Hai semua, maaf agak lambat juga, tapi ini adalah chapter terakhir, agak terburu-buru mungkin ceritanya, abisnya authir pengen cepet nyelesein ff ini, soalnya, mau bikin ff baru. seperti biasa typo everywhere, don't like don't read, femfika here. enjoy!


Butuh lebih dari sekedar keberanian, dia harus mengorbankan harga dirinya untuk menemui Kurapika. Dan harga dari sebuah ego yang ia miliki tidaklah seperti pria pada umumnya. Bukan berarti dia tak berhati, ia hanya mengandalkan akal dan pikirannya, namun ternyata itu semua tidak cukup ia merasa ada ayang salah dengan pikirannya, yang selalu memikirkan sesuatu tentang kebebasan. Ia menyukai kebebasannya, tapi ia butuh tempat berlindung, dia butuh tempat dimana ia bisa beristirahat, dengan kedamaian hati, dan ketentraman, dan kebebasan tidak bisa memberikan itu semua, namun semua itu pun tidak memberinya kebebasan. Kebebasan adalah semua hal yang dibicarakan setiap orang dengan bangganya, namun itu hanyalah sebuah kekosongan, seperti ketika seseorang mempunyai sayap dan bisa terbang, namun tiada seorang pun yang bisa menemaninya menikmati dunia dari atas ketinggian, dan tak ada seorang pun di sekelilingnya, hanya dunia luas yang terlihat tanpa batas.

Kuroro sedang berperang dengan pikirannya sendiri, sambil menatap exavator sedang melakukan proyek cut and fill. Sudah tiga bulan sejak kedatangan konsultan bisnis Kurapika, tapi ia sama sekali sulit untuk memutuskan apa dia akan pergi ke Los Angeles atau tidak. Ia hanya menulis email bisnis dan sebuah email pribadi singkat, yang menyatakan rasa terima kasihnya pada Kurapika. Ia bosan, ia jengah dengan kehidupan yang ia milikki sekarang, ia selalu menolak tiap kali rekan kerjanya, mengajaknya melepas lelah dengan bersenang-senang, sekedar minum-minum atau mengunjungi club striptease. Tapi hari ini Kuroro sudah memutuskan untuk menikmatai sedikit kesenangan, dengan menerima ajakan mereka ke sebuah club yang memiliki penari-penari striptease yang cantik dan eksotis. Tapi lucunya, saat ia menikmati Whiskey dan seorang wanita berambut pirang mungil yang berdada besar menggodanya dengan menari di atas pangkuannya, ia melihat seolah wanita itu adalah Kurapika. Tapi ia terburu sadar akan lamunannya saat menyadari wanita itu tidak memiliki mata biru bulat seperti Kurapika, dan hal itu membuatnya kehilangan minat. Ia segera pergi dari sana karena moodnya sudah hancur saat itu juga. Ia pulang ke rumah, lalu menyetel tv, dan ya Kurapika dissana, dengan judul di bawah tayangan itu, "Will she and her ex get back together?" lalu ditampilkan tayangan paparazi yang mengejar-ngejar Illumi dan Kurapika yang tampak keluar dari sebuah department store bersama Kalluto disana. Dan itu cukup membuat emosinya terbakar, secara impulsif, ia menelepon pariston agar segera menyiapkan visa serta tiket pesawat menuju Los Angeles.

Kuroro kembali mempertanyakan, apa yang ia lakukan di Los Angeles sekarang. Dia benar-benar menjadi orang yang tolol, seperti orang yang selalu bertindak impulsif yang sering dia hina dulu, dan sekarang ia justru mengalaminya. Ia bahkan langsung mengirim pesan singkat mengajak Kurapika makan malam di sebuah restoran di Santa Monica, yang tanpa menunggu lama Kurapika membalasnya dengan menerima undangan tersebut. Dengan langkah lesu, ia berjalan sambil menarik kopernya menuju sebuah taxi yang sudah menjemputnya. Namun naas, taxi yang ia tumpangi mengalami kecekalaan kecil, membuat kening Kuroro terluka. Kuroro segera menuju rumah sakit, karena pandangannya mengabur. Disanalah ia bertemu Kurapika, di rumah sakit cedar sinai. Ia baru selesai menjalani pengobatan, dan ketika ia berbelok ke arah lobi, ia melihat Kurapika dari arah belakang bersama Illumi tentu saja, tampak sangat akrab, dan keakraban mereka menusuk dada Kuroro. Seperti ia mengalami sakit jantung ringan, rasanya sesak sekali, apalagi saat ia mendengar percakapan mereka.

"pikirkanlah Kurapika, ini semua demi bayi yang kau kandung, kita harus kembali bersama membentuk keluarga yang baru" kata Illumi, dan hal itu sukses membuat Kuroro membeku di tempatnya, ia merasa gumpalan besar tertahan di tenggorokkannya, membuatnya berhenti berjalan, membiarkan Kurapika dan Illumi menjauh hingga mereka menghilang dari pandangan. Barulah Kuroro bisa kembali berjalan, dengan bahu lunglai seperti prajurit yang pulang dalam kekalahan, seperti singa yang yang kehilangan taringnya. Apa ia sanggup menemui Kurapika nanti malam? Apa ia harus membatalkan undangan makan malamnya? Apa alasannya? Kuroro bukanlah orang bodoh, ia memiliki banyak akal dan cara, tapi kenapa memikirkan alasan untuk membatalkan sebuah undangan makan malam saja ia sulit untuk menemukannya? Ia memukul lututnya sendiri dengan kesal saat ia sudah duduk di jok belakang taxi berwarna kuning tersebut, membuat sopir taxi mengernyit, melihat ke arah kaca spion dalam, dan tatapannya di balas dengan tatapan membunuh dari Kuroro, yang membuat supir itu merinding ketakutan. Tanpa bertanya lebih jauh, walaupun si supir ingin bertanya, supir itu segera berangkat menuju hotel Mondrian, hotel langganan Kuroro.

Kuroro menatap bayangan dirinya di cermin, menatap dengan pikiran yang kosong. Apakah ia harus membatalkannya? Tapi ia ingin menemui Kurapika, tapi ia pun merasa terluka hanya dengan membayangkan wajah wanita itu. ayolah, kau bukanlah seorang pengecut, pikir Kuroro dalam hati. Llu ia memantapkan diri melangkah keluar dari kamar hotelnya menuju restaurant di santa monica, restaurant dimana ia telah mereservasi meja. Tanpa sadar ia sudah terlambat datang ke tempat itu, Kurapika hampir saja pergi dari restaurant itu, saat kuroro sampai. Kuroro sama sekali tak bisa memikirkan alasan keterlambatannya, tapi ketika Kurapika melihat plester di keningnya, ia mengambil kesimpulan kalau kuroro terlambat karena mengalami kecelakaan kecil.

"apa kau baik-baik saja?" tanya Kurapika dengan nada khawatir yang sama sekali tidak dibuat-buat, membuat Kuroro berbesar hati.

"bukan apa-apa, maaf aku terlambat"

"it's ok"

Lalu kuroro memanggil pelayan dan memesan makanan yang tersedia di menu mereka.

"um Kurapika"

"ya?"

"terima kasih, kau mempercayaiku untuk menginvestasikan uangmu, bahkan kau mengajak rekanmu"

"aku tidak mempercayaimu, aku mempercayai, konsultan bisnisku. Tanpa kata persetujuannya, aku tak akan ceroboh menginvestasikan uangku" kata Kurapika dingin, lebih tepatnya berpura-pura dingin.

Dada Kuroro terasa tertusuk oleh bunga es tajam yang tersirat dalam kalimat Kurapika.

"ya, kau benar. Aku senang kau tidak mengaitkanya dengan masalah pribadi di antara kita"

Giliran Kurapika yang merasakan hal yang sama seperti apa yang telah Kuroro rasakan.

Hening menyelimuti mereka berdua, sampai makanan datang. Waktu yang terasa sangat panjang dan canggung, ingin rasanya Kurapika segera di ahdapan pria yang tak berperasaan yang tengah duduk dengan wajah datarnya, yang tengah memperhatikannya. Di sisi lain, Kuroro senang melihat wajah mungil wanita itu yang terlihat tidak nyaman, wajah itu terlihat lebih cantik dan alami dengan make up tipis. Orang bilang wanita hamil, akan terlihat jauh lebih cantik dan bercahaya, dan itu sepertinya berlaku untuk Kurapika. Mengingat wanita itu sedang hamil, membuat hatinya terasa sakit, walau bagaimanapun ia akan segera menikah dengan Illumi lagi.

Suasana semakin terasa tak nayamn, saat Kurapika memperhatikan wajah kuroro yang tiba-tiba seperti mengeluarkan ekspresi kesal, tanpa Kurapika tahu penyebabnya. Tapi untunglah makanan pun tiba, hingga Kurapika dan kuroro dapat mengalihkan perhatianya pada makanan mereka. Tanpa banyak basa-basi mereka pun mulai makan, tapi sayangnya kurapika kurang begitu bernafsu, karena tiba-tiba perutnya terasa mual. Ia berhenti makan, dan meminum orange juice yang ia pesan.

"apa kau baik-baik saja?" tanya Kuroro melihat Kurapika mengernyit

"perutku agak tidak enak"

"kau ingin pesan yang lainnya, untuk meredakan perutmu"

"tak, usah aku baik-baik saja."

"kau yakin?"
"ya"

"baguslah kalau begitu, aku pikir mual itu hanya dirasakan wanita hamil pada waktu pagi hari saja."

Tiba-tiba Kurapika membeku, begitu pun Kuroro, ia telah kelepasan bicara. Tadinya, Kuroro menunggu Kurapika mengakuinya dulu.

"kau tahu? Apa Killua yang bilang?"

"well, ya aku tahu. Dan selamat atas kehamilan mu dan selamat atas rujuknya kau dan Illumi"

Kurapika terperangah, dan terkejut dengan perkataan Kuroro, bagaimana mungkin ia berpikir ia akan rujuk dengan Illumi, yang berarti pria itu meyakini bahwa ia mengandung anak Illumi, sementara tiga bulan yang lalu ia hanya terlibat dengan Kuroro saja, tidak dengan seorangpun termasuk Illumi, bahkan sampai sekarang. Apa Kuroro menganggapnya hanya sebagi pemuas nafsu setiap pria? Well, apa yang sebenarnya dia harapkan dari makan malam ini? Bahwa kuroro akan memintanya kembali tinggal bersamanya, dan ia akan memberitahu pria itu bahwa di hamil dan kuroro mau menikahinya, setidaknya memulai kehidupan keluarga dengannya walau tanpa ikatan pernikahan? Bagaimana mungkin ia mengharapkan sesuatu, yang hampir mustahil dari pria itu. apa yang dia harapkan dari pria tak berperasaan itu? dengan kesal ia bangkit dari duduknya, ia menyiram wajah kuroro dengan orange juice nya, yang sukses membuat Kuroro terkejut, dan sukses membuat orang-orang di restauran itu menoleh ke meja mereka, dan membuat mereka saling berbisik satu sama lain. Tanpa mempedulikan orang-orang, Kurapika pergi dari restaurant itu dengan langkah cepat, meninggalkan Kuroro yang masih terkejut.

"kurapika..." kata Kuroro begitu ia kembali menguasai diri, dan melap wajahnya dengan sapu tangan, lalu segera meninggalkan tempat itu. dan peristiwa itu berhasil membuat judul headline di sejumlah koran harian Los Angeles keesokan harinya.

Apa yang sebenarnya terjadi pikir Kuroro, kenapa Kurapika marah seperti itu, apa ia telah salah bicara. Dan kenapa ia seolah menutup-nutupi kehamilannya, darinya yang bahkan sepertinya Killua tahu sesuatu. Sialan, ada apa ini?! Kuroro benar-benar tak bisa berpikir, tapi tunggu, jika Killua tahu, dan Killua tidak memberitahunya, itu berarti Kurapika tidak ingin Kurprp tahu bahwa ia sedang mengandung, kenapa? Tentu saja karena kemungkinan anak yang ia kandung adalah anak Kuroro, Illumi bilang sudah tiga bulan, dan tiga bulan lalu Kurapika tinggal bersamanya! Oh Tuhan kenapa ia bisa begitu bodoh, tentu saja Kurapika tak akan memberitahunya, karena Kuroro telah memberitahunya, kalau ia sama sekali tak tertarik dalam sebuah hubungan, apalagi keluarga. Tapi kenapa ia tidak menggugurkannya saja dari awal? Kecuali dia menginginkan anak itu, anak dari kuroro yang ia anggap dingin dan tak berperasaan. Brengsek, brengsek, brengsek! Kuroro memaki dirinya sendiri, lalu ia menelepon Killua saat itu juga.

"Kenapa kau tak memberitahu ku brengsek?"

"Kurapika yang memintaku"

"tapi anak yang ia kandung itu anakku, kau seharusnya memberitahuku"

"tapi kau sama sekali tak tertarik untuk berkeluarga bukan, jadi tak akan membuat perbedaan jika kau tahu itu atau tidak. Itu adalah anak Kurapika."

"tapi itu juga anakku, brengsek"

"kau tidak bisa mendapatkannya, kau telah membuang Kurapika"

"aku tidak membuangnya, ini keputusan kami bersama"

"kau yang memaksakan keputusanmu sendiri, kau itu manipulatif. Pernahkah sekali saja kau mendengarkan keinginan Kurapika?"

Kuroro terdiam, karena apa uang dikatakan Killua tepat sekali. Kuroro pun menutup teleponnya, dan pergi ke rumah Kurapika malam itu juga. Kuroro bahkan tidak gentar dengan securiti yang menolak membukakan pintu untuknya. Kuroro mencoba menghubungi Kurapika, tapi Kurapika mematikan handphonenya. Kuroro tidak menyerah, ia menunggu Kurapika sampai pagi di luar gerbang rumah mewah wanita itu. yang akhirnya bisa menemui Kurapika, saat wanita pergi, Kuroro menghadang mobilnya, yang terpaksa Kurapika berhenti dan Kuroro dengan paksa masuk ke mobil itu.

"bagaimana nona?" tanya supirnya, saat elihat Kuroro menghentikan mobil itu.

"biarkan saja, lagipula aku sudah terlambat"

Kuroro pun masuk, dan dapat melihat mata Kurapika yang sembab.

"kurapika"

"apa maumu Kuroro? Antara kita sudah berakhir bukan?"

"nona, apa kita langsung ke lokasi interview?"

"ya"

Sang sopir pun langsung mengemudikan mobilnya, dengan rasa penasaran terhadap pria asing, yang telah menungguinya semalam. Ia tak pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi tampaknya mereka punya hubungan serius, pikir sang supir, atau jangan-jangan dialah kekasih majikannya, pria yang harusnya jadi ayah dari bayi yang dikandungnya, ya sepertinya begitu, dan mereka sedang bertengkar.

"kenapa kau tidak memberitahuku, kalau kau mengandung?"

"kau sudah tahu bukan?"

"aku melihatmu di rumah sakit kemarin bersama illumi, dan kalian membicarakan masalah kehamilanmu dan bayi!" Kuroro sudah mulai kehilangan kesabarannya.

"apa?" tanya Kurapika heran, ia sama sekali tak melihat Kuroro hari itu.

"lalu kenapa kau tidak menyapaku?"

"aku tak mau menganggu kalian berdua yang begitu akrab. Kurapika jawablah pertanyaanku"

"aku tidak berpikir kalau itu adalah hal yang cukup penting untuk ku bicarakan padamu, sejak ku tahu kau sama sekali tak tertarik dengan seorang kekasih dengan anaknya. Kau ingin hidup sendiri bukan? Bukankah kau sangat mencintai kebebasan mu itu? dan kau jangan khawatir, aku tidak akan meminta uangmu untuk kehidupan anakku, aku sudah punya banyak."

"dia butuh figur seorang ayah" kata Kuroro secara implisit membela diri dari tuduhan Kurapika yang benar sekali.

"aku bisa mendapatkan figur itu dari Illumi atau siapapun nanti yang akan menikahiku, dan menjadikan ku sebagai seorang istri yang layak, bukan hanya sebagai seorang budak pemuas nafsu."

"aku tidak pernah menganggapmu sebagai budak pemuas nafsu!"

"lalu pria seperti apa yang telah begitu saja meniduri seorang wanita hanya untuk kesenangan, lalu ketika ia bosan, ia mengatakan bahwa ia tak tertarik dengan sebuah hubungan?"

Wow... pikir sang supir yang mencuri dengar percakapan mereka, ia melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa terlalu ketat.

"kita telah menyepakati hal itu!"

"KAU, yang menyepakati hal itu, kau yang membuat keputusan, kau yang menarik kesimpulan sendiri!" Kurapika mulai merasakan matanya basah, dia menyeka air matanya, "kau sama sekali tak tahu apa yang kurasakan, kau sama sekali tak tahu aku menangis semalaman setelah kau mengatakan itu, kau tak tahu hancurnya hatiku saat itu. dan sekarang saat aku mulai memperbaiki hidupku, hatiku kau tiba-tiba muncul, bertanya soal kehamilanku, dan merasa posesif pada sampah yang telah kau buang!"

Kuroro terdiam, jadi selama ini Kurapika menyimpan perasaan seperti itu padanya? Dan ia sama sekali tak menyadarinya? Tapi ia sendiri bahkan tidak menyadari perasaannya sendiri bukan?

"sekarang, aku ingin bertanya padamu, apa yang akan kau lakukan setelah mengetahuinya"

Kuroro kembali terdiam, ya apa yang akan ia lakukan? Ia sudah tahu bahwa Kurapika mengandung anaknya, lalu apa? Menikahinya? Tapi itu terlalu cepat, ia menginginkan Kurapika, itu jelas, tapi menikahinya itu perkara yang lain, tapi ia sedang mengandung anaknya, dan Kurapika sama sekali tidak meminta pertanggungjawabannya sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya bukan? Jadi apa sebenarnya yang ia inginkan?

"nah kau tidak bisa menjawabnya bukan?"

"aku...aku ingin sebuah pengakuan itu saja"

"ssttt" Kurapika mendengus kecewa sekaligus sedih, ia memalingkan wajahnya ke jendela mobil, air matanya terus mengalir. Secara impulsif, Kuroro menyentuh dagu Kurapika, bermaksud menghapus air mata itu tapi Kurapika menepisnya.

"maafkan aku.." hanya itu yang bisa diucapkan Kuroro

Setelah itu hanya ada keheningan antara mereka yang terasa mencekam, namun Kurapika tahu Kuroro memang bukanlah untuknya, dan ia tak jauh lebih baik dari leorio.

Lalu merekapun sampai di lokasi interview yang dilakukan sebuah majalah, namun ternyata, Kurapika sudah dihadang paparazi yang terus- menerus mengambil foto di arah luar mobilnya.

"sialan, apa yang sebenarnya terjadi Pitou?"

"bukankah sebaiknya nona menguhubungi manajer nona?"

Kurapika segera menghubungi managernya dan menanyakan perihal apa yang terjadi, kenapa bisa sampai banyak paparazi. Ternyata, insiden penyiraman sudah menjadi headline harian lokal setempat, parahnya lagi, ia sekarang bersama Kuroro di dalam mobil yng sama, apa yang haurs ia lakukan?

"ada apa Kurapika?"

"Insiden penyiraman yang kulakukan kemarin padamu menjadi headline media massa hari ini" kata Kurapika dingin, lalu ia melanjutkan, "pitou, sebaiknya kau segera bawa dulu tuan Lucilfer dari sini"

"baiklah"

Untunglah pihak majalah yang akan mewawancarai Kurapika, segera mengarahkan security untuk mengawal Kurapika, dan paparazi tidak menyadari keberadaan Kuroro, karena kaca film mobil kurapika berwarna gelap.

"kemana tuan?"

"Pitou, apa kau pikir Kurapika dan Illumi akan menikah lagi?"

"kenapa tidak tuan? Illumi sebenarnya pria yang baik, bahkan mereka menjalani pernikahan terbuka selama mereka menikah, hanya saja komunikasi diantara mereka kurang, dan mereka seringkali berbeda paham, belum lagi campur tangan keluarga Illumi yang menganut Yahudi yang kuat, mereka tidak begitu menyukai Kurapika, dan akhirnya mereka bercerai"

"jadi kau pikir ia akan menikahi Illumi lagi?"

"ya, kalau mendengar dari obrolan mereka, aku tidak bermaksud menguping, tapi tentu saja aku mendengarnya karena mereka berbicara tepat di belakangku seperti kalian berargumen tadi, hanya tinggal menunggu keputusan dari Kurapika, yang sepertinya akan diterima, mengingat bagaimana Tuan Illumi selalu ada untuknya di saat-saat terburuk hidupnya akhir-akhir ini. Apalagi ibu dari tuan Illumi yang sangat menentang Kurapika sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, jadi ku pikir itu tidak masalah. By the way, kita akan kemana?"

"kembali ke kantor majalah itu"

"apa kau yakin?"

Kuroro tidak berkata apapun lagi, ia tak rela jika harus membiarkan Kurapika menikahi Illumi, Kurapika itu miliknya, dan harus tetap jadi miliknya dan bayi itu anaknya, dan tak akan pernah hanya jadi anak Kurapika, dan ia tak rela, jika di nama keluarga Illumi yang menjadi nama belakang anaknya nanti. Ia tak bisa membiarkan itu terjadi.

Paparazi masih menunggu di pintu masuk saat Kuroro tiba, ia bahkan tidak peduli pada paparazi itu. mereka langsung melompat menuju Kuroro saat menyadari bahwa pria yang baru keluar dari mobil adalah Kuroro Lucilfer. Dan Kuroro membuat pernyataan mengejutkan yang cukup untuk membungkam paparazi itu, ia sudah tidak peduli lagi, yang ia pedulikan adalah bahwa Kurapika harus kembali dalam pelukannya.

"kami bertengkar malam itu karena gosip murahan kalian mengenai Kurapika dan Illumi, sedangkan Kurapika saat ini adalah kekasih ku." Kuroropun langsung masuk ke kantor itu dan menemui Kurapika yang sedang berada di ruang make up artis, kurapika mengisyaratkan staff di sana untuk memberinya ruang pribadi sebentar, ia telah mengetahui apa yang terjadi di luar karena paparazi secara khusus meliput secara langsung.

"apa maksudmu membuat pernyataan seperti itu?" Kurapika mengankat dagunya, Kuroro mendekat dan langsung mencium bibir kurapika penuh kerinduan, menahan tengkuk kurapika agar diamdan tidak memberontak. Kurapika berusaha melepaskan diri, tapi kuroro menciumnya kuat-kuat, dan disanalah Kuroro akhirnya mau mengakui perasaan sendiri, perasaan yang telah ia sangkal sebelumnya.

"aku mencintaimu Kurapika, aku mencintaimu"

Mata kurapika berkaca-kaca, antara senang dan sedih, kenapa baru sekarang? Keluh Kurapika dalam hati.

"setelah semua yang kau lakukan padaku, kau pikir aku akan menerimamu?"

Kuroro terdiam, hatinya dipenuhi dengan kekecewaan,

"berilah aku kesempatan, aku tidak memohon pada siapapun, tapi aku mohon, Kurapika, aku menginginkan mu" mata Kuroro mulai berkaca-kaca, sementara dadanya mulai terasa menyempit.

Tangis Kurapika akhirnya pecah, lalu ia memeluk Kuroro,

"kenapa aku selalu menyukai pria brengsek?"

Kuroro tersenyum bahagia, dan memeluk kurapika dengan erat,

"because a good guy never can, never will handle a bitch like you"

Kurapika pun mengeratkan pelukannya, akhirnya kebahagiaannya datang setelah masa-masa sulit yang ia alami. Ini bukanlah akhir, tapi ini adalah awal hubungan mereka. Masih banyak yang harus mereka lewati di depan sana, tapi mereka kini percaya mereka dapat melalui semuanya, dengan rasa saling percaya, dan menghargai ditambah cinta dan keluarga yang akan segera mereka miliki. Mereka berpelukan erat, seolah tubuh mereka menyatu satu sama lain, irama jantung mereka senada, seirima, irama jiwa mereka yang menjadi satu dalam cinta yang mereka milikki.