Disclaimer Masashi Kishimoto
Fanfiksi ini akan berisi semua hal-hal yang berada di bawah aturan Rate-M sebuah fanfiksi pada umumnya
Berkisahkan tentang Sasuke Uchiha dengan Uzumaki Naruto
Menandakan bahwa fanfiksi ini berisi tentang hubungan sesame jenis MALE X MALE
Meet My Moom
Naruto memijat pelipisnya dengan pelan saat kedua netra birunya menatap dua orang yang sedang berdiri di hadapannya. Semenjak kejadian dua minggu yang lalu, hal ini menjadi rutinitas baru duo Uchiha yang sedang duduk dengan santainya di hadapan Naruto. Setelah adegan 'tumpahnya air mata' pada malam itu, Sasuke meminta Naruto untuk menginap di rumahnya untuk semalam saja dengan embel-embel Sasuke, 'semua ini demi Ice' dan tentu saja Naruto langsung menyetujuinya.
Naruto tidak merasa keberatan sedikitpun karena malam itu dihabiskannya dengan mendengarkan semua cerita Ice dan tentu saja ditemani Sasuke yang kembali mengeluarkan embel-embel 'takut Naruto membawa kabur Ice' yang hanya ditanggapi oleh Naruto yang memutar kedua netranya dengan bosan. Sepertinya Sasuke menggunakan Ice sebagai alat untuk membuatnya agar dapat terus dekat dengan Naruto.
"Pulang." Naruto menggunakan tangan kanannya untuk mengusir kedua orang tersebut yang saat ini malah sibuk dengan cemilan yang ada di hadapan mereka—tentu saja setelah keduanya memaksa Naruto untuk menyediakan mereka cemilan. "Hei, jangan jadikan tempat kerjaku café!" bentak Naruto membuat Ice tersentak kaget dan Sasuke hanya mendengus pelan.
"A-Apa Mom tidak kangen denganku?" tanya Ice yang memasang tampang sedihnya—mencoba menarik rasa iba Naruto. Naruto yang melihat hal tersebut hanya memplototi Ice sembari menggulung kertas yang ada di tangannya. "Oke, oke aku akan pergi sekolah." Ice memanyunkan bibirnya dengan kesal. Ice tahu Naruto tidak akan segan-segan memukul kepalanya dengan kertas itu.
Ice masih mengingat dengan jelas waktu di penitipan Naruto sering melakukan itu jika Ice melakukan kesalahan atau tidak mengindahkan ajakan temannya. Tepat seminggu yang lalu Ice meminta Sasuke untuk mendaftarkannya di sekolah normal. Sekolah dimana dia akan berbaur dengan orang-orang baru dan tentu saja hal itu ditanggapi Sasuke dengan antusias—senang karena putranya memiliki keinginan yang bagus.
"Dan kau!" teriak Naruto tunjuknya ke arah Sasuke dengan kedutan di dahinya—sementara yang ditunjuk hanya sibuk menyesap kopinya. "Bukankah seharusnya kau mengantarkan putramu?"
"Ice, sudah besar. Dia bisa pergi sendiri."
Ice yang mendengar ucapan Ayahnya mengacungkan jempolnya dengan senyuman lebarnya. Naruto dapat dengan jelas melihat Sasuke mengedipkan matanya ke arah Ice. Naruto kembali memijat keningnya dengan hembusan napas prustasinya. Kepalanya terangkat saat menyadari Ice sedang berdiri di hadapannya. "Hm?" Naruto tersenyum tipis saat Ice menunjuk keningnya. "Kau yakin? Bukankah kau sudah besar?"
"Ah~ ayolah satu kecupan di dahiku setiap harinya dari seorang ibu tidak akan membuatku menyusut menjadi bocah berumur lima tahun," ucap Ice sembari menggerakkan kedua alisnya. Naruto sempat sengaja menginjak sepatu Ice—sempat membuat Ice mengangkat kakinya dengan kaget—dan dengan pelan mengecup kening Ice. "Selamat bersenang-senang." Ice melambaikan tangannya dan kedua mata kelam itu sempat melirik ke arah Sasuke.
Dan …
Sasuke sangat membenci tatapan mengejek itu. Mendengar Ice terkekeh kecil Sasuke hanya memplototinya—menyuruh Ice untuk cepat pergi sekolah.
Ruangan itu menjadi hening semenjak kepergian Ice. Sasuke yang sok sibuk dengan kopinya dan Naruto yang masih kesal karena pagi indahnya telah diganggu dengan dua kepala hitam itu. "Sasuke?"
"…"
"Sasuke Uchiha?"
"…"
"Teme!"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat merasakan Naruto sudah berada pada batasnya. Cangkir yang berada di genggaman tangan kirinya diletakkan di depannya. "Hm?" tanggapnya dengan tidak sopan setelah mengabaikan Naruto berkali-kali. "Ow, sakit, Dobe!" ucapnya kesal saat Naruto memukul kepalanya dengan kertas gulung tebal yang ada di tangannya.
"Itu balasan karena kau tak menanggapiku."
"Hm? Jadi kau lebih senang jika aku memperhatikanmu?"
"Tentu saja!"
"Coba katakan perhatian seperti apa yang kau inginkan?"
"Hei! Kau memancingku!"
Sasuke mendengus geli mendengar teriakan kecil Naruto. Entah kenapa membuat kesal Naruto menjadi hal yang sangat menyenangkan baginya dan Sasuke tidak akan pernah bosan melakukannya. "Baiklah aku akan pergi," ucap Sasuke sembari mendekati Naruto.
Naruto yang melihat Sasuke berjalan mendekatinya mengerutkan keningnya dengan bingung. "Sasuke, pintu keluarnya di sebelah sana." Tunjuk Naruto saat mendapati Sasuke tak mengindahkan omongannya dan malah terus berjalan mendekatinya hingga akhirnya Sasuke berhenti tepat di hadapan Naruto yang sedang duduk. "Sasuke?"
"Ice mendapatkannya saat mau pergi tadi, bagaimana denganku?" tanya Sasuke dengan seringaian tipis yang terukir di bibirnya.
Sasuke memegang kepalanya dengan pelan, desisan pelan meluncur manis dari bibirnya. Kakashi yang melihat hal tersebut mengangkat sebelah alisnya. Sembari berjalan mendekati Sasuke, Kakashi kemudian menyerahkan berkas-berkas yang harus Sasuke setujui. "Ada apa dengan dahimu?" tanya Kakashi dengan heran.
"Nasib berhadapan dengan ibu-ibu," ucapnya sembari mendengus kesal. Ingatannya kembali pada saat Naruto memukulnya dengan gulungan kertas tadi pagi. Seringaian tipis terukir di bibirnya. Sasuke masih dapat dengan jelas mengingat rona merah di kedua pipi Naruto. Informasi yang baru saja diberikan oleh salah satu temannya yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Naruto membuat seringaiannya semakin lebar. Satu hal yang membuat mata Sasuke menyiratkan kebahagian … Naruto adalah seorang 'gay'.
Well, bukankah hal itu akan membuat rencananya menjadi lebih mudah dua langkah? Pertama dengan adanya Ice dan Naruto seorang 'gay'. Sasuke yang menyeringai lebar membuat Kakashi yang duduk di hadapannya bergidik. Satu hal yang Kakashi tahu, seringaian Sasuke bukanlah pertanda yang baik.
Setelah beberapa jam berkutat untuk membaca dan menyetujui semua berkas-berkas yang Kakashi bawa, Sasuke beranjak dari duduknya. Matanya melirik pada jam tangannya yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. "Sebentar lagi Naruto akan pulang," batinnya sembari merapikan pakaian yang dikenakannya. Sasuke yang mengetahui jadwal-jadwal keseharian Naruto bukanlah hal yang mengejutkan. Apa gunanya memiliki teman yang bekerja di sana jika dia tidak tahu apa-apa tentang jadwal Naruto.
Sasuke tahu mulai dari hari kerja Naruto, hari liburnya, kapan Naruto tidak menerima pasien dan sebaliknya, bahkan Sasuke mengetahui semua pasien Naruto dan kapan saja Naruto mengadakan pertemuan dengan pasien-pasiennya. Katakanlah Sasuke seorang penguntit kecil. Entah kenapa pria berambut pirang dengan netra biru cerah itu sangat memikat hati Sasuke. Secara fisik dan nonfisik.
Sasuke melambaikan tangannya saat mendapati Ice sedang berdiri di depan gedung tempatnya bekerja. Ice yang melihat kehadiran Ayahnya segera menghampirinya—raut wajah kelelahan tampak melekat di wajah Ice. "Hei, kau baik-baik saja?" tanya Sasuke saat Ice menguap tepat di hadapan Ayahnya. "Tidak salah lagi, kelakuan sembrononya ini memang milik Naruto," batin Sasuke sembari mengacak rambut Ice dengan pelan. "Kau ingin menemui Ibumu?" tanya Sasuke. Saat Ice hanya menggelangkan kepalanya, Sasuke mengangkat alisnya bingung.
"Mommy tadi menjemputku di sekolah dan baru saja sepuluh menit yang lalu dia pergi."
'TWITCH'
Sasuke menatap kesal entah ke siapa. Sepertinya Naruto sengaja melakukannya agar dirinya dapat menghindari Sasuke. Usahanya untuk pulang lebih awal sepertinya sia-sia saja. Sasuke kemudian memutuskan untuk membawa Ice pulang. Sepertinya dirinya juga memerlukan istirahat seperti Ice.
Shikamaru menggaruk kepalanya dengan pelan. Saat ini Naruto sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Matanya menatap pakaian Naruto dengan lekat—sepertinya Naruto baru saja pulang kerja. "Apa yang kau mau, Rubah?"
"Kembalikan jadwalku. Aku tahu kau yang mengambilnya karena hanya kau satu-satunya orang yang tahu letaknya di dalam ruangan pribadiku."
Mendengar ucapan Naruto, Shikamaru menguap lebar sembari mengucapkan kata 'merepotkan' dengan pelan namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Naruto. Kedua mata kuacinya kembali menatap Naruto yang saat ini sedang menggembungkan kedua pipinya dengan kesal. "Dasar bocah," ucapnya sembari menyeringai kecil dan masuk ke dalam apartemennya.
"Hei! Jadwalku!" Naruto melipat kedua tangannya di depan dada saat Shikamaru meninggalkannya untuk sementara.
Selang beberapa menit kemudian Shikamaru muncul dengan muka 'sedikit' merasa bersalah. "Err, Naruto …"
"Mana jadwalku?"
"Sudah kuberikan pada Sasuke."
…
…
"Gaaah! Dasar kau rusa bodoh! Pantas saja aku bingung kenapa tampaknya dia bisa membaca saat-saat dimana aku sedang tidak ada kegiatan! Ternyata ini perbuatanmu!"
Shikamaru memundurkan wajahnya dan menutup sebelah matanya—menunggu pukulan dari Naruto. Namun Shikamaru tidak merasakan apa-apa pada kepalanya. Kembali ditatapnya pria rubah itu dengan lekat. "Na-Naruto kau kenapa?" tanyanya saat melihat wajah Naruto tampak ingin menangis.
"Gaah! Aku kira si Teme itu benar-benar bisa membaca waktu luangku! Ternyata dia punya jadwalku, cih dasar brengsek," ucap Naruto kesal sembari mendecih. "Hampir saja membuatku senang," lirihnya pelan sembari memanyunkan bibirnya.
"Ah, kau kecewa ya?"
"Tentu sa-hei! Ssshhh Shika jangan katakan apapun padanya kumohon," mohon Naruto sembari mengatupkan kedua telapak tangannya dan menutup kedua matanya sembari menghadapi Shikamaru. Kemudian sebelah matanya terbuka. Melihat Shikamaru menganggukkan kepalanya dengan pelan Naruto bernapas lega.
"Kau menyukainya, 'kan?"
Mendengar pertanyaan Shikamaru yang blak-blakan seperti itu membuat kedua pipi Naruto menghangat. Naruto menundukkan kepalanya dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tangan Shikamaru tergerak untuk mengelus rambut pirang Naruto dengan pelan. "Kau pasti akan baik-baik saja," ucapnya dengan senyuman tipis sembari menarik tangannya dari rambut Naruto.
Naruto yang mendengar ucapan Shikamaru mengangkat kepalanya dan memberikannya senyuman lima jari. Setelah obrolan yang cukup lama itu akhirnya Naruto memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat ini Naruto sedang duduk di dalam ruang kerjanya. Sesampainya di rumah dia tidak bisa langsung bersantai. Naruto masih harus membuat laporan pasiennya untuk disampaikan pada kepala rumah sakit. Belum lagi surat-surat dari perusahaan yang membutuhkan perhatiannya. Naruto melemaskan badannya saat matanya menatap jam yang terpampang di dinding tak jauh darinya. "Sudah selarut ini," lirihnya saat menatap jam tersebut menunjukkan pukul tiga pagi. Naruto melipat kedua tangannya di atas meja dan menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Helaan napas lelah dapat terdengar jelas dalam ruangan yang sunyi tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Naruto berbunyi membuat Naruto menggerutu kesal. Siapa yang menghubunginya selarut ini. Tanpa berusaha untuk melihat nama peneleponnya Naruto menjawab ponselnya. "Halo?"
"Kau belum tidur, Dobe?"
Mendengar suara Sasuke di ujung sana membuat Naruto langsung sadar dari kantuknya. "Sa-Sasuke?"
Naruto dapat merasakan Sasuke menyeringai mendengarnya menyebutkan nama Sasuke dengan gagap. "Hm, kau kedengarannya terkejut."
Naruto menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap kesal ke arah ponselnya.
"Aku tahu kau kesal karena aku menghubungimu selarut ini."
"Apa maumu?" tanya Naruto berusaha terdengar biasa saja. Dalam hati, Naruto sangat senang Sasuke menghubunginya. Entah kenapa mendengar suara Sasuke membuat kedua matanya segar kembali. Mungkin ini semua karena Sasuke terlalu sering datang mengunjunginya di tempat kerjanya. Naruto menghela napas. Sasuke benar-benar mengacaukan otaknya.
"Saat jam makan siang besok, kau ada janji?"
Naruto tampak diam sejenak dan menggelengkan kepalanya.
"Dobe, aku tidak dapat melihatmu mengangguk atau menggeleng. Jadi sebaikanya kau menjawabku."
"E-Ehem sepertinya tidak. Ada apa?" Naruto sedikit kesal karena sepertinya Sasuke dapat menebak apa yang dikerjakannya.
"Baguslah. Aku tunggu kau di café depan rumah sakit Konoha."
Kembali. Naruto hanya dapat menganggukkan kepalanya. Tak percaya dengan suaranya sendiri. Ingin rasanya Naruto berteriak kegirangan.
"Dobe?" tanya Sasuke saat tak mendapat respon dari Naruto.
"Y-Ya?"
"Tidurlah, ini sudah larut."
Dengan ucapan terakhir itu Sasuke memutuskan teleponnya membiarkan Naruto berkutat dalam pikirannya. Naruto tak dapat menahan senyuman yang perlahan-lahan merangkak ke wajahnya. Entah kenapa Naruto sudah tidak merasa ingin tidur lagi.
.
.
Sasuke menatap layar ponselnya dengan senyuman tipis di bibirnya. Naruto tak menolak ajakannya. Dengan perlahan diletakkannya ponsel itu di atas meja kecil tepat di sebelah tempat tidurnya. Sasuke merebahkan badannya pada ranjang besar dan empuk miliknya. Perlahan-lahan kedua kelopak mata pucat itu menyembunyikan sepasang bola mata kelam di baliknya. Sasuke pun tertidur pulas.
Naruto menggigit jempolnya dengan kuat. Saat ini Ice sedang berdiri di sampingnya. Naruto memberitahukan tentang hal semalam kepada Ice. Sebelumnya Naruto sudah memarahi Ice karena sudah berani membolos. Naruto sendiri harus kembali memberikan gulungan kertas ke kepala Ice setelah mendengar alasan Ice yang mengatakan gurunya membosankan dan teman sebangkunya tidak masuk.
"Mom, ini bukan pertama kalinya kau jalan dengan Ayah. Berhentilah bersikap segugup itu." Ice terkekeh kecil saat Naruto menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan kasar.
"Tapi ini pertama kalinya tanpa dirimu," ucap Naruto sembari mengembungkan kedua pipinya. "Tentu saja Mommy merasa gugup!" ucapnya sehingga membuat Ice tertawa nyaring. Ice sudah mengetahui tentang kedua 'orang tuanya' yang terlihat benar-benar menginginkan satu sama lain namun masih bertingkah seperti anak-anak. Seolah-olah mereka hanya membutuhkan sebuah pertemanan dan tidak lebih. "Sudah waktunya, Mom. Pergilah, Ayah tidak suka menunggu." Ice tersenyum tipis.
"Bagaimana denganmu?" tanya Naruto menatap Ice dengan lekat.
"Kiba akan menjemputku. Dia mengatakan akan mengajakku untuk mencoba game baru miliknya. Sudahlah, aku tidak apa-apa," ucapnya sembari memberikan jempol kepada Naruto. Naruto kemudian mengangguk dan meninggalkan Ice dengan lambaian tangan.
.
.
Sasuke yang melihat kepala pirang dari kejauhan menyeringai tipis. Satu hal yang membuat Sasuke merasa terangsang … Naruto masih mengenakan seragam putih dokternya. Entah kenapa hal tersebut menambahkan nilai plus dalam penampilan si pria pirang. Sasuke menganggukkan kepalanya pelan saat Naruto menghampirinya dan duduk tepat di hadapannya. "Hai," sapa Naruto saat matanya menatap kedua bola mata kelam itu. "Maaf membuatmu menunggu lama."
"Dobe?"
"H-Huh?"
"Kau gugup," ucap Sasuke membuat kedua pipi Naruto memerah. "Apa ini pertama kalinya seorang pria mengajakmu kencan?"
"Te-Teme!" Naruto menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Menghalangi Sasuke untuk melihat rona merah di kedua pipinya.
Sasuke yang melihat hal tersebut hanya mampu tertawa kecil. Sasuke memegang kedua tangan Naruto dan menaruhnya di atas meja. "Jangan menutupinya. Kau kelihatan sangat lucu."
Mendengar omongan Sasuke, muka Naruto menjadi lebih merah dari sebelumnya. Sasuke memutuskan untuk menggodanya sampai sini sebelum akhirnya dia menyodorkan buku menu ke arah Naruto. "Kau pasti lapar. Hari ini jadwalmu padat sekali, 'kan? Kau terlihat seperti orang demam," ucap Sasuke membuat Naruto memanyunkan bibirnya.
"Ini semua salahmu dan berhenti menyuruh Shika mencuri jadwalku."
"Ah jadi kau sudah tahu?"
"Umm."
"Kau terdengar kecewa."
Naruto segera mengangkat kepalanya dan mengibas-ngibaskan tangannya. Berusaha untuk mengatakan tidak kepada Sasuke. "Lucu sekali," batin Sasuke sembari terus memperhatikan tingkah Naruto. Akhirnya Sasuke memanggil pelayan yang ada dan memberitahukan apa yang ingin mereka pesan.
.
.
Sementara itu di pojok café tersebut tampak Kiba dan Ice sedang menundukkan kepalanya sembari mencoba menyesap minumannya. Mereka mengambil tempat yang sangat strategis. Naruto dan Sasuke mungkin tidak dapat melihat mereka karena terlindung pilar, namun mereka berdua dapat dengan jelas melihat Naruto dan Sasuke. Kiba tersentak kaget saat Kakashi membersihkan tenggorokannya.
Sepertinya karena Ice dan Kiba terlalu asik memantau, mereka tidak sadar bahwa ada orang ketiga yang duduk bersama mereka pada saat itu. Kiba dan Ice sendiri tidak tahu bagaimana bisa Kakashi berada di kursi itu dari awal. Ice hanya tertawa kecil saat Kakashi memplototinya. "Ah Mommy tampan sekali dengan jubah dokternya itu. Ayah pasti kewalahan menjaga adiknya untuk tetap tertidur."
'PLAK'
Ice memekik pelan saat Kakashi memukul kepalanya dengan kuat. Kiba hanya mengacungkan jempolnya—tanda dia setuju dengan komentar Ice. "Ah sakit sekali," desis Ice saat merasakan kepalanya mulai berdenyut. "Lama sekali reaksinya," tambah Ice sembari mengelus-elus kepalanya.
"Kau terlalu banyak bergaul dengan Kiba, Ice."
"Hei!"
"Shushh!" Ice dan Kakashi bersamaan menutup mulut Kiba saat teriakan Kiba terlalu nyaring. "Nanti kita ketahuan, paman guguk!" Kiba hanya menginjak kaki Ice yang berada di bawah meja dengan kuat sehingga Ice kembali menatapnya dengan kesal.
Naruto memiringkan kepalanya dengan bingung membuat Sasuke menatapnya dengan lekat. "Ada apa?" tanya Sasuke sembari meletakkan cangkirnya.
"Sepertinya aku mendengar suara Kiba. Tapi tadi Ice mengatakan bahwa dia akan pergi dengan Kiba, umm berarti tidak mungkin."
"Dengan Ice? Bukannya Ice sekolah?"
Naruto terdiam, senyum canggung terukir di wajahnya. Naruto baru saja memasukkan Ice ke dalam kandang buaya. "A-Ah! Lupakan-lupakan sebaiknya kita lanjut makan saja." Sasuke mengangkat sebelah alisnya dengan bingung namun tetap melanjutkan untuk menghabiskan makanannya.
"Dobe?"
"Hm?"
"Aku ingin menyicipi makananmu."
"H-Huh? Menyicipi?" Sasuke menganggukkan kepalanya dan membuka mulutnya.
Naruto kemudian dengan sedikit ragu menyendokkan makanannya ke mulut Sasuke. Sasuke menutup mulutnya dengan ujung bibirnya terangkat—Sasuke sangat senang melihat wajah Naruto yang memerah. "Oh adik kecil bersabarlah," batin Sasuke sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
.
.
"Aww!" Kiba dan Ice menaruh tangannya di depan dada mereka melihat adegan tersebut membuat Kakashi memutar kedua matanya dengan bosan. Kedua bocah di hadapannya ini sedari tadi tidak bisa tenang dan sangat berisik. Kakashi berharap yang ada di hadapannya saat ini adalah Iruka. "Ahahaha Ayah aku berdoa untuk adik kecilmu."
'PLAK'
Kali ini Kiba dan Kakashi bersamaan memukul kepala Ice. Entah kenapa bocah ini seenaknya saja jika berbicara. Sepasang kekasih yang duduk di meja sebelah mereka tampak menunduk—menyembunyikan muka mereka yang memerah.
"Hei, paman-paman ini tidak punya 'sense'. Please 'sense'!" ucap Ice dengan kesal sembari kembali mengelus kepalanya. Mendengar komentar Ice Kiba hanya tertawa.
Setelah selesai makan siang, Sasuke menawarkan diri untuk mengantarkan Naruto kembali ke rumah sakit. Naruto mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja namun Sasuke tetap ngotot untuk mengantarkannya. Saat mereka sampai ke ruangan Naruto, Sasuke menutup pintu di belakangnya dengan pelan—membuat Naruto mematung di tempat.
Masih tidak sadar dengan tiga orang yang saat ini sedang sibuk menguping di depan pintu yang baru saja Sasuke tutup. Shikamaru yang melihat hal tersebut mengangkat sebelah alisnya dengan bingung sembari ikut menguping.
.
.
Sasuke membalikkan tubuh Naruto dengan pelan. Kedua tangannya memegang bahu Naruto dengan pelan namun masih membuat Naruto tak mampu berkata-kata. "Naruto,"
"H-Huh?" ucap Naruto dengan nada gugup. Kedua mata Naruto membulat sempurna saat Sasuke sedikit menundukkan kepalanya sehingga ujung hidung mereka bersentuhan.
Sasuke tersenyum tipis dan menutup bibir Naruto dengan bibirnya. Naruto terdiam dengan mata yang membesar. Raut keterkejutan masih tergambar jelas di wajahnya. Sasuke melepaskan tangannya pada bahu Naruto. Tangan kiri Sasuke saat ini berada di pinggang Naruto dan tangan kanannya berada di belakang leher Naruto. Menarik Naruto lebih dekat dengannya. Naruto sadar dari keterkejutannya dan menutup kedua matanya dengan pelan.
Sasuke melepaskan ciumannya dengan Naruto dan menatapnya dengan lekat. "Terima kasih untuk hari ini," bisiknya di telinga Naruto membuat Naruto memerah seperti tomat. Sasuke tertawa kecil melihat reaksi itu dan menjauhkan tubuhnya dari Naruto—berniat untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Sasuke,"
Sasuke yang mendengar namanya keluar dari bibir Naruto berhenti dan membalikkan badannya. "Hm?"
Naruto tersenyum tipis dan mendekati Sasuke. Kedua tangannya meraih wajah Sasuke dan … Naruto mengecup kening Sasuke dengan lembut. Sasuke terkejut mendapati perlakuan seperti itu. Senyuman tipis terukir di bibirnya.
"There, kau tidak perlu cemburu dengan Ice lagi," ucap Naruto sembari tersenyum lebar.
Sasuke mendengus pelan sembari melambaikan tangannya ke arah Naruto yang dibalas dengan senyuman lebar. Sasuke kemudian membuka pintu itu dan menutupnya dengan pelan. Saat Sasuke berada di luar ruangan itu, matanya memicing tajam kepada keempat orang yang sedang berpura-pura sibuk mengerjakan sesuatu. Bahkan Sasuke dapat melihat Shikamaru yang sibuk memencet-mencet botol antiseptic yang ada di dekat ruangan Naruto.
Sebelah alisnya terangkat saat melihat Ice sedang berbicara dengan seorang suster yang sedang kebingungan. "Ice,"
Ice membalikkan badannya, "Ah, Ayah! Aku tak melihatmu ada di—"
"Ayo pulang," ucap Sasuke sembari menyeringai lebar. Ice yang melihat hal tersebut dan sama seperti Kakashi, Ice tahu seringaian Ayahnya bukanlah pertanda baik. Dengan cepat Ice menarik Kiba dan Kakashi untuk pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Sasuke yang berdiri dengan kedutan di dahinya. Sasuke memijat pelan keningnya dan mengingat kejadian di dalam. Seketika itu senyuman tipis terukir di wajahnya.
Shikamaru yang melihat hal tersebut menghela napas. "Entah kenapa aku melakukan hal merepotkan seperti ini," ucapnya sembari menatap ke tangannya yang penuh dengan cairan antiseptic. "Oh uchiha," Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar Shikamaru memanggilnya. "Selamat untukmu," ucap Shikamaru dan ditanggapi dengan lambaian tangan oleh Sasuke.
BERSAMBUNG
terima kasih buat yang sudah menanggapi cerita Oyabun.
Untuk pertanyaan soal ini berapa chapter, Oyabun akan buat ini kurang dari 10 chapter(s). Dan gak, ini gak akan jadi m-preg. Mereka nikah, gak? Wah yang itu juga masih rahasia. Istri Sasuke siapa? Gak akan Oyabun jelasin, soalnya istrinya bukan karakter dari Naruto haha. Dan jelas sekali Naruto belum pernah menikah. Sasuke udah jatuh cinta, belum? Di chapter ini sudah bisa terjawab terima kasih /plak
