an alternate universe fanfiction
[UNTITLED]
.: second click :.
by
Keychained
(translated by rappicasso)
original story:
www . asianfanfics story / view / 241078 / untitled - fluff - romance - exo - chanyeol - kris - krisyeol
(without space)
"Memberi judul sebuah foto adalah waktu yang spesial bagi setiap fotografer"
Kris suka fotografi. Chanyeol suka mengganggunya.
Ditambah sebuah waktu yang singkat atas kesempatan yang dapat mengubah segalanya.
Tidak mungkin, sungguh tidak mungkin, kalau aku baru saja menemukan Chanyeol yang begitu... cantik. Memangnya apa yang indah dari jerapah itu? Pasti, senyumannya indah dan rambutnya terlihat sangat lembut saat disentuh dan matanya―
Whoa, whoa, whoa. Berhenti. Apa yang sedang kupikirkan?
Aku menyelipkan jemari di rambutku, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Aku melihat ke bawah kembali pada kameraku, mengklik tombol galeri dan kembali melihat pada potret Chanyeol.
Sial, dia benar-benar...
Aku berbalik, meninggalkan area ramai tersebut dan berjalan menuju taman botani. Aku harus mengalihkan pikiranku. Aku mengangkat kamera ke atas untuk memosisikan dan dan mengambil beberapa jepretan dan kebun.
Klik. Klik. Klik.
Aku kembali melihat ke bawah ke layar peninjau dan memberengut.
"Tidak bagus." Aku bergumam, memosisikan kamera kembali dan mengambil satu set gambar lainnya.
Klik. Klik. Klik.
Aku kembali mengecek dan tetap saja tidak memuaskan.
"Sial," Aku menggerutu, melihat ke atas langit dengan frustasi, dengan lemas mengayunkan lenganku ke samping―merasa tak berdaya.
Aku duduk di bangku terdekat, bermain-main dengan kamera lagi. Aku kembali mengklik ke foto-foto Chanyeol.
Sejak kapan jerapah itu begitu fotogenik? Begitu indah...? Aku menggigit bibirku, tak dapat percaya bahwa aku memikirkan ini―hal ini―si Chanyeol yang cantik, sesuatu yang berharga untuk difoto.
"HYUNG!" Suara jerapah itu membuatku melompat.
Aku segera menyembunyikan kamera di balik punggungku dan mencoba untuk berbicara setenang yang kubisa, "H-hai, Chanyeol." Setenang yang aku bisa, sial.
Dia berlari ke arahku, diakhiri dengan sebuah lompatan sebelum duduk di sampingku. Melihat wajahnya dengan jarak yang begitu dekat setelah renungan tentang cinta monyetku itu membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku tidak merona―Tuhan, tolong, beritahu aku bahwa aku tidak sedang merona.
"Apa kau disana, di pertunjukan galeri seni beberapa saat yang lalu? Aku bersumpah, kukira aku melihatmu..."
Aku tidak menatapnya. "Kau berimajinasi."
"Oh?" Dia bergumam. "Benarkah?"
"Kau selalu begitu."
"Hmm," Dia memiringkan kepalanya, mendapati bahwa aku tidak sedang berbicara padanya secara langsung―aku justru sedang berbicara pada tanaman berpot. "Hey, Hyung~"
"Apa?" Aku menggerutu, tidak mengalihkan pandanganku pada tanaman pot itu.
"Apakah kau sudah mengambil foto orang-orang?" Dia bertanya dan aku merasa seolah-olah duniaku bertabrakan dengan matahari. Aku dapat merasakan telingaku terbakar.
"Apa? Tidak, aku belum mengambilnya." Aku menjawabnya, dengan cukup terburu-buru. "Orang-orang disini benar-benar tidak bagus sebagai subjek fotografi."
Dia melihat ke arahku dengan seksama dan aku dapat merasakannya. "Dapatkah aku melihat kameramu?"
Pertanyaan yang kutakuti sudah ditanyakan. Aku berbalik menatap ke arahnya dan orbs kecoklatan miliknya itu melihat balik ke arahku dan aku lupa cara untuk bernafas.
"Tidak, Chanyeol."
"Kenapa tidak?" Dia memanyunkan bibirnya. Sial. Ketika dia begitu, itu benar-benar sangat manis. Tunggu―apa yang aku katakan?
"No."
"Hmph!" Dia menerjang ke depan. Sekarang, dalam keadaan normal apapun, aku tidak mempermasalahkan kontak kekanakan seperti ini. Tapi sekarang, setelah mengambil foto-fotonya―aku merasa kulitku terbakar dan jantungku berdebar-debar lebih cepat dari sebelumnya.
"Cha-Chanyeol!" Aku memberontak, menarik kameraku dari lengannya yang kurus. "Turun!"
"Tidak~! Biarkan aku melihatnya~!" Chanyeol merengek. "Kau mengambil beberapa foto! Aku tahu kau melakukannya!"
"Tidak!"
"Ya!"
"Tidak!"
"Kau melakukannya!"
"Aku-tidak-melakukannya!" Aku menggertakkan gigiku dan sebelum aku dapat melakukan sesuatu, aku kehilangan peganganku pada kamera dan kameranya mendarat di trotoar.
Chanyeol dan aku membeku. Dia dengan cepat turun dari tubuhku ketika aku meraih kameraku, memutarnya kesana dan kemari untuk memastikan jika ada yang rusak.
"Hyung...?" Chanyeol bersendar ke depan. "A-apakah itu baik-baik saja?"
Aku mendesah. "Kupikir begitu." Tapi aku berbalik dan menatapnya. "Chanyeol, aku memberitahumu untuk menyingkir kan? Berhenti bersikap kekanakan sepanjang waktu." Oh, sekarang aku melepaskan rasa frustasiku padanya.
"Tapi aku hanya ingin melihat gam―"
"Tidak ada gambar." Aku berkata. "Aku sudah memberitahumu, kan?"
"Hyung, maafkan aku. Aku―"
"Lupakan." Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam tas kamera dan menggosok lensa kamera. "Kau tidak akan pernah menjadi dewasa, aku tahu."
Chanyeol berkedip, tetap terdiam. Dia merendahkan kepalanya, sebelum berdiri dan meninggalkan kebun, tidak berniat melihat ke belakang.
Aku membersihkan lensaku―hampir ke titik dimana aku akan merusaknya. Aku mendesah frustasi ketika aku melemparkan sapu tangan kembali ke dalam tas dan menarik rambutku.
"Hebat..." Aku menggerutu di dalam nafasku. "Sekarang, dia mungkin membenciku."
Kenapa aku harus mengatakan hal itu? Apa yang salah denganku? Aku berpikir selama meletakkan kamera ke dalam tasku dan berjalan menuju kamarku.
―
Ketika aku tiba di asrama, aku mendapat bahwa pintu kamar Chanyeol terkunci―biasanya, anak itu lupa mengunci kamarnya. Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu, hanya untuk kembali menjauh.
"Bahkan jika aku mengetuk pintunya, aku tidak benar-benar tahu apa yang akan aku katakan." Aku berbisik pada diriku sendiri ketika aku masuk ke dalam kamarku.
Aku menjatuhkan tas kameraku di atas kasur dan mengambil keluar kameranya, memasangkannya pada laptopku dan mengunggah fotonya. Aku membuka folder baru dan menatap ke arah foto-foto Chanyeol untuk sejenak.
"Kenapa dia selalu tersenyum?" Aku berbicara pada diriku sendiri. Itu sangat kekanakan. Sangat mengganggu.
Tapi aku menyukainya.
"Sial." Aku menjepit pangkal hidungku lagi dan memejamkan mataku erat-erat. Bahkan dengan mata yang tertutup―wajah Chanyeol masih terngiang―oh, sekarang bahka terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Aku membuka mataku dengan pipi yang memerah.
"Aku tidak menganggapnya cantik." Aku bergumam. "Tidak mungkin aku menganggap jerapah dan teman masa kecilku itu cantik. Siapa yang bisa menemukan seekor jerapah yang memelihara dua gerbil?"
Aku.
Otakku memutuskan untuk mengkhianatiku ketika aku bersandar pada kursi kompterku. Kepalaku terasa sakit dan jantungku berdetak melawan tulang rusukku.
Pikiranku kembali ke awal, ketika aku memutuskan menjadi pengecut dan melarikan diri rasa frustasiku terhadap Chanyeol.
Aku menegakkan tubuhku, foto-foto Chanyeol dan senyumannya seolah menghadap ke arahku. Aku memilih seluruh foto Chanyeol dan membuat sebuah folder―menamainya 'Chanyeol' akan menjadi suatu kebodohan. Jadi aku membiarkannya bernama 'Untitled'.
Sebuah suara gedebuk di kamar sebelah mengalihkan perhatianku. Itu pasti Chanyeol yang sedang tersandung sesuatu lagi. Aku mendesah.
"Mungkin, aku seharusnya bicara padanya." Aku berkata, berdiri dan berjalan keluar dari kamarku. Aku mengetuk pintu kamarnya dan tidak ada respons.
"Chanyeol, ini aku."
Tidak ada balasan.
"Buka pintunya, Chanyeol."
Tetap tak ada respons.
"Chanyeol, serius, buka pintunya atau kutendang pintunya."
Bunyi klik kecil dan pintunya terbuka. Aku mengintip ke dalam dan saling berhadapan dengan Chanyeol, kepalanya menunduk.
"Biarkan aku masuk, Chanyeol." Aku berkata sedingin mungkin.
Dia sedikit ragu sebelum membukakan pintunya dan membiarkanku masuk. Aku melangkah masuk, Peanut dan Butter memekik dari kandang mereka saat melihat seorang tamu. Aku melambaikan tangan pada mereka dan mereka memekik lebih keras.
"Hyung," dia berkata dengan lembut. "Kelihatannya kau lebih suka dengan gerbilnya."
Aku menaikkan alisku padanya. Dia duduk di kasurnya, mengambil selimut dan menutupi kepalanya dengan selimut. Oh bagus, inilah dia―mode selimut. Sejak kita masih kecil, dia akan menutup dirinya sendiri dengan selimut ketika ia takut, depresi, atau ketika ia sedang dimarahi.
"Sekarang, bagaimana mungkin kau bisa berpikir bahwa aku lebih tertarik pada dua gerbil daripada seekor jerapah?"
"Karena," dia menggumam, merendahkan kepalanya. "Karena kau tidak menyukaiku."
Aku duduk di dekat meja belajarnya, melihat menyebrangi ruangan ke arahnya. "Apa aku pernah berkata begitu?"
Kepalanya terangkat perlahan dan berkedip ke arahku. "Baiklah, tidak."
"Lihat?"
"Tapi, kau bilang―"
"Apa yang aku katakan?"
"Kau bilang aku terlalu kekanakan dan aku tidak akan pernah menjadi dewasa."
"Ya, itu memang benar." Dan dia semakin berwajah masam. "Tapi itu tidak berarti aku tidak... menyukaimu."
Kata-kata itu terlalu memalukan untuk diucapkan, khususnya sejak aku melawan keinginan untuk mengambil kembali kameraku dan mengambil foto jerapah ini lagi dan lagi.
Whoa. Itu menjijikkan.
"B-benarkah?" Dia berkata, matanya melebar, sementara kepalanya masih berada di bawah selimut. "Hyung, kau tidak marah padaku kan?"
"Tidak, Chanyeol, aku tidak marah." Aku berkata, menggelengkan kepala, sebuah senyuman kecil menghiasi bibirku. "Kameraku baik-baik saja. Jadi... seharusnya kita juga baik-baik saja, kan?"
Dia tersenyum lebar dan sebuah rona tipis bersemu di pipinya. Sial! Dimana kameraku ketika kau membutuhkannya?
"Ya, Hyung! Kita baik-baik saja!" Dia melompat dan bertumbukan denganku―hampir menendang keseimbanganku dari kursinya.
"Oof―Cha-chanyeol!" Aku berkata, saat ia memelukku dengan erat. Kontak ini mengendalikan hormonku menjadi lebih buruk.
"But, um..." Dia menarik diri, melihat wajahku saat ia mendudukkan tubuhnya di atas pangkuanku. Aku mencoba untuk mempertahankan wajah datarku―namun bagian dalam dari diriku berteriak dengan menggila. "Apakah aku masih bisa melihat foto-foto yang kau ambil?"
Aku menggelengkan kepalaku sambil mendesah. "Chanyeol, aku belum mengambil foto orang-orang manapun." Kecuali kau.
Dia tersenyum. "Tak apa, Hyung. Tak apa jika kau tidak mengambil foto orang-orang. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tak kau sukai."
"Hm?"
"Wajahmu ketika kau melakukan sesuatu yang tidak kau sukai, sangatlah mengerikan." Dia tertawa dan aku menyeringai bagai iblis ke arahnya.
"Oh benarkah?" Aku mengeluarkan tanganku untuk mencubit pipinya, cukup untuk melihat gigi-giginya. Oh, pipinya benar-benar fleksibel. "Sekarang wajah siapa yang terlihat mengerikan?"
"Ow, ow~" Dia merengek dan aku melepaskannya. Dia mengusap pipinya sambil memanyunkan bibirnya "Itu menyakitkan."
"Hmph."
"Tapi, aku tetap ingin melihat foto-fotomu." Dia berkata, meringis sambil mengusap pipinya.
"Sejak kapan kau sangat tertarik pada fotografi?" Aku menaikkan sebelah alisku.
"Well," dia melihat ke bawah dengan polos, tersenyum pada dirinya sendiri. "Kupikir, mungkin jika aku bisa melihat foto-fotomu, aku bisa terbiasa dengan dunia fotografi dan aku bisa berhubungan denganmu."
"Kau..." Aku berkata dengan wajah mengejek, namun pikiranku memuji. "Kau adalah hal yang paling menakjubkan di dunia ini, benar kan?"
"Aku akan mendukungmu, Hyung." Dia tersenyum, lalu memutar kepalanya saat Peanut dan Butter memekik. "Oh, aku harus mengisi ulang mangkuk makan mereka." Dia berucap, turun dari atas tubuhku dan berlari ke arah dua peliharaannya.
Kehilangan berat badannya dari pangkuanku cukup menjadi sebuah kerugian. Hal itu membuatku agak kesepian. Mataku mengikutinya saat ia mengambil sebuah pak makanan gerbil dan mengeluarkan semuanya ke dalam mangkuk. Aku tidak bisa berhenti tertawa, melihatnya lengah.
"Hyung?" Ia berputar sambil mengedipkan matanya.
Aku menutup mulutku. "Oh well, haruskah kau mengeluarkan semuanya?"
"Tapi mereka akan kelaparan, ya kan?"
"Bukan, maksudku..." Sial, orang ini benar-benar menggemaskan. "Bukankah hanya mengisinya sampai penuh itu sudah cukup? Lihatlah, sekarang tumpah."
"Dengan begitu, ketika mereka menghabiskan makanannya, mereka mendapat ekstra." Dia berkata dengan segala keseriusan yang bisa ia kumpulkan.
"Apa kau serius?" Aku tidak bisa menahan tawa sekarang. "Chanyeol, kau membuat mereka lebih gemuk dari yang seharusnya."
"Tidak, aku tidak begitu!" Dia berkata, sambil menatap ke arah dua gerbil yang sedang menggigit-gigit. "Aku mencoba menyelamatkan mereka dari malnutrisi."
"Mereka hampir tidak kekurang gizi." Aku tertawa sambil menunjukkan betapa gemuknya mereka sebenarnya.
Dia cemberut dan menjulurkan lidahnya ke arahku. Dia membungkuk untuk bertatapan dengan gerbilnya yang sibuk makan. "Kalian tidak gemuk, benar? Kalian benar-benar sehat."
Segala yang kudengar hanyalah pekikan dan gigitan. Aku menggelengkan kepalaku. "Mereka gemuk, Chanyeol."
Chanyeol berjalan ke arahku dan meraih sebuah botol minuman di belakang kepalaku. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku dan aku merasakan jantungku berhenti berdetak.
"Mereka tidak gemuk." Dia cemberut saat wajahnya hanya beberapa inci jauhnya dari wajahku. Aku berharap dia tidak memperhatikan bagaimana aku tanpa sadar melihat bibirnya.
"Benar," Aku berkata dengan menggoda, ketika ia mengisikan air ke tempat minum mereka.
"Minum ini, oke? Agar kalian berdua tidak tersedak." Dia merayu dua hewan pengerat itu dan aku tersenyum sendiri karena jerapah yang perhatian dan aneh ini.
Ah, betapa cepat dan mudahnya untuk jatuh cinta.
to be continued...
post as soon as possible. yippie!
I'm so damn free this weekend. thanks to my beloved teacher for giving us such a time to take a rest hehe
so I guess I'll update other fics tonight since I have a very loooong time to type them /grins/ which fic are you waiting for? hehe x)
anyway, thanks to everyone who alrd read this fic, leave review, press follow and favorite button. I love you so damn much guys! I'll post the next chapter as soon as possible (as long as the responds are good enough x))
don't forget to leave me some review again guys! thank you~
