Matahari pagi bersinar terang hari ini. Seorang gadis manis terlihat sangat tak nyaman dengan adanya matahari yang mengganggunya. Ia mengambil ponsel yang ada di meja nakas. Oh, baru jam tujuh lewat tiga puluh lima menit. Ia memejamkan mata sayunya perlahan bernapas dengan teratur. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya dengan cepat dan melihat ponselnya lagi.
Jam ini tujuh lewat tiga puluh lima menit? Ini sudah sangat siang! Oh tidak, Sehun pasti marah padanya karena tidak ia membuat bekel untuk Sehun. Ia segera berlari keluar menuju dapur.
Astaga, disana ada nenek Wu sedang membaca majalah fasion sambil ditemani dengan teh hijau di meja. Zitao, berjalan ke nenek Wu dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah. Nenek Wu menoleh kearah Tao.
"Mengapa kau baru bangun?" pertanyaan yang keluar dari bibir (yang sebenarnya tajam) nenek Wu. Tao semakin menundukkan kepalanya dan menggigit bibir peachnya. Nenek Wu menarik tangan Tao dan menyuruh cucu tirinya duduk di sampingnya.
"Jangan takut sayang, nenek tahu kau pasti kelelahan. Sebenarnya tadi nenek ingin membangunkanmu, tapi setelah melihat wajah lelahmu, nenek jadi tidak tega untuk membangunkanmu"
'Kenapa tidak membangunkan-ku saja, nek? Aku minta maaf'
"Tidak apa-apa. Nenek mengerti kok kau sangat kelelahan karena kemarin-kemarin kau membersihkan rumah sebesar ini" ucap nenek Wu dengan menyeruput tehnya.
'Nyonya Jaejoong dimana nek?'
Nenek Wu menghela napas kasar "Dia dan anak bodohku itu sudah pergi dari rumah ini. Dan untung aku tidak menyerahkan seluruh warisan dari suamiku padanya. Aku menyisakan untuk Yifan dan Sehun yang akan mengurus perusahaan itu." Jawab nenek Wu dengan malas dan meletakkan majalah itu dimeja.
Tao mengerutkan dahinya. Kenapa orang tua Yifan pergi dari rumah?
"Biarkan mereka pergi dari sini. Yang terpenting tidak ada yang menyakiti cucu nenek yang cantik ini"
'Apa ini salah-ku? Mengapa mereka bisa pergi dan nyonya Jaejoong membenciku?'
Nenek Wu menarik tengkuk Tao menaruh kepala Tao dibahunya dan kedua tangannya ia eratkan ke pinggang ramping Tao "Ini sama sekali bukan salahmu, dear. Ia memang seperti itu sebenarnya. Nenek tahu, wanita yang baik dan yang tidak. Dari cara mereka menampakkan wajahnya ke orang saja sudah ketahuan mana yang benar-benar polos mana yang pura-pura. Sudahlah jangan kau pikirkan masalah ini. Biar nenek yang urusi"
"Nenek.." panggil seorang pria dengan suara baritonenya. Suara pria itu membuat kepala Tao terbangun dari bahu neneknya.
"Yifan" sahut neneknya yang merasa terpanggil. "Kau sudah bangun?" lanjutnya. Tao memiringkan kepalanya. Ia bingung, seharusnya jam segini kekasihnya sudah pergi ke sekolahnya. Kris yang tengah mengambil roti merasa ada yang memerhatikannya.
"Ahh,, pagi sayang" ucap Kris dengan menampilkan senyum lebar di bibirnya. "Kenapa kau memerhatikanku? Kau ingin aku memberi morning kiss ?"
PLAK
"Aduh sakit" ringis Kris mengusapkan dibagian kepalanya yang dipukul dengan majalah di meja oleh neneknya.
"Kau saja yang mesum!" Tao yang melihat adegan nenek Wu dan Kris hanya tersenyum dan terkikik kecil.
"Huhh,, jika hari ini sekolah tidak libur, aku akan berangkat sekolah dan bertemu dengan wanita-wanita seksi yang dapat mencuci mataku" ujar Kris dengan entengnya tanpa memikir terlebih dahulu karena ada hati yang disakiti oleh kata-kata Kris. Nenek Wu melirik kearah Tao yang sedang memerhatikan Kris memakan rotinya dengan tatapan kecewa.
'Dasar anak ini! Sudah tahu didepannya ada kekasihnya. Heh, ingin sekali aku menghabisi Yifan! Bagaimana dengan hati Tao yang sebenarnya sangat sakit mendengar itu?' batin Nenek Wu
Tao beranjak dari duduknya "Kau mau kemana Zitao?" Tanya nenek Wu. Kris hanya melihat sambil mengunyah rotinya.
'Aku mau membereskan kamar dulu. Kerena aku tadi tidak sempat membereskannya, nek' Tao membungkuk ke nenek Wu dan Kris. Kris hanya melihat kekasihnya sambil sibuk dengan rotinya. Sebenarnya ada yang aneh dimata Tao, tapi karena Kris orangnya cuek, ia tidak mau mengambil pusing.
"Kau tahu bodoh, Zitao sakit hati!" ucap nenek Wu yang gereget dengan cucunya. Kris menghentkan aktifitas mengunyahnya dan menatap nenek Wu "Kenapa?" Tanya Kris dengan bodoh.
"Apakah kau berpikir lebih dulu sebelum kau berbicara?"
"Memangnya aku berbicara apa?"
PLAK
"Dasar bodoh! Ingat-ingat lagi tadi kau bicara apa!" ujar nenek Wu dengan geram dan pergi keluar dapur.
Kris berpikir sejenak, untuk mengingat kembali apa yang ia bicarakan tadi di depan Tao.
- jika hari ini sekolah tidak libur, aku akan berangkat sekolah dan bertemu dengan wanita-wanita seksi yang dapat mencuci mataku'
Kris menepuk jidatnya dengan telapak tanganya. Ia berdiri dan berlari kearah kamar pelayan yang juga kamar kekasihnya.
Sedangkan Tao yang ada di dalam kamarnya tengah menatap dirinya dari cermin. Ia masih ingat dengan apa yang dikatakan Yifan di depannya. Pria angry bird itu ternyata masih mengharapkan wanita lain yang lebih seksi. Boleh saja iya masih menyukai wanita seksi karena itu normal. Tetapi Yifan berbicara seperti itu di depannya, dan ia adalah K-E-K-A-S-I-H-N-Y-A . wajarkan kalau dirinya sakit hati ? wajarkan kalau dirinya sekarang menitikan air mata kecewa pada kekasihnya?
Tokk..Tokk..Tokk
Seseorang mengetuk pintu kamar Tao, Tao segera menghapus kasar air matanya dan kekamar mandi sebentar untuk membasuh permukaan wajah agar terlihat agak lebih segar.
CRIET
"Zitao" Tao tersenyum paksa kala orang yang mengetuk pintunya adalah Yifan. Yifan menatap Tao dengan pandangan sulit diartikan. Gugup. Menyesal. Terpesona oleh senyum kekasihnya. Dan lain sebagainya.
'Ada apa?'
"A-aakuu akuu i-ingin minta maaf padamu, Zizi. Aku menyesal telah mengucapkan perkataan yang seharusnya tidak pernah diucapkan oleh-ku di depan-mu, ahh tidak hanya di depanmu dan saat aku memiliki-mu" ucap Kris dengan gugup. Minta maaf pada wanita yang ia cintai ternyata lebih susah dari pada harus mengurusi dan memberi perhatian palsu pada ke-lima mantan kekasihnya yang tidak sama sekali ia cintai dulu. Yaa dalam sehari Kris bisa me-limakan wanita yang ia pacari. Dan ke-esokan atau lusanya ia akan memutuskan mereka. Haha.
Tao memiringkan kepalanya dan menaikkan alis mata kirinya. Dan Kris harus bersabar untuk tidak memakan kekasih yang suka seenak hatinya bertingkah imut padanya. Namun itu hanya sebentar, karena sekarang Tao menundukkan kepalanya sambil tersenyum miris. Dan sekarang Kris tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia meraih dagu lancip Tao dan mengangkat kepala kekasihnya. Dan ia membelalakkan matanya mendapati kekasihnya itu menitikan air matanya. Dan sekarang Kris merasa sangat bersalah dan bodoh!
"Maaf" kata Kris sambil memeluk Tao. Sungguh, Kris ingin mengeluarkan air matanya karena tak sanggup melihat kekasihnya sedih karenanya. Kris mengusap tengkuk Tao dan mencium kepala Tao. Dan ia membiarkan Tao menangis di pelukkan. Baru kali ini ia sakit hati dengan seorang pria. Dan pria itu adalah cinta pertamanya. Begitupun dengan Kris, ia merasa hatinya teriris oleh pedang tajam melihat air mata kekasihnya jatuh dengan bebas. Mereka melepaskan tautan tubuhnya.
'Aku sudah memaafkanmu dan aku akan memberimu waktu'
"Untuk?"
Tao menghela nafasnya 'Untuk memutuskan-ku dan mencari wanita yang lebih seksi dariku' sebenarnya otak Tao tidak merangkai kata-kata seperti itu. Tapi tangannyalah yang menggerakkan seperti itu. Tapi, dia sudah cukup baikkan untuk memberi waktu untuk Kris mencari yang kekasihnya inginkan ? bukan gadis bisu seperti dirinya.
Setelah itu Tao masuk kedalam kamarnya kembali, meninggalkan Kris yang masih mencerna gerakan tangan yang berarti perkataan Tao. Dan setelah itu dia hanya menatap nanar pintu kamar yang berada di depannya "Zitao, aku sangat mencintaimu" pergi untuk menenangkan dirinya.
.
.
.
Menenangkan diri dimalam hari ke bar memang ada tidak salahnya, ia bisa bertemu dengan teman-temannya dan sekaligus wanita cantik dengan pakaian kekurangan bahan.
Beberapa wanita disana berusaha menggoda Kris, tapi Kris hanya mengabaikan wanita itu. Ia ingin sendiri. Malam ini yang ada di otaknya adalah Zitao. Bagaimana ia bisa seceroboh itu mengatakan di depan kekasihnya? Kepalanya terasa pusing, mendengar suara music keras bar itu dan kandungan dari alcohol yang Kris minum.
"Kris" sapa seorang wanita mungil memakai dress biru laut yang ketat dan panjangnya lima centi diatas lutut. Ia menatap Kris heran.
Kris memijat dahinya yang pusing dan menoleh sebentar kearah wanita tersebut "Apa?"
"Tumben kau kembali ke bar ini, ada apa gerangan?"
"Ada masalah dengan kekasihku?" mata wanita itu melotot, bibirnya terbuka sedikit dan kedua alisnya menyatu "Masalah? Sejak kapan kau mempunyai masalah dengan kekasihmu dan kau bawa stress?" wanita itu meneguk anggur merah yang tadi ia bawa "Jangan bercanda!" ucapnya setelah meneguk minuman berwarna merah keunguan itu.
"Aku tidak bercanda, Baekhyun! Dan kau kan tahu jika aku punya masalah apapun aku tidak pernah main-main!" wanita bernama Baekhyun itu terkekeh pelan "Tentang masalah memang kau tidak main-main tapi dengan wanita? Itu pasti" ujar Baekhyun "Dan siapakah wanita yang kau cintai itu ?"
Kris melirik kearah Baekhyun setelah itu ia menuangkan alcohol yang berada di botol berwarna hitam itu ke gelasnya "Namanya Zitao, dan dia adalah pelayan pribadiku. Kenyataannya, aku mencintai wanita itu. Aku tidak ingin menyakitinya dan me-limakannya seperti wanita-wanita murahan dulu. Tapi sekarang aku malah kelewatan batas. Aku melanggar perkataanku sendiri" ucap Kris. Sebenarnya Kris datang ke Bar ingin bertemu dengan Baekhyun seorang wanita karir pendiri bar ini. Ia juga teman curhatnya.
"Apa masalahnya?"
"Aku salah bicara"
"..."
"Waktu tadi berkumpul di dapur dengan dia dan nenekku, aku selalu di pukul oleh nenek-ku, yaaa walaupun itu bercanda dan aku berkata di depannya dan nenekku, Jika aku tidak libur sekolah sesudah ujian, aku akan berangkat sekolah dan bertemu dengan wanita-wanita seksi yang dapat mencuci mataku. Aku hanya bercanda, dan tatapan dia melihatku seperti terluka dan"
"Itu memang kau yang bodoh. Sudah tahu ada orang yang kau cintai di hadapanmu malah salah bicara"
Kris berdecak, "Setidaknya kau beri aku nasihat atau apa yang aku lakukan sekarang padanya"
"Memangnya ia marah besar? Kalau tidak, kau berikan saja benda kesukaannya"
"Bukan masalah marah atau tidaknya"
"Hmm, Apa?"
Kris menggoyang-goyang kecil gelas berisi alcohol itu "Aku di beri waktu untuk memikirkan sebuah keputusan"
Baekhyun semakin penasaran dengan cerita Kris. Ia memajukan tubuhnya dekat Kris dan menatap wajah tampan Kris. Well, Kris memang tampan tapi di hatinya hanya Chanyeol –teman sebaya Kris- seorang "Keputusan apa?"
"Memutuskannya dan mencari wanita yang lebih seksi darinya"
"Hah? Mengapa urusannya semakin serius ?"
Kris menaikkan bahunya tanda tak tahu dan tampang yang sedikit agak stres. Baekhyun menghela nafasnya. Wanita manis berumur dua puluh dua tahun itu tampak berpikir sejenak. "Hm, gimana yah? Aku bisa saja menyatukanmu dan pacarmu itu. Tapi aku belum punya jalan untuk memikirkannya"
Kris meletakkan kepalanya ke meja bartender dengan ditumpu dua tangannya dan memejamkan matanya, "Dan akan lebih baiknya kau menceritakan semuanya ke nenekmu dan mencari solusinya. Aku yakin, seorang wanita tua akan menemukan solusi yang tepat" ucap Baekhyun.
Kris membuka matanya cepat, "Sekarang kau harus pulang dan besok pagi kau harus menceritakan pada nenekmu. Jangan cerita di hadapan pacarmu,mengerti?" lanjut perkataan Baekhyun dengan pergi meninggalkan Kris yang sendiri.
"Kurasa bercerita dengan nenek, tak ada salahnya" gumam Kris dan berjalan menuju parkiran bar untuk pulang kerumahnya.
Sesampainya Kris diistana mewahnya, ia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Ia memasuki rumahnya. Kris sebenarnya sering mengalami masalah seperti ini, tapi menurutnya masalah ini sangat berat untuknya sampai dibawa stress. Apa dirinya memang mencintai gadis berkantung panda itu? Pasti!
"Yifan"
Kris menoleh kearah ruang tamu setelah ia menginjak satu anak tangga untuk menuju kamarnya.
"Nenek," Kris yang mengetahui siapakah yang memanggilnya segera menghampiri orang tersebut yang sedang duduk di sofa single sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Bar?"
"Yeah"
"Sudah menemukan wanita pengganti Zitao?"
-Huh
Kris menghempaskan tubuh tegapnya ke-sofa dan memijatkan keningnya yang tiba-tiba sakit. Apa-apaan neneknya ini.
"Aku tidak akan mencari pengganti Zitao sampai kapanpun!"
"Oh, jadi pengganti Zitao itu sangat seksi"
Kris menoleh kearah neneknya. Mata coklatnya membulat melotot. "Oh god! Apakah nenek sudah mempunyai penyakit tuanya?"
"Walaupun sudah tua, kulitku masih terasa kencang" mendengar ucapan dari neneknya mata Kris tiba-tiba mengarah ke leher putih neneknya yang mengendor. Ia membuang mukanya ke lain arah dan bergaya seolah-olah ia sedang memuntahkan sesuatu.
"Jadi bagaimana? Berminat untuk mengenalkannya pada nenek?"
-Ck
Kris berdecak malas. Kenapa neneknya ini semakin tua semakin menyebalkan, "Nenek tak menyetujui hubunganku dengan Zitao? Seperti mama?"
Nenek Wu menaikan kedua alis matanya dan matanya terlihat agak membulat, "Jika kau berhubungan untuk menyakiti Zitao, aku tidak menyetujuinya" wanita berumur tujuh puluh tahun itu menyangkutkan rambut pendeknya kebelakang telinganya, "Asal kau tahu, Zitao adalah gadis terbaik yang pernah nenek temui. Aura dan pesonanya dia dengan gadis lain itu beda. Dan Zitao bagaikan harta nenek yang tidak boleh tersentuh apapun. Jadi.. jika kau berminat untuk menyakiti Zitao, kau harus menjauhi dia" lanjut Jessica Wu dengan menyenderkan tubuhnya di tubuh sofa.
"Demi tuhan nek, aku mencintainya! Aku sudah berjanji pada tuhan dan dirinya jika aku tidak akan mempermainkan dan menyakitinya. Zitao adalah cinta pertamaku" ucap Kris sambil memijatkan keningnya.
"Aku sudah tahu ceritamu dengan Zitao.." ujar nenek Wu "Dan itu kesalahanmu" lanjutnya.
"Ya, itu memang kesalahan-ku. Karena hal sepele saja dia marah" cibir Kris.
"Pendengaran nenek masih sangat baik. Apa maksudmu dengan 'hal sepele'? jelas-jelas itu memang kesalahan-mu. Siapa suruh salah bicara di depan kekasihmu. Wajar jika kekasihmu marah"
"Tapi bisakan tidak menyuruhku untuk mencari penggantinya. Walaupun dulu aku yah nenek tahu lah, . " ucap Kris dengan lantang. Nenek Wu mengangguk mengerti.
"Kenapa kau baru pulang jam segini ?"
"Tidak ada yang melarangkan ? seperti masa muda nenek tidak pernah ke Bar saja"
"Memang tidak ada yang melarangnya. Tapi apa kau tahu kalau Zitao baru saja nenek suruh tidur karena sudah terlalu malam..." nenek Wu menggantungkan ucapannya. "Menunggumu! Dia sangat khawatir padamu karena kau tiba-tiba menghilang dari kamar"
Kris menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Dia sendiri tahu jika dirinya bodoh. Arghh kenapa makin rumit seperti ini, pikir Kris, "Aku minta maaf"
"Minta maaf pada Zitao. Bukan dengan ku. Kau pikir nenek itu kekasihmu"
"Yayaya, aku akan minta maaf pada Zizi, tapi aku ingin minta bantuan pada nenek"
"Apa?"
"Bantu aku agar Zizi bisa memaafkanku" ujar Kris dengan lirih. Ia sudah tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pikirannya sudah buntu.
Nenek Wu berdiri dan menyilangkan tangannya didepan dadanya, "Nanti kalau nenek ingat!" setelah itu wanita tua yang masih cantik itu pergi meninggalkan Kris
"Jadi mereka sedang bertengkar? Aku akan melakukan sesuatu"
TBC
