Kuroro dan Pariston pergi melakukan audit di restorannya dan juga untuk meninjau lokasi proyek pembangunan kondominium yang akan dibangun secepatnya. Hanya saja Kuroro masih memerlukan setidaknya satu investor lagi. Kuroro telah berinvestasi membeli bangunan tua dua lantai dan lahan peternakan di daerah pinggiran kota London yang memiliki view yang indah dan prospek yang cerah, kini bangunan gedung tua sedang diratakan tanhanya. Kuroro sedang gencar mendekati investor, seorang putri pewaris hotel ternama di Inggris, yang katanya sedang mencari investasi yang bagus. Hanya saja katanya, Dia adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun yang menyusahkan. Humasnya belum berhasil melobi wanita itu. Kuroro baru pulang jam sembilan malam saat ia menemukan Kurapika sedang menyiapkan makan malam.
"dimana Bashou?"
"sakit, sedang istirahat. Kau pasti capek, makanlah dulu"
Kuroro tersenyum, melihat wanita itu dengan celemek yang masih menempel dengan rambut yang digelung asal, memperlihatkan lehernya yang jenjang, membuatnya rasa lelahnya dan rasa jengkelnya sedikit terobati akibat Nona Pakunoda Peyton yang menolak proposal yang telah diajukan humasnya. Tapi ia tak akan menyerah begitu saja, ia akan menemui Pakunoda besok.
"ku lihat suasana hati mu sedang bagus Kuroro?"
"tidak sebetulnya"
Kurapika duduk dan Kuroro mulai memotong steaknya. Begitu potonganny masuk ke mulutnya Kuroro langsung memuntahkannya, "apa-apaan ini?" Bashou selalu memasak dengan sempurna!"
"aku bukan Bashou, memang kenapa?"
"Steak mu rasanya benar-benar kacau!"
Kurapika menggigit sedikit, dan ya, saosya terlalu pedas, terlalu asin, wine nya kebanyakan. Dagingnya keras, terlalu lama dimasak, tidak ada aroma sama sekali. Dia hanya bisa nyengir, sambil menatap kuroro polos.
"Bashou!"
"Kuroro jangan salahkan Bashou, dia sedang sakit. Aku yang memasakan nya untuk mu atas bimbingan Bashou"
"jadi ini benar-benar kau yang memasak? Kalau kau tidak bisa memasak, kenapa kau tidak meminta senritsu yang memasak? Setidaknya dia bisa membuat pie ayam"
"dia sudah tua, pikun dan parkinson, juga kelelahan. Aku menyuruhnya istirahat. Aku hanya tidak ingin menyusahkannya. Tapi aku bisa masak kalau koki di rumah ku cuti. Aku bisa memasak mie instan, telur dan makanan kalengan ku rasa" Kurapika bersungguh-sungguh dalam ucapannya pikir Kuroro, tapi ia juga merasa geli sendiri, Senritsu tidak setua itu dan siapapun bisa memasak mie instan dan memanaskan makanan kalengan. Kuroro akhirnya bangkit berdiri, "kau mau kemana?"
"setidaknya masakanku ada rasanya, meskipun aku adalah koki yang buruk"
Kurapika membuntuti Kuroro, Kuroro membuka jasnya, menggulung lengan kemeja nya dan bergerak secara luwes, seperti seorang koki profesional. Pria itu begitu tampan saat mengenakan celemek, seksi. Dan kenapa hatinya dipenuhi kehangatan hanya dengan menatap pria itu? Kurapika terus memperhatikan hingga ia tak sadar kalau Kuroro selesai memasak, dan ia masih menatapnya saat Kuroro selesai.
"apa yang kau lihat? Aku sudah selesai, ayo kita makan"
Kurapika tersentak dan mengikuti Kuroro ke meja makan. Ia menyingkirkan masakannya dan menggantinya dengan masakan Kuroro.
"wah cordon bleu buatan mu enak, kau pintar juga memasak!"
"resep ibuku" kata kuroro sambil memasukan potongan kentang rebus yang diberi saur barbeque.
"Kuroro, apa kau tak berpikir untuk menikah, hingga kau tak usah merepotkan dirimu sendiri untuk memasak saat Bashou cuti atau sakit?"
"itukah alasan seorang pria untuk menikah?"
"ya itu salah satunya, meski kebanyakan pria menikah karena dirinya ingin diperhatikan dan diurus oleh seorang istri"
"bagaimana, kalau aku menikah menikah dengan wanita yang sama sekali tidak bisa memasak seperti mu?"
Jantung Kurapika mencelos, saat Kuroro bertanya seperti itu, rasanya jantungnya itu berhenti satu detik saat itu.
"aku akan belajar memasak"
"kau sudah pernah menikah, dan sama sekali belum penah belajar memasak?"
"itu lah saah satu penyesalan ku Kuroro, Illumi adalah pria yang sangat baik. Aku terlalu sibuk dengan karirku yang sedang di puncak waktu itu. komunikasi kami terhambat, sering kali terjadi kesalahpahaman dan perbedaan pendapat. Aku bahkan, belum pernah memasak untuknya. Aku mencintainya, dan aku pikir cinta saja cukup, tapi ternyata tidak. Illumi tidak mempercayaiku dengan segala logika yang ia milikki"
Entah bagaimana caranya, membicarakan hal itu membuat air mata Kurapika mengalir, ia menunduk menyembunyikan air matanya, tapi terlambat Kuroro sudah melihatnya, "ku pikir dengan kehadiran Kalluto, semua akan jadi lebih baik, tapi nyatanya tidak. Tapi aku tak pernah menyesal telah mencintainya dan menyerahkan diriku seutuhnya kepadanya, karena suatu masa, dia pun pernah sangat mencintaiku"
"itulah sebabnya, tak terpikirkan oleh ku untuk menikah. Wanita terlalu rumit, aku tidak cocok dengan kehidupan pernikahan"
Kuroro menggengam tangan Kurapika dengan rasa simpati yang tidak dibuat-buat. Kurapika mengangkat wajahnya, lalu menyeka air matanya dengan punggung tangannya, sambil tersenyum. Iapun berkata, "aku heran kenapa dulu aku sempat tertarik dengan seorang pemuda yang duduk sendirian di kafe dan memandangku dengan dingin"
Kuroro menyeringai, "karena kebanyakan wanita menyukai pria brengsek"
"kau tahu aku tertarik padamu?"
"tadinya ku pikir begitu, tapi aku heran dengan caramu menarik perhatianku, lalu aku berubah pikiran. Padahal kau bisa saja langsung mengajak ku tidur dengan mu waktu itu, aku tak akan menolak"
"brengsek! Aku masih terlalu naif soal pria waktu itu"
"kau gadis amerika tujuh belas tahun, bukan gadis desa di pedalaman pulau jawa! Jangan bilang kau masih perawan dengan penampilan seksimu waktu itu, aku tak sebodoh itu."
Kurapika menyeringai, "aku tak tahu, apa kau yang memang benar-benar bodoh, atau aku aktris yang pintar, well aku masih perawan waktu itu. aku sedang kencan dengan salah satu penyanyi yang tidak terkenal yang ternyata adalah gay. Aku pikir dia hanya menghargai ku dan akan mengajari ku pelan-pelan soal sex. Sampai pada akhirnya, saat aku hendak memberi tahunya bahwa aku sudah siap menyerahkan keperawananku padanya, aku memergokinya sedang melakukan felatio dengan seorang dancer di belakang panggung, di acara rehearsal konserku, dimana dia jadi penyanyi pembuka, aku benar-benar hancur saat itu, padahal aku sudah mengajaknya untuk menikah"
"menikah?" Kuroro tertawa
"kau seharusnya tak tertawa seperti itu, tidak sopan! Menikah adalah impian setiap gadis"
"kenapa dia mau kencan dengan mu kalau begitu?"
"untuk mempermudahnya mencapai popularitasnya sendiri. Sejak itu lah aku mulai mengenal Illumi sebagai seorang pria, bukan hanya sebagai produser ku"
"bagaimana dengan Leorio?"
"aku mulai dekat dengannya saat aku pisah ranjang dengan Illumi. Dia menyenangkan, supel, aku senang curhat kepadanya, kebalikan dari Illumi, dia bukan pria yang sibuk. Aku pikir hubungan kami akan berjalan baik, kalau salah satu dari kami tidak bekerja. Aku tidak bisa tidak bekerja, sementara Leorio bisa. Dia selalu memujiku, memihakku, membenarkan perkataan dan tindakan ku, dia selalu di sisiku. Ku pikir karena dia mencintaiku,"
Kuroro menyela setengah berbisik, "itu sih menjilat namanya"
Kurapika memelototinya, lalu melanjutkan ceritanya, " aku mulai mencintainya. Saat teman-teman dan keluarga ku berkata buruk mengenai leorio, aku tak peduli, karena hanya Leorio yang selalu peduli padaku. Walaupun aku sadar sekarang, dia tidak membawa kebaikan untukku. Aku sama sekali tidak berubah menjadi lebih baik. Dia tak pernah mengkritikku. Sampai akhirnya aku memergoki dia bercinta dengan seorang pelacur muda yang sangat jelek di dalam mobil yang ku belikan untuknya. Itu sangat menyinggungku, padahal dengan ketampanannya dia bisa tidur dengan Taylor Swift!"
"itu berarti kau bahkan lebih jelek dari pelacur itu"
"Diam kau! Akhirnya aku sadar, dia tidak benar-benar tulus padaku, mencintaiku selama dollar masih ku isi kan di dompetnya. Kuroro apa kau pernah jatuh cinta?"
"cinta monyet kurasa, aku sedang liburan ke Paris, saat aku bertemu gadis perancis di study Tour kami di Lourve. Kami janjian di suatu tempat, di taman yang agak tersembunyi, itulah sex pertamaku, dengan gadis perancis berusia tujuh belas tahun. Aku masih tiga belas waktu itu"
"tiga belas? Gadis itu pasti punya kelainan Necrophilia!"
"bukan Necrophillia, tapi pedophillia. Lagipula aku tidak tampak seperti bocah tiga belas tahun waktu itu, aku mengaku sudah berumur enam belas"
"sama saja bukan necro dengan pedo?"
"hhh..sebaiknya kau lihat di wikipedia"
"ku pikir itu bukan cinta"
"entahlah" kuroro melanjutkan makannya
"kau pernah berpacaran serius?"
"aku pernah berpacaran dengan model catwalk selama dua tahun, tapi dia menuntut komitmen, yang tak bisa aku berikan. Apalagi aku sedang sibuk-sibuknya dengan Hunter. Setelah itu hanya hubungan –hubungan singkat yang tak berarti. Kau pasti pernah mendengar pertunangan ku dengan seorang pria, entah dari Senritsu, atau Bashou, tidak mungkin dari media, mengingat keterbatasan memori di otakmu, yang membuat mu sama sekali tak mengingatku. Tapi percayalah, itu Cuma settingan management ku untuk mendongkrak popularitas band ku yang sedang diambang kehancuran"
"well, kadang di dalam industri hiburan seperti kita, memang diperlukan sensasi bukan? Entah itu nyata ataupun settingan belaka"
"dan kau terlalu banyak sensasi, dan sedikit prestasi"
Kurapika menyeringai lalu dengan angkuhnya ia berkata, "aku punya enam grammy lho!"
Lalu mereka pun melanjutkan kembali makan mereka, diam-diam Kuroro mulai menikmati hubungan aneh dan percakapan-percakapan konyol dengan Kurapika.
