"Maaf sir, Nona Peyton tidak bisa menemui anda sekarang, ada keperluan mendadak. Tapi dia akan segera menemui anda begitu ia menyelesaikan urusannya sore ini", kata Mizuken pria bertubuh tegap dan tampan, dia adalah sekretaris eksekutive Nona Pakunoda Peyton yang terkenal akan kecantikannya dan keangkuhannya. Kuroro benar-benar kesal, padahal dia sudah memilki appointment dengan Pakunoda. Ia kembali ke rumah, dan mendapati Kurapika tidak ada di rumah. Padahal ia ingin sekali melihat wanita itu.
Kurapika sudah pergi ketika Kuroro sarapan, sehingga Kuroro tidak melihatnya. Senritsu memberitahunya bahwa Kurapika sedang jalan-jalan naik scooter, dengan hanya mengenakan rok super mini, tank top, dilapisi cardigan tipis, dia pikir ini Los Angeles yang panas? Pikir Kuroro masam. Tapi Kurapika belum juga kembali, membuatnya agak khawatir. Apalagi saat Senritsu keceplosan bilang pada Kuroro, bahwa Kurapika baru tadi pagi belajar naik scooter dari Senritsu. Padahal Kurapika sudah mewanti-wanti agar Senritsu tidak memberi tahu Kuroro bahwa dia baru belajar. Mendengar hal itu, Kuroro segera pergi mencari Kurapika.
Kurapika, berhenti di sekitar Killburn, saat dua orang remaja pria memandanginya dengan tatapan mesum. Saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang ke Picadilly, rumah Kuroro. Dengan pedenya dia turun dari scooter, menyetandarkan scooternya dengan asal. Ia menuju ke arah remaja itu, dengan gaya foto model yang diberi efek angin. Ada rasa bangga dalam dirinya, karena meskipun sudah akan berusia tiga puluh, ia masih dapat menarik perhatian remaja-remaja enam belas tahun. Kedua remaja itu melongo, saat Kurapika mulai mendekat untuk memberi mereka tanda tangan dan ciuman di pipi. "gubrak,prang!" suara itu mengagetkan Kurapika, dan matanya yang biru besar membuat, saat melihat scooter nya terguling, stangnya membuat kaca mobil di sisi scooternya pecah dan menimbulkan suara alarm.
"oops..." kata Kurapika, tak lama kemudian seorang gadis remaja datang berteriak, saat melihat kaca mobilnya pecah, "siapa yang melakukan ini!"
Kurapika berbalik, pura-pura tidak tahu, tapi dua remaja di depannya menunjuk Kurapika, Kurapika melotot pada mereka, tapi mereka malah kabur, tidak mau dituduh sebagai komplotannya.
"hey kau tante pirang girang berhenti! Jangan kabur"
Tante girang? Apa?! Apa aku terlihat seperti tante-tante!? Kurapika mulai marah
"kau harus bertanggung jawab! Ibu ku pasti akan marah, dan tidak memperbolehkanku menyetir lagi!" -tiba-tiba ponselnya berbunyi- "ya mom, aku akan segera pulang, tapi ini ada orang gila yang memcahkan kaca mobilku -ada jeda panjang-"bukan salahku mobil ku sedang parkir, tante-tante itu yang menaruh scooternya sembarangan –jeda lagi- ya mom, ya" lalu gadis itu menutup teleponnya. Berjalan cepat ke arah Kurapika yang sudah akan meledak, Kurapika berbalik, dan gadis itu langsung berseru, "oh Tuhan Kau Kurapika Kurta! Oh my god, oh my god? Apakah itu betul kau?" gadis itu menjerit-jerit kegirangan, membuat Kurapika tak jadi marah, kembali rasa bangga muncul dalam dirinya, "ah ya itu aku, maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku."
"ah bukan apa-apa hanya kacanya saja yang pecah, tak masalah. Aku justru tak akan memperbaikinya, biar orang-orang tahu kalau Kurapika Kurta pernah menyenggol mobilku" gadis itu tersenyum-senyum, "boleh aku berfoto? Minta tanda tangan? Boleh? Boleh aku mencubitmu, biar aku tahu ini nyata?"
Kurapika tersenyum, lalu melakukan apa yang diminta gadis itu. "mobilnya."
"sudah ke bilang jangan khawatir aku tak akan memperbaikinya kok"
"tapi ibumu marah bukan? Perbaiki mobil itu, dan kirim tagihannya ke alamat ini" tiba-tiba Kuroro datang dan memberikan gadis secarik kertas bertuliskan alamatnya.
"iya sih tapi"
"sudah perbaiki saja" sambung Kurapika
"baiklah kalau begitu. Eh omong-omong kau terlihat familiar Sir, kau siapa?"
Kurapika tersenyum mengejek, Kuroro melirik Kurapika sinis, "dia supir sewaan ku"
Kata Kurapika, membut Kuroro gemas, tapi bagus juga kalau gadis itu tidak mengenalinya. Akan menjadi skandal nantinya, jika gadis itu sampai mengenalinya, dan berspekulasi yang tidak-tidak.
"kau tampan"
"terima kasih"
Lalu mereka menuju scooter yang terjungkal, dan mengecek kerusakan mobil. Kurapika mencoba untuk menarik ke atas scooternya, tapi salah satu high heel sepatunya patah, hingga ia terjerembab ke depan, kakinya keseleo, sementara roknya menyingkap, memperlihatkan celana dalam nya yang bergambar Mickey mouse.
Kuroro terpaksa memapah Kurapika ke mobilnya, sementara ia menijinjing high heelnya yang hak nya patah sebelah. Kurapika meringis kesakitan setiap kali mereka melangkah membuat Kuroro jengkel. Untungnya mobil Kuroro tidak jauh dari sana.
"Kuroro, scooternya" tanya Kurapika saat mereka sudah sampai di mobil dan henadak akan berangkat, "bashou akan mengurusnya. Ehm sebenarnya dari mana saja seharian ini tante girang?" Kurapika menahan tawanya, tapi ia tak sanggup, ia menyerah pada ledakan tawanya.
"diam kau, aku sedang kesakitan kau tahu?" kata Kurapika kesal
"alah Cuma keseleo, bukan tulang yang patah"
"sialan ini sakit sekali, kau tahu?" Kurapika meringis kesakitan lagi, air matanya menetes menahan rasa berdenyut hebat di pergelangan kakinya.
"kau kan Kurapika, kau bisa menyembuhkan keseleo kecil itu dengan holy chain mu"
"itu kan di kartun.. aw ssshhhh!"
Sampai di rumah, Kurapika sama sekali tak sanggup berjalan, bengkaknya cukup besar. Kuroro terpaksa menggendongnya ketika ia turun dari mobil. Kurapika terus-terusan mengaduh kesakitan membuat Kuroro jengkel dengan ocehan-ocehannya. Saat Kuroro menggendong Kurapika akan ke ruang tamu, untuk mendudukannya, Bashou muncul dari arah ruang tamu, dan memberi tahunya kalau ada kedatangan Nona Peyton, Kuroro menemui nya sejenak, sementara Kurapika masih dalam gendongannya.
"selamat sore nona, maaf bisakah anda menunggu sebentar? "
"baiklah" Pakunoda peyton melirik Kurapika dengan sinis. Kurapika balas menatapnya dengan berani. Tak disangkal kalau Pakunoda Peyton bisa dibilang cukup cantik di usianya yang sudah empat puluh satu. Tapi dengan mata coklat yang tegas, cenderung kejam dan rambut pirang yang disanggul. Tapi mata tegas itu mencair ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Kuroro, sepertinya mereka baru pertama kali bertemu pikir Kurapika. Lalu saat Kuroro meminta ia menunggu sebentar, mata itu beralih pada Kurapika lagi yang berantakan dan memandang rendah Kurapika. Wanita itu menginginkan Kuroro, pikir Kurapika. Kuroro pun membawanya ke kamarnya dan menyuruh Senritsu merawat lukanya.
"siapa dia?" tanya Kurapika menghampiri Kuroro dengan memakai sebuah tongkat, kakinya di perban. Kuroro sedang mengerutkan alisnya, duduk di ruang keluarga sambil menonton tv tanpa menontonnya sama sekali, karena terlihat jelas, pikirannya tidak sedang pada layar televisi.
"Pakunoda Peyton, pengusaha hotelier Inggris. Aku sedang melobinya untuk menjadi investor di proyek kondominium ku. Humasku bahkan Pariston sudah melobinya tapi tidak berhasil.
"bukankah bangunannya sedang diratakan? Bukankah itu berarti proyek sudah dimulai? Yang artinya sudah ada modal untuk membangunnya"
"ya, sayangnya, salah seorang investor menarik kembali uangnya, dengan alasan ia mendapatkan investasi yang lebih bagus. Aku sudah mencoba menahannya tapi gagal"
"memang tidak ada investor lain selain Pakunoda, jujur aku tidak menyukainya"
"kenapa? Kau takut dia menyaingi kecantikanmu? Dia adalah pengusaha hotelier yang pasti tahu bahwa proyek ini menjanjikan"
"takut? Dia sama sekali jauh dari kata menyamaiku. Lalu apakah sudah deal?"
"belum, tapi dia akan mempertimbangkannya"
"dia menginginkan mu Kuroro"
"omong kosong, rumor yang ku dengar dia punya affair dengan sekretaris eksekutif nya, Mizuken Mcelderly"
"jelas sekali dari cara dia menatapmu bodoh"
"bodoh? Sejauh ini bukannya kau yang selalu bertindak-tanduk seperti orang bodoh?"
"kenapa jadi aku yang bodoh? Aku hanya mengamati tindak tanduk Pakunoda mu itu yang oh begitu berharga. Dia tak lebih dari wanita jalang yang memanipulasi bisnis untuk memenuhi fantasi seksualnya!"
"tutup mulutmu! Aku tidak percaya kau bisa berkata selancang itu pada wanita terhormat seperti dia!"
Hati Kurapika terpecut mendengar ucapan Kuroro, membuatnya terasa perih.
"jadi kau pikir aku tidak sederajat dengan wanita terhormat itu? oh kasihan sekali kau tuan Lucilfer, dalam bisnis semua orang tahu , bahwa dibutuhkan ahli psikologis untuk keadaan psikologis calon karyawan juga rekan, itu gunanya HRD bukan? Tapi kau yang menganggap dirimu pintar, serba mengetahui apapun bahkan jumlah semut di dunia ini, ternyata dibodohi begitu mudahnya oleh calon rekan mu. Dia hanya harus bilang bahwa dia akan mempertimbangkannya kemarin saat ia menemuimu di sini, bukannya malah mengajak mu makan malam berdua malam ini, hanya untuk berkata bahwa dia akan mempertimbangkannya. Dia itu wanita sama sepertiku dan aku tahu maksud implisitnya. Dia itu medusa seperti yang ada di lukisan konyol tersayangmu itu!"
"berbicara padamu itu yang adalah kebodohan yang hanya menguras emosiku. Pakunoda sudah tertarik dengan proyek ku, dia akan menerimanya aku yakin. Besok bahkan dia mengundangku ke resortnya untuk mendiskusikan secara detail proyek ku. Penilaianmu sangat buruk tentang dia!
"ya aku yakin dia akan menerimamu selama kau bersedia memasuki lubangnya!"
Kuroro benar-benar emosi sekarang tangannya terangkat untuk menampar kurapika, Kurapika sama sekali tak gentar. Dia malah menyodorkan pipinya, tapi Kuroro masih bisa menahan diri. Ia menyentakkan kaki dan meninggalkan Kurapika dengan marah dan jengkel. Kurapika tahan jika hanya dimarahi, tapi dibilang bodoh dan tidak terhormat? Ia juga seorang pebisnis, ia tahu apa yang ia lakukan. Kuroro benar-benar terlalu kelewatan. Kurapika tidak bisa menerima hal itu. Kurapika memang tidak pandai melobi, tapi ia punya beberapa bisnis yang ia modali sendiri dan sejauh ini ia cukup sukses dengan bisnisnya. Biarlah Kuroro termakan sendiri oleh medusa itu. jika memang sampai begitu, itu berarti Kuroro tak lebih dari seorang gigolo kelas kakap.
Kurapika tidak bisa tinggal lebih lama lagi, dengan pria yang sama sekali tidak menghargainya sebagai seorang wanita, dan yang terus-terusan memarahinya. Ia akan pergi, ya ia akan pergi malam ini juga. Ia bisa menginap di hotel, dan pria itu pasti akan menyesali kebodohannya. Dia segera mengemasi barang-barangnya, dan pergi diam-diam malam itu dari rumah Kuroro yang cantik.
