an alternate universe fanfiction

[UNTITLED]

.: third click :.

by

Keychained

(translated by rappicasso)

original story:

story/view/241078/untitled-fluff-romance-exo-chanyeol-kris-krisyeol


"Memberi judul sebuah foto adalah waktu yang spesial bagi setiap fotografer"


Kris suka fotografi. Chanyeol suka mengganggunya.

Ditambah sebuah waktu yang singkat atas kesempatan yang dapat mengubah segalanya.


Sabtu malam, Chanyeol dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar universitas untuk makan malam di luar dan aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukanlah sebuah kencan. Ini bukan kencan.

Dengan tas kamera di punggungku, aku harus menyeret jerapah yang terlalu gembira itu sebelum restorang favorit kami tutup.

"Chanyeol, cepatlah." Aku menggerutu.

"Tapi―tunggu―ada sesuatu yang baru dari toko di sebelah sana!" Mata Chanyeol melebar, memperhatikan toko sepatu di seberang jalan.

"Aku tidak akan membuang waktu makan malamku yang berharga untuk melihatmu mencoba sepatu." Aku berkata sambil menariknya lebih kuat. "Lagipula, kau tidak akan membeli sepatu manapun."

"Kita tidak tahu sampai kita mencoba kan?" Dia menatap ke arahku dengan mata seperti anak anjing dan aku berpura-pura tertawa.

"Cobalah lebih baik lain waktu." Aku berucap, menariknya sehingga dia pasti berjalan di sisiku.

Kami tiba di restoran cepat saji dan memilih tempat favorit kami di dekat jendela. Aku meletakkan tas di kursi di sampingku dan menatap Chanyeol yang sudah membuat nyaman dirinya sendiri.

"Seperti biasanya?" Aku bertanya.

"Mhm~" Dia mengangguk, tersenyum ke arahku.

Tunggu. Bukankah ini kelihatan seperti kencan sungguhan? Si pria bertanya pada gadisnya apa yang ingin ia pesan? Atau aku hanya terlalu berlebihan karena hormonku?

Aku meraih dompetku ketika kulihat Chanyeol mengangkat sebuah bill. "Hm?" Aku menaikkan sebelah alisku.

"Itu untuk sundae, traktiran dariku, Hyung." Dia meringis. "Dan, um, untuk, um, menyebabkanmu menjatuhkan kameramu juga."

Fakta bahwa dia tergagap dan berpikir tentang sebelumnya membuat hatiku berlomba. Oh, sungguh, orang ini...

"Chanyeol, itu bukan masalah." Aku berkata, merasa sedikit malu karena sikap seperti ini.

Dia mendorong billnya padaku dan dengan ekspresi merona juga. "Tak apa, Hyung! Pergi saja dan beli makanan kita!" Dia berkata sambil mendorongku.

Aku memutar kepalaku, "Cha―"

"Jangan lupakan sundaenya!" Dia tersenyum saat dia mundur kembali ke tempat duduknya sebelum aku dapat mengatakan apapun.

Aku mendesah, mendapati betapa manisnya Chanyeol itu... untuk yang kesekian kalinya, sebelum berjalan menuju konter untuk meletakkan pesanan kami. Pesanan Chanyeol yang biasanya terdiri atas deluxe cheeseburger―dengan ekstra selada, kentang goreng dan salad―dengan ekstra selada. Fakta bahwa itu membutuh tambahan selada mungkin adalah sebuah bukti bahwa dia adalah jerapah. Aku memasan seperti biasanya; taco dengan ekstra keju, keripik kentang dan salad. Tentu saja, aku tidak melupakan sundae-nya.

Aku membawa pesanan kembali ke meja kami dimana Chanyeol sedang sibuk bermain-main dengan―tunggu―apakah itu―kameraku?!

"Chanyeol!" Aku berteriak, meletakkan pesanan kami. Dia tersentakdan melongo padaku.

"Hyung?!" Dia membalasnya, melihat ke kamera, kembali ke arahku dan kembali ke kamera. "Um, ini..."

"Kau pikir kau sedang apa?" Aku duduk berseberangan dengannya, memanjangkan tanganku keluar. "Kembalikan."

"Um..." Dia melihat ke arahku dengan sebuah kerutan. "B-bolehkah aku melihat foto-fotomu?"

"Tidak, kau tidak boleh, Chanyeol," kataku, mengambil kamera dari tangannya. Syukurlah, aku menyimpan foto-fotonya di laptopku. Jika dia berhasil menyalakannya dan menemukannya...

"Aww..." Dia mengerucutkan bibirnya, sebelum melahap burger dan kentang goreng. "Oh yeah! Hyung tidak melupakan ekstra seladanya!"

"Tentu saja, aku tidak lupa."

"Hyung tidak pernah melupakan apa yang kusuka." Chanyeol menyeringai, membuka bungkus burger. "Itulah yang kusuka dari Hyung!"

Otakku membeku dan aku hampir saja menjatuhkan tacoku. Jangan berpikir terlalu banyak tentang apa yang dia katakan. Itu bukan seperti dia baru saja mengatakan bahwa dia menyukaimu. Dia hanya menyukai bahwa kau mengingat fettishnya pada selada. Well, sesungguhnya ia berpikir terlalu banyak.

"Hyung?" Chanyeol condong ke depan dengan mulut yang dipenuhi selada. "Ada apa?"

"Tidak." Aku berkata, mengambil serbet meja dan mengusapkannya di wajahnya. "Jangan berbicara dengan mulut yang penuh, Chanyeol; dan lihatlah dengan seluruh seladanya."

"Mmpphh..." Chanyeol menjulingkan matanya, menarik diri dari usahaku membersihkan mulutnya. "Aku paham!" Dia menelan, menjilat bibirnya hingga bersih―mataku mengikuti gerakan lidahnya.

Whoa. Apakah aku baru saja melakukannya? Kuharap, dia tidak sedang melihatnya.

Usai makan malam, kami memutuskan untuk mencari udara segar di taman sekitar. Aku memutuskan untuk membeli sekaleng teh hangat dari vending machine ketika Chanyeol berlari ke arah taman bermain. Benar-benar anak kecil.

Ketika aku berjalan kembali menuju anak muda itu, aku berkedip ketika melihatnya meraih puncak perosotan, melihat ke atas langit malam―nafasnya keluar dalam bentuk kepulan asap tipis. Sebegitu lelahnyakah dirinya untuk memanjat kesana?

Aku tertawa meletakkan kaleng dan tas kameraku di bawah, mengambil kameraku dan mulai memotret.

Klik.

Selama dia tidak melihat, aku bisa mengambil foto sebanyak yang kuinginkan... benar kan?

Aku memperbesar lensanya, terfokus pada wajahnya. Dia kelihatan begitu asyik menatap ke arah langit, seolah sedang menghitung bintang.

Klik. Klik.

Kemudian, dari lensa mataku―kulihat dia berbalik dan secara langsung, aku menjauhkan kamera dariku. Oh crap, apakah dia menyadarinya?

"Hyung?" Dia memanggil.

Aku berdiri mematung, menunggunya untuk kembali berucap.

"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sedang mengambil foto langit?" Dia berkata, bangkit dari tempatnya duduk. "Apakah aku menghalangi pandanganmu?"

Oh, bagus. Dia berpikir, aku sedang mengambil foto dari langit. Aku berpikir dan merasa lega―namun di suatu tempat di kepalaku, aku sedikit kecewa karena dia tidak menyadari bahwa aku sedang memfotonya.

"Oh, tidak," ucapku sambil mengembalikan kamera ke tas. "Tak apa, Chanyeol." Well, setidaknya aku mendapat beberapa potret dirinya malam ini.

Apakah aku mulai kedengaran seperti seorang penguntit?

"Hyung?" Dia berkata saat mengambil langkah. "Apa yang―"

Aku melihat kembali ke arah Chanyeol dan terkejut. Dia telah melangkah terlalu jauh, langsung terjatu dari puncak perosotan.

"Chanyeol!" Aku berlari dan berlutut di sampingnya. Dia sedang menidurkan wajahnya di atas tanah.

"Ouch, ouch, ouch..." Chanyeol mengernyit sambil mencoba duduk.

"Dasar bodoh. Lihatlah dimana kau akan melangkah," ucapku. "Apakah kau baik-baik saja?"

"Apakah aku kelihatan baik-baik saja di matamu, Hyung?" Dia menyeringai, tertawa sambil mengernyit lagi ketika ia mencoba untuk mengangkat kaki kanannya ke atas.

"Apa?" tanyaku sambil berusaha meraih kakinya. "Apa ini? Apakah sakit?"

Chanyeol mengangguk. "Kurasa, pergelangan kakiku keseleo."

Aku mendesah, menggulung bagian kaki kanan dari celananya untuk memeriksa pergelangan kakinya. "Biarkan aku melihatnya."

"Seharusnya kau meminta ijin dulu, baru mengangkatnya, Hyung!" Chanyeol menjulurkan lidahnya, namun aku mengabaikannya.

"Kakimu membengkak," jelasku, bangkit dan menyesuaikan posisi tubuhku. "Kemarilah, Chanyeol. Naik ke punggungku."

"Apa?"

"Cepatlah agar kita bisa mengobati lukanya di asrama," ucapku sambil menatap balik ke arahnya. Dia nampak agak ragu sebelum menjulurkan tangannya dan meletakkannya di pundakku. Ada sebuah rasa, seperti sengatan listrik, yang membangunkan seluruh sarafku. Aku bisa merasakan berat tubuhnya di punggungku dan aku mengangkatnya―setelah menghadapi sedikit masalah.

"Tsk. Kenapa kakimu sangat panjang?" Aku protes.

"Bukan salahku untuk menjadi orang yang tinggi." Chanyeol mengerucutkan bibirnya, kepalanya diistirahatkan di pundakku. Hal ini membuatku bahagia diam-diam karena melihatnya sangat rileks, bukannya merasa terluka.

"Huh," keluhku sambil berjalan menuju bangku taman untuk mengambil tas kameraku dan teh hangat.

"Aku bisa membawakannya, Hyung," tawarnya sambil mengambil tas kamera dan kaleng teh hangat dariku.

"Terima kasih," balasku. Namun tiba-tiba, kaleng itu terdorong ke mulutku. "Ap―huh?!"

"Untukmu," katanya sambil berusaha menahan suara tawa. "Minumlah, Hyung!"

"Kenapa kau―" Aku mengalihkan kepalaku dari kaleng tersebut. "Bersikaplah yang baik atau aku akan menjatuhkanmu, Chanyeol."

Dia terkesiap. "Kau tidak akan melakukannya."

Aku memutar kepalaku ke belakang untuk menyeringai padanya. "Aku akan melakukannya."

Dia kembali cemberut dan menarik menjauh kaleng itu dari wajahku.

"Jerapah yang pintar."

"Hmmm." Dia kembali mengistirahatkan kepalanya pada bahuku. "Berhenti memanggilku begitu, Hyung."

"Tidak ada nama lain yang cocok untukmu selain itu," jelasku sambil berjalan keluar dari taman.

"Tapi aku bukan seekor jerapah." Chanyeol menggerutu, suaranya teredam oleh jaketku. Aku bisa mendengar rasa kantuk dari caranya berbicara.

"Hey, jangan tidur," tegurku.

"Kenapa tidak?" Chanyeol menguap. "Aku biasa tidur dalam gendonganmu saat kita masih kecil."

"Itu adalah masa lalu," tegasku sambil menggelengkan kepala. "Dan kau membuatku seperti sedang mengalami menstruasikarena itu."

Chanyeol berdecak dan nafasnya yang hangat itu menyapu leher belakangku. "Terima kasih, Hyung."

"Hm?"

"Untuk tidak meninggalkanku," gumamnya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu," balasku dengan bisikan. Oke, dia benar-benar jatuh tertidur kan? "Aku tidak mengira kau akan sangat mengantuk."

"Karena punggung Hyung terasa sangat nyaman." Dia berkata dengan lembut dan bisa kurasakan bahwa pipiku memanas.

"Apakah hanya itu satu-satunya yang membuatmu nyaman?" Aku bertanya tanpa berpikir apa yang baru saja meluncur dari mulutku.

"Hm?" Dia mengerjap beberapa kali.

Tertangkap kau. Tarik kembali apa yang sudah kau ucapkan. SEKARANG. "Bukan apa-apa."

"Oh." Chanyeol melingkarkan lengannya di sekitar bahuku dengan lebih erat. "Baiklah."

Aku mendesah dan setelah beberapa menit berjalan dalam keheningan, aku sangat yakin bahwa dia sudah tertidur.

Aku menggendongnya sepanjang jalan menuju kamarku―karena kamarnya terkunci (syukurlah dia tidak lupa untuk menguncinya). Aku membaringkan tubuhnya di atas kasurku dan sekarang aku menghadapi dilema para remaja.

Sekarang apa...?

Kupandai sosok kurus yang sedang tertidur itu. Sial, ini benar-benar aneh. Aku mondar-mandir sebentar di sekitar ruanganku untuk mencoba menenangkan diriku sendiri. Ini bukan seperti aku akan melakukan sesuatu yang salah. Benar kan? BENAR?

Aku berjalan menuju salah satu rak dan mengambil kotak P3K. Aku duduk bersimpuh di salah satu sisi ranjang dan memperhatikannya. Dia tidak akan terbangun―syukurlah. Aku melepaskan kedua sepatunya dengan hati-hati, dan aku membuka kotak P3K-nya dan mengambil perban dan mulai membalut pergelangan kakinya yang membengkak dengan itu, mengangkatnya dengan perlahan dan meletakkannya di atas sebuah bantal.

Aku berbalik untuk melihat jaketnya. Jika dia tertidur, setidaknya ia harus merasa nyaman, kan? Aku membuka resleting jaketnya dan melepaskannya dari tubuhnya. Dia bergerak sebentar.

"Mhmm..." Dia menggumam dan aku membeku, wajahku tepat berada di atas wajahnya. Dia mengerutkan hidungnya―aku berharap bisa mengambil fotonya―sebelum membuka mulutnya dan kembali terlelap.

Aku mendesah lega, meletakkan jaketnya di kursiku, memainkannya secara perlahan dengan jemariku. Aku kembali lagi pada juniorku ini, membuka kancing pada bagian teratas kaos polonya agar ia bisa bernafas dengan lebih baik. Aku menelan ludah. Wow, kulitnya sangat mulus.

"Berhenti memikirkan hal seperti itu, Bodoh." Aku menggerutu dalam nafasku―sangat pelan hanya untuk kudengar seorang diri. Aku meraihnya dengan perlahan dan menggesernya, agar aku juga bisa tidur di atas kasur.

Whoa, tunggu. Aku akan berbagi ranjang dengan Chanyeol?

Well, ini memang bukan pertama kalinya bagi kami. Kami sudah berbagi tempat tidur beberapa kali selama kami masih kanak-kanak. Kurasa, satu-satunya hal yang berbeda hanyalah bahwa jantungku berpacu 100 mil per jam dan aku adalah seorang pria dewasa dengan hormon yang meluap.

Aku menutup mulutku, memejamkan mata dan mengambil nafas yang dalam.

"Tenang." Aku berkata pada diriku sendiri, berpindah ke ruang gantiku untuk mengganti pakaian. Jika dia tidur di sampingku, setidaknya aku ingin dia terbangun dan melihatku terlihat tampan.

Setelah mengganti pakaianku dengan sesuatu yang nyaman dan bagus, aku berpindah untuk mengambil tas kameraku yang kutinggalkan di atas lantai, meletakkannya di atas meja belajarku―dan untuk beberapa detik, aku memikirkan sesuatu yang mesum.

"Apa yang sedang kupikirkan?" Aku berujar pada diriku sendiri. "Ini adalah Chanyeol dan dia sedang tertidur!"

Aku kembali menatap ke arah orang yang kumaksud kemudian ke tas kameraku. Aku menyerah. Aku mengambil kamera dari tasnya dan memastikan sekali lagi apakah aku harus melakukannya atau tidak. Aku menjambak bagian belakang rambutku―satu foto tidak akan melukai, kan?

Aku meletakkan kamera pada posisi yang sesuai, memperbesarnya pada wajahnya yang terlelap.

Klik.

Oke. Lihat? Sudah selesai. Tidak ada yang terluka―

"Hmm." Chanyeol mengerutkan hidungnya sekali lagi. Oh Tuhan! Tunggu!

Klik!

Aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri. Aku mendesah, mematikan kamera dan meletakkannya di atas meja sebelum aku mengambil foto secara berlebihan. Aku kembali menatap pada si Jerapah yang menggumamkan sesuatu.

"Mhmm..." Ia mengigau. Anak ini pasti membuat banyak keributan saat tertidur.

Sekarang, apa lagi yang harus kulakukan?

Aku kembali duduk di atas ranjang, berusaha mencapai kepalanya untuk menyentuh rambutnya yang berwarna coklat keemasan. Wow, ini benar-benar lembut.

"Chanyeol," bisikku dan dia bergerak dengan pelan.

"Hmm..." Dia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. "Kris...Hyung..."

Jantungku berpacu. Dia memanggilku! Memanggil namaku! Aku menggigit bibirku, berusaha untuk tersenyum. Tanganku masih di rambutnya dan aku merendah―entah dari mana asalnya dorongan ini―tapi aku merendahkan tubuhku, hidungku nyaris menyentuh hidungnya.

Aku tersenyum, syukurlah dia kembali tertidur. Aku menggerakkan kepalaku ke atas, kukecup keningnya, kemudian ke bawah untuk memberi kecupan ringan di bibirnya.

Well, aku sudah melakukannya. Aku menciumnya. Aku benar-benar menjadi gay hanya karenanya.

Dia tidak bergerak dan nafasnya sangat pelan, rileks. Aku bisa merasakan bahwa secara refleks aku tersenyum.

"Tidur yang nyenyak, Chanyeol."

Bibirnya terangkat ke atas. Huh, bahkan dalam tidurnya, ia tersenyum.


to be continued


dee's note:

hey-ho. lama banget ya updatenya? hehe sow-ry. sedang ada masalah dengan translator di otak saya (loh)

anyway, sorry for the typos. maafkan juga kalau ada kalimat yang nggak dimengerti. I'll really try my best in translating this. bingung juga nyari kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi dalam cerita dan harus disesuaikan sama sastra Indonesia. fiuh ;-;

last but not least, keep giving me review?

p.s. I've tried my best on posted the link of this original story here. but it doesn't show up properly. for those, who are asking for the link, you can ask me via PM or askfm. thank you ^^