|BaoXiuZiMin| : "Majesty-ssi.." {one secon ago}

|CallMeMajesty| : "nde? wae, chagiya~?" {two secon ago}

|Baek00Con| : "umm.., bagaimana cara menjerat pria yang easy going dan tidak peka dengan situasi-kondisi tertentu seperti targetku?" {one secon ago}

|BaoXiuZiMin| : "seperti targetku juga, Majesty-ssi! kau tahu, target kami adalah orang yang easy going dan cenderung tidak kenal situasi-kondisi!" {three secon ago}

|CallMeMajesty| : "maksudnya?" {three secon ago}

|Baek00Con| : "maksud kami, target kami itu tipe orang yang terkadang tidak peka kondisi dan situasi tertentu. Hampir sering membalas hal serius dengan candaan dan itu terkadang membuat beberapa orang yeoja sedikit kesal ketika ingin menyampaikan perasaan mereka. hmph! Untung saja karena sifatnya yang seperti itu, dia belum dimiliki dan memiliki siapapun! Aku jadi punya peluang untuk memilikinya, iya, 'kan?" {one secon ago}

|BaoXiuZiMin| : "iya, benar! Bayangkan, baru hari pertama saja, targetku sudah mendapatkan lima kali pernyataan cinta di tempat yang berbeda dan di rentang waktu yang hampir bersamaan!" {four secon ago}

|Baek00Con| : "aku juga begitu! Aku juga!" {one secon ago}

|CallMeMajesty| : "jinjja..?! Hehehehe.. target kalian sudah punya fans dihari pertama pula, ya? Hahahaha… jjang! Daebak!" {one secon ago}

|BaoXiuZiMin| : "ish~ bantu kami, Majesty-ssi! Bukannya tertawakan kami!" {two secon ago}

|CallMeMajesty| : "oh, tenang saja Xiubaby~ aku akan memberikan tips untuk kalian! Dengarkan baik – baik, ya!" {four secon ago}

|Baek00Con| : "jinjja? Ok, Baek akan mendengarkannya baik – baik!" {one secon ago}

|CallMeMajesty| : "ok, bersiaplah, babies!" {one secon ago}

|BaoXiuZiMin| : "um!" {three secon ago}

|Baek00Con| : "um!" {one secon ago}

|CallMeMajesty| : "jadi, trik untuk menjerat pria dengan tipe yang easy going dan terlihat tidak peka dengan situasi-kondisi tertentu, yang pertama kali harus kalian lakukan adalah : ikuti alur pembicaraan si target. Jika target kalian sedang dalam situasi-kondisi ringan seperti sedang ada hasrat untuk bercanda, maka kalian ikuti alur candaannya. Yang kedua, jika situasi-kondisi ringannya berubah menjadi berat, maka dengan perlahan, kalian obrolkan tema yang menyangkut dengan tujuan utama kalian. Tapi, poin pentingnya di langkah kedua adalah, jangan memaksakan dia untuk menjawab, mengerti atau memahami apa yang kalian ucapkan. Jika kalian memaksanya, maka yang menjadi titik utama di pikirannya adalah sifat burukmu yang dianggap tukang pemaksa oleh dia. Jadi, seandainya dia tidak mengerti dan cenderung mengalihkan pembicaraan kalian dengan target dari tema obrolan tujuan kalian, kalian ikuti saja alurnya. Tenang saja, lakukan dengan tulus maka dengan sendirinya target kalian akan berpikir bahwa kalian adalah pribadi yang enak diajak untuk memfleksibelkan diri dengannya.

Nah, apa kalian mengerti..?" {five secon ago}

.

.

.

La conquista y el conquistador

.

Screenplays!official pairing of EXO and other

.

About characters is not mine, just a fic.

.

Aliceao96

.

M

.

Yaoi/BL/Be El/Typo/Alternatif Universe!

.

No like, don't read!

.

Summary! :

Guru – Murid; Manajer – Pelayan; Pemilik hotel – Office boy; Dokter – Suster; Dosen – Asisten dosen; Direktur – Sekretaris. kisah penaklukan enam orang namja. Berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian sang target dan mendapatkan jiwa mereka seutuhnya. Mulai dari cara biasa dan lembut, hingga cara 'luar biasa' dan 'kasar'.

Bagaimana kisah keenam namja itu..? apakah mereka berhasil melakukannya, atau tidak..?

Apakah mereka berhasil menaklukan sang target…?

Atau justru ditaklukan oleh sang target…?

.

.

.

.

Chapter 4 [first step (2)]

.

Hari ini, ruangan tempat Xiumin bekerja belum terlalu ramai seperti biasanya. Mungkin karena ini masih pagi untuk beroperasi. Seperti di hari – hari sebelumnya, orang – orang akan datang satu demi satu ketika jam menunjukan pukul sepuluh pagi.

Satu jam sebelum dokter yang menjadi penanggung jawabnya datang.

Kenapa Xiumin bisa hafal..?

Oh, itu karena Xiumin selalu memperhatikan si Dokter Kim yang terkenal ramah dan easy going di kalangan rumah sakit dan pasien – pasiennya. Apa yang dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam yang masih berusia muda itu selalu terekam baik di kedua iris kembar monokrom Xiumin.

Ketika ia bertemu sapa, berbasa – basi tentang keluhan sang pasien, memeriksa sang pasien dengan beberapa guyonan hingga pasien tidak merasa tegang ketika di periksa, memberikan resep, dan setelah itu membalikkan tubuhnya dan menyeringai bangga ketika ia selesai memeriksa pasiennya dengan jari tangan kananya membentuk tanda 'peace'.

Memamerkan deret gigi yang berwarna putih dengan semu tipis di pipinya.

Saat itu ketika Xiumin mendapat ekspresi darinya, yang ia lakukan adalah terbengong- bengong terpesona selama satu menit, dan satu menit kemudian ia mengangkat dua jempolnya dan mengucapkan selamat.

Dan ia telah melakukan itu selama tiga hari ini dengan rentang waktu dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore. Menikmati 'pemandangan indah' yang diperlihatkan oleh Dokter Kim Jongdae, dokter muda berusia dua puluh tujuh tahun.

(Ah…., ada kalanya hidup itu memperlihatkan sisi kebaikan yang ditunjukan olehnya kepada kita; itu kata Ummanya.)

(Dan Xiumin mempercayai hal itu sekarang.)

"hihihihihi…" Xiumin terkikik di tengah kegiatannya membersihkan dan merapikan ruangan. "aku tidak sabar untuk melakukan obrolan 'itu' dengan Dokter." lanjutnya.

Xiumin membersihkan kaca – kaca, lemari, meja, kursi, manekin dengan tinggi dari leher hingga paha atas (dengan terdapat tiruan organ dalam dengan lengkap di dalamnya), dan ranjang pemeriksaan dengan kemoceng yang ia genggam.

Setelah itu, ia merapikan meja yang berisi beberapa berkas daftar pasien beberapa hari kebelakang, tempat pensil yang berisi tiga ballpoint berwarna biru, kotak stetoskop dan kotak pengukur tekanan darah.

Lalu, ia beranjak ke lemari kaca mini yang terdiri dari beberapa peralatan dokter umum; seperti suntikan , obat bius, thermometer, dan lain – lain. Ia mengganti suntikkan yang kotor dengan stok baru yang telah ia bawa dari ruang penyimpanan. Setelahnya, ia membuang suntikan itu ke tempat sampah yang terdapat di pojok ruangan; di dekat dengan ranjang pemeriksaan.

Xiumin menghela nafas perlahan sambil mengusap keringat di pelipisnya.

Ia tersenyum puas dengan hasil kerjanya yang tak pernah ia kecewakan.

Ruangan itu jadi tampak lebih bersih dan rapi dari yang sebelumnya. Ruangan itu tampak lebih segar karena angin pagi yang mampir ke dalam, dan tampak lebih terang dengan cahaya alami dari luar. Bias – bias cahaya matahari yang menyelinap masuk dari sela – sela tirai yang bergerak kecil karena ulah angin dan yang terpantul dari kaca jendela, menerpa lantai putih bersih ruangan.

"ah," ia melihat jam tangannya. "sudah jam 08:45 AM ternyata."

Xiumin beranjak dari tempat menuju pintu ruangan dengan mengirimkan pesan kepada Myungsoo. "sebaiknya aku segera mengganti bajuku dan sarapan di kantin sebelum Dokter Kim datang."

Namun setelah ia membuka pintu, ia bertubrukan lumayan keras dengan dada bidang seseorang. Xiumin yang saat itu gerak refleksnya tidak siap, hampir saja ia mendaratkan bokongnya ke lantai keramik; ketika ia tubuhnya tidak ditopang oleh sosok yang ia tabrak.

Xiumin yang awalnya menutup mata karena ia pikir akan merasakan sakit di bagian bokongnya, membuka matanya perlahan setelah menyadari bahwa bokongnya baik – baik saja. Lalu dengan gerak slow motion (yang sebenarnya tidak amat sangat diperlukan), ia memindai sosok yang menempel dengan tubuhnya, dan beberapa detik kemudian ia melotot kaget.

"kau baik – baik saja, Xiumin – ssi..?"

"m, m, mi, mi…" Gagap Xiumin. Matanya berkunang – kunang dan suhu tubuhnya memanas.

"hm..?" Sosok yang teridektifikasi sebagai pria itu tersenyum sambil menaikkan satu alisnya. Xiumin yang melihat ekspresi itu semakin meleleh.

Tanpa aba – aba, Xiumin melepaskan tumpuan tubuhnya dari orang itu dengan sedikit kasar, setelahnya ia melangkah mundur dua langkah dan membungkuk dalam – dalam dengan tubuh yang gemetar dan terasa panas di bagian wajahnya.

"mianhamnida, Dokter! Mianhamnida, saya tidak melihat kalau dokter ada di depan pintu!" Sesal Xiumin sambil meremas jeans biru mudanya. Detik kemudian, terdengarlah tawa renyah yang pastinya berasa dari mulut lawan bicara Xiumin.

Xiumin melirik dokter yang beberapa langkah di hadapannya, dan ia melihat jika dokter pujaan hatinya masih tertawa dengan tangan kanan yang mendarat di bagaian dada. Membuat Xiumin semakin tersipu.

Oh ayolah, bagaimana ia tidak tersipu?

Saat itu, Dokter Kim—atau bisa dipanggil Chen memakai t-shirt berwarna abu – abu dengan kerah berwarna hitam, lalu ia menumpuknya dengan kemeja kotak – kotak berwarna biru muda – biru tua, tak lupa dengan celana katun berwarna hijau lumut sepanjang mata kaki dan ia mengenakan pantofel putih polos. Rambut jabrik hitamnya yang khas kini telah diganti dengan rambut lurus sependek tengkuk dengan warna coklat muda.

Bau parfumnya memanjakan hidung Xiumin; yang nyaris saja ia mengendus dengan gerak mencolok sedikit kampungan karena ia tidak bisa menahan diri.

oh ya ampun, Xiumin ingin meleleh rasanya!

(tapi sayangnya itu tidak mungkin, Xiumin.)

"Xiumin-ssi..?"

Xiumin tersadar dari lamunan pribadinya. Ia kaget ketika melihat telapak tangan Chen yang melambai – lambai dekat jarak pandangnya yang terbilang dekat. "oh! eh! I, iya, dokter..?"

"kau baik – baik saja..? kupanggil dari tadi, kau melamun saja." Chen terkekeh.

Xiumin tertawa canggung. "i..ya.., saya baik – baik saja, dokter. oh iya," sadar Xiumin merasa ada yang janggal hari ini. "kenapa dokter sudah datang? ini belum waktunya dokter datang, 'kan..?"

"apa?"

"iya. seharusnya dokter datang jam 09:00 AM nanti, 'kan? kok sudah datang—"

Xiumin membekap mulutnya. matanya berkaca – kaca dan pipinya memerah. Dalam hati, ini merutuki mulutnya yang tidak bisa berhenti mengomentari keanehan orang lain. Jantungnya berdetak kencang manakala Chen melihatnya dengan raut wajah kaget.

"Xiumin-ssi.., kau perhatian sekali, ya? aku saja tidak tahu kalau setiap datang kesini selalu jam 09:00 AM. hahahaha!" Chen tertawa sambil melangkah masuk ke ruangannya.

Xiumin mematung semenit, dan kemudian menghembuskan nafasnya lega.

'kukira ia akan menganggapku aneh karena hafal dengan jam tibanya di ruangan.', Xiumin mengelus dadanya dan tersenyum kecil dengan mata terpejam.

"ah, Dokter!" Xiumin membalikkan tubuhnya. Kini Chen telah memakai jubah dokter dan kacamata berbongkai tebal berwarna putih (yang justru tampak lebih keren dimata Xiumin). Chen membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi Xiumin untuk mengambil berkas di meja nakas kecil samping jendela, lalu tersenyum.

"hm..?"

bolehkah Xiumin meleleh (lagi)..? Xiumin ingin meleleh (lagi) karena mendengar dehamannya, Umma!

(sekali lagi, sayangnya itu tidak mungkin, Xiumin.)

"ano.., karena jam operasinya masih satu jam lagi, boleh saya pergi sarapan..? dan, untuk ruangannya, saya sudah membersihkannya semua, dokter."

"oh, tentu saja! lalu, maaf, Xiumin-ssi.." Xiumin yang hendak membungkuk permisi, kembali sedikit menegakkan tubuhnya, dan menelengkan kepalanya ke kiri. "bisa kau belikan aku segelas cappuccino hangat. Nanti uangmu akan kuganti."

Setelah Xiumin menjawab jika ia akan membelikan Chen segelas cappuccino hangat ia beranjak menuju kantin rumah sakit. Di sana ia menghambiskan sarapannya bersama teman sejawatnya yang lain selama kurang lebih tiga puluh menit. Lalu, sebelum beranjak ke ruang perawat tempat seragamnya di simpan di loker, Xiumin memesan segelas cappuccino hangat dan meminta pelayan kantin untuk mengantarkannya ke ruangan tempat Chen bekerja.

Ketika ia dalam perjalanan menuju ruangan Chen, ia berpikir, kira – kira apa yang harus ia katakan kepada Chen agar ia mengetahui bahwa ia sedang melakukan 'penaklukan' padanya (Xiumin baru ingat dengan tips Majesty ketika ia sedang memesan segelas cappuccino hangat untuk Chen), tapi tanpa ada unsure pemaksaan. Tentu saja, seperti yang Majesty bilang, ia harus mengikuti alur topic obrolan jika targetnya ada tipe pria yang easy going dan cenderung tidak peka seperti Chen.

Gagal mendapatkan kalimat yang sesuai, ia memutuskan menyerah dan memasrahkan diri pada kesempatan yang ada.

Xiumin mengepalkan tangan kanannya di dada, "semangat, Xiu! semangat!"

Ketika ia sampai di tempat, ia melihat beberapa pasien yang telah duduk mengantri di ruang tunggu. Xiumin menyapa beberapa pasien yang didominasi oleh kaum lanjut usia yang masih tampak segar fisiknya. Setelah dirasa cukup untuk berbasa – basi, ia pamit untuk masuk ke ruangan. Tak lupa ia membawa kertas berwarna kuning yang merupakan kertas pendaftaran untuk berobat hari ini.

Di sana, terlihat Chen sedang membaca beberapa berkas dari beberapa pasien yang datang kemarin. Dan di tangan kanannya, sebuah kepulan asap muncul dari bilik gelas plastic bermotif totol hitam. Tak ingin mengganggu, seperti biasa, Xiumin menulis daftar pasien di buku daftar yang tersedia di sana dengan segera, sesuai dengan abjad.

"Dokter, pasien sudah datang. Apa jam praktiknya mau Dokter buka sekarang?" Xiumin memeluk papan dimana ia telah selesai menuliskan daftar nama pasien hari ini.

"oh." Chen meletakan gelas cappuccinonya. "tentu. Silahkan kau buka." Xiumin mengangguk.

Xiumin memanggil pasien yang pertama; dan itu adalah seorang nenek yang diperkirakan berusia tujuh puluh tahunan bersama seorang ahjumma yang memapahnya. Dan ahjumma itu diperkirakan berusia tiga puluh tahunan, dimata Xiumin yang bening.

"Dokter baru, ya?" Tanya ahjumma itu ketika Chen telah memeriksa kondisi si nenek. Kini ia sedang menuliskan resep obat yang sesuai dengan pasiennya.

"iya, saya baru nyonya. Ada apa? ungkin ada yang ingin nyonya keluhkan tentang hasil kerja saya?" Chen tersenyum sambil memberikan resep obat itu. Xiumin yang melihatnya dari jarak yang agak jauh di depan pintu, merasa cemburu ketika senyumannya lagi – lagi diobral untuk orang lain.

(Dalam hati, ia berkoar – koar jika senyuman Chen adalah miliknya mutlak.)

Ahjumma itu tertawa dengan mulut yang tertutup dengan telapak tangannya. "ah, tidak. Hanya saja, usia anak perempuan saya mungkin sama dengan usia dokter. Dan saya pikir, jika dokter sudah cukup matang untuk saya jodohkan dengan putri saya yang sekarang berada di Denmark. Bagaimana?" Tawar ahjumma itu.

Ini dia!

Ini dia alasan yang membuat Xiumin ingin segera menaklukan dokter tampan yang seruangan dengannya! Menyebalkan! Selalu saja pasien yang datang ke sini dengan terang – terangan meminta Chen untuk menikahi putri mereka!

'tidak boleh!', batin Xiumin. 'dia sudah mutlak menjadi milikku, dasar ahjumma bermake up menor! Urusi saja make up itu, huh!' innernya berkata.

"ah, terima kasih. Tapi saya ingin focus kepada cita – cita saya dulu, tak apa – apa, 'kan, nyonya?" Chen menolak dengan sopan. Meskipun sedikit kecewa, ibu – ibu itu tersenyum ramah dan mengangguk.

Sambil memapah mertuanya, ia berjabat tangan dengan Chen dan tertawa kecil tanpa penutup. Dan kali ini, Xiumin menatap tajam tangan ahjumma yang bersentuhan dengan tangan Chen secara sembunyi – sembunyi.

(lagi, Xiumin berkoar – koar dalam hati jika tangan Chen adalah mutlak miliknya.)

"tak apa – apa. terima kasih dokter. nanti, jika dokter sudah tertarik, hubungi saja saya. alamat e-mail saya tertera di kartu kuning yang terkumpul di sana. nama saya Han Jong Na."

"tentu, terima kasih sudah bersedia datang kemari." Chen tersenyum ramah.

Dan Xiumin berhasil 'menyingkirkan' ahjumma genit bermake up tebal itu dari ruangan Chen. Mendengus kesal dengan mata yang menatap tajam kea rah pintu, setelahnya ia menarik nafas – hembuskan nafas selama tiga kali; lalu berbalik arah ke Chen yang sedang meminum cappuccinonya yang mulai mendingin.

"selalu saja begitu ya, Dok. Apa dokter tidak jengah?"

"apanya?" Chen memasang wajah polosnya. Sisi lain dari Chen yang terlihat sempurna dimata orang – orang; dan beruntungnya (atau justru sial?) hanya Xiumin saja yang mengetahui sisi lain salah satu dokter muda di rumah sakit swasta itu.

Meskipun begitu, namun Xiumin tetap pada pendiriannya.

Ia tetap pada prinsipnya untuk menaklukan dokter muda tampan, Kim Jongdae.

"itu. Mengobral anak perempuan dan meminta dokter untuk mengikat salah satu dari mereka ke altar penikahan."

"hahaha! Jahat sekali kau mengatakannya dengan kata 'mengobral'.., mereka bukan barang, Xiumin-ssi~" Xiumin tanpa sadar mem-poutkan bibir kissablenya. Namun sayang, Chen tidak melihatnya karena sibuk menormalkan kikikannya.

"well, dimataku, mereka memang terlihat seperti itu, Dok! Lagipula, dokter juga selalu menolaknya. Memang ada apa, sih..?"

"kenapa kau ingin tahu masalah pribadiku, Xiumin-ssi~ hmm~?" Chen menopang dagunya dengan tangan kanan dan menatap Xiumin dengan pandangan jahil (yang justru terlihat seperti pandangan menggoda di mata Xiumin).

Untuk yang ketiga kalinya, Xiumin berharap ia meleleh saat ini juga!

(sekali lagi (sungguh!), sayangnya itu tidak mungkin terjadi, Xiumin.)

"ah.., ti, tidak. Sa, saya hanya penasaran saja, dokter. Tidak lebih.." tiba – tiba, darah di dalam tubuhnya berdesir dan suhu tubuhnya menghangat. Chen terkikik.

Dalam hati, ia mulai takut untuk mendengar alasan kenapa Chen selalu menolak perjodohan terselubung yang selalu dilancarkan pasiennya.

"kau tahu, aku masih ingin bebas. Dan aku juga tidak tahan dengan yeoja yang kerjanya hanya bisa merajuk dan memaksa pasangannya dengan egois. Membuatku jengah! Hahahaha… setiap hari mereka terlihat seperti kucing betina yang ingin kawin, tapi nggak dapat pejantan! Ribut terus, dan cerewet!" Chen terkekeh kecil.

Dan Xiumin bersorak bahagia dalam hati.

"bagimana denganmu, Xiumin-ssi..?"

"ah, saya juga sependapat dengan dokter. Saya masih ingin bermain – main terlebih dahulu."

"yeah.., that my idea."

"lagipula, saya punya criteria sendiri untuk pasangan saya nanti." Xiumin berusaha menormalkan detak jantungnya.

Chen enambah tinggi nada suaranya. Terlihat penasaran, "oh, ya?" Xiumin mengangguk semangat.

"criteria pasangan saya nanti..," Xiumin melirik Chen yang saat itu sedang meneguk kembali cappuccinonya. "adalah tipe yang sopan, easy going, dan manly seperti Dokter."

Chen yang hendak membuang gelas plastic minumannya terhenti. Lalu dengan gerakan slow motion (yang sebenarnya amat sangat tidak diperlukan), ia menatap wajah Xiumin yang sedang menatap lurus kearahnya. Wajahnya merah dan ia tidak tahu jika Xiumin sedang mengumpat agar jantungnya berhenti bedebar sekeras sekarang. Dan juga mengumpat betapa bodohnya ia memilih kata itu; kata yang mengesankan bahwa dirinya adalah seolah gay yang terang – terangan menyatakan perasaannya.

Dan mereka tidak menyadari jika mereka telah mengabaikan tumpukan pasien diluar sana.

Seharusnya ia tahu, jika Chen belum tentu orang yang 'sama' dengannya.

"Xiumin-ssi…, ja, jangan – jangan kamu.."

"….."

"…jangan – jangan kamu suka yeoja tomboy, ya?! Sampai criteria pasanganmu ada kata manly segala! Hahahahahaha! Xiumin-ssi.., kalau kau mencari yeoja tomboy, mungkin akan butuh waktu lama; tapi berjuanglah! Ahahahahaha…, aduh, aku baru ketemu dengan namja yang sepertimu, Xiumin-ssi.."

Xiumin terbengong – bengong. Bukan lagi terpesona, tapi mendadak ia menjadi kelu untuk mengelak ketika mendengar ucapan Chen barusan.

Xiumin tergagap. "ah.., hehe.. eh.., y, yah.. be, begitulah, dokter.."

"hahahaha! kira – kira kalau kalau first night nanti, siapa yang jadi Semenya, ya..?! Aigoo~ perutku sakit.. hahahaha!"

"…ha.., hahaha.."

Dan selama beberapa menit ke depan, hanya terdengar tawa geli Chen dan tawa miris Xiumin yang berangsur – angsur menghilang di tengah keheningan ruangan serba putih.

Entahlah, Xiumin harus menangis atau bahagia saat itu.

Menangis karena maksud ucapannya tidak tertangkap di otak Chen,

Atau bahagia karena ia tidak dicap aneh hingga membuat Chen memutuskan untuk menjauhi dirinya.

.

.

.

.

Baekhyun menyusuri lorong kampusnya.

Sambil mendengarkan lagu Hero – Mariah Carey dari headset berwarna merah marun, Baekhyun tak mengabaikan tatapan kagum, iri, dan memuja dari orang – orang yang berpapasan dengannya. Sesekali, ketika Baekhyun tak sengaja bertatap mata atau ada orang yang memberikan senyum sapa, maka Baekhyun membalasnya dengan lambaian tangan dan ucapan salam waktu. Kalau sudah begitu, maka orang yang mendapat balasannya akan terkikik bangga atau terpekik tertahan.

Sementara Baekhyun, ia hanya bisa tersenyum dan melirih dalam hati tentang reaksi orang – orang yang berlebihan.

Baekhyun cukup terkenal di fakultasnya.

Siapa yang tidak mengenal sosok namja imut ini?

Dengan rambut cokelatnya yang tertata rapi, kulit putih susunya, matanya yang sipit dan selalu ditambah eyeliner tampak cantik jika berkilat – kilat, senyum manisnya, tubuhnya yang berisi dan nyaris mendekati kosakata molek. Sifatnya yang ramah dan selalu memfleksibelkan diri sesuai situasi – kondisi membuat ia mendapat banyak teman tanpa waktu yang lama.

Di sisi lain, ia adalah salah satu mahasiswa yang selalu dibicarakan para dosen karena sifatnya yang rajin; walaupun bukan dikategorikan sebagai jajaran mahasiswa jenius. Namun karena ia berhasil mengambil hati para dosen dengan perilaku terpujinya, ia berhasil menjadi anak emas bagi beberapa dosen.

Sayangnya tak ada yang tahu pasti—

—jika Baekhyun adalah tipe orang yang agresif dan sedikit egois jika ia dihubungkan oleh hal – hal yang ia inginkan.

Seperti keinginannya untuk memiliki Dosen muda baru kampusnya yang baru lulus dari Tokyo University satu tahun yang lalu.

Baekhyun terkekeh dalam hati.

Sambil membalas sapaan yang entah keberapa kali di lorong ini, ia memikirkan obrolan macam apa yang bisa memberikan pesan tersirat jika ia menginginkan Park Chanyeol menjadi miliknya.

Angin berhembus melewati Baekhyun tanpa permisi; yang kini melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Dalam perjalanan menuju kelasnya, ia melewati lorong yang arah jalan dan pemandangannya berhubungan langsung dengan tama belakang kampus.

Angin itu menerbangkan beberapa helai rambut Baekhyun dan ujung kemeja polos berwarna hijau toskanya. Sesekali Baekhyun mencuri pandang kearah orang – orang yang sedang bercengkrama di taman sana; dan kemudian ia melihat Chanyeol sedang dikerubung. Jumlah mahasiswi di sekelilingnya saat itu berjumlah lima orang. Dan entah ada angina pa, baru sedetik Baekhyun berkedip, kini mahasiswi yang ada di sekeliling Chanyeol menjadi delapan orang.

(memang secepat apa sih, pergerakan pendekatan para yeoja jika melihat pujaan hatinya 'menganggur'..?)

Baekhyun mendecih lirih dan menatap sinis ke segerombolan yeoja genit itu.

Mencoba untuk tidak memperdulikan hal yang membuat hatinya mendidih jengkel, Baekhyun melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda. Selain itu, ia kembali memikirkan topic apa yang harus dibicarakan dengan Chanyeol; yang sesuai dengan tujuan penaklukannya.

Namun baru beberapa langkah dari tempatnya berhenti, ada teriakan yang memanggil namanya. Dan orang itu sedikit beruntung, karena Baekhyun telah melepas headsetnya.

Itu adalah Chanyeol. Ia yang sedang melambai dengan semangat kearahnya. setelah itu, Baekhyun melihat Chanyeol sedang berusaha melepaskan diri dari 'cengkraman' para yeoja ganas dengan cara sopan dan berlari kecil kearahnya.

Chanyeol yang telah menstabilkan nafasnya, melirik Baekhyun dengan gaya yang masih membungkuk. "kau mau ke kelas, 'kan..?"

"iya, Saenim. Saenim mau ke sana bersama?" tawar Baekhyun dengan nada bahagia yang teramat rapi disembunyikan. oh tentu saja, karena Chanyeol lebih memilihnya daripada yeoja ganas di sana.

Chanyeol mengangguk. "tentu. Aku tak akan mampir ke ruanganku karena semua materi sudah tersedia di sini," Chanyeol menepuk tas jinjing kulitnya. "kajja."

Dalam perjalanannya, terkadang Chanyeol melontarkan beberapa pengalaman lucu ketika ia kuliah di ToDai (Tokyo Daigaku) di awal – awal percakapan. Cerita yang terkadang membuat Baekhyun tertawa lepas atau mengernyit dahi dengan tatapan apa – anda - serius – dengan – cerita – itu – saenim – ?. Dalam perjalanan mereka pula, tak jarang mereka harus berhenti untuk sementara waktu ketika beberapa mahasiswi ganas menyapa dan mengajak Chanyeol ke dalam obrolan kecil mereka. Kalau sudah begitu, Baekhyun hanya bisa tersenyum menjaga imej dan mengumpat sebal dalam hati. Atau ketika waktu bercengkrama mahasiswi itu dirasa menyita waktu agak banyak Chanyeol dan Baekhyun, maka dengan segala macam rayu Baekhyun, ia berhasil membawa Chanyeol pergi.

Sedangkan Chanyeol hanya merautkan wajah bingung dengan sikap yang sedikit dingin dengan mahasiswi yang mengobrol dengannya.

Meskipun mahasiswi itu tidak tahu (atau mungkin pura – pura tidak sadar dan lebih mengurusi menatap wajah tampan sang dosen muda?), tapi Chanyeol tahu.

Walau begitu, ia akan tetap diam saja; dan memaklumkan. Karena ia merasa bahwa alasan Baekhyun untuk membawanya keluar dari lingkaran rayuan para mahasiswi adalah benar adanya.

Sementara dengan Baekhyun, ia masih sibuk mengumpat dalam hati dan selalu mengulang kalimat 'Chanyeol Saenim adalah milikku!' dalam hatinya dengan amat protektif dan agresif.

Sesekali dalam perjalanan mereka pula, tak jarang Baekhyun melirik dosen yang berjalan di samping kanannya. Matanya memindai Chanyeol dengan sangat jeli. Hari ini Chanyeol memakai kemeja kotak – kotak berwarna putih lengan pendek, dan dasi ramping yang sedikit dikendurkan berwarna biru langit. Memakai celana hijau lumut yang nyaris menyerupai warna hitam dan sepatu pantofel hitam yang berkilat – kilat ditimpa bias matahari.

Ketika angin menampar keberadaan mereka, Baekhyun bisa mencium wangi maskulin dari tubuh Chanyeol dengan jarak dekat; dan itu membuat Baekhyun berusaha mati – matian agar tidak pingsan di tempat karena wanginya yang memabukkan.

"Baekhyun-ssi.., bagaimana denganmu? kau 'kan sudah di kampus ini lebih lama daripada aku, jadi bagaimana?"

Sejenak Baekhyun tidak menangkap maksud dari dosen tecintanya. Namun ia tersadar jika yang mereka bicarakan adalah rasa nyaman mereka di kampus ini. Maka dari itu, agar terhindar dari kecurigaan Chanyeol karena ia sibuk melirik sang pujaan hati, Baekhyun mengangguk.

"ya, saya suka di sini. apalagi saya punya banyak teman di sini, walaupun terkadang saya merasa lelah karena tanggung jawab saya sebagai asisten dosen."

Chanyeol terdiam sejenak, "jadi kau keberatan dengan tanggung jawabmu menjadi asistenku, ya?"

"ah, bukan!" Baekhyun menyadari kesalahan dalam pemilihan kosakata ucapannya. "maksud saya, ini adalah tugas yang langka sekali untuk dipikul oleh mahasiswa, 'kan? jadi, walaupun saya merasa berat karena tanggung jawab saya dengan status asisten dosen, tapi saya merasa bangga karena dipercaya oleh Saenim." Baekhyun tersenyum manis sambil menahan debar jantungnya; sebab sejak tadi, Chanyeol tak henti memandanginya terus.

Chanyeol tersenyum, "kau keren sekali, Baekhyun-ssi. Aku jadi kagum dan merasa fans sama kamu." Chanyeol menepuk pundaknya. Dan itu adalah setuhan yang kedua kalinya selain berjabat tangan ketika memperkenalkan diri bahwa ia adalah asisten Chanyeol.

Baekhyun membulatkan matanya. Ia merasakan aliran kejut dari sentuhan itu lagi. Dan itu membuat suhu tubuhnya sedikit memanas. Namun ia berusaha untuk menahan diri agar tidak terpekik girang.

"terima kasih, Saenim. hehehe.." Baekhyun berhenti sejenak.

"kalau saenim, apa saenim sudah merasa nyaman dengan situasi di sini..?"

Chanyeol menaikkan salah satu alisnya keatas. "kenapa begitu?"

"soalnya, Saenim sudah lama tinggal di Jepang, 'kan..?" Chanyeol mengangguk. Dalam hati, ia menghitung berapa lama ia tinggal di Negara sakura tersebut.

"hmm, menurutmu bagaimana?"

Baekhyun merengut. "kenapa ditanya balik ke saya?"

"hahahaha! Bagaimana, ya? Hhm.., ini 'kan negara kampung halamanku; mau nggak mau, suka nggak suka; aku harus nyaman di sini, 'kan? Yah.., walaupun ada yang nggak aku sukai di sini. sama dengan di Jepang sana."

"oh, ya? yang mana? apa?" Baekhyun merasa bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengenal Chanyeol lebih dalam dengan dirinya yang sukarela memberitahu; bukan seperti yeoja ganas yang serba memaksa untuk tahu Dosen muda ini seluk beluknya secara paksaan.

Hei, memang mereka pikir Baekhyun tidak tahu?

Baekhyun sangat tahu. Saking tahunya, Chanyeol selalu datang padanya dan curhat tentang menyebalkannya yeoja ganas yang memaksa dirinya untuk memberitahu seluk beluk sang dosen tampan; setiap ia berhasil 'melarikan diri'. dan itu membuat Chanyeol risih.

"kalau aku bilang, apa kamu akan marah, Baekhyun-ssi..?"

"marah?"

"hm, yah… ada hal yang nggak aku sukai begitu aku mengajar di sini. Dan aku merasa risih."

Baekhyun berkedip beberapa kali. Chanyeol tersenyum geli dalam hati; ia mengomentari tingkah Baekhyun barusan membuatnya gemas.

"kau tahu 'kan, apa itu?" Chanyeol terkekeh geli. Setelah berkedip beberapa menit dan memproses maksud dari Chanyeol, perlahan senyum Baekhyun terbentuk di wajah manisnya.

"ya, saya tahu! Hahahaha! Saenim 'kan tampan, jadi wajar jika banyak mahasiswi yang mengejar – ngejar anda untuk menjadi pacarnya….., atau pasangan hidupnya." ucapan Baekhyun yang semakin lama semakin bernada lirih membuat Chanyeol terdiam.

Chanyeol menatap Baekhyun yang saat itu sedang memainkan ponselnya dengan senyum lucu yang mengembang; entah apa yang membuat Baekhyun sesenang itu. Lalu tanpa sepengetahuan Baekhyun, setelah Chanyeol melirik padanya dan mengalihkan pemandangannya ke taman belakang yang terlihat dari jendela lorong kampus, samar – samar terlihat rona tipis di kedua pipinya.

Chanyeol berpikir; apa ini hanya perasaannya saja atau memang Baekhyun sedikit berbeda dari kebanyakan namja di kampus ini?

lihat saja;

Saat itu Baekhyun memakai kemeja polos berwarna hijau toska; yang tidak di kancing dan memperlihatkan t-shirt berwarna nila muda. Ia memakai celana longgar hitam yang panjangnya hanya separuh dari panjang betisnya. Dan kedua kakinya memakai sepatu boot hiking berwarna coklat caramel.

Tangan kirinya memeluk binder clips berwarna oren lembut dan tas punggungnya yang berwarna ungu gelap ia gantung di lengan kanan. Sedangkan tangan kanannya pun masih sibuk dengan ponsel putih tulangnya.

Chanyeol merasa bahwa Baekhyun sedikit terlihat lebih manis dari yang sebelumnya.

(Chanyeol mengakuinya dengan bersungguh – sungguh.)

Angin berhembus dari beberapa jendela yang terbuka. Walaupun begitu, karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh, Baekhyun bisa mendengar sebuah ucapan yang membuat tubuhnya memanas dan hatinya menjerit senang.

"maafkan aku kalau ini sedikit lancang. Tapi serius, kau terlihat sedikit lebih manis daripada yang sebelumnya lho, Baekhyun-ssi."

Baekhyun rasanya ingin lompat dari tempatnya berdiri sekarang. Dan saat ia melompat dan merasakan angin yang memberinya ucapan selamat, ia ingin berteriak bahwa Chanyeol mengatakan manis padanya ke seluruh dunia.

(ngomong – ngomong, ini lantai tiga, Baekhyun. Kau yakin ingin lompat?)

karena Baekhyun masih sayang nyawa dan sayang dosen muda tercinta di sebelahnya, ia memutuskan untuk menggugurkan niat ababil itu.

"Saenim tahu," Baekhyun diam – diam menghirup nafas. "Saenim orang pertama yang bilang bahwa aku manis untuk hari ini."

"jinjja?" Chanyeol melotot tak percaya. "jadi kau selalu dibilang manis setiap harinya?"

Baekhyun mengangguk kecil. Ia tersenyum manis. "lumayan banyak. Dari beberapa mahasiswa yang mengenalku, mahasiswi yang dekat denganku, dan beberapa dosen yang selalu membuatku menjadi bahan obrolannya dengan dosen lain."

Di mata Chanyeol, saat itu Baekhyun terlihat bersinar.

(tentu saja. Saat itu Baekhyun diterpa oleh bias – bias sinar matahari. Kenapa Chanyeol tidak sadar, ya?)

Lagi – lagi Chanyeol tersipu tanpa sadar. Dan tanpa seijinnya, tangan kirinya mendarat di surai lembut Baekhyun. Mengacak – acak surai itu. Membuat Baekhyun terpekik kaget karena ulah sang dosen.. juga karena ucapan selanjutnya.

"kau memang manis, Baekhyun-ssi! Sangat pantas jika mahasiswa saja bilang manis padamu! Dan mungkin ada saja yang mengatakan suka padamu nanti! hahaha…"

Baekyun menyimpan ponselnya di saku celana. Setelah itu jari tangan kanannya ia ajak untuk merapikan surainya. "Saenim membuat rambut saya berantakan.., uhh~"

"maaf, maaf." Chanyeol meringis geli.

"bagaimana dengan Saenim..?" Chanyeol menatap Baekhyun.

Baekhyun menundukkan kepalanya. Ia tahu jika jarinya yang sedang merapikan rambut sedikit gemetaran.

"….apa Saenim suka padaku?"

dan terjadilah sebuah keheningan.

Chanyeol yang masih menatap Baekhyun; dan Baekhyun yang masih pada posisi menunduknya. Secara sembunyi – sembunyi, Baekhyun menelan saliva dengan gugup. Sedangkan ia mulai sadar jika ia merasa bahwa keringat dingin muncul melalui kulit tubuhnya yang tertutupi pakaian.

Jantungnya berdebar – debar. Dan Baekhyun bingung untuk memilih apa ia menyukai jantungnya yang berdebar karena hal barusan; atau tidak sama sekali.

Chanyeol berdeham setelah beberapa menit terpaku dengan pertanyaan Baekhyun.

Ia melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Mendahului Baekhyun yang merasa kaget karena tak diacuhkan. Sambil menahan rasa sakit di dada dan menahan tangis, ia melanjutkan perjalanannya. Dengan langkah yang terkesan melambat. Ia ingin sedikit menjaga jarak dengan Chanyeol.

"….ka."

Baekhyun mendongakkan kepalanya. Berkedip – kedip hingga beberapa air matanya jatuh.

"Saenim..?"

"baka!" Chanyeol sedikit menaikkan nada suaranya. Membuat Baekhyun berjengit kecil mendengarnya. Baekhyun meringis diam – diam, manakala ia tahu apa arti kalimat yang Chanyeol katakan barusan.

"tentu saja aku suka padamu, Baekhyun-ssi."

Jantung Baekhyun berdebar kencang sekali.

Setelah itu, debarannya menjadi semakin cepat seperti suara kuda yang berlari.

Baru saja Baekhyun ingin berlari, memeluk dan mengatakan bahwa ia juga menyukai Chanyeol dan ingin menjadi pacarnya; sebuah kalimat lagi – lagi membuat Baekhyun kaku.

"aku suka padamu; kau benar – benar asisten dosen yang cekatan! Hasil pekerjaanmu juga rapi dan cara mengajarmu juga memuaskan! Aku baru tahu, kenapa Yong Saenim membanggakanmu sebelum ia pensiun waktu apel kemarin. Hahahaha…!"

Saat itu, Baekhyun ingin sekali melompat di tempat dan berteriak bahwa hatinya merasa sakit dengan bunyi cenat – cenut; setelah mendengar pernyataan Chanyeol barusan kepada seluruh dunia.

(sekali lagi, ini lantai tiga, Baekhyun. Apa kau masih ingin untuk melompat?)

Karena Baekhyun masih sayang nyawa dan masih sayang dosen muda yang telah masuk ke ruang kelas lebih dulu, ia lebih memilih menangis pilu dalam diam karena keambiguan percakapan terakhir mereka.

Hari itu Baekhyun berjanji, bahwa ia akan selalu bersabar menghadapi sifat keambiguan yang Chanyeol (tanpa ia sadari) miliki.

(kau tahu, rasanya dijatuhkan ke bumi setelah berhasil terbang ke langit itu sangat menyakitkan, kawan.)

.

.

[To be continued]

.

.

A/N[1] :

BackgroundMusic : Relax, take it easy – Mika

ehm..,

Halo..?

Al kembali setelah semi hiatus untuk fokus ke UN. Hehehe~

Yang pertama, maaf banget ya, untuk telat update. Sebenarnya chapter ini sudah selesai lama, tapi karena modem ayah Al ketinggalan di kantornya, jadinya baru update sekarang, deh… #mukamelas #ditimpuk| apa ada yang merindukan ff ini? :3

Yang kedua, untuk bagian Taoris atau Hunhan, itu bukan chapter ini; tapi chapter depan. Makanan yang kita sukai itu biasanya dimakan terakhir, 'kan..? hehe~ #slapped

Yang ketiga; sekali lagi, maaf banget ya, Al lama banget untuk update ff ini; karena selain susah mencari plot ceritanya, Al sedang mencoba memperbaiki kualitas ff ini; yang ternyata setelah Al baca ulang dari chapter awal sampai chapter ketiga, banyak (banget) yang typo. makanya Al sedang mencoba bagaimana cara mengetik ff tanpa mengalami typo yang berlebihan…

Dan, bagaimana dengan ff ini? Masih ada yang typo, kah..? :D

Kalau iya, mohon bantuan untuk mengoreksinya, ya! :D

(terus, apa kalian merasa kalau gaya ketik Al sedikit berbeda dari yang sebelumnya? Al merasa, lho!)

Lalu, sebagai permintaan maaf, Al mengupdate threeshoot ff; dengan main chara SuLay dan rated M! ohohohoho~ yang merasa Sulay shipper, maukah kalian mampir dan mereview ff Al yang itu..? hihihihihi…

Terus, do'akan Al semoga lulus SNMPTN dan lulus UN dengan nilai memuaskan, ya!

(eh serius, soalnya susah – susah semua tahu!)

Jaa,

Want to review..? :3

A/N[1] end!

.

.

.

A/N[2] :

ini balasan review kalian~

Ochaken : "hohohohoho! Hampir semuanya disini Al buat sedikit OOC, tapi tidak kemungkinan, sifat aslinya juga muncul, kok! Tergantung suasana cerita yang mereka perankan! Ini chapter selanjutnya, mau review..? :3"

Anenchi : "maunya seme takluk sama uke, kah..? atau uke takluk sama seme, kah..? atau seme – uke takluk sama calon mertuanya, kah..? kkekekekeke~ tunggu kelanjutan ceritanya, ya! #ketawanista| ini next chapnya! Mau review lagi..? ;D"

Yurako Koizumi : "wokelah, tak apa- apa, Al mungkin salah kira orang! Hehehe!#innocentlaugh| Al juga kangen~ #ikutanmeluk #ikutandicincang| benar, 'kan, kalau langsung justru jadinya nggak asyik? Hhhehehe..! iya, do'akan semoga Al mendapat nilai memuaskan dan keterima di UGM lewat SNMPTN, ya! Ok, ini next chapnya! Mau review..? ;3"

Irnaaa90 : "eh serius, Al nyaris mau ketik nama yang ada angka 96-nya, lho! Hehehe~ mian, sudah lama nggak bermesraan dengan laptop!#bah!alibi| chap depan tentu pasti ada, dong~ masa nggak ada, sih~? kkkkk~#ketawanista| Aamiin! oh iya, Onee, do'akan Al, ya! Biar bisa lulusdengan nilai memuaskan dan diterima di UGM jalur SNMPTN, otte..?#jempol| ini chap selanjutnya! Mau review lagi..? X3"

Kirei Thelittlethieves : "aaa! Al kangen dirimu! #ketjupbasah #ditampol| apa yang tidak kuatnya..? hhhhehehehehe~ yakin otak dirimu masih polos, heh..?#smirk| ok, ini sudah lanjut. Mau review lagi..? :D"

Zakzakiya : "ok, ini sudah lanjut~ mau review lagi..? :9"

DragonPanda21 : "hore!dikau mereview lagi!#tebarconvetti| hm, hm, hm, kalau chap ini BaekXiu, chap depan yang beraksi siapa, hayo~?#naikturuninalis| makasih~ do'ain semoga Al lulus dengan nilai yang memuaskan dan diterima di UGM jalur SNMPTN ya~~#smile| ini chapter selanjutnya! Mau review..? :D"

ShinJiWoo920202 : "hahahaha! Jangan dibayangkan, kasihan Xing-nya~#ketawanista| ohohohohoho.., kesan pertama yang benar – benar jauh dari harapan KyungXing~#smirk| ini nextnya. Dan review lagi..? :3"

Hibiki Kurenai : "oh, Hibi (boleh nggak Al panggilnya pakai nama itu? Boleh, ya? Ok! #kedip), Hibi yang request ff NC Sulay di '7 ways to pamper your pet cat', ya..?! sudah ada, tuh! mampir, ya!#tebarconvetti| ohohohohohhoho.., gimana ya, rasanya wajahnya dijadikan korban bersin seseorang..?#ketawanista| ini next chapternya, mau review lagi..? X3"

Maple Fujoshi2309 : "oh, yes! Majesty itu memang Heechul! Woah~ feelingmu kuat sekali kalau itu dia, ya! Yang lain juga, hahaha! #ketawanista| NC, ya..? hhmmm..., kita tunggu tanggal main para aktor ff untuk melakukannya, ok~? #ketawanistaedisikedua| ini chapter selanjutnuya~ mau review? Mau review? :3"

Juniel is a vampire hybrid : "hai', hai', watashi genki desu! Hhehehe~ KrisTao tentu saja di chapter depan, dong~ dengan HunHan! Dua uke menggemaskan menaklukan dua seme dingin dan expressionless! Kkkkk~ ini nextnya, mau review lagi..? :3"

Kanra : "woah~ Al berasa lagi chatingan dengan fem!izaya, nih! Hahaha! Unyu..? wah, doumo arigatou, Kanra-san! #bow #hug| iya, nggak apa – apa, yang penting dirimu mereview cerita ini. Ini chap selanjutnya. Review..? :D"

Miyuki : "ok, nggak apa – apa, kok! Ada yang mereview saja, Al terharu..#Sobbing| eh, jangan panggil Al 'author' atau 'thor', ok..? biar kita akrab~ hhehehehe~#SKSDkambuh| ini nextnya, mau review lagi atau di chapter lain..? Al tunggu, ok~"

PeachyPanda : "hahaha, oh iya, dong! Kalau Baek sama Xiu di sini, gimana..? #ketawanista| ini next chapternya. Mau review lagi..? :3"

Tamama Guli : "oosshh! ganbatte! XD"

A/N[2] end!

.

.