Kurapika meringkuk dengan hangatnya dan malas bangun, kepalanya terasa berat tapi aroma kopi membuatnya terbangun, lalu ia membuka matanya, menyipitnkannya karena silau, akibat cahay matahari pagi yang menyeruak manusk ke kamar itu. seorang wanita paruh baya terlihat disana dengan nampan berisi secangkir kopi panas dan croissant untuk sarapan. Wanita itu pendeka, berambut hitam dengan dahi lebar, pipinya bulat, dan hidung yang kecil, serta bewarna coklat gelap dan kecil, terdapat kerut samar di kedua sisi mulutnya. Menandakan wanita itu sering tersenyum. Ia melihat sekeliling ruangan yang dicat abu-abu dengan jendala yang tinggi, menghadap jala dia? Tanya Kurapika dalam hari, di hotelkah? Ah kepalanya berdenyut, sakit, lalu ia mencoba bangun dan duduk.

"ini sarapan anda nona, tuan Lucilfer menyuruh ku membawanya ke kamar anda" sarapan itu disimpan di atas nakas.

"tuan Lucilfer?"

"ya, koper anda sudah dibawa ke kamar ini. Ada handuk dan juga jubah mandi bersih di lemari kalau anda ingin mandi. Kalau ada keperluan lain anda tinggal menekan bel, di atas laci di samping tempat tidur anda. Aku permisi dulu"

"oke oke"

Kurapika duduk di kursi malas, menikmati sarapannya setelah ia mengelilingi kamar itu, melihat keluar jendela, ke arah jalan kota London yang basah, karena hujan rintik-rintik pagi it. Hujan musim semi, pikir Kurapika. Sepertinya kamar ini terletak di lantai tiga. Lalu ia keluar kamar, dan melihat wanita tadi turun dari tangga.

"Nyonya..?"

"panggil saja aku Senritsu"

"ah bagus, namaku Kurapika Kurta. Rumah ini sangat menarik sekali, dekorasinya bagus, bisakah kau menemaniku melihat-lihat?"

"tentu saja nona Kurta. Apakah Anda orang Amerika?"

"ehmm ya, ayah ku keturunan Turki, ibuku amerika irlandia. Dimana tuan Lucilfer?"

"dia pergi"

"bekerja?"

"aku rasa begitu. Dia pergi tanpa menitip pesan apapun"

"oh"

Lalu mereka mulai mengelilingi rumah minimalis itu modern itu, Kurapika baru sadar, kalau ia tdur di kamar yang ada di lantai empat. Kamar kuroro berada di lantai lima. Kamar itu bersih, rapi, sederhana luas tapi terkesan mewah dan maskulin. Ada pintu penghubung menuju kamar sebelahnya. Kuroro? Ya Kurapika baru menngingat nama pria yang tekah menolongnya semalam. Tapi ia tidak mengingat jelas wajah pria itu. bahkan tidak ada foto pria itu sama sekali di kamarnya. Di lantai lima ada dua kamar utama yang memiliki pintu penghubung dan ruangan dengan satu set sofa furniture yang nyaman. Di lantai empat ada tiga kamar tidur, yang lebih kecil ukurannya dengan dua kamar tidur utama. Salah satunya adalah kamar yang ia tempati, memiliki kamar mandi di dalam. Sedang dua kamar lainnya tidak memiliki kamar mandi di dalam. Ada toilet dan kamar mandi di lantai empat. Di lantai tiga, ada ruang kerja merangkap perpustakaan, dan studio musik, ada berbagai alat musik, seperti keyboard, drum, bass dan gitar serta biola. Jelas sekali Kuroro suka musik. Di sana juga ada ruang keluarga dan toilet. Di lantai dua ada sebuah grand piano, ruangan besar tanpa sekat, untuk pesta atau perkumpulan keluarga, kata Senritsu. Serta dua kamar berukuran kecil dan toilet untuk senritsu dan Bashou. Di lantai dasar, ada ruang makan, ruang tamu, dan dapur yang luas serta garasi dan toilet. Secara keseluruhan Kurapika menyukai tempat ini, tempat yang sempurna untuk beristirahat. Ya da sudah memutuskan akan tinggal di sini selama berada di London. Dia akan membayar sewa pada Lucilfer, jika memang perlu.

Tapi ada yang mengganggu pikir Kurapika, yaitu lukisan medusa dan Zeus yang mengerikan yang sedang bertempu di ruang keluarga. Kurapika meminta lukisan itu dipindahkan ke ruang tamu. Sedangkan lukisan Aphrodite yang sedang merayu Ares, di ruang tamu ia pindahkan ke lantai lima, dan lukisan cupid yang sedang memanah apolo dengan panah cintanya dipindahkan ke ruang keluarga. Nah begiu lebih pas, pikir Kurapika.

"dia tak akan marah, percayalah padaku" kata Kurapika percaya diri pada Senritsu dan Bashou.

"dia orang yang teratur tidak suka semuanya diubah tanpa perintahnya"

"dia tak akan marah Bashou"

"tapi ia pasti akan marah" kata Bashou khawatir.

"kau boleh memindahkan semua lukisan ke tempatnya masing-masing kalau aku sudah pulang ke Los Angeles, bulan depan"

"Bulan depan?"

"ya senritsu, ada yang salah?"

"Tuan Lucilfer bilang kau akan tinggal sampai tas mu yang dicuri itu kembali"

"sepertinya tidak begitu" Kurapika menyerngai, lalu duduk di bangku piano dan memainkannya.

"siapa yang memindahkan lukisan-lukisan ku?!" Kuroro langsung meledak ketika masuk rumah, ia sudah pusing dengan kepolisian yang meminta keterangan darinya, dan juga menyerahkan tas Kurapika. Ia sama sekali merasa terganggu dengan kejadian yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan dirinya. Dan paparazi sialan sekarang mengejar-ngejarnya mengenai kasus itu dan kasus Kurapika di Dorchester. Belum lagi ia harus menunggu acara off air dimana semua krunya molor. Dan sekarang?

"kurapika tentu saja" begitu senritsu yang lemah lembut itu berkata terbata-bata dengan wajah takut. Baru kali ini ia melihat wajah tuannya kusut dan marah. "dimana wanita sialan itu sekarang?"

Terdengar bunyi piano, dan Kuroro langsung ke sana. Kurapika menoleh ke arah langkah berat pria itu dan menemukan pria tampan dengan wajah masam dan mata tajam yang besar dan berwarna sangat kelam, mata itu terlihat marah sekarang. Alis pria itu melengkung, sedang mengerut di atas hidung yang tinggi dan kuat, bibir pria itu terkatup rapat menahan emosi. Tubuh pria itu tinggi, dan atletis, membuat Kurapika merasa kecil dan rapuh. Perutnya bergolak melihat emosi dalam mata pria itu. aneh padahal ia sudah sering menghadapi kemarahan orang-orang.

"Ini tas mu!" Kuroro melempar tas itu ke hadapan Kurapika.

"isinya utuh kecuali uang tunai, aku menutup kasusnya. Baru semalam kau datang dan sudah mengacaukan rumah ku dan hidupku, dengan paparazi yang terus-terusan mengintaiku, karena kau!

"hei aku hanya memindah-mindahkan lukisan mu. Siapa yang ingin menghabiskan waktu istirahat di ruang keluarga dengan menyaksikan Medusa yang menjijikan itu? dan kenapa kau menutup kasusku?"

"itu lukisan yang luar biasa, dan aku tak mau repot menghadapi kepolisian dan pers, sementara kau diam, bersantai di rumah!"

"kau tak boleh memindahkan lukisan-lukisan itu sampai aku pergi"

"oke kalau begitu, tak masalah, karena kau akan segera pergi dari rumah ini" kata Kuroro dingin.

"Mengenai masalh itu, aku sudah memutuskan akan menghabiskan liburanku satu bulan penuh di sini"

"apa?!"

"aku akan membayar sewa, berapa yang kau minta perhari?"

"bukan masalah uang, tapi privasi. Aku menginginkan privasiku. Baru semalam kau menginap, kau sudah mengacak-ngacak rumahku. Aku tak mau paparazi itu bergentayangan di sekitar rumah ku gara-gara kau. Apa kau tahu paparazi Inggris, lebih nekat daripada Hollywood?"

"oh jadi kau sejenis Greta Garbo versi pria yang gila privasi, dan hidup sendirian. Kasihan sekali kau, hidupmu benar-benar menyedihkan. Aku berjanji aku tak akan tampil mencolok, percayalah"

"tidak akan!"

"aku sudah jatuh cinta pada rumahmu! Aku butuh istirahat dan berlibur please...anggaplah menolong kawan lama"

"tidak"

Kurapika cemberut, dan anehnya Kuroro menyukai cara wanita itu cemberut, mirip gadis remaja yang tidak diberi izin pacaran oleh orang tuanya.

"kalau begitu aku kan teriak di jendela kamarku, dan menuduh mu mengambil keuntungan dariku, menculikku, melecehkan ku secara seksual"

"oh tidak, kau tidak akan berani"

"Aku Kurapika Kurta, aku tak pernah peduli dengan omongan orang-orang"

Lalu dengan cepat Kurapika berlari ke atas tangga, "shit!" umpat kuroro mengejarnya, tapi wanita itu bergerak cepat, Kuroro tersandung jatuh. Dan ketika ia sampai di kamar Kurapika, wanita itu sudah melongokan kepalanya keluar jendela, kuroro dengan gesit menariknya, mengangkatnya, lau menghempaskannya ke tempat tidur, Kurapika menjerit kaget.

"oke, kau boleh tinggal dengan tiga syarat, jangan mengganggu privasiku, jangan sampai orang-orang tahu bahwa kau tinggal di sini, dan.." Kuroro menatap Kurapika di bawah tubuhnya, karena kini Kuroro sedang mengunci tubuh kurapika, dengan berlutut dengan tangan memegank kdeua pergelangan tangan Kurapika, sementara Kurapika berada di antara kaki pria itu.

"dan?"

"aku tidak mengijinkan mu membawa pria untuk tidur dengan mu di rumah ini, di luar itu, aku tak peduli!"

Kurapika membelalakan matanya yang berwarna safir, bru teringat dia menyimpan kondom di tas nya! Oh Tuhan benar-benar memalukan, pria itu pasti sudah mengetahui isi tas nya! Tapi memang sebelumnya ia telah merencankan untuk tidur dengan pria Inggris yang cool dan tampan seperti pangeran William bukan? Oh rencana itu terdengar konyol sekarang. Siapa yang butuh pangeran William, kalau ada pria yang jauh lebih tampan di dekatnya? Tapi itu rasanya mustahil, pria itu begitu sok, dan menyebalkan.

"oke" jawab Kurapika akhirnya

"good" Kuroro pun beranjak ke kamarnya sendiri, untuk mandi. Tuhan apa salahnya hingga a dikutuk berada di dekat wainta pembawa sial itu? yang sialnya sangat cantik. Matanya yang berwarna biru safir cemerlang, rambut pirang yang halus dan alis yang melengkung serta hidung yang lurus mancung mungil, di atas bibir yang sensual. Bibir yang tercanti yang pernah dilihatnya. Kenapa ia baru menyadari kecantikan wanita itu? oh tentu saja, selama ini justru kecantikan alaminya tertutup dengan make up yang tebal itu! oh sialan memikirkan wanita itu yang tadi berada di bawahnya saja sudah membuatnya bagian pribadi Kuroro menegang. Kuroro tak kuasa lagi menahannya, hingga ia akhirnya menyerah pada hasratnya, dan menyenangkan diri sendiri.