesum. Entah mengapa yang pasti tidak aku tidak tau.

Dan Jiraiya-mesum setiap pagi entah pergi kemana. Tapi, kata Naruto-sama dia pergi untuk mencari inspirasi tentang novelnya. Dan biarku tebak itu pasti novel erotis.

Walau aku sekarang sudah merasa bahagia karna tinggal dengan Naruto-sama dan Jiraiya-mesum. Namun tak hentinya aku sering berfikir... bagaimana jika saat itu aku tidak berumpa dengan Naruto-sama?

Apakah yang akan terjadi?

Apakah aku masih bisa hidup? Atau sudah lama mati?

Namun aku tidak peduli, bagiku ini sudah lebih dari cukup. Tinggal dengan mereka berdua merupakan kebahagiaan untukku. Banyak kejadian menyenangkan yang kami alami bersama.

Contohnya adalah kekonyolah yang di buat Jiraiya-mesum ketika kami pergi ketempat permandian air matas. Berdalih untuk inspirasi novel, pak tua itu justru ketahuan mengintip wanita mandi. Alhasil keributanpun terjadi, dan untuk menyelesaikan masalah yang telah diperbuatnya terpaksalah Naruto-sama meminta maaf pada semua orang atas kelakuan ayah angkatnya itu.

Dan yang paling aku sukai adalah waktu bersama kami, menjilati eskrim sambil duduk di tepi jalan. Menghitung berapa banyak mobil bewarna biru atau merah yang lewat, di permainan ini Jiraiya-mesum sebagai wasitnya. Dan tentu saja aku selalu menang dalam permainan ini.

Banyak sungguh banyak hal indah yang kami lakukan bersama, begaikan beban yang terlanjur menghapiriku hilang entah kemana.

Dan ketika kegelapan temani sekitarku. Dimana aku hanya diam mengintip tanpa bergerak, di saat itu dia datang mengenggam tanganku. Dan menarikku menuju hidup yang penuh warna.

Dan jika boleh jujur,... aku sangat bahagia. Bahkan terlalu bahagia. Dan jika boleh berharap, aku harap ini tidak akan berakir dengan cepat.

0o0o0

Satu Tahun Kemudian

Apakah aku terlalu banyak berharap?

Aku kembali bertanya pada diriku. Kenapa sebuha kebahagiaan kecil yang begitu aku impiakan perlahan sirna ketika mereka datang. Ya mereka, para Iblis pemburu yang masih bernafsu untuk membunuhku.

Kejadian ini bermula ketika, Jiraiya-mesum pergi keluar kota untuk mencari dan mendapatkan inspirasi untuk novel barunya. Awalnya dia berkata akan mengajak kami, karna dia tidak yakin kami bisa menjaga diri. Namun, Naruto-sama menyuruhnya untuk pergi sendiri saja, karna Naruto-sama yakin kami bisa menjaga diri sendiri.

Satu minggu setelah kepergian Jiraiya-mesum, hari-hari berlalu seperti biasanya. Namun sekarang di sebuah taman pinggir kota pada malam hari, sekelompok Iblis datang dan menghadang kami. Mereka datang bukan untuk Naruto-sama yang notabenya berasal dari fraksi surga. Tapi, mereka datang untukku...

Untuk membunuhku. Tapi, entah mengapa firasatku mereka juga akan membunuh Naruto-sama.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

"Serahkan dia bocah!" seorang Iblis membuka suaranya ketika melihat bocah bersurai kuning, dengan sigap mentembunyikan buruannya.

Mendapat ancaman seperti itu, Naruto hanya diam sebagai jawabannya. Memilih tidak menjawab karna mereka pasti sudah tau akan jawabannya. Menyembunyikan tubuh Koneko dibalik punggungnya, tangan kanan Naruto mengenggam erat sebuah tongkat seukurang ngemngaman tangannya.

"Jadi itukah jawabanmu?" dengan itu sang Iblis menunjukan seringaiannya. Dan tidak berselang lama dua Iblis melesat kearah Naruto. Namun seketika mereka dikejutkan oleh sebuah pedang cahaya yang digenggam erat oleh bocah pirang itu. dan melihat itu memaksa mereka untuk mundur kembali.

"Holy Sword? Jadi kau seorang Exorcist?" tanya sang Iblis yang sedikit kaget begaimana bocah berusia sebelas tahun telah memengan sebuah Holy sword. Dia tidak menyangka bocah inggusan yang baru ditemuinya ini adalah seorang Exorcist. 'Ini menarik... '

Dua Iblis yang tadi mundur segera datang kembali melesat kearah Naruto. Sedangkan, Naruto sendiri sudah memasang kuda-kuda bertarung bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

itulah yang terjadi, Naruto-sama di keroyok oleh enam Iblis sekaligus. Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri, ketika bagaimana Naruto-sama dipermainkan dan di siksa secara perlahan-lahan. Enam Iblis yang mengepung Naruto-samapun tertawa terbaha-bahak menyaksikan kegigihan Naruto-sama dalam memlindungiku.

"Memang anak kecil sepertimu bisa apa?" kulihat salah satu Iblis menginjak kepala Naruto-sama yang sudah tergeletak tidak berdaya. Namun, walaupun begitu bisa kupastikan tatapan Naruto-sama masih sama.

Tatapan yang dingin, penuh kebencian dan nafsu akan membunuh.

Kulihat dua orang Iblis melirik dan akhirnya melangkah mendekatiku. Tubuhku gemetar melihat mereka yang semakin dekat. Walau sudah mencaci diri sendiri, tubuhku tetap saja melangkah mundur. Walau sudah berusaha untuk menahan, air mata ketakutan tetap mengalir dari kedua mataku.

Aku terduduk, ketika secara tak sengaja tersandung oleh batu.

Kulihat dua orang Iblis itu berdiri tepat di depanku, sebuha balok berkekuatan sihir tercipta di telapak tangannya. Mereka menyeringai, tersenyum penuh kemenangan.

"Ja-jangan... " aku memohon, mengemis untuk hidupku dan juga untuk hidup Naruto-sama. "J-jangan bunuh kami"

"Hah..?" Iblis itu memandangku dengan raut wajah kebingungan. "Siapa yang inggin membunuh si pirang itu?"

"Kami hanya inggin melenyapkanmu kok"

Aku kembali terdiam ketika mendengar ucapan itu ... tatapanku kosong ketika mereka berucap ... kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Namun, aku hanya bisa menangis 'apa salahku?' 'kenapa semua ini menjadi tanggung jawabku?' 'kenapa setelah mendapatkan secuil dari kebahagiaan semua mesti sirna?

Aku kembali memandang Iblis di hadapanku, aku ... aku tak inggin mati. Namun,... aku tak kuat jika melihat Naruto-sama terus tersiksa seperti itu. aku salah, jika aku berharap masuk dalam kehidupannya akan menjadi baik. Aku terlalu munafik untuk hal itu...

Karna pada kenyataannya.

Tidak akan ada kebahagiaan untukku... kulirik Naruto-sama yang meraung-raung kasar, berusaha memberontak. Namun semua itu sia-sia, para Iblis yang menjaganya segera menginjaknya kembali, seraya tertawa keras.

"Dia tidak akan seperti itu jika dia tidak membelamu.. " Iblis itu melirik Naruto-sama yang sedang berusaha bangkit untuk membelaku. "Tapi sayang dia bodoh"

Sakit, sakit ketika mendengar ucapan itu. namun, apa dayaku... tapi itu benar ... jika andaikata Naruto-sama tidak melindungiku...

Salah!

Andai saja kami tidak pernah bertemu,... dia tidak akan tersiksa. Dan aku akan pergi dengan tenang [mati] dari dahulu ... tapi dia memberiku warna, dia memberiku hidup ... dan meyakinkanku bahwa hidup itu indah.

Dan jika dia bisa selamat dengan kematianku biarlah ... biarlah ... biarkan aku menghilang dan terhapus dari dunia ini.

Mungkin ini pertemuan kami yang terakir, meskipun hanya sebentar tapi aku senang. Walau aku tau, ada kilatan marah, sedih, dan kecewa ketika mata kami saling bertatapan.

Kembali ku lihat Iblis itu mengarahkan tangannya kepadaku. Walaupun aku sudah pasrah akan hidupku, namun aku tetap berharap untuk bisa tetap hidup bersama Naruto-sama dan Jiraiya mesum.

Meski aku tau jika semua itu hanyalah kenangan dan mimpi indah yang tak mungkin akan terwujud lagi.

Terima kasih untuk semuanya... dan dengan itu aku menutup mata pasrah... karna tidak akan ada kebahagiaan yang abadi bagiku... dan selamat tinggal.

.

.

.

.

"Arigato..."

Blaaarrrr...

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Author mohon maaf untuk yang udah reques xover Snk... Author belum bisa kerjain tu fic, karna inspirasi belum datang menghampiri... ya mau gimana lagi. Karna sesuatu yang dipaksakan akan menuai hasil yang tak maksimal.

Oh ya bagaimana dengan chap kali ini. Apakah menengangkan? Author rasa readers bisa merasakannya he he he he...

Satu lagi membuat Fic dengan genre Romance adalah hal yang sangat susah buat Author. Apa lagi dengan sikap Koneko yang kadang bisa dewasa, kadang bisa manja kayak anak-anak... yup jika kalian binggung, sikap dewasanya ini [pisikologis] terbentuk ketika dia mengalami penderitaan panjang, dan sikap anak-anak ya... bisa kalian lihat pada saat dia bersama Naruto.

Mungkin ada yang bunggung? Jika Koneko manggil Naruto dengan embel-embel 'sama' dan jika kalan binggung bacalah lanjutan fic ini sampai tamat.

Dan seperti biasa jika kalian masih inggin atau penasaran dengan kelanjutannya ... reviewlah sebanyak-banyaknya...

Drak Yagami out~