Suasana ruang tamu keluarga Wu seketika menjadi hening dan ber-aura tegang. Disana terdapat nenek Wu duduk disofa single, ibu dan ayah Kris yang duduk bersebelahan dan begitu sang pelaku yang akan diintrogasi pun duduk bersebelahan. Jessica pun bingung mengapa anak dan menantunya pulang tidak dikabari terlebih dahulu.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Wu Yunho anak satu-satunya Jessica Wu dan sekaligus ayah Kris dan Sehun.
Pelaku yang ditanya hanya diam. Bukan takut. Kris yang sedang memutar otaknya untuk merangkai kata-kata untuk disampaikan pada ayahnya dan Tao yang masih shock belum bisa menenangkan dirinya.
"Mereka hanya majikan dan pelayan pribadi. Itu saja" jawab nenek Wu untuk membela kedua cucunya. Sebenarnya nenek Wu senang apa yang Kris dan Tao lakukan tetapi mereka belum menjadi sepasang suami istri. Belum waktunya melakukan hal yang tidak-tidak. Tetapi kenyataannya bukan seperti itu kan?
"Aku tidak percaya! Wanita ini pasti seorang jalang kan? Hmm biasakan memilih pelayan itu yang baik! Jangan seorang gadis jalang yang hanya memerlukan uang tanpa bekerja maksimal. Paling hanya menggoda majikannya" ujar Jaejoong ibu kandung Kris yang tadi melihat adegan anaknya dan Tao dikamar Kris. Kalimat itu sebenarnya menyindir Jessica yang selama ini mengurus Kris dan Sehun.
Jessica tahu bahwa kata-kata pedas Jaejoong itu menyindirnya. Ini pertama kalinya Jaejoong menyindirnya. Tapi Jessica menunggu tanggal mainnya. Dan jangan lupakan Tao yang sakit hati dikatain seperti itu oleh orang tua kekasihnya.
"Jaga ucapanmu, Jae" ucap Yunho yang menegur kata-kata istrinya. Jaejoong hanya memutarkan matanya malas.
"Maaf Pa,Ma dan nenek. Aku yang bersalah memintanya untuk menemaniku tidur. Selama ini aku belum pernah tidur dipelukan seorang wanita kecuali nenek yang selalu memelukku sebelum tidur saat aku masih kecil. Dan satu lagi, mama jangan memanggil Tao seperti itu. Karena dia adalah gadis baik-baik!" jelas Kris yang segera pergi dari ruang tamu yang keadaan mencekam. Jujur, dia sendiri sakit hati dengan perkataan ibunya yang mengatakan kekasihnya 'murahan'. Apalagi perasaan kekasihnya sendiri.
Dan bodohnya, Kris tidak pergi dari ruang tamu dengan Tao. Apa yang terjadi nanti kalau kekasihnya terus-terusan diintrogasi? Kris keluar sebentar dari kamarnya dan melihat ruang tamu, Tao pergi dengan neneknya kearah dapur. Bersyukur orang tuanya duduk disofa menghadap jendela. Bukan menghadap tangga yang tepat di depan kamar Kris. Kris masuk lagi dan tidur untuk menenangkan dirinya dan kepalanya yang bertambah sakit.
Sementara di dapur, Tao sedaritadi menangis. Kenapa? Karena dia sakit hati ia dikatai seperti itu oleh ibu Kris. Air mata yang mengumpul dipelupuknya bisa keluar dengan bebas. Nenek Wu hanya memeluk Tao untuk menenangkan hatinya dan jiwanya juga. Jessica juga merasa kesal dengan Jaejoong yang berbicara seenak jidatnya. Ia hanya bersabar dan menunggu tanggal mainnya.
"Sudah sayang. Jangan menangis lagi. Nenek tidak mau cantikmu luntur" tangisan Tao mulai menghilang. Nenek Wu mengusap pipi tembam Tao untuk menghapus jejak air mata Tao.
"Sudah tenang?" Tanya nenek Wu. Tao mengangguk sambil menghapus air mata yang sudah agak mengering.
"Sekarang, kau ceritakan apa yang kau dan Yifan lakukan dikamar hem?"
Tao mengambil nafas panjang "Aku dan Yifan tidak melakukan apa-apa. Sumpah nek! Ketika aku ingin menaruh piring didapur, Yifan memintaku untuk menemaninya tidur sambil pelukan sampai dirinya pulas. Aku sebagai kekasihnya menuruti kemauannya. Dan dia memasang wajah yang membuatku kasian"
Nenek Wu mengernyitkan dahinya. Ada satu kata dalam kalimat yang menjanggal.
'Aku sebagai kekasihnya menuruti kemauannya' ?
"Kekasih?" Tao mengangguk dua kali dan tiba-tiba matanya membulat. Bagaimana tangannya bisa menggerakkan kata 'kekasih'?
"Jadi benar kalian pacaran?" Tanya nenek Wu dengan menyelidik. Tao mengangguk lemah dan segera berjongkok didepan neneknya.
"Aku tahu aku tidak pantas dengan Yifan. Mohon maafkan aku. Aku akan memutuskannya jika nenek tidak setuju" nenek Wu merasa bingung. Dia menatap Tao dengan tatapan 'apa-yang-kau-pikirkan-tao?'
"Haha.. kau berpikir aku tidak menyetujui hubunganmu dengan cucu kandungku? Kau ini benar-benar polos, baby. Siapa bilang seperti itu? Kau tahu, ketika pertama kali kalian bertemu dan kau terlambat kerumah nenekingin mengenalkan kalian berdua dan menjodohkan kalian sayang. Dan kalian ternyata sama-sama mencintai tanpa campur tangan nenek. Selamat yah sayang" jelas nenek Wu panjang lebar. Tao memeluk nenek Wu sambil mengerucutkan bibir ranumnya.
"Nenek akan mendoakan kalian langgeng sampai menikah yah. Jangan pikirkan ibu Kris yang seperti itu. Nenek akan melawan siapa saja yang menentang hubungan kalian. Kalau ada masalah apa-apa, kau tinggal ceritakan pada nenek. Mengerti?"
"Ya, aku mengerti nek"
/\\
/\\
/\\
Semakin lama, sikap Jaejoong –ibu Kris- semakin keterlaluan pada Tao. Sehari setelah kejadian tersebut, Jaejoong selalu memerintahkan Tao pekerjaan yang lumayan berat. Tao diperintahkan untuk membersihkan seluruh bagian rumah yang dianggap Jaejoong kotor. Kris yang melihat itu ingin sekali melawan ibunya yang kejam, tetapi dilarang oleh Tao. Jika Kris melawan ibunya maka Kris juga sama saja menyakiti Tao.
Dan tidak lupa pada nenek Wu yang merasa kasihan pada Tao. Wanita tua yang pintar ini menyuruh dua pelayan lain untuk membantu Tao tanpa se-pengetahuan Tao dan Jaejoong. Satu pelayan membereskan dapur dan seluruh kamar mandi kecuali kamar mandi dikamar anak dan menantunya dan pelayan satunya membersihkan seluruh kamar yang megah kecuali kamar anaknya.
Begitupun dengan Sehun, ia pernah melihat ibunya memarahi Tao karena pekerjaan Tao tidak benar. Ibunya memukul noona cantiknya dengan rotan. Awalnya kulit putih noonanya memerah dan lama kelamaan kulit itu menjadi biru. Sehun segera berlari ke tempat obat. Dan beruntung saat Sehun ingin mengobati Tao, ibunya sedang mengangkat telpon dari seseorang dan segera pergi meninggalkan rumah. Sehun memaksa Tao yang terus menerus menolak untuk diobati dan akhirnya Sehun bisa mengobati tangan Tao.
Dan Yunho sebagai suami Jaejoong sama sekali tidak ada teguran untuk Jaejoong. Malam itu, Jessica menceritakan semua apa yang dilakukan Jaejoong ke Tao pada anaknya itu, tetapi Yunho sangat takut untuk memarahi Jaejoong karena ia sangat mencintai wanita itu. Dan itu membuat Jessica mengumpatkan kata-kata kasar pada anak lelakinya.
Memang, hanya Kris dan Sehun saja yang sepikiran dengan nenek Wu. Mereka membela Tao karena mereka menyayangi gadis cantik itu. Setiap Jaejoong memerintah apapun pada Tao, nenek Wu selalu mempunyai ide agar Tao tidak terlalu berat melakukan hal-hal diperintahkan Jaejoong. Tetapi Kris sangat beruntung, ibunya tidak tahu kalau dia dan Tao sedang berpacaran. Setiap malam mereka hanya berkirim pesan walaupun satu atap.
Malam ini, Jaejoong meminta Tao untuk memasakkan sup jamur hangat untuk sang suami. Ketika Tao datang keruang makan, Jaejoong bersmirk. Saat sedikit lagi sampai dimeja makan, kepala Jaejoong mengisyaratkan seorang pelayan yang berada disekitar ruang makan untuk melakukan sesuatu.
BRUK
"Yak! Dasar jalang! Apa yang kau lakukan? Sup ini hangat, bagaimana kau bisa jatuh dan menumpahkan sup itu di paha suamiku?!" amarah Jaejoong terus berkoar.
'Haha, dengan begini aku bisa mengeluarkan gadis bisu ini keluar dari rumah ini. Aku akan merayu Yunho' batin jahat Jaejoong.
Jessica Wu dan Kris berlari kearah Tao dan membantunya bangun dari jatuh.
"Kau tidak apa-apa, baby?" Tanya Kris dengan membisik ditelinga Tao. Tao mengangguk ketakutan.
"Suami-ku, kau tidak apa-apa kan? Apa yang sakit?" Tanya Jaejoong pada suaminya yang sedang membersihkan celana bagian pahanya.
"Tidak apa-apa, Jae. Mungkin Tao kesandung sesuatu" jawab Yunho dengan lembut. Dan Jaejoong mendengar itupun hanya mendeathglare Yunho diam-diam.
Sehun yang melihat noonanya terjatuh segera berlari kearah noonanya. Namun, pensil yang ada dikantungnya jatuh dan menggelinding. Dan Sehun melihat sesuatu didekat pensilnya berhenti menggelinding. Sehun berpikir, apakah ini penyebabnya Tao terjatuh?
"Nenek, ini benang yah? Apakah Tao noona tersandung karena ini?" Jessica Wu yang matanya kurang melihat benda putih panjang itu segera mendekat ke Sehun. Ia memegangnya dan mengikuti jejak benang itu.
"Siapa yang mengikat benang ini?" Tanya nenek Wu pada pelayan disekitar ruang makan. Semua pelayan diam. Mereka terdiam karena mereka tidak tau siapa pelakunya. Kecuali satu orang diantara mereka.
"Ayo jawab! Kalau tidak ada yang jujur, aku akan memecat semua!" emosi Jessica sudah tidak terkendali lagi. Semua pelayan yang tidak bersalah sudah mulai ricuh karena mereka tidak mau dipecat.
"Saya nyonya" seorang pelayan lelaki maju selangkah dari tempatnya dan pelayan lain berdiri. Sambil menunduk, ia memberanikan diri untuk jujur.
"Bagus. Siapa yang menyuruhmu? Jika kau jujur, gaji bulan ini akan naik tiga kali lipat" nenek Wu menyilangkan tangannya didepan dada. Sang pelayan melirik kearah Jaejoong.
"Nyonya Jae-joong" nenek Wu mendelik kearah Jaejoong yang tengah menatap tajam pelayan suruhannya.
"Auhh, sudahku duga ternyata kau orangnya, menantuku" nenek Wu menghampiri Jaejoong yang mendengus kesal.
"Mengapa kau melakukan itu, Jae?" Tanya Yunho yang tak menyangka sang istri tercintanya sangat jahat.
"Aku hanya ingin gadis bisu itu enyah dari rumah ini! Dasar gadis yang tidak bermanfaat!"
"Jaga mulutmu, Ma!"
"Jaga mulut-ku? Apa karena kau sudah terjerumus dengan gadis jalang dan bisu itu? Aku tahu, kau memiliki hubungan special dengan gadis itu! Jangan sekali-sekali kau membela gadis itu lagi, karena kau adalah anak kandung Mama!" ucap Jaejoong dengan amarah yang sudah meluap.
Kris dan nenek Wu menarik nafas panjang bersiap untuk berperang dengan wanita bermata doe dihadapan mereka. Yunho hanya duduk diam, ia bingung harus memilih istrinya atau ibu dan anaknya. Kris mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sehun dan membisikkan sesuatu. Lalu Kris berdiri dan menghadap Tao yang sedang menangis dalam diam. Ia mencium puncak kepala Tao dan membisikkan kata cinta dan maaf ditelinga Tao. Sehun menggandeng noonanya untuk keluar dari ruang makan.
"Apa katamu? Kris adalah anak kandungmu? Kenapa bisa begitu?" Tanya nenek Wu memulai perang.
"Karena Kris keluar dari rahimku dan juga darah dan dagingku berada ditubuhnya"
"Tapi sungguh, aku lebih suka menjadi anak nenek dari pada anakmu!" ucap Kris.
"Anak durhaka! Kau pantas mendapatkan ajab dari tuhan!"
"Wajar Kris durhaka padamu, karena ibunya tidak pernah mengurusinya. Mengapa aku sebagai neneknya yang mengurus Sehun dan Kris sampai besar? Memang, Kris pernah melawanku, tetapi dia sadar dan minta maaf padaku. Siapa yang menyadarkannya? Jelas pelayan pribadinya yang menjadi sekarang adalah wanita yang ia cinta" jelas nenek Wu. Jaejoong semakin benci pada Tao. Wanita bisu itu bisa saja mencari muka pada ibu, pikir Jaejoong.
"Dia hanya ingin mencari muka padamu, Bu. Sebenarnya dia licik. Hati-hati, barang-barangmu hilang. Mengapa gadis jalang yang tidak bisa berbicara itu di-bela?" ujar Jaejoong meledek nenek Wu.
"Mama tidak tau apa yang kita lakukan. Aku yang salah. Saat itu, aku sedang sakit. Wajar aku sebagai kekasihnya bermanja saat sakit. Dia adalah wanita kedua yang benar-benar aku sayangi yang pernah-ku peluk ketika ingin tidur selain nenek. Apa mama pernah memelukku? Apa Mama pernah tahu kapan aku sakit dan kecelakaan? Kapan mama pernah mengucapkan 'cepat sembuh' padaku? Apakah mama menjengukku saat aku kecelakaan ketika umurku tujuh tahun karena aku tertabrak mobil yang sebenarnya pelakunya adalah musuh perusahaan Wu? Mereka bebas. Tetapi saat itu aku dalam keadaan antara mati dan hidup! Aku memperjuangkan hidup hanya untuk nenek! Dan intinya, kapan mama pernah perhatian padaku?!" air mata Kris sudah keluar. Masa dulu yang suram terngiang-ngiang diotaknya.
Yunho yang mendengar itu hanya diam hampir menangis. Walaupun anaknya berbicara untuk istrinya tetapi dia juga merasa sebagai papa Kris. Iya. Yunho menyesal mementingkan perusahaan Wu dari pada anaknya jika ia meninggal nanti doa mereka akan dikabulkan.
Jessica Wu tersenyum licik "Kalau kau bisa mengaca, mengacalah! Kau tahu sebelum kau menyandang nama Wu kau itu apa? Kau wanita murahankan? Ups, jangan tanya aku tahu dari mana. Ketika Yunho memperkenalkan-mu, dari cara jalanmu kelihatan kau sudah tidak perawan lagi. Kalau muka okeh, pura-pura polos. Aku wanita tua bisa membedakan mana yang masih perawan atau tidak. Kau tahu mengapa aku menyetujui kau dengan anakku? Aku kasihan padamu. Sebenarnya kau adalah gadis miskin dengan kehidupan glamour. Jika kau tidak menikah dengan anak-ku, kau tidak berkehidupan glamour lagi. Bukankah kau lebih jalang dari Tao? Dan kau egoiskan karena Tao tidak boleh dekat-dekat dengan keluarga Wu yang kaya raya? Karena kau adalah satu-satunya wanita yang menguasai." Ujar nenek Wu panjang lebar dengan senyuman merekah dibibirnya. Akhirnya ia dapat membongkar rahasia menantunya. Dan Kris yang tadinya menangis menjadi tersenyum sinis kearah ibunya.
"Tetapi sayangnya dua orang anakmu adalah laki-laki" ucap nenek Wu dengan dingin.
"Ternyata ibuku adalah seorang jalang? Aku tidak menyangka nek. Haha" nenek Wu dan Kris tertawa bersama.
"Jadi intinya, ibu tidak menyetujui pernikahan kalian. Tetapi anak-anakmu sangat beruntung karena aku menyayangi mereka. Awal-awalnya kau memakai topeng yang menutupi sikapmu, tapi sekarang sudah menonjolkan."
Jaejoong menangis. Ia tidak suka seperti ini. Sudah cukup masa kecilnya dibully oleh teman-temannya. Ia berlari keluar ruang makan. Jaejoong sudah tidak tahan dengan ucapan mertuanya.
"Jae.. jaejoong! Kau mau pergi kemana?" panggil Yunho pada sang istri. Ia juga mengejar istrinya. Yunho takut ditinggal oleh Jaejoong karena dia wanita yang sangat ia cintai.
Nenek Wu mengisyratkan Kris untuk kekamar Sehun dimana Sehun dan Tao berada. Dia akan mengurusi masalah ini. Akhirnya mereka berpencar. Kris berlari kearah kamar adiknya untuk menemui Sehun dan Tao sedangkan nenek Wu kearah dimana anak dan menantunya, tapi tidak tahu dimana.
"Kau jangan pergi, Jae. Maafkan ibu-ku" mohon Yunho sambil berjongkok didepan Jaejoong yang berada didekat pintu keluar. Nenek Wu melihat adegan anak dan menantunya dengan melipatkan tangannya didepan dada.
"Tidak. Aku harus pergi. Aku sudah tidak kuat lagi, Yun hiks..hiks..hiks" ucap Jaejoong sambil terisak.
"Kau pergi, disini pun tidak ada yang rugi" ucap nenek Wu yang selanjutnya tertawa jahat.
"Lepaskan tanganku, Yun" ucap Jaejoong sambil menghentakkan tangannya agar sang suami melepaskan genggaman tangannya.
"Aku akan ikut dengan-mu" kata Yunho yang membuat nenek Wu membulatkan matanya. Kenapa anaknya bodoh sekali sih. Kenapa anaknya sekarang sudah tidak bijak dan tegas dan sekarang kehidupannya bergatung dengan wanita yang dari awal tidak disukainya.
"Yunho, kau memilih Jaejoong atau ibu?!" Tanya nenek Wu dengan tegas pada anaknya. Yunho diam sambil melihat ibunya.
"Jika kau memilih Jaejoong, jangan sekali-sekali bertemu dengan ibu dan semua warisan atau hartamu turun ke Yifan, Sehun dan Zitao. Aku tidak akan mau menganggap-mu anak lagi!"
Kaki Yunho bergerak maju kearah ibunya. Nenek Wu tersenyum. Tiba-tiba tangan Jaejoong menarik tangan Yunho.
"Jika kau memilih ibu-mu, kau jangan mencari-ku dan anak kita. Ingat! Perusahaan Wu di Kanada bangkit lagi karena siapa?" ucap Jaejoong. Ada yang kata mengganjal sebenarnya.
"Anak kita?" Tanya Yunho tidak mengerti.
"Iya. Aku hamil dua bulan, Yun"
Nenek Wu tertawa lepas. Menurutnya ini adalah hal yang lucu "Kau hamil lagi? Seperti kucing saja hamil terus. Mending mau mengurusi anak itu. Nanti ujung-ujungnya juga diserahkan pada-ku, oh aku lupa kau kan bukan menantu-ku lagi. Kemungkinan kau menaruh anakmu dipanti asuhan" ucap nenek Wu dan tertawa lagi. Jaejoong melangkah pergi keluar. Yunho pun mengejar Jaejoong.
Entahlah perasaan nenek Wu sekarang. Antara senang karena Jaejoong pergi dari rumah dan sedih karena anak-nya tidak mau menuruti kata ibunya sendiri. Sebenarnya nenek Wu mempunyai banyak harta. Perusahaan yang diberikan pada Yunho hanya diKanada dan China. Masih banyak lagi yang akan ia berikan untuk Kris, Sehun, dan juga cucu perempuannya. Daripada memikirkan anaknya dan wanita itu, mending ia menyusul tiga cucunya.
.
.
.
Dikamar yang mendominasi warna biru muda, satu wanita dan dua laki-laki berada disana. Ya ini dikamar Sehun dan pasti kalian tau siapa orangnya. Tetapi satu wanita yaitu Tao sedang tertidur dalam pelukkan Kris. Mungkin Tao lelah sedaritadi menangis terus terusan. Kris juga membalas pelukkan Tao yang sedang tertidur sambil memejamkan matanya tapi tidak membawa jiwanya ke-alam mimpi. Sedangkan Sehun sedang main mobil-mobilan setelah tadi menyelesaikan tugasnya bersama gegenya.
CRIET
Pintu terbuka dan menampakkan nenek mereka dengan senyum merekah. Kris membuka matanya dan melihat aneh kearah neneknya yang tiba-tiba tersenyum. Nenek Wu menghampiri Sehun yang juga menatap aneh neneknya.
"Kenapa kalian melihat nenek seperti itu?" Tanya nenek Wu yang masih dengan senyum cantiknya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya, Yifan?"
"Jangan pura-pura, nek"
"Okeh. Aku berhasil mengeluarkan mama-mu dan .. sekaligus papa-mu"
"Kenapa papa juga pergi bersama mama, nek?" Tanya Sehun. Nenek Wu mengusap rambut Sehun dan mencium pipi cucunya. "Karena papamu tidak mau diatur oleh nenek"
"Yasudah"
"Tidak keberatankan?"
"Kalau mereka merasa bersalah dan tahu malu sih aku tidak keberatan nek. Mungkin saja suatu hari mereka akan minta maaf pada kita. Itupun kalau mereka berpikir" ucap Kris dengan dewasa. Nenek Wu melihat wanita yang berada disamping Kris.
"Yifan, Zitao tidur?" Tanya nenek Wu yang menghampiri Tao dan mengelus pipi halus Tao.
"Iya. Sepertinya dia lelah karena menangis tadi. Lihat saja matanya sampai sembab seperti itu"
"Tapi dia masih terlihat manis dan imut"
"Yaps"
"Nenek jadi ingat, waktu itu nenek pernah tanya padamu apakah Zitao cantik atau tidak dan kau menjawab biasa saja" nenek Wu menggoda cucunya dan Kris hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk.
"Kau tidak tidur, Hunnahh..?" Tanya nenek Wu. Sehun menoleh ke nenek Wu dengan mata yang sayu. "Sebenarnya aku sudah mengantuk, tetapi dikasurku ada noona. Kasihan dia"
"Kenapa kau tidak bilang daritadi?"
"Yasudah. Yifan, bawa Zitao kekamarnya. Adikmu sudah ngantuk berat sepertinya"
Kris menggendong kekasihnya ala bridal style. Kris cukup kuat untuk menggendong tubuh seberat Tao. Ketika sampai di kamar Tao, Kris meletakkan kekasihnya dengan pelan takut sang putri terbangun. Ia mengelus rambut dan pipi pujaan hatinya. Ia merasa senang dengan kehadiran Tao dirumahnya dan sekaligus mampir dihatinya. Dengan Tao, ia merasakan yang namanya cinta. Dengan Tao, dirinya mendapatkan perhatian lebih. Dengan Tao, dirinya bertaubat tidak mempermainkan wanita lainnya. Dan hanya dengan Tao, ia tidak akan menduakan atau bisa juga me-limakan Tao dengan wanita lain. Ia sangat sangat dan sangat mencintai Tao. Ia bersumpah akan menjaga Tao sampai tuhan mengijinkannya berada disampingnya.
Kris berpikir, akan meminang Tao dengan cepat. Ia ingin Tao menjadi ibu dari anak-anaknya dan menjadi istri yang baik. Tetapi kapan itu akan tercapai? Entahlah. Tuhan pasti sudah merencanakannya.
Kris mengecup puncak kepala Tao dan pipi merah Tao. "Selamat malam my princess, Wu ZiTao"
TBC
Assalamualaikum, saya balik lagi hahay, gimana? hurtnya kgak nge-feelkan? wahahaa..
Sebenernanya nih ff difile udah end, tapi saya males publishnya karna.. tak punya pulsa -_-
Saya publish hari ini juga saya lagi bahagi karna TVXQ ngeliris lagu sweat/answer ! ^^ *jiwa fanboy kumat*
Ohya, makasih udah ngoreksi cerita saya, katanya penggambaran Tao sbgai gadis bisu semakin gak terasa (penjabaran bhs tangan kurang dijelaskan), wah sya sangat berterima kasih pada anda. saya sudah berusaha untuk jelas, tapi hasilnya gini-gini aja.
Thank's juga yang udah; Review,fav dan follow. Saya kgak bisa sebut satu-satu, pegel tangan saya-_-
TOLONG SILENT READERS JANGAN BACA KALO KGAK MAU MEMBERI AMAL DIKOTAK REVIEW!
Wassalamualaikum,
