Chapter 5: Pertemuan.

Rasanya agak gimana gitu ketika saya berfikir ulang untuk menulis Fic ini. Meningat unsur yang akan saya bawa sarat akan agama Kristen, saya juga takut salah jika penjabaran yang saya bawa ternyata meleset dari kenyataan. Dan saya juga takut ini menjadi Rasisme.

Maka dari itu saya mohon maaf jika saya secara tidak sengaja menulis suatu kesalahan fatal. Mohon ditunjukan dan secara cepat akan saya ganti.

Karna menyangkut agama adalah masalah yang sensitif.

0o0o0

Entah apa yang ada di benak Naruto hingga dia berada di tempat seperti ini, melipat kedua tangannya. Raut wajahnya menunjukan kekesalan yang tak berarti saat berhadapan dengan orang di depannya ini. Seorang pemuda, atau saat sudah menjadi Pria. Seorang yang menjadi pewaris dari darah Immortasl Knight [Knight of Fifth], Pria bersurai merah bata yang menatapnya ramah. Sasori, Akasuna Sasori. Atau Sasori Immortasl.

"Bagaimana dengan Bulan Madumu?" Naruto berucap dengan intonasi yang biasa, berusaha menghilangkan kekesalan terhadap Pria di depannya ini, sekaligus mencoba berbasa basi penghilang rasa bosan dan kekesalannya terhadap Pria di depannya. Dengan spontan kedua tangannya saling menggesek satu sama lain memberi kehangatan, uap panas juga keluar dari mulutnya yang menandakan sedingin apa tempat yang mereka pijak ini.

Ah~ ruang bawah tanah Gereja yang dingin.

"Berjalan lancar..." Sasori membalas dengan sebuah senyum di sana, Pria itu memakai jaket tebal dengan shal mera muda yang melilit di lehernya.

Naruto secara tak lansung juga tersenyum mendengar kabar tersebut, dia senang jika pernikahan kedua sahabatnya ini lancar. Errrr... mungkin lebih tepatnya bulan madu mereka lancar. Kembali menatap Sasori, secara cepat kincir-kincir yang ada di otaknya membuat dan memutar pertanyaan yang akan diutarakannya. "Ada apa kau memanggiku?"

Senyum ramah di wajah Sasori hilang sudah ketika mendengar kalimat tersebut. raut wajahnya secara drastis menjadi datar dengan bibir membentuk garis lurus tanpa cekungan sedikitpun, tatapannya sedikit redup namun masih memiliki kehidupan di dalamnya. "Katakanlah aku ingin mengajakmu untuk kembali menduduki posisi Knight of the Roundtables yang telah kau tinggalkan."

Naruto hanya diam dan memberi tatapan lurus ketika Sasori sudah mulai dengan topik ini. Masih memilih untuk lebih baik diam, dia membiarkan Sasori melanjutnya ucapannya seraya kemana pembicaraan ini akan berlansung.

"Seperti yang kita tau, kekosongan posisi Pendragon Knight dan Templar Kinght tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Mungkin tidak masalah dengan Pendragon Knight yang sejak kepergian Arthur ke Kaos Brigade bisa digantikan oleh adiknya Le Fay, namun masalahnya di sini. Tidak ada yang bisa mengantikanmu."

Menutup matanya Naruto sudah menduga kemana arah pembicaraan ini akan berlansung ini maslah ahli waris. Jika Knight of the Roundtables, adalah sebuah kesatuan kesatria yang bernaung di bawah naungan Kejaraan Inggris. Maka Exorcist, merupankan pasukan suci di bawah naungan Vatican. Meski terlihat berselisih, namun faktanya Knight of the Roundtables dan Exorcist saling berhubungan. Baik secara lansung maupun tak lansung.

Singkat kata perkumpulan Knight of the Roundtables telah ada terlebih dahulu seratus tahun sebelum perkumpulan Exorcist lahr. Dan kemanapun arah pembicaraan ini sudah pasti pada jabatan atau posisi yang kosong, masih menutup matanya... dirinya menduga pasti ratu Ingris atas permintaan Pastor-pastor disana, yang mengirim Sasori ke sini.

"Bukankah masih banyak calon yang lain?" Naruto membalas jawaban Sasori, dengan mengeluarkan opininya. Secara sepihak menurutnya masih banyak yang lebih pantas untuk mengantikan posisi yang kosong tersebut. ya lebih banyak...

"Jika boleh jujur Naruto, kau memang tidak pantas untuk mendapatkan posisi Templar Knight dalam kelompok Knight of the Roundtables... maaf."

Naruto sedikit kaget dengan pengakuan Sasori, entah kenapa ekspresi wajah sahabatnya menjadi tak bersemangat setelah mengatakan itu. namun dia hanya berusaha kembali diam, menatap sahabatnya itu dalam keadaan diam... menunggu apa yang ingin Pria di depannya ini sampaikan. Walau sejak perkataan itu, ada rasa tak menyenangkan menyerang hatinya. Namun dia tetap menunggu Pria itu menyekesaikan bagiannya.

"Maafkan aku, meski kau berbakat namun entah kenapa dengan semua bakatmu kau belum pantas untuk menyandang nama seorang Templar. Bodohnya aku jika terus berfikir, apa itu karna kau berdarah lumpur? Apa itu karna sikap egois dan kekanak-kanakanmu? Aku tidak tau yang mana... dan aku tidak peduli."

"Tapi, diantara semua calon pewaris nama Templar hanya kau yang pantas. Seperti setiap senjata suci dalam keanggotaan Knight of the Roundtables. Seperti pedang Holy King, Collbrande yang memilih Arthur sebagai penggunanya hingga dia pantas untuk menyandang nama Pendragon. Hammer of Divinity sendirilah yang memilihmu hingga kau layak menyandang nama Templar."

"Hammer of Divinity senjata yang merupakan perwujutan [Kekuasaan] Tuhan." Naruto berguman lamah sambil menatap tangannya. Menurut pribadinya sendiri, apa dia sanggup untuk mengenggam senjata itu? apa seorang berdarah lumpur sepertinya pantas untuk itu? menatap kedepan dirinya kembali dihadapkan pada wajah tenang Sasori yang menyandang nama Immortasl. Dirinya kembali bisa merasakan hawa itu. "Apa aku pantas?"

"Benci mengakuinya..." Sasori menghela nafas berat serta kembali memandang lawan bicaranya, yang terlihat muram sejak tadi. "... tapi menurutku kau pantas untuk mengenggam senjata itu."

"Jika aku mempunyai saudara seperti Le Fay mungkin saat ini dia bisa megantikan posisiku, walaupun senjata suci Knight of the Roundtables tidak memilihnya." Canda Naruto mencoba mencairkan suasa, yang sedari tadi beku. Namun kemudian dirinya dibuat grogi sendiri ketika Sasori tidak merespon cadaannya.

"Sayangnya kau tidak punya saudara." Ucap Sasori dingin, dan bisa dia lihat pemuda di hadapannya ini memasang wajah cemberut mendengar komentarnya tadi.

"Jadi bagaimana kau akhirnya ingin bergabung kembali?" Sasori menanyai kembali pemuda di depannya, dia bisa melihat pemuda itu terdiam sebentar seakan berfikir keras. Namun kekecewaan kembali didapatkannya saat melihat gestur pemuda di hadapannya ini... dan kekecewaannya diperkuat dengan kalimat yang akan segera didengarnya.

"Tidak... aku masih punya sebuah janji yang harus ditepati." Naruto tersenyum menatap Sasori yang menunjukan tampang kekecewaan yang tak bisa disembunyikannya. "Selain itu..."

"Selain itu?" ulang Sasori tanpa sadar mengulangi ucapan Naruto.

"Tempat ini begitu dingin, sedangkan sekarang lagi musim panas"

Sweatdrop.

0o0o0

Naruto melangkahkan kakinya di jalan setapak ibu kota Roma italia, setelah menyelesaikan urusannya dengan Sasori dan meninggalkan Pria itu sendian di Gereja pinggir kota. Langkah kakinya santai menyusuri jalan untuk menuju Vatican. Ya karena negara itu terletak di dalam kota Roma, cukup baginya untuk berjalan kaki kesana, selain menghemat uang pas-passan yang dibawanya dia juga bisa menikmati pemandangan satai dengan nilai sejarah kental yang sebentar lagi akan dilewatinya.

Seperti dinding batu Pantheon atau Via dei Fori Imperiali. Dan yang lainnya.

Ah~ seperti yang dia bilang, tidak terasa baginya sudah sampai diperbatasan kota Roma dengan Vatican. Baginya masuk kedalam wilayah suci ini sungguh dengan akses yang mudah, tidak seperti wisatawan yang lain. Jika bertanya kenapa begitu? Jawabannya mudah; tinggal tunjukan kartu pengenal kususmu maka penjaga perbatasan akan memberikan kemudahan bagimu. Simpel bukan?

Masih dalam perjalanannya, kembali kilasan masa lalu seperti menghampirinya. Ayahnya seorang Templar yang disegani baik itu di kalangan Knight of the Roundtables maupun Exorcist secara misterius mati, termasuk ibunya yang juga meninggal selang tiga bulan setelah kematian bapaknya itu karna tak kuat menanggung kesedihan yang menderanya. dia yang kemudian hidup sendiri diperlakukan tak adil bahkan dianggap tak ada oleh pemilik darah Templar lainnya... menyedihkan, bahkan ketika dia dipindahkan kepanti Asuhan ketidak adilan masih menjadi selimutnya hingga dia datang. Seorang mesum yang sebetulnya tak pantas menyandang Gelar Paladin. Seorang Pria tua yang sangat dihormati dan dikenal baik di kalangan Knight of the Roundtables sendiri maupun Exorcist, seorang Exorcist terkuat yang pernah ada... Jiraiya.

Mengingat kembali, pertemuannya dengan Jiraiya bukalah pertemuan yang mengenakan. Dia yang saat itu masih teramat kecil dan tentu saja nakal yang amat sangat minta ampun, mencoba menganggu pak tua itu pada saat dia melakukan apa yang disebutnya dengan 'penelitian'. Entah mengapa dia sangat senang melakukan hal tersebut, dan ketika Jiraiya marah dan mengejarnya. Dia yang pada saat itu hafal seluk beluk kota London, dengan mudah bersembunyi di gang-gang sempit dan kumuh, yang mana otaknya berfikir Jiraiya tidak akan sampai kesana. Tapi dia salah, pak tua itu ternyata lebih hebat dari dugaannya. Dia bisa menemukan dirinya dengan mudah yang sedang bersembunyi di dalam tempat sampah yang tak terpakai.

Mengingat itu senyum kembali terkembang di wajah Naruto ketika bagaimana dia mengacungkan jari tengahnya dan berucap F*uck pada sang Paladin ketika berhasil menemukannya dan setelah melakukan hukuman nista padanya; menampar bokongnya ratusan kali.

Pertemuan itu berlansung lama, hingga akhirnya ketika Jiraiya dengan mata kepalanya sendiri beraksi membasmi sebuah Iblis liar bagaikan super hero. Dia tertarik dan ingin belajar apa itu, awalnya Jiraiya sangsi akan hal itu. namun ketika melihat kesungguhan hatinya pak tua itu akhirnya mengajarinya... dan jadilah dia seperti sekarang... seorang Exorcist. Sekaligus pewaris nama Templar dari Knight of the Roundtables.

Naruto berhenti tepat di depan sebuah telpon umum, masuk kedalamnya. Naruto kemudian memasukan sebuah koin dan mulai menekan beberapa deret anggka di sana.

Ckling.

Secara ajaib lantai yang dipijaknya serasa jatuh kebawah dan memasuki tanah. Namun dirinya tetap tenang dan memilih menikmatinya, hingga akhirnya dia benar-benar berada di bawah tanah... di bawah Kota Suci Vatican.

Dengan jubah hitam yang memeluk tubuhnya, Naruto tidak merasa asing dengan semua kondisi yang ada. Semua memakai pakaian yang sama dengannya, jubah hitam yang merupakan pakaian khas Exorcist. Kembali melangkah kan kakinya, Naruto berjalan menyusuri lorong gelam dan minim cahaya menyatu dengan kerumunan lainnta.

0o0o0

"Jadi katakanlah, ada apa?"

Naruto menatap seorang Pria tua yang sedang meminum anggur dengan tenang. Matanya menyipit di dalam remangnya cahaya ruangan ini ketika Pria itu menggengam sebuah catatan, ah... itu seperti buku... mungkin itu sebuah majalah. Dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dia pengang, Naruto hanya merasa kurang nyaman jika terlalu lama berada di sini. Selain karna udara yang pengap, dan juga semakin diperparah dengan kebeeradaan asap dari tiga obat nyamuk yang dibakar diruangan kecil ini.

"Katakanlah aku memanggilmu kemari untuk membahas masalah Vatican dan Gereja-gereja inggris." Pria itu berucap tanpa mengalihkan matanya dari buku yang dibacanya... atau mungkin majalah. Terjadi keheningan seaat di antara mereka, keduanya saling diam dengan suara gesekan kertas menjadi bunyi di antara sunyi. "Kau membuat hubungan Vatican dan Kerajaan Inggirs menjadi sedikit ... bagaimana aku mengucapkannya ya? Ah~ pokoknya sedikit buruk."

Naruto mengangguk mendengarkan itu, masih tekatub dalam asap ruangan ini yang tak mengenakan. Pemuda itu paham kemana arah pembicaraan ini akan berlansung. "Sejujurnya ini salahku.."

"Menjadi bagian dari Exorcist, sedangkan aku telah terikat dengan Knight of the Roundtables sejak kelahiranku."

"Sebetulnya bukan salahmu..." Pria itu menutup bacaannya dan menatap pemuda di depannya dengan pandangan yang biasa. "Kau menjadi Exorcist hanya sebagai pelarian bukan, pewaris yang tak diakui hanya karna dia seorang berdarah lumpur."

Naruto, dirinya masih memilih diam ketika tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Hanya diam sebagai jawaban atas semua pernyataan itu.

Melihat respon pasif pemuda itu, Pria itu mendesah dan kembali melanjutkan. "Namun masalahnya di sini. Ketika Knight of the Roundtables menginginkanmu kembali, tentu saja kami menolak karna kau adalah anggota kami yang berbakat. Namun ketika mendapat fakta bahwa kau pewaris Nama Templar tentu saja Vatican tidak bisa berbuat banyak."

"Kau paham, aku lansung dicari oleh para dewan ketika mereka mengetahui fakta tersebut. dan diperparah dengan kau yang sekarang menyimpan Hammer of Divinity bersamamu." Pria itu mendesah panjang dan masih setia menatap pemuda di depannya. "Andai saja kau bukan pewaris Templar, dan andai saja kau bukan pemengang dari sembilan senjata suci... pasti ini tak terjadi."

"Sembilan senjata Suci pemberian Tuhan kepada sembilan Manusia yang membantunya dalam Great War, sembilan senjata yang dirumorkan setara dengan tigabelas Longinus yang ada." Naruto membuka suara dan menyampaikan Opininya. "Tentu saja mereka menginginkannya."

"Dan itu sudah membuatmu terikat dengan Knight of the Roundtables sejak kelahiranmu."

"Tidak bisahkah kau menolongku ayah?"

"Maaf ini sudah keputusan dewan, sekeras apapun aku ingin mempertahankanmu dalam sistim ini. Pada akhirnya Knight of the Roundtables akan tetap menang, mereka adalah kesatria suci yang tercatat dalam legenda [Legenda King Arthur dan Kesatria Meja Bundar]... mereka perkumpulan yang sudah lebih tua dari Exorcist ini bahkan Vatican itu sendiri." Pria itu mendesa berat. "Meski Vatican merupakan pusat Kristen, tapi itu tidak membantu banyak."

"Hah.. sudahlah aku juga tau akan begini." Naruto berucap dengan nada pasrah, pemuda itu sejenak mengalihkan pandangannya dan memandang tangan kanannya, sebelum berakhir memandang kosong langit-langit ruangan ini.

"Ngomong-ngomong... apa mereka sudah mendatangimu" Pria itu kembali bertanya pada pemuda di depannya, bisa dia lihat pemuda itu beralih dari menatap langit berganti menatapnya. "Kau maksudku dengan mereka... Knight of the Roundtables."

"Sudah, tapi aku menolak ajakan mereka." Naruto membalas ucapan itu dengan cepat, namun detik berikutnya dia memasang wajah cemberut. "Tapi semua tidak beguna, karna pada akhirnya aku akan kemabali kesana."

"Ya, mau bagaimana lagi. Setidaknya sekali-sekali kunjungilah tempat ini." Pria itu berucap dengan nada biasa dan diakhiri dengan sebuah tawa. Ketika menangkap Naruto yang akan beranjak dari tempat duduknya. "Ngomong-ngomong tugas sebagai perwakilan Surga dari Michael-sama, atas Kuoh masih berlaku baik kau Exorcist maupun Knight of the Roundtables."

"Ya.." Namun kemudian pandangannya menyipit. "Jiraiya? Akhirnya ayah memasang tanda pengenal juga?" ucap Naruto memandang sesuatu di atas meja.

"Hah~ mau bagaimana lagi... ini sistem" Jiraiya berucap dan kemudian melambaikan sedikit tangannya ketika melihat pemuda itu memberikan sebuah salam perpisahan.

Setelah kepergian pemuda tersebut. Pria yang menjabat sebagai Paladin dalam sistem Exorcist itu kemudia menghela nafas berat. Matanya kemudian beralih menatap sebuah foto yang ada di atas meja, foto dua orang anak dengan dirinya di dalam sana. Foto Koneko yang mengigit kepala Naruto dengan keras sedangkan dirinya hanya bisa memasang gaya 'peace' kearah kamera.

"Pada akhirnya anak burung juga akan meninggalkan sarangnya."

0o0o0

Dunia bawah, seperti biasa dengan selalu bergelimang dengan keajaiban luar biasa yang bisa membuat siapa saja seakan terbenam di dalam dunia fantasi. Berlebihan? Rasanya tidak jika kau melihat bertapa mengahnya Hotel kelas tinggi yang digunakan sebagai tempat perkumpulan untuk pesta yang terletak di bagian terbuka di dalam hutan lebat yang berada di sudut wilayah Gremory.

Skala ini bahkan tidak sempurna jika ini disebut pesta kecil, ini lebih cocok disebut pesta mewah dengan pemborosan anggaran yang wow... setidaknya itu pikiran sebagai Manusia.

Tetapi mereka Iblis, bukan Manusia. Mereka tidak akan mempermasalahkan ini.

Turun dari Naga yang mereka gunakan sebagai tunggangan. Koneko melompat mulus dan mendarat dengan sempurna seperti biasanya, hal yang biasa baginya. Melirik belakang untuk memastikan, dia bisa melihat semua melompat turun dengan mulus seperti biasa... bahkan Ashia. Lebih kebelakang sebuah keringat jatuh meluncur darinya ketika melihat sebuah tinggkah idiot yang tak hilang-hilang dari salah satu senpainya.

Hyudou Issei jatuh dengan muka lebih dahulu menghantam tanah.

Bodoh.

"Jaga dirimu, Issei, Ddraig." Suara berat itu menggema seakan memantul kemana-mana, mengadahkan kepalanya ke atas. Koneko melihat naga raksasa tadi merengsek pergi dari hadapan mereka. Itu Tanin mantan dari Dragon King...

Pesta diadakan di lantai atas, sebuah pesta yang di sponsori oleh Maou Lucifer sendiri. Pesta santai dimana diadakan setelah pertemuan para Iblis muda siang tadi, sebuah pertemuan yang membosankan dan sarat akan emosi dan gejolak masa muda. Koneko mendesah pelan, berfikir dia tak ingin mengingat pertemuan siang tadi. Sungguh itu pertemuan yang kacau.

Elevator terbukan dan menampilkan pandangan Iblis berlalu lalang dengan pakaian pesta yang mewah. Sejenak hampir semua perhatian tertuju pada mereka, namun detik berikutnya kata kagum mulai keluar terutama dari mulut Iblis laki-laki katika menyadari kehadiran Buchou.

Mengabaikan semua itu, Koneko memilih untuk tidak peduli. Masalah yang dibawanya kali Ini cukup membuat kelapanya pusing, Rating Game perdana mereka akan segera dimulai dengan pertarungan melawan Sona-Kaichou. Perkembangannya yang jauh tertinggal seperti presepsi Azazel sensei membuatnya kecewa... 'Tidak bisa menerima dirimu sendiri' perkataan Senseinya tersebut tentu sangat memukulnya, namun dia hanya tidak ingin menggunakan kekuatan itu... dia tidak ingin menerima kekuatan yang tertidur itu. bagaimana jika nantinya dia menjadi jahat dengan kekuatan itu, bagaimana jika dia nantinya berakhir dengan membunuh Buchou... dan yang terburuk, bagaimana jika dia berakhir dengan membunuh Naruto-sama.

Memilih menyendiri di sudut rungan, dalam pandangannya Koneko menangkap semua:

-Kiba senpai yang di kelilingi Iblis wanita.

-Rias Buchou dan Akeno senpai yang bergabung dengan Iblis wanita lainnya juga, sepertinya sedang bergosip.

-Gasper, ah~ dia disana. Berada di belakang punggung Issei senpai.

-Ashia senpai, duduk di sebelah Issei senpai. Sedikit canggung dengan pesta ini, dan detik kemudian pandangannya menangkap Xenovia senpai membawa banyak makanan.

Dan dia sendiri, masih di sini. Duduk menyendiri, kakinya yang mengantung karena kursi yang didudukinya ketinggian bergerak kedepan dan kebelakang dengan pelan mengikuti ritme santai. Andai saja Naruto-sama di sini mungkin dia tidak kesepian, ah... bagaimana urusan Naruto sama dengan salah satu anggota Knight of the Roundtables? Jadi penasaran.

Tatapannya masih tidak menentu, tidak ada yang menarik di sini.

Hening.

Terjadi momen sasaat ketika dia melihat sekelebat bayangan hitam, mencari dengan sigap iris ambernya dengan seketika itu juga menemukan apa bayangan hitam itu. suatu perasaan aneh menyerangnya saat itu juga... bayangan itu. kucing hitam.

Bukan kucing hitam biasa... itu familiar kakaknya.

Dan saat itu juga sebuah perasan tak menyenangkan mengerogoti hatinya. Berdiri Koneko melangkah pelan burusaha mengangkap Kucing hitam itu, namun langkah kakinya semakin lebar dan cepat ketika dia melihat Kucing itu berlari saat merasakan kehadirannya.

Sial.

Ini masalah.

0o0o0

Naruto melangkah terhuyung saat meninggalkan sebuah Gereja di sudut Kota kuoh. Matanya sedikit berkunang ketika dia merasakan perpindahan sejauh itu. Benar juga, ini adalah teknologi baru yang dikembangkan Fraksi Surga. Teknologi teportasi bagi para Manusia yang berhubungan dengan Dunia gaib... teleportasi yang memungkinkan kau bisa berpindah tempat dari satu Gereja ke Gereja yang lain yang ada dibelahan Dunia ini.

Dengan paksa sebuah goncangan di perutnya membuatnya tersujud, sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya meronta untuk keluar. Semakin keatas dan semakin tak tertahankan. "Huewek."

Dia muntah.

Seseorang muncul di belakangnya, dia tak perlu menebak siapa itu... dia sudah tau. "Aku senang kau akhirnya memilih bergabung kembali dengan Knight of the Roundtables." Itu Sasori yang sepertinya memberi ucapan selamat dengan wajah bahagia di sana. Dan merespon itu Naruto hanya memberi tatapan lurus

"Aku mengharapkan pertemuan kita di London minggu depan." Seakan tidak terpengaruh, Pria bersurai merah bata itu kembali melanjutkan. "Para anggota yang lain akan menyambutmu, banyak yang ingin dibicarakan... terutama masalah Kaos Brigade."

"Kenapa tidak di sini saja?" pemuda itu mencoba menyampaikan Opininya. "Saat ini aku mendapat mandat dari Michael-sama sebagai wakil fraksi di wilayah ini, kau paham... Kuoh merupakan basis pertemuan dari Tiga Fraksi." Sasori hanya mengangguk memberi respon, dan pandangannya mengeledah seluruh jalanan tempat mereka keluar tadi.

"Tidak terlalu buruk." Pria itu menyampaikan pendapatnya. "Aku akan mencoba untuk membujuk Anggota lain untuk kemari... juga mungkin Jiraiya-sama yang merupakan seorang Paladin juga akan ku ajak."

"Terserah." Naruto memberikan tatapan tidak peduli, dengan memutar bola matanya bosan. "Lalukan sesukamu."

Sasori menatap Naruto sejenak sebelum menghela nafas panjang. "Baiklah... aku pergi dulu."

"Selamat datang kembali... Naruto Templar."

Naruto diam dan menatap lurus Sasori yang kembali masuk kedalam Gereja tersebut. pemuda itu masih berdiri di sana, bahkan ketika bayangan Sasori sudah menghilang di balik pintu Gereja. Menggaruk belakang kepalanya dirinya mulai memutar badan dan berjalan perlahan... mungkin sesudah ini, dia ingin mendinginkan kepalanya di bak mandi atau di dalam kulkas bila perlu. Dia sudah telalu lelah untuk ini.

Ah sial...

0o0o0

Dengan tergesah-gesah Koneko berlari menyusuri hutan lebat yang mengelilingi hotel tempat berlansungnya pesta. Sesekali tubuhnya melompati akar-akar besar dari pohon-pohon raksasa yang menyembur keluar, kucing hitam itu masih dalam pandangannya. Dan tidak akan dibiarkan lolos.

Tapi kucing hitam itu menghilang seperti ditelan bumi, dengan gelisah Koneko menolehkan wajahnya kesegala penjuru berusaha mencari sesuatu.

"Tak kusangka kamu datang nyaa."

Koneko mengalihkan pandangannya ketika frekuensi dari gelombang suara tak asing itu masuk dalam pendengarannya. Mengadahkan kepalanya ke atas, pupil matanya sedikit melebar ketika melihat siapa di atas sana. "Onee-sama."


Dan bersambung.

Saya bingung, semoga cerita ini masih bagus. Dan kalau kwalitasnya kurang, mohon beri tau saya apa yang kurang agar itu bisa saya perbaiki.


Sesi tanya jawab.

Karna rata-rata pertanyaan Readers semua sama maka saya buat pertanyaan besarnya saja.

Question: Apa Naruto udah nguasai Sacred Gearnya?
Answer: Belum, Naruto belum menguasai Sacred Gearnya... bahkan dia sangat jarang make tuh Sacred Gearnya.

Question: Apa Sharingan termsuk Longinus di sini?"
Answer: Tidak. Jika saya masukan kedalam Longinus nanti terlalu kuat Narutonya.

Question: Apa yang dimaksud dengan berdarah Lumpur?
Answer: Maksudnya berdarah tidak murni, seorang Bangsawan yang berdarah campuran dengaan darah rakyat jelata. Ini Cuma istilah, tapi diskriminasi ini pernah terjadi di abad pertengahan (maaf kalo penjelasan Author salah/dan tolong diberi tau yang benar jika Author salah)

Question: Pairnya siapa saja? Apakah harem?
Answer: Maaf untuk pair, saya tidak mau memberi tau. Saya sombong? Bukan... lebih baik readers cari tau sendiri. Karna saya berusaha membuat interaksi yang jelas pada siapa suka siapa.


Dan ucapan terimakasih saya ucapkan buat yang telah memberi saran atas vitamin/obat yang memperkuat sistim imun saya... sekali lagi terimakasih. Sarannya bermanfaat ^^.

Selain itu saya juga berterimakasih kepada TadaBanri-san dan Febry.D Gooners-san yang telah memberi saran tentang penggunaan POV. Sungguh saya mengucapkan benyak terimakasih atas saran yang kalian berikan. Selain itu mengikuti ajaran dari kristoper21-san tetang penggunaan awalan 'di' seperti : Di hutan, di mana, dikaitkan, dihancurkan. Hanya berdo'a semoga tak salah. Amin.

Karna saya akui saya mesti lebih banyak belajar dari Author-author senior, agar Fic saya semakin sempurna.

Oh ya, yang terakhir saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua readers yang telah membaca dan mngoreksi cerita saya. Saya ucapkan terimakasih.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijiriah.

Mohon maaf lahir dan batin.

Bagi yang mudik semoga selamat sampai tujuan.

Drak yagami.