Akhirnya chapter sebelas, so far not so good, gomenasai :'( i'm not in a good mood recently


Kuroro memperhatikan Kurapika, bagaimana cara wanita itu tersenyum, bergerak, memandang sinis orang lain. Begitu menggairahkan setiap pria, dan membuat para wanita lain dongkol, apalagi dengn arogansinya. Kurapika di luar berbeda dengan Kurapika yang sebenarnya, wanita itu itu naif, selalu memandang positif segala hal. Dia memang seorang diva, dan diva itu milikinya, ya miliknya seorang. Kuroro tersenyum, saat Kurapika menghampiri Kuroro.

"selesai! Nah kuroro, bukankah kau menjanjikan aku untuk liburan?"

"selesai? Cepat sekali"

"aku ingin buru-buru pulang, dan merencanakan liburan setelah ini"

"tidak ganti baju?"

"malas biar saja, lagipula ini properti dari line clothingku sendiri. Aku ingin pergi ke tempat yang menyenangkan"

Kuroro melirik arloji yang menunjukan pukul satu siang, shooting iklan nya hanya memakan waktu setengah hari. Lalu ia menelepon agen penyewaan pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke suatu tempat di Inggris ini, Penrith. Kuroro menyukai Penrith, menyukai keindahan alamnya, air terjunnya yang menyegarkan. Sayanganya Neon dan Kalluto sudah pulang pagi-pagi sekali ke amerika. Tapi bukankah ini lebih menyenangkan liburan berdua saja?

Mereka segera pulang untuk berkemas, lalu menuju bandara. Butuh waktu satu jam perjalanan dengan pesawat kecil itu ke Penrith. Kurapika sudah benar-benar tak sabar ingin segera melewati satu jam itu. tapi ternyata satu jam bukanlah waktu yang lama jika Kuroro di sampingnya, dia begitu informatif, menceritakan segala hal yang perlu diketahui tetntang tempat yang akan mereka kunjungi, hingga membuat Kurapika tak bosan. Meskipun pada kenyataannya, ia tak mampu menyerap semua informasi itu, ia hanya menatap wajah tampan Kuroro dan sesekali tersenyum menerawang, membuat wajah Kuroro memerah malu, saat ia sadar diperhatikan seperti itu oleh Kurapika. Sesampainya disana, Kuroro menyewa sebuah cottage mewah langganannya, cottage itu berada di sebuah hutan berantara, yang membuat privasi mereka terjaga. Mereka beristirahat sejenak, sebelum memesan makan malam yang diakhiri dengan shampagne.

Keesokan paginya mereka jalan-jalan, menelusuri kawasan hutan lindung, sambil bergandengan tangan sesekali berbagi ciuman sambil menyusuri sungai ke arah asal sunga i itu mengalir. Mereka mendapatkan kebebasan yang mereka dambakan seperti pasangan yang lain. Sungai itu berawal dari sebuah air terjun,air force water fall. Mereka menghabiskan waktu beberapa lama di air terjun itu, merendam kaki mereka, sambil duduk di bebatuan besar sementara, percikkan air membasahai pakaian mereka. Terdapat beberapa orang di sana, berpasang-pasangan, namun mereka tampak sibuk dengan pasangan masing-masing, tidak mempedulikan mereka. Ada yang berfoto-foto, ada yang bermesraan, ada pula yang hanya sekedar mengobrol.

Setelah puas berjalan-jalan mereka kembali ke cottage mereka, mengahabiskan waktu di sana, sambil menikmati pemandangan indah di sekitarnya. Menikmati suara kicauan burung-burung serta binatang-binatang lain yang entah bersembunyi dimana. Malamnya mereka melakukan percintaan yang lebih memabukkan dari vodka, hingga mereka terkapar kelehan namun dengan kepuasan yang luar biasa, seperti pasangan yang menghabiskan bulan madu bersama.

Di tengah malam, Kurapika terbangun, menuliskan melodi-melodi yang seolah bermain di kepalanya dengan jelas, satu jam ia menulis, membuat matanya mulai berat, tapi ia terlalu bersemangat untuk menulis. Tiba-tiba Kuroro terbangun, dan mencium pipi lembut Kurapika dari arah belakang.

"apa yang kau lakukan?"

"menulis lagu"

"menulis tanpa instrumen?"

"i have my own instrument, here" Kurapika menunjuk kepala kuningnya yang cantik itu, Kuroro mengernyitkan alisnya, lalu ia tersenyum bangga akan kejeniusan Kurapika dalam hal musik..

"tapi ini sudah larut" Kuroro menciumi Kurapika lagi, kali ini mencium lehernya dan turun ke ke bahunya, Kurapika memiringkan kepalanya membuat Kuroro lebih leluasa, ia tersenyum lalu berkat pada pria yang diam-diam dicintainya itu, "aku sedang sangat bersemangat"

"mmm.." gumam Kuroro lalu ia duduk di samping Kurapika, pipi Kurapika memerah baru menyadari keadaan pria itu yang polos, tanpa sehelai benang pun.

"you're naked!"

"masalah?" Kuroro menyeringai, lalu dengan tiba-tiba ia mengigit lembut cuping telinga Kurapika membuat Kurapika merinding, hingga konsentrasi Kurapika buyar, ia melempar notes dan pulpennya, membuka kimono tidurnya, berbalik ke arah [ria itu, mendorongnya hingga pria itu bersandar di sofa. Kurapika naik ke sofa, berlutut diantara kakai keras berotot pria itu, mencium Kuroro, menggoda pria dengan menyentuh seluruh tubuh Kuroro dengan mulut dan tangannya, mirip seperti seorang pelacur yang menggoda seorang pendeta. Kuroro mulai gila dan kehilanga kendali, membuat Kurapika tersenyum puas, Kuroro menarik kepala Kurapika dan mencium bibir wanita itu dalam-dalam, Kurapikapun menyatukan tubuh mereka, dan bergerak naik-turun di pangkuan Kuroro, Kuroro memegang bokong wanita itu dan iktu bergerak sesuai irama wanita itu. sesekali Kurapika menggiyangkan pinggulnya, membuat Kuroro semakin gila, hingga tak sadar pria itu mendesah dan menggertakkan giginya. Dan Kuroro tak bisa hanya dikuasai Kurapika, ia ingin menguasai wanita itu, iapun bangkit menggendong Kurapika yang melingkarkan kakinya ke pinggul Kuroro, membuat tubuh mereka tetap menyatu, lalu Kuroro menghempaskannya ke tengah tempat tidur besar mereka, dan kini ialah yang menjadi raja. Menguasai wanita itu seutuhnya, melakukan apapun yang ia inginkan terhadapnya, menyelaminya dalam-dalam, membuat Kurapika terengah dalam kepuasan. Kuroro menyukainya, menyukai wanita itu saat wanita itu mencapai puncaknya, menyukai bagaimana saat tubuh wanita itu berdenyut hebat memijat tubuhnya yang keras, membuat Kuroro tak kuasa lagi menahan gejolak yang kian membesar di perutnya. Ia mengerang berat, saat ia merasakan lututnya tersedot keluar, karena pelepasan yang hebat, pelepasan yang jauh di dalam tubuh Kurapika. Kuroro menatap Kurapika yang menatap Kuroro dengan matanya yang segelap langit malam, kurapika tersenyum, dan Kuroro mencium senyuman itu tanpa repot melepaskan diri dari cengkraman tubuh wanita itu. lalu setelah lama saling berciuman, Kuroro berguling ke samping Kurapika, memeluknya dan tertidur,

"aku mencintaimu Kuroro Lucilfer"

Bisik Kurapika, dalam pelukan Kuroro yang sudah lebih dulu tertidur, dan iapun akhirnya ikut tertidur.

Minggu yang tersisa banyak mereka lewatkan bersama di malam hari. Kuroro tak pernah lagi tidur di kamarnya. Tiap malam saat ia pulang, ia selalu masuk ke pintu penghubung, meskipun mereka tidak selalu bercinta, Kuroro hanya tak ingin lagi tidur sendirian, hanya ditemani oleh guling dan bantal yang dingin di tempat tidur yang besar, yang sama dinginnya. Kurapika sendiri, lebih banyak menghabiskan waktu di siang hari menulis lagu. Lagu tentang cinta yang saat ini tengah ia rasakan. Hingga hebatnya ia bisa menciptakan dua buah lagu dalam seminggu, yang tak pernah ia bisa lakukan sendirian. Ia sudah berencana membuat album baru, dan ia yakin kali ini albumnya akan sukses.

Hari berganti hari, tak terasa Kurapika harus pulang ke Amerika. Tapi rasanya berat sekali untuk kembali ke rutinitasnya, bila Kuroro memintanya untuk tinggal lebih lama, ia akan tinggal, bahkan ia akan menetap bersama Kuroro. Ia mencintai pria itu dengan segenap jiwa dan raganya, ia berharap dalam hati pria itu pun merasakan hal yang sama, meskipun tak pernah menyatakannya.

"tidakkah kau tinggal lebih lama?" Shalnark lah yang bertanya, saat Kuroro ikut berkumpul dengan teman-teman hunter band yang lain di sebuah pesta kecil, kebetulan Hisoka yang sudah berkarir dan pindah ke Australia, berlibur ke London.

"sorry Shalnark, Kurapika pasti menungguku pulang, aku tak bisa lama-lama"

"oh boy, hati-hati kau jatuh cinta padanya!" seloroh Hisoka, rekan yang paling tidak disukai Kuroro tapi anehnya hisoka juga yang paling mengerti dirinya.

"cinta yang benar saja, dia akan pergi empat hari lagi. Aku hanya menghabiskan waktu yang tersisa bersamanya."

"aku pikir, kau akan ketergantungan padanya, aku jamin saat ia pergi kau pasti ingin menyusulnya" timpal Shalnark.

"omong kosong, kami hanya bersenang-senang"

"tapi di mataku, kau tidak hanya bersenang-senang Kuroro, kau terlihat hidup Kuroro, sejak kehadirannya" tambah Shalnark lagi.

"persetan apa katamu, aku tidak mencintainya, cinta hanya akan membuat lemah seorang pria"

Shalnark, Hisoka, Feitan dan phinks tersenyum geli melihat tingkah temannya yang sinis itu.

Tapi perkataan Hisoka, terus terngiang di kepalanya, apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Kurapika? Tidak mungkin , Kuroro merasa frustasi pada dirinya sendiri, ia tak pernah merasakannya, tak akan pernah..pikirnya kalut, membuatnya hanya berputar-putar di jalanan kota london yang basah di malam hari akibat gerimis yang sejak tadi siang turun. Ia baru pulang tengah malam, dan tidur menjelang pagi di ruang kerja, itu pun dengan bantuan satu botol vodka. Kuroro tak ingin mencnitai seseorang, tidak ingin, bagaimana feitan patah hati saat dulu, Menchi berselingkuh di depan matanya sendiri tapi dengan bodohnya, Feitan memaafkannya. Dan saat teman masa kecilnya, Uvogin bunuh diri saat kekasihnya ternyata hanya menipunya saja. Dan hisoka, pria itu jatuh cinta berulang kali dan patah hati berulang kali, tapi ia tak pernah berhenti untuk mencoba lagi., dan cukup beruntung karena ia mendapatkan Machi bersamanya. Dan Phinks, pria itu seperti kerbau dicocok hidungnya, melakukan apapun yang diinginkan istrinya, itu sangat mengerikan bukan? Itulah mengapa ia membangun dinding di sekililing hatinya, ia tak mau menjadi pria lemah seperti Uvogin, ia tak mau jadi pria yang kehilangan dominasinya seperti Phinks, dan tak ingin kehilangan logika tiap kali ia jatuh cinta seperti Hisoka. Ia terlahir sebagai seorang pria yang mandiri dan punya kuasa atas dirinya sendiri, dan bahkan pada kebanyakn orang lain. Ia tak mau membatasi kebebasannya, dan kekuasaannya. Ia harus menjaga jarak dari Kurapika, sebelum ia benar-benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, meskipun hal itu sangatlah sulit untuk dilakukan.

Kuroro tidak tidur di sampingnya semalam, Kurapika pikir, Kuroro akan pulang, karena pria itu pasti akan menelepon jika ia tidak pulang, tapi sekarang pun Kurapika belum melihatnya. Iapun akhirnya pergi ke launching pafum barunya sendirian. Padahal tadinya ia berencana akan merayu Kuroro, setelah pulang dari launching, menginap di hotel dengan suasana yang romantis, agar pria itu memintanya untuk mengikat dirinya denga pria itu, setidaknya membuat pria itu memintanya, untuk tinggal lebih lama di London.

" kemana saja kau? Kau tidak pulang semalaman!" seru Kurapika, saat tiba-tiba Kuroro muncul di kamarnya malamnya. Tapi tiba-tiba perasaan Kurapika tidak enak, saat melihat raut dingin Kuroro, raut Kuroro pada saat pertama kali ia melihatnya setelah bertahun-tahun berlalu. Sebuah firasat buruk muncul, bahwa ini akan berakhir, affair yang mereka jalin selama sebulan terakhir ini, akan berkahir dalam hitungan menit bahkan detik. Belum-belum dada Kurapika sudah terasa sesak.

"Kurapika, kita perlu berdiskusi, mengenai batasan-batasan antar kita yang sebenarnya telah kita lewati. Kau akan pulang walau bagaimanapun juga"

"oh tentu" bibir Kurapika bergetar, dan ia menggitnya untuk menghentikan getaran itu. ia berbalik dan duduk di depan meja rias, mengintip ekspresi Kuroro diam-diam melalu cermin, karena ia tak ingin melihat Kuroro langsung, kecuali kalau ia ingin perasaanya yang sebenarnya terhadap pria itu terbongkar. Ia pura-pura menyibukkan diri dengan menyisir rambutnya yang sudah teka perlu disisir sebenarnya. Sementara ia benar-benar tegang di dalam dirinya.

"aku tak ingin kau berharap, kalau aku menginginkan lebih dari sekedar affair, ku rasa aku sudah menjelaskan dari awal bahwa aku bukanlah tipe pria yang suka berkomitmen."

"aku mengerti akan hal itu. tentu saja apa yang kita alami sangat menyenangkan. Bahkan aku mungkin saja bisa jatuh cinta padamu" Kurapika memaksakan senyumnya dengan melakukan yang terbaik yang ia bisa, sementara hatinya tercabik-cabik.

"itulah yang aku takutkan, aku tidak ingin menyakitimu, karena aku tak mungkin membalas perasaanmu" kata Kuroro yang entahlah ia merasa jauh dari perasaan lega, saat wanita mengakui, kalau ia tak mencintainya.

Kurapika bangkit dari duduknya. Mendongak menatap pria jangkung itu sambil tersenyum, sementara keadaan yang sebenarnya adalah Kuroro telah benar-benar menyakiti hatinya.

"aku tahu itu, waktu yang kita lewati begitu menyenangkan, aku tak akan menyesalinya. Tapi aku pun tak akan mengungkitnya di masa mendatang, aku di jalan ku dan kau di jalan mu. Baik kau maupun aku tidak terikat dan bebas menentukan pilihan pasangan masing-masing. Dan lagi, kalaupun aku ingin menikah, tak pernah terpikir olehku untuk menikahimu, aku akan mencari pria lain untuk menikahiku, menjagaku, melindungiku, aku"

"jangan!" potong Kuroro tiba-tiba, Kuroro sendiri terkejut dengan ucapanya sendiri.

"jangan?"

"aku, ah well, maksudku jangan ragu-ragu melakukannya" Kuroro mengalihkan pandangan, tak sanggup rasanya membayangkan Kurapika bersama pria lain, yang akan menikahinya, menjaganya dan melindunginya seperti yang dikatakan Kurapika.

"ku rasa pembicaraannya sudah selesai, aku mengantuk."

"kurapika" Kuroro menarik Kurapika, memegang pipinya yang terasa lembut tapi juga panas di telapak tangannya dan hendak menciumnya, Kurapika melangkah mundur.

"seperti katamu, perlu ada batasan, jika kita tetap melakukan aktivitas seperti malam-malam sebelumnya, aku pikir akan menyulitkan perasaan kita"

"kau benar...mmm selamat malam Kurapika"

Kuroro masuk ke kamarnya, menghempaskan diri di tempat tidur, menutup matanya dengan sebelah tangannya. Tidak ada perasaan lega di dadanya melainkan rasa sesak. Terasa sangat salah, sangat salah. Tapi sisi lain dirinya, terus menerus meyakinkan diri sendiri, bahwa ini adalah yang terbaik, dan sudah diputuskan.

Air mata Kurapika langsung membanjir, begitu Kuroro masuk ke kamarnya. Ia menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur, menangis di atas bantalnya. Semuanya sudah berakhir, ia sudah kalah. Pria itu bahkan begitu dingin, lebih dingin dari sebongkah es, begitu kejam tak berperasaan. Ia memang bodoh, tolol, dan idiot, mengharapkan matahari akan bersinar di malam hari.