Waring : typo bertebaran.
dan karena tombol keyboard 'a' saya macet jadi ada kemungkinan huruf 'a'nya bakalan rada-rada ilang... maklum


FlashBack : Koneko stories [Golden and Silver] part 2 end

Dikarenakan permintaan maaf saya menggabungkan dua chap semoga suka.

Pupil mata Naruto melebar ketika balok berkekuatan sihir itu mengarah pada Koneko. Sekuat tenanga dia mencoba untuk bangkin, namun para Iblis yang sedang menjaganya kembali menginjak tubuhnya agar dia tetap terjatuh.

Hatinya seraya mati ketika Koneko memandangnya dan kemudian tersenyum sambil menutup matanya.

"KONEKO!"

Blaaarrrr...

Cahaya itu bersinar terang di dalam malam, membuat pupus harapan Naruto yang melihat semua dari mata birunya. Berkali-kali tubuhnya memberontak untuk dilepaskan agar dia bisa menuju cahaya ledakan itu. Tapi, para Iblis disekitarnya malah semakin gencar menekan jatuh tubuhnya.

"KONEKO..."

Teriakan Naruto ditaman itu, dimalam itu... teriakan yang menyatakan kehilangan. Pikirannya berat, kehilangan Koneko dan kemarahannya kepada para iblis itu bersatu dan bercampur didalam kepalanya.

Tatapan Naruto nanar, ketika melihat kabut didepan matanya merayap bebas keudara malam. Disana tepat di dalam kabut itu, terdapat Koneko-nya yang sudah pasrah akan kematiannya.

Dia tidak terima! Sungguh tidak terima seseorang yang sama sepenanggungan dengannya mati dengan cara tragis seperti itu. pupil matanya bergetar, tatapannya seketika kosong... dan detik berikutnya...

Jleb..

Naruto kembali dikejutkan oleh sesuatu... sesosok bayangan. Tidak! Sesosok gadis baru saja keluar dari kebut tanah itu dan membunuh seorang Iblis yang tadi menginjak kepalanya.

"Si-siapa kau?!" ucap Salah satu Iblis itu kaget.

"Apa kalian tak ingat nyaa "

"Jangan-jangan kau!" Iblis itu terlihat terkejut, namun disaat itu juga mereka memasang wajah bahagia. "Tak kusangka tak susah-susah mencarimu.."

Tiga Iblis tersisa segela melesat menuju gadis itu, dan dalam diam Naruto hanya bisa melihat dan kagum betapa hebatnya gadis itu. betapa hebat dia dalam mengalahkan tiga Iblis yang tersisa dengan mudah.

Memukul tanpa perlu menyentuh lawannya, hanya satu kata dibenak Naruto.. saat itu.

Mengangumkan.

Berbeda dengan dirinya yang lemah.

.

.

.

"Itulah akibatnya jika berurusan denganku nyaa " ucap gadis itu seraya menepuk tangannya melirik keempat Iblis yang telah mati dan kemudian mengurai menjadi partikel cahaya.

Naruto hanya terdiam... dia melihat gadis itu atau lebih tepatnya Nekomata itu dengan tatapan kagum. Namun sedetik kemudian Naruto tersadar akan sesuatu, seakan ditampar oleh kenyataan.. tiba-tiba dia ingat.

Dia ingat ekor hitam itu, rambut hitam panjang bergelombang. Dan gaya yang genit itu... mungkinkah!

"Kau!" tunjuk Naruto pada gadis Nekomata itu, yang hanya dibalas dengan tatapan bingung oleh yang bersangkutan. "Buronan kelas menengah... itu... Iblis liar Kuroka"

"Yup~ itu aku nyan " Kuroka tersenyum senang seraya mengeluarkan telinga dan melambaikan dua ekor kucingnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" jujur saja... mungkin awalnya Naruto inggin berterima kasih. Tetapi setelah dia sadar siapa sosok didepannya, membuatnya terpaksa kembali menelan ludah secara paksa... sosok didepannya saat ini jauh lebih berbahaya dibanding para Iblis tadi.

"Tentu saja menyelamatkan Shirone nyaa "

Kuroka kembali berbicara dengan nada imutnya. Membuat Naruto sempat mengeluarkan setetes keringat jatuh "Aku tak percaya denganmu kucing sesat"

Twich..

Sebuah perempatan tercetak di dahi gadis itu. "Apa maksudmu nyaa ?!"

"Aku tidak percaya denganmu... " ucap Naruto santai.

Twich... Twich..

"Dari mana kau memastikannya Nyaa " kali Ini Kuroka sudah mengepalkan tangannya bersiap meninju bocah kuning kurang ajar didepannya.

"Dari tampangmu" ucap Naruto santai.

Bletakk...!

"WadaAwww... apa yang kau lakukan!" Naruto berteriak sakit ketika Kuroka menjitak kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Hump.." Kuroka hanya memalingkan mukanya sebal seraya mengembungkan pipinya.

"ee..?" Naruto binggung dengan sikap kucing yang satu ini.

.

.

.

Sekian lama berlalu diantara dua mahluk berbeda jenis ini bercakap ria... sekian lama itu juga Naruto mengenal Nekomata itu. siapa dia dan apa alasannya menjadi Iblis liar... dan satu kesimpulan diambil oleh bocah pirang itu saat itu juga.

Jangan menilai seseorang dari cerita yang didengar.

"Terima kasih" ucap Naruto seraya mengendong Koneko.

"Hmm..?"

"Terima kasih telah menyelamatkan kami"

Naruto tersenyum tulus, menatap Nekomata yang merupakan kakak Koneko tersebut. "Jika kau tidak datang entah apa yang akan terjadi"

Kuroka terdiam sejenak... namun akhirnya Nekomata itu juga ikut tersenyum. "Kau tau nyaa " Kuroka berjalan menuju Naruto. "Awalnya aku inggin menyelamatkanya dan membawanya pergi bersamaku" Nekomata itu berhenti tepat didepan Naruto. "Namun saat ini aku sadar bahwa dia telah menemukan tempatnya... disini.."

"... bersamamu" Kuroka lebih mendekatkan tubuhnya kearah Naruto, dan mendekatkan wajahnya kearah Exorcist tersebut... kemudian..

Cup

Naruto hanya mematung ketika menerima kecupan singkat dipipi itu, meski telah berusaha tetapi darah yang mengalir ke pipinya tetap membuatnya menampakan suatu rona merah malu.

"Hihihihi... kau lucu sekali nyaaa " Kuroka terkikik melihat reaksi tubuh Naruto. Meski berusaha untuk berekspresi datar. Namun Rona merah yang muncul itu menghianati usahanya.

"Si-sial kau.." Naruto hanya bisa mendengus sebal. "Dasar kucing nakal" ucapnya ketus, namun tersenyum detik itu juga.

"Jadilah kuat dan lindungi Shirone dengan kekuatanmu itu nyaa " Kuroka berbalik arah dan melangkah meninggalkan Naruto. "Atau aku akan merebut Shirone dari mu..."

Naruto hanya terdiam mendengar ucapan itu, dalam iris birunya dia melihat Nekomata itu perlahan menjauh meninggalkannya. "Pasti..." ucapnya melihat punggung itu yang semakin menjauh. "Aku pasti akan bertambah kuat dan melindungi Koneko." Naruto tersenyum melihat bayang gelap tempat sosok itu menghilang.

.

.

.

Koneko POV

Perlahan sinar matahari pagi menembus jendela dan menganggu tidurku. Tak ada yang ku inggat. Namun yang pasti saat itu aku merasa sudah mati ketika Iblis itu menembakan Demonic Power kearahku.

Tepat sebelum mengenaiku... samar namun pasti seseok siulet hitam terlihat datang dan melindungiku... siapa? Tapi yang pasti itu bukan Naruto-sama.

Mengucek mataku, perlahan aku beralih dari tempat tidurku dan menuju dapur. Sesampai disana aku melihat Naruto sama yang sibuk memasak sesuatu, sepertinya bukan hal yang spesial... terlihat dengan bagaimana Naruto-sama memasak dengan bahan-bahan yang seadanya.

Mengambil gelas, aku menuju kran dan membukanya. Menampung air dalam gelas... aku melirik Naruto-sama yang kebetulan ada disampingku. Dia sedang memasak Nasi goreng... lagi? Ayolah ini sudah yang ketika kalinya dalam minggu ini.

"A-Ano Naruto-sama siapa yang menyelamatkan kita malam itu?" tanyaku... jujur saja aku masih mengingat kejadian malam tadi. Menurutku tidak mungkin Naruto-sama yang menyelamatkan aku.

"Apa? Bisa ulangi?" helah... Naruto-sama meminta aku untuk mengulang pertanyaan tadi.

"Siapa yang menolong kita tadi malam"

Aku diam menunggu jawabannya, terlihat bagaimana raut wajah binggung darinya. Aku masih terdiam menunggu Naruto-sama memberikan jawabannya. Suara spatula yang beradu dengan wajan menjadi pengisi diantara kekosongan kami.

"Seseorang..."

"Seseorang?" ulangku binggung, seraya menyiapkan dua piring kosong untuk kami berdua.

"Ya... seseorang" ulang Naruto-sama memastika jawabannya. Perlahan wajan tempat Nasi goreng itu diangkat, dan stpatula menyedok makanan itu dan membaginya rata dalam dua piring.

"Apa tak ada yang lain Naruto-sama?" tanyaku memastikan, seraya melihatnya menyiapkan dua gelas dan menuangkan jus apel yang ada dalam blender.

"Aku tak terlalu yakin.." Naruto sama masih sibuk dengan kerjaannya. "Aku hanya melihatnya sekilas... ketika aku benar-benar sadar. Aku menemukanmu berada dibawah pohon masih pingsan..."

"... Lalu segera saja aku membawamu pulang... takut para Iblis itu kembali muncul"

"Ohhh..." hanya itu jawabku seraya memakan Nasi goreng yang sudah terpampang didepanku.

.

.

.

Tiga hari berikutnya Jiraiya-mesum pulang dari ekspedisinya. Dan tentu saja dia membawakan oleh-oleh untuk kami berdua, sangat menyenangkan mendengar semua pengalamannya selama ekspedisi tersebut.

Kebanyakan pengalamannya berkaitan dengan yang mesum-mesum sih...

Sejak kepulangan Jiraiya itu juga, Naruto-sama semakin rajin dan giat melatih teknik berpedangnya. Aku biasanya hanya bisa menonton jika Naruto-sama sedang berlatih.

Walau sibuk berlatih... Naruto-sama lantas tidak melupakanku. Kami masih sering melakukan aktifitas bersama berdua... ya walau tak sesering dulu sih... tapi tidak masalah selama Naruto-sama tetap ada waktu untuk ku.

Yup~ seperti hari ini Naruto-sama sibuk berlatih dengan Jiraiya-mesum. Mereka berdua terlihat serius menyerang dan berhatan dengan menggunakan pedang kayu... yang entah apa namanya... bonken... bonek... ahhh... entahlah aku lupa namanaya.

Naruto-sama memulai lankahnya dengan berlari kencang kearah Jiraiya-mesum. Menebas dengan capat horizontal perut lawannya dengan cepat. Tapi serangan itu dengan bagus berhasil di tahan oleh Jiraiya-mesum dan menekan serangan Naruto-sama, sehingga membuatnnya melompat mundur kembali.

Tidak itu saya Naruto-sama juga dengan reflek yang bagus menahan serangan tiba-tiba dari Jiraiya-mesum. Pak tua itu sepertinya ninggin menghantam pedang kayunya kearah kepala Naruto-sama, tapi sayang berhasil ditahan dengan baik.

Jual beli serangan terjadi begitu saja dalam penglihatanku. Bagaimanapun juga secara rasional Naruto-sama tidak mungkin akan menang melawan Jiraiya-mesum yang merupakan seorang Paladin. Ya meskipun Naruto-sama itu merupakan keturunan Templar dansalah satu dari anggota keluarga Knight of the Roundtables. Tidak mungkin dia akan menang.

Ngomong-ngomong soal Templar dan Knight of the Roundtables. Naruto-sama masuk dalam kategori [Knight of Seventh]... salah satu dari keluarga bangsawan tinggi di Inggris. Keturunan Templar dalam [Knight of Seventh]... begitu juga dengan keturunan yang lain seperti Hospitaller yang merupakan [Knight of Second].

ada sekitar sembilan keturunan Knight murni yang di akui sebagai kebangsawanan Inggris. Para Knight yang dulu ikut membantu Tuhan dalam Great war. Dan masuk dalam daftar Knight of the Roundtables adalah. Pertama keturunan Pendragon Knight sebagai [Knight of Fisrt]. Kedua keturunan Hospitaller Knight sebagai [Knight of Second]. Ketiga keturunan Saxon Knight sebagai Knight of Third]. Keempat keturunan Hoplites Knight sebagai [Knight of Fourth]. Kelima keturunan Immortasl Knight sebagai [Knight of Fifth]. Keenam keturunan Varagian Guard Knight sebagai [Knight of sixth]. Dan tentu saja Naruto-sama sebagai keturunan Templar Knight dan masuk kedalam [Knight of Seventh]. Lalu ada keturunan Breivik Knight yang masuk kedalam [Knight of Eighth]. Dan yang terakhir ada keturunan Apache Knight sebagai [Knight of Ninth].

Namun sayang dari cerita yang kudengar dari Jiraiya-mesum anggota dari Templar Knight yaitu [Knight of Seventh] sudah pada hampir dalam kepunahan. Bukan musna karena dibantai, tetapi musna karena tidak adanya penerus berdarah murni. Satu-satunya keturunan yang ada hanyalah Naruto-sama yang merupakan seorang anak yang berdarah lumpur.

Hmm... kembali. Naruto-sama masih semangat mengayunkan pedangnya untuk menyerang sang Exorcist mesum tersebut. berkali-kali juga Jiraiya menghindar dan membalas serangan Naruto-sama. mau bagaimanapun tujuan latihan ini hanyalah untuk memperkuat insting Naruto-sama dalam menghadapi serangan kejutan.

"Sudah cukup Naruto... ini sudah mencapai batasmu.."

Ku dengar Jiraiya-mesum menyudahi sesi latihan kali ini. Naruto-sama hanya mengaguk mengiyakan dan lalu menuju kearahku.

"Ini.." ucapku tersenyum seraya menyerahkan sebotol air mineral.

"Terima kasih"

Kulirik Naruto-sama meminum air itu dengan nimat? Hah... hari ini begitu menyenangkan. Tapi entah kenapa aku merasa kebersamaan kami akan segera berakhir.

.

.

.

Dan tebakanku benar... kami akan segera berpisah kembali. Dan... disinilah aku di Undeworld atau lebih tepatnya didepan Kastil mewah keluarga Gremory. Tepat didepan kami, aku melihat seorang pria paru baya yang terlihat berbincang hangat dengan Jiraiya-mesum. Dan disampingnya berdiri seorang gadis bersurai merah yang tersenyum kearah kami... Naruto-sama dan aku.

Normal POV

"Jadi begitulah kejadiannya... apa kau mau menolong kawan lamamu ini?" Jiraiya terlihat memasang wajah memelas yang dibuat-buat terhadap orang didepannya.

"Hahaha... tentu saja.. apapun itu" pria itu tertawa menanggapi lelucon Jiraiya. "Namun sayang dia akan akau reengkarnasi menjadi Iblis... untuk putriku ini" pria itu berucap seraya memeluk seorang gadis yang berdiri disampingnya.

"Ahh... tidak masalah asalkan dia aman"

Mereka masih berbicara satu-sama lain. Saling tertawa dan bernostalgia akan masa lalu, sedangkan Naruto menatap tajam seorang gadis bersurai merah yang menatapnya dengan tatapan tak senang. Walau bagaimanapun mereka Iblis, itu yang ada dalam pikiran Naruto.

Andai saja... andai saja Vatican tidak mempermasalahkan Koneko yang selama ini berada dibawah lindungan Jiraiya. Mereka pasti tidak akan berpisah. Tetapi ketakutan dewan Vatican membuat hal itu mustahil. Entah siapa tetapi tersebar desas desus yang aneh-aneh tentang mereka... sialan.

"H-hai.." gadis bersurai merah itu menyapanya sambil tersenyum.

"Hn.." Naruto hanya berguman, dan merasakan Koneko yang semakin bersembunyi dibalik punggungnya. "Apa?" tanya Naruto ketika gadis itu masih memperhatikannya.

Tersenyum.. "Tidak ada perkenalkan namaku Rias Gremory"

Menghela nafas berat, Naruto kemudian memilih memperlunak sikapnya. Bagaimanapun statusnya sekarang adalan si peminta tolong. "Naruto Namikaze"

Mereka berdua kembali terdiam berusaha memilih topik yang akan dibuka dalam percakanpan yang canggung ini. Namun pada akhirnya mereka berdua hanya bias tertawa mendapati kecanggungan masing-masing.

Setelah itu..

"Aku masih merasa tak yakin, tapi ku harap Koneko akan aman bersamamu" ucap Naruto namun dengan nada yang semakin mengecil di akhir.

"Tenang sana aku akan menjaganya…. " Rias gadis itu tersenyum mendapati jawaban Excorcist muda tersebut. "…. Sampai kau kembali"

"Arigato"

Koneko POV

Dengan itu…. Dengan pembicaraan singkat tersebut. Aku dan Naruto-sama berpisah. Namun aku akan tetap menunggu karena Naruto-sama berjanji akan kembali. Meski itu kanpan, tapi aku yakin dia akan kembali.


[Masa sekarang]

Perlahan Koneko membuka matanya ketika sinar matahari pagi masuk lewat cela-cela jendela dan menerpa wajahnya. Mengusap matanya pelan untuk menghilangkan kantuk…. 'Ini aneh…' batin Koneko segera menyadarkannya ketika dia entah bagaimana bisa berada diatas tempat tidurnya sendiri

Secara, seingatnya kemarin dia sempat kelelahan akibat melindungi Gasper dari serangan para penyihir yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan club penelitian Ilmu gaib. Pada saat perundingan tiga Fraksi di Academy Kuoh.

Dan dia tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Perlahan Koneko beralih dari tempat tidurnya untuk dan menuju kamar mandi. Tapi sebelum melaksanakan niatnya, Koneko merasakan ada hal yang aneh yang saat ini terjadi. Karna...

Ada yang telah memakai kamar mandinya.

Dengan cepat gadis itu menyisir setiap ruangan yang ada di apartementnya. Dan akhirnya tiba pada ruangan terakhir…. Yaitu dapur.

Dengan kewaspadaan yang tinggi Koneko mengendap endap menuju dapur….. dan semakin waspada ketika mendengar suara benturan sendok dari dalam dapurnya. 'sepertinya ada yang memasak makanan?'

Perlahan namun pasti Koneko melangkah kedalam dapur dan mendapati sesosok pemuda yang membelakanginya. Terlihat pemuda itu sedang memasak sesuatu dengan serius.

"Sudah bangun ya.."

Koneko terdiam mendengar suara itu…. Berusaha memastikan apakah pendengarannya tak salah. Namun pupil matanya bergetar melihat pemuda itu berbalik….. dia pemuda yang sama yang telah menyelamatkannya dulu, seseorang yang berjanji akan menemuinya lagi.

"Ohayou"

Suara itu kembali terdengar... pemuda itu telah berbalik menatapnya. Surai pirang dengan iris biru yang sangat diinggatnya. Senyuman hangat itu... semua itu...

"Na-Naruto-sama.."

Koneko hanya terdiam ketika senyuman pemuda itu tak hilang. Dilirknya pemuda itu kemudian menunjukan sesuatu padanya..

"Lasagna?"

Air mata mengalir dali iris amber itu, sekuat tenaga Koneko menggerakkan kakinya untuk berlari kearah pemuda bersurai pirang itu. Bisa dia lihat pemuda itu terlihat panik, namun dia tidak peduli dan tetap berlari sekuat tenaga.

Bhuk―

Naruto terdiam membatu ketika Koneko tiba-tiba berlari menerjangnya dan memeluknya erat. Awalnya dia inggin protes... tetapi hal itu lansung dia urungkan ketika terdengar isak tangis dari gadis tersebut.

Naruto membiarkannya... dia hanya tersenyum dan membiarkan gadis itu memeluknya erat. Meletakkan dengan aman lasagnanya, Naruto membalas pelukan itu. Membiarkan bajunya basah oleh air mata itu.

Naruto memilih untuk tidak mengeluarkan kata-kata saat ini. Memilih untuk mempererat pelukan itu bagaimanapun... dia tau saat ini kata-kata tidaklah dibutuhkan. Cukup dengan berada disana, Naruto tau bahwa perasaannya akan, dia juga merindukan gadis itu akan tersampaikan... dia tau cukup hanya dengan begini... sesuatu yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Terdengar hujan mulai turun dipagi ini... menjadi pengisi suara dalam kesunyian mereka.

Naruto masih setia memeluk gadis itu, membiarkan isak tangis gadis itu terdengar bersama dengan hujan yang turun. 'aku tak akan meninggalkan mu lagi' Batinnya berucap melirik hujan dari sudut gelap matanya... membiarkan hujan mengisi kesunyian mereka dan membiarkn lasagna itu mendingin menjadi saksi bisu diantara mereka.


Naruto dan Koneko terlihat duduk disebuah taman dipinggir kota Kuoh. Baru saja berkhir hujan di sore ini... jika kau melihat keangkasa. Maka kau akan melihat kiluan indah pelangi. Duduk diatas bangku taman yang ada, Koneko dan Naruto sibuk menjilati es krim yang ada ditangan mereka.

Naruto melirik gadis yang ada disampingnya. Dalam pandangan iris birunya dia melihat dan tak akan melewatkan segalanya. Kesempatan ini... seseuatu yang tak akan bisa dibelinya.

"Maaf ya Lasagnanya sudah dinggin tadi" Naruto membuka pembicaraan, dan menyinggung sarapan pagi mereka yang sudah mendingin.

Kembali melirik Koneko... Naruto hanya bisa meliht bahwa gadis itu menundukkan. Gadis itu terlihat terhenti menjilati sisa es krim itu dan membiarkan es itu meleleh di tangannya.

"Ehh.." Koneko kaget ketika ada yang menyentuh tanganny, dia melihat Naruto yang mengelap tangannya yang berlumuran es krim dengan sebuah sapu tangan putih. "Maaf.." gumannya pelan.

"Kenapa meminta maaf?" tanya Naruto binggung. Atau lebih tepatnya pura-pura binggung. "Kau tidak salah kok"

Kembali diam..

"Seperti dulu bukan.." ucap Naruto kembali mengingat ketika mereka bersama. Bersama dahulunya. "Bersamamu ku habiskan waktu... semua serasa begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya"

"Kau tetap seperti dahulu Naruto-sama tidak berubah" ucap Koneko mentap Naruto intens. "Tapi aku senang kau tidak berubah dan tetap seperti ini"

Awalnya Naruto hanya terdiam mendengar ucapan Koneko. Jujur dia sama sekali tidak mengerti, namun entah kenapa dia memilih untuk tersenyum. Menatap gadis dengan beriris amber tersebut.

Dia senang mengenal Koneko dan sangat menyayangkan perpisahan mereka. Namun dia berharap dengan begini semua akan terbayar... walau dia tau itu tak akan cukup. Namun dia akan terus mencoba...

Hingga sedih tak mau datang lagi.

Naruto inggin mengajak Koneko meninggalkan taman itu, namun sebuah genggaman tangan menghentikan langkahnya. "Tetaplah seperti ini Naruto-sama."

Naruto terdiam melirik gadis bersurai perak itu. Namun detik itu juga dia tersenyum 'tetap seperti ini ya...' batinnya memilih duduk kembali. Dan dia dapat merasakan bahwa gadis itu memeluk tangannya erat.

'Koneko yang ku kenal dulu ternyata sudah berubah ya'


[Keesokan Harinya]

"Eehhhhhh...!"

Itulah sepercik teriakan tak tentu arah dari Issei. Bagaimana mungkin pemuda yang kemarin-kemarin dikenalnya sekarang sudah berdiri didepannya.

"Perkenalkan Namaku Naruto Namikaze" ucap Naruto memperkenalkan diri dihadapan para anggota club Supranatural dan anggota Osis yang memang sengaja dikumpulkan.

"Bisak kau jelaskan Rias?" suara datar itu lebih tepatnya suara seseorang yang mengintrogasi datang dari Sona yang menatap tajam Naruto.

"Bukankah sudah jelas?" tanya Rias kembali binggung. "Naruto memang akan menjadi pengajar atau Guru di sekolah ini"

"TUNGGU SEBENTAR!" Issei terlihat kaget. "Bagaimana dia bisa menjadi Guru disaat kita semua seumuran"

Membenarkan ucapan Issei yang temben ada benarnya. Semua perhatian kembali tertuju kepada Naruto dan Rias... minus Koneko. Menjentikan jarinya Rias melirik sang Nekomata yang sedari tadi hanya memandang datar semuanya.

"Jelaskan Koneko-chan!"

"Naruto-sama sudah menamatkan sekolahnya dan mendapat surat izin untuk mengajar di bidang Kimia" ujar gadis itu yang kemudian kembalin duduk.

"Surat izin apanya!?" Issei menunjuk muka Naruto kesal.

pluk―

"Dengar Issei-kun..." Naruto menepuk pundak Issei dengan background putih dibelakanganya.

"Y-ya..." Issei yang terbawa suasana menjadi diam seketika

"Terimalah takdirmu"

DONNN

"Apa-apaan itu!" kembali Issei menunjuk jidat Naruto sangar 'dan apa-apaan latar putih tadi?'

"Jadi... ini usulan dari ke-tiga fraksi?" Sona kembali membuka suara dan menatap Naruto tajam.

"Begitulah..." Naruto balas menatap Sona dengan tatapan serius. "Aku dan Irina akan menjadi wakil dari Surga... mengingat Kuoh adalah salah satu tempat yang penting saat ini"

"Lalu untuk Malaikat jatuh..?"

"Ku rasa kau tak inggin tau.." ucap Naruto berserta helan nafas berat. Mengingat siapa yang akan menjadi wakil untuk fraksi Malaikat Jatuh.


Issei POV

Renovasi!

Itulah satu kalimat yang tertanan di otakku ketika aku melihat keadaan rumahku saat ini. Rumah ini jauh lebih besar bahkan sangat besar dari rumahku yang dulu... dan hei~ kemana para tetangga ku?

Ku buka pintu rumah ini... damn it bahkan setelah dikejutkan dengan Naruto yang menjadi wali kelasku. Saat ini aku kembali dikejukan dengan rumahku yang di renovasi pada saat aku mengikuti kegiatan sekolahkau.

Berjalan kearah dapur kulihat meja makan yang lima kali lebih besar dari punyaku. Ini pasti atas kekuasaan Gremory, hedehhhh... aku hanya bisa menghela nafas melihat senyum yang terkembang dari Kaa-san dan Tou-san.

Berkeliling dalam rumah baruku ini aku bisa merasakan banyaknya perbedaan yang mencolok. Bahkan kami memiliki kolam renag indor dan lift. Bayangkan itu man! Sungguh gila... hanya dalam sekejap kediaman kami diubah menjadi residen mewah.

.

.

.

Tidak berselang lama kulihat Bochou mulai datang untuk pertma kalinya dan lansung memlukku dan kemudian mengelus kepalaku... seperti aku adiknya saja. Diikuti oleh Akono-san yang juga memlukku...

Lalu di ikuti oleh kedatangan xenovia dan Irina yang memakai... tunggu dulu... bukankah itu pakaian mereka pada saat masih dibawah pihak gereja. Tudung dan jubah putih itu? Mereka datang dan lansung menemui Asia yang kebetulan berada di dapur.

Kiba dan Gasper menyusul berikutnya. Kiba... sial si pria cantik itu tetap keren seperti biasaanya membuatku iri setengah mati. Sedangkan Gasper... errrr dia hanya bersembunyi didalam kotak... dia menggunakan pakaian wanita! Itu juga seperti biasa! Pria berpakaian wanita

Terlihat kami semua telah berkumpul dan melakukan pembagian kamar... tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang kurang.

"Tengg.."

Ahhh~ itu dia, pintu terbuka dan menampilkan Koneko-chan dalam baju one-piece yang terlihat sangat imut. Dan Naruto hanya memakai kemeja putih dengan celana jeans hitam.

"Tag Issei.." ucap Naruto seraya tersenyum.

"Tag?" ulangku tak mengerti maksudnya.

"Maaf maaf... maksudku siang~" terliht dia memperbaiki kesalahannya.

Bahasa asing ya? Jika dilihat Naruto emang bukan orang Jepang sih...

Kulihaat Naruto duduk di tempat yang disediakan, dan Koneko-chan duduk di pangkuan Naruto... ahhh~ aku juga inggin dalam kondisi seperti itu.

Hahhhhh~ ini akan jadi hari yang panjang...


[Keesokan Harinya]

[Academy Kuoh - Jam istirahat]

Normal POV

"Nahh... selama liburan besok kita akan kedunia bawah untuk menghabiskan sisa musim panas"

"Serius Bochou!" ucap Issei antusias mendengar berita tersebut.

Bukan hanya Issei tetapi para anggota yang lain terlihat antusias mendengar berta tersebut. Terutama bagi Asia dan Xenovia.

"Benar juga..." ingat Issei kemudian melirik dua gadis Gereja tersebut. "Ini pertama kalinya bagi Asia dan Xenovia kedunia bawah bukan?"

Terlihat Xenovia hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu dan Asia yang menatap Issei gugup. "Awalnya aku mengira akan pergi ke Surga dengan melaksanakan perintah Tuhan. Tetapi sekarang aku Iblis mustahil rasanya untuk bisa pergi ke Surga, Jika mendengar ucapan Bochou tentang Neraka. Sepertinya itu bukan tempat yang buruk"

Rias tersebut mendengar hal itu, kembali melirik para budaknya. Gadis bersurai merah itu heran melihat raut binggung Issei. "Issei ada apa?"

"Ehh.." Issei yang terkejut kemudian hanya menampilkan senyum kecut. "Begini Bochou aku sebetulnya ada janji dengan Matsuda dan Motohama akan melakukan ekspedisi selama musim panas ini"

"Ekspedisi?" beo rias

"Yup~ eksped―"

"Mesum" potong Koneko tiba-tiba.

Ucapan Koneko yang tepat sasaran itu seketika membuat Issei tertunduk dipojokan dengan nuansa suram disekelilingnya.

Issei POV

Ughh... ucapan Koneko memang menusuk dihati sial... tak terasa air mataku tak berhenti mengalir..

"Kalau begitu, Issei. Kencan saja dengan para gadis di Dunia bawah. Pasti ada waktu luang untuk kencan nanti"

Sebagai budak yang baik dan tidak sombong. Aku lansung melesat kearahnya meninggalkan semua aura suramku. Dan berteriak atas saran Bochou.

"Kau hebat Bochou sungguh saran yang hebat"

"Ara ara kalau begitu kencan saja denganku diatas ranjang Issei-kun"

Critical..

Buh! Darah keluar dari hidungku oleh ucapan Akeno-san... itu sunggu erotis! Sumpah itu serangan critical bagiku! Itu seksi, Akeno-onee-sama! Hal hal seperti apa saja yang akan kamu lakukan padaku diranjang nanti.

"Aku juga ikut ke Dunia bawah"

Normal POV

"Aku juga ikut ke Dunia Bawah"

Semua anggota club tiba-tiba terkejut oleh suara itu, menghentikan sejenak aksi mereka menggoda Issei yang terlihat sedang mimisan hebat. Menoleh keasal suara mereka mendapati Azazel dan Naruto yang baru saja masuk melalui pintu.

"Maaf telat... banyaknya ulangan Hari ini membuatku lelah" ucap Naruto seraya mengaruk kepalanya... namun sedetik kemudian pandangan pemuda itu berubah horor dengan background mencekam dibelakanganya. "Kau remedi Issei-kun"

"H-Hai" ucap Issei gugup melihat kelakuan Naruto, setetes keringat meluncur darinya.

"Ara menyenagkan Naruto menjadi Guru disini?" tanya Rias melihat Naruto yang kemudian duduk dengan memangku Koneko.

"Ya... begitulah... tidak jauh berbeda dengan Academy manapun, semua sama" ucap Naruto... "Ngomong ngomong kalian sedang membicarakan apa?" tanya Naruto binggung.

"Kami sedang membicarakan urusan liburan ke Dunia Bawah pada saat liburan musim panas nanti" ucap Rias dengan senyum manisnya. "apa kau berniat ikut?"

Terlihat Naruto yang sedang berfikir sejenak... namun. "Tidak! Terima kasih" tolak Naruto halus dan membuat yang lain sempat binggung. "Aku ada sedikit urusan di Vatican minggu depan dan salah satu anggota Knight of the Roundtables yaitu pewaris Immortasl Knight [Knight of Fifth] akan datang mengunjungiku"

Detik itu juga Naruto merasakan Koneko meremas celananya erat, dan menatapnya dengan tatapan khawatir.

Merasakan hal itu dan melirik tatapan dari Rias dan sabagian kecil lainnya juga Naruto hanya bisa tersenyum "Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa antara aku dengan Knight of the Roundtables"


.

Yo... apa kabar readers semua... sudah lama ya? Maaf untuk update yang tak menentu dan menyebalkan ini

Alasan saya lama update adalah kesibukan les disana-sini... mulai dari les mata pelajaran pokok... hingga les bahasa asing... bukan bahasa inggris... dan dari itu semua menyebabkan saya jatuh sakit deh... shit!

Ditambah dengan kondisi tubuh saya yang memang lemah sejak lahir, sakit yang ringan aja lama sembuhnya... maafkan saya,... tidak seharusnya saya menceritakan ini.

Tapi hanya ini alasan saya atas ketidak pastian ini. Saya tidak memint kalian untuk mempercayai alasan saya, tetapi saya meminta kalian untuk mengerti.

Bagaimana untuk Fanficnya? Apakah bagus? Sudah lama tak menulis membuat saya ragu akan chap kali ini... maaf jika chap kali ini jelek... saja terima flame kok ^^

Oh ya untuk pertanyaan sampaikan saja lewat review... dan insyaallah akan saya balas lewat PM kok..

Dan terima kasih bagi yang sudah review setiap chap ini... moga-moga favoritenya bisa tembus 100 amin ^^

Sekian dan jangan lupa Reviewnya...

Drak Yagami out~