an alternate universe fanfiction

[UNTITLED]

.: first click :.

by

Keychained

(translated by rappicasso)

original story:

www . asianfanfics story / view / 241078 / untitled - fluff - romance - exo - chanyeol - kris - krisyeol

(without space)


"Memberi judul sebuah foto adalah waktu yang spesial bagi setiap fotografer"

Kris suka fotografi. Chanyeol suka mengganggunya.

Ditambah sebuah waktu yang singkat atas kesempatan yang dapat mengubah segalanya.


Klik.

Sial, terlalu terang. Aku menggumam kesal, ketika aku menekan beberapa tombol sebelum kembali melihat ke lensa mata lagi.

Klik. Klik.

Aku kembali melihat ke layar peninjau dan tersenyum puas.

Namaku Kris, seorang mahasiswa dengan sebuah hobi―hobi yang sangat menggairahkan. Aku adalah seorang fotografer amatir, meskipun aku lebih suka menyebut diriku sendiri sebagai seorang ahli. Aku sering membawa kamera DSLR andalanku dan mengambil potret secara acak. disini dan disana.

Semua kegemaran ini berawal ketika orang tuaku memberiku sebuah kamera mainan untuk ulang tahunku yang ke-5. Kupikir, itu adalah hal yang paling menakjubkan di dunia. Pada akhirnya, mereka harus membuangnya karena aku tidak berhenti mengambil foto ayahku di kamar mandi―apakah itu kesalahanku? Aku hanyalah seorang anak yang penasaran dan berjiwa seni.

Ngomong-ngomong, di sekolah dasar, aku mendapat kamera yang lain―dari pamanku. Dia memberiku kamera SLR―yang kupercayai abadi―yang bertahan hingga aku berada di SMA. Aku mengambil pekerjaan paruh waktu, karena itu mulai usang (gambar-gambarnya tidak layak untuk dilihat, percayalah). Aku berusaha untuk mendapat kamera SLR pengganti yang kugunakan hingga aku lulus dari SMA.

Orang tuaku―agaknya merasa berdosa karena memberiku trauma masa kecil dengan membuang kameraku―memutuskan untuk memberiku kamera DSLR sebagai kado kelulusan. Aku telah menggunakannya selama 2 tahun terakhir. Ini masih menakjubkan.

Foto-foto yang kuambil kebanyakan pemandangan. Aku tidak suka mengambil foto orang-orang. Mereka menggangguku. Sebagai tambahan, mereka tidak benar-benar menghasilkan model yang baik―ayahku di kamar mandi adalah salah satu contohnya.

Aku mengklik tombol galeri di kameraku dan memandangi pekerjaan seniku. Aku kembali melihat pada inspirasiku―taman botani luas di belakang gedung utama. Tumbuhan-tumbuhan hijau, bunga-bunga, pepohonan―mereka semua indah... dan pantas untuk dipotret.

Aku mengangkat kamera untuk mengatur posisi lagi, siap untuk mengambil potretan yang lain―saat sesuatu melompat di punggungku.

"Oof!" Aku tersandung ke depan, mencoba membawa berat badan dar orang aneh dengan tas ku sambil berusaha untuk tidak terjatuh di trotoar. "Chanyeol!"

"Hyung!" Si Jerapah―er―Chanyeol―menyeringai sambil mengintip dari balik pundakku, seringaian khasnya...cek. "Aku akhirnya menemukanmu!"

"Turun dari tubuhku!" Aku meringis.

"Tidak!" Chanyeol merengek, melingkarkan lengannya lebih erat di sekitar leherku, jelas saja membuatku tercekik. "Jika aku melakukannya, kau akan menghilang lagi!"

"Aku ―tidak akan-" Aku tersedak, menangkap salah satu lengannya dan mencoba untuk mendorongnya menjauh. "Lepaskan - aku - tidak - bisa - bernafas!"

Aku berusaha menarik lengannya dan dia mendarat di trotoar, tepat di bokongnya. Aku berbalik memberikannya 'bitch-face'-ku yang ekstrim. "Apa yang sedang kau pikirkan? Mencoba membunuhku?"

Matanya melebar, terkejut. "Aku tidak akan pernah membunuh Hyung."

"Well, kau hampir saja melakukannya."

Dia menyeringai dan tertawa. Aku mendesah, menjepit hidungku.

Jerapah ini, sebagaimana aku suka memanggilnya, bernama Chanyeol. Dia lebih muda dariku dan kami teman masa kecil. Dia adalah tetanggaku sejauh yang bisa kuingat―dan masih menjadi tetanggaku di asrama. Ini pasti adalah sebuah takdir. Atau administrasi sekolah.

Dia berdiri, menepuk bagian belakang celananya hingga bersih. "Aku mencarimu di kelas terakhirmu, tapi kau tak ada disana. Kupikir, kita akan makan siang bersama."

Aku menatap kameraku, memeriksa jika ada goresan―untungnya tidak. Baguslah. "Maaf, aku tidak lapar sekarang."

"Lagi?" Chanyeol mencibir. "Kau juga berkata begitu kemarin! Berapa gambar dari tempat ini yang harus kau ambil agar kita bisa makan siang bersama lagi?"

"Hey," aku menaikkan alisku. "Jika kau ingin makan, silakan. Kau tidak harus makan bersamaku. Oh dan jangan mengganggu hobiku."

"Hobimu aneh." Chanyeol bergumam. "Ini lebih kedengaran seperti obsesi."

"Katakan itu sekali lagi, Jerapah." Aku menatap ke arahnya dengan tujuan menenggelamkan hewan peliharaannya, gerbil. Dia punya dua gerbil di kamarnya bernama Peanut dan Butter. Seekor jerapah dengan dua gerbil.

Dia menyeringai balik ke arahku dengan gugup, menggaruk bagian belakang kepalanya. "Um, yah―b-bagaimana dengan mengambil gambar dari sesuatu yang lain sesekali?" Dia mengangkat bahu.

"Seperti apa?" Aku tidak suka arah percapakan ini.

"Bagaimana dengan mengambil foto orang-orang?" Dia meringis.

Aku melihatnya seolah-olah dia adalah seekor jerapah sungguhan. "Tidak."

"Kenapa?" Dia memberengut, memanyunkan bibirnya.

"Jangan mempermasalahkan hal ini lagi." Aku mematikan kameraku. "Kau tahu, aku tidak suka mengambil foto orang-orang. Mereka rumit."

"Well, kau bisa mengambil foto orang-orang tertentu?" Matanya berkedip. "Bagaimana denganku? Fotolah aku, Hyung!"

Aku memandang ke arahnya dengan tatapan terganggu. "Apa yang kau minum untuk sarapan tadi pagi?"

"Eh?" Dia memerosotkan bahunya dengan berlebihan. "Kenapa kau sangat jahat?"

"Dan kenapa kau sangat aneh?"

"Kenapa kau tak bisa memfotoku?"

"Aku benar-benar tidak ingin mengambil foto seekor jerapah." Bibirku tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Sial. Itulah dia. Lihat, inilah alasan kenapa aku tidak nyaman berada di samping Chanyeol―dia terlalu bahagia―terlalu bahagia, hingga menginfeksi.

"Aha! Kau tersenyum!" Dia menyeringai lebih lebar dan aku menutup mulutku dengan sendirinya. "Aku melakukannya lagi. Hyung tidak dapat menahan senyum, ketika dia bersamaku!"

"Itu karena kau adalah virus. Bakteri. Makhluk hidup yang tidak teridentifikasi." Aku mulai berjalan menjauh.

"Ap―? Hey, Hyung!" Dia berbalik dan menangkapku. Tentu saja, tidak akan sulit baginya untuk menangkapku―dia memiliki kaki-kaki panjang yang bisa digunakan.

Kami berdua adalah yang paling tinggi di angkatan kami, jadi kami menjauh, sebanyak ketidakinginanku untuk berada di sekitar seekor jerapah. Aku memutar kepalaku untuk memberinya 'bitch-face' lagi, saat dia menyentuh kamera di tanganku secara tiba-tiba.

"Hey!" Aku mencoba menangkapnya tapi dia melakukan sebuah putaran untuk menghindarinya.

"Aku mendapatkannya! Biarkan aku melihat apa yang kau dapat sejauh ini, Hyung!" Dia berkata, menekan tombol disana-sini.

"Jangan berani-beraninya kau mengacaukan sesuatu, Jerapah!" kataku, menangkap kepalanya.

"Ow, ow, ow!" Dia merengek. "Ouch, Hyung! Ini menyakitkan―oh, ini hasil potret yang indah―ouch!"

Dia menangis untuk yang terakhir kalinya sebelum mengembalikan kameraku. Aku mengambilnya, mematikannya kembali dan meletakkannya dengan aman ke dalam tasnya.

"Jangan melakukan hal itu lagi." Aku berkata, menatap ke arahnya.

Dia mencibir. "Hanya jika kau mau makan malam denganku nanti."

Aku memutar bola mataku.

"Ayolah~ Malam ini adalah Jumat yang spesial dan kita bisa makan di kamar kita setiap Jumat, ingat?" Dia melompat ke atas dan ke bawah, ketika berjalan di sampingku.

"Kau ingin aku makan denganmu dan dua gerbil peliharaanmu itu?" Aku mendesah karena dia melompat-lompat, menganggukkan kepalanya sebagai sebuah respons. "Berhenti melompat, kau membuatku mual."

Dia berhenti melompat, namun sesekali bergerak ke atas. Dia mencoba melampat. Apakah ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri? "Pea dan Butt merindukanmu juga."

"Berhenti―berhenti memanggil mereka dengan nama itu." Aku meringis. "Aku membayangkan air kencing dan bokong."

"Itu adalah nama panggilan mereka! Oh, well, aku tidak bisa mengelak untuk nama Butt, tetapi itu bukan kencing, bukan seperti pee, itu Pea―seperti benda hijau yang dulu kuletakkan di piringmu saat sekolah dasar." Dia tertawa kecil, teringat kenangan masa lalu.

"Tidak bisakah kau memberinya nama yang lebih bagus?" Kami tiba di loker kami, dimana kami pun juga bertetangga.

"Mereka merespons pada nama itu!" Dia berkata, bersandar pada lokernya. "Pikirkan ini, mereka hanya merespons pada nama itu. Mereka bahkan tidak bereaksi saat aku memanggilnya dengan nama asli mereka. Oh Tuhan, Hyung, apakah aku sudah melakukan hal yang buruk saat membesarkan mereka?"

Aku membuka lokerku, mengambil sebuah buku dan kembali menutupnya setengah membantingnya. Aku membalikkan badanku untuk melihat ke arahnya tidak peduli. "Mungkin kau seharusnya memberi mereka nama yang lebih baik."

Dia melenguh; menyentuh sisi kepalanya seolah-olah ini adalah akhir dari dunia. "Oh tidak... Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya?"

Aku memutar bola mataku lagi, mencoba menahan sebuah senyuman. Dia mudah untuk ditertawakan, itu menyenangkan. "Lihat, tetap panggil saja mereka dengan nama asli mereka. Mereka akan terbiasa...pada akhirnya." Aku berjalan menuju kelasku selanjutnya sebelum bel berbunyi.

"Ah," Chanyeol berkedip. "Hyuuuuung!"

Aku menghindar dan memutar kepalaku perlahan ke arahnya, beberapa orang hampir menolehkan kepala mereka untuk melihat ke arah kami. Haruskah pemuda ini berisik? Aku berteriak "Apa?!" padanya.

Dia menyeringai. "Nanti malam, oke?! Kamarku!"

Beberapa orang terkekeh dan berbisik diantara mereka sendiri. Demi Tuhan, Chanyeol. Kontrollah mulutmu. Aku tersenyum singkat sebelum keluar dari neraka ini, tas kamera dan buku di tangan―hal terakhir yang kulihat adalah Chanyeol yang tersenyum lebar.

7:30 malam itu, aku diseret Chanyeol ke kamarnya―kantong untuk Jumat spesial di tangan. Tentu saja, aku membawa kameraku juga.

"Hey, Pea dan Butt!" Chanyeol terssenyum ketika membuka pintu, menendang sepatunya dan berlar ke gerbil peliharaannya yang seenergik pemiliknya. "Apa kalian merindukan Kris Hyung? Dia ada disini! Katakan hai!"

Mereka mengambil keduanya dan menunjukkannya tepat di depan wajahku.

"Ugh, Chanyeol." Aku meringis.

"Katakan hai, Hyung." Dia memberengut.

Aku mencebikkan muka, sebelum menatap balik ke arah dua hewan pengerat itu. "Hai."

Keduanya menjerit senang, sebelum menempatkan diri mereka di dalam sweater Chanyeol, satu di masing-masing lengan.

Chanyeol cekikikan, "B-berhentilah, kalian berdua! Itu sudah cukup!" Dia berkata di tengah-tengah tawanya.

"Baiklah, sudah cukup untuk ini," kataku, meletakkan kantung plastik di sebuah meja kecil di tengah ruangan. "Ayo makan sehingga aku bisa kembali ke kamar dan memperbarui galeriku."

Chanyeol berusaha meraih dua hewan pengerat itu keluar sebelum meletakkan mereka kembali ke dalam kandang. "Segala sesuatu yang kau pikirkan tentang fotografi, Hyung."

"Tentu saja," Aku berkata, membuka kantung plastik―aroma ayam memikat indra penciumanku. "Itu adalah hobiku."

Chanyeol duduk berseberangan denganku, masih cemberut. "Tapi tidak berhubungan denganku."

Aku mengayunkan kepalaku, mendorong kantung plastik ke arahnya. "Kita sudah berumur 20 tahun, Chanyeol. Kita tidak harus mempunyai selera yang sama setiap waktu."

Chanyeol melihat sekilas ke samping. Dia terlihat benar-benar marah. Aku tidak ingin mencari masalah dengan seekor jerapah yang sedang marah―selain itu, aku ingin kembali ke kamarku sesegera mungkin. Memikirkan cara untuk menghiburnya adalah sesuatu yang sulit―karena ketika pemuda ini mulai sedih, dia seekstrim saat dia sedang bahagia.

Aku menggigit bibir bawahku, mengetukkan ujung sendokku. "Dengar, mari makan saja, okay? Aku akan makan siang denganmu lagi besok jika itu lebih baik."

Tidak ada balasan.

"Ingin aku mulai memanggil mereka Pea dan Butt juga?" Dua hewan pengerat itu merespons, melompat dan menjerit. Tapi pemilik mereka hanya diam.

Aku mendesah. Apa lagi? Apa lagi yang dia inginkan? Rasanya sungguh berat menghadapi Chanyeol yang sedang bersedih―sesungguhnya, hal itu juga membuatku merasa buruk, benar-benar buruk. Oh, jangan katakan rasa sedihnya juga menginfeksiku?

"Oh," Aku teringat akan sesuatu... Tapi aku tidak benar-benar ingin melakukannya... Tapi, aku melirik ke arah Chanyeol. Sial, dia pasti benar-benar tidak menyukai hobiku. "Baiklah, Chanyeol. Aku akan mulai mengambil foto orang-orang untukmu."

Matanya tumbuh membesar dan akhirnya menatap ke arahku. Kilauan dan cahayanya sudah kembali. "Benarkah, Hyung?"

Ugh. Aku mungkin tidak seharusnya telah mengatakan itu. "Kurasa begitu."

Dia tersenyum, lebih cerah dari sebelumnya. "Yay! Hyung akan mengambil foto orang-orang untuk sekali!"

"Aku mengambil foto orang sebelumnya!" Aku melempar, mengambil sendokku dan mengarahkannya tepat ke makan malamnya. "Ini, Jerapah. Segeralah makan." Aku mendorongkan benda baja itu sebelum dia memiliki kesempatan untuk mengatakan apapun.

"Mmff." Dia berkata, mengunyah potongan daging yang kusuapkan padanya. Ketika dia menelannya, dia tertawa keras dan membuat pergerakan menjengkelkan, menyebabkan mejanya hampir melompat.

Aku mendesah lega. Bagus. Dia kembali ke normal. Well, bukan itu yang kupedulikan.

Hari esoknya, aku berkelana ke sekitar kampus, membawa kamera di tangan. Aku berjanji pada Chanyeol, aku akan mengambil foto orang-orang, benar-benar tidak ada banyak seni dari orang yang sedang melakukan sesuatu.

Sebelumnya, aku telah mencoba mengambil gambar-gambar dari sepasang sahabat―ketika seorang lelaki yang sedang mengupil melintas. Kemudian, setelah guru masuk ke dalam kelas, aku sedang mencoba mengambil sebuah gambar yang sedang membaca―hanya untuk mengetahui bahwa ia tidak sedang membaca, dia sedang membaca sebuah majala porno. Akhirnya, aku melihat keluar ke arah kebun ketika aku mendapati seorang murid di samping pohon, mungkin sedang menunggu seseorang―tentu saja, itu bukan masalahnya, dia sedang kencing.

Aku menggertakkan gigiku saat berjalan. Ini mengerikan. Aku tahu aku berjanji pada Chanyeol bahwa aku akan mengambil gambar dari orang-orang dan mengetaui si Jerapah, dia akan mengecek kameraku sebagai pembuktian dari janji itu. Aku menjambak rambutku, frustasi.

Orang-orang benar-benar menyebalkan.

Pikiran-pikiranku terganggu saat sebuah keributan terjadi di lobi utama. Oh? Apa yang sedang terjadi? Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa ini pertunjukan galeri mingguan dari klub seni. Aku mencoba masuk ke dalam kerumunan, memastikan jika saja ada lukisan bagus yang dapat mendinginkan kepalaku.

Aku berjalan menuju tempat yang luas―baguslah, aku membutuhkan ruang yang luas. Kemudian, sesuatu menarik perhatianku. Aku berkedip sebelum memutar kepalaku ke samping.

Seseorang sedang membawa sebuah lukisan, seolah sedang mengagumi. Dalam hitungan detik, aku mengambil kameraku dan mengambil satu potretan.

Klik.

Orang itu melihat ke arah lukisan itu―sebuah senyum terbentuk di wajahnya yang terlihat sempurna.

Klik.

Orang itu meletakkan lukisannya di bawah, membiarkan jemari rampingnya merasakan lukisan lain di dinding.

Klik.

Sial, siapa orang ini? Apapun yang dilakukan orang ini selalu terlihat indah―sesuatu yang sama sekali belum kulihat seharian ini. Aku harus mengetahui siapa orang ini... Aku harus...

Orang itu menarik tangannya kembali, menggerakkan tangannya melalui kunci coklat keemasan sebelum beralih ke arahku. Aku mengedip dan segera mengklik kameraku.

Klik. Klik.

Senyuman itu... Wajah itu...

Mataku melebar saat aku menurunkan kameraku.

"Oh..." Hanya itu yang bisa kukatakan ketika orang yang telah menyihir hatiku sepenuhnya berbalik sambil tersenyum.

Orang itu berbalik lagi, mengambil langkah kekuar dari keramaian, menjauhiku.

Pikiranku membeku dan aku dapat merasakan pipiku bersemu merah―mungkin penuh denga rasa malu... atau mungkin sesuatu yang lain?

Sosok itu tetap pergi dan pergi, perlahan menghilang dari pandanganku. Aku menutupi wajahku dengan sebelah tangan, kupu-kupu berterbangan di perutku.

"Chanyeol." Aku bernafas, akhirnya mengakui bahwa dialah yang mengambil perhatianku.

to be continued...


hello. i'm back again. kali ini saya bawa fic translate. inilah yang saya bilang dengan saya sedang mencoba mengembalikan mood nulis saya. saya nemu fanfic ini dan berniat menerjemahkannya. dan pertama kalinya, saya bawa krisyeol yuhuu.

semoga banyak yang tertarik. jangan lupa tinggalkan review ya. oiya, anyway, cerita ini panjang banget. mungkin bakal sekitar 30 chapter hehe. so please be patient of waiting. saya usahakan untuk terus update translatenya jika responsnya bagus. terima kasih!

review dear?