Hai! update lagi nih. thx ya udah setia review. apa ini ada lemonnya? ya rencananya ada. kan fic nya juga rating M, cuma gak akan terlalu detail, jadi kalau lemonnya kurang asem ato kurang hot gomen. bagi yang gak suka lemon, bisa di skip. thx ya!^_~


"apa Kurapika masih tidur?" tanya Kuroro pada Senritsu saat ia makan sendirian.

"di pergi semalam membawa kopernya"

Kuroro membanting serbetnya dan pergi dengan marah, membuat Senritsu kaget. Biarlah wanita itu pergi, lagipula itu bagus kan? Sumber ketidakwarasannya selama hampir seminggu terakhir telah pergi. Itu salahnya, Kuroro sama sekali tidak mengusirnya pergi, tapi kenapa ia marah? Dan bersikap irasional tadi dengan membanting serbetnya?

Pakunoda cantik seperti biasa menyambut Kuroro dengan ramah. Setelah cukup berbas basi, Kuroro langsung menanyakan perihal investasi iyu.

"aku sebenarnya cukup tertarik dengan proyekmu, aku akan senang hati berinvestasi, dengan beberapa syarat"

"apapun itu Nona"

"Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar rekan kerja, kau tahu maksudku, sedikit affair ku rasa. Tapi selama kita berhubungan, aku ingin kau memutuskan hubungan mu dengan kekasih mungilmu yang berambut pirang itu. dan aku akan menjadi investor terbesarmu"

Kuroro terdiam, tanpa ekspresi begitu dingin. Sekilas ia melihat kilasan wajah Kurapika yang sedang menertawakan kebodohannya. Wanita itu memang benar. Ia benar-benar bodoh! Tentu saja ia tak aan sudi menjadi gigolo wanta itu. ia masih sanggup mencari investor lain. Meski wanita itu cantik, tapi dia ular seperti kata Kurapika, Medusa.

"Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu. Aku permisi" ketika Kuroro hendak pergi, Pakunoda menyela, "bahkan jika aku menjadi investor tunggal?"

"tidak, terima kasih atas tawaranmu"

Pakunoda mengatupka rahangnya kuat-kuat, belum pernah ada yang memperlakukannya seperti ini, belum.

Kuroro memikirkan Kurapika seharian itu, saat ia sedang tampil off air di Cardiff. Ia harus minta maaf, ia tahu, meskipun sangat berat untuk nya utk mengakui kalau dia yang salah. Kuroro bukan orang yang mudah mengakui kesalahannya, tapi walau bagaimana pun ia harus bersikap gentleman bukan? Ya, dia harus mencari Kurapika. Tapi ternyata ponsel wanita itu mati, ia sama sekali tak bisa melacak keberadaannya lewat GPS dan meneleponnya seperti yang ia lakukan saat insiden scooter itu. jadi ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan berencana akan mencari wanita itu besok.

Saat ia pulang ke rumah, ia bisa mendengar suara wanita itu di dapur, apakah ada yang salah dengan pendengarannya? Tapi itu benar suaranya ia yakin, itu bukan suara Senritsu. Ia pun menuju ke arah dapur untuk meyakinkan dirinya, dan ya ternyata itu memang Kurapika yang sedang bercakap-cakap dengan Bashou.

"ah begitu ya? Jadi saat mobilku tak bisa di starter, pertama yang harus aku lihat adalah check engine di dashboard, jika menyala itu bagus, jika belum check sikringnya, dan kalau bagus, tapi masih belum menyala, aku harus memeriksa relay starter, dan juga kondisi Accu nya?"

"ya begitu, tapi jika accunya tak bermasalah, kau harus memeriksa bagian kabel seri dan kabel paralel accu, atau dari dinamo starter nya"

"ah itu membuat ku pusing! Lebih praktis kan telepon saja mekanik dari bengkel langganan, beres kan?"

"ah kau ini bisa saja"

"bagaimana dengan scooternya? Apa Scooternya rusak parah?"

"stang nya dan handdle rem bengkok, dan kaca spion pecah" potong Kuroro, Kurapika kaget, langsung melotot pada Kuroro, "kau ini hantu ya? Datang mengendap-endap seperti itu!"

"Aku pikir kau tak akan pernah kembali?" sindir Kuroro merasa geli dengan tingkah laku Kurapika.

Kurapika mengangkat dagunya, dan berkata, "kalau aku pergi begtu saja, maka aku bersikap pengecut, padahal aku dalam posisi benar. Aku tidak perlu pergi untuk membuktikan padamu kalau aku benar!

Di luar dugaan Kuroro malah tersenyum, lalu tiba-tiba memeluk Kurapika, "maafkan aku, kau benar mengenai Pakunoda" Kurapika terdiam sejenak, baru setelah Kuroro melepaskan pelukannya, dia bisa mencerna semuanya dan ia pun tertawa.

"tertawalah sepuas mu nona" Kuroro tersenyum, dan entah mengapa ia merasakan sesuatu yang menyenangkan di hatinya.

"nah sekarang siapa yang bodoh?"

"kau" jawab kuroro, seraya pergi meninggalkan Kurapika yang masih tertawa.

Kuroro baru selesai rapat dengan para investor di raungan direksi kit, di lokasi proyek, mengenai kemungkinan proyek akan agak molor, karena kurangnya investor. Kuroro sendiri menjanjikan keada mereka, bahwa ia akan segera mendapatkan investor baru. Saat ia keluar ia melihat Kurapika baru keluar dari mobil dengan memakai topi berpinggiran lebar menutupi sebagian wajahnya, namu helai pirang keemasan, itu berantakan tertiup angin di bawah topinya. Kurapika mengunjunginya saat itu, ia diantar Bashou, mengendari range rover hitam milik Kuroro.

"hai!" sapa Kurapika, PAriston menyikut Kuroro, dan berbisik, "calon istrimu mengunjungimu, takut kalau calon suami selingkuh"

"tutup mulutmu!"

"Hai Pariston!" sapa Kurapika pada Pariston dengan nada riang yang tidak dibuat-buat.

"hai, bagaimana kabarmu?"

"lebih dari sekedar baik-baik saja"

"baguslah, aku lapar, jadi aku akan meninggalkan kalian untuk mencari makan siang, bye!

"bye!" jawab Kurapika

"ada apa kau kemari? Kau sendirian?" tanya Kuroro setelah Pariston pergi.

"tidak, aku bersama Bashou. Seberanya kau memaska makasakan italy untukmu. Tidak banyak, jadi aku tidak bilang Pariston kalau aku bawa masakan"

"Tidak, terima kasih. Ada McDonald sekitar sini."

"tidak, jangan salah paham, ini enak, Bashou yang mengajariku langsung. Ini adalah percobaan yang berhasil, setelah tiga kali gagal. Bashou sudah mencobanya dan dia bilang enak."

Kuroro mengangkat sebelah alisnya tak percaya, "Aku serius Kuroro, setidaknya cicipi sedikit, oke?"

"apa yang kau masak?"

"abbacchio alla cacciatiore!"

"serius?"

"bashou bilang kau menyukainya! Aku juga bawa tartufo!

"masakan itu sangat sulit, lagipula darimana kau dapat daging sapi muda?"

"aku dan Bashou, berbelanja kemarin sore, dan menemukannya! Bashou bilang, kalau daging anak lembu muda itu lebih enak dan empuk"

"mm oke baikalh"

Mereka kembali ke ruang direksi sementara Kurapika memperhatikan Kuroro yang akan mulai makan. Menunggu dengan tak sabar dan tegang, seperti seorang siswi yang menunggu nilai hasil tugas rumahnya.

"bagaimana?"

"lumayan"

"lumayana kau bilang? Bashou bilang enak!"

Kuroro mengangkat bahu, walau bagaimanapun ia tak akan pernah mengatakan masakan itu enak pada Kurapika, meskipun memang masakan itu benar-benar enak. Kuroro dengan lahap menghabiskannya, dan segera memakan pencuci mulut es krim tartufo yang legit dan gurih, segar.

"sebenarnya, Kalluto sedang berlibur dan dia ingin ke London menyusulku. Mm adikku Neon yang mengantarnya. Mereka akan tiba besok pagi. Ap kau keberatan kalau mereka tinggal di rumah?"

Kuroro berhenti memakan es krimnya, sendoknya masih ada di mulutnya. Lalu ia melepaskan sendoknya mengembalikannya ke wadah es krimnya.

"jadi ini sogokan?"

"bukan begitu. Tapi jika kau keberatan, aku bisa menyewa apartemen, selama beberapa minggu. Aku akan meninggalkan rumah mu. Kali ini bukan lari ya? Jangan salah paham!"

"mm, baiklah. Anggap saja sebagai penebusan kesalahan ku waktu itu"

"benarkah?"

"ya" Kuroro tersenyum

"gracias, muchas gracias!" kata Kurapika spntan, dia bangkit dan menjatuhkan diri ke pangkuan Kuroro dan memeluknya, saat itu Pariston masuk, wajahnya memerah melihat pemandangan itu.

"ah Pariston! Kau membungkus makan siangmu? Duduklah, lagipula kami akan pergi melihat-lihat lokasi"

Kurapika bangkit, dan menarik tangan Kuroro ke luar ruangan.

"aku tidak berniat memperlihatkan lokasi padamu"

"memang, tapi aku sudah terlanjur disini, sayang kalau hanya sebentar dan pulang lagi."

"hmm"

Mereka berjalan-jalan berkeliling, bangunan dan pertenakan yang tadinya ada di lokasi tersebut hanya tinggal puing-puing. Terlihat beberapa kendaraan dump truck, sedang loading muatan dari puing-puing untuk dibuang ke tempat pembuangan. Tempat itu dikelilingi pepohonan yang menyejukan, udaranya segar. Masih ada satu pertenakan lagi di sebelah timur lokasi, tidak luas, tapi tempatnya indah dengan domba-domba seperti gulungan-gulungan menyerupai gumpalan awan yang sedang merumput, dibatasi oleh pagar pembatas. Rasanya Kurapika benar-benar ada di lokasi teletubies. Tempat yang cocok untuk beristirahat, tanpa kebisingan kota seperti Los Angeles, London apalagi New York. Jika Kurapika ingin membeli properti, ia pasti akan memilih lokasi ini. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.

"Kuroro, sepertinya, aku tertarik dengan lokasi ini, bagaimana kalau aku menjadi investor mu?"

"apa? Kau yakin?"

"kenapa tidak?"

"ya tapi..aku tidak ingin kau menyesal nantinya, jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung. Kau harus betul-betul tahu prospek dari usaha yang akan kau investasi"

"Tentu saja, aku akan memberikan proposal mu pad konsultan bisnis ku di Los Angeles"

Lalu mereka kembali ke kota, berkeliling London sejenak. Bashu membawa rang rover nya, sementara Kuroro dan Kurapika mengendarai Porsche nya.

"Kalluto sangat ingin sekali ke London Dungeon. Aku oernag kesana sekali, saat aku mengisi acara Tribute to John Lennon di wembley"

"baiklah nanti kita ke sana bersama Kalluto. Adik mu belum menikah?"

"Neon? Dia cantik, kau mengincarnya? Dia sedang patah hati, ia berpacaran dengan seorang editor diperusahaannya. Tapi bosnya itu malah menikahi wanita lain. Neon, akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai kolumnis, di perusahaan tabloid itu. umurnya dua enam."

"mungkin aku bisa saja mengincarnya, tapi aku tak bisa menawarkan lebih daripada sekedar one night stand."

"brengsek kau!" kurapika menonjok pelan lengan Kuroro, Kuroro hanya nyengir pura-pura kesakitan. Dan mereka pun tertawa.

"pindahlah ke kamar atas nanti"

"sebelah kamarmu? Yang ada pintu penghubung?"

"ya, Neon pasti menginginkan privasi, ia pasti ingin kamar mandi di dalam. Hanya kamarmu, kamarku dan kamar sebelahku yang memiliki kamar mandi di dalam. Lagipula kalau Neon di sebelah kamarku, aku hampir daoat memastikan kalau aku akan melewatkan one night stand bersamanya"

"sialan kau, oke baiklah!

Kuroro mondar-mandir di kamarnya sendiri malam itu. ia ingin sekali membuka pintu penghubung di kamarnya. Tapi apa pendapat Kurapika nanti? Ia tidak yakin Kurapika menginginkan dirinya seperti ia menginginkan wanita itu. ia akhirnya hanya bisa bersanda di pintu itu, mencoba meredam hasratnya pada wanita itu. di sisi lain, Kurapika pun bersandar, mencoba mencoba mendengarkan suara di kamar pria itu, bertanya-tanya apa yang dilakukan pria itu sekarang. Apa ia sudah tidur? Atau sedang membaca buku? Atau sedang saling mengirim pesan dengan seseorang?

Hubungan yang membaik antara mereka akhir-akhir ini, membuat Kurapika merasakan sesuatu yang lain. Tapi ia tak punya cukup nyali untuk itu. setelah bertahun-tahun lalu Kuroro menolaknya mentah-mentah, Kuroro tak mungkin menginginkannya sekarang. Pria itu begitu dingin tak tersentuh. Akhirnya dia menjauh dari pintu itu, dan menuju tempat tidurnya, mencoba untuk memejamkan matanya.

Diam-diam Kuroro membuka pintu itu pada dini hari, wanita itu sudah tertidur dengan nyamannya dan nyenyak di atas sprai satin merah marun. Kuroro menatapnya ia ingin menyentuh kulit yang halus itu, kulit yang terbungku soleh kimono tidur sutra pink, kulit yan seputih susu itu.