Monster
Disclaimer By: Otsu Kanzasky
I just REMAKE this FF, just change the name, pleace and words
Inspiration dari lagu Monster nya Eminem ft. Rihanna n film Disney `Tangled: Story Tale
Note : Disini, saya sangat suka dengan ff teman baik saya ini (like my big sister), jika memang sudah pernah membaca dan berteman dengan teman saya, saya katakan bahwa saya sudah mendapat IJINdari teman saya untuk meremake.
Chapter 4
Suara lolongan angin yang berhembus memberi kesan hening yang tak ada habisnya, dan meski musim telah berganti, tetap saja tidak ada kata 'hangat' di dalam badan kemiliteran Cyprus saat ini. Terlebih jika sang Monster telah berada di tangan mereka, sampai waktu eksekusi tiba, para prajurit pemberani disana belum bisa tenang sepenuhnya.
Suara Burung Hantu di luar sana, terasa sedikit mencekam, sementara sang rembulan tampak sangat indah dengan bentuk sabitnya. Seperti sebuah mata yang tengah mengintip, mata yang mengawasi kegiatan seorang Jendral muda yang sedang berkutat dengan berkas laporan yang harus segera di selesaikannya.
Yunho menutup buku laporannya dan menyandarkan punggungnya rileks ke sandaran kursi. Kini sorot mata tajamnya tertuju pada kotak musik merah maroon yang tepat berada di depannya. Ia pun membuka kotak itu dan segera alunan melodi lembut mengurai keheningan kamar tersebut.
Suara kotak musiknya memang tak terlalu keras, mengingat usia benda itu yang sudah bertahun-tahun di tinggalkan. Entah apa yang tengah di pikirkannya, sorot mata Yunho tampak menerawang tak lepas mengunci kotak itu dari pandangannya.
Namun malam akan semakin larut jika ia tidak segera menuntaskan tugasnya. Namja bertubuh tegap itu pun bangkit berdiri, mengambil jacket seragamnya yang di gantung di lemari dan memakainya, tak lupa ia menutup kotak musik itu kembali lalu keluar dari kamar membawa laporan.
Suasana diluar asrama Militer tergolong cukup sunyi. Para penghuninya lebih memilih untuk beristirahat atau menghabiskan waktu di kamar masing-masing daripada berkeliaran di luar. Selain tak di perbolehkan, tak menutup kemungkinan mereka di serang hewan buas.
Beberapa prajurit yang bertugas di kantor memberi hormat begitu sang Jendral muda masuk. Ia melenggang menuju ruang kerja atasannya untuk menyerahkan laporan kerja selama sepekan. Tanpa ingin berbasa-basi namja tampan itu segera keluar dari ruang kerja Yoochun setelah memberikan laporannya.
Suara langkah kakinya membuat keheningan di sepanjang lorong semakin terasa. Tapi saat sampai di bagian depan kantor, dan dirinya baru menyadari jika prajurit yang berjaga di depan tak seperti tadi siang.
"Kemana yang lain?" tanyanya pada prajurit muda yang berdiri tegap di depan pintu. Prajurit bernama Yonghwa itu pun memberi hormat sejenak.
"Mereka sedang melaksanakan tugas dari anda Pak." jawabnya lugas. Yunho mengangkat satu alisnya.
"Tugas dari ku?" tanyanya bingung.
"Benar Pak."
"Saya tidak memerintahkan apapun. Mereka mengatakan apa?"
"Eh, tadi mereka bilang anda memberi perintah untuk mengantarkan makanan pada makhluk itu," Changmin jadi ikut bingung, tak urung ada rasa takut mengetahui jika teman-teman jaganya berbohong.
Raut wajah Yunho berubah dingin, memikirkan hal apa yang di lakukan ketiga prajurit di dalam sel sampai harus berbohong dengan mencatut namanya. Dan tanpa mengatakan apapun pria tampan itu melangkah lebar-lebar ke arah sel yang berada di belakang kantor.
Dua prajurit bersenjata lengkap yang berjaga di depan memberi hormat lalu membuka pintu besar yang berat itu. Sedikitnya membuat beberapa tahanan yang melihatnya bertanya-tanya, apa sekiranya yang membuat sang Jendral datang malam-malam.
"Anak-anak itu akan memperkosanya!" teriak seorang tahanan, sukses menghentikan langkah Yunho.
Terdengar suara orang terkekeh kemudian. Kini mata musang itu tajam Yunho tertuju pada seorang namja berwajah sangar yang pada sel bernomor 15. Ia ingat jika pria berbadan besar itu adalah pelaku pembantaian.
"Anak berambut perak yang kalian bawa kemari, siapa yang tidak ingin menikmati tubuhnya?" namja berkumis itu mulai berlagak. Wajah Yunho mengeras.
"Bukankah kau juga mengaguminya Jendral?" ada seringai licik di bibir namja itu.
Yunho mengepalkan tangannya erat, memutuskan kembali berjalan tanpa memperdulikan ocehan namja itu. Ada amarah yang tersulut, entah benar atau tidak apa yang di katakan namja itu, yang jelas ia panas mendengarnya.
Semakin cepat ia melangkah dan akhirnya melihat sel khusus sang Monster yang pintunya terbuka. Amarahnya semakin menjadi meski belum tentu kata namja tadi benar adanya.
Rahangnya mengeras, tatapannya berubah penuh amarah saat melihat tiga prajurit tampak sibuk oleh suatu hal di dalam sel.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?!" suaranya menggelegar di heningnya sel. Tiga namja muda di dalam menengok serempak, dan tampak panik saat melihat atasan mereka.
Yunho berjalan masuk dan rasanya amarahnya semakin memuncak melihat Jaejoong yang kini telanjang bulat dengan kain menyumpal mulutnya.
"K-kami-"
"DIAM!" bentaknya. ketiga prajurit muda itu pun menunduk dalam ketakutan.
"Keluar! Akan saya pastikan hal ini sampai pada Kapten" ujarnya dingin. Prajurit-prajurit itupun buru-buru keluar sebelum sang Jendral semakin marah.
Yunho melepas jacketnya dengan segera dan menutupi tubuh bagian bawah Jaejoong, dengan cepat ia membuka tali yang menyumpal mulut si porselen itu.
"Kenapa kamu diam saja?" tanyanya tajam, Jaejoong menatapnya datar.
"Mungkin kalau kamu terlambat datang aku sudah melukai mereka, aku beruntung." ujar Jaejoong tenang, Black Eyes'nya bergerak menilisik wajah tampan Yunho.
"Beruntung katamu? Kamu tidak keberatan mereka melakukan hal itu padamu?" Yunho memicingkan matanya, tak habis pikir akan cara berpikir pemuda itu.
"Sebisa mungkin aku tidak mau melukai orang, tapi mereka tidak berhenti membuat ku sakit." Jaejoong menatap menerawang langit-langit selnya. Yunho tanpa sadar menahan nafas, tak terbayangkan apa yang telah di lakukan orang-orang itu padanya.
"Mereka melakukan hal itu padamu?" tanyanya, dengan suara yang agak pelan. Jaejoong kembali menatap namja yang berdiri di samping kanannya itu.
"...iya, dan itu membuatku terpaksa melukai mereka"
Jaejoong mengepalkan tangannya erat, amarahnya kembali terbakar dan ada perasaan yang rumit membuat dadanya terasa di iris. Dan ia mengerti akan maksut dari kata 'melukai' itu.
"Akan ku pastikan tidak ada satu orangpun yang bisa melukaimu!" ucapnya tajam, ia pun beranjak dari sisi Jaejoong, namun menghentikan kakinya tepat saat akan menutup pintu besi sel.
"Nanti akan ada yang mengantarkan baju untuk mu." ucapnya lalu menutup daun pintu kokoh itu.
Jaejoong menghela nafas pelan yang samar, lalu bangkit duduk, sedikit menepuk-nepuk lengannya yang kotor karena di baringkan paksa. Tapi saat ia hendak membersihkan bagian yang lain, matanya menangkap sebuah jacket tebal berwarna abu-abu gelap menutupi pinggulnya.
Si porselen itu pun meraih jacket tersebut dan memperhatikannya. Kemudian secara perlahan mencium baunya. Aroma lembut yang khas, rasa nyaman yang membuatnya memejamkan mata menghirupnya.
Kesunyian dalam sel yang setia melantunkan lagu penghantar tidur untuk penghuninya. Jaejoong masih terlelap dengan menekuk tubuhnya, rambutnya yang panjang terurai begitu saja. Wajah polosnya tampak sangat damai, nafasnya teratur, seolah tak ada masalah apapun.
Tapi suara pintu besi yang di buka membuat pemuda berwajah cantik bagai boneka itu harus membuka matanya. Belum sempat ia bisa melihat dengan jelas tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan kepalanya terasa di bungkus oleh sebuah kain.
"Berdiri!" perintah sebuah suara tegas yang memaksa si porselen bangkit berdiri.
Jaejoong tampak tenang, ia dapat merasakan rantai yang mengikat tangan dan kakinya di lepas lalu di pakaikan rantai sejenis yang lebih pendek. Seseorang mendorong punggungnya kasar, menyuruhnya agar berjalan dengan langkah tertatih karena rantai yang membelenggu.
Kemana dirinya akan di bawa?
"Saya tidak di beritahu tentang hal ini?" protes suara berat yang tiba-tiba muncul, seiringan dengan suara langkah kaki yang cukup ramai.
Suara Yunho, Jaejoong sangat mengenalinya.
"Apa saya harus menanyakan persetujuan anda untuk memindahkan Monster ini?" suara yang lebih dewasa terdengar tenang.
"Saya yang bertanggung jawab atas penangkapannya Pak, setidaknya saya-"
"Kenapa anda kaget Jendral? Bukankah wajar? Dia harus di pindahkan agar tidak terjadi lagi hal yang sama."
"Saya mengerti, tapi tidakkah Vroya terlalu jauh?"
"Setidaknya disana lebih aman, perjalanannya sudah di atur."
Jaejoong terus melangkah tanpa tahu arah, rantai di tangannya di tarik dari depan untuk membimbing lankahnya, sementara sesekali punggungnya di dorong agar lebih cepat berjalan. Ia mendengar percakapan itu, dan entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah meninggalkan ruangan sel.
Sinar hangat matahari menyapa kulit wajah dan tubuhnya yang dingin, meski kepalanya di tutup kain hitam ia masih dapat merasakan udara segar yang tak di hirupnya selama sepekan.
"Akan ku pastikan tidak akan ada lagi orang yang melukaimu"
Ikrar Yunho kemarin malam kembali terngiang di telinganya. Seketika membuat kakinya berhenti melangkah.
"Cepat jalan!" perintah prajurit di belakangnya galak.
Jaejoong merenung. Bukankah ikrar sang Jendral tidak akan menjadi nyata jika dirinya tak berada di sekitar namja itu?
"Apa kau tuli?! Kembali berjalan!" punggungnya kembali di dorong dengan kasar.
Si Black Eyes itu menutup mata seraya menggigit bibir bawahnya kecil. Suara teriakan dan perkakuan kasar tak di pedulikannya, kepalanya mendadak berdenyut serta suhu tubuhnya yang tiba-tiba meningkat. Tanpa sadar mata Aquamarine keemas itu muncul.
"Ku bilang cep-"
CRANK! BRAK!
Prajurit yang semula berdiri di belakng Jaejoong kini terlempar ke dinding setelah tiba-tiba Jaejoong mencekik lehernya lalu melemparkannya ke samping.
"Apa yang kau-"
Si porselen itu mengangkat tangannya yang terantai cepat dan melakukan hal yang sama pada prajurit yang lain. Suara ribut terdengar, seiring nafasnya yang memburu dan suara derap langkah yang kini mengarah padanya.
Jaejoong itu merobek penutup kepalanya dengan mudah berkat kuku-kuku jarinya yang kini berubah meruncing. Wajah tegang tampak di wajah para prajurit yang mengarahkan senjata, dan mata Aquamarin keemasan Jaejoong kini berubah lebih pekat, tajam dan dingin, membuat para prajurit semakin waspada.
"Lumpuhkan dia!" komando Yoochun tak kalah cemas. Yunho yang melihat hal itu kini di rundung rasa takut yang luar biasa.
Bagaimana jika pemuda itu terbunuh? Dia berada di markas, otomatis lebih banyak prajurit yang akan membantu melumpuhkannya, atau yang lebih menakutkan si porselen itu akan di bunuh.
Jaejoong dapat memutuskan rantai di tangannya dengan mudah, wajah cantiknya kini tampak lebih dingin dan 'buas', membuat sosoknya menjadi benar-benar seperti boneka yang tak tersentuh.
"Jangan membuat ku melakukan hal ini pada kalian." hardiknya tenang, menatap para prajurit yang siap menyerangnya.
"Menyerah lah! Kami tidak akan melukai mu!" kata Yoochun lantang.
"Tidak!" teriak Jaejoong cepat. Sorot matanya berubah takut, menatap Yunho yang sejak tadi menatap kearahanya.
Jelas. Ia tidak mau jika sampai harus melukai orang-orang itu, tapi di satu sisi ia marah akan hal yang dirinya sendiri tak memahaminya.
Dan hal yang tidak di inginkan itupun terjadi. Prajurit Cyprus melakukan serangan dan memaksa Jaejoong mempertahankan diri dengan kekerasan pula. Si Aquamarine itu bergerak lincah, rambut peraknya sama sekali tidak membatasi ruang geraknya. Ia dapat dengan mudah mengoyak para prajurit yang lengah, darah bercecer, dan semakin membuatkeadaan memanas. Jaejoong dapat menyerang dengan langkah pasti semakin mendekati dinding tinggi yang melingkupi markas itu.
Sosok indah itu pun kini berlumuran darah, namun matanya menyiratkan penyesalan yang mendalam, tapi ia tak bisa menghentikan gerak tubuhnya begitu saja. Ia bergerak sangat cepat, membuat para prajurit kewalahan dan tak bisa mencegah saat sosok cantik itu melompat keatas dinding pembatas.
"Kejar dia!" perintah Yoochun menggelegar.
Yunho spontan berlari kearah gerbang, berusaha mengejar Jaejoong yang telah melompat turun ke sisi lain dinding. Perasaannya kini campur aduk, ia tak mau kehilangan pemuda berambut perak itu begitu saja.
"JAEJOONG!" panggil Yunho hingga otot-otot di lehernya tercetak jelas. Si Aquamarine yang berada bermeter-bermeter darinya pun menoleh.
Tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Wajah bagai boneka itu melunak menatap Yunho, yang kini berjalan kearahnya.
"Aku sudah bilang bukan? Tidak akan ku biarkan satu orang pun yang melukaimu," ucap Yunho yang telah berdiri berhadapan dengan Kiel. Mereka saling bertatapan penuh arti.
Yunho mengusap pelan pipi halus Jaejoong yang terdapat bercak darah para prajurit. Tiba-tiba ia meraih tangan kanan Jaejoong dan mengarahkan ke perutnya. Dan pemuda itu menggeleng, mengerti maksut Yunho.
"Mereka tidak akan berhenti kalau kamu tidak melukai ku." ujarnya. Yunho tetap menggeleng.
Namja tampan itu merogoh saku celana army'nya, mengeluarkan sebuah pisau lipat yang di ayunkannya pada Jaejoong, tapi si cantik itu refleks menangkisnya dan menusukkan pisau di tangan Yunho ke perut rata namja itu.
"Ugh..." Yunho membungkukkan tubuhnya menahan rasa sakit yang luar biasa, Jaejoong tampak tercekat dengan apa yang baru saja terjadi.
"Lepaskan dia!" teriak pemimpin para prajurit. Jaejoong yang kini ketakutan spontan membalikkan tubuh Yunho untuk di sandera.
"Jangan mendekat atau ku koyak perutnya!" ancaman keluar dari bibir ranum Jaejoong. Para prajurit terlihat tegang, terlebih sang Jendral memberi isyarat untuk tak menyerang.
Dengan nafas yang berat dan wajah yang mulai pucat ia menurut saja saat tangan Jaejoong yang melingkar di lehernya menyeretnya mundur. Membiarkan pemuda itu menyeretnya masuk ke dalam hutan belantara hingga tak lagi melihat para prajurit.
TBC
Hai maaf saya telat update, padahal sudah selesai. maklum saya dari kemarin sibuk di kantor maunya tadi pagi update eh di ajakin temen nonton Avengers, ada yang sudah nonton?
hlyjs : update!
runashine88 : eh, maksudnya? O.O
AprilianyArdeta : hahaha... iya jaema mah terlalu polos untuk yunpa #tabokyunpa.. kita simak cerita selanjutnya #alasinet
kuminosuki : update!
parampaa : gpp, silahkan baca :) saya welcome sama semua org kok :D hahaha maaf, betul banget kalau Kiel itu cast aslinya JJ maklum saya biasa edit itu selalu malam habis ngelesi, jadi yah hehehe... XP ini sudah saya cek berkali2 tapi kalau masih ada typo kasih tau ya :D
meybi : update!
whirlwind27 : biasa kan yang bisa buat yunpa galau cuma jaema XD welcome dear :)
btw ada yang mau ngelanjutin ff saya yang More? kebetulan saya sudah tidak ada ide buat lanjutin cz seharusnya ff itu adalah pengalaman temen saya 3 tahun lalu. tapi sekarang sudah lost contact jadi gak bisa lanjut hah.. cuman dulu kan critanya ttg Romance, Pedolfi, BDSM. hahaha... XD
