|CallMeMajesty| : "nah, tinggal kalian berdua, babies~ bagaimana dengan target kalian? apa seperti yang lainnya, hm..?" {one secon ago}
|Ad_naPTZH| : "targetku tipe orang yang dingin dan cuek, Majesty-ssi!" {one secon ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "jangan lupa dengan wajah expressionless-nya." {two seconds ago}
|CallMeMajesty| : "huh? kalian yakin itu targetnya..? kalian tidak mau menggantinya dengan orang lain?" {three seconds ago}
|Ad_naPTZH| : "ya! bagaimana caranya kita mengganti target, sementara target kita benar – benar yang seperti itu! Majesty-ssi menyebalkannnn~~!" *pout* {one second ago}
|CallMeMajesty| : "jangan pout-kan bibirmu sayang! aku tidak tahan! oh, mudah saja. Kau tinggal jatuh cinta pada orang lain, 'kan?" {two seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "ya! Majesty-ssi! Jangan memberikan kami ajaran sesat!" *pout* {one second ago}
|Ad_naPTZH| : *pout* {one second ago}
|CallMeMajesty| : "ya! Hentikan pout kalian! Kalian berkomplot, eh? sudah hentikan! aku tidak tahan! Hentikan itu atau aku tidak akan memberi tips untuk kalian? hm..?" {three seconds ago}
|Ad_naPTZH| : "huwaaaaa~~~ jangan, Majesty-ssi! aku butuh bantuanmu..!" *cries* {two seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "kau 'kan sudah janji.." *cries* {one second ago}
|CallMeMajesty| : "aduh! Jangan menangis, babies! Baik, baik! Akan kuberikan tips untuk kalian bagaimana cara menaklukan pria dengan tipe yang kalian maksud! sudah, ya, acara menangis massalnya..? Kalian tidak kasihan padaku..?" *sobs* {five seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "kenapa Majesty-ssi sobbing? Yang harusnya sobbing itu kami!" {one second ago}
|Ad_naPTZH| : "Majesty-ssi, aku mengantuk. Besok aku harus bangun pagi untuk sekolah.., jadi, beritahu aku tipsnya, nde..?" *pandapooreyes* {two seconds ago}
|CallMeMajesty| : "aaahh.., baiklah. Karena uri panda sudah mengantuk, kita percepat, nde! Aku juga sudah ditunggu suamiku di ranjang~ ufufufufu~" {one second ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "ya ampun. Disini masih ada uke perawan, Majesty-ssi. Eh, tunggu! Suami?! Aku masih ingat jelas di personal bio jika kelaminmu itu pria!" {two seconds ago}
|CallMeMajesty| : "ahahaha.., memang kenapa jika aku memiliki suami, hm? Bahkan aku sudah punya seorang anak lelaki yang sama cantiknya denganku~~~~ Meskipun masih lebih cantik aku~" {five seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "male – pregnant?! Majesty-ssi juga uke, eoh..?!" {two seconds ago}
|Ad_naPTZH| : "Majesty-ssi, Luhan gege; bisa kita mulai..? lihat! Prolog untuk chapter ini sudah terlalu panjang daripada chapter sebelumnya! Kasihan para pembaca!" {one second ago}
|Dear_Luhan_Dear| : "kenapa kau jadi bawa – bawa para pembaca, Panda..? seolah – olah kalau cerita ini ada yang baca." {one second ago}
|Ad_naPTZH| : "ya! Gege! Jangan bicara sembarangan! Nanti kalau authornya tidak mood untuk melanjutkan cerita ini bagaimana..?! Aku belum jadian dengan Kris saenim~~! Aku belum menikah, Aku belum first night, Aku belum dirampas kesucianku olehnya! Aku tidak mauuuu~~~!" *cries* {five seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "hei, jangan bicara yang aneh – aneh, baby! Kau masih kecil!" {one second ago}
|CallMeMajesty| : "…." {one second ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "kenapa ekspresimu seperti itu, Majesty-ssi..? Baby Panda! Lihat! Majesty-sii jadi seperti itu, 'kan..?!" {one second ago}
|Ad_naPTZH| : "gege~~~ kenapa menyalahkanku..?!" {three seconds ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "itu karena kau yang berbicara dengan kosakata vulgar! Kau ini bergaul sama siapa, sih, sampai jadi semesum ini, hm..?" {two seconds ago}
|Ad_naPTZH| : "apa? tentu saja dengan gege dan yang lainnya." {one second ago}
|Dear_Luhan_Deer| : "a-a-apa..?!" {one second ago}
|CallMeMajesty| : "hei, sudah hentikan! Kalian mau mendapatkan tips dariku atau tidak, babies..? hentikan dan dengarkan aku!" {two seconds ago}
|Ad_naPTZH| : *listen* {one second ago}
|Dear_Luhan_Deer| : *pout* {one second ago}
|CallMeMajesty| : "baiklah! untuk menaklukan target kalian dengan tipe cuek, dingin, dan expressionless; hal pertama yang kalian lakukan adalah, cari topic obrolan yang membuat mereka menjadi lebih berekspresi. Hal yang kedua adalah, terus pertahankan obrolan itu (dan kalau bisa, kalian ganti tema obrolan dan buat target kalian lebih berekspresi!). Dan yang terakhir adalah, kalian perhatikan baik – baik; jika dia menanggapi obrolan kalian dan ekspresi cueknya mulai terganti, itu artinya kalian diterima baik – baik di kehidupan mereka! nah, silahkan kalian coba~" {five seconds ago}
.
.
.
La conquista y el conquistador
.
Screenplays!official pairing of EXO and other
.
About characters is not mine, just a fic.
.
Aliceao96
.
M
.
Yaoi/BL/Be El/Typo/Alternatif Universe!
.
No like, don't read!
.
Summary! :
Guru – Murid; Manajer – Pelayan; Pemilik hotel – Office boy; Dokter – Suster; Dosen – Asisten dosen; Direktur – Sekretaris. kisah penaklukan enam orang namja. Berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian sang target dan mendapatkan jiwa mereka seutuhnya. Mulai dari cara biasa dan lembut, hingga cara 'luar biasa' dan 'kasar'.
Bagaimana kisah keenam namja itu..? apakah mereka berhasil melakukannya, atau tidak..?
Apakah mereka berhasil menaklukan sang target…?
Atau justru ditaklukan oleh sang target…?
.
.
.
.
Chapter 5 [First step (3)]
.
Hari ini Luhan sedang bahagia (sekali)!
Luhan bersiul riang gembira dalam perjalanannya menuju halte bus biasa. Dan mata rusanya berkilau – kilau ketika ia melihat kondisi halte di sana yang bisa dibilang masih sepi. Hanya ada dua; tiga orang jika anak kecil berseragam TK yang digendong oleh ayahnya itu wajib dihitung— yang menunggu bis di sana. Maka, dengan gerak jalan yang optimis jika hari ini dia akan mendapat keberuntungan bak lotre, Ia melanjutkan langkahnya yang tertunda. Senyum manisnya tak lupa ia pamerkan kepada dunia.
Rasanya Luhan ingin berteriak nyaring pada dunia. Karena beberapa hal.
Yang pertama, ia bisa bangun pagi tepat waktu!
Yang kedua, ia bisa datang ke halte tepat waktu!
Yang ketiga, ia bisa melaksanakan tips dari teman chatingnya untuk menaklukan atasannya dengan tepat waktu!
hell, yeah! it's the best day ever for Xiao Lu!
.
.
(are you agree with me, buddy..? *wink*)
.
.
Luhan tersenyum – senyum. Ia duduk manis—dengan kedua tangannya ia letakkan dipaha dan telapak tangannya terkepal. Cara duduknya pun tidak seperti pria lain—mengangkang. tapi agak rapat; menimbulkan tanda tanya dari pengunjung halte ketika mereka melihat wajah dan cara duduknya yang seperti wanita.
.
.
(ternyata, dia benar – benar ada di dunianya sendiri. Pengunjung lain yang datang pun dia abaikan.)
.
.
Oh biarlah, Luhan tidak memperdulikan tatapan heran mereka. Bahkan ketika ada yang menggodanya dengan rayuan gombal yang terdengar sedikit vulgar, Luhan tersenyum manis dan membalasnya hanya dengan kalimat sarkastis. Biasanya, jika ia diganggu, mungkin dia akan menunjukan kemampuan wushu yang telah Tao ajarkan padanya.
.
.
(itu pun tergantung jumlah dan kemampuan lawan, Luhan. Ingat itu.)
.
.
Luhan yang tadinya tersenyum cerah, kini menjadi berwajah serius. Berubah drastic dengan rentang waktu yang mengcengangkan pengunjung Halte. Lalu, Luhan menunduk dengan sedikit kerutan di dahinya. Entah kenapa ia merasa ada yang janggal dengan dirinya hari ini.
.
Apa itu?
.
.
Apa, ya?
.
Apa—
.
O – oh! Itu dia!
.
.
Kenapa ia bisa bangun tepat waktu, padahal ia tidur larut; jam 01:30 AM..!?
.
Bahkan ia bisa bangun sedetik setelah alarmnya berbunyi nyaring!
.
Padahal sebelum – sebelumnya 'kan, dia tipe orang yang tidurnya susah sekali dibangunkan!
.
.
(kecuali jika ia dibangunkan dengan segayung air dengan takaran penuh oleh Mama.)
.
.
Luhan tersenyum. Kali ini lebih lebar dan terasa percaya diri. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga bus yang mengantarnya sampai tujuan. Membuat orang – orang yang ada di sekitarnya berjengit kaget dengan perubahan mendadak pria berwajah baby face itu.
"yang sedang jatuh cinta itu memang berbeda, ya~?" Ia memegang kedua pipinya. Pipinya bersemu lucu. Di mata rusa Luhan, ia mengingat wajah seseorang yang membuatnya menjadi out of character seperti ini.
Sebuah colekan di pinggangnya membuat Luhan menoleh ke kiri. Tepat dimana ada seorang ahjussi dengan kumis berbentuk kotak yang tebal dan berwajah mesum.
"jatuh cinta dengan ahjussi ya, noona..?" Pria tambun itu menunjuk dirinya dengan percaya diri.
.
.
Luhan menganga syok.
.
.
Dan sedetik kemudian; dengan bus yang sudah berjalan perlahan di awal – awal, terdengar teriakan memaki dengan nada melengking dan aksen bahasa mandarin yang menggema di dalam bus. Lalu, disusul dengan suara beberapa orang yang mencoba menghalangi sang pelaku peneriakan, yang hendak mencekik ahjussi yang telah terkapar tak berdaya dengan darah di hidungnya.
Menambah suasana ceria di the best day ever for Xiao Lu.
.
.
(meskipun tidak yakin jika benar – benar begitu.)
.
.
Key menatap heran wajah bad mood Luhan. Maka, sebagai salah satu hyung yang baik bagi Luhan (dan Luhan benar – benar tidak ingat jika ia menganggap Key demikian), ia berjalan menghampiri Luhan di lokernya setelah ia merapikan baju chefnya. Menepuk pelan pundak Luhan. Luhan yang saat itu sedang mengancingi kemeja office boy miliknya terkejut.
"hyung..?" Luhan berkedip lucu. Membuat Key terkikik manis.
"kau kenapa, Saengie..? padahal kau datang tepat waktu. Kenapa Wajahmu terlihat bad mood, hm..?"
Luhan menghembuskan nafasnya dengan berat dan penuh tekanan. "ada yang mencolek pinggangku, memanggilku noona dan berpikirkan terlalu percaya diri jika aku menyukainya."
Key berkedip. "siapa? pria tampan, kah..?" Key memang sudah tahu perihal orientasi seksualnya Luhan.
"bukan," Luhan menggeleng. Lalu ia merautkan wajah syok, jijik, dan horror disaat yang bersamaan. Seolah di depannya ada pria itu. Padahal di depan Luhan hanya ada sebuah loker yang belum tertutup pintunya. "dia ahjussi tua gendut dengan kumis kotak lebat, hyung."
Key terdiam.
"sebagai gantinya aku di hina, aku tonjok tepat di hidung hingga berdarah. Niatnya aku ingin mencekik orang itu. Tapi sayang, kedua tanganku terlanjur di piting sama penumpang bus lain. Hhh~~~ padahal aku belum puas memberikan pelajaran pada ahjussi ganjen itu." Luhan menghembuskan nafas tanpa rasa bersalah.
Key masih terdiam. Speechless dengan apa yang diceritakan Luhan.
Key bingung untuk membalasnya. Di satu sisi, ia tidak ingin membuat Luhan marah dan mengamuk hingga mogok kerja karena ia disebut cantik (jangan lupa dengan kebiasaan Luhan yang selalu berkoar – koar jika dirinya adalah pria manly.). Namun di sisi yang lain, Key tidak bisa membantah dan berbohong jika Luhan itu cantik dan imut seperti karyawan Yeoja di tempat ini. Atau bahkan Key bisa berani menjamin jika wajah dan sifat tersembunyi Luhan melebihi Yeoja umum.
Satu – satunya yang bisa Key lakukan sebagai kakak yang baik adalah, "sudahlah. Hilangkan wajah bad mood-mu. Cepat ke ruangan sajangnim dan bersihkan tempatnya sebelum beliau datang."
Setelah itu, Luhan kembali melewati hari dengan senyum yang bersinar dan mata rusa yang berkilau – kilau karena bahagia. Membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya mengernyit heran dan merasa takut dengan perubahan tak biasa Luhan.
Semuanya menghela nafas maklum. Luhan menjadi out of character semenjak ada pemilik hotel & restoran baru dari tempatnya mereka bekerja.
Pengusaha hotel & restoran muda tampan dengan wajah expressionless-nya. Namanya Oh Sehun.
Mereka masih ingat kejadian tiga hari yang lalu, tepat Pemilik hotel & restoran baru datang menyambangi tempat mereka bekerja. Saat itu, ketika para karyawannya membungkuk hormat, sementara Luhan hanya berdiri tegak dengan memasang wajah pelongo. Belum lagi ada rona merah di kedua pipinya yang berkulit putih.
Sehun hanya menatap datar Luhan saat itu. Namun semenit setelah ia puas menatap wajah aneh Luhan, ia bertanya padanya apakah Luhan baik – baik saja; dengan suara huskynya yang terdengar menggoda. Dan Sehun hanya mendapat balasan berupa Luhan yang pingsan saat itu juga. Membuat beberapa karyawan panic dan beramai – ramai berusaha menyadarkan Luhan dari pingsannya yang mendadak. Sedangkan Sehun, setelah berucap bahwa Luhan harus segera dibawa ke pantry dan segera untuk disadarkan, ia beranjak pergi dengan wajah yang tetap expressionless-nya.
Begitu ia sampai di depan pintu ruang kerja Sehun, ia memasukan kunci cadangan yang ia ambil dari pantry sebelumnya. Luhan bernyanyi dengan nada kecil namun masih terdengar merdu. Matanya menyayu dan sesekali menutup untuk menjiwai dari lagu yang ia nyanyikan. Sebuah lagu bahasa inggris dari penyanyi negeri matahari tetangga negaranya;
Fallen angel milik LisA – Mitsunori Ikeda[1].
"heaven please sing for me a song of life~ heaven take me into your skies~"
Luhan membuka ruang kerja Sehun. Setelah itu, ia langsung beranjak ke jendela yang berada di belakang meja kerjanya dan membuka tirai berwarna merah marun. Perlahan – lahan, bias matahari masuk ke dalam ruang kerja mewah nan luas tanpa meminta izin kepada Luhan. Sebelum Luhan melakukan rutinitas untuk membersihkan ruangan.
"there's no place here for me to hide my cries, night and day I missing you…, oh~"
Luhan merapikan beberapa dokumen yang belum sempat dirapikan oleh Sehun. Lalu memisahkan antara benda yang masih diperlukan dengan benda yang telah dianggap sampah. Benda itu di masukkan ke dalam tempat sampah pijak yang telah ditambah oleh pelastik hitam. Diikatnya pelastik itu dan dibiarkannya di sana hingga pekerjaannya selesai.
Luhan mengeluarkan sebuah masker ikat berwarna hijau daun. Dipakainya masker itu dan setelahnya ia memasang sarung tangan kulit sintetis untuk melindungi tangannya dari benda tajam. Luhan melengkungkan kedua matanya, ia tersenyum di balik masker bergambar rusa mungil bernama bambi.
"I know I'm here for the magic, all your stars guiding me through and through~"
Dibersihkannya meja, kursi, lemari penyimpanan berkas, meja dan sofa untuk menerima tamu; dan tempat lain yang dirasa di sana adalah sarang dari debu. Ia melakukannya dengan cekatan dan prinsip takeless do more telah terpasang di otaknya.
Sesekali, ia akan terbatuk kecil ketika ia debu – debu itu berhasil menembus perlindungan maskernya. Tapi taka pa, ia akan kembali melanjutkan dengan sendirinya dan tanpa paksaan; seperti yang sebelum – sebelumnya ia lakukan.
"oh why does loneliness feel like forever and ever.., I gotta be, I gotta be, in your arms baby~"
Mata Luhan menyayu kembali. Tangannya yang saat itu sedang mengelap kaca jendela dengan pembersih kaca terhenti seketika. Ia mengambil nafas dalam – dalam, dan melanjutkannya dengan suara yang terdengar merdu dan menjiwai.
"you're so close, so close~ and it's you that I believe in, I believe in~"
Luhan kembali membersihkan jendela. Matanya terbuka dan terlihat kilat lucu di dalamnya. Kepalanya terngadah, melihat langit biru yang dihiasi gulungan awan berwarna putih. Sesekali, angin masuk melalui beberapa jendela yang telah dibuka setelah ia bersihkan. Dibalik maskernya, ia tersenyum manis pada langit.
"so close, but far away so far I can't touch~"
Menerbangkan surai berwarna pirang jeraminya. Terlihat cantik ketika saat itu tubuhnya diterba bias – bias sinar matahari;
Seperti malaikat.
"I'll hold on, cuz it's you I love so dearly.."
Luhan menutup matanya ketika merasakan angin yang cukup besar menerpa tubuhnya di ruangan itu. Menghirup perlahan udara segar di pagi hari; yang dihasilkan oleh beberapa pohon rindang yang berjarak lumayan dekat dengan gedung hotel.
"when the rain, the storm, and all is done…, caress me with your lullaby~"
Ia mengingat wajah Sehun. Ia selalu menyanyikan lagu ini ketika ia mengingat pemilik hotel dan restoran tempatnya mencari uang. Sambil menyanyi, ia kembali mengerjakan tugasnya dengan baik. Kini, yang tinggal ia lakukan adalah menyapu lantai dan mengepelnya.
Karena itu, Luhan kembali menyimpan peralatan pembersih kaca di gudang mini di ruangan itu; sekaligus mengeluarkan sapu, pel, juga penyemprot lantai.
"heaven please sing for me a song of life~ heaven save me my dreams tonight~"
Entahlah, kenapa ia menyanyikan lagu dari salah satu anime negeri tetangga yang disukai oleh pemilik night club tempatnya bersenang – senang.
"someday these wings will perish in your sight.., night and day I call for you.., ooh~"
.
Tapi satu hal yang ia tahu,
.
"flashing in a moment so tragic~ wandering souls, they fall along the way~"
.
Ketika ia menyanyikan lagu ini,
.
"Tell me you will never leave me forever, and never~"
.
Ia merasa bahwa ia ingin Sehun menyadari keberadaannya. Keberadaan dirinya yang mencintai dan menyayangi Sehun sejak mereka pertama kali bertemu.
.
"I gotta be, I gotta be, in your arms baby~"
.
Luhan percaya bahwa suatu saat nanti, Sehun datang di hadapannya dan membawanya merasakan bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Bagaimana nikmatnya mencintai seseorang yang dicintai.
.
Bagaimana nikmatnya diakui keberadaannya oleh orang yang dicintai.
.
.
(meskipun itu berawal dari hal terkecil sekalipun, ia berusaha untuk mendapatkan hati juga cintanya dan menjaganya dengan tulus. Menggenggamnya, dan merawatnya agar tidak mati.)
.
.
(dan permulaan itu dimulai dari hari ini.)
.
.
"you're so close, so close.., and It's you that I believe in, I believe in~"
Tubuh Luhan yang sedang menyapu menjadi kaku. Luhan menegang. Luhan menegang setelah mendengar suara husky yang membuatnya melayang ke langit – langit; membuat darahnya mengalir hangat, dan membuat jantungnya berdegup kencang.
"so close, but far away I seek for your light~"
Perlahan, Luhan menoleh ke sumber suara. Dan disana, di ambang pintu ruang pemilik hotel dan restoran Growl; terlihat seorang pria dengan wajah expressionless-nya. Ia menyandarkan bahu kanannya di kusen pintu. Kedua tangannya terlipat dan diletakkan di dada bidang yang terlapisi dasi hitam dan kemeja putih polos; walaupun salah satu tangannya membawa tas jinjing. Kaki kanannya menyilang kaki kiri.
"I'll hold on, cuz for you my heart keeps beating~"
Luhan tersipu malu melihat pemandangan menggoda sehun. Apalagi ketika Sehun menyela nyanyiannya dan melanjutkannya sendiri.
Pria yang memakai name tag kecil di jas biru dongkernya itu menatap Luhan dengan tatapan biasa. Namun Luhan mulai tersadar ketika ia melihat binar mata di sana. Membuat Luhan tersenyum kecil di balik masker hijau mudanya.
"when the wind, the fire, and all is calm.., caress me with your sweet lullaby~"
Luhan menunduk kecil untuk member hormat pada Sehun. Dan Sehun pun membalasnya dengan menunduk kecul pula. Ia berjalan masuk dan meletakkan tas juga melepaskan jasnya di sofa tamu. Luhan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tangan yang gemetar.
Tak lupa ia bernyanyi dengan suara yang sedikit pelan dari sebelumnya, "will you be my light..,"
"will you be my strenght~" Sehun membalasnya sambil melangkah ke meja kerja. Luhan yang mendengar itu lagi – lagi tersipu.
Luhan melanjutkan, "promise you won't let me go on~"
"I'll never betray.., and in the end of time~" Sehun membuka file kerjanya yang telah dirapikan Luhan.
"still my love's gonna be there.." sahut Luhan dengan malu – malu.
Luhan dan Sehun membuka mulut dan menyanyikan selanjutnya di timing yang bersamaan. Luhan yang kembali menyapu lantai, harus berusaha mati – matian untuk tidak menjerit senang Karena nyanyiannya disahut Sehun; sementara Sehun kembali memeriksa dokumennya sambil sesekali melirik Luhan dengan tatapan yang sedikit berubah.
Tatapan yang terlihat lembut bagi orang yang mengetahuinya.
.
.
(dan sayangnya Luhan tidak menyadari hal langka tersebut.)
.
.
"you're so close, so close~ and it's you that I believe in, I believe in~"
"so close, but far away so far I can't touch~"
"I'll hold on, cuz it's you I love so dearly~"
"when the rain, the storm, and the all is done.., caress me with your sweet lullaby~"
.
Sehun dan Luhan menutup mata dengan perlahan. Dan di saat yang bersamaan, mereka tersenyum kecil mendengar suara masing – masing.
.
Angin pun merangsek masuk dan menyejukkan suasana. Menambah romantic suasana yang diciptakan oleh dua pria berwajah beda dengan menyanyikan lagu cinta di saat yang bersamaan.
.
"you're so close, so close~ and it's you that I believe in, I believe in.."
"so close, but far away I seek for your light~"
"I'll hold on.., cuz for you my heart keeps beating~"
"when the wind, the fire, and all is calm..,"
"caress me with your sweet lullaby~~~"
.
.
"kau tahu lagu itu, eoh..?" Sehun memecahkan keheningan canggung yang melanda ruang kerjanya. Ia membuka tempat kacamata dan mengenakan kacamata non minus/ plus berwarna ungu gelap.
Luhan terperanjat kaget. Hampir saja ia menjatuhkan penyemprot lantai ketika mendengar suara Sehun. Membuatnya merinding. Luhan mengangguk kecil; meskipun ia tidak tahu bahwa Sehun akan melihatnya atau tidak.
Sambil menjawab, ia menyemprotkan pembersih lantai dan mulai mengepel melalui pojok; tempat lemari berkas di samping pintu gudang mini. "y, ya, sajangnim. Pertama kali saya mendengar lagu itu dari teman saya. Karena lagunya enak, jadi saya memintanya."
"hmm..," deham Sehun sambil menulis sesuatu. "kau tidak tahu itu lagu apa..?"
"uh.., yang saya tahu, itu lagu salah satu anime dewasa[2], sajangnim." Luhan bertanya – tanya dalam hati. Ada apa dengan pertanyaan lagu yang ia nyanyikan..? Apa hubungannya dengan Sehun..?
"tidak ada yang lain, eoh..?" tanya Sehun lagi. Ia meletakkan kertas yang ia tulis di map sebelah kanan. Lalu mengambil kertas dokumen lain dari map sebelah kiri. "hanya itu yang kau tahu..? kukira kau tahu seluk beluknya."
"ma, maaf jika saya lancang sajangnim; tapi, memang ada apa dengan lagu yang saya nyanyikan..?"
"ah, tidak. Bukan apa – apa. Hanya, kalau kau menjawab sesuai dengan apa yang aku pikirkan, artinya kau benar – benar tipe orang yang diam – diam menghanyutkan." Sehun langsung kaget sedetik kemudian. Lalu, setelah berhasil mengendalikan kekagetannya; ia kembali melanjutkan kegiatannya menulis sesuatu.
Sehun terkejut. Baru kali ini ia bisa berbicara cukup panjang pada orang lain. Dan itu adalah Luhan; salah satu karyawannya yang pingsan diacara perkenalan.
Luhan terdiam. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia menggumamkan nada dari lagu yang dinyanyikan oleh salah satu penyanyi wanita amerika yang mengisi soundtrack film Disney movie terbaru[3]. Meskipun Luhan menyanyikannya dengan nada yang terdengar menggerum karena masker yang menghalangi, tapi Sehun masih bisa mendengarnya. Bahkan ujung sepatu kanannya menghentak lantai tanpa suara karena menikmati gumaman Luhan.
"suaramu bagus." Komentar Sehun. Luhan terperanjat lagi. Sebab saat itu, Sehun memujinya dengan nada yang sedikit melembut. Tidak seperti sebelumnya.
Maka dari itu, Luhan berjingkrak dalam hati.
.
.
(dalam hati lagi, Luhan berkata angkuh; bahwa ia berhasil membuat ekspresi (atau setidaknya suaranya berubah sedikit lembut) Sehun berubah!)
.
.
"te, terima kasih." Luhan menyuruh jantungnya untuk berdetak normal. Namun ia yakin otaknya tak akan mampu, selama ia berada di jarak yang lumayan dekat dengan Sehun.
"oh iya," Luhan menyadari keganjilan diantara mereka. "kenapa sajangnim datang sepagi ini..? tidak biasanya."
"aku hanya terlanjur bangun pagi." Sehun menghela nafas kecil. Ia membuka tumblernya yang terisi oleh kopi cappucinno yang masih terlihat kepulan asapnya. "selain itu, aku mencoba untuk merasakan bagaimana rasanya naik fasilitas umum."
Tiba – tiba, Luhan teringat dengan kejadian yang menimpanya di bus tadi pagi. Tanpa sadar, ia menggeram kesal seperti kitten yang mengamuk lucu karena digoda majikannya. Tidak lupa dengan tangannya yang sedang menggenggam alat pel terkepal erat.
Sehun yang kebetulan melirik perubahan raut wajah Luhan, mau tidak mau merasa penasaran. Dengan nada yang dibuat senormal mungkin, ia bertanya pada Luhan. Dan Luhan menjawab dengan nada kesal. Sesekali, ia mengepel sambil menghentakkan kakinya di lantai berwarna biru langit ruang kerja Sehun.
"itu menyebalkan, sajangnim!" ia sedikit menaikkan nada suaranya. Sehun hanya mengangguk kecil sambil memeriksa dokumen yang lain.
"sajangnim tahu, saya dipanggil 'noona' oleh ahjussi gendut yang ganjen!" curhat Luhan.
"oh.." balas Sehun.
"padahal 'kan, saya ini pria manly! Masa' dia tidak sadar dengan wajah saya yang tampan!?" Luhan mengatakan tampan dengan sedikit ragu di hatinya. Sebab, tanpa orang lain tahu, terkadang ia memuji wajahnya dengan kata cantik dan manis; persis seperti yang biasa yeoja lakukan di depan cermin.
"hmm..," Sehun masih membalas dengan (sangat) pendek.
"sudah begitu, saat saya menggumam 'yang jatuh cinta itu memang berbeda, ya..'; ahjusshi tambun berkumis kotak lebat itu mencolek pinggang saya dan bertanya 'jatuh cinta pada ahjusshi ya, noona..?'..! dia bilang begitu dengan raut wajah mesum lagi, sajangnim!"
Detik itu pula, gerakan mata Sehun yang sedang membaca hasil pemasukan – pengeluaran khusus hotel di bulan kemarin terhenti. Tanpa sadar, tangan yang menggenggam kertas hvs itu mengerat kecil.
"karena saya terlanjur kesal, saya lansung meninju tepat di hidungnya. Dan coba tebak…? Hidungnya berdarah lho, sajangnim! Yey!"
Luhan telah selesai mengepel ruangan. Dengan melangkah menuju pintu gudang mini sambil berjingkrak bahagia. Sementara itu dengan Sehun, mata tajamnya semakin ia tajamnya. Merautkan wajah seolah ia sedang emosi bagi orang yang melihatnya.
Namun sayang, Luhan tidak menyadari hal itu.
"Sebenarnya saya tidak puas, makanya sya berniat untuk mencekiknya. Tapi—"
"—kau tahu Luhan-ssi.., kau membuat konsentrasiku pecah dengan cerita konyolmu."
Luhan berdetak kaget. Matanya melotot tidak percaya ketika mendengar ucapan dingin Sehun. Selain itu, ia bahkan tidak menyangka jika nada sehun bahkan sama dinginnya dengan kalimat yang keluar dari si bibir.
.
.
"jadi.., aku pikir sebaiknya kau selesaikan tugasmu yang lain; dan biarkan aku mendapatkan focus utamaku. Arraseo..?"
.
.
Luhan menunduk takut. Tiba – tiba, ia merasa dadanya sedikit sesak dan sakit.
Maka dari itu, agar ia tidak ketahuan jika ia akan menangis, ia berjalan menuju pintu keluar dengan segera. Namun sebelum ia memutar kenop dan keluar dari ruangan, ia membalikkan tubuhnya menghadap Sehun.
Saat itu, Sehun tidak melihat bahwa Luhan menundukkan kepala. Sebab ia memutar kursinya menghadap jendela.
"arraseo, sajangnim. Mianhae, dan silahkan kembali melakukan tugas anda, sajangnim. Permisi."
Setelah itu terdengarlah suara pintu yang tertutup dengan perlahan.
.
.
Ruang kerja Sehun menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara detik jam yang tergantung diatas pintu. Dan suara lainnya adalah suara desah angin dan daun – daun yang ditampar olehnya.
.
.
Namun keheningan kaku itu tidak berlangsung lama.
.
.
"pfft!"
.
.
Sehun menutup wajahnya dengan tangan kiri. Ia menyandarkan punggungnya di kursi empuk dan menumpu sikunya di pegangan kursi. Kertas yang menjadi focus utamanya kini dibiarkan menggantung di pegangan tangan kanannya.
Perlahan, kepala Sehun bergeleng.
.
.
.
"Luhan-ssi.., jangan kau salahkan ahjusshi itu. Tapi aku juga tidak mau menyalahkan wajah manismu itu, eoh. Selain itu, darimana sisi wajahmu yang kau sebut manly, hmm..?"
.
.
.
Setelahnya terdengar suara kekehan geli yang bersumber dari pria berwajah dua di ruang kerja yang terlihat luas dan mewah.
.
.
(ternyata Luhan berhasil membuat ekspresi baru di wajah sehun..,)
.
.
(namun sayang, Luhan tidak tahu dengan hal langka itu.)
.
.
.
.
.
.
.
Tao melangkahkan kakinya dengan santai. Mata pandanya yang terlihat unik, manis, dan kontras di wajah garang Tao tidak berhenti memutar. Terkadang ia akan mengarahkan matanya ke lantai yang ia pijak, lalu ke kaki Taemin yang berada di sebelah kanannya, lalu lagi ke beberapa siswa – siswi sekolahnya yang sedang bercengkrama di lorong, atau juga melihat pemandangan taman sekolah melalui jendela di sebelahn kirinya.
Sambil menyeruput susu kotak rasa coklat yang dibelinya dari vending machine, Tao memikirkan tips awal yang diberikan teman chattingnya. Dia bilang, bahwa Tao harus bisa merubah ekpresi dingin Yi fan agar ia bisa 'diterima' baik oleh saenim pujaan hatinya (ehem!). Tapi Tao bingung. Obrolan apa yang bisa merubah ekspresi Yi fan; walaupun perubahannya sedikit sekali.
(Tao mengatakan itu dengan penuh percaya diri; mengingat Yi fan memasangkan wajah seolah – olah ia tidak bisa dan tidak akan mudah didekati oleh seorang murid pun!)
Tao berfikir, bagaimana jika obrolannya yang ringan? Seperti hobi dan kesukaan, misalnya? Tapi, kalau ditanya untuk apa, Tao harus jawab apa, dong? Tidak masuk akal sekali jika ia menjawab : 'hanya iseng saja kok, saenim! Hehe!'…..; tunggu! Kenapa harus pakai ekspresi cengar - cengir?!
.
.
Ok, pilihan pertama : coret!
.
.
Bagaimana kalau obrolannya ringan tapi bermutu? Seperti sesuatu yang berhubungan dengan bahasa inggris…; sastra inggris, misalnya? Bah! Sastra inggris..?! serius mau tema obrolannya yang seperti itu..? nanti Tao mau jawab apa, jika ditanya macam – macam? Memangnya mau jika ia menjawab dengan cengar – cengir dan anggukan saja. Bisa jadi Yi fan justru merasa Tao sedang alibi saja biar mendapatkan hatinya.
(tidak salah sih, tapi kalau caranya terkesan memaksakan diri juga.., hasilnya terdengar buruk, kau tahu?)
.
.
Baik, pilihan kedua : coret! Coret!
.
.
Oh! Oh! Atau dengan obrolan ringan tapi terkesan menjurus? Hmmmhhh~ seperti sesuatu yang terdengar biasa saja tapi mengindikasikan kode – kode tertentu..? obrolan seputar hal yang berbau erotis tapi dengan bahasa dan kosakata istimewa, kau tahu?
(Yakin kau mau mengambil tema seperti itu, Tao?)
Eh! Sepertinya jangan dulu, deh! Karena ini masih awal – awal, sebaiknya Tao memasang topeng innocent di wajahnya dulu, ya! Anggap saja, sifat Tao yang banyak sedikit mesum, sebagai kejutan erotis di suasana romatis bersama Yi fan nanti!
(ufufufufu.., kau jenius sekaligus licik, baby panda!)
Tao tersenyum mesem – mesem. Mengabaikan tatapan aneh dan penasaran yang Taemin layangkan sesekali. Oh, siapapun yang bersebelahan dengan Tao yang sedang berwajah bak predator menemukan mangsa itu akan bergidik melihat seringai yang sejujurnya terlihat seksi.
.
.
Dan, pilihan ketiga : coret! Coret! Coret!
.
.
Taemin menepuk pundak Tao. Karena perbedaan tinggi yang mencolok, mau tidak mau ia harus mengadahkan sedikit kepalanya. Ia tersenyum manis dan memberi semangat pada Tao yang terbengong di depan pintu guru bahasa inggrisnya. Tao bahkan tidak tahu jika ia telah menyelesaikan perjalanan mereka.
"semangat! Hwaiting! Kau pasti bisa melewati hukumannya, Tao – ie! Lagipula, kau berani sekali datang terlambat di hari pertama Wu – saenim mengajar, eoh..? hahaha!"
Tao menggembungkan pipinya. Membuat Taemin terkikik lucu. "kau temanku selama satu tahun kita bersama, Taeminie~ dan aku pernah menceritakannya padamu dulu saat aku hampir terlambat, 'kan? Kau lupa, eoh~?"
Taemin mengangguk lucu. "tentu saja! Jaa, cepat kau masuk ke dalam dan siapkan metal untuk mendapat hukumannya!"
"kenapa begitu?" jujur, sambil mengetahui alasan mengapa Taemin menyuruhkan untuk menyiapkan mental, ia juga sedang mengulur waktu bertemu. Ingat, Tao belum menepukan topic obrolannya.
"kupikir, karena Wu – saenim orang yang tegas dan disiplin, maka ia akan memberikan hukuman yang berat untuk muridnya yang melanggar aturan. Dan mengingat kemampuan bahasa inggrismu pas – pasan," Taemin menghela nafas. Lalu menepuk pundaknya prihatin. Membuat Tao merasakan firasat aneh.
"mungkin kau akan mengalami kesulitan yang cukup menyusahkan untuk mengerjakan hukuman dari saenim nanti. Ya sudah! Aku ke kantin, ya! Susul aku kalau sudah selesai!"
Setelah itu, Tao melihat punggung Taemin yang menghilang di balik gerombolan siswa yang kebetulan berjalan di lorong itu.
Tao menghembuskan nafas berat. Dengan mata yang terlihat berkaca – kaca karena ucapan Taemin tadi, Tao menggenggam kenop pintu berwarna coklat. Tentu saja, diantara anak – anak kelas Tao berada, hanya dirinyalah yang sangat kurang lancer untuk menguasai bahasa universal itu.
Terdengar suara pintu yang berderit, membuat Yi fan yang saat itu sedang membaca sebuah novel roman asli berbahasa inggris berhenti sejenak. Setelah mengetahui siapa yang datang, tanpa ucapan apapun ia hanya mengangguk. Menyuruh Tao masuk dan membicarakan apa yang membuat Tao datang ke ruangannya. Tao menelan saliva gugup.
Yi fan beranjak dari sofanya. Lalu ia berjalan menuju meja kerja, dimana di sana terdapat beberapa kliping yang tertumpuk rapi di tengah – tengah.
"kenapa anda baru datang, Tuan Huang..?"
Tao mencibir lucu. Ia menoleh kearah lain, agar matanya tidak bertubrukan dengan mata elang guru barunya. Sungguh, melihat mata seksi itu, jantungnya jadi berdebar tidak karuan!
"aku pergi ke lantai satu untuk membeli susu dulu, saenim. Aku mau susu!" jawabnya dengan nada imut; kebiasaan yang tak bisa di hilangkan.
"aku? Anda menyebut dirimu sendiri di depan gurumu dengan sebutan 'aku'..?"
"nde. Wae?"
"anda masih ingat dengan peraturan tentang kesopanan terhadap guru 'kan, Tuan Huang Zi Tao?"
Tao mengangguk lucu. Ia berkedip dua kali sebelum menjawab, "tentu. Tapi itu di dalam lingkungan kegiatan belajar mengajar 'kan, saenim? Jadi aku juga tidak salah."
Yi fan menghela nafas. "anda ingat, jika kau menyebutku 'kau' saat terlambat tadi? Anda tahu, anda seharusnya menyebut nama 'anda' pada saya!" Yi fan menggeram kecil. Tapi tatapannya masih tanpa ekspresi seperti biasa.
Dan itu membuat Tao kesal dalam hati.
'Bahkan hingga ia marah pun, raut wajahnya tidak berubah sama sekali! Apa – apaan itu, eoh..?!' komentar innernya.
.
.
Tapi tidak apa – apa, sebab Tao merasa jika nada bicara Yi fan naik satu oktaf.
.
.
Itu artinya, Yi fan sudah masuk perangkap ke dalam langkah dasar, 'kan? Ufufufufu~
.
.
"tapi, aku 'kan sudah bilang, peraturan yang kau buat itu hanya berlaku jika jam kegiatan belajar mengajar terjadi. Dan saat aku datang, kau bahkan belum menjelaskan satu penjelasan apapun pada anak kelas. Jadi," Tao menjeda. Mencoba melihat lekat – lekat guru muda yang duduk manis di depannya.
Tapi, yang ia dapatkan justru detak jantung yang semakin menggila dan suhu tubuh yang selalu meningkat. Entahlah, padahal suhu AC di ruangan ini cukup dingin. Ditambah dengan angin yang masuk untuk member salam pada mereka. Apalagi dengan dirinya yang tidak merasa demam atau flu hingga suhu tubuhnya memanas.
.
.
Tao menjerit gemas dalam hati. Kenapa ia tidak bisa bertahan dengan tatapan gurunya selama satu menit saja? Jangankan satu menit, tiga pulug detik penuh saja ia tidak bisa!
.
.
Bukankah orang lain bilang, matanya terlihat seram dengan rona hitam di kantung bawah matanya! Tapi kenapa gurunya ini tidak merasa takut dengan tatapannya..?!
.
.
(Tao, kau menatap gurumu dengan pandangan malu – malu kucing. Bagaimana Yi fan bisa takut, hah? Selain itu, dia gurumu. Mana ada guru yang takut pada muridnya? Senakal – nakalnya murid itu, pasti guru bisa mengatasinya dengan 1001 cara ajaib!)
.
.
"jadi..?" Yi fan menyenderkan punggungnya. Ia mengangkat salah satu kaki jenjangnya dan meletakkan telapak tangan yang jarinya saling terkait di dengkul.
Tao yang melihat itu harus menelan saliva gugupnya.
Tangannya yang berkeringat dingin meremas celana seragam dan duduknya mulai tidak tenang. Ia tersipu dan berteriak histeris menjurus ke menangis dalam hati, 'dia jadi terlihat lebih seksi kalau begini, mama…, baba..! Tao tidak kuat~~~ uhuuuuhuuuu~'
Tao menutup matanya erat – erat. Mencoba menormalkan kesadarannya yang mulai menghilang ketika mencium wangi farfum Yi fan yang terasa manly sekaligus menggoda. Sebelum menjawab, untuk yang kesekian kalinya ia menelan saliva gugup.
"ja, jadi.." gagapnya. Tao merutuk kesal dengan itu. "jadi, jangan salahkan aku jika aku menyebutmu 'kau'. Karena kau juga hanya menulis tenses yang akan kau bahas, bukan membahasnya secara lisan."
"itu sama saja, Tuan Huang."
Tao mengerucutkan bibir curvy miliknya. Tanpa sadar, nada suaranya menjadi merajuk. Tak lupa dengan sebutan untuk dirinya sendiri dari kata 'aku' menjadi namanya, "itu menurutmu, bukan menurutku! Terserah kau sajalah~~ Tao malas berdebat hal yang tidak penting!"
"tidak penting..?"
Tao bersorak gembira dalam hati.
.
.
Untuk yang kedua kalinya, Yi fan menaikkan satu oktaf lagi nada bicaranya.
.
.
Padahal, Yi fan menaikkan oktaf bicaranya tidak terdengar mencolok, tapi kenapa Tao bisa tahu? Entahlah, mungkin ini dinamakan the power of obsession to your lover.
.
.
"kuharap anda ingat dengan tujuan awal kenapa saya menyuruh anda kemari, hm? Coba sebutkan satu persatu pada saya." Yi fan menstabilkan emosinya. Jangan sampai ia menjadi sedikit lebih berekspresif hanya masalah debat sepele dengan murid lelaki keras kepala berusia enam belas tahun di hadapannya.
Tao menghirup oksigen secukupnya, sebelum memulai. "pertama, Tao terlambat. Kedua, Tao terlambat selama lima belas menit. Dan ketiga, Tao membantah dan tidak menerima konsekuensi dari apa yang Tao lakukan. Begitu yang kau katakan, saenim~" Tao mengakhirinya dengan senyuman manis. Namun sayang, Yi fan tidak menanggapinya sesuai dengan harapan Tao. Kecuali jika Tao berharap dengan wajah expressionless khasnya.
Yi fan mengangguk dengan gaya yang bijaksana. Membuat Tao mencibir dalam hati; setengah hati saja, sih. Setengah hatinya, ia tidak bisa mengelak jika sebenarnya apapun yang Yi fan lakukan, sama sekali tidak pernah membuat Tao untuk tidak terpesona. Apapun itu!
Tentu saja, coba kita lihat.
Yi fan saat itu memakai kemeja lengan pendek berwarna merah marun. Yang dua kancing teratasnya dibuka, menampilkan sebagian collar bonenya yang menggoda Tao. Tidak lupa dengan dasi dengan lebar yang sedikit lebih kecil berwarna abu – abu gelap. Ditambah dengan rambut pirangnya yang ditata ke belakang dengan rapi menggunakan gel rambut. Hanya menyisakan sebagian rambut depan di sebelah kanannya yang diatur menyerong ke kiri. Belum lagi dengan mata elangnya. Yang sanggup membuat semua orang yang melihatnya menahan nafas selama beberapa detik.
Tao bergumpam polos, 'seandainya mata itu punya kekuatan seperti superman, mungkin setiap dia menatap orang dengan tatapan tajamnya, orang itu akan meleleh karena sinar laser! Wow!'.
.
.
(tanpa sinar laser pun Yi fan tetap saja sudah membuat semua orang meleleh, Tao.)
.
.
"ehem!" Yi fan berdeham. Membuat Tao yang sedang menikmati dunia yang diciptakannya secara sepintas itu menatap sang guru. Menatapnya dengan tatapan polos seperti bayi panda yang baru bisa melihat.
"karena anda sudah datang kesini, dan saya masih ada pekerjaan lain yang lebih penting, sebaiknya saya percepat pemberian hukuman saja." Yi fan kembali menegakkan posisi duduknya.
.
.
(Tao menggeram sebal dalam hati mendengar ucapan itu. Pekerjaan penting yang bisa Tao tangkap dari kejadian sebelumnya adalah, menyelesaikan membaca novel roman asing yang sekarang sedang Yi fan pangku!)
.
.
Yi fan memberikan dua buah kliping dengan warna kover yang berbeda. Dan tebal Kliping itu hampir menyerupai buku paket bahasa inggrisnya yang punya beban berat. Punya beban berat, otomatis lembaran isinya banyak. Jika lembaran isinya banyak, otomatis kliping itu memiliki ketebalan yang cukup 'berarti' bagi Tao. Tao menutup rapat – rapat bibir curvy seksinya. Matanya sedikit melotot ke kliping itu. Dan Yi fan memberikan dua kliping tebal padanya.
Yi fan terdiam. Tapi tatapan matanya menyiratkan kebingungan dengan sikap ganjil Tao. Seperti seseorang yang terguncang hebat kala mengetahui bahwa akan ada bencana yang melandanya. Dan ungkapan itu tidak sepenuhnya salah.
"apa yang anda tunggu, Tuan Huang? Ini. Ambilah. Artikan semua kalimat yang ada di kliping ini dan kumpulkan ke saya dengan rapi dan tanpa cacat."
"aiyaa..?! apa – apaan ini..?! kau yakin, saenim?!"
"sebut nama saya dengan kata ganti 'anda', Tuan Huang."
Tao menggeleng perlahan. Terkesan bahwa dirinya seperti seolah tidak menerima kenyataan pahit jika ada salah satu panda koleksi kebun binatang di Cina memiliki dua jenis kelamin. Artinya, tidak ada kebahagiaan sama sekali.
"tolong, bisa tidak jika kau memberi Tao satu kliping saja..?"
"tidak. Memangnya anda pikir saya sedang melakukan transaksi tawar menawar?"
"Tao mohon, saenim.." Tao berusaha memelas. Tao memang berhasil untuk membuat ekspresi yang memelas terkesan tak berdaya. Tapi, Yi fan tetaplah Yi fan dengan wajah tanpa ekspresinya. Jangankan merespon dengan perubahan raut wajah, menghela nafas melihat kelakuan ekstrim (memelas dengan penuh penjiwaan) anak didiknya saja tidak.
Walau begitu, Tao pantang menyerah; itu yang diajarkan babanya.
.
.
(tapi bukan berarti kau harus merajuk kepada Yi fan agar hukumanmu dikurangi, Tao. Tanggung jawab tetap saja tanggung jawab. Kau harus menerima konsekuensinya.)
.
.
"saenim tahu? Tao tidak pintar bahasa inggris~" rajuk Tao sambil menggigit kecil bibir bawahnya. "itu bukan masalah saya, Tuan Huang."
"sebagai seorang guru, kau harus membantu muridnya untuk bangkit dari keterpurukan!"
"keterpurukan apa?" Yi fan mengambil sebuah gelas yang terisi air mineral. Ia merasa tenggorokannya kering lantaran berdebat dengan anak didiknya yang keras kepala. "memang kau terpuruk karena apa?"
"karena ketidakberdayaan Tao dengan bahasa inggris!"
Tapi mungkin Yi fan harus meminum banyak air putih. Ia yakin perdebatan random ini tidak akan cepat berakhir kecuali bel masuk telah berbunyi. "jadi, selama setahun kau di kelas satu, apa yang kau pelajari, hah?"
"entah. Yang Tao lakukan hanyalah menulis apa yang saenim tulis."
"bagaimana dengan tes praktik speaking dan listening, hah? Anda melakukan kecurangan?"
Tao berdegup kencang sekali. Mendapat pertanyaan yang sebenarnya memiliki jawaban yang memalukan bagi Tao, membuat Tao harus meringis dalam hati. Kalau ia jujur menjawab apa adanya, nanti Yi fan akan menilai bad record untuknya.
.
.
(lalu kau mau bagaimana, Tao? Mengalihkan pembicaraan?)
.
.
"terdengar asing. Bagaimana kalau kau memakai kata ganti 'aku' dan 'kamu' saja diantara pembicaraan kita, saenim..? atau memakai kata ganti nama saenim sendiri mungkin? Seperti Tao; yang menyebut Tao dengan nama Tao."
Yi fan makin menatap Tao datar. Dan sungguh, itu sedikit membuat Tao merasa bahwa usaha pengalihan perhatian ini akan berakhir gagal.
"anda pintar sekali mengalihkan perhatian, ya? Jawab saya, bagaimana cara anda lolos tes listening dan speaking, Tuan Huang?"
.
.
(lihat? Gagal, 'kan?)
.
.
"isshh!" Tao mengerucutkan bibirnya kesal. Kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan. "Tao bilang pada saenimnya kalau Tao tidak bisa bahasa inggris karena Tao memang tidak bisa! Dana kalau soal Listening, Tao minta bantuan Taeminie!"
Karena Tao saat itu sedang mengalihkan kepalanya ke jendela yang berada di samping kanan, ia tidak melihat jika Yi fan sedang mengernyitkan alisnya. Meskipun sedikit.
"bagaimana bisa?"
"entahlah. Mungkin karena Tao anak baik dan jujur, jadi Tao lulus tes, deh!"
.
.
(seandainya Yi fan tahu jika Tao menggunakan jurus andalannya saat itu. Ya, jurus andalannya yang menjadi senjata terkuat.)
.
.
Hening melanda ruangan dengan cat yang didominasi warna coklat muda dan putih. Ruangan dengan luas yang sedang, tapi terasa lega dan luas. Tentu saja itu karena Yi fan tidak memiliki banyak barang pribadi di sana. Selain itu, karena ruangan yang ditata rapi dengan beberapa tanaman hias di pojok ruangan menambah asri ruangan yang mulai sehari yang lalu sah menjadi milik Yi fan selama mengajar di sana.
Meskipun AC ruangan telah dinyalakan, namun bukan berarti angin tidak boleh mampir untuk bertamu.
Tao menghela nafas. "saenim, tao mohon.., berilah keringanan hukuman untuk Tao~"
"atas dasar apa?"
"anggap saja itu hadiah karena Tao sudah bersedia datang ke sini. Dari kelas sampai ke ruanganmu itu lumayan jauh, saenim. Tao capek~ nah 'kan, Tao jadi haus lagi."
"terus?"
"itu semua salahmu, saenim! Coba kalau saenim tidak basa – basi dan mengerti Tao, pasti Tao sekarang sudah minum jus stroberi di kantin dengan Taeminie~"
"dengar, saya sudah mengajar sebelumnya di negara tempat saya berkuliah. Tapi baru kali ini saya mendapat murid yang keras kepala seperti anda,Tuan Huang."
"jangan curhat pada Tao, saenim. Tao sedang tak ada hasrat untuk menanggapi curhatan orang."
"saya tidak curhat dengan anda. Saya hanya mengeluarkan sesuatu yang mengganjal pikiran saya. Dan itu adalah masalah anda, Tuan Huang Zi Tao."
"sebenarnya kau itu marah atau tidak sih, saenim? Kau berkata dengan kata yang biasa diungkapkan oleh seseorang yang sedang marah; tapi nada yang kau pakai sedatar itu – itu saja!"
"jangan curhat pada saya. Saya sedang tak ada hasrat untuk menanggapi curhatan orang."
"Tao tidak curhat. Tao hanya mengeluarkan sesuatu yang mengganjal pikiran Tao. Dan itu adalah masalah perbedaan lisan dan mimic wajah seseorang dalam berekspresi yang kau derita, saenim."
Hening lagi.
Yi fan meneguk air mineral dari gelasnya lagi. Dan Tao menatap pemandangan luar lagi.
Yi fan menutup matanya perlahan. Lagi – lagi, ia sedang mencoba menstabilkan emosi yang sedikit tersulut oleh murid ababil di depannya. Yi fan membuka matanya sedikit, menatap wajah Tao yang sepertinya sedang melihat murid namja sedang bermain sepak bola. Memang, jarak antara meja kerja dan jendela ruangan Yifan tidak terlalu jauh. Jadi mereka bisa melihat apa yang terjadi di salah satu lapangan sekolah.
Mata Yi fan menatap dahi Tao yang tertutup oleh poni hitamnya. Beberapa helai rambut hitam bak black pearl langka sedang menari di terpa angin. lalu, tatapannya beralih pada kedua bola mata Tao; yang dimana terdapat lingkaran hitam manis di kantung matanya. Sebelumnya, ia sempat berpikir jika Tao adalah namja yang selalu tidur larut. Namun ia rasa, lingkaran hitam seperti panda itu memang alami adanya. Tampak terlihat manis; berbeda dengan beberapa pendapat muridnya yang lain. Yang selalu mengomentari jika Tao adalah namja dengan wajah preman yang menyeramkan.
.
.
(sungguh, saat mendengar itu dari salah satu murid yeoja, ia menahan tawa sekuat hati.)
.
.
Kemudian, Yi fan menatap hidung bangir Tao. Asumsinya, Yi fan merasa jika beberapa namja yang memiliki hidung bangir seperti orang rusia, mungkin akan terlihat sangat tampan. Tapi bagi Yi fan jika itu dibandingkan dengan rupa wajah Tao yang 'berbeda', mungkin asumsinya akan hancur lebur. Karena jujur, Tao sama sekali tidak tampan.
Tao terlihat sama sekali tidak tampan dengan hidung bangirnya!
.
.
(lalu kau mau bilang apa? Mau bilang Tao terlihat sangat manis dengan hidung bangirnya?)
.
.
Beberapa detik bertahan di hidung bangir Tao, mata Yi fan bergerilya ke bibir cherry berbentuk curvy. Atau juga seperti bibir kucing. Sejujurnya Yi fan bertanya – tanya dalam hati dengan penuh penasaran; apa bibir Tao adalah hasil operasi pembentukkan bibir? Kenapa bibirnya terlihat 'wah!' sama sekali di matanya?
Bibir cantik seperti yeoja. Dan bahkan Yi fan pikir, yeoja pun tidak mungkin ada yang memiliki bibir se-kissable seperti yang Tao miliki. Kecuali jika mereka melakukan operasi, tentu saja.
Dan ya, bibir Tao memang mengundang semua orang untuk segera mengecup, melumat, menghisap, dan menikmatinya lebih!
.
.
(Yi fan mengatakan hal itu dengan penuh penyangkalan!)
.
.
(meskipun di dalam lubuk hati yang terdalam, ia sedikit memuja bibir curvy Tao yang terlihat seksi.)
.
.
KRUUUKKK~~~~
.
.
Hening yang canggung melanda ruangan guru bahasa Inggris khusus Yi fan.
Tao menundukkan wajahnya. Menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya; sambil memeluk perutnya yang berbunyi nyaring. Tapi bahkan, Yi fan pun tidak mengomentari apapun. Kecuali ia hanya menatap Tao dengan tatapan datar, yang di irisnya yang terdalam terdapat pandangan mata geli. Yi fan menertawakan Tao dalam hati.
"perut anda sudah berbunyi, Tuan. Jadi, silahkan bawa kliping ini dan kumpulkan hukumannya paling lambat tiga hari kemudian." Yi fan mulai beranjak dari kursi. Hendak duduk kembali di sofa ruangan sambil memboyong novel roman yang ia beli dari London sana.
Tao gelagapan. Bayangkan saja, kliping dengan setebal hampir menyerupai buku paket bahasa inggris yang beratnya sama dengan satu barbell ukuran tiga setengah kilogram; ia ditugasi untuk menerjemahkan dalam jangka waktu tiga hari…?!
Demi kakaknya yang punya kebiasaan menghitung boneka koleksinya sebelum tidur!
Ini tidak boleh dibiarkan!
.
.
Dengan kecepatan secepat yang Tao bisa, Tao menghadang langkah Yi fan sebelum Yi fan berjalan jauh dari jangkauannya. Yi fan sedikit kaget dengan gerakan tiba – tiba Tao. Tapi seperti sudah menjadi salah satu kemampuan alaminya, raut wajah Yi fan tetap saja tanpa ekspresi.
"ada apa lagi, Tuan Huang? Sebaiknya ada cepat mengisi perut anda sebelum bel masuk berbunyi—"
.
.
.
.
"—Bbuing – Bbuing~~ Tao mohon pada Yi fan saenim.., tolong diberikan keringanan hukumannya, ya, saenim…? Ya? Ya? Bbuing – bbuing~~"
.
.
.
Yi fan tercekat.
.
.
Matanya sedikit melebar dan mulutnya sedikit menganga karena ucapannya terhenti di tengah jalan.
.
.
Matanya bergerak – gerak kecil ketika melihat raut wajah Tao yang tidak ia sangka.
.
.
Lihat wajah Tao!
Tao menggembungkan pipinya. Kedua tangannya terkepal dan diletakkan di samping kanan – kiri pipinya yang merona. Mata pandanya ia bulatkan hingga mengesankan raut wajah polos dan teramat imut.
Jangan lupa bibir curvy milik Tao yang dikerucutkan—
—mengundang orang yang melihatnya untuk berbuat mesum pada bibir kucing eksotis itu.
.
.
.
.
Hening.
.
.
Yi fan menepuk wajah Tao dengan buku novelnya. Menimbulkan pekikan kecil yang terdengar manja. Tao memprotes dengan apa yang Yi fan lakukan dengan wajah yang teraniaya. Sedangkan salah satu tangannya mengusap dahi dan hidungnya yang terkena tepukan dari buku novel setebal kamus bahasa inggris milik babanya.
Yi fan berkata pada Tao untuk segera keluar ruangan karena dirinya ingin menikmati waktu istirahat yang telah terkuras habis. Sambil menghentakkan kakinya (kebiasaan ketika ia sedang merajuk), Tao mengambil kasar kliping yang tergeletak tak berdaya di meja kerja Yi fan. Dan menutup pintu ruangan itu dengan suara yang tak dibilang pelan.
.
Hening untuk yang kesekian kalinya.
.
.
Semenit setelah Tao meninggalkan Yi fan dengan perasaan amat jengkel, Yi fan menjongkokan dirinya. Satu tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya dengan mencengkram pinggir meja. Dan satu tangannya, dimana ia mencengkram buku novel yang ia gunakan untuk menepuk wajah Tao, ia arahkan ke wajahnya.
Bagi orang awam yang tidak tahu apa yang terjadi, mungkin akan berpikiran jika Yi fan terkena masalah dengan kesehatan tubuhnya.
.
.
.
Tapi seandainya mereka melihat rona tipis berwarna merah dari telinganya, maka orang itu akan berpikir lain.
.
.
.
.
(sayang sekali jika Tao melewati perubahan itu.)
.
.
.
(tapi apa boleh buat, selain ia terlanjur dibuat kesal hingga batas kekesalannya memuncak, ia juga merasa lapar sekali.)
.
.
.
.
.
[To be Continued]
.
.
.
.
.
A/N[1] :
For your information :
[1] lagu itu merupakan ending dari anime "Panty and stocking with garterbelt". Lagunya enak, lho! Nada iringannya terkesan glamor tapi karena lirik lagunya terdengar innocent, jadi lagu ini tidak terlalu berbahaya daripada animenya. Yah, walaupun ada satu scene di MV-nya yang ada unsure suspence-nya. Lebih enak kalau lagu ini didengarkan malam – malam.
[2] "panty and stocking with garterbelt" itu memang anime dewasa. Karena selain ada beberapa dialog dan alur cerita yang berhubungan dengan mature content, anime itu juga ada adegan NC-nya. Implicit memang, tapi dirty talk-nya dan desahan saat NC berlangsung itu ada.
Sebenarnya, Al juga bingung, "panty and stocking with garterbelt" ini termasuk anime atau bukan. Sebab artworknya bukan seperti anime kebanyakan, tapi seperti kartun dua dimensi buatan amerika (like 'fairy odd parents' cartoon. Do you, know that cartoon?). Tapi pengisi suaranya adalah dubber asal jepang (beda lagi kalau sudah dibeli oleh negara lain).
Karena keunikan artwork dan ceritanya yang romance erotic dibumbui dengan humor ringan, anime ini terkenal di negara non asia (kecuali Jepang, dan beberapa negara asia yang punya toleransi dengan anime mature content).
Dan, ada yang pernah nonton ini~? ;3
Al pernah, lho! Dari awal sampai akhir episode! #ketawanista #dasarmesum #tapisayangituanimestraight #cobakalauSlash(yaoi) #harapantinggalharapan #hastagyangtidakbermutuamatyaini?
[3] Let it go – Demi Lovato©OST Frozen – Disney movie
A/N[1] selesai~
.
.
A/N[2] :
Wow! Ini adalah chapter yang wordcount-nya paling banyak diantara chapter lain! Bahkan lebih dari 8K+..!
Bagaimana? Kalian suka dengan chapter ini? Hahahahahahaha… yang menunggu Tao dan Luhan beraksi, ini dia..!
Jadi, bagaimana dengan hasil mereka?
Seperti yang tertera di sini, dong, jawabannya! #ketawanista
Jadi, di adegan bagian mana yang terasa nyata bagi kalian..?
Kalau Al waktu 'tragedi' Luhan di bis dan acara curhat antara Yi fan – Tao! #ketawanistaedisikedua
(pst! Karena Al lagi senang – senangnya (entah sebabnya karena apa, Al juga nggak tahu (._.)) Al posting chapter ini sekaligus chapter special, lho! Silahkan dibaca! Hehehehe~~)
Jaa.., (karena wordcount-nya sudah banyak, langsung saja!)
Want to review..? :3
.
A/N[2] sampai di sini~
.
.
A/N[3] :
Ini balasan review kalian~
Wu Xinlian : "ahahahahaha! Terima kasih buat Xinlian dengan review panjangnya! #mainconvetti #ketjupbasah| Iya, sebenarnya memang begitu. Anggap saja, Chanyeol sedang reflex, hahahaha! Kebiasaan memang sulit untuk dirubah, iya, 'kan? Tapi tetap, sebisa mungkin Al akan mengetik plotnya sesuai dengan latar belakang. Dan mungkin, walaupun sesekali Chanyeol akan bicara bahasa jepang, anggap saja itu bumbu dari fic ini. Ok..? #kedip-kedipmaksa| Iya, hahahaha! Terima kasih buat dukungannya. Nado saranghae~(?) #flyingkiss| Ini next chapternya… :3"
Kkamjongyehet (ch 1) : "ohohohoho~ iya, dong! Tadinya mereka mau dibuat plot kalau mereka bercerai, tapi Al nggak tega. Ahahahaha~ #innocentlaughandface #slapped| oh, iya, dong! The secret power of Tao!(?) :3"
Kirei Thelittlethieves : "wah! Jadi Kirei itu muka baby face, kah? Sampai nggak ada yang tahu kalau kamu itu suka baca ff rate M! Ah, tenang! Al juga begitu, kok! Al malah dikira anak yang kalem dan punya aura – aura 'nggak mungkin dia melakukan hal semesum itu', lho! Kecuali untuk beberapa sahabat dekat dan adik Al, hahahaha! #slapped| ini next chapternya. Apa Anda suka..? #berasasalesyangproduknyanggaklaku| mau review lagi..? :D"
Kalsowoon : "ok, ini sudah lanjut~ :D. Dirimu mau mereview lagi…? :3"
Sempaxkristao : "hahaha! Jujur, Al suka penname dirimu! Kkkk~~ rasa – rasanya (?) gimanaaaa.., gitu. Iya, nggak apa – apa. Yang penting dirimu sudah mereview walau hanya satu. (padahal maunya sih banyak.. #slapped) . ini chapter selanjutnya~ mau mereview lagi..? :9"
Kkamjongyehet (ch 2) : "ayo kita berdo'a buat mereka jadian di ff maupun di dunia nyata! Ahahahahahah! #tebarconvetti| oh iya, dong! Gimana..? sexy nggak mereka…? Bah! Mereka nggak nari streaptease saja sudah sexy, gimana kalau nari streaptease..? (-_-) ok, ini next chapternya. Mau mereview..? :9"
Kkamjongyehet (ch 3) : "yes, itu Heechul! Memang pertemuan taoris kurang mengenakkan, ya..? di bagian mananya…? :o . Ini next chapternya. Mau mereview…? :D"
Kkamjongyehet (ch 4) : "ohohoho~ Kyung boleh gagal di first stepnya. Tapi bagaimana dengan langkah – langkah selanjutnya…? Tunggu tanggal mainnya! #slapped| ini next chapternya. Mau review..? ;9"
Kkamjongyehet (ch 5) : "heiiyaaa… dirimu maunya bagaimana, nih? Kkkkk~~ mau Chen jadi straight..? hmm.., tergantung keberhasilan Xiumin dalam menaklukan dokter muda nggak peka itu~ hahahaha! Hayahahahahah~ Baek~, sudah diambigui sama Chanyeol, dimarahi sama dirimu lagi! #freepukpukforBaekhyun| ini next chapternya. Review..? :3"
ShinJiWoo920202 : "aye – aye, captain! #hormat| Kupikir detik itu bahasa inggrisnya 'secon'; soalnya bahasa indonesiannya saja sekon (kalau dalam fisika). Ternyata benar 'second', toh! Hehehehe~ maaf saenim, saya tertukar~ #innocentlaugh| ok, this is a next chapter for this ff. wanna review..? :3"
Irnaaa90 : "ya ampun, Irna – Neechan..! jangankan Luhan, Al saja kalah sama setiap muka uke di semua BB, kok! Pas Al lihat muka mereka tuh ya, secara otomatis Al teriak : 'ya ampun dia cantik/ imut/ manis banget, mamaaaa…! Al merasa gagal jadi ceweeekkk..!'; gitu. (._.) #iyamemangsepertioranggilayangkaburdariRSJ| ok, hwaiting! (OvO)9. Ini next chapternya. Review..? :D"
Fuawaliyah : "iya, baru suka. Itu pun beda arti dengan maksudnya Baekhyun. Haha.. #lirikBaekhyunyangmasihngedown| tapi ini baru awal, kok! Kita tunggu tanggal main Chanyeol melamar Baekhyun saja, ok..? ini next chapnya. Mau review..? :3"
Sycarp : "sabar.., eon.., sabar.., ya! Al juga mau banget kristao nc-an. Tapi belum dapat izin resmi dari si angry bird itu! #liriksinisKris| ini nextnya. Mau review..? ;D"
Raetaoris : "Zee! Darimana saja kamu..?! \(QAQ)/ Miss you~~ \(3)/| lho? Uke itu memang sebutan khusus untuk cowok yang berperan sebagai cewek di hubungan gay di Jepang. Dan.., apa hubungannya dengan chapter yang sebelumnya, Zee..?(O_O) #pelongo #garuk-garukkepala| ini next chapnya. Review boleh..? :3"
Juniel Is A Vampire Hybird : "hhooohh~~ Jun juga anak kelas 12 SMA, kah? Kalau iya, kelas apa? Mau masuk jurusan apa di UGM? #curious| ini chap Taoris dan Hunhan-nya. Daisuki desu? Mau reviewnya boleh..? :3"
EXO love EXO : "hohohoho~~ mau introgasi mas Chanyeol bareng – bareng sama Al..? kalau iya, siapkan kursi, tali, dan lampu belajar! Kita introgasi dia, benarkan dia menyukai BabyBaek atau tidak..? #evillaugh| ini next chapnya. Mau review..? :3"
Hibiki Kurenai : "ahahahahahaha! Kenapa panas – dingin..? hibi, sudah ngikik – ngikik, ngikiknya di pojokan lagi. Serem! (QAQ) eh, apanya yang lumayan..? (._.) apanya yang nggak terlalu kasar..? (._.)| hahahahahaha! Waktu Al buat adegan itu, Al juga berpikir gimana jadinya kalau adegan ini dibuat dalam versi komik? Lebih ngocol kali, ya? #ahmasa'iyasihmbak? #abaikan| free puk puk for Baozi! Baozi kuat! Baozi rapopo! Move on bareng mbak JuPe! XD| ini next chapternya. Mau review ndak..? :D"
PeachyPanda : "hahaha! Itu Heechul! X3 iya, ini dia chap Taorisnya! Gimana..? suka nggak..? :3 #kedipkedip| waahh~~~! Amiinnn! Terima kasih buat do'a dan support-nya! #ketjup| Ini next chapnya, mau review..? :D"
