Hi minna san! Males banget ngetik tapi ide bermunculan di kepala

Ini dia chapter 10! Enjoy!


Kurapika tersenyum-senyum sendiri mengingat gairah Kuroro semalam. Dan ia tahu persis bahwa pria itu menginginkannya, sama seperti ia menginginkan pria itu, bahkan pria itu sangat kelelahan akibat perjalanan dan pekerjaannya hari itu. Kuroro sangat manis dan lembut, lain dengan sikap yang ditujukan pria itu di luar, meskipun mereka hanya bericnta sekali semalam, tapi itu sangat indah dan memuaskan. Kuroro pasti kelelahan, ia bahkan masih tidur ketika Kurapika selesai mandi dan berpakaian.

"seandainya Bedlam* masih eksis di Inggris, ku kirim kau kesana" celoteh Neon, saat melihat Kurapika tidak menyentuh sarapannya sama sekali, matanya entah menerawang ke mana.

"apa? Bedlam? Apa itu Bedlam?"

"Ya ampun!" Neon menepuk kepalanya sendiri, Kurapika memang boleh memiliki suara yang indah, cantik, dan otak bisnis yang tajam, tapi pengetahuan umum kakaknya yang pirang itu benar-benar payah.

" kau sudah tidur dengan siapa? " sambung Neon, merasa tak perlu menjelaskan apapun pada kakaknya itu.

"apa maksudmu Neon? Dan sebaiknya kau tidak mengatakan hal-hal macam itu di depan Kalluto!"

Kurapika melirik Kaluto, yang sama sekali tidak peduli dengan obrolan orang dewasa di sekitarnya, anak itu asyik menyantap sarapannya.

"Aku sudah mengenal dengan amat sangat baik, seringaian tolol itu, tiap kali sudah tidur dengan pacarmu. Dan Kaluto lebih peduli pada rotinya daripada percakapan soal sex"

"Tidak, aku tidak tidur dengan siapapun!" wajah Kurapika memerah, ia buru memotong rotinya dan menyuapkannya besar-besar ke mulutnya, neon mengangkat bahu. Kakaknya itu tak pandai berbohong, "aku pinjam mobil"

"mau kemana kau?"

"jalan-jalan"

"Neon bagaiman kalau kita ke rumah paman Shalnark?" sela Kalluto yang tiba-tiba bersuara, ia pasti sudah jatuh cinta pada Alluka.

"oke, nanti pulangnya kita ke sana, kau ikut Kurapika?"

"sepertinya aku lebih suka di rumah dan tidur"

"oh tentu saja, kau kan kurang tidru semalam" neon menyeringai jahil, membuat wajah Kurapika memanas, jangan-jangan Neon mengintip, pikir Kurapika malu.

"kunci, kunci m mobilnya ada di Bashou, kau kau ambil sasaja" Kata Kurapika terbata-terbata, akibat serangan rasa malu yang dilayangkan oleh neon. Neon cekikikan seraya pergi menemui bashou.

"kau telepon Kuroro, kalau aku meminjam mobilnya!"

"ah, oke!" bagus, bukankah itu berarti Neon memang tidak tahu? Kurapika nyengir.

Kurapika masih tersenyum sendiri di meja makan, sambil bertopang dagu, mengenang semalam, saat Neon dan Kalluto sudah pergi. Tiba-tiba seseorag mencium pipinya dari belakang mengagetkannya tapi sekaligus juga membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, memompakan darah ke wajahnya, yang kini memerah. Halo! Ini bukan kali pertamanya bagi Kurapika kan? Tapi kenapa, rasanya seperti baru pertama kali ia merasa jatuh cinta. Kuroro benar-benar tampan dengan rambut klimis jatuh ke depan, Pria itu tersenyum padanya, terlihat bahwa pria itu baru saja mencukur janggutnya. Ada goresan kecil di dagu pria itu.

"pagi!" sapanya sambil duduk sementara atanya yang sangat kelam, tak pernah beralih dari Kurapika.

"pagi! Bagaimana tidurmu?"

"lelap seperti bayi, kau?"

"tidak terlalu"

"ah maafkan aku"

"maaf? Ku pikir itu menyenangkan." Sahut Kurapika, tiba-tiba merasa waswas.

"maafkan aku, karena sepertinya malam ini atau bahkan setelah sarapan, aku akan membuatmu kelelahan lagi"

Wajah kurapika memerah, lalu menyahut Kuroro, "ah bukannya, aku yang akan membuatmu lelah yah?"

"kau menantang appaloosa* jantan ini?" Kuroro menyeringai lalu mengambil dua potong roti, mengolesnya dengan seai kacang dan dengan cepat menghabiskannya, Kurapika tertawa renyah.

"kau lebih mirip kuda arab daripada appaloosa"

"oh benarkah?"

"mm, by the way, Neon pergi jalan-jalan dengan Kalluto, ia meminjam mobilmu. Kau tidak keberatan?

"aku akan gila kalau dia meminjam scooter"

"oh ya ampun, dimana scooter itu aku belum melihatnya lagi?"

"aku langsung menjualnya begitu selesai diperbaiki. Kau pasti akan mengendarainya lagi, sambil menggoda anak-anak abg di jalanan."

Kurapika tertawa sendiri mengingat kejadian yang amat sangat memalukan itu.

"kau tahu Kurapika, aka lebih menyenankan kalau kau mengendaraiku daripada scooter itu bukan?"

"dasar omes! Aw!" kurapia berteriak, kaget saat tiba-tiba dengan cepat Kuroro menarik kursi yang diduduki Kurapika, dan menggendongnya, kurapika tertawa. Mereka menuju ruang keluarga, Kuroro membaringkannya di kursi, dan mencumbu Kurapika di sana.

"Bashou dan Senritsu bisa melihat kita" kata Kurapika di tengah – tengah ciuman mereka yang penuh nafsu.

"bashou sudah melihatku menggendongmu ke sini, ia tak akan berani ke sini"

"benarkah?" mata Kurapika membulat lebar, wajahnya memerah, Kuroro nyengir lalu mencium Kurapika lagi, sambil menyingkap rok wanita itu dan menarik celana dalamnya. Mereka bercinta dengan tergesa-gesa setengah telanjang di sana. Setelah selesai mereka berpindah ke kamar Kuroro dan ercinta lagi, kelakuan mereka sudah sangat mirip pengantin baru, pengantin yang baru mengenal seks. Namun kali ini mereka tidak tergesa-gesa. Giiran Kurapika yang mengeksplorasi Kuroro, hingga membuat pria itu nyaris gila karena gairah. Setelah itu mereka tertidur dan bangun saat makan siang.

"aku akan shooting iklan parfum terbaruku besok"

"besok? Bukankah kau sedang berlibur ke sini?"

"ya, itu sudah direncanakan sebelumnya bahwa aku akan shooting di London, mengingat customer ku kebanyakan adalah orang-orang inggris. Tak terasa dua minggu aku tinggal di sini. Kuroro ku tahu, sepertinya aku sedang dalam mood membuat lagu"

"bagaimana kalau kita jalan-jalan ke suatu tempat, agar kau bisa lebih fokus menulis lagu"

"mm ide yang bagus!"

Kurapika bersandar di bahu Kuroro, Kuroro membelai rambutnya yang halus, sementara tangannya yang lain memindahkan channel televisi, dan kakinya terjulur di atas meja. Senritsu tiba di lantai lima itu, membawakan kacang almond dan susu coklat untuk Kurapika, serta segelas kopi dan keripik kentang. Wajahnya yang bulat bersemu merah, ketika mendapati keduanya sedang berciuman.

"ah Senritsu, apa Neon sudah pulang?"

"belum"

"biarkan saja Neon mungkin dia sedang kencan pika"

"dengan Kalluto? No way!"

Dan neon sama sekali belum pulang saat makan malam. Ponselnya sama sekali tidak aktif. Kurapika benar-benar cemas, bukan pada Neon, gadis itu sudah bisa menjaga diri tapi ia khawatir dengan Kaluto, apa Neon sudah memberinya makan, apa ia memandikan anak itu, apa dia sudah tidru sian? Tiba-tiba ia teringat dengan Shalnark, Neon bilang akan mampir ke rumah Shanark. Ia meminta Kuroro menelepon Shalnark, dan benar saja Kalluto ada di sana, tapi Neon, gadis itu melah keluyuran, menitipkan Kalluto sejak siang di rumah shalnark. Ia malah pergi dijemput seorang pria, yang bahkan tidak mau turun dari taxi saat menjemput Neon, kata Shalnark. Kurapika dan Kuroro pun akhirnya menjemput Kalluto di sana, dan mampir di sebuah restaurant elite di Soho untuk makan malam.

"dia pasti bertemu dengan teman chattingnya sebulan terakhir ini. Pria eropa dari Irlandia yang katanya mirip Chris evans, yang tampan. Ia tergila-gia pada pria itu! tapi seharusnya dia memberi kabar bukan? Bisa saja pria itu penipu!" celoteh Kurapika

"dia orang Irlandia kan, ini inggris"

"kau juga orang irlandia yang tinggal di inggris kan?" Kuroro mengangkat bahu dan memakan steaknya.

"itu aunty Neon!" seru Kalluto yang belepotan saus pasta.

Kurapika dan Kuroro menoleh ke arah telunjuk kecil Kalluto, ya itu dia Neon, degan pria yang well sekilas mirip Chris Evans, kecuali rambut pria itu yang dicat silver. Kuroro mendengus, lalu berdiri menghampiri mereka yang baru datang. Neon nampak kaget, lalu tertawa dan mereka bergabung di meja yang sama.

"neon, seharusnya kau memulangkan dulu Kalluto kalau kau mau pergi kencan! Dan aktifkan ponselmu itu! apalagi kau pergi dengan pria asing yang tak jelas ini!" Kurapika melotot pada pria Chris evans itu, yang omong-omong setelah diperhatikan wajahnya agak familiar. Neon nyengir lalu berkata, "dia bukan orang asing, dia Killua teman chattingku, yang ternyata adalah adiknya Kuroro"

"apa?" Kurapika menatap Kuroro yang terlihat dingin-dingin saja sedang menyantap makan malamnya. Killua tersenyum, "hallo, aku Killua Lucilfer" ia mengulurkan tangan pada Kurapika, Kurapika menyambut uuran tangan itu dengan agak canggung.

"brengsek kau Killua, bukankah kau seharusnya bekerja?"

"tidak bilehkah aku bolos bos? Pacarku sudah jauh-jauh datang dari LA ke London. Dublin ke london tidak sebegitu jauhnya. Lagipula semua urusan sudah beres bukan? Sejak kau kemarin datang ke Dublin, dan dengan jeniusnya kau memberi ide untuk program acara baru, menambah variasi unik di acara ama, dan memangkas anggran tak perlu, bahkan tanpa memecat seorang pun, hanya dalam waktu sehari. Kau buru-buru pulang ke London, padahal kau bilang akan tinggal selama beberapa hari!"

"urusanku sudah beres waktu itu"

"iya benar, kau bekerja dengan sangat cepat dan efektif, karena kau ingin segera pulang ke 'rumahmu' yang indah dan cantik itu" Kata Killua, memberi penekanan pada kata rumah, sambil melirik Kurapika, wajah Kurapika terasa terbakar karena malu, tapi juga jauh di dalam hatinya ia menjerit kegirangan.

"apakah itu masalah buat mu Killua?"

"ya, tentu, karena aku sebentar lagi akan kalah taruhan dari gon"

"taruhan apa?" tanya Neon dan Kurapika

"aku bertaruh dengan Gon yang romantis itu, kalau kakak kami yang tercinta yang anti komitmen, tak akan pernah menikah. Sedang Gon dengan naifnya berkata bahwa Kuroro akan bertekuk lutu pada seorang wanita cantik, seperti ayah kami dulu yang pernah bersumpah tak akan pernah menikah, tapi sumpahnya hanya tinggal asap yang melayang pergi dengan sia-sia, ketika ia bertemu ibu kami yang cantik"

Killua dan Neon tertawa, Kurapika diam-diam tersenyum dalam hati sambil mengamini taruhan gon, dan ia bertanya dalam hati, apa ia sudah berpikiran terlalu jauh?

"jadi mom akan menikahi Kuroro?"

"ah itu.." Kurapika melirik pada Kuroro yang menerutkan alisnya, matanya tajam tak terbaca, hatinya tiba-tiba remuk dan sesak. "tidak ada apa-apa antara aku dan Kurapika"

"ya Kuroro benar" Kurapika berkata dengan bibir gemetar. Menahan gulungan yang menggumpal di tenggorokannya.

Kurapika diam seribu bahasa setelah percakapan itu. Kuroro mengerti, tapi iapun sebenarnya tak ingin melukai hati wanita itu. tapi ia tak bisa menawarkan yang lebih pada wanita itu. begitu pulang ia langsung pergi ke kamarnya, ia membiarkan Killua dan Neon menemani Kalluto, begitu juga Kuroro yang langsung masuk ke kamarnya, tapi hanya untuk memasuki kamar Kurapika lewat pintu penghubung. Kurapika sedang membuka pakaiannya saat Kuroro masuk.

"tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?!" bentak Kurapika marah, marah untuk alasan yang lain sebenarnya.

"ini rumahku"

"ini kamarku!" Kurapika makin meledak, wajahnya memerah, lalu ia menyambar jubah mandinya untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut bra dan celana dalam, kemudian beranjak ke kamar mandi. Kuroro mengejarnya, dan menggendongnya lalu membaringkannya di tempat tidur.

"aku menginginkanmu Kurapika, tidak kah itu cukup bagimu?"

Kurapika mengigit bibirnya, tangisnya hampir pecah, tapi Kuroro menciumnya kuat-kuat agar Kurapika mengerti, perlahan api di perut Kurapika memercik dan mulai menyala saat Kuroro mulai membelai tubuh Kurapika dan menciuminya. Itu benar, Kuroro meninginginkannya, bahkan dia sudah jujur dari awal bahwa ia alergi komitmen. Tapi kenyataan bahwa pria itu menginginkannya sama besar seperti ia menginginkan pria itu, membuatnya mulai merenda harapan baru. Setidaknya ini awal, ini adalah modal yang cukup untuk mendapatkan cinta Kuroro, membuat Kuroro lebih dari sekedar menginginkan tubuhnya. Kurapika bersumpah pada dirinya sendiri, bahwwa ia akan mendapatkan cinta dari pria yang kini sudah lelap, terbaring di sampingnya sambil memeluknya setelah pri itu menunjukkan betapa ia menginginkan Kurapika.


Footnote:

Bedlam : Rumah Sakit Jiwa yang sangat terkenal di Inggris pada abad ke 17

Appaloosa : Sejenis Kuda perang yang besar, Kuda ini merupakan jenis kuda kebanggaan suku indian.