"Apakah dia membenciku, Paman?"

Felicia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Setidaknya, tidak jatuh saat Antonio berada di sekitarnya. Antonio menggeleng, "Tentu tidak, Feli. Tidak. Pasti dia memiliki alasan lain pergi dari kerajaannya. Dan yang pasti bukan karena alasan dia membencimu."

Felicia diam. Dia tak kuasa lagi mengeluarkan suara yang dia khawatirkan justru akan membuatnya makin pilu dan menangis tersedu. Dia duduk dengan sedih di kursinya sambil menatap perapian yang apinya kini nyaris redup karena kekurangan kayu. Antonio berdiri di sampingnya, mengusap lembut pundaknya. Menenangkan keponakannya yang terlihat syok. Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Jerman, dan baru hari ini dia berani memberitahukan berita itu kepada sang keponakan.

Dia tak bisa menyalahkan Sang Raja yang memerintahnya untuk memberitahukan hal itu kepada Feli, tapi dia benar-benar merasa tersiksa saat melihat sang pemilik mata amber begitu bersedih karena berita yang dibawanya.

Akhirnya sang gadis berhasil menahan gejolak dari dalam hatinya, dan dia bertanya lagi, "Apa karena aku jelek, Paman, sehingga Pangeran Ludwig tidak bersedia menikahiku?"

Antonio terpekik, "Astaga, Felicia sayang! Kenapa kau berpikiran begitu?" Antonio menatap wajah keponakannya, "Tahukah engkau? Engkau adalah gadis paling manis dan paling cantik yang pernah kutemui di dunia ini. Di Italy ini, semua orang mengakui kecantikanmu. Kau adalah wanita anggun dan mempesona."

Felicia sudah akan membalas kata-kata Antonio sebelum Lovino masuk ke ruangan itu dan berkata dengan nada ketus, "Si Pemakan Kentang itu benar-benar membawa masalah. Kau tahu Felicia? Di luar sana telah banyak beredar berita bahwa pertunanganmu dibatalkan dan seluruh dunia tahu manusia dari negeri kentang itu melarikan diri dari pertunangannya. Hah, fitnah kejam darimana itu?"

Baik Felicia maupun Antonio terdiam melihat Lovino yang mencak-mencak sendiri di hadapan kakak dan pamannya. Tak ada satupun dari mereka untuk menenangkan sang bungsu Vargas, karena kala pemilik sepasang hazel itu marah-marah, justru terlihat menggemaskan dan sangat menghibur. Antonio sangat berterima kasih kepada Lovino yang akhirnya mampu membawa senyuman Felicia meskipun Lovino sendiri tidak menyadari hal itu.

"Her Highness?" Seorang pelayan masuk dan menunduk hormat kepada Felicia, "Your Majesty memanggil Anda ke ballroom segera."

Felicia menatap mata hijau Antonio sebelum saling bertatapan dengan adiknya. "Untuk apa, Eduard?"

Eduard semula terlihat ragu untuk memberitahukan sang putri. Tapi dia menduga-duga bahwa Felicia tidak akan pergi jika tidak tahu alasan dia dipanggil oleh sang ayah ke ballroom malam-malam seperti ini.

"Uhm… seorang… ah, maksud saya, utusan dari kerajaan Austria baru saja tiba."

Lovino berdiri di depan si pelayan berkacamata itu dengan mata melotot, "Untuk apa mereka kemari?"

Lagi-lagi Eduard merasa enggan menjawab pertanyaan Lovino. Tapi, dia merasa tidak nyaman dipelototi oleh sang pangeran, dan mau tak mau dia menjawab, "Pangeran Mahkota Austria datang dengan tujuan… ingin meminang anda."

Lovino segera berjalan cepat keluar dari ruangan itu diikuti oleh Felicia dan Antonio. Suara langkah ketiganya memenuhi koridor, beradu dengan detak suara jarum detik dari jam besar yang menjadi kebanggaan sang raja Italy. Ketika pintu besar ballroom berhasil memasuki jangkauan mata ketiganya, langkah Lovino semakin cepat hingga akhirnya dia mendorong kuat-kuat pintu itu dan melotot pada sekelompok orang yang berdiri di depan sang ayah.

"Aku tak tahu, kerajaan mana yang dengan tidak tahu dirinya bertamu ke istana ketika saatnya umat manusia beristirahat tenang di ranjang hangatnya." Lovino berjalan buru-buru ke samping ayahnya dan masih melotot pada tamu mereka.

Seorang pemuda yang terlihat sangat bersahaja berbicara dengan dagu terangkat, "Silakan. Silakan jika kalian berkeinginan untuk istirahat malam ini. Namun asal kalian tahu, kami segera berangkat dari Austria sesegera mungkin supaya datang lebih dulu di Italy daripada lima utusan kerajaan lainnya. Tidurlah kalian dengan tenang malam ini, karena esok hari, aku sangat yakin utusan dari kerajaan Rusia, Romania, Srivijaya, Yunani, dan Mesir akan membuat keributan di sini untuk saling membangga-banggakan kerajaannya. Dan—oh, inikah putri yang kecantikannya begitu diagung-agungkan itu?"

Pemuda yang berbicara jauh lebih cepat dari perkiraan Lovino itu menatap Felicia yang baru tiba dengan pandangan kagum. Dia berjalan menghampiri sulung Vargas tersebut dan menunduk penuh hormat kepadanya sambil menggapai jemari kecil Felicia, "Saya adalah Roderich Edelstein II, putra dari Raja Roderich Edelstein I, Your Highness. Saya datang kemari untuk menggantikan posisi Ludwig Beilschmidt yang melarikan diri karena merasa tidak pantas bersanding dengan The Fairest."

Tangan Felicia dikecup oleh orang itu, dan Lovino buru-buru menghampiri mereka dan melepaskan pegangan tangan orang yang ternyata adalah Pangeran Mahkota Austria tersebut. "Kau! Menjauh dari kakakku!"

Felicia menutup mulutnya dengan tatapan tidak percaya. Tidak, dia bukannya tidak percaya telah harus menerima kata-kata sok romantis dari putra raja yang dia kenal baik sebagai seorang pemusik yang handal. Roderich Edelstein I pernah bertamu ke istananya dan terlihat jauh lebih baik daripada orang di depannya itu. Dia tidak akan percaya pemuda ini adalah putra dari Raja Austria itu jika tidak melihat cincin yang dia pakai di ibu jari kanannya.

Yang Felicia tidak percayai adalah bahwa ternyata dunia lebih dulu tahu mengenai pertunangannya yang gagal daripada dirinya. Dan kini semua orang tahu bahwa Felicia hanyalah seorang putri malang yang calon tunangannya kabur sehari sebelum utusan dari kerajaannya datang untuk mengesahkan hubungan sakral keduanya.

Gadis itu cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk segera menumpahkan apa yang terus menerus tertahan di hatinya. Dia terus menangis hingga siang hari. Dia tidak memedulikan lima utusan kerajaan lain yang datang untuk niatan yang sama seperti tamunya tadi malam. Dia tidak memedulikan keributan enam utusan kerajaan yang sulit dihentikan oleh ayahnya sendiri. Dia tidak memedulikan kata-kata memaksa utusan enam kerajaan itu yang semakin membuat pening ayahnya dan membuat amarah Lovino karena prosesi sembahyangnya di kuil terganggu karena suara-suara berisik keenamnya yang terdengar sampai kuil yang jaraknya enam ratus meter dari istana!

Felicia ingin sendiri. Dengan mata yang masih memerah dan rambut yang sedikit berantakan, dia berjalan-jalan di taman yang berwarna putih karena masih ditutupi salju. Napasnya beruap, dan lehernya kedinginan. Tapi dia memaksakan diri berada di taman yang dingin.

"Felicia?"

Felicia sedang mempermainkan salju yang ada di atas meja saat Antonio melihatnya dari dalam istana dan memutuskan untuk menghampiri sang putri. "Sedang apa kau di sini, Feli?"

"Tidak ada." Felicia menunduk, tidak ingin memperlihatkan mata merahnya kepada sang paman meskipun dia tahu, Antonio telah mengetahui dirinya yang menangis semalaman.

"Kemarilah. Kemarilah." Antonio menghampiri Felicia yang duduk menggigil di kursi taman, dan memeluknya. Dia juga mengalungkan syal yang dia kenakan ke leher Felicia agar gadis itu merasa hangat. "Kau masih bersedih, Feli?"

Felicia tidak menjawab karena Antonio pasti tahu jawabannya adalah, "iya".

"Putra dari selir Beilschmidt telah bersumpah akan membawa kembali Ludwig Beilschmidt. Aku yakin, dia pasti akan memenuhi sumpahnya itu."

"Kenapa paman percaya pada kata-kata seorang putra dari selir? Bisa saja dia berbohong dan justru bahagia Putra Mahkota menghilang dari kerajaan dan batal menikah denganku. Bagaimana pun, putra selir tidak bisa dipercaya."

"Hei, hei, Felicia." Antonio segera membelai pundak Felicia yang menjauhinya, "Kau tidak boleh berprasangka seperti itu. Gilbert menyayangi ayahnya, dan dia telah bersumpah demi darahnya sendiri dan mahkota ayahnya."

Felicia diam dipeluk Antonio. Begitupun sang bungsu Carriedo yang masih memeluk Felicia sebelum dia mendengar langkah kaki dari belakangnya dan menemukan seorang pria berambut pirang sebahu datang dengan senyuman di wajahnya. "Bonjour, Mademoiselle."

"Siapa kau?" Antonio bertanya curiga. Pria pirang itu menunduk dengan gaya yang dibuat-buat. "Francis Bonnefoy. Dewa malang yang telah dikutuk oleh Zeus menjadi seorang manusia."

"Apa?" Felicia memandanginya dengan tidak percaya. Kedua keningnya berkerut.

"Aku adalah seorang dewa anak Afrodit. Karena aku telah berani meniduri ibuku sendiri, aku dikutuk oleh Zeus untuk menjadi seorang manusia. Dan selama semalaman aku mendengarkan suara tangisan malang seorang gadis yang putus cintanya, dan aku merasa sangat terganggu dengan kegundahan hatimu, Mademoiselle." Francis memberikan senyuman dan tatapan menggoda pada sang putri.

Antonio memandang marah pada Francis dan dia berteriak, "Mau apa kau kemari? Pergilah! Jangan ganggu kami."

Francis terkikik. Dia tersenyum dengan sangat ramah pada Felicia, "Aku datang bukan untuk mengganggu kalian, Wahai Manusia. Aku datang justru dengan keinginan membantu mademoiselle-ku yang malang. Aku akan membantumu terbebas dari orang-orang yang memperebutkanmu dengan cara barbar, Milady."

Antonio dan Felicia saling berpandangan hingga Antonio kembali bertanya, "Benarkah itu?"

"Tentu saja. Ibuku adalah Afrodit, dewi cinta. Saudara-saudaraku adalah Cupid. Aku membawa cinta dan kebahagiaan kepada semua orang."

Antonio dan Felicia kembali berpandangan. Akhirnya mereka setuju untuk mempercayai kata-kata Francis dan memanggil keenam utusan untuk bertemu dengan orang yang mengaku sebagai anak Afrodit dan telah memerintahkan pengawal untuk menangkapnya apabila orang itu terbukti berbohong.

"Sebagai utusan cinta, aku akan memberikan satu cara bagi kalian yang pantas untuk mendapatkan cinta Mlle Felicia Vargas." Francis berkata di depan keenam utusan kerajaan, Felicia, Lovino, Antonio, Alfonso, dan raja Italy sendiri, Julius Vargas.

"Cara apa itu?" Seorang utusan dari Srivijaya bertanya. Francis menyeringai pada orang berkulit sawo matang tersebut. "Teka-teki. Aku akan berikan kalian satu teka-teki, dan bagi kalian yang berhasil menjawab teka-tekiku itu, berarti dia berhak untuk menikahi Putri kebanggaan Negeri ini."

Keenam utusan saling berpandangan. Francis kembali melanjutkan, "Tapi…, apabila tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menjawabnya, maka Mlle Felicia Vargas menjadi milikku."

Julius Vargas merasa khawatir. Begitu pula Lovino. Segera bungsu Vargas itu bertanya, "Apakah teka-teki itu juga berlaku untuk semua orang yang ada di Italy ini?"

Francis tersenyum penuh hormat pada sang pangeran semata wayang, "Tentu saja, Yang Mulia Pangeran Lovino Vargas."

Lovino dan Julius saling menghembuskan napas lega. Julius cukup yakin bahwa salah satu dari Antonio dan Alfonso pasti cukup cerdas untuk menjawab teka-teki sehingga putrinya tidak harus dinikahkan pada siapapun selain putra Beilschmidt. Dan Lovino cukup percaya pada dirinya sendiri bahwa dia pasti akan bisa menjawab teka-teki tersebut.

"Baiklah. Bisakah kuberitahukan teka-teki itu sekarang?" Francis meminta kembali perhatian orang-orang yang sedikit berisik tadi. Semua orang mengangguk, dan Francis tersenyum dengan sangat lebar.

"Teka-tekinya adalah—," Francis menatap mata semua orang yang ada di ballroom, "—dia adalah seorang pelayan, padahal dia guru dari semua orang. Ilmu pengobatan dari China yang termasyur berasal dari dia. Sewaktu dia hidup, banyak gunung megah yang berdiri. Namun, waktu dia mati, semua gunung tidak berbekas tersapu air. Siapakah dia?"

Semua orang terdiam. Saling berpikir. Felicia menatap khawatir ayah dan adiknya. Dia juga berharap penuh pada paman-pamannya. Dan dengan takut-takut dia memandangi enam utusan kerajaan yang sama-sama berpikir keras seperti empat anggota keluarganya. Sedangkan Francis masih tersenyum dengan sangat lebar.

"Uhm…." Seorang pemuda yang mengaku pangeran dari India mengangkat tangannya. Semua orang memandanginya dengan khawatir. "Ghandi? Mahatma Gandhi?"

Francis terdiam untuk beberapa saat. Menatap takjub pangeran India itu, lalu kemudian dia tertawa. "Mahatma Gandhi katanya?" Dia menyikut salah seorang pengawal yang paling dekat dengannya dan bertanya pada pengawal itu, "Kau percaya itu? Dia menjawabnya."

Lalu tawa itu redam, dan wajah Francis berubah menjadi sebuah wajah muram, dan meneriakkan kata "Salah!" dan meneruskannya dengan seringai mengejek, "Kau berpikir abad berapa sekarang, Nak?"

"Bagaimana dengan Bunda Theresa?" Roderich Edelstein II mengangkat tangan sambil tersenyum lebar, tapi Francis justru memberinya sebuah gelengan.

Semua orang berusaha menebak-nebak, siapa tokoh yang sangat berjasa di dunia, tapi tak ada satu pun jawaban yang benar. Dan hal itu semakin membuat Julius khawatir. Dia meminta waktu untuk menjawab teka-teki itu selama tiga bulan. Semula Francis tidak mau, tapi karena keyakinan Julius bahwa akan ada setidaknya satu orang saja yang bisa menjawab teka-teki itu, akhirnya anak Afrodit itu setuju. Julius segera menyebarkan teka-teki itu ke seluruh penjuru Italy. Dia juga memerintahkan Antonio dan Alfonso untuk pergi ke seluruh negeri untuk mencari orang yang bisa menjawab teka-teki tersebut.

Felicia yang masih tidak mau menikah dengan lelaki mana pun karena dia masih menghormati janji yang dibuat oleh ayahnya dan Raja Jerman, diam-diam meminta Antonio dan Alfonso untuk mencari seorang wanita yang pandai berseni dan bijaksana. Dia berharap, wanita seni itulah yang bisa menjawab teka-teki itu sehingga dia akan terbebas dari menikah dengan lelaki yang bisa menjawabnya.

.

Sudah tiga hari Ludwig berdiam diri di bagian dalam gua. Terus memejamkan mata di sana, namun tidak tidur. Dia juga tidak makan maupun minum hingga akhirnya Zeus menghargai perjuangan pemuda itu. Sebagai perjuangan terakhir, Zeus mengirimkan bidadari jelita bernama Siti Sri Loropati dan dua adiknya, Siti Sri Sendani dan Siti Sri Beni untuk menggoda Ludwig.

Loropati, Sendani, dan Beni muncul tanpa sepengetahuan Raivis dan Toris yang berjaga di pintu masuk karena ketiganya memang tidak masuk lewat sana. Ketiganya bisa melayang dan berteleportasi kemana pun mereka inginkan. Dan karena mereka bertiga ditugaskan oleh Dewa agung untuk menggoda Ludwig, dengan senang hati bidadari jelita nun genit itu membuai Ludwig. Tertawa dengan manja di telinga sang pangeran Beilschmidt. Loropati mengusap lembut rahang tegas sang pemuda Jerman. Sendani tak melepaskan pelukannya dari leher Ludwig, dan Beni terus menerus menggenggam tangan putra kedua Beilschmidt itu.

"Kak, kakak." Sendani memanggil kakaknya. Katanya dengan girang, "Kata Dewa Agung, jika kita berhasil membuatnya tergoda, kita bisa menikahinya."

"Tentu saja, adikku." Loropati tersenyum gembira. "Kita akan menikah dengan pemuda tampan ini."

"Aku yang akan mendapatkannya untuk pertama kali." Sendani segera berkata setelah kakaknya selesai berucap yang menimbulkan kerut kesal di wajah jelita Loropati, "Apa? Tidak bisa. Aku adalah yang tertua dari kalian semua. Jadi, aku lah yang akan mendapatkannya untuk pertama kali."

"Sudahlah, kakak-kakakku. Berhentilah bertengkar. Siapapun yang akan menjadi orang pertama yang mendapatkan Putra Beilschmidt tidak perlu dipikirkan."

Loropati terdiam mendengar kata-kata adik bungsunya. Lalu dia berbalik pada sang pemuda. Dan dengan nada menggoda, dia bertanya pada pemilik mata biru indah itu, "Hei, Ludwig sayang, bukalah matamu. Bercengkramalah pada kami. Akan sangat menyenangkan."

"Kau tahu?" Sendani berbisik di telinga Ludwig, "Calon istrimu itu sudah dilamar enam orang pangeran tampan. Aku yakin, salah satunya pasti bisa meruntuhkan hati Felicia."

"Benar. Benar." Beni mengangguk setuju, "Apalagi kalian belum pernah bertemu dan bertatap muka satu sama lain. Sudah pasti Felicia lebih memilih orang yang memukau mata dan hatinya daripada pria yang belum pernah dia temui satu kali pun."

Loropati tertawa, "Bahkan bertukar surat pun kalian belum pernah."

"Jadi pilihlah kami," kata Beni lagi. Dia tersenyum dengan wajah manisnya. Dia menciumi tangan Ludwig, "Tidakkah cukup kami bertiga untukmu? Kami adalah bidadari paling cantik yang pernah ada di Olimpus. Bahkan Afrodit mengakui kejelitaan kami."

Sendani terkikik. Dia masih menggelayut manja di leher sang pemuda Jerman, "Adikku benar. Jadi, bukalah sedikit saja matamu untuk melihat kecantikan kami bertiga. Sedikiiiiit saja."

"Ya, lihatlah kami. Kami bahkan jauh lebih menawan dari Felicia, calon tunangan yang telah kau tinggalkan itu." Loropati kini menciumi pipi Sang Jerman. Ketiganya terus menerus membisikkan kata-kata godaan dan penuh cinta ke telinga Ludwig. Namun, tidak satu kali pun Ludwig membuka matanya. Mata biru itu terus tersembunyi di dalam kelopaknya, menjaga indera penglihatannya dari segala bentuk godaan visual. Dia juga menahan diri dari segala sentuhan, dan terus menulikan telinganya sehingga dia menganggap semua kata-kata bernada manja yang diucapkan tiga bidadari yang menemaninya hanyalah sebuah dengungan nyamuk yang tidak berguna.

Sehari semalam ketiganya bersama-sama Ludwig, akhirnya Sendani berujar dengan bosan, "Wahai Dewa yang Agung. Sudah kami goda pria ini satu hari satu malam sesuai perintahmu, namun bahkan tidak sesenti pun jarinya bergerak. Aku mulai muak dengan lelaki keras kepala ini, oh, Dewaku."

Panggilan Sendani membuat kemunculan Dewa besar Zeus di depan Ludwig. Dewa berjenggot itu terkekeh dan akhirnya benar-benar mengakui perjuangan sang Jerman muda. Dengan segera tiga bidadari yang sejak kemarin menempel terus pada Ludwig beralih pada sang Dewa besar dan bersembunyi di belakangnya.

"Kalian sudah melaksanakan tugas kalian dengan sangat baik, anak-anakku."

Loropati terkikik kegirangan mendengar pujian Zeus. Sendani juga. Dan Beni hanya tersenyum kecil sambil terus bersembunyi di belakang tubuh besar Zeus. Kata pemimpin para Dewa itu pada Ludwig, "Rasanya belum cukup aku melihat perjuanganmu, Beilschmidt."

Tangan dewa itu berputar-putar di atas tubuh Ludwig yang terlihat mungil jika dibandingkan dengan tubuh Zeus. Seketika, cahaya menyelimuti goa gelap itu, dan sinar terang menyilaukan mata dua pengawal Ludwig yang berada cukup jauh dari tempat Ludwig dan Zeus berada.

"Raivis?"

Raivis membuka matanya saat beberapa detik menyadari sinar yang tadi menyilaukan matanya telah hilang. Namun, dia masih kesulitan untuk beradaptasi, sehingga dia hanya melihat siluet hitam di latar putih untuk beberapa menit.

"Raivis, aku seperti melihat seorang gadis di depanku."

"Apa?" Raivis tak percaya pada kata-kata Toris. Dia masih kesulitan untuk melihat. Toris berkata lagi, "Benar. Ada wanita."

"K…, kau bohong, Toris. D…, di…, di sini hanya ada aku dan kau. J…, ja…, jangan menakut-nakuti aku!"

"Aku tidak bohong." Toris yang juga sama butanya seperti Raivis masih berusaha beradaptasi dengan sekitarnya. Dia mengangkat tangannya, menggapai sesuatu yang dia percaya sebagai satu-satunya milik wanita yang dia yakini ada di hadapannya saat ini.

"Lihat, aku bahkan memegang dadanya!"

"Ah! Toris, aku merasa ada yang aneh. Kurang ajar, yang kau pegang itu dadaku, Toris! Ah, sejak kapan aku memiliki payudara?"

Akhirnya dua penglihatan pengawal itu kembali membaik. Dan keduanya sama-sama terheran-heran saat menyadari perubahan tubuh masing-masing.

"Toris?"

Raivis dan Toris saling berpandangan satu sama lain. Tak percaya pada apa yang telah terjadi pada mereka. Raivis meneruskan kalimatnya, "Sejak kapan kau dan aku jadi perempuan?"

"Sejak sinar membuat mata kita buta untuk sejenak, Raivis."

"Astaga."

"Dewa sialan." Keduanya mendengar suara seorang wanita dari arah Ludwig berasal. Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian lelaki yang keduanya percaya adalah pakaian yang sebelumnya dipakai oleh tuan mereka muncul. Ujar wanita itu lagi, "Dia mengubahku jadi wanita."

Raivis dan Toris saling berpandangan sebelum kompak berteriak, "Your Highness!"

"Your Highness."

Gilbert mengurut pelan keningnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya terus menggenggam tangan ayahnya yang sudah terbaring di tempat tidur sejak kepulangan utusan dari Italy.

"Your Highness."

Lagi-lagi Gilbert tidak mengacuhkan panggilan Patih yang sejak tadi berada di belakangnya. Timothy yang berdiri di samping kakaknya menepuk pundak Gilbert dan memanggilnya dengan nada yang lebih keras dari biasanya dia berbicara, "Gil!"

Gilbert terkaget-kaget saat dia merasakan sentuhan dan panggilan Timothy. Dia menatap adiknya dengan bingung, "Ada apa, Tim?"

Timothy memberi kode bahwa di ruangan itu juga ada Patih yang menunggunya. Gilbert dengan kikuk mengangguk dan melepaskan genggamannya dari sang ayah. Dia berjalan mengikuti Sang Patih, dan Timothy berjalan di belakangnya. Keduanya masuk ke ruang kerja Raja Beilschmidt yang sudah beberapa hari tidak tersentuh.

"Bukannya saya tidak berempati atas jatuh sakitnya Your Majesty King Alaric Beilschmidt, tapi jika tidak ada satu pun yang mengurus pemerintahan untuk menggantikan posisi Your Majesty, negara ini tidak lama lagi akan hancur." Dengan wajah datar Patih itu berbicara pada Gilbert selaku anak tertua Beilschmidt. Tapi sang pemuda bermata ruby itu hanya berkata, "Ah, kau benar. Seharusnya Ludwig menggantikan posisi ayah saat ini."

"Ludwig pergi dari Jerman, Gil." Timothy mengingatkan kakak sulungnya tersebut. Lagi-lagi Gilbert tersentak, "Ah, kau benar. Seharusnya aku saat ini mencari Ludwig sesuai sumpahku dulu di hadapan utusan Italy."

Gilbert seperti boneka yang bersiap keluar dari ruangan itu sebelum Timothy menahannya. Dengan alis berkerut, Timothy berkata dengan nada keras pada sang kakak, "Kau seharusnya menggantikan ayah untuk saat ini. Jika kau pergi dari sini, siapa yang akan mengurus tanah ini?"

"Siapa? Tentu saja kau, Tim. Kau mau menyuruh Little Carol yang duduk di meja itu?" Gilbert menunjuk meja kerja ayahnya yang dipenuhi tumpukan kertas. Timothy mendelik, "Kau gila? Kaulah yang seharusnya duduk di sana."

"Aku? Kenapa bukan kau saja? Jika aku yang mengurus semua dokumen itu, siapa yang akan mencari Ludwig?"

"Aku yang akan mencari Ludwig." Dengan penuh percaya diri Timothy berkata pada sang kakak. Gilbert menganga tidak percaya. "Kau? Kau yakin? Astaga, Tim. Timothyku. Kau adalah jenis manusia yang sudah memakan segala jenis buku, dan pasti kau sudah tidak asing lagi dengan urusan kenegaraan. Kenapa tidak kau saja yang duduk di sana. Bukankah kebiasaanmu dulu begitu? Kau tidak pantas berada di luar ruangan!"

"Gil! Hey, Gilbert!" Timothy terlihat tidak senang dengan kata-kata sang kakak. "Kau lupa pesan ayah? Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memahami ilmu perang, mahir berkuda, pandai memanah, dan piawai berkesenian. Ludwig…, dia—hei, dengarkan kata-kataku, Gil!" Timothy segera menarik tangan kakaknya yang akan berjalan lagi. "Dengar, Gil. Ludwig sudah pandai dalam memanah, dan dia sangat mahir dalam berkuda. Tapi dia masih belum menguasai ilmu perang dan berkesenian. Sedangkan aku sebaliknya. Aku—" Timothy menepuk dadanya, "—aku sudah sangat terlatih dalam ilmu perang dan seni. Tapi aku lemah dalam berkuda dan memanah.

"Dan dari semua putra ayah, hanya kau seoranglah yang telah mahir keempat hal itu. Jadi, biarkan aku mengasah kemahiran berkuda dan ketangkasan memanahku sambil mencari Ludwig. Sedangkan kau… please, Gilbert!" Timothy lagi-lagi memaksa Gilbert mendengarkan penjelasannya, "—untuk sementara saja. Untuk sementara saja kau mengurus hal ini. Untuk sementara saja hingga aku membawa pulang Ludwig."

"Tim." Gilbert akhirnya mengalah untuk pergi dan memegangi pundak adik keduanya tersebut. "Lupakan empat hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang diajarkan oleh Ayah. Kau lebih mahir dariku dan lebih cerdas daripada aku mengenai hal ini. Kau—" Gilbert menatap meja di dalam ruangan kerja ayahnya, "—duduklah di sana. Biarkan aku mencari Ludwig dan menyeret pulang anak brengsek itu. Aku telah bersumpah di depan semuanya, kau ingat?"

Timothy menatap Gilbert tidak percaya. Dia masih terpaku saat Gilbert telah meninggalkannya beberapa langkah.

"PERSETAN DENGAN SUMPAH, GIL!" Timothy berteriak dengan penuh amarah. "PERGILAH! PERGILAH SESUKA YANG KAU MAU. CARI LUDWIGMU ITU!"

Timothy berbalik. Menghadap dinding. Membelakangi Gilbert yang masih terus melangkah.

"Jangan salahkan aku jika sepulangnya kau dan Ludwig nanti Jerman sudah tinggal nama karena pemimpin sementaranya hanyalah seorang pemuda yang masih gemetaran memegangi pedang."

Kata-kata itu diucapkan Timothy dengan suara pelan. Tapi Gilbert bisa mendengarkan dan itu membuat langkah Gilbert terhenti. Mendecih pelan, Gilbert berbalik kepada adiknya yang ternyata juga berbalik menghadap dirinya.

"Kau memaksaku, Kutu buku sialan!"

.::To be continued::.

New cast: Eduard (Estonia) , Siti Sri Loropati (Indonesia), Siti Sri Sendani (Malaysia), Siti Sri Beni (Singapore), Roderich Edelstein I (Austria), Francis (France).