Bagi Ludwig, Raivis, dan Toris, sekarang hidup mereka kini menjadi lebih sulit daripada sebelumnya. Emas yang mereka bawa dari Jerman habis hanya untuk ditukarkan dengan pakaian yang lebih sesuai untuk penampilan mereka saat ini. Dan dengan sarkastik Ludwig terus menerus berterima kasih kepada Zeus atas 'hadiah istimewa' yang diberikan kepadanya dan anak buahnya itu.
Ludwig dan dua pengawalnya membeli beberapa gaun bagus untuk dikenakan ke pesta-pesta dansa yang diadakan oleh para bangsawan. Dia berpikir, dia bisa menemui Gilbert di pesta-pesta dansa itu karena kakaknya itu memang tak pernah sekalipun melewatkan undangan pesta yang dialamatkan kepadanya. Ludwig berharap besar Gilbert akan mengenalinya, dan kemudian membantunya mendapatkan kembali jati dirinya yang dulu.
Namun, meskipun dia telah menghadiri banyak pesta dansa, tidak sekali pun dia melihat sosok kakaknya itu di antara banyak undangan yang datang. Dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa sehingga mampu membuat anak kedua Beilschmidt itu terheran-heran.
Ludwig bukan orang yang cakap dan mudah bergaul. Sehingga saat dia menanyakan alasan orang yang terkenal sebagai pedansa nomor satu di Jerman itu tidak pernah muncul lagi, merupakan hal yang sangat sulit baginya. Belum lagi lirikan nakal dari pria-pria yang dia tanyai mengenai keadaan kakaknya itu sangat mengganggunya—sudah tidak terhitung berapa ratus kali Ludwig menolak ajakan makan malam pria-pria dari berbagai golongan, walaupun pada akhirnya mereka yang menggoda Ludwig lari ketakutan begitu melihat otot kekar perempuan(yang dulunya adalah pria) itu.
Kini Ludwig tahu sebab musabab Gilbert tidak lagi terlihat di luar istana. Dan hal itu berkaitan dengan apa yang telah dia lakukan di masa yang telah lampau. Terlebih lagi saat dia mengetahui ayahnya juga jatuh sakit karena terlalu memikirkannya, kakaknya yang terpaksa menggantikan posisi sang ayah, dan adik lelaki satu-satunya yang dia kenal sangat jarang keluar dari perpustakaan ternyata pergi dari Jerman hanya untuk mencari dirinya. Ironinya, tidak ada satupun orang yang menyadari bahwa sang tokoh penyebab itu semua saat ini berada di Jerman.
Ludwig tidak berani melangkahkan kakinya ke istana karena dia sangat yakin para penjaga pintu gerbang kerajaan tidak akan mengenalinya dan justru mengusirnya keluar—masih lebih baik daripada di penjara karena tuduhan menghina dan menyebarkan fitnah jahat bahwa Ludwig Beilschmidt menjadi seorang wanita.
Puluhan keping emas yang semula memenuhi kantung uang Ludwig, Toris, dan Raivis kini perlahan-lahan mulai bertransformasi menjadi beberapa keping perak. Emas yang didapat dari menjual barang-barang mereka pun kini sudah berpindah tangan ke pemilik penginapan termewah yang ada di Jerman dan untuk membayar makanan ketiganya. Harga diri Ludwig-lah yang menolak untuk menyewa kamar di penginapan yang harganya terjangkau hanya demi menjaga jati diri pangerannya yang masih tersisa.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Your Highness?"
Ludwig—yang menggunakan nama Monica untuk menyewa kamar di penginapan itu dan saat memperkenalkan diri pada orang lain, masih duduk diam di salah satu sisi tempat tidurnya sambil menatap pintu yang baru saja ditutup oleh salah satu pelayan penginapan. Pelayan itu datang kepadanya untuk menyampaikan harga yang harus Ludwig bayar untuk ganti tidur selama beberapa malam di penginapan mereka. Dan harga itu senilai dengan sisa emas terakhir yang mereka miliki saat ini.
Toris masih menunggu jawaban 'Tuan Putri'-nya tersebut dengan sabar, sedangkan Raivis berdiri dengan penuh keraguan di dekat pintu kamar. Setelah satu menit diam, Ludwig—atau Monica—menjawab, "Kita pergi dari tempat ini."
Toris maupun Raivis terdiam. Mereka masih mempertahankan loyalitas mereka kepada Monica yang kini telah jatuh miskin dan sudah dapat dipastikan tidak akan bisa memberi mereka gaji lagi. Raivis tahu, rumah makan yang dulu selalu menjadi tempat favoritnya saat ini sedang mencari pelayan wanita untuk dipekerjakan. Namun, 'gadis' berambut pirang panjang itu saat ini lebih memilih kesetiaannya kepada Monica meskipun dia sering kali ditegur karena kecerobohannya yang tidak kunjung tersembuhkan meskipun telah bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Beilchmidt.
Namun, saat ini rasa setia Raivis menempati posisi yang sama besar di hatinya dengan perasaan takut akan terlunta-lunta di jalanan, sehingga dia tak berhenti gemetaran di tempatnya berdiri.
"Aku akan pergi ke rumah Hera putri Karpusi."
"Hera, Your Highness?"
Toris menatap Raivis untuk meminta bantuan gadis pirang itu untuk mengingat siapa Hera putri Karpusi, karena Toris—disebabkan kejadian 'berganti kelaminnya' yang masih membuatnya syok—melupakan banyak hal yang berkaitan dengan masa lalunya sebagai Toris lelaki. Namun sepertinya Raivis pun mengalami kondisi yang sama. Pikirannya buntu sama sekali saat mendengar nama Hera putri Karpusi.
"Hera adalah salah satu teman Gilbert. Dia adalah artis opera paling terkenal yang kini membuka sekolah seni." Monica-lah yang akhirnya memutuskan untuk mengingatkan kembali memori dua pengawal setianya. Monica merapikan poninya yang menutupi sebagian wajahnya, dan mengeluh bahwa dia harus melakukan sesuatu dengan rambut pirang panjangnya tersebut karena dia masih belum terbiasa dengan rambut panjangnya yang sekarang.
"Apakah dia akan mengenali anda, Your Highness?"
"Aku tak tahu, karena aku pun tak tahu meskipun Gilbert lah yang kuhadapi. Tak ada satupun yang mengenali kita saat ini." Monica diam sejenak, "Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba menemui gadis itu."
.
Kuda meringkik keras saat Timothy membawanya memasuki sebuah hutan. Dua kaki kuda itu terangkat ke atas dan putra bungsu Beilschmidt itu kembali terjatuh dari kudanya—tidak terhitung sudah berapa kali dia terjatuh saat menunggangi kudanya sejak beberapa hari yang lalu. Dia masih belum terbiasa menaiki makhluk lain, dan dia kembali mengutuk apapun yang muncul di pikirannya. Beruntung kudanya tidak berlari jauh darinya dan justru berdiri dengan angkuh seraya menatap Timothy yang masih terkapar di tanah.
"Puas kau sekarang? Hari ini, kau sudah menjatuhkanku sebanyak tiga kali! Hei, kau ingat itu? Tiga kali!" Timothy berdiri dari jatuhnya dan menuding-nuding kudanya dengan kesal, "Kapan kau mau berbaik hati denganku sedikit saja?"
Kuda itu meringkik pelan dan tetap berdiri seakan menantang pangeran bungsu itu. Timothy mencerca kudanya dengan berbagai kata kasar yang dia tahu dari kakak sulungnya, sambil terus menunjuk-nunjuk wajah kuda cokelatnya itu. Dia seakan lupa bahwa saat ini matahari telah mencapai bagian barat bumi dan akan menghilang seiring berjalannya waktu. Namun, Timothy terlalu sibuk menceramahi kudanya tanpa ada keinginan untuk segera mencari tempat untuk tidur malam ini.
"Kuda tak tahu diri. Sejak kecil kau dirawat di kerajaanku, tapi membangkang padaku."
"Hihihihihihi."
Omelan Timothy terhenti saat mendengar suara cekikikan kecil seorang gadis. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tak ada siapapun di tepi hutan itu selain dirinya dan kudanya. Setelah memastikan sekali lagi bahwa tak ada siapapun, Timothy berpikiran bahwa suara yang dia dengar hanyalah khayalannya saja. Ditariknya tali hela kudanya, dan dia memutuskan untuk kembali sambil berjalan kaki ke desa terdekat untuk menginap malam ini. Badannya sudah cukup sakit jika harus terjatuh lagi apabila dia naik kudanya lagi.
"Hihihihihihi."
Langkah kaki Timothy terhenti dan dia kembali menoleh. Saat di sadarinya ada seseorang yang duduk di atas kudanya, dia terkejut, mundur satu langkah dan melepaskan tali yang dia pegang. Dilihatnya seorang gadis cekikikan menertawakannya. Butuh waktu beberapa menit bagi Timothy untuk memastikan bahwa gadis itu bukan khayalannya saja. Dan selama beberapa menit itu, sang gadis terus menerus tertawa melihat wajah bingung Timothy.
"Siapa kau?"
Si gadis tertawa tiga hembusan napas, lalu tersenyum menatap Timothy lekat-lekat. Mata sewarna tanah gemburnya beradu pandang dengan sepasang jamrud milik bungsu Beilschmidt yang kini wajahnya kemerah-merahan itu. Wajar saja, karena itu adalah kali pertama Timothy bertemu dengan seorang gadis. Selama ini, wanita yang dia tahu hanyalah ibunya, para pelayan, guru-gurunya—yang sudah tua—dan adik-adiknya. Dia tak pernah ikut pesta seperti kakak sulungnya, dan dia tak pernah berpetualang seperti kakak keduanya. Timothy juga bersekolah di sekolah khusus lelaki yang bahkan hanya diikuti oleh beberapa putra bangsawan yang sangat besar namanya di Jerman. Selama beberapa hari keluar dari istana pun, Tim tidak mengacuhkan orang-orang yang dia lalui, dan beradu pandang—dan berbalas kata—seadanya jika memang sangat mendesak. Jadi ini adalah pengalaman pertama bagi Timothy bertatapan langsung dengan seorang gadis tanpa keadaan mendesak apapun. Wajah pucatnya memerah malu, dan dia segera menoleh ke arah lain.
Gadis itu berambut panjang, di kepang dengan sangat rapi dan di setiap inci rambutnya dihiasi sebuah melati kecil yang indah dan harum. Timothy menyukai bau yang semerbak itu, tapi dia masih cukup malu untuk kembali bertatapan dengan si gadis.
"Aku Loropati." Gadis itu melompat turun dari kuda dan menghampiri Timothy yang masih menunduk menatap rumput yang dia injak. Langkah kakinya kecil karena dia mengenakan sebuah rok ketat dengan motif yang indah. Tapi Timothy merasa bahwa gadis itu berjalan dengan sangat cepat karena beberapa detik setelah menjawab, Loropati sudah berada di sampingnya sambil memegangi tangannya. "Aku bidadari penjaga hutan ini."
"Hah?" Timothy segera mundur dan melepaskan tangannya dari genggaman si sulung Siti Sri tersebut. "A… aku tidak percaya. Bisa saja kau monster yang mengubah rupamu. Terlalu banyak monster mitologis di hutan ini yang bisa menipu penglihatan manusia."
Loropati kembali terkikik. Dia lalu melayang setinggi 10 senti meter dari tanah dan kembali mendekati Timothy yang masih segan untuk beradu pandang dengannya, "Yah, aku memang bisa mengubah wajahku. Aku bisa menjadi wanita yang cantik, atau seorang lelaki yang tampan—" Loropati diselimuti kabut tipis dan sedetik kemudian Timothy telah berhadapan dengan seorang lelaki kecil berparas rupawan, "—atau menjadi seorang kakek tua—" tubuh Loropati kembali diselimuti kabut tipis dan dia keluar lagi dengan sosok seorang kakek renta, "—atau monster yang menakutkan," kini sebuah ogre besar ada di depan Timothy. Lelaki malang itu gemetaran memegangi dan berupaya keras untuk menarik pedangnya, namun dia terlalu takut untuk bergerak. Sebuah suara tawa kecil terdengar lagi dan ogre itu berubah menjadi seorang anak lelaki kecil. Dia tak lagi melayang, dan kakinya menjejak tanah. Dia mendongak menatap Timothy yang terheran-heran. Katanya sambil tertawa, "Tapi wujudku tidak seburuk monster. Aku salah seorang bidadari, tahu."
Timothy masih terlihat enggan, "Kau berbohong. Kau berniat membujukku masuk ke hutanmu lalu saat aku lengah, kau akan memakanku. Bukankah begitu? Aku takkan tertipu. Sudah terlalu banyak cerita tentang kau yang suka memakan manusia."
"Hei!" Loropati terlihat marah, "Siapa yang memakan manusia? Lebih baik aku cari tahu dulu kebenaran cerita yang kau baca! Aku ini bidadari, tahu. Peri! Peri penjaga hutan. Mana mungkin aku memakan manusia."
Timothy tidak percaya. Loropati melanjutkan, "Tapi aku memang suka minum darah seorang gadis perawan, sih. Tapi, aku tidak tertarik memakan pria, kok." Buru-buru Loropati menambahkan saat Timothy ketakutan mendengar ujarannya. "Darah lelaki tidak bisa membuatku tambah cantik, tahu."
Berkeras hati untuk pergi dari hutan itu dan akan kembali lagi saat matahari telah bersinar terang esok hari, Timothy buru-buru menarik tali kudanya dan menjauhi Loropati yang telah kembali ke wujud gadisnya. Gadis bidadari itu terlihat kesal dan muncul tiba-tiba di depan Timothy. Menghalangi langkah kaki pemuda itu. Kata Loropati dengan kesal, "Sudah cukup aku sekali aku ditolak untuk minggu ini. Aku tidak mau ditolak lagi. Apalagi sama-sama keturunan Beilschmidt."
Timothy menghindar dan beralih ke sisi kiri, namun Loropati juga bergeser ke kanan. Saat Tim ke kanan, Loropati menggeser badannya ke kiri. Menghalangi jalan bungsu Beilschmidt itu. "Dengar ya, rambut runcing, aku sudah cukup sakit hati karena ditolak oleh kakakmu beberapa hari yang lalu, kamu mau menolakku juga?"
Timothy terpaku mendengar ujaran bernada kesal Loropati. Sejak kemarin, dia tak tahu harus menuju arah mana untuk mencari kakaknya, terlebih lagi dia tak tahu menahu mengenai tempat favorit kakaknya jika dia sedang berada di luar istana. Sejak hari pertama keluar dari istana, dia berkuda—atau tidak—mengikuti arah angin berhembus tanpa memiliki firasat harus kemana untuk mulai mencari Ludwig. Sehingga kata-kata Loropati seakan menjadi angin segar untuknya yang sudah berhari-hari berkeliaran—dan dijatuhkan kuda—di tempat yang tidak dia kenal.
"Kau bertemu dengan Ludwig?"
Loropati mengangguk dengan sebuah senyuman manis menghiasi wajahnya. Pipi Timothy bersemu merah melihat wajah ayu itu tersenyum. Jemari lentik gadis itu menunjuk sebuah gunung besar di salah satu arah mata angin, "Dia dulu bertapa di sana. Aku dan adikku menggodanya, tapi ditolak. Sudah beberapa hari ini dia sudah turun lagi dari gunung itu. Sekarang mungkin dia sedang mencari petualangan yang lain." Loropati tertawa kemudian. Tawanya tidak dimengerti oleh Tim.
"Apakah sekarang kau tahu dimana Ludwig?"
Loropati menggeleng, "Sayangnya tidak. Aku bisa tahu keberadaan seseorang yang terakhir kali kutemui dua hari lalu. Jika sudah tiga hari dan lebih, aku tak bisa tahu lagi. Mata batinku tidak setajam mata batin adik-adikku."
"Kalau begitu, percuma aku bertemu denganmu," Timothy berujar kecewa, "Kau sama sekali tidak bisa membantuku."
Timothy sudah akan pergi lagi sebelum Loropati buru-buru berkata, "Eh, tapi aku mungkin bisa membicarakannya dengan ayahku atau siapapun. Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku cukup kesepian dan kedinginan malam ini."
Loropati menggenggam erat pergelangan tangan Timothy dan dengan wajah penuh harap, dia memandangi putra bungsu raja Jerman itu, "Bagaimana jika kau menginap di rumahku malam ini? Besok aku akan bertemu dengan ayahku untuk meminta bantuannya. Aku janji."
Tak bisa menolak, Timothy menghembuskan napas dan mengangguk setuju. Sedikit demi sedikit dia mempercayai gadis penjaga hutan itu dan mulai terbiasa berkomunikasi dengan gadis pertama selama hidupnya. Loropati berteriak kegirangan, tangannya merangkul leher jenjang Timothy sebelum dia berteleportasi ke rumah kayunya yang sederhana jauh di dalam hutan.
"Kau tinggal di sini?" Timothy memandang sekeliling rumah kayu sederhana itu. Loropati cekikikan sebelum mengiyakan. Dia memang sengaja membuat rumahnya kecil padahal dia bisa saja membuat rumah sebesar istana yang biasa ditempati Pangeran ketiga Jerman itu.
"Iya. Tapi kamarnya satu. Maklumlah, ayahku pegawai rendahan yang bekerja untuk Zeus. Aku tak punya banyak modal untuk membangun rumah besar." Loropati cekikikan lagi, "Kita tidur di satu kamar yang sama. Kau keberatan?"
Wajah Timothy tiba-tiba memerah. Dia menggaruk belakang kepalanya sebelum menjawab, "Ji… jika kau tidak keberatan, aku tidak masalah."
Loropati kembali cekikikan dan menarik tangan pemuda itu ke kamar kecilnya. Hanya ada satu dipan di sana dan satu bantal di sana. Tidak terlihat nyaman bagi Timothy, tapi pikiran mesumnya memaksanya untuk menerima ajakan Loropati untuk tidur bersama.
Dipan itu terlalu sempit untuk Timothy seorang, apalagi saat seorang Loropati juga turut rebahan di atas dipan itu. Satu-satunya cara agar keduanya bisa tidur adalah dengan memiringkan badan mereka. Jantung Timothy—yang merupakan pengalaman pertamanya bisa sedekat itu dan tidur dengan seorang gadis—berdegup luar biasa kencang. Dia memandangi wajah ayu Loropati yang sudah tidur lelap di depannya dan menghadap padanya. Dia bisa merasakan hembusan napas halus dari hidung mungilnya, dan wajahnya terlihat tenang. Besar keinginan Timothy untuk menyentuh rambut sang gadis yang jatuh menutupi sebagian wajahnya, tapi menggerakkan tangan pun Tim tidak sanggup. Dia terlampau gugup.
Timothy mencoba menenangkan diri. Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali dihembuskan melalui mulutnya. Ia tutup matanya dengan tujuan juga turut tidur seperti si sulung Siti Sri. Berkali-kali dia mencoba menggapai alam bawah sadar, namun sama sekali tidak mudah baginya dengan gangguan berupa suara halus napas Loropati dan harum rambutnya yang tidak pernah hilang. Saat Timothy membuka matanya lagi karena menyerah untuk tidur, dia berteriak kencang. Segera putra bungsu Beilschmidt itu bangun dan melompat turun dari dipan saat melihat seekor ular tidur di sampingnya, tepat dimana Loropati sebelumnya tidur.
Ketika pemilik jamrud itu luar biasa panik, Loropati tertawa cekikikan dan mengubah wujudnya kembali. Dia tertawa terguling-guling hingga memegangi perutnya. Kepalanya berkali-kali nyaris membentur lantai karena menertawakan wajah panik Timothy yang kini menatap kesal gadis itu. Kepada sang gadis dia merajuk dan memutuskan untuk keluar dari rumah kecil itu.
"Hahaha. Maaf. Maaf. Maafkan aku, Timy. Aku hanya bercanda. Duh. Hahahaha."
Loropati berusaha menggapai tangan pemuda pirang itu dan menahannya. Namun tawanya jauh lebih hebat dan membuatnya lemah sehingga Timothy bisa menampiknya dengan mudah. "Itu sama sekali tidak lucu, Pati. Aku ingin istirahat malam ini. Aku ingin segera mencari kakakku besok."
Beberapa detik dia tertawa, akhirnya si gadis jahil berhasil menahan tawanya meskipun wajahnya masih dihiasi senyum merekah nyaris tertawa. Dia menarik pemudanya untuk kembali tidur di atas dipan dan berkata, "Tidurlah. Tidurlah. Aku takkan mengganggumu lagi. Manusia jauh lebih membutuhkan tidur daripada sebangsaku. Aku sama sekali tidak berniat untuk tidur malam ini, Timy. Maafkan aku."
Timothy mendengus dan kembali ke dipan kecilnya untuk tidur. Sebagai permintaan maaf, Loropati menyanyikan sebuah tembang merdu untuk mengantarkan si pemuda pirang ke alam mimpinya. Saat sang gadis tahu pemudanya telah lelap, dia keluar dari rumahnya. Pergi ke hutan untuk berjaga. Karena memang seperti namanya, Si Peri Penjaga Hutan, dia harus menjaga hutan siang dan malam. Mengantarkan mimpi indah kepada para penghuni hutan dan membawa kenyamanan dan keamanan untuk mereka.
Setelah mengelilingi hutan, dia bertemu dua adiknya. Wajahnya yang gembira terlihat lebih bersinar dari biasanya dan Sendani segera memburunya, "Kau mendapat mainan baru!"
"Dia bukan mainan!" Loropati segera meralat. Matanya berkilat jenaka, "Dia jauh lebih menyenangkan daripada mainan."
"Apa yang kau janjikan padanya, Kak?" Beni yang kalem bertanya. Loropati tersenyum manis dan berujar dengan pelan, "Aku akan menemui ayah."
"Kau sudah menemui ayahmu?"
Loropati yang menyusun beberapa makanan di atas dipan—yang juga menjadi tempat tidur mereka tadi malam—tersenyum pada Timothy dan menjawab, "Akan kulakukan setelah kita sarapan."
Timothy segera memakan sarapan yang dihidangkan sang gadis bidadari. Dia tak menyangka selain bisa mendapatkan tempat untuk tidur, dia pun diberi makanan oleh sang penjaga hutan yang jahil itu. Saat sarapannya selesai, Timothy kembali memburu, "Apa kau akan menemui ayahmu sekarang?"
"Nanti setelah aku mencuci piring."
Timothy membantu gadis itu mencuci piring dan cawan yang menjadi tempat mereka sarapan tadi dengan harapan si gadis cepat memenuhi janjinya. Setelah semua piring dan cawan telah bersih dicuci, dia menagih lagi, "Apa kau akan menemui ayahmu sekarang?"
Loropati memberikan senyuman tipis dan berkata, "Nanti, setelah kau dan aku mandi."
Maka Timothy pun segera mandi di hilir sungai sementara Loropati mandi di bagian hulunya. Setelah bersih badan mereka dan mereka kembali bertemu di pondok, Timothy kembali bertanya, "Bagaimana dengan sekarang?"
Jawaban Loropati kembali, "Nanti setelah aku mencuci baju dan kain."
Sebuah senyuman jenaka muncul di wajah Loropati saat Timothy akhirnya menyetujuinya dan membantu gadis itu untuk mencuci baju dan kain di sungai. Timothy sama sekali tidak berbicara selama mereka mencuci, tapi kesunyian itu cukup dinikmati oleh Loropati. Dia menyukai keadaan dimana hanya ada mereka berdua di tepi sungai itu, dan diikuti oleh nyanyian sungai, burung, dan gemerisik daun yang disapu angin.
Setelah habis semua baju dan kain dijemur, kembali Timothy berkata pada Loropati, "Kita sudah sarapan, sudah mencuci piring, mandi, dan mencuci baju dan kain. Apa kau akan menemui ayahmu?"
"Kita harus menunggu jemuran kering dulu."
Timothy tidak sabar dan terlihat jengkel. Dia merasa kembali dipermainkan oleh gadis itu dan berkata, "Apa kau sungguh-sungguh akan membantuku? Kenapa rasanya kau ingin mengingkari janjimu?"
"Wahai Timy, memangnya jika aku menepati janjiku, kau akan memberiku apa? Peri dan bidadari tidak melakukan jasa gratis. Kami menginginkan sesuatu sebagai timbal baliknya."
"Memangnya apa yang kau mau?"
"Aku ingin dirimu." Loropati tersenyum gembira, "Aku ingin kau hidup bersamaku berdua. Di kayangan. Lupakan saja ayahmu, kakakmu, adikmu, dan semua yang selama ini merepotkan."
Timothy terkejut mendengar persyaratan yang diujarkan sang gadis. Bagaimana mungkin dia harus meninggalkan keluarganya sementara tugasnya untuk mencari Ludwig saja belum selesai. "Aku tak bisa. Keluargaku adalah segalanya untukku. Mana mungkin aku meninggalkan mereka."
Loropati terlihat kecewa. Matanya yang semula berkilat gembira kini sedikit mendung. "Begitu?"
"Bagaimana dengan yang lainnya saja?"
"Apa yang kau tawarkan?"
Timothy terdiam. Dia memikirkan banyak hal, tapi tak ada satupun yang sanggup dia katakan pada sang gadis. Loropati terlihat kesal menunggunya dan akhirnya berkata, "Baiklah. Sementara kau memutuskan akan membayarku dengan apa, aku akan ke kayangan."
Loropati mengambil sebuah selendang di pondok kecilnya sebelum terbang ke atas. Meninggalkan Timothy sendirian di tengah hutan yang baru dia sadari sangat gelap, lebat, sepi, dan berbahaya tersebut.
.::To Be Continued::.
