"Illumi, aku titip kaluto padamu, aku butuh istirahat dan refreshing setelah semua ini"
"Kemana kau akan pergi?"
"London"
"berapa lama?"
"satu bulan"
"oke, serahkan Kalluto padaku, dia akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan dia"
"tentu saja , kau kan ayahnya"
Setelah sedikit berbasa-basi, Kurapika meninggalkan rumah Illumi, setelah itu menuju ke LAX.
Kurapika bertengkar dengan tamu hotel, memperubutkan kamar hotel yag biasa ia pesan, jika ia berkunjung ke London di depan resepsionis hotel. Walau bagaimanapun Kurapika tidak mau kalah, padahal tamu yang lain sudah terlebih dulu mereservasi kamar tersebut, hingga membuat manager hotel langsung turun tangan.
"Masih ada suit lain yang lebih bagus, "
"aku akan bayar lebih!"
"meskipun anda membayar lebih, kami tetap tidak bisa"
"oh, suck! Dengar sialan, aku tak akan pernah lagi menginap di hotel ini! I swear!"
Kurapika beranjak pergi dengan marah dan kasar.
"ada apa?" tanya Kuroro yang melewati lobi, akan pulang setelah makan malam bisnis dengan para investor proyeknya yang baru. Ia bertanya pada seorang bellboy.
"well, anda tahu Kurapika Kurta? Ia mengamuk karena suit yang biasa tempayi jika ke hotel ini, terlebih dahulu di booking orang lain. Dia pikir dia siapa?"
Kuroro menggeleng-geleng kepalanya, wanita tak pernah berubah pikir Kuroro. Lalu Kuroro segera menuju Porsche nya untuk kemudian pergi ke restorannya untuk mengontrol keadaan di sana. Satu jam ia melakukan audit di restorannya. Setelah itu ia pergi ke nightclub langganannya. Ia butuh wanita saat ini, dan Nobu, bartender bar itu selalu memiliki wanita-wanita terbaik. Ia sudah membayangkan akan membawa wanita berambut gelap, yang langsing dan tinggi, cantik pula, sebelum ia memasuki klub itu. tapi yang ia dapati adalah keributan, ia tak peduli, lalu menghampiri Nobu dan meminta Whiskey padanya.
"ada apa Nobu?" Kuroro menenggak whiskeynya yang terasa panas di kerongkongannya.
"wanita yang mengamuk itu mabuk, dia dirampok dan baru sadar saat akan membayar tagihan, tas nya hilang, hanya kopernya yang tersisa. Dia sepertinya turis, yang sedang mencari kamar hotel. Dan ia tidak bisa keluar dari sini tanpa membayar siapapun dia"
"memang siapa dia?"
"tebak siapa?"
"i don't have any times to guess"
"Kurapika Kurta!"
"oh Holy shit!"
"kenapa?"
"ia baru saja mengacau di Dorchester"
"Disana tadi aku duduk saat seseorang bernama Tompa, Tompi ah siapapun itu namanya, pokoknya yang seperti itu, dia mengajakku mengobrol, dia pasti yang telah mengambil tasku!"
Celoteh Kurapika diikuti manajer klub mendekati tempat duduk Kuroro.
"hey bartender samurai, kau tahu bukan? Hidung mu yang panjang itu, pasti bisa mengendus kalau dia pencuri!
"memangnya aku German Sheperd? Aku tidak tahu!" kata Nobu sambil mengangkat bahu.
"oh sialan" Kurapika duduk tepat di samping Kuroro saat ini, wajah Kurapika memerah.
"Nobu benarkah itu?" tanya managernya
"sebentar ku ingat-ingat... eh aku tak yakin sir, tapi well tadi memang ada pria kurus duduk di sampingnya, tapi aku tak terlalu memperhatikannya."
"nah, aku benar kan? Dan hey, siapa namamu Nobi? Nobita?"
"Nobu"
"Ya Nobu, beri aku whiskey lagi!"
"tidak miss, anda bahkan tidak bisa membayar!" kata manager, Kurapika melepas cincin webster nya.
"Hey mister, ini cincin webster asli, bagaimana kalau kau membelinya dengan cara membayariku Whiskey dan uang cash. Harga cincin ini sepuluh ribu dollar sebenarnya" kata Kurapika pada Kuroro, bau alkohol menyeruak dari mulutnya yang seksi.
"bukannya seharusnya kau melapor pada polisi?"
"ponsel ku ada di dalam tas!"
"Sir, tolong telepon polisi, dan check cctv nya. Laporkan pencurian itu." kata kuroro pada manager klub lalu ia beralih pada Kurapika," dan lebih baik kau membekukan semua kartu kreditmu dalam dompet mu yang dicuri"
"aku..aku.." Kurapika mencoba mengingat apa yang harus dia lakukan.
"sir, sebaiknya anda lapor polisi, jangan hanya memandangi wanita mabuk ini"
"ah, ah iya sir" lalu manager pun pergi menelepon kepolisian.
Pria ini sok memerintah, tapi kenapa manager nya itu tampak sangat menghormati nya? Pikir Kurapika. " aku perlu whiskey untuk mengingat no telepon manager ku. Dan Mister, bagaimana dengan cincin ku apa kau tertarik, mister bossy? Tahukah kau kalau aku Kurapika Kurta! Dan cincin ini akan berharga lebih dari sepuluh ribu dollar jika kau melelangnya di ebay, dan memberi tahu mereka kalau pemilik sebelumnya adalah aku!"
"simpan saja cincinmu"
"i need whiskey Nobi..ta!"
"beri dia whiskey nobu"
"tapi tuan Lucilfer.."
"aku yang akan bayar"
"oh you're so sweet dan baik sekali, mister, mmister Lucian!"
Nobu menyeringai pada kuroro yang dibalas gelengan kepala oleh Kuroro. Kurapika terus mengoceh tentang insiden kamar hotel.
"seharusnya kamar itu jadi milikku, milikku! Sekarang aku bahkan tak memegang uang seperser pun bahkan untuk memberi pengemis."
"bukankah kau dulu berlangganan di Sanderson?"
"kau tahu? Hmm iya dulu aku berlangganan di hotel itu, tapi aku kecewa. Sanderson memilki pelayanan yang buruk. Aku bertengkar dengan Eliza gara-gara resepsionis salah memberi tahu nomor kamar Eliza yang berada tepat di depan kamar ku. Kau tahu aku berkelahi dengan Eliza. Meski tubuhku ku lebih kecil, tapi aku berhasil menjambak rambutnya. Tapi dia mendorongku hingga jatuh dan manager hotelpun datang saat itu"
Kuroro mengerutkan hidungnya, dan bersumpah dalam hati, ia tak akan pernah mau terlibat dengan wainta bermasalah yang kacau ini. Dulu, Kuroro pernah diusir dari sebuah cafe di Los Angeles, Cuma karena Kurapika ingin duduk di mejaku, yang katanya meja favoritnya jika ia ke cafe itu. sejak itu, ia membenci wanita itu, dan itu sudah dua belas tahun yang lalu. Saat mereka masih sama-sama muda. Dan meskipun dulu beberapa kali bandnya pernah berbagi panggung dengan Kurapika, sekalipun Kuroro tak pernah bicara padanya kecuali sekarang. Dan wanita itu tampaknya melupkannya, dia tertidur pulas setelah menenggak beberapa shots whiskey lagi. Terdengar suara ponsel berbunyi,di saku celana jeansnya, Kurapika tetap tak terganggu. Sialan bukannya dia bilang ponelnya ada dalam tas? Kuroro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengangkat telepon masuk itu.
"Hello pika? Kenapa lama sekali kau mengangkat telepon? Kau sudah sampai di London kan? Dengar mereka marah karena kau membatalkan acara-acara mereka, dan menuntut ganti rugi, mereka kesulitan mencari penggantimu. Apa yang harus ku lakukan?"
"siapa kau?" tanya Kuroro dingin
"hey, kau yang siapa? Mana Kurapika?"
"dia tidur, kau siapa?"
"oh maaf menganggu kalian, aku Light manager nya"
Kuroro tersenyum masam, Light sepertinya salah paham dengan keadaan mereka.
"bagus kalau begitu, Kurapika baru saja kecopetan tasnya. Ebkukan semua kartu kreditnya dan atmnya"
"apa?! Oke, oke akan segera ku lakukan"
"dan mengenai masalah tadi, berkonsultasilah dengan pengacara pribadinya. Pastika mereka mengakhiri tuntutan konyolnya, dan beritahu mereka kalau Kurapika harus menjalani rehab ketergantungan alkohol. Mereka pasti tidak mau kalau Kurapika sampai mengacaukan acara mereka, dengan tampil sambil mabuk." Kuroro tersenyum jahil
"apa? Oh begitu baiklah. Tapi.."
"lakukanlah apa perintahku!"
"yes sir!"
"ah kau benar-benar seperti bos, tukang perintah, eh aku perlu akuntan pribadi. Kalau kau berminat, kau bisa bekerja padaku mister bossy. Omong0omong bukankah itu ponsel ku?" kata Kurapika tiba-tiba terbangun dari tidurnya, tapi kemudian ia tertidur lagi.
Tak lama kemudian polisi datang, tapi Kurapika sudah tak berdaya. Ia sama sekali tak sadar. Polisi hanya mendapat keterangan dari Nobu yang tak banyak membantu, karena apa yang ada di cctv bahkan lebih baik daripada keterangan Nobu.
"oh sialan, wanita itu membuat aku repot!" keluh Kuroro saat polisi meminta Kuroro membawanya Kurapika pulang dan menyangka ia mengenal baik Kurapika. Terpaksa Kuroro membawa wanita itu pulang dengan menggendongnya dan mengubur mimpinya dalam-dalam untuk bersama wanita malam ini. "Nobu, bawakan kopernya!"
"baiklah, sir!" kata nobu sambil menyeringai penuh simpatik pada pelanggannya nomor satu itu, matanya seolah berkata, "kasihan sekali kau".
