Dahulu kala, hiduplah seorang penyihir. Dia tidak baik ataupun jahat. Dirinya yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya singgah dari satu tempat ke tempat lain—untuk belajar tentunya. Selain belajar, penyihir itu juga suka melakukan eksperimen. Suatu hari, ia menciptakan pincoy, tetapi pincoy itu tidak bertahan lama. Kemudian ia terus bereksperimen sampai pincoy yang ia ciptakan sempurna. Dan ketika pincoy itu ingin berubah menjadi manusia, ia cukup mencari manusia lain yang juga mencintainya dan dengan bonus—jika manusia dan pincoy itu berciuman maka ia dapat hidup di daratan, tetapi masih bisa menjadi pincoy jika ia terkena air.
And the story continue...
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Three Magic Words © Bianca Jewelry
Pic © tumblr
Rating : T for Romance
Warning : BL. Alternative Universe. OOC (maybe). Businessman!AomineXPincoy!Kise. 25y.o!Businessman!KurokoX10y.o!Innocent!Pincoy!Kagami.
Happy reading!
.
Pincoy merah yang sedari tadi gelisah di dalam air dan terus menatap ke arah pintu utama rumah itu sukses mengalihkan perhatian Kuroko dari buku yang dibacanya.
"Ada apa Kagami-kun?"
Kagami menggeleng.
"Apakah kau menunggu kedatangan Aomine-kun?"
Kagami tidak menjawab. Pipinya sedikit merona. Lalu, bel rumah Kuroko berbunyi.
"Sepertinya itu Aomine-kun, sebentar ya," kata Kuroko lalu pergi menuju pintu rumahnya. Dan itu memang benar Aomine. Seperti biasa, ia mampir sebentar ke rumah Kuroko. Sekadar untuk menanyakan kabarnya ataupun kabar Kagami. Sekitar setengah jam ia berada di rumah Kuroko dan dalam setengah jam itu pula Kagami diam-diam memperhatikan Aomine. Cara Kagami menatap Aomine membuat Kuroko tidak nyaman.
"Aku pulang dulu ya. Terima kasih atas tehnya," kata Aomine yang bangkit berdiri.
"Terima kasih juga sudah mengunjungiku, Aomine-kun," kata Kuroko sambil berjalan di sisi Aomine untuk mengantarnya ke pintu.
Kagami menyembulkan kepalanya dari dalam air. "Aomine!" panggilnya.
Aomine berbalik lalu menatap Kagami. "Apa?"
Kagami diam sebentar. "Tidak jadi. Sampai jumpa!" katanya lalu kembali masuk ke dalam air.
"Sampai jumpa," balasnya, lalu meninggalkan rumah Kuroko.
.
Semakin jarang Aomine mengunjungi Kuroko, maka semakin besar rasa rindu Kagami terhadap Aomine. Dan semakin sering Aomine mengunjungi Kuroko maka semakin besar rasa cinta Kagami pada Aomine. Walaupun Kagami tahu Aomine tidak pernah menatapnya seperti Kagami menatap Aomine. Dan Kagami bertekad untuk menyatakan perasaannya kepada Aomine pada kunjungan Aomine entah yang keberapa setelah Kagami tinggal di rumah Kuroko, walaupun ia tidak tahu apa akibatnya jika menyatakan kepada orang yang salah, setidaknya ia takkan menyesal jika mungkin setelahnya ia takkan berada di dunia ini lagi.
"Aomine," panggil Kagami saat Kuroko berada di dapur.
Aomine menoleh ke arah Kagami. "Ya?"
"Bisa kau kemari? Aku ingin bicara."
Aomine melangkahkan kakinya menuju akuarium Kagami. Ia hanya berdiri di depan akuarium Kagami lalu mendongak menatapnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Apakah... Apakah kau sudah memiliki seseorang yang juga mencintaimu?"
"Mungkin ada, mungkin juga tidak ada," jawab Aomine. "Kenapa?"
"Aku hanya... hanya..." kata Kagami gugup.
Aomine menunggu kata-kata Kagami dengan sabar.
"Aku mencintaimu!" kata Kagami cepat dengan rona merah di pipi. Ia memejamkan matanya.
Aomine sedikit terkejut dengan perkataan Kagami. Ia menyembunyikan keterkejutannya lalu menghela napas. "Maaf Kagami, tapi aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku pulang dulu," katanya kemudian mengambil tas kerjanya yang berada di sofa lalu berjalan ke arah dapur dimana Kuroko sedang menyiapkan teh untuk Aomine.
"Aku pulang dulu Kuroko," pamit Aomine.
"Eh? Ada apa Aomine-kun? Kenapa terburu-buru?"
"Tidak apa-apa. Hanya tiba-tiba mengantuk. Kau tidak perlu mengantarku. Sampai jumpa!" kata Aomine lalu meninggalkan rumah Kuroko.
Kuroko yang bingung dengan sikap aneh Aomine hanya menatap kepergian Aomine dari dapur lalu memutuskan untuk kembali ke ruang tamu. Wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat air dalam akuarium Kagami yang tiba-tiba berubah menjadi hitam secara perlahan dan Kagami yang tenggelam secara perlahan juga. Ia berlari menuju akuarium dan menaiki tangga di sebelahnya lalu cepat-cepat menarik tangan Kagami sebelum ia benar-benar berada di dasar akuarium.
"Kagami-kun! Kagami-kun!" panggil Kuroko panik sambil menepuk pelan pipi Kagami. Sebelah tangan Kuroko melingkari bahu Kagami.
Mata Kagami membuka perlahan lalu ia tersenyum. "Kuroko..."
"Apa yang terjadi? Kau kenapa?"
Kagami menggeleng lemah.
"Apa yang dapat kulakukan agar kau selamat?" Suara Kuroko bergetar.
"Cium aku," kata Kagami lemah dengan mata yang hampir menutup.
Keraguan menguasai Kuroko. "Apakah tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kalau Kuroko yang melakukannya. Cium aku," kata Kagami dengan kesadaran yang semakin menipis.
Kuroko menciumnya lembut. "Kagami-kun?"
Kuroko meletakkan jarinya di depan hidung Kagami. Napas pelan menerpa jarinya lalu Kuroko menghela napas lega. Ia mendekap Kagami sekilas lalu mengecup puncak kepalanya. Setelah itu ia mengangkat Kagami keluar dari air dan membawa Kagami ke tempat tidurnya.
.
Aomine membanting pintu rumahnya lalu menghempaskan diri ke sofa di ruang tamunya, membuat Kise berjingkat kaget di dalam air dan mengerjap bingung. Aomine barusan pulang dari rumah Kuroko dan mendapat pernyataan cinta dari bocah pincoy merah membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Aominecchi?" panggil Kise.
Aomine meliriknya membuat Kise takut. Selama ini Aomine tidak pernah menatapnya dengan cara seperti itu. Lalu Aomine menghela napas. "Maaf, apakah kau takut?"
Kise hanya tersenyum. Senyum itu membuat Aomine merasa lebih baik. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju tangga di sebelah akuarium Kise.
Aomine berdiri di tangga. "Apakah kau bisa menjadi manusia?" tanya Aomine saat ia bisa melihat Kise dari dekat.
Kise mengangguk. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Aominecchi?"
Aomine menggeleng. "Tidak apa-apa. Bagaimana caranya?"
"Aku harus mencintai seseorang dan tentu saja orang itu harus mencintaiku juga. Lalu kami harus berciuman," terang Kise.
Aomine memegang kepala Kise dan menyelipkan jemarinya di antara rambut pirang Kise. Aomine menatap Kise lekat membuat pipi si pirang merona. "Apakah kau ingin menjadi manusia?"
Kise mengangguk ragu.
"Aku mencintaimu," kata Aomine mantap lalu mengecup bibir Kise lembut.
Mata Kise tiba-tiba terasa berat dan ia akan tenggelam kalau Aomine tidak menahannya. Lalu Aomine menariknya keluar dari dalam air dan menggendongnya. Aomine bisa melihat senyum Kise dalam tidurnya.
.
Malamnya, Kise terbangun dari tidurnya. Baju yang kebesaran sudah melekat di tubuhnya lalu ia melihat tangannya kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat kakinya. Ekornya sudah berubah menjadi kaki jenjang yang putih dan mulus. Kise menyentuh bibirnya dan kejadian Aomine yang menciumnya berkelebat di otaknya. Wajahnya memerah lalu Kise menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha melupakan kejadian tadi. Ia melihat sekelilingnya lalu menemukan Aomine yang tidur di sofa di kamar tidur itu. Kise berjalan ke arah Aomine lalu ia berlutut di hadapan Aomine dan menusuk-nusuk pipi Aomine dengan lembut. Aomine mengerang pelan karena merasa ada yang mengganggu tidurnya lalu mengerjapkan mata.
"Kise?"
"Iya, ini aku Aominecchi."
Aomine bangun dari tidurnya lalu menggosok matanya. "Ada apa? Tidak bisa tidur?" Aomine mengusap kepala Kise.
"Tiba-tiba aku terbangun. Kenapa Aominecchi tidur di sini?"
"Aku hanya tidak ingin kau kaget jika nanti kau terbangun lalu menemukanku ada di sebelahmu."
Kise tertawa kecil.
"Kenapa tertawa?" tanya Aomine tidak terima.
Kise menggeleng dan tersenyum. "Itu alasan bodoh Aominecchi. Bilang saja kau malu tidur di sebelahku."
Aomine mencubit kedua pipi Kise. "Coba katakan sekali lagi."
"Aduh, sakit Aominecchi." Kise menarik tangan Aomine agar melepaskan cubitannya. "Ampun, maafkan aku."
Aomine berhenti mencubit Kise lalu mengacak rambut Kise. Ia tersenyum. "Tidurlah kembali," katanya.
Kise menggerutu lalu merapikan rambutnya. "Tidak mau kalau Aominecchi tidak tidur di sampingku."
"Oke, oke," kata Aomine lalu merangkulnya menuju tempat tidur. "Selamat tidur," ucapnya setelah berbaring dan membelakangi Kise.
Kise beringsut mendekati Aomine. "Selamat tidur."
.
Keesokan harinya, Aomine terbangun karena mendengar suara gaduh dari dapur. Lalu ia berjalan menuju dapur untuk melihat apa yang terjadi.
"Pagi, Aominecchi!" sapa Kise dengan senyuman khasnya.
"Pagi," balasnya lalu mendudukkan diri di kursi meja makan. "Kau bisa memasak?" tanya Aomine ragu-ragu.
"Tentu saja bisa! Jangan meremehkanku Aominecchi!" kata Kise sambil menghidangkan masakannya dan duduk di depan Aomine. Nasi kari ayam. "Cobalah."
Aomine menyendokkan nasinya ke dalam mulut lalu mengunyahnya.
"Bagaimana?"
Aomine memasang wajah datar. "Bagaimana ya?"
Kise memajukan bibirnya, membuat Aomine tertawa. "Aominecchi jahat!" Kise merajuk.
"Enak kok, lezat malah!" kata Aomine lalu menyendok kembali nasinya. "Kau tidak makan?"
"Nanti saja, belum lapar," kata Kise lalu memperhatikan Aomine yang asyik melahap kari buatannya.
Tiba-tiba Aomine menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Kise. "Makanlah."
"Tidak usah," Kise tersenyum gugup.
"Makanlah," ulang Aomine sedikit memaksa.
Kise menatap Aomine lalu menerima suapan Aomine.
"Lagi?" tawar Aomine.
Kise menggeleng. "Aominecchi saja. Nanti Aominecchi kelaparan di kantor."
"Ya sudah kalau tidak mau," katanya lalu melanjutkan makannya.
Kise hanya tersenyum dan memperhatikan Aomine yang melanjutkan makannya. Setelah selesai, Aomine mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Aku pergi dulu ya, sampai nanti," kata Aomine.
"Selamat bekerja Aominecchi, sampai nanti!" balas Kise.
Namun, Aomine belum beranjak pergi. Ia menatap Kise lekat.
"Kenapa Aominecchi? Apa kau melupakan sesuatu?" tanya Kise.
"Kau belum memberiku ciuman selamat pagi," kata Aomine.
Wajah Kise memerah. Lalu ia beringsut mendekati Aomine dan mengecup pipinya. Lalu mendorong Aomine. "Sudah sana pergi. Nanti terlambat."
Aomine menyeringai. "Aku pergi dulu."
"Ya. Hati-hati di jalan," balas Kise dengan wajah yang masih merona.
.
Di Minggu pagi itu Kise tampak bersemangat. Kise memang selalu bersemangat sih, kontras sekali dengan pemuda berambut biru yang sedang diseret Kise.
"Ayo Aominecchi!"
"Santailah Kise, kolam renangnya tidak akan pergi kemana-mana," kata Aomine malas sambil menggosok sebelah matanya. Ia masih mengantuk.
Lalu Kise melompat ke kolam renang, seketika tungkainya berubah menjadi ekor cantik berwarna emas. Sementara Aomine hanya menatapnya dari pinggir kolam renang.
"Aominecchi!" panggil Kise dengan tangan terulur.
Aomine tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu masuk ke kolam renang dengan perlahan.
"Kau tidak bilang ada kolam seluas ini di rumahmu. 'Kan dulu aku bisa tinggal disini," kata Kise.
"Tempat ini terlalu terbuka. Nanti kau kedinginan," kata Aomine sambil bersandar di tepi kolam. "Ceritakan tentang dirimu Kise."
"Apa yang ingin kau dengar?" tanya Kise dengan senyumnya.
"Darimana kau belajar memasak?"
"Dulu aku pernah menjadi manusia lalu ada yang mengajariku memasak," kata Kise. Senyumnya pudar dan digantikan dengan raut sedih.
Aomine tidak menyukai ekspresi yang dibuat Kise. "Apakah pincoy sepertimu bisa menjadi manusia dua kali?"
Kise mengangguk pelan. "Mungkin bisa lebih dari dua kali jika yang menciptakan kami ingin menghidupkan kami kembali."
"Dengan kata lain dulu kau pernah meninggal?"
Kise mengangguk lagi. "Jika orang yang kucintai meninggal maka aku akan meninggal juga."
Aomine diam, ia tidak suka dengan keadaan ini. "Berapa umurmu?"
Kise menunjukkan tiga jarinya.
"Tiga puluh tahun?" tebak Aomine. Tapi mustahil rasanya mengingat Kise pernah hidup dulu.
Kise menggeleng dan tersenyum. "Sekitar tiga ratus tahun Aominecchi. Aku sudah tua," kata Kise lalu tertawa kecil.
"Kau bohong!" kata Aomine tidak percaya lalu ikut tertawa.
"Aku serius."
Aomine tampak terkejut. "Tapi kau sangat cantik dan tak kelihatan seperti orang yang berumur tiga ratus tahun."
Kise tertawa kecil. "Terima kasih, tetapi percayalah Aominecchi," kata Kise meyakinkan Aomine lalu menghela napas.
Mereka berdua tiba-tiba diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Orang itu... Pasti sangat berharga untukmu ya..." kata Aomine.
Kise mengangguk sangat pelan lalu ia merasakan tangan Aomine menarik kepalanya agar ia menatap Aomine.
"Lupakan orang itu dan lihat aku. Aku disini bersamamu."
Wajah Kise memerah. Ia bisa merasakan Aomine mendekatkan kepalanya perlahan lalu bibir mereka bertemu dalam satu kecupan singkat.
"Terima kasih Aominecchi," kata Kise lalu tersenyum. "Oh ya!" lanjut Kise seakan teringat sesuatu.
"Apa?"
"Apakah Aominecchi tahu tentang pincoy berambut merah?"
"Maksudmu Kagami?" tanya Aomine dengan alis terangkat sebelah.
"Darimana Aominecchi tahu namanya?" Kise mengerjap bingung. "Seharusnya ia belum bisa berbicara."
"Oh, Kuroko yang memberinya nama itu. Kuroko itu temanku," terang Aomine. "Apakah kau ada hubungan dengan pincoy merah itu?"
"Yah, bisa dibilang dia adikku."
Aomine mengangguk paham. "Kau ingin mengunjunginya?"
Mata Kise berbinar-binar. "Bolehkah aku mengunjunginya?"
"Tentu saja," jawab Aomine lalu tersenyum. "Sekarang atau nanti?"
"Sekarang saja!" kata Kise kembali semangat.
"Ayo bersiap lalu kita berangkat!"
.
"Yo Kuroko!" sapa Aomine saat pintu rumah Kuroko terbuka untuknya.
"Halo Aomine-kun," balasnya. "Dan siapa wanita cantik ini?"
"Dia Kise. Si pincoy kuning."
"Halo. Aku Kise dan maaf aku bukan wanita. Siapa namamu?" tanya Kise ramah kepada Kuroko.
"Maaf! Aku Kuroko Tetsuya. Salam kenal," kata Kuroko memperkenalkan diri. "Masuklah kalian berdua."
"Salam kenal Kurokocchi. Permisi ya!" kata Kise ceria.
Setelah Aomine dan Kise mendudukkan diri di sofa serta Kuroko menyuguhkan teh untuk mereka berdua, Kuroko mulai bertanya. "Jadi, apa yang membawa kalian kemari?"
"Aku ingin bertemu Kagamicchi, mana dia?"
"Ikut aku," ajak Kuroko menuju kamar tidurnya.
.
Kise yang melihat Kagami terbaring di kasur langsung menghampiri dan menggenggam tangannya. "Kenapa dia?" tanya Kise sambil menatap Kuroko.
"Entahlah. Tiba-tiba air akuariumnya berubah menjadi hitam dan ia hampir tenggelam."
"Aominecchi apa kau tahu sesuatu?" tanya Kise pada Aomine dengan pandangan menyelidik.
Aomine terkejut ditanyai seperti itu secara tiba-tiba. Ia meringis. "Apakah menyatakan cinta kepada orang yang salah bisa membuatnya seperti itu?"
Kuroko dan Kise menatapnya.
"Ia menyatakan cinta padamu?" tanya Kuroko.
Aomine mengangguk.
"Kau harus terus merawatnya Kurokocchi. Ia akan sembuh dengan kasih sayang yang tulus dari orang yang tepat."
"Apakah tidak apa-apa jika Kagami-kun tidak berada di dalam air?"
"Basahi saja tubuhnya dengan handuk basah. Itu akan membantu," kata Kise. "Besok aku akan ke sini untuk menjenguknya. Tidak apa-apa 'kan, Aominecchi?" tanya Kise meminta persetujuan Aomine.
Aomine mengangguk. Lalu mereka meninggalkan kamar Kuroko dan berbicang sebentar kemudian Aomine dan Kise meninggalkan rumah Kuroko.
.
Berkat Kise yang menjenguk Kagami setiap hari dan Kuroko yang merawat Kagami dengan sayang membuat Kagami terbangun lebih cepat. Karena menurut Kise, bisa makan waktu berbulan-bulan untuk pincoy bangun dari tidurnya akibat menyatakan cinta pada orang yang salah.
"Kuroko," panggil Kagami lemah. Matanya setengah terbuka.
"Kau sudah bangun," kata Kuroko kemudian memeluk Kagami lembut lalu megecup puncak kepalanya.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Hampir satu minggu," kata Kuroko sambil menggenggam tangan Kagami erat.
"Maaf telah merepotkanmu." Kagami mengalihkan perhatiannya ke Kise yang berada di sebelah Kuroko. "Siapa dia?"
"Apakah kau mengingatku, Kagamicchi? Aku Kise," kata Kise lalu mengusap kepala Kagami.
"Oh, kakak. Maafkan kelakuan bodohku sehingga merepotkanmu juga," kata Kagami. "Aku mengantuk," lanjut Kagami sambil menggosok matanya dengan sebelah tangan yang bebas.
"Tidurlah Kagamicchi."
"Maaf tidak bisa menemanimu bicara," kata Kagami lalu menutup matanya dan kembali terlelap.
.
"Halo?"
"Halo, Kise-kun."
"Kurokocchi!" sapa Kise riang. "Ada apa menelepon?"
"Apakah kau tahu kalau hari ini Aomine-kun berulang tahun?" tanya Kuroko.
Kise diam, merasa kecewa dengan dirinya sendiri. "Tidak. Apakah Kurokocchi ingin merayakannya?"
"Iya, begitu rencanaku. Apakah kau mau memberikan pesta kejutan untuk Aomine-kun?"
"Boleh! Apa yang harus kulakukan?" tanya Kise antusias dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Nanti akan kubawakan bahannya sepulang dari kantor dan kita akan menghias rumahmu."
"Oke, kutunggu Kurokocchi. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa Kise-kun."
Dan sambungan telepon itu terputus.
.
Menjelang sore, Kuroko dan Kise mulai menghias rumah Kise—kalau bisa dibilang begitu—dan menyiapkan kue ulang tahun yang sudah dibeli Kuroko. Lalu mereka menunggu Aomine pulang, tapi setelah pukul delapan lewat, tak ada tanda-tanda Aomine akan pulang. Padahal biasanya Aomine akan pulang di bawah jam delapan.
"Kok Aominecchi belum pulang ya?" tanya Kise gelisah.
"Mungkin dia sibuk, coba saja telepon ponselnya," saran Kuroko.
Kise berjalan ke arah pesawat telepon di rumahnya lalu memencet nomor ponsel Aomine. Ia menunggu Aomine menjawabnya.
"Halo Kise? Ada apa?"
"Aominecchi kenapa belum pulang?" tanya Kise khawatir.
"Kau merindukanku?"
Kise bisa merasakan Aomine sedang menyeringai. "Mungkin. Jam berapa kau akan pulang?"
"Tidak tahu. Kerjaanku masih banyak. Akan kuusahakan agar bisa selesai dalam satu atau dua jam," kata Aomine lelah.
"Baiklah Aominecchi. Sampai nanti dan selamat bekerja," kata Kise kemudian tersenyum.
"Terima kasih. Sampai nanti," balas Aomine lalu menutup telepon.
"Kata Aominecchi masih banyak kerjaan," lapor Kise pada Kuroko.
Kuroko ber-oh ria. Lalu mereka menunggu Aomine dengan menonton televisi. Kise yang mulai bosan dan mengantuk menunggu Aomine merebahkan dirinya di lantai berkarpet.
"Aku tidur sebentar ya Kurokocchi. Bangunkan aku kalau Aominecchi sudah datang."
Kuroko mengiyakan permintaan Kise dan kembali menonton televisi.
.
Hampir jam sepuluh malam ketika Aomine pulang ke rumahnya. Ia melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan terkejut mendapati Kuroko berada di sana, Kise yang terlelap di sebelahnya, dan ruang tamunya yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa ini?" tanya Aomine bingung.
"Oh, sudah pulang Aomine-kun?"
Aomine mengangguk dan mencoba membangunkan Kise sementara Kuroko berjalan ke dapur Aomine untuk mengambil kue ulang tahun dan menyalakan lilin. Lalu Kuroko meletakkan kue itu di meja ruang tamu.
"Selamat ulang tahun Aomine-kun."
Aomine mengerjap bingung lalu mencoba mengingat tanggalan lalu tersenyum samar. Ia telah melupakan ulang tahunnya hari ini. "Terima kasih Tetsu."
"Aominecchi sudah pulang?" tanya Kise lalu bangkit dari tidurnya sambil menggosok matanya.
"Maaf aku lama," kata Aomine lalu mengusap kepala Kise.
Kise menggeleng lalu melirik kue yang sudah berada di atas meja di dekatnya. "Selamat ulang tahun Aominecchi."
"Terima kasih Kise."
"Ayo buat permohonan dan tiup lilinya Aomine-kun," kata Kuroko.
Aomine memejamkan mata lalu meniup lilinnya kemudian memotong kue itu. Suapan pertama ia berikan kepada Kise yang menyambutnya dengan malu-malu. Kemudian mereka bertiga berbincang sampai hampir tengah malam sambil memakan camilan yang ada.
"Aku rasa aku harus pulang sekarang," kata Kuroko setelah membantu Kise dan Aomine membereskan sampah di ruang tamu itu.
"Apa tidak sebaiknya kau menginap?" tanya Aomine.
"Aku pulang saja." Kuroko bersikeras.
"Kuantar kalau begitu," tawar Aomine. Kuroko menyetujuinya, daripada ia tidak diperbolehkan pulang.
"Aku ikut," kata Kise.
Aomine berjalan menuju kamarnya lalu keluar dengan membawa jaket kemudian menyodorkannya kepada Kise. "Pakai ini."
Kise mengambil jaket itu lalu memakainya.
"Ayo kita pergi sekarang," kata Aomine.
Dalam perjalanan menuju rumah Kuroko, hanya Aomine dan Kuroko yang berbicara tentang pekerjaan mereka. Kise hanya diam karena tidak mengerti apa yang Aomine dan Kuroko bicarakan.
"Terima kasih sudah mengantarku Aomine-kun, Kise-kun. Maaf merepotkan kalian.
"Tidak apa-apa Kurokocchi. Sampai jumpa."
"Terima kasih sudah merayakan ulang tahunku Tetsu. Kami pulang dulu," pamit Aomine.
"Hati-hati di jalan," kata Kuroko lalu menunggu mereka menghilang dari hadapannya barulah ia masuk ke dalam rumahnya.
.
"Kenapa baru pulang jam segini Kuroko?" tanya Kagami setelah Kuroko menginjakkan kaki di rumahnya.
Kuroko menatap Kagami datar. "Pestanya baru selesai, Kagami-kun. Maaf, apakah kau kesepian?" tanya Kuroko yang mendekati akuarium Kagami.
Kagami diam sambil menatap Kuroko. "Tidak. Jangan dekat-dekat kepala kuning itu lagi."
"Dia yang selalu mendekatiku Kagami-kun. Lagipula kami tidak ada hubungan apa-apa."
"Pokoknya jangan dekat-dekat dia lagi!" seru Kagami. Ia merajuk.
"Kau... Cemburu?" tanya Kuroko. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
Wajah Kagami merona. "Tidak," katanya cepat. "Lebih baik kau tidur," lanjutnya lalu memasukkan kepalanya ke dalam air dan meringkuk di dasar akuarium.
"Selamat malam Kagami-kun," kata Kuroko dengan senyum lebih lebar.
.
Aomine berjalan di depan Kise dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka setelah mengantar Kuroko. Tak ada satu pun yang mengeluarkan suara sampai Aomine mengulurkan tangan kirinya kepada Kise dan menoleh padanya.
"Mau gandengan?" tanya Aomine sedikit gugup.
Kise memandang Aomine lalu beralih ke tangannya. Ia menyambut uluran tangan Aomine, menjalin jemarinya dengan jemari Aomine dan tersenyum tipis. Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan ke rumah mereka.
.
"Aominecchi tidak mandi dulu?" tanya Kise setelah sampai di rumah mereka.
"Aku cuci muka saja," kata Aomine sambil berjalan menuju toilet lalu menuju kamarnya.
Aomine langsung merebahkan diri setelah mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia sudah akan tidur ketika mendengar pintu kamarnya yang dibuka lalu ditutup kembali.
"Kis—" Kalimat yang ingin diucapkan Aomine tertahan di ujung tenggorokan saat melihat Kise di dekat pintu. Wajah Aomine merona samar akibat kulitnya yang gelap.
Wajah Kise ikut memerah akibat Aomine yang menatapnya. "Apakah aku terlihat aneh?" tanyanya sambil mengusap kepalanya. Kise memakai babydoll unyu berwarna kuning pucat dan bergambar kelinci—yang cukup mengekspos kaki jenjang dan tangannya yang mulus—serta sandal boneka berbentuk kepala kelinci.
Aomine berdeham. "Tidak. Kau cantik kok," pujinya lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Sini."
Kise mendekati Aomine lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Aomine sambil beringsut mendekati Kise. Kepala Aomine berada di pangkuan Kise.
"Dari Kurokocchi," jawab Kise—tidak berani menatap Aomine.
Aomine mengubah posisinya menjadi duduk lalu memenjarakan tubuh Kise dengan kedua tangannya. Matanya mengunci mata Kise. "Mau menjadi hadiah untukku?" tanya Aomine seduktif.
Kise dapat melihat seringai Aomine dan entah kenapa suara Aomine terdengar seksi di telinganya. "Ba-bagaimana caranya?"
"Menghabiskan malam bersama mungkin?"
"U-un. Jika itu keinginan Aominecchi."
.
"Kurokocchi!" seru Kise lalu memeluk tubuh Kuroko.
Kagami menatap Kise tidak suka dari dalam akuarium. Kagami meringkuk di dalam air dan berusaha agar tidak melihat mereka.
"Kagamicchi!" panggil Kise dari arah tangga.
Kagami mendekati Kise lalu menyemburnya dan menjambak rambut panjang Kise. Kemudian Kagami kembali masuk ke dalam air.
"Sakit Kagamicchi," kata Kise sambil memegang rambutnya. Matanya berkaca-kaca. "Apakah aku melakukan suatu kesalahan?" tanya Kise hati-hati.
Kagami bergumam tidak jelas dari dalam air, bahasa yang hanya dimengerti oleh Kise yang dapat diterjemahkan, "Jangan dekat-dekat Kuroko. Aku tidak suka."
"Maaf Kagamicchi. Aku pulang saja kalau begitu," kata Kise dengan raut sedih lalu berpamitan pada Kuroko.
Kagami jadi merasa bersalah melihat raut kakaknya itu. Sudah disembur, dijambak, dimarahi pula. Tapi Kagami puas, siapa suruh dekat-dekat dengan Kurokonya.
"Kagami-kun," panggil Kuroko dari tangga. Ekspresinya datar namun auranya menakutkan.
Kagami menyembulkan kepalanya dari dalam air dengan takut-takut.
"Apa yang kau lakukan pada Kise?"
"Aku hanya memperingatinya." Kagami memajukan bibirnya.
"Kau tidak sopan Kagami-kun. Dia itu 'kan kakakmu."
"Itu salahnya karena dia mendekatimu!" bentak Kagami.
"Kau bisa mengatakannya baik-baik 'kan. Tidak perlu menyembur dan menjambaknya seperti itu!" Kuroko balas membentak.
"Kenapa kau jadi membelanya sih?!" Kagami tidak terima dibentak oleh Kuroko.
Kuroko menampar Kagami pelan. Kagami tak menyangka Kuroko akan menamparnya. Kagami menatap Kuroko dengan pandangan terluka.
"Maaf, Kagami-kun," sesal Kuroko.
"Sana tinggal di rumah Aomine kalau kau lebih membela Kise!"
Kuroko menarik tangan Kagami yang akan masuk ke dalam air. Ia membalik tubuh Kagami dengan cepat dan mencengkeram bahunya. "Aku tidak membela Kise-kun, Kagami-kun. Aku menganggapnya seperti kakakku sendiri. Kau seharusnya sudah tahu 'kan siapa yang kucinta," kata Kuroko. "Aku mencintaimu, Kagami-kun," lanjut Kuroko lalu mengecup bibir Kagami. Dan seketika Kagami hilang kesadaran.
.
"Sudah bangun, Kagami-kun?" tanya Kuroko dari tepi tempat tidurnya. Ia mengelus kepala Kagami.
Kagami mengangguk kikuk lalu mendudukkan diri di sebelah Kuroko.
"Maaf aku tadi menamparmu," kata Kuroko.
Kagami menggeleng. "Aku yang salah. Maafkan aku."
Kuroko kembali mengelus kepala Kagami dengan sayang. "Istirahatlah. Masih ada kerjaan yang harus kuselesaikan."
Kagami kembali berbaring lalu Kuroko menyelimutinya. Kuroko tersenyum lalu mengecup kening Kagami kemudian meninggalkan Kagami dengan wajah yang memerah.
.
"Kurokocchi~" sapa Kise yang kembali bermain di rumah Kuroko. Efek bosan akibat ditinggal Aomine lembur. Ia akan memeluk Kuroko namun Kagami sudah pasang badan di depan Kuroko.
"Jangan dekat-dekat!" seru Kagami galak lalu menginjak kaki Kise.
"Sakit Kagamicchi~, galak sekali sih," kata Kise sambil mengeluarkan air mata buayanya. Lalu memeluk Kagami sayang.
"Lepas!" Kagami meronta dari pelukan Kise.
"Sudah, kalian ini," lerai Kuroko. "Akurlah dengan kakakmu, Kagami-kun."
"Tidak mau," kata Kagami lalu melengos pergi.
Untuk seterusnya, Kagami dan Kise bagai anjing dan kucing jika bertemu.
.
Kise yang sedari tadi menonton televisi merasa risih melihat Aomine yang tidak bisa diam di sebelahnya.
"Ada apa Aominecchi?" tanya Kise gemas.
"Tidak apa-apa Kise."
Selanjutanya Kise kembali menatap televisi, tapi tak sepenuhnya memperhatikan acara yang ditayangkan dan sesekali melirik Aomine dari sudut matanya. Ia kepo ada apa dengan Aominecchinya.
"Kise," panggil Aomine setelah hanya suara televisi yang menemani mereka sejak tadi.
"Hm?"
"Menikahlah denganku."
Tubuh Kise menegang di sebelah Aomine dan ia menolehkan kepalanya ke arah Aomine sangat pelan. "Kau... Tidak... Bercanda 'kan? Menikah itu upacara yang sangat sakral bagi pincoy. Mereka yang menikah dengan pincoy tidak boleh saling mengkhianati dan akan hidup bersama sampai mati."
"Aku serius," kata Aomine. "Akan kuturuti jika itu untukmu."
Kise tersentuh oleh kalimat Aomine. Air matanya hampir menetes.
"Menikahlah denganku, Kise," ulang Aomine dan meraih bahu Kise agar berhadapan dengannya. Aomine meraih tangan kiri Kise lalu menyematkan cincin dengan berlian mungil di atasnya ke jari manis Kise.
Kise menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang bebas lalu mengangguk pelan.
.
"Kau siap?" tanya Kagami pada Kise yang baru saja selesai dirias.
Kise mengangguk kikuk.
"Kau tampak cantik," puji Kagami. Memang, Kise tampak cantik dengan riasan yang kalem dan gaun pengantin putih selututnya. Modelnya simpel dan melekat pas di tubuhnya yang ramping. Rambut pirangnya disanggul dan pada bagian kanan dan kiri dibiarkan tergerai sedikit. Hiasan baby breath yang menempel di rambutnya makin mempercantik penampilannya. Tak lupa heels putih setinggi tujuh senti melekat manis di kakinya.
"Tumben kau memujiku, Kagamicchi."
Semburat merah menghias wajah Kagami. "Aku hanya berusaha mengurangi kegugupanmu!"
Kise tertawa kecil dan mengelus kepala Kagami. "Terima kasih Kagamicchi."
.
Upacara pernikahan berlangsung lancar dan setelahnya Aomine dan Kise menghampiri kerabat-kerabatnya. Aomine dan Kise memilih pesta taman sebagai pesta pernikahannya. Lalu Aomine dan Kise menghampiri Kuroko dan Kagami.
"Terima kasih sudah datang Tetsu, Kagami," kata Aomine dengan tangan melingkari pinggul Kise. Aomine juga tampak tampan dengan tuxedo putih yang melekat pas di tubuhnya.
"Selamat menempuh hidup baru Aomine-kun, Kise-kun. Semoga kalian berbahagia."
Kise memberikan buket pengantinnya pada Kagami. "Susul aku, Kagamicchi!" katanya sambil tersenyum.
Kagami mengambil buket pengantin itu lalu memberikannya pada Kuroko. "Tunggu aku sepuluh tahun lagi, Kuroko. Aku pasti akan menikahimu," kata Kagami lembut.
Kalimat Kagami membuat jantung Kuroko berdebar dan wajahnya memerah. Kagami dengan rambut panjangnya yang dikuncir serta tuxedo hitam tampak tampan dan keren mendadak di mata Kuroko. Dan Kagami menepati janjinya sepuluh tahun kemudian.
.
FIN
.
ENDINGNYA APA-APAAN.
TOLONG OTAK SAYA HAHAHA.
MET ULTAH YE BABANG AHO, KISE LOVES YOU MUAH /heh
rea, ide kamu saya pakai ya :)
AoKagaKuroLover, pincoy itu mermaid versi laki-laki :D
OnLyMinO, mereka masih punya tinggi kok. Untuk Kise, tetep seperti aslinya. 189cm (baik ketika menjadi manusia ataupun pincoy), untuk Kagami karena berhubung masih 10 tahun, kira-kira 150cm-an. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan akhirnya ngelamar Kuroko (ciyee), dia jadi 190cm juga. Lalu rambutnya dipotong nanti. Jadi seme asli gitu (tapi tetep tsundere kok), kalo Kise tetep rambutnya panjang gelombang. Bayangin aja fem!Kise dengan rambut panjang sepinggang :)
Ini mungkin ada prequelnya sih, untuk masa lalu Kise (waktu dia pernah jadi manusia dulu), bisa di-update dalam waktu cepat ataupun lambat /lah
Kalo KagaKuro saya gak jamin mau buat, mungkin segitu aja kali heheh /slap
Terima kasih atas review, favorite, dan follownya :D
Bila masih ada yang kurang jelas boleh ditanyain di kolom review atau PM, review lagi bila berkenan ya! XD
Maaf bila ada typo(s).
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa dan salam biru-kuning!
