Sekapur sirih: Nyahaha. Saya update ff gaje inih. Saya bilang di awal chapter kalau ini merupakan sebuah remake dari Hikayat Galuh Digantung? Maka saya akan sedikit menambahkannya. Saya sekarang gak cuman ngambil dan menguliti dan nge-absurd-in tuh hikayat doang, tapi saya juga nyampuradukin tuh hikayat sama hikayat MALIM DEMAN! Nyahahaha. Jadilah ff gado-gado ini. Oke jadi gini, untuk cerita German/Italy saya ngambil alurnya Hikayat Galuh Digantung, itu loh, ngikutin cerita si Inu Kertapati dan Candra Kirana. Kalau cerita Timmy/Pati saya ngikut alur Hikayat Malim Deman, versi absurdnya Malim Deman dan Putri Bungsu /dihajar. Kedua versi cerita di atas sama absurd-nya, jadi gak usah pilih kasih buat baca /guling-guling/.
BTW, saya kaget ada yang baca bahkan review ini ff absurd. Padahal udah yakin banget kalau di fandom crossover itu jarang dilirik orang.
Disclaimer (ulang): Hak cipta animanga Hetalia adalah milik Hidekaz Himaruya. Hikayat Galuh Digantung merupakan salah satu cerita panji sastra Jawa yang penciptanya anonim. Hikayat Malim Deman ditulis Pawang Ana dan Raja Haji Yahya yang didasarkan pada naskah Sir R.O. Winstedt dan A.J. Sturrock tapi pencipta aslinya juga sama anonimnya. Saya tidak mengambil keuntungan materiil dari peminjaman tokoh di dalam pembuatan fanfiksi ini.
Warn: Tanpa riset yang lebih lanjut, sekedarnya aja sesuai bayangan dan imajinasi author. Kalau banyak ketidaksesuaian tentang lokasi dan dewa-dewaan, maafin deh. Saya mahfumnya dewa yang dikenal di Indonesia doang soalnya.
.::Selamat membaca::.
Monica dan dua pelayannya kembali ke arah tenggara untuk kembali ke kerajaan Yunani dan menemui pemilik sekolah seni terbesar yang ada di kerajaan tersebut. Namun anehnya, perjalanan mereka menuju Yunani kali ini terasa memakan waktu yang jauh lebih lama daripada saat dia pergi ke gunung Olimpus berminggu-minggu lalu. Beberapa hari dia harus singgah di desa-desa terdekat karena Monica tidak ingin menantang bahaya dengan melakukan perjalanan melalui hutan pada malam hari. Tidak hanya itu, aura kecantikan ketiganya seakan semakin memancar saat malam hari menyebabkan Monica, Toris, dan Raivis selalu memancing gairah para lelaki dan menggoda mereka di setiap penginapan atau desa yang disinggahi oleh ketiganya. Namun, Monica bisa melihat celah untuk mendapatkan uang demi membayar uang penginapan mereka dari hal itu. Di malam kedua mereka sampai di desa yang berbeda, Monica mencoba menjual suaranya. Dia bernyanyi untuk beberapa pengunjung, mendendangkan nada-nada indah yang membuat banyak orang terpikat padanya.
"Kupikir dengan cara ini kita bisa bertahan hidup untuk sementara."
"Rasanya ini sangat tidak adil, Your Highness. Sementara anda membiarkan mata-mata liar para pemabuk memandangi anda dengan kurang ajar, kami justru berdiam diri dan menikmati usaha keras anda." Toris terlihat khawatir. Sang gadis berdarah Jerman yang dilayaninya justru hanya tersenyum. "Tidak apa Toris, ah, maksudku Taira. Selama ini kau sangat setia berada di sampingku. Juga Ra… Revaline. Kalian adalah pengawal terbaik yang pernah kumiliki."
Gadis mungil yang memilih mengikat rambut pirang ikalnya menjadi dua bersemu-semu dipuji oleh Pangeran mereka yang kini menjadi Putri itu. Revaline menatap Taira untuk turut berbagi kebahagiaan dengan pemilik mutiara sewarna lumut itu, tapi gadis cokelat itu justru terlihat tidak senang. "Mana mungkin begitu, Your Highness. Walau bagaimana pun, biarkan kami yang mengurus semuanya. Apa gunanya kami sebagai pengawal jika membiarkan putri kerajaan dilirik nakal oleh orang-orang yang kurang ajar?"
"Memangnya kalian bisa bernyanyi?"
Revaline menggeleng karena sejak kecil dia memang sangat buta nada. Sedangkan Taira tertegun sejenak sebelum mencoba menyenandungkan hymne kerajaan mereka dan membuat tawa membuncah dari bibir dua kawannya. Pipinya menjadi merah karena malu dan dia merajuk diam-diam. Revaline yang melihat hal itu sungguh gemas melihat wajah kawannya yang sekarang terlihat manis, yang mungkin saja jika Toris memang dilahirkan sebagai perempuan, Raivis tidak akan ragu untuk menikahinya.
"Setidaknya biarkan kami membantu juga, Your Highness." Ulang Taira setelah mengatasi gejolak darahnya yang terus menerus melesak naik ke pipinya. "Sebagai orang Jerman, saya merasa malu hanya menyusahkan anda dan bersenang-senang sendiri."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Revaline yang sejak tadi terdiam kini mengangkat tangannya. Matanya yang besar terlihat berkilat dengan semangat yang menggebu. Pipi putihnya masih kemerahan, dan baik Monica maupun Taira berujar dalam hati, memuji kecantikan yang murni terpancar di wajah ayu orang yang sekarang bernama Revaline Galante itu.
"P… pada jaman dahulu kala... p… pernah ada seorang p… pahlawan yang g… gagah perkasa dan berani."
Nyaris dua puluh pria berkumpul mengerumuni seorang gadis kecil yang tergagap-gagap sambil memegang pedang mainan. Wajahnya luar biasa merah karena menjadi pusat perhatian oleh para lelaki di kota itu. Dia dapat mendengar bisik-bisik pujian yang mereka lontarkan untuknya dan justru tidak mendengarkan cerita yang dibawakan oleh sang gadis pencerita. Toh cerita itu hanya dipenuhi dengan gagapan si gadis yang gugup minta ampun dan menyumpahi kawannya yang hanya terkikik di tempat yang tak jauh dari tempatnya berada.
'Taira… bantu aku!'
Gadis dengan rambut cokelat lurus itu hanya mampu terkikik pelan dan menahan bahaknya. Dia tak sanggup melihat betapa kewalahannya Revaline menghadapi belasan tatapan mata yang tertuju padanya. Tapi toh, kaleng yang semula kosong diletakkan di tanah kini penuh terisi dengan koin-koin perak dan emas. Meskipun ceritanya tak terjual, wajah manis Revaline lah yang jauh lebih unggul dan laku keras. Revaline bahkan tak bisa melawan saat beberapa tangan gemas dari ibu-ibu yang juga sama tertariknya pada si gadis pencerita mencubiti pipinya yang terlihat merah.
DUK
"Aduh." Taira berhenti tertawa dan terkejut saat Monica memukul kepala cokelatnya. "Your Highness."
"Revaline sudah berusaha keras. Saatnya giliranmu."
"T… tapi saya tidak yakin a… apakah mampu menarik perhatian atau tidak." Taira nyaris menangis karena rasa sakit di kepalanya. Meskipun telah menjadi perempuan, kekuatan Ludwig sama sekali tidak berkurang dari saat dia masih menjadi wanita.
"Setidaknya kau bisa menari kan? Itu yang kau katakan tadi malam."
Wajah Taira yang sebelumnya memerah karena kesakitan kini juga merah karena menahan malu atas tindakan yang akan dia lakukan. Dia sudah bersumpah untuk tidak membiarkan Tuan Putrinya bekerja keras sehingga dia akan melakukan apa pun. Monica menatapnya tajam. "Ayo lakukan."
Revaline sudah menggulung tikar tempatnya bercerita tadi dan menandakan bahwa ceritanya sudah habis—meskipun sama sekali belum selesai, tapi dia sudah tidak tahan dengan sekumpulan lelaki yang dengan nakal meliriknya. Toh kalengnya sudah terisi penuh. Dengan digulungnya tikar, perlahan-lahan orang yang berkerumun itu juga membubarkan diri, dan seharusnya saat itulah Taira beraksi.
Taira menahan rasa malu dan canggungnya. Dia berdiri di tengah-tengah keramaian orang-orang yang hilir mudik, menaruh kalengnya yang kosong, lalu berkacak pinggang. Dia sudah meminta tolong pada seorang seniman jalanan untuk memainkan sebuah musik, dan berjanji akan memberikan setengah penghasilan mereka padanya. Ketika si seniman jalanan mulai memetik gitarnya, saat itulah Taira menggerakkan kakinya. Berjalan dengan langkah sensual dan gerakan nakal di pinggulnya. Pada bagian-bagian tertentu, dia menggerakkan tangannya, menarik seorang pemuda yang kebetulan terpaku padanya dan mengajaknya berdansa dengan penuh gairah. Taira mampu melakukan bebarapa gerakan sulit yang membuat siapapun yang ada di sana menghentikan langkah mereka, melupakan tujuan, dan berkerumun pada keelokan tarian sang pengawal kerajaan Jerman tersebut.
Monica bahkan terpaku dan menyenggol Revaline. Bertanya kapan Toris punya waktu untuk latihan menari, namun bahkan Revaline pun tidak tahu. Memangnya sebelum perjalanan mereka pergi dari istana ini, mereka pernah mempedulikan satu sama lain?
.
Ayah Loropati adalah seorang lelaki dengan wajah yang jauh lebih cantik daripada manusia perempuan pada umumnya. Dari Ayahnya lah Loropati, Sendani, dan Beni mewarisi rupa yang menawan hati dan membuat jatuh cinta lelaki mana pun yang melihatnya. Tapi ada satu hal yang membuat Loropati kesal bukan main jika harus bertemu dengan Ayahnya.
"Pati. Putri Ayah. Kemarilah. Kemarilah. Katakan pada Ayah, kapan kau akan membawa menantuku?"
Ayahnya terlalu memiliki ambisi besar untuk segera mendapatkan menantu. Malangnya bagi Loropati yang anak sulung ialah, dari ketiga bersaudari itu, dirinya lah yang paling dikejar Sang Ayah untuk segera mendapatkan jodoh. Bukannya tidak ada yang ingin memperistri Loropati, hanya saja gadis itu belum mencari siapapun yang cocok untuknya. Ada banyak dewa di kahyangan yang mencoba untuk mendekati dan melamarnya, tapi sang sulung Siti Sri itu menolak jika harus menjadi selir oleh dewa-dewa yang hasrat dan nafsu mereka terlalu menggebu-gebu sehingga lima istri saja tidak cukup.
"Ayah? Bisakah kau sekali saja tidak menanyaiku seperti itu?" sungut Loropati. "Kalau terus begini, aku jadi semakin malas pulang kemari, tahu."
Sang kepala keluarga Siti Sri itu hanya tertawa terbahak melihat wajah kesal anak gadisnya, dan mengajak Loropati untuk duduk di pangkuannya. Memperlakukannya persis sama seperti saat Loropati masih belum memiliki adik. Hari itu rumah Siti Sri memang sedang sepi karena Sendani dan Beni tengah bermain-main di hutan yang dipercayakan oleh Ayah mereka untuk dijaga. Jika dua orang gadis itu ada di rumah, besar kemungkinan Beni akan merajuk, ingin diperlakukan serupa dan Sendani akan menertawakan Loropati yang ditimang layaknya anak kecil.
"Apa salahnya jika seorang Ayah yang sudah beranak besar ini ingin punya anggota keluarga baru, sayang?" Dielus oleh Sang Ayah kepala Loropati. "Jadi, ada apa hari ini mencari Ayah? Kupikir hari ini kau akan mandi-mandi di Sungai Mambang bersama sepupu-sepupumu."
Belum sempat Loropati berujar, Sang Ayah berucap lagi, "Atau kau mau menerima pinangan anak Afrodit, Francis?"
"Yang benar saja! Mana mau aku menikahi dewa yang meniduri ibunya sendiri!"
Ayahnya terbahak dan menggenggam erat tangan kecil gadisnya. "Lalu?"
Loropati terdiam sejenak. Dia sebenarnya ingin berlama-lama mempermainkan Timothy, karena selama di hutan, dia jarang mendapatkan teman manusia. Entah rumor apa yang santer beredar di kalangan manusia, yang pasti rumor itu tidak membuat Loropati senang.
"Ada seorang manusia. Dia ingin mencari kakaknya, dan dia tersesat di hutanku kemarin. Aku ingin membantunya."
"Laki-laki?"
Sang Ayah mampu menebak siapa, namun tetap bertanya. Loropati mengangguk. "Putra bungsu Beilschmidt. Seperti yang sedang heboh akhir-akhir ini di dunia manusia, Ludwig, putra mahkota kerajaan Jerman kabur dari istana karena takut menikah dengan seorang putri Italia."
"Lalu?" Sang Ayah masih menggoda Loropati, "Kenapa kau mau membantu putra bungsu Beilschmidt ini? Bukankah kau sakit hati karena ditolak oleh kakaknya kemarin?"
"Dia adalah manusia pertama yang mau berbicara denganku, Ayah."
Sang kepala keluarga Siti Sri mengerti dan tersenyum lembut. "Lalu?"
"Aku sudah berjanji padanya untuk membantunya mencari keberadaan kakaknya." Loropati menggigit bibirnya, "Tapi yah, jika Ayah tidak mau memberitahu, tidak apa. Aku tidak akan memaksa."
"Ah, Putriku." Pelukan Sang Ayah erat melingkari pinggang sang sulung. "Tidak biasanya kau mau membantu orang lain yang berada di bawahmu. Bahkan manusia." Cubitan di hidung mancung sang Loropati, "Biasanya kau hanya menuruti perintah Ayah atau paman dan bibimu."
"Dan Papaa Ver," tukas Loropati. Sang Ayah mendengus dan tidak tersenyum. "Tidak setelah dia mengebiri Ayah. Kau tidak perlu menghormati pedagang sialan itu."
"Tapi karena dialah aku ada bukan?" Dagu Sang Ayah tertopang di puncak kepala anak gadisnya. "Tapi Ayah benci Papaa Ver."
Loropati tersenyum kecil. Papaa Ver adalah seorang pedagang yang kini diangkat menjadi dewa karena dia melayani Zeus dengan sangat baik. Tapi Ayahnya sama sekali tidak menyukai pedagang itu dan seringkali bertengkar dengannya. Bahkan Zeus sekali pun tak mampu melerai keduanya jika mereka mulai beradu mulut dan kekuatan.
"Apa yang kau dapatkan, Pati, dari membantu manusia ini?"
"Tidak tahu," aku Loropati. Dia memang belum memutuskan apa yang ingin dia dapatkan dari Timothy. "Tapi setidaknya dengan satu kali aku membantu manusia ini, akan ada cerita bahwa aku juga berteman dengan manusia dan tidak hanya menyesatkan mereka."
"Kau ingin bantuan Ayah untuk mencari dimana Ludwig Beilschmidt berada?"
Loropati mengangguk. Ketika dia mencium bau-bauan yang wangi, dia hanya diam. Dia tidak perlu menoleh untuk mencari tahu apa yang terjadi, karena dia telah tahu bahwa mata sewarna tanah gembur Ayahnya kini telah berubah menjadi kemerahan. Ayahnya sedang berusaha membantu. Beberapa masa terlewat, Ayahnya kembali dari pencarian ruh.
"Tidak bisa sayang. Sepertinya Zeus menyelubungi ruh Beilschmidt itu dengan sesuatu sehingga tidak dapat kutemukan."
Loropati kecewa, tapi dia tidak menampakkannya pada Sang Ayah. Dia berdiri dan mencium pipi Ayahnya. "Mungkin aku mencoba menemui Zeus dan memohon padanya."
Ayahnya tersenyum tipis sebelum mata cokelatnya kembali menjadi merah dan sebuah rengut tidak menyenangkan timbul di wajahnya. Dia mengutuk seseorang yang tengah membuka pintu rumah mereka dan berteriak, "Mau apa kau kemari?!"
Papaa Ver tertawa pelan. Loropati ingin melompat ke arah sang pedagang, tapi dia ingin menjaga perasaan Ayahnya sehingga dia mengurungkan niat. Papaa Ver menjawab, "Aku hanya ingin menemui putri sulungku. Tidak boleh?"
"Aku baru ingin ke istana Zeus, Papaa." Loropati masih tersenyum manis pada orang itu. Papaa Ver memberikan tatapan menyesal, "Maafkan Papaa, sayang. Kurasa Zeus dan Hera sedang bertengkar. Istana sedang memancarkan aura gelap. Saran dari Papaa, jauhi istana untuk sementara waktu."
Loropati masih tidak memperlihatkan kekecewaannya dan bergegas meninggalkan rumah karena dia juga tidak ingin merasakan aura gelap yang dipancarkan oleh Ayahnya lebih lama lagi.
'Mungkin besok aku akan mendapatkan adik baru lagi, huh?'
Loropati terbang turun ke bumi, namun tidak ke hutannya. Dia lupa bahwa hari itu adalah hari pertama bulan penuh, dan saat itu adalah hari dimana ke tujuh putri sulung dari keluarga besar dewa yang bermukim di langit timur untuk bercengkrama bersama di Sungai Mambang. Dia hanya berharap agar Zaenab belum datang sehingga dia akan terlepas dari tatapan kesal Sakura atau Anya. Tapi keenam bidadari langit timur itu sudah berkumpul ketika Loropati menjejakkan kakinya di tanah, dan yang bisa dilakukan si sulung Siti Sri hanya menyengir saat Anya tersenyum aneh padanya.
"Maaf. Papaa sedang berkunjung di rumah tadi. Hehe."
Sakura menghela napasnya dan berbalik. Mulai melepaskan obi-nya, "Sudahlah, Loropati-san. Yang penting kau tidak terlalu terlambat."
Kareena juga telah meletakkan sarinya ke atas batu dan tersenyum. "Aku sudah terlalu gerah. Ayolah. Atau purnama tidak akan secerah biasanya malam ini."
Yang lain pun mulai menanggalkan pakaian mereka dan merendamkan diri di Sungai Mambang. Segera Loropati melepaskan selendang, menaruh seluruh kainnya di dekat baju Chun Yan, lalu bugil terjun ke sungai. "Ah, segarnya."
Sakura, Dilara, dan Anya pun terlihat memaafkan keterlambatan gadis itu dan turut bersenang-senang saat empat lainnya mulai bermain-main dengan air.
"Kau bilang Papaa-mu sedang bertamu, aru?" Chun Yan memulai gosip yang tak pernah lupa hadir jika ketujuh bidadari bagus rupa itu tengah berkumpul. Mereka menyebutnya berbagi informasi, meskipun Sakura meragukan sebutan itu. "Iya. Kurasa besok aku akan dapat adik baru lagi. Ah… semoga laki-laki."
"Dan semoga tidak semenyebalkan Sendani," Kareena mengamini keinginan Pati. Loropati tertawa dan mengacungkan jempol pada doa gadis itu. Anya menimpali, "Jika dia laki-laki, dia harus mau menjadi reverse harem-ku, da."
Loropati terbelalak mendengar perkataan Anya dan mengubah doanya dalam hati. Bisa mati dia jika harus punya ipar seperti Anya. Dia mungkin akan bernasib sama seperti Chun Yan yang salah satu adik lelakinya harus menjadi seorang anti-sosial karena dekat dengan Anya, si gadis berambut perak.
"Aku rasa untuk anak lelaki keluarga Siti Sri, harus menjadi bagianku." Zaenab tidak mau kalah. Dia tersenyum manis pada Anya, "Kau sudah punya adik lelaki Chun Yan, Anya."
"Loh, bukannya kau tidak diperbolehkan menikah dengan orang yang berada di luar keluargamu, Zaenab?" Dilara mengangkat alisnya. Baru disadari keenam kawannya bahwa gadis rambut hitam itu lupa melepaskan topengnya lagi—atau memang sengaja tidak dilepas? Hal itu membuat Kareena sedikit ingin menjahili gadis itu. Dia berenang sedekat mungkin dengan Dilara dan mengunci tangannya. Berteriak untuk menyuruh kawan-kawannya melepaskan topeng gadis itu yang langsung diserbu empat bidadari yang suka mengisengi Dilara. Sementara Sakura hanya mendesah panjang dan menikmati mandinya hari itu sementara enam kawannya sibuk bergulat dan bermain air.
Sementara Timothy yang mulai merasa ketakutan di hutan gelap Loropati perlahan-lahan panik. Dia berupaya pergi dari sana, namun dia tidak tahu, dimana gadis dewi itu menyimpan kudanya sehingga dia merasa tidak yakin untuk pergi tanpa kuda yang sudah berkali-kali menjatuhkannya. Tapi dirinya yang lain terus mendesak agar pergi dari sana berjalan kaki—karena justru jauh lebih menyenangkan daripada kembali dijatuhkan oleh kudanya. Dan dorongan itu jauh lebih kuat daripada mencari kudanya terlebih dahulu, sehingga Timothy segera keluar dari pondok kecil Loropati, berjalan ke arah yang entah benar menuju jalan keluar hutan atau bahkan justru membawanya semakin dalam masuk hutan.
Selama beberapa waktu dia berjalan, sudah banyak makhluk-makhluk besar dan liar yang menghadangnya. Namun anehnya makhluk-makhluk itu justru tidak menyerangnya sama sekali dan minggir jika mereka berada di tengah jalan si pemuda. Makhluk-makhluk itu mencium aroma Loropati di seluruh tubuh si pemuda pirang, karena itulah mereka segan dan menyingkir. Hormat mereka pada penjaga hutan itu sangat besar, karena tanpa Loropati, mungkin saja hutan itu sudah gundul ditebas para manusia.
Meskipun makhluk-makhluk liar tidak melukainya, Timothy toh tetap lecet-lecet kulitnya. Penglihatannya sangat buruk di hutan yang gelap itu, dan telinganya menuli dalam sekejap. Dia berkali-kali tersandung akar pohon yang mencuat atau menabrak dahan-dahan pohon rendah. Sedikit sesal di hatinya karena tidak mau menunggu Loropati dan justru pergi dari pondoknya.
Telinganya yang beberapa masa lalu menuli, tiba-tiba mendengar suara tawa yang menyenangkan serta sebuah sinar yang luar biasa terang dari salah satu penjuru hutan. Bergegas dia menghampiri keramaian itu, namun tidak menghilangkan kewaspadaannya karena mungkin saja tawa itu justru tawa para makhluk halus yang berupaya menyesatkannya. Dia bersembunyi di balik pohon besar saat sampai di tempat yang tidak terlalu tertutupi pohon, dan melihat tujuh orang gadis yang bersenang-senang di sungai sana.
Timothy menggeram kesal saat mengenali salah satu gadis itu adalah Loropati. Pemuda itu merasa ditipu oleh sang bidadari, dan kekesalan membludak di hatinya. Dia nekat mendekati sungai dengan diam-diam.
'Jika Loropati saja bisa menjahiliku, maka aku juga bisa menjahilinya.'
Timothy ingat pakaian Loropati. Bukan kimono yang berserakan di tanah, bukan pula baju kurung sutera maupun sari berwarna kuning. Tapi sebuah selendang dan kain dengan corak indah yang membungkus gadis itu. Timothy menyambar selendang yang ia yakini milik Loropati dan bergegas menjauh dari sana. Dia tertawa puas pada usahanya untuk membalas dendam pada gadis itu, dan dia berjalan ke arah lain, masih mencari jalan keluar.
Namun tak dianya, kemana pun kakinya melangkah, dia selalu menemui pondok kecil yang dia tiduri tadi malam. Sudah sepuluh kali Timothy mencoba arah lain, namun hasilnya tetap sama. Dia kembali pada gubuk Loropati.
'Jangan katakan ini juga salah satu lelucon Loropati.' Geram putra bungsu Beilschmidt itu. Mengalah, Timothy masuk kembali ke dalam pondok, melepas bajunya, dan melilitkan selendang Loropati ke dada hingga perutnya dan memakai bajunya lagi. Dia sangat yakin, Loropati pasti kesal karena tidak menemukan bajunya dan dia tertawa puas.
Usai tertawa puas, Zaenab dan Kareena merasakan perut mereka mulai mendingin dan ingin berhenti. Sakura setuju meskipun Loropati dan Dilara tidak. Ketika tiga bidadari itu naik untuk kembali berpakaian, yang lain pun turut menyusul dan membuat dua gadis yang masih ingin bermain-main itu mengalah. Sakura mengenakan kimono-nya kembali, Kareena mengambil sarinya, Chun Yan memakai baju kurungnya, Zaenab dengan gamisnya, Anya meraih gaun tebal dengan pita ungunya, dan Dilara menghampiri baju panjangnya. Sedangkan Loropati kebingungan mencari selendang dan jaritnya.
"Ini tidak lucu, teman-teman."
Keenam kawannya memandanginya dengan heran. "Maksudmu apa, Pati?"
"Aku tidak menemukan bajuku."
Dilara berkata ketus pada Loropati. Dia masih merasa kesal karena gadis itu berhasil merebut topengnya dan melemparkannya tadi—meskipun berhasil dia ambil kembali. "Bukankah kau sendiri bisa membuat bajumu sendiri? Kau bukan manusia, toh."
"Memang." Suara Loropati mulai bergetar. "Tapi selendangku itu. Selendang pemberian Papaa. Kalian tahulah, Papaa itu manusia yang pada akhirnya menjadi dewa. Aku ini tidak murni dewa. Jadi… jadi aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatan dewa. Aku tidak bisa kembali ke rumah di kayangan kalau tidak pakai selendang itu."
Air mata mulai menggenangi mata sewarna tanah gembur itu. Dia sudah membuat dirinya mengenakan sebuah pakaian, namun dia hanya mampu berjalan jika tanpa selendangnya. Dia kini tak ubahnya manusia. "Kalian pasti menyembunyikannya, kan?"
"Aku tidak." Sakura berujar. Pandangan kasihan ditujukan pada gadis itu. "Bagaimana kalau kita mencarinya bersama-sama?"
"Kau bercanda, Sakura?" Kareena tidak setuju. "Sudah sore. Sebentar lagi purnama, dan kita sudah harus pulang. Wilayah ini adalah wilayah Siti Sri. Kita harus ada di wilayah kita sendiri nanti malam."
Sebuah tatapan penyesalan diberikan Chun Yan dan yang lainnya, namun Loropati berusaha mengerti. Dia tidak mencurigai kawan-kawannya, karena toh mereka sedari tadi selalu bersama. Tidak ada waktu untuk mereka keluar dari sungai dan menyembunyikan selendangnya. Dibiarkannya keenam sepupunya itu pergi, kembali ke tempat mereka sementara dia berjalan pulang menuju pondoknya, dimana Timothy sudah menunggu.
Air mata terus membanjiri mutiara sang gadis selama perjalanan pulang.
"Padahal itu selendang pemberian Papaa." Perlahan-lahan Loropati mulai meringis, menangis. "Apa mungkin ditiup angin? Tapi ditiup kemana?"
Setiap langkah Loropati diselimuti pertanyaan dan kegalauan tak berujung kemana pun. Dia menjadi kesal dan sedih sekaligus. Apabila dia tidak menemukannya hingga hari esok, dia tidak akan bisa kembali ke rumah dan melihat adik kecil barunya—itu jika Ayahnya kembali dapat anak. Dia bahkan belum bertemu Zeus untuk mencari tahu dimana Ludwig berada. Bagaimana dia ke istana Zeus jika dia saja tidak bisa terbang?
Timothy menyambut kedatangan Loropati dengan keheranan karena melihat wajah ayunya menjadi merah dan basah. Gadis itu juga tak mau berbicara dengannya selama beberapa saat dan itu membuat Timothy menghubungkan sikapnya pada apa yang telah dia lakukan tadi.
"Aku sudah menemui Ayahku." Akhirnya Loropati memutuskan berucap. "Dan kakakmu tidak bisa ditemukan. Zeus sudah melakukan sesuatu untuk mempersulit pencarianmu. Maaf."
'Ho?' Timothy menyindir gadis itu dalam hati, 'Sandiwaramu bagus sekali. Bukankah tadi kau bersenang-senang di sungai sana? Untuk apa sok sedih karena tidak tahu keberadaan kakakku?'
"Kalau begitu, percuma aku berada di sini. Aku harus segera keluar dari hutan ini dan menuju kota selanjutnya. Jika dengan bantuan dewa dan bidadari sepertimu pun aku tidak bisa menemukannya, itu artinya tak ada yang bisa kupercaya selain diriku sendiri."
Sebuah ketidakrelaan terpancar di mata Loropati. Dia memegangi ujung pakaian Timothy saat putra bungsu Beilscmidt itu berdiri. "Aku… Aku ikut denganmu."
Loropati tidak bisa menjaga hutannya tanpa selendangnya, tapi dia berterima kasih pada rumor yang tersebar di kalangan manusia tentang hutannya sehingga tidak ada yang berani memasukinya. Setidaknya rumor itu akan mampu menjaga tempat itu untuk sementara waktu Loropati pergi dari sana. "Aku… aku juga sedang mencari sesuatu." 'Aku akan mencari selendangku. Atau setidaknya menemui dewa lain yang berada di bumi untuk minta bantuan mencari selendangku atau membantuku untuk kembali ke rumah dan bertemu Papaa atau Ayah.'
Timothy memandang Loropati tidak percaya. "Kau hanya menghambat perjalananku."
"Setidaknya aku tahu cara berkuda! Aku bisa melindungi diriku sendiri—itu jika kau tidak mau harga dirimu jatuh karena dilindungi seorang wanita sepertiku. Atau kau ingin aku menjadi seorang pria dan menjagamu?"
Timothy ragu.
"Ayolah, Timmy," desak Loropati. "Kau juga tidak akan bisa keluar dari hutan ini tanpa bantuanku."
Timothy menelan liurnya sendiri. Apa yang dikatakan Loropati benar, dia sudah mencoba untuk pergi tadi, dan dia gagal. Pemuda pirang itu menyentuh perutnya, memastikan selendang si sulung Siti Sri masih ada di sana dan berharap gadis itu tidak mengetahuinya sebelum mengangguk setuju.
"Baiklah. Kau ikut denganku."
.::To be continued::.
New Cast: Sakura (Japan), Chun Yan (China), Zaenab (Uni Emirat Arab), Anya (Rusia), Kareena (India), Dilara (Turkey), Papaa Ver dan Ayah (silakan tebak sendiri).
New information: Monica (Fem!Germany), Revaline Galante (Fem!Latvia), Taira Laurinaitis (Fem!Lithuania)
