Maaf baru update, kelamaan hiatusnya. Modemnya bermasalah jadi ga semangat buat lanjut. Makasih banget buat yang udah ngasih semangat! kayaknya chapter berikutnya bakal lama lagi tapi diusahain cepet :)
Diam-diam Kuroro membuka pintu itu pada dini hari, wanita itu sudah tertidur dengan nyamannya dan nyenyak di atas sprai satin merah marun. Kuroro menatapnya ia ingin menyentuh kulit yang halus itu, kulit yang terbungkus oleh kimono tidur sutra pink, kulit yang seputih susu itu. ia tahu ia tak akan bisa mengendalikan diri lebih lama, jika ia tidak segera pergi dari kamar itu.
Kurapika menjemput Neon dan Kalluto di heathrow, Kuroro seperti biasa sibuk dengan urusanny sendiri dengan menghadiri pesta pernikahan sepupunya di Durham. Durham cukup jauh dari London, ia naik pesawat pagi-pagi sekali, karena ia akan menjadi best man, dan ia tak mungkin melewatkan upacara pernikahan, yang menurut Kuroro adalah upacara penegebirian kebebasan, sepupunya yang terdekat itu.
Neon sangat menyukai rumah Kuroro, bahkan ia mengira, kalau Kurapika memiliki hubungan yang lebih dari sekedar kenalan lama dengan Kuroro. Ia hampir tak percaya, dengan cerita Kurapika, yang menurutnya terlalu seperti fiksi picisan seperti yang ditulis penulis amatiran yang memakai nama pena snowindter. Kalluto sangat aktif, ia berlari kesana-kemari seperti ia tak punya bokong untuk duduk, seolah dia baru saja diganti baterai alkaline, yang katanya tahan lama itu. ia berlarian melihat-lihat seluruh isi rumah, sambil memilih tempat tidurnya sendiri, sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidur di kamar sendirian di lantai empat. Baru setelah Kurapika memandikan anak berambut hitam bermata biru itu, anak itu dapat tidur, sementara Neon sudah lebih dulu ngorok begitu ia ada di tempat tidurnya.
Kuroro yang pulang keesokan malam, mendapati rumahnya yang tadinya sepi menjadi berisik. Kurapika berteriak-teriak, setiap kali bocah berusia lima tahun itu menyentuh sesuatu, sementara neon asyik dengan secangkir coklat panas, serta kue chocochips yang tersedia di toples.
"nah Kurapika, kau mengerti kan kenapa Illumi tak tahan tinggal seminggu bersama bocah kelebihan energi ini tanpa pengasuhnya?"
"oh neon, aku akan menaikan gaji Biscuit untuk ini"
Kuroro tersenyum melihat pemandangan tak biasa itu, aneh, ia sama sekali tak merasa jengkel seperti yang akan ia rasakan jika wanita itu tidak hadir di rumahnya, hadir dalam kehidupannya. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga, sebuah rumah. Kurapika yang merasakan kehadiran seseorang lalu menatapnya, dan ia tersenyum begitu melihat pria berambut hitam itu. neon mengikuti pandangan kakaknya dan mendapati pemandangan seorang pria yang sangat tampan dan berkulit pucat, dan ia baru menegrti kenapa Kurapika tersenyum seperti itu saat melihatnya.
"Kuroro ini adikku Neon, Neon ini Kuroro Lucilfer, nah Kuroro ini putraku Kalluto"
Kurapika menarik Kalluto, agar menyapa Kuroro. Anak itu tersenyum memperlihatkan gigi kecilnya.
"hai aku Neon!" kata gadis yang rambutnya dicat pink itu
"aku Kalluto Zoldyck, ayah ku Illumi Zoldyck. Aku mirip ayahku kecuali mataku yang mirip ibuku rumahmu bagus, kau tahu aku melihat ada bangunan-bangunan kecil dan mainan-mainan, peopohonan di dalam akuarium, bolehkah aku memilikinya mister?"
"Tidak Kalluto, ya ampun itu maket kondominium!" seru ibunya
"ya, tentu saja kau boleh memilikinya, tapi setelah aku selesai dengan itu"
"kau janji?"
"ya" Kuroro tersenyum
"kapan?"
"secepatnya"
"kau pasti capek, kau sudah makan?"
"untungnya aku sudah makan di luar, aku ingin mandi dan istirahat saja"
Kurapika memutar bola matanya lalu berkata dengan sinis, "bukan aku yang masak lho!"
"oh kalau begitu sayang sekali aku melewatkan masakan Bashou yang enak..."
Kurapika mengembangkan hidungnya, lalu ia menarik tangan Kuroro memanggil Bashou agar membawakan kopernya. Sementara Kurapika mengantar Kuroro ke kamarnya.
"Neon, maafkan aku, aku tak bisa menemanimu lebih lama sebagai tuan rumah sekarang, aku lelah sekali" kata Kuroro sebelum ia pergi ke kamarnya.
"oh santai saja, beristirahatlah"
Kuroro mengangguk dan kemudian pergi mengikuti kemana Kurapika menarik tangannya. Neon memperhatikan mereka, dan tersenyum iri. Kalluto kembali bermain dengan miniatur motor Valentino Rossi dan Marc Marquez.
"Bagaimana pestanya?" tanya Kurapika saat ia sampai di kamar Kuroro, dan tak lama kemudian Bashou mengantarkan kopernya, lalu segera pamit.
"good"
"kau menikmatinya?"
"ya, terutama dansanya"
"kau berdansa? Kau bisa dansa?"
"kenapa tidak?"
"kau terlalu kaku, dengan siapa kau berdansa?"
Tanya Kurapika sambil membuka dasi Kuroro. Kuroro memperhatikan wanita itu yang berkutat dengan ikatan dasinya dengan alis berkerut cantik sambil mengigit bibir bawahnya.
"dengan pengantinnya, dengan para bridesmaids"
"mereka cantik?"
"cantik dan muda, tidak ada janda dengan anak satu disana ah!" Kuroro meringis, saat Kurapika dengan sengaja menarik ikatan dasi itu hingga mencekik lehernya.
"oh maafkan aku, aku tidak sengaja" sahut Kurapika dengan wajah tanpa dosa serta tanpa rasa penyesalan sama sekali. Kuroro menyipitkan matanya, lalu dasipun dilepas, Kurapika mulai membuka kancing-kancing kemeja pria itu, menyisakan kaos dalam tipis pria itu, ia melemparka kemeja itu ke sofa. Lalu saat Kurapika akan pergi, Kuroro menahan tangannya, "kau tidak sekalian membukakan celanaku?"
Kurapika menatap Kuroro dengan kesal, hidungnya mengembang, "kau bisa melakukannya sendiri, kecuali jika aku sudah mematahkan tanganmu" Kurapika pun pergi dengan kesal, ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bersikap konyol seperti itu. kuroro tersenyum hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.
Kuroro, Kurapika, Neon dan Kalluto berjalan-jalan ke London Dungeon esoknya. Kuroro sengaja menjaga jarak dari mereka, agar tidak menarik perhatian publik, apalgi diam-diam ia merasa dibuntuti. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal saja di cafe, dan mngirim sms pada Kurapika memberitahunya.
Mereka makan malam di sebuah restoran Kuroro setelah puas bermain di London Dungeon. Esoknya Kurapika membawa Neon dan Kalluto ke Harrods, berbelanja dan mampir ke Buckingham Palace. Kuroro mulai sibuk lagi menulis lagu lagi untuk Shalnark yang memintanya menuliskannya sebuah lagu untuk proyek albumnya berikutnya hari itu. baru keesokan harinya Kuroro mengajak mereka semua ke rumah Shalnark, Kalluto senang sekali bermain di rumah Shalnark, karena Shalnark memiliki putri seumuran dengannya, Alluka. Mereka bermain bersama hingga bahkan Kalluto hampir tak mau pulang dari rumah Shalnark.
Satu minggu penuh, sejak kedatangan Kalluto dan Neon, Rumah Kuroro benar-benar indah, bukan Cuma karena dekorasinya saja tapi juga enghuni di dalamnya yang selalu di dalam pikiran Kuroro saat ia berada di luar rumah. Ia selalu ingin pulang ke rumah lebih awal, rumah yang sekarang malah lebih sering berantakan daripada rapih seperti biasanya. Walau terkadang membuat Senritsu kewalahan. Berat rasanya jika ia harus pergi agak lama dan jauh seperti sekarang.
"kurapika aku akan ke Irlandia ada rapat di sana. Ratting beberapa acaraku turun. Mungkin aku akan disana sekitar empat hari. Aku juga akan mampir ke rumah orang tuaku."
"oh.. penting rupanya, jadi kau tak bisa menemani kami ke acara CosPlay, padahal Kalluto ingin sekali ke acara itu dengan mu, dengan kostum kartun HunterxHunter."
Kuroro mengangkat bahu, dan tersenyum lemah, pertanda ia pun sebenarnya tak ingin melewatkan acara yang sudah mereka rancang dua hari lalu itu.
Kuroro terbang ke Dublin pagi-pagi sekali dan lansgung menghadiri rapat, tapi ia tak spepnuhnya berkosnetrasi, pikirannya ada di rumahnya, ada pada Kurapka. Sedang apa dia? Kostum apa yang ia pakai bersama Kalluto dan Neon? Pergi dengan siapa saja? Apa acaranya menarik tanpa kehadirannya? Pariston, terpaksa menyikut Kuroro saat salah satu satffnya memberitahukan laporan rattingnya. Kuroro baru sadar dari lamunnnya, Oh Tuhan betapa benar-benar ia ingin pulang.. dan bukankah dia harus fokus jika ingin cepat pulang? Ya ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu agar ia bisa pulang secepatnya.
"well, oke" sahut Kuroro kembali pada dunia nyata, dengan tatapan dingin dan cerdas, ia segera memikirkan solusi yang terbaik untuk stasiun televisinya. Hingga rapatnya akhirnya bisa selesai lebih cepat dari dugaan. Ia segera menuju Sligo yang memakan waktu dua jam dari Dublin, ia tidur sejenak selama perjalana, memulihkan kembali kondisi fisiknya. Sesampainya di Sligo ia bercengkrama dengan keluarganya, tapi tetap saja ia ingin segera pulang ke London. Ia pikir ia akan betah di Sligo, tapi ternyata ia salah, hatinya, pikirannya ada di London, di Rumahnya lebih tepatnya dalam diri Kurapika. Ia pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke London, sementara sisa pekerjaannya ia memasrahkan pada Pariston, dan Kuroro akan memonitor keadaanya dari London melalui Pariston. Kuroro tiba di London larut malam, ia tak bisa menahan diri lagi ia menginginkan Kurapika sekarang, merindukannya. Meskipun tubuhnya terasa remuk dan lelah luar biasa, tapi ia ingin memeluk dan mencium Kurapika.
Kuroro segera masuk ke rumahnya, Bashou membukakan pintunya. Kuroro segera bergegas ke kamarnya, membuka sepatunya, melempar tas dan koper kecilnya, melepaskan jas dan dasinya, lalu membuka pintu penghubung di kamarnya pelan. Kurapika tidur miring, napasnya teratur, pertand ia sudah tertidur dengan lelapnya. Kuroro menelan ludahnya, memberanikan diri, ia naik ke tempat tidrunya, menyentuh bahu wanitu yang tak tertutup kain, karena Kurapika hanya mengenakan Lingerie seksi. Ia mencium bahu mulus wanita itu, sementara tangannya membelai tubuh wanita itu, ciumannya naik ke lehernya yang lembut hingga membuat Kurapika terbangun, ia terkesiap hendak berteriak, tapi Kuroro buru-buru mendiamkannya, "ssttt, ini aku" bisiknya
"kuroro? Bukannya kau di Dublin?"
"aku sudah pulang, urusanku sudah selesai disana"
Kurapika berbalik, "kuroro.."
Kuroro mencium bibir Kurapika perlahan-lahan dengan lembut dengan intenstas semakin semakin meningkat saat Kurapika mendesah, Kuroro memperdalam ciumannya. Tubuh Kurapika memanas, dan payudaranya seketika mengeras Begitu Kuroro meremasnya. Ratusan kupu-kupu seolah turun dari dada ke perutnya yang terasa tergelitik. Kuroro menarik diri, menarik lingerie itu melalu kepala Kurapika, lalu membuka pakaiannya sendiri. Kurapika bangkit bertopang pada sikunya, melihat tubuh Kuroro yang keras dan kasar dan terlihat besar dan dominan dibanding tubuhnya. Kuroro menghampiri Kurapika setelah ia seutuhnya polos lalu membatingkannya lagi dan menciumnya. "kuroro.." desah Kurapika parau saat Kuroro membelai bagian intim tubuhnya yang berdenyut-denyut dan basah.
"i want you dearling" bisik Kuroro sambil menekan bagian sensitif kewanitaannya, membuat Kurapika bergelinjang liar di bawah tubuh Kuroro, ia merintih, dan rintihannya membuat Kuroro hampir gila, ia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Lalu ia kembali mencium bibir Kurapika seraya memasuki tubuh wanita itu. ia bergerak perlahan-lahan dan dalam-dalam, hingga Kurapika terus mendesah liar, merasakan tiap desakan Kuroro yang menggelitik perutnya. Ketika merasakan napas Kurapika mulai pendek-pendek dan tubuh wanita itu mulai memerah, Kuroro bergerak lebih cepat. Gulungan ombak bergumul di perutnya, lutut Kurapika terasa kosong, tempurungnya terasa lolos dari tempatnya, saat gulungan itu membesar dengan intensitas yang luar biasa dan meledak seperti kembang api di malam tahun baru. Kurapika melengkungkan tubuhnya ke belakang saat itu dan menjerit merasakan kenikmatan yang luar biasa yang melanda tubuhnya. Tak lama kemudian Kuroro menyusulnya menyamai puncak ya diraih Kurapika. Kuroro mendesah berat, lalu menatap ke mata Kurapika yang setengah tertutup, mata itu kini berwarna gelap seperti langit tengah malam. Kurapika tersenyum dan memegang kepala pria itu, Kuroro tersenyum puas lalu mencium wanita itu dalam-dalam, sebelum akhirnya pria itu berguling ke samping, menyelimuti tubuh telanjang mereka dan tertidur lelap.
