GOMENASAI minna-san, maaf banget buat followers yang pasti nungguin kelanjutan ficnya yang lama banget. Author nya lagi banyak masalah nih akhir-akhir ini... :'( tapi aku berusaha buat selesaikan ficnya. Makasih buat review dan yang udah kasih semangatnya yah.. biasa typo everywhere
Hubungan mereka jadi dingin, seolah tidak pernah saling mengenal, tidak pernah saling menyentuh. Tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka saat sarapan di pagi hari. Seolah kosakata terhapus begitu saja dari memori mereka. Padahal banyak hal yang ingin mereka ungkapkan, banyak hal yang harus dikatakan, tapi ego pada diri mereka menahan mereka untuk mengatakan hal apapun, kecuali arogansi yang membentengi jiwa mereka yang rapuh, seperti gubuk tua di atas danau, yangkapan saja bisa tenggelam atau bahkan tertiup angin. Mereka seperti dua orang penguasa idiot yang tidak mau mengakui perasaan mereka, tidak mau mengakui kelemahan mereka, tidak mau saling mengenal, padahal jauh di dalam diri mereka mereka saling mencari kebenaran dari sebuah kebahagiaan, yang mereka sendiri tahu, bahwa mereka akan bahagia jika mereka bersama.
Dua hari terakhir tanpa sepatah katapun dari mereka, Kurapika lebih sering berdiam diri di kamarnya, membereskan barang-barangnya, meski sudah tidak ada lagi yang perlu dibereskan kecuali hatinya sendiri. Kuroro memilih pulang larut malam, agar ia bisa menghindari bertatapan dengan Kurapika. Meski di sisa malam terakhir, ia hampir kehilangan kendali, dengan membuka pintu penghubung kamar mereka, tapi untunglah Kurapika sudah tertidur, setidaknya itulah yang dilihat Kuroro. Padahal di sisi lain Kurapika sedang menangis, memungguni pintu penghubung itu, di bawah selimutnya yang menutupi seluruh tubuhnya yang sangat terasa dingin sekali malam itu, hanya wajhnya saja yang terasa panas karena air mata. Kuroro kembali ke kamarnya, bahkan tanpa sempat menyadai apa yang telah dilakukannya hampir membuat seluruh rencananya, seluruh kehidupannya yang teratur akan menjadi porak poranda. Bahkan Kuroro tidak sanggup mengantar Kurapika pergi ke bandara keesokan paginya.
Seminggu berlalu sejak kepergian Kurapika ke Los Angeles, rumah Kuroro terasa hampa, sunyi dan dingin. Keadaan yang persis seperti sebelum kedatangan Kurapika di rumah itu, Kuroro baru menyadari beginilah cara ia hidup selama ini, benar-benar menyedihkan bukan? Rumah itu seolah kehilangan jiwanya, tiada lagi godaan Neon terhadap Kalluto yang hiperaktif, yang akan menangis keras bahkan bisa sampai meninju waja tantenya itu, tiada lagi seseorang untuk dipeluk di malam hari yan dingin dan panjang anehnya dulu ia sangat membenci kekacauan, keributan dan keluarga, tapi kini ia merindukannya. Terlebih lagi hatinya yang sudah tak berjiwa, tak berpenghuni. Kuroro kehilangan gairah, ia kehilangan minat untuk segera pulang ke rumahnya yang nyaman seperti dulu, karena rumah itu kini serasa seperti gua yang gelap di tengah hutan tropis yang luas.
"kau idiot" itulah ucapan Shalnark yang terngiang di kepalanya, tapi ketakutannya akan sebuah ikatan sangatlah kuat kala itu, dia tak bisa membayangkan jika tiba suatu masa ia akan merasa bosan, saat dimana ia akan menyukai wanita lain, dan saat Kurapika akan terluka karenanya. Ia tak mau mengecewakan Kurapika, ia ingin membahagiakan wanita itu, membuatnya tersenyum bahkan tertawa, hanya saja ia tak yakin apakah dia mampu melakukannya. Kuroro tak ingin dirinya menghancurkan Kurapika, padahal tanpa ia sadari ia telah menghancurkan hati wanita itu bukan? Apakah ini yang namanya cinta? Perasaan selalu ingin berada dekat dengannya, membuatnya bahagia, dan segala hal yang sudah sering ia taungkan dalam lirik lagu yang ia buat? Ia tak pernah membayangkan bahwa ia akan mengalaminya, pada seorang wanita yang suatu kali pernah ia benci.
"Kuroro, dua investor terbesar kita mundur, bagaimana ini?" tanya Pariston cemas saat dia dihubungi oleh akuntan dari salah seorang investornya.
"biarkan saja"
"biarkan? Apa kau sudah gila, kau bisa bangkrut! Kita sudah kehilangan seorang investor dan kini dua lagi mundur, sedangkan proyek pengurugan tanah sudah akan segera dimulai! Kalau seperti ini investor yang lin pun akan ikut mundur"
"siapa saja yang mundur?"
"Mr. Hanzo Hanazawa dan O'bryan"
"kenapa mereka mundur?"
"proyek ini tak punya prospek!"
"kenapa mereka bilang begitu setelah sebelumnya merekalah yang paling bersemangat dengan proyek ini?"
"entahlah, aku juga tidak tahu" Pariston berenggut
"mereka sudah sangat yakin sebelumnya, mereka bukanlah sembarangan bussinessman, mereka tak akan terpengaruh begitu saja oleh oknum-oknum tertentu, kecuali oknum tersebut mengerti sekali tentang bisnis perhotelan, dan kondominium. Oknum yang memang tidak menyukaiku dan ingin menghancurkan bisnisku, membuatku bangkrut, dan ingin membalas dendam padaku"
"Pakunoda Peyton...Kuroro kau mau kemana?"
"menemuinya"
Kuroro pergi dengan amarah yang memuncak, bukan hanya karena bisnisnya, kebetulan sekali ia perlu seseorang untuk dilimpahkan segala amarah, kecewa, dan rasa sakit yang sedang dialaminya.
Pakunoda tersenyum sinis saat menerima kedatangan Kuroro di mansionnya, seolah ia tidak berdosa dan tidak bertanggung jawab atas segala apa yang sedang terjadi. Kuroro benar-benar merasa jijik pada wanita itu, dia benar-benar merasa tolol dulu, bagaimana mungkin ia bisa menganggap ular itu sebagai wanita yang terhormat.
"jadi kau menuduhku Lucilfer?"
"kau tahu pasti apa yang kumaksud"
"dan kau tahu pasti apa yang aku inginkan"
Kuroro menyeringai, lalu berkata dengan nada yang sangat dingin, "sampai ombak tak menyentuh pantai, aku tak akan pernah sudi menjadi budak seks mu"
Kuroro pergi memabnting pintu, membuat Pakunoda kesal dan menggebrak meja dan bersumpah akan menghancurkan proyek itu, tinggal satu investor lagi yang tersisa, dan itu bukanlah perkara yang sulit baginya.
Meskipun masalah bisnis yang menerpanya sangat pelik, karena Kuroro sudah menginvestasikan banyak uangnya dengan membeili lahan tersebut, serta telah mengeluarkan biaya perataan tanah agar tidak molor waktu itu, serta telah membayarkan down payment pada perusahan konstruksi untuk proses penggalian , tapi nukan itu yang ada di kepalanya, anehnya ia merasa hal itu sangat tidak penting, karena apa yang dia pikirkan adalah Kurapika. Dengan siapa dia sekarang, apa dia sudah memiliki kekasih, apakah dia bahagia, apa dia sehat apa dia sakit. Ia bahkan tidak peduli dengan seorang investor yang tersisa. Dadanya terasa perih, tiap kali ia mendengar nama Kurapika disebut, dan napasnya terasa sesak tiap kali ia melihat wanita itu menghiasa layar kaca. Ia merindukan Kurapika, ia ingin memeluknya, menciumnya bercinta dengannya seperti malam-malam yang pernah mereka lewati bersama. Ia benar-benar merasa sangat tersiksa oleh perasaan-perasaan alien itu.
Sampai ketika datang seorang pengacara dan seorang konsultan bisnis pribadi datang menemui Kuroro saat Pariston sedang bersitegang dengan investor terakhir yang hendak hengkang dari proyek itu. bagai hujan di gurun Gobi, mereka membawa kabar baik, bukan hanya untuk bisnis Kuroro tapi juga untuk kehidupan pribadinya. Konsultan itu berdiskusi cukup panjang, sementara dengan tenangnya Kuroro memberikan sedikit presentasi, dan bahkan Mr. Kim Jae Young, investor yang akan hengkang masih ada di sana. Konsultan itu sangat tertarik dan menyukai proposal serta presentasi Kuroro dan bahkan kembai membuat Jae young kembali memikirkan keputusannya yang sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Ms. Peyton. Konsultan dan pengacara itu mewakili Kurapika dan salah satu teman baik Kurapika yang memang seorang pebisnis hotel terkenal untuk berinvestasi dengan nilai yang sangat fantastis. Kenapa Kurapika tidak ikut menemuinya, itulah yang ia pikirkan saat itu. memang ia kecewa, tapi bukankah sekarang ia memiliki alasan untuk menemui Kurapika? Tapi apakah menemuinya adalah keputusan yang tepat? Hanya untuk bisnis, ya hanya bisnis tidak lebih dan kurang, tapi...apa ia punya cukup keberanian menemui Kurapika?
