La conquista y el conquistador

.

Screenplays!official pairing of EXO and other

.

About characters is not mine, just a fic.

.

Aliceao96

.

M

.

Yaoi/BL/Be El/Typo/Alternatif Universe!

.

No like, don't read!

.

Summary! :

Guru – Murid; Manajer – Pelayan; Pemilik hotel – Office boy; Dokter – Suster; Dosen – Asisten dosen; Direktur – Sekretaris. kisah penaklukan enam orang namja. Berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian sang target dan mendapatkan jiwa mereka seutuhnya. Mulai dari cara biasa dan lembut, hingga cara 'luar biasa' dan 'kasar'.

Bagaimana kisah keenam namja itu..? apakah mereka berhasil melakukannya, atau tidak..?

Apakah mereka berhasil menaklukan sang target…?

Atau justru ditaklukan oleh sang target…?

.

.

.

.

Chapter 1 [Two situation on different places]

Baekhyun memotong sayuran untuk bahan makan malam kali ini. Seperti yang Kyungsoo minta; Sup miso dan tofu juga kimchi. Sedangkan untuknya, ia sedang ingin napolittan spagetti instan. Setelah memotong sayuran untuk kimchi dengan takaran yang dirasa cukup, Baekhyun menyalakan kompor yang menganggur. Merebus air untuk memasukan lidi spagetti. Sekali dayung dua tiga pulang terlampaui, sambil menunggu air mendidih dan kimchi ditiriskan, Baekhyun membuat orange lime ice untuknya dan lime ice tea untuk Kyungsoo.

"hmp! Sempurna!" menatap bangga dengan hasil racikan minuman dari resep di internet yang kebetulan ia temui.

Bergegas ke kompornya setelah meletakan minuman di meja makan; meniriskan kimchi dan memasukkan lidi spagetti. Ia kembali ke meja makan dengan nampan kayu dimana sup miso dan tofu juga nasi sekaligus peralatan makan berada. Meletakkan dengan hati – hati sekaligus menyusunnya.

"sekarang, tinggal menunggu spagettiku, deh!"

Beberapa menit berlalu, dan kini Baekhyun berkutat dengan spagettinya yang sedang ia berikan saus. Ia terkikik dan mencoba untuk menahan hasratnya untuk segera melahap si cantik yang berada di hadapannya.

Berjalan riang kearah meja makan dan meletakkan spagetti itu.

"Kyungsoo-ya!" panggil Baekhyun sambil berjalan keatas, ke kamar adik tirinya. Namun tidak ada sahutan atau gumaman yang biasanya. Baekhyun mengernyitkan dahi dengan telunjuk di sudut bibir kanannya.

'apa yang dia lakukan..? tumben sekali sahutanku tidak dia jawab.'

Dengan terheran – heran, mahasiswa manis semester tiga jurusan manajemen itu menapaki tangga. Sepertinya untuk malam ini, ia dan adiknya akan merasakan rasanya makan malam yang telah dingin untuk yang pertama kali.

.

.

Mata itu bergerak kecil. Tangan kanannya menopang dagu, sebagai penahan agar kepalanya tidak bergerak dan matanya menatap bulan sabit di langit berbintang. Terdengar suara gemerisik dedaunan yang ditampar angin dan suara kakaknya. Biasanya ia akan segera menyahut dengan semangat atau turun dengan menimbulkan debukan antara kakinya dan lantai kayu dari tangga rumah minimalis mereka.

Tapi entah kenapa, ia mengabaikan Baekhyun.

Lebih menyukai untuk berdiam diri, duduk di meja belajarnya yang menghadap jendela, menikmati hembusan angin malam yang menyapa ramah kulit putih bersihnya—

—sekaligus menenggelamkan diri ke beberapa jam ia menjadi out of character seperti ini.

-Flashback#ON!-

"hyung!" teriak Kyungsoo di dapur. Beberapa orang yang menyadari kehadirannya menyapa Kyungsoo atau juga ada yang tersenyum. Kyungsoo tahu itu. Makanya ia tersenyum dan membalas sapaan orang – orang yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.

Di sana, beberapa meter dari tempatnya berdiri, ia melihat orang yang ia cari. Sedang menghias appetizier andalan cafe ini untuk penyambutan manajer baru. Sambil mengikat dengan benar dasi berwarna merah ke kerah pakaian chefnya. Lalu membersihkan lengan dari pakaian putihnya.

"semangat sekali, eh..?" Kyungsoo menoleh ke sebelah kanan. Di sana ada pria tampan yang sedang mengelap tangannya dengan kain lap. Kyungsoo mengangguk dan tertawa kecil. "tentu saja, Junho-hyung," balasnya.

"habis, hari ini kita akan mengadakan pesta kecil – kecilan! Ah, aku merindukannya, semenjak pesta kejutan ulang tahun manajer Lee!" Kyungsoo bertepuk tangan layaknya anak kecil. Beberapa orang yang ada di sana terlihat gemas dengan tingkah Kungsoo. Memang, diantara semua karyawan di cafe Del Amore, Kyungsoo adalah yang paling muda.

" Sumpah, walau kalian semua bilang pesta kecil – kecilan, dekorasi yang kalian buat waktu itu benar – benar menakjubkan! Heuh, beruntung aku di terima di sini!" ia menepuk dadanya dengan bangga. "kemampuan masakku yang menguntungkan semuanya!"

Himchan yang telah berada di belakang Kyungsoo, menepuk pundaknya. "yah, beruntung sekali kau melamar ke sini saat pesta kejutan ulang tahun manajer Lee!" Kyungsoo mengangguk kecil.

"aku ingat, " celetuk Yongguk yang sedang melingkarkan tangan kanan kanannya ke pinggang Himchan. "saat melihatmu yang sedang menempelkan wajah ke jendela kaca. Seperti wajah anak autis yang tersesat di jalan dengan muka melas."

Semuanya tergelak puas. Karena komentar Yongguk memang benar adanya. "Yak! Hyung!" Kyungsoo mencubit lengan Yongguk yang melingkar di pinggang Himchan. Himchan yang merasa ucapan Yongguk sedikit keterlaluan, ikut mencubitnya.

"sudahlah!" Himchan melepaskan diri dari kukungan Yongguk. Menarik Kyungsoo untuk membantunya menyiapkan kue appetizer untuk penyambutan. Namun sebelum pergi, dengan wajah terlanjur bad mood karena dongsaeng tersayangnya dibuat bahan bercandaan yang keterlaluan oleh sang tunangan, dengan sorot mata tajam dan nada yang tidak ingin dibantah, ia menyuruh semua orang untuk kembali bekerja.

"dan kau, Bang Yongguk-ssi..," Yongguk menelan salivanya. Jika Himchan sudah memanggil namanya dengan lengkap dan memakai embel-embel '-ssi', itu berarti calon nyonya Bang sedang marah besar.

"aku harap kau bisa tidur pulas di ruang tamu apartemen kita."

Dan Kyungsoo menyeringai pada Yongguk. Melambaikan tangannya dan terkikik evil dalam hati. Yongguk mendengus. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan 'posisi' paling 'nyaman' untuk 'memberontak' perintah Himchan.

'awas saja kau, Nyonya Bang. Akan kubuat kau tidak bisa berjalan selama beberapa minggu! Khekhekhekhe~"

Himchan bergidik. Lalu mengelus tengkuknya. 'ah, mungkin tubuhku sudah terlalu lelah. Ya sudah, mungkin aku akan minta cuti tiga hari nanti ke manajer baru.'

Kyungsoo dengan telaten dan lincah membantu orang – orang yang membutuhkan bantuan. Entah itu untuk membuat adonan, mencuci buah, mencuci peralatan makan untuk jamuan dan mengelapnya hingga berkilat – kilat, membersihkan meja dan jendela juga pintu, atau juga mendekorasikan ruangan atau makanan dan minuman.

Dengan sifat pekerja kerasnya yang seperti itu, maka tak heran jika diantara semua karyawan café lain, Kyungsoo sedikit sering mendapat bonus dari manajer Lee. Dan karyawan lain yang mengetahui itu pun memaklumkan bahkan memujinya. Membuat Kyungsoo merasa malu dan senang jika dirinya diterima baik di café bertema italia itu. Bahkan ada beberapa karyawan café yang memberinya uang jajan tambahan pada Kyungsoo—yang hanya satu – satunya berstatus mahasiswa. Awalnya ia ditentang oleh Ayah dan Baekhyun untuk melakukan krja sambilan dengan alasan ia takut dengan kesehatan adiknya yang mudah lelah. Tentu saja, Kyungsoo adalah seorang penderita anemia.

Namun karena keinginannya untuk mandiri sangat besar, Baekhyun dan Ayahnya mulai luluh. Dengan syarat bahwa Kyungsoo tidak boleh terlalu memaksakan diri, Kyungsoo pun melamar ke café yang telah berdiri selama 6 tahun ini.

Ketika ia melamar ke café Del Amore, ia sempat ditolak karena statusnya yang masih seorang mahasiswa. Namun karena ia terus memohon pada Himchan yang saat itu seorang kepala pelayan dan chef, manajer Lee yang merasa simpati pun memberikan tes kecil.

"apa kau bisa memasak Blinis?" tanya Manajer Lee. Kyungsoo yang sejak umur tujuh tahun berkenalan dengan dunia dapur dan makanan dunia oleh Umma angkatnya mengangguk dengan wajah bingung. "bukankah itu masakan khas Russia..?"

Manajer Lee mengangguk dengan gaya bijaksananya yang khas. "ya. Meskipun café ini identik dengan sesuatu yang bertemakan Italia, bukan berarti makanan yang café ini sediakan hanya berasal dari italia." Kyungsoo berwajah kagum.

"karena itu, apa kau bisa memasaknya?" tantang manajer Lee. Kyungsoo terdiam beberapa menit dengan raut wajah bingung dan sedikit ragu. "baiklah..," Kyungsoo mengangguk tegas.

"ijinkan saya menggunakan dapur café ini, manajer."

Selama beberapa menit Kyungsoo berkutat di dapur. Dengan tangannya yang telah berkenalan dengan peralatan dapur, ia melakukannya dengan lincah dan tanpa ada kesalahan satupun. Saat itu, Yongguk yang kebetulan menjadi pengawas Kyungsoo berdecak kagum dalam hati. Menurutnya, sebagai mahasiswa, namun kemampuan beradaptasinya di dapur nyaris mengejar kemampuan Himchan yang sudah empat tahun bekerja di café Del Amore.

Setelah Kyungsoo selesai membuat salah satu jenis pancake khas russia, ia meletakkannya dalam piring dan menghiasnya dengan topping yang sesuai. Membawanya ke hadapan manajer Lee yang duduk manis dan diapit Himchan dan Sungyeol.

Menunggu hasil komentar dari manajer café yang menjadi ambisinya untuk kerja paruh waktu di sana. Dengan gugup dan was – was, ia melihat potongan Blinis masuk ke dalam mulut Sungyeol.

Dan tanpa di duga, garpu yang Sungyeol genggam terjatuh. Menimbulkan bunyi dentingan nyaring antara benda platinum dan lantai berwarna merah marun.

Semuanya yang ada di sana kaget—

—termasuk Kyungsoo. Apalagi ketika mereka tahu bahwa Sungyeol tertawa manis dengan air mata yang mengalir.

Dengan tatapan mata yang masih mengeluarkan airmata dan menatap Kyungsoo, Sungyeol tersenyum. "manajer..," lirihnya dengan nada yang lembut dan terdengar senang meski intonasi suaranya kecil.

"ya?" Manajer Lee tersenyum lembut. Pria setengah abad itu menepuk punggung tangan Sungyeol yang meremas apron pinggangnya yang berwarna putih.

"mulai sekarang, aku adalah penggemar pertama masakannya."

Setelah itu, semua orang berebut Blinis yang terdiam manis di meja. Lalu mengucapkan selamat datang pada Kyungsoo yang menangis bahagia sambil memeluk Sungyeol yang masih menangis. Pesta kejutan ulang tahun manajer Lee pun dirangkap menjadi pesta penyambutan selamat datang untuk mahasiswa semester satu jurusan tata boga; Byun Kyungsoo.

Dan sejak saat itu, tanpa pertimbangan alot Kyungsoo menjadi asisten khusus appetizer-cake chef bersama Sungyeol untuk membantu Himchan.

Karena kerjasama tim dan tak ada hambatan yang berarti, Del Amore pun kembali di sulap menjadi sebuah ruangan untuk party night. Meja dan kursi yang di tata sedemikian rupa. Vas bunga yang airnya telah diganti dan juga bunga yang telah ditukar dengan yang segar. Taplak yang berubah warna dan motifnya, pita – pita yang menghias beberapa tempat strategis dan balon – balon yang menjadi pemanis mata.

Lantai dengan motif papan catur dan jendela kaca yang berkilau – kilau memperindah ruangan yang terlihat klasik namun elegan dan glamor. Tirai – tirai yang biasanya berwarna itu – itu saja (meskipun selalu dicuci), kini berubah warna dan model. Gramofon antic dan piano klasik berdiam diri di sudut kanan ruangan; menemani bar mini tempat para barista bekerja. Suara gemeletup air dari AC akuarium mini yang berisi ikan hias cantik beriringan dengan suara uap yang berasal dari mesin pembuat kopi otomatis. Melodi sederhana namun terdengar cantik di telinga mereka.

Tak lupa dengan makanan dan minuman yang khusus dibuat oleh tim juru masak. Dan juga beberapa minuman alcohol berkadar sedang ditata apik di meja bundar dengan gelas berkilau diatur seperti piramida mini[1].

Semua yang ada di sana menatap puas hasil kerja mereka. Ada yang tersenyum, ada yang bersiul, ada yang berkoar-koar bahwa ini adalah karya terbaik yang pernah mereka lakukan. Yah, apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah; mengingat bahwa ini adalah pesta penyambutan yang direncanakan amat matang. Jadi untuk hasil pun, tidak mengecewakan cenderung luar biasa.

Terdengar tepuk tangan yang mengartikan adanya perhatian. Himchan tersenyum manis dengan keringat sesekali mengucur manis dari pelipis dan rahangnya. Membuat Yongguk mereguk salivanya berkali – kali. 'awas kau, nyonya Bang!' gumamnya dalam hati mengingat hukuman Himchan padanya karena sudah menggoda sang dongsaeng tersayang.

"ya! Karena kita masih ada waktu satu jam lebih tiga puluh menit lagi untuk menyambut manajer baru, kita manfaatkan waktu ini untuk membereskan sisa pekerjaan dan membersihkan diri."

Dan setelah itu, karyawan café di bagi menjadi beberapa kelompok untuk membereskan sisa pekerjaan dan untuk membersihkan diri.

"semoga manajer baru kita sebaik dan sepeduli manajer Lee." Gumam Kyungsoo sambil mengusap keringatnya dengan handuk mini bergambar penguin. Dia mendapat jatah untuk membereskan sisa pekerjaan yang –sungguh!- lumayan melelahkan. Sungyeol yang kebetulan berdiri tak jauh dari Kyungsoo tersenyum, "aku harap juga begitu. Aku sebal, kenapa sih, manajer Lee harus mengundurkan diri?!" Sungyeol mendengus.

"mana pakai alasan kalau beliau sudah tidak pantas lagi memegang jabatan itu di café terkenal ini..! itu tidak benar tahu!" Kyungsoo terkikik mendengar gerutuan khas anak – anak Sungyeol. "yah..," sela Kyungsoo sambil berjalan ke kamar mandi café. Meninggalkan Sungyeol yang masih mengusap keringatnya dengan handuk berwarna abu-abu gelap miliknya.

"yang namanya menjadi orang lanjut usia, mereka memang lebih suka menikmati kesendirian di tengah damai dan tentramnya hidup mereka yang mereka reguk setelah berjuang keras melewati rintangan kehidupan, 'kan, hyung?"

Sungyeol tersenyum menatap punggung di balik pintu kamar mandi yang bercat ungu. Apa yang dilakukan dan dipikirkan anak itu, tak pernah Sungyeol dan yang lainnya berhenti terkagum – kagum. Sosok yang sederhana, kuat, dan dewasa di saat yang bersamaan; begitulah pendapat Himchan tentang Byun Kyungsoo.

"sosok yang langka." Bisik Sungyeol sambil tertawa kecil.

Setelah berendam di bathtub kurang lebih lima belas menit, tubuhnya merasa rileks dan hangat. Ia bersyukur bahwa penyakit anemianya tidak kambuh. Untung saja sebelum berangkat kemari, ia sempat makan siang di kantin kampusnya. Tak lupa ia meminum pil penambah darah untuk berjaga – jaga karena ia akan bekerja keras di café.

Keheningan di dapur dan ruang karyawan terdengar asing di telinga Kyungsoo. Membuat pemuda manis bermata bulat itu mengerutkan dahi. Dengan bingung dan agak panic, ia berjalan tergesa – gesa hanya bermodalkan baju rajut tipis kebesaran berwarna kuning polos miliknya dan celana jeans yang tidak terlalu ketat berwarna putih tulang.

Dan matanya yang sudah bulat menjadi lebih bulat lagi.

Dengan muka yang sedikit terbuka.

Dengan pipinya yang perlahan merona dan menghiasi kulit bayinya.

Di sana, tak terlalu jauh dengan jarak Kyungsoo berdiri, ada seorang pria berkulit Tan dengan t-shirt putih agak ketat membentuk lekuk tubuhnya yang proporsional. Memakai celana motif army ¾ dan memakai kalung model dog tag, dengan liontinya berbentuk persegi panjang warna abu – abu. Cara berpakaiannya yang terkesan manly sekaligus seksi dimata orang – orang itu di tambah dengan sepatu khusus hiking berwarna coklat susu dan wirst band hitam strip abu – abu yang melingkar apik di lengan kanannya.

Berambut hitam dengan poni menyamping ke kanan. Rambutnya yang berada di sisi kiri direkatkan dengan gel rambut dan diatur sedemikian rupa hingga terlihat seksi dimata para karyawan yeoja dan juga namja berstatus uke—

—termasuk dirinya.

Pria itu bersiul, "pesta penyambutan yang hening sekali, ya.".

Himchan tersadar lebih dahulu, lalu memohon maaf pada pria yang kini sedang melangkah masuk ke dalam café dengan tangan kiri di kantung celananya dan tangan kanan mengapitkan kacamata hitam pada kerah bajunya.

"a, apakah anda adalah manajer baru yang dimaksud tuan Lee..?" tanya Himchan agak malu – malu. Membuat Yongguk mendengus cemburu.

Pria itu mengangguk. Lalu tersenyum ramah sambil mengedarkan pandangannya ke semua karyawan di sana, tak lupa juga dengan kehadiran Kyungsoo di sisi pintu menuju ruang karyawan café. "halo," salamnya.

"namaku Kim Jongin. Tapi kalian bisa memanggilku Kai. Yang umurnya lebih muda dariku, panggil aku Hyung atau Oppa. Yang umurnya lebih tua dariku, aku harap panggil namaku saja,"

Terdengar pekikan tertahan di sana. Tanpa sadar, Kyungsoo mengarahkan tangan kanan kearah mulut peachnya dan tangan kiri kearah dadanya—ke jantungnya yang berdegup kencang.

"mohon bantuannya ya, semuanya."

Saat itu, baru pertama kali ia merasakan sensasi aneh di mana darahnya berdesir cepat. Hangat dan memabukkan. Dan ia menyukainya. Menjadikannya candu.

Saat itu pula, ia tahu bagaimana rasanya seorang penderita asma yang rasa sesaknya kambuh dan butuh pasokan oksigen dengan volume banyak.

-Flashback#OFF!-

.

.

Terdengar lagu Club can't handle me milik penyanyi pria terkenal di negara patung Liberty—Flo Rida. Dengan di-remix oleh sang DJ pria cantik bermata rusa di panggung kuasanya. Jari – jemari lentiknya menari – nari di atas piring hitam. Atau sesekali mengutak atik tombol dan tuas berwarna – warni. Atau juga menegang salah satu sisi earphonenya dan mengoyangkan kepalanya yang bersurai pirang.

Tersenyum kepada orang – orang yang mengunjungi night club. Ada yang menghentakan tubuhnya mengikuti irama, ada yang menyanyi – nyanyi dengan nada yang tak teratur, ada yang berdiam diri dengan segelas alcohol di tangannya, dan ada juga yang bercumbu hebat dengan sex buddynya. Dan mereka adalah sejenis. Tentu saja pemandangan itu sangat biasa dimata orang – orang, termasuk dirinya dan karyawan night club lainnya juga.

Karena night club ini adalah night club khusus untuk orang – orang gay dan lesbian.

Dan night club ini legal. Ditambah tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata malam yang direkomendasikan oleh penyelenggaran wisata. Bahkan untuk masuk ke dalam pun, hanya orang – orang tertentu saja yang bisa; terutama pasangan sejenis yang diperbolehkan menikmati riuh panasnya suasana di sana.

Tangan itu mengambil sebuah botol berukuran besar berwarna hijau gelap dari lemari pendingin. Lalu mengambil pembuka tutup botol yang tutupnya terbuat dari spon berwarna kuning. Memutar – mutarkan besi runcing berbentuk spiral ketika tutup botol itu telah tertusuk di tengah – tengah.

Lalu, setelah meletakkan alat pembuka tutup botol itu di kolong, cairan berwarna merah itu mengalir mulus dan tertampung di gelas khusus. Sebanyak lima gelas dan botol dengan label red wine itu ditelakkan di atas nampan, setelah ditutup dengan penutup botol tanpa direkatkan kembali. Berdampingan dengan mangkuk berisi es batu yang waktu bekunya tahan lama.

"bawa ini ke meja nomor delapan ya, saeng."

"I got your comment, Hyung!" berpose hormat sebelumnya, dan sesudah itu ia berjalan menuju tempat yang dimaksud.

Beberapa menit kemudian setelah ia membersihkan tumpahan wine di meja bar, sebuah tepukan lembut di bahu ia rasakan. Saat ia tahu siapa yang menepuk bahunya, ia tersenyum ramah. Sambil membersihkan tangannya mengunakan tisu, ia bertanya ada apa.

Wanita itu, yang merupakan pemilik night club tempatnya berkerja tersenyum ramah. Tanpa kata – kata untuk menjawab pertanyaan yang ditunjukan pria manis berpipi tembab di hadapannya, hanya dengan kedipan, pria manis itu tahu apa maksudnya.

"baiklah, noona. Akan kutunggu dongsaengku kembali."

"ok. Aku harap kau dan yang lainnya melakukannya dengan baik. Seperti yang sebelum – sebelumnya."

Pria manis itu terkikik, "ya, seperti yang sebelum – sebelumnya."

Lalu, ia mengalihkan pandangannya kearah meja dimana terisi oleh empat pria. Dan satu diantara mereka berwajah manis. Tipe uke, sama seperti dirinya dan pria manis dan cantik lainnya.

Pria manis itu yang hanya mengenakan kemeja hitam agak kebesaran dengan ukuran tubuhnya dihimpit oleh tiga pria lain. Dua pria di sisi kanan dan kiri, dan satu pria tepat di hadapannya, di bawahnya. Berhadapan tepat di selangkangannya.

Tiba – tiba, pria berambut cepak melumat bibir pria manis itu. Dan pria berambut jabrik melumat putih kanan pria manis yang telah terekspos jelas. Entah ke mana perginya kemeja hitam milik pria manis yang kini meleguh dengan leher yang terjenjang dan dinodai kiss mark. Mata pria manis yang seorang bartender itu membulat, ketika matanya menangkap pria yang sedang melakukan blow job dengan penis pria manis itu.

Membuat pria manis bertubuh ramping dan berkulit sawo matang yang ternyata bukan karyawan night club tempatnya bekerja mengerang nikmat dengan tubuh yang terhentak tak beraturan.

Foursome.

Dan baru kali ini pria manis itu melihatnya dengan mata telanjang.

Pemandangan itu ia alihkan ke tempat lain, ketika dirasa bahwa ada sesuatu yang menganggunya di bawah sana. Sebuah gundukan yang terlihat tidak terlalu jelas oleh orang lain, namun tampak menyakitkan bagi si penderita. Pria manis berwajah cina itu meringis.

"hyung..?" Panggil seseorang yang ia kenal. Pria itu menengok ke belakang, dan ada dongsaeng tidak sedarahnya di sana. Menatapnya bingung. "ayo." Ajak pria itu sambil mencengkram lengan dongsaengnya.

"sekarang waktunya kita bermain."

Dan mereka hilang ditelan kegelapan menuju ruang belakang, tempat mereka akan bersiap – siap. Menjadi seorang 'artis besar' diatas panggung.

Sebuah suara wanita yang menjadi DJ pengganti berseru meminta perhatian. Ia berkata bahwa apa yang orang – orang tunggu akan segera datang. Dan wanita muda itu juga mengatakan jika mereka akan menyesal untuk melewatkannya. Mengabaikan kegiatan mereka sebelumnya, pengunjung pria pun tergopoh – gopoh menuju sebuah tirai raksasa berwarna merah. Seolah menulikan teriakan para sex buddy-nya agar mereka kembali dan melanjutkan permainan. Tirai itu tergantung apik dan mengesankan keangkuhan, jika orang – orang itu merasakan lebih jeli bahwa tirai raksasa itu berbahan sutra terbaik.

Menunggu dengan tidak sabar, dan mereka terkadang menyerukan nama – nama yang mereka tunggu. Sebuah nama 'artis besar' yang aksinya amat sangat dinantikan.

Perlahan – lahan, music Stereo love milik Edward Maya ft. Vika Jigulina tergantikan dengan lagu sensual yang nakal. Milik seorang penyanyi wanita negeri Paman Sam yang khas dengan suara layaknya gadis remaja; padahal ia sudah memiliki anak.

Bersamaan dengan music itu, tirai sutra merah milik bar tersebut terbuka dengan perlahan – lahan. Disusul dengan asap yang menyelimuti panggung yang dibatasi oleh kaca raksasa. Orang – orang di sana berteriak histeris dan menyebut nama sang 'artis'; ketika dengan perlahan saat asap itu menghilang dan tergantikan dengan sosok yang mereka tunggu.

Tiga pria manis yang bergaya di tiang striptease.

Mereka memakai kemeja putih, vest hitam, dasi kupu – kupu berwarna merah dan celana bahan berwarna hitam yang telah robek di beberapa bagian.

Tidak lupa dengan ekspresi wajah mereka yang amat sangat terlihat menggoda dimata para pria pengunjung night club.

"baby can't you see.. I'm calling~" pria manis yang berada di sebelah kiri beranjak dari posisinya.

Kini, yang sebelumnya pria dengan lesung pipit manis di wajahnya memeluk tiang dengan kaki kanan diangkat dan dililitkan ke tiang, berjalan dengan gaya sensual sambil membuka perlahan vest hitamnya.

"a guy like you.., should wear a warning~" lidahnya menari di bibirnya yang kissable. Mengedik genit dengan ekspresi wajah dan gaya tubuh yang dibuat seseksi mungkin.

Menimbulkan sorakan bahagia dan siulan menggoda yang ditujukan untuknya.

"it's dangerous.., I'm fallin'~"

Dan vest hitam itu tergeletak manis di lantai kayu panggung.

"there's no escape..i can't wait~ I need the hit.., baby give me it~"

Sekarang, sosok yang disebelah kanan beranjak dari posisi menungging; memunggungi orang – orang yang terlihat bernafsu untuk mempermainkan buttnya. Sebelum membuka vestnya, ia menyempatkan diri untuk memeluk tiang berwarna perak, memutar kepalanya untuk melewati tiang itu dan menghadap ke penonton, lalu menjilat tiang itu dengan sensual.

"you're dangerous.., I'm loving it~"

Dan vest itu terlepas dan pria bermata sipit itu meliuk – liukan badannya. Menari dengan gaya menggoda untuk mengikuti irama lagu toxic; lagu yang menjadi BGM-nya hari ini.

"to high, can't come down~"

Pria manis yang duduk mengangkangi tiang streaptease kini berdiri perlahan. Mata rusanya menatap nakal ke orang – orang yang menatapnya penuh nafsu. Lidahnya menari – nari, terkadang di bibir, dan terkadang salivanya membasahi tiang.

Ia tahu, apa yang dilakukan dirinya, hyung, dan dongsaengnya sukses membuat mereka menegang drastic. Dilihat dari raut wajahnya yang kaku dan tegang. Ia tertawa dalam hati, padahal ini baru permulaan.

"losin' my head, spinnin' round and round~"

Ia merangkak dengan gaya menggoda. Sesekali, kepalanya terngadah keatas, memamerkan leher jenjangnya yang seolah sedang menggodanya untuk memberi tanda. Atau juga, buttnya ia goyangnya ke kanan dan ke kiri. Mengedipkan matanya dengan genit, lalu tersenyum menggoda.

"do you feel me now~?"

Lagu itu jeda sesaat.

"with the taste of your lips I'm on a ride~"

Ketiga pria manis itu bernyanyi di saat yang bersamaan. Pria manis berambut pirang lembut memutar – mutar tubuhnya, lalu menggoyangkan pinggul sebelah kanannya kearah penonton.

" your toxic I'm slippin' under~"

Pria manis berambut hitam, meraba – raba tubuhnya dengan gerakan perlahan yang membuat para penonton gemas untuk merabanya dengan penuh hasrat.

"with the taste of the poison paradise~"

Tak lupa dengan rambutnya ia buat berantakan, mengesankan rambutnya yang tidak teratur karena suatu hal yang membuatnya berantakan seperti itu untuk menggoda para penonton.

"I'm addicted to you, don't you know that you're toxic~?"

Sedangkan pria manis berambut coklat susu, ia berlutut. Namun tangan kanannya yang perlahan masuk ke dalam kemejanya yang terlihat longgar dan mengusap seduktif perutnya membuat semua orang menelan saliva dengan kasar.

"and I love what you do, don't you know you're toxic~?"

Dan sekarang, ketiga pria manis itu berjalan seduktif mendekati kaca tebal raksasa. Dengan waktu yang bersamaan, mereka melepas zipper celana dan pengaitnya. Menggerakkan tubuhnya dengan perlahan dan menggoda, menatap nakal pada orang – orang, dan lupa dengan salah satu dari mereka melemparkan flying kiss pada para penonton; membuat teriakan hysteria kembali menggema ruang night club itu.

Tiga celana kini bernasib sama dengan vest hitam yang telah terabaikan. Membiarkan dirinya diinjak oleh kaki jenjang berkulit putih yang cantik dan menggoda untuk dinikmati. Salah satu kanvas alami dalam tubuh mereka bertiga untuk mengreasikan diri menodai tempat itu.

"it's getting' late.., to give you up~"

Dengan perasaan yang belum puas untuk menggoda pria – pria tampan penghuni night club di sana, kini mereka bertiga, hanya dengan mengenakan kemeja putih sedikit transparan dan brief hitam yang ketat hingga membentuk bagian butt mereka, dengan merangkak seduktif, mengarahkan diri pada kaca panggung.

"I took a sip, from my devil's cup~"

Mereka pun akhirnya menempelkan diri ke kaca itu. Menatap orang – orang dengan tatapan seolah meminta mereka untuk bercinta dengannya. Sayu dan wajah yang memerah, tak lupa juga dengan gerakan jari – jemari yang menari dipermukaan kaca itu dan senyum seksi mereka masing – masing.

Mereka tahu, bahwa pria – pria di sana sedang berusaha mati – matian untuk menahan hasrat bercinta masing – masing.

"slowly, it's taking over me~"

"to high, can't come down~"

lidah itu menjilat permukaan kaca. Perlahan, tangan mereka masuk ke dalam brief masing – masing. Mencari sesuatu yang telah mengganjal di selangkangan mereka.

"it's in the air, and it's all around~" menutup mata mereka, menikmati sensasi yang mereka rindukan dan telah memuncak diambang batas.

"can you feel it now~?" membayangkan apa yang ingin mereka bayangkan. Sebuah sosok tampan yang telah menjerat hati mereka.

Dengan erat—erat—sangat erat—hingga mereka tak sanggup untuk melepaskan diri.

"with the—aannh!—taste..uh! o, of yourrrhh… lipshh..anh!—I'm on a..ride~ ah!"

Lirik lagu yang seharusnya mereka lantunkan kini ternodai dengan desahan mereka sendiri. Nafas mereka tersengal – sengal dan terasa berat. Dengan mata terpejam erat, mengereka mengocok penis mereka dengan satu tangan.

"you're—uhhnn!—to, toxic.. iI'm slippin'—ah! Anh!—un..derrhh~"

Tangan yang lain, mereka biarkan mencengkram kaca dengan kuat untuk menopang tubuh mereka yang berdiri; menimbulkan derit yang teredam dengan suara histeris pria – pria yang berebutan untuk menempelakan di ke kaca tebal dan menghisap benda di selangkangan pria manis di hadapannya. Meskipun hanya semu.

"with the taste—angh! Angh!—of yourrhhh.. po, poison..para—akh!—paradiseee~"

Ketiga pria manis itu mengabaikan kebisingan pria – pria di hadapannya. Lebih focus pada imajinasinya yang liar. Membayangkan bahwa 'dia' yang mereka maksud melakukan hubungan badan dengan cara yang luar biasa. Membayangkan penis 'orang itu' menujam holenya dengan keras, menghajar titik kejutnya yang manis dan membuatnya kecanduan untuk merasakannya lagi dan lagi. Membuatnya lemas dan tak bisa melepaskan diri dari sensasi kenikmata yang dihasilkan oleh 'orang itu'.

Membayangkan lidah'nya' yang menari diatas nipples mereka yang menegang, dan membayangkan sentuhan tangan dibagian kelamin mereka yang butuh perhatian.

Memikirkan hal itu, membuat mereka menhentakkan tubuhnya maju mundur; hingga bagian depan tubuhnya menghantam kaca tebal itu. Dengan gerakan hentakkan yang semakin lama semakin kencang hingga membuat pengunjung bar kalut dan panas. Dan sebagian dari mereka makin berebut untuk mendekati sang pujaan yang tak bisa dijamahnya.

Dan sebagaian lagi lari ke sex buddynya dan bercinta diwaktu dan tempat itu juga.

"I'm addicted to youuhhh..ahn! ahn! Angh! Aaaa~!—don't you know that you're—ungh! toxic..?—hhaaannhh!"

Terdengar suara yang mengelu dan menyebut nama mereka dengan kata – kata penuh sensor. Keras, membahana. Di tambah dengan suara erangan nikmat yang membaur menjadi satu dengan music toxic milik Britney spears di luar panggung streaptease.

"LuLu! Come here to me and let's having a f*cking one – night – stand with me!"

"and I loloveeesshh… what y—you do~ hah! Hah! Anh! Ungh!—don't you knowwhhhh… that y, you're toxic~?"

"I will fu*king you so hardly, yes I will, Xiu! I WILL F*CKING YOU SO HARDLY!"

"ah! Ah! Angh! Ooh! Ooaahh~! Ungh! Ukh! Hh~ hh~" tubuh ketiga pria manis itu mulai bergetar. Suasana panas di dalam panggung mulai terasa. Keringat mengalir di lekuk tubuh seksi mereka.

"Lay! You're so d*mn sexy! You made me h*rny so much, now! Come here, baby!"

Mengabaikan itu.

Memokuskan diri mereka untuk segera menjemput sesuatu yang sudah mereka tunggu. Kaki mereka bergetar hebat, dan perlahan – lahan kekuatannya menipis.

"intoxicate—uh!—me now~ with youuuhhh..ah!—lovin' now~"

Perlahan mereka mulai limbung.

Nafas mereka yang semakin menderu – deru. Pandangan mata mereka mulai mengabur dan mereka tahu apa artinya itu.

"I think I'm ready—ungh! Unh!—now~"

"LuLu! LuLu! Baby!"

"Xiu! Honey!"

"Lay! My sexy!"

"I think—hah! Hah! Hah!—read..dyyyhhh! ah! Ah!—no, NOOO—AAAAAAA~~~!"

Tubuh itu limbung. Di permukaan panggung. Lemas, tenaga telah terkuras dan suhu tubuh mereka terasa panas. Pandangan mereka terlihat sayu. Wajah mereka memerah sempurna dan keringat mengalir dari pelipis mereka. Tak lupa dengan beberapa saliva yang tampak di susut bibir merah yang terbuka untuk menghirup oksigen banyak – banyak.

Xiumin tertidur dengan wajahnya yang mengarah ke pengunjung.

Lay yang jatuh dan duduk dengan dahinya yang berkeringat menempel pada kaca panggung.

Luhan yang tertidur terlentang dengan kepala menghadap keatas.

Lalu mereka merasa ada yang jatuh dari langit panggung. Berwarna putih dan terasa asam, manis, pahit, dan semua rasa yang bisa orang – orang rasakan tentang cairan itu.

"wine," gumam Luhan sambil menutup mata.

Mereka tidak menyangka. Hanya dengan membayangkan sosok 'dia' saja, bisa membuat mereka orgasme secepat ini. Padahal sebelumnya butuh waktu yang cukup lama (bahkan hingga menghabiskan 2 lagu sebagai BGM aksi mereka). Dan sungguh! Bahkan baru kali ini mereka membayangkan diri mereka dicumbu oleh pria tampan idaman mereka dengan sejelas dan seliar ini.

Membuat mereka klimaks dengan cairan yang cukup banyak.

Mengingat hal itu, wajah mereka kembali memerah. Bahkan terlihat lebih jelas.

'ya ampun..,' gumam mereka di saat yang bersamaan.

'hanya membayangkannya saja, sudah membuat tubuhku seperti ini..,' mereka menutup wajah dengan satu tangan yang menganggur.

'bagaimana jika 'dia' benar – benar mencumbu tubuhku…?' pikirnya.

"….."

"..mungkin aku akan klimaks berkali – kali di rentang waktu yang sebentar.."

Yah..,

Untuk menenagkan pikiran mereka yang terlampau jauh,

Tak ada salahnya bukan, menikmati guyuran wine bak air hujan di panggung ini?

.

.

[To be continued]

.

.

A/N[1] :

For your information :

[1] Al mengambil inspirasi adegan dimana gelas yang diatur menyerupai piramida mini itu dari komik Black Butler karya Toboso Yana. Nggak tahu tankoubonnya di volume berapa, tapi yang pasti itu adalah cerita dimana Sebastian dibunuh sama Earl Grey~

.

.

A/N[2] :

#BackgroundMusic : Baby one more night Britney Spears

Eiiii~ Al balik lagi, nih~ #dadahdadahsambilmengelusLycandanhidungyangdisumpaltisu

Bagaimana chapter satunya?

Puas? Puas? Puas? #A'la host bu**n em**t ma*a

Kalau Al sih, kurang puas! Habis nggak sampai ensi-an, sih! #trollface #dilemparlemper

Rahahahahahaha~!

Dan nggak tahu kenapa, otak mesum Al lagi sejahtera(?), nih! Mungkin karena saya lagi mood buat sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang menjurus; jadi ya, chapter kali ini…ya.., begitulah. Tapi kalau nggak 'begitu' ya…'begini'..(._.)

#garukgarukkepala #innocentface #apasihmaksudnya?! #abaikansaja

Well, apa adegan mana yang kalian suka, terus bisa kalian bayangkan hingga nyata di depan muka?

Kalau Al sih, bagian dimana Kyungsoo sedang melakukan tes memasak oleh Manajer Lee dan dia diterima menjadi karyawan café Del Amore. #staycool

Oh iya, untuk makanan yang bernama Blini, itu benar lho, dari Rusia. Al pernah lihat gambarnya, dan sumpah! Al mau banget cicip tuh makanan unyu(?)!

Apalagi buatan Kyungsoo-Mommy! #happyface

Ok, cukup A/N [2]-nya! (0u0)/

Mind to review..? :3

.

.

A/N[3] : ini balasan review kalian~

[Wereyeolves] = "ini sudah dilanjut~ mind to review~?"

[Joyer] = "di sini sudah ketemu, kok~ oh! Joyer rekomendasi other BB-nya?!

Ada Official pairing-nya nggak..? kalau ada, tolong sebutkan nama

pair-nya dan status uke semenya, ok..?"

[Irnaaa90] = "rahahaha~ karena Al baik dan unyu(?), disini Kkamjong-Dad dan

Kyungsoo-Mom ketemu, deh! Eih? Apanya yang sampai 10 ribu..?

(0u0)"

[Yurako Koizumi] = "AAAAA…! YANG BENAR, NIH..?! NGGAK

MAINSTREAM GITU…?! KOK AL MALAH MERASA KALAU

INI MAINSTREAM PAKAI EMBEL – EMBEL BANGET, YA..?!

#kapslokdiinjakLycan

Oh ya, mereka berlima bikin kaki langsung lemes..?! gimana dengan

Kkamjong-Dad di sini…?! Heuh.. heuh.. heuh.. #trollface

And, absolutely yes! Itu isi hati para uke!

Nakal ya, pakai mau menaklukan seme segala! Kalau dihukum, bau

tahu rasa, tuh! #LOL

And, yes! Mochi always cute!"

[Anenchi] = "oh, ya..? waktu kamu baca ff ini, kamu baru bangun tidur..? aih,

aih.., terus kamu baca ulang gitu? Wah! Saya terhura!

#tebarpakupayung #dilemparlemper

Aih.., kamu memanggil mereka biji(?)..?! Al sarankan! Panggil

mereka ekor(?!) saja..! sensasinya lebih terasa(?!)…! Tapi, apa

prolognya nggak terlalu panjang..? (._.) ok, ini next chapternya~"

[Khuntorians] = "ah, masa..?! wah! Al terpusi(?)..! fusososososo~ Al sedang

mencoba sensasi dimana hubungan taoris itu punya status guru-

murid! :3 ini sudah lanjut~"

[Shinjiwoo920202] = "and yes! KaiSoo meet at here! Hihihihi…Al juga belum tahu apa

yang ada di dalam otak para seme tentang hal ini~ fusososososo~"

[] = "ngomong – ngomong, 'jjang' itu artinya apa, sih…? (._.)

eih, jangan panggil Al 'author', ya! Kesannya ada dinding

kasat mata yang membelah jarak antara Al dan kamu(?).. jadi,

panggil aku Al, ok?! Oh ya, gidarilge itu bahasa apa..? artinya

apa..? (._.) dan ini sudah dilanjut~"

[Kirei Thelittlethieves] = "Hi, Kirei! Maaf ya, Personal Reviewnya nggak dibalas. Al

logout duluan. #bow #hug

Gimana, sudah pantengin(?) terus ff prolog kemarin..? ketemu

nggak cluenya kenapa KaiSoo belum dipersatukan(?)..?

hehehe.. ini ff sudah dilanjut~ mari mereview lagi~"

A/N[3]-nya selesai! :3