Monster

Disclaimer By: Otsu Kanzasky

I just REMAKE this FF, just change the name, pleace and words

Inspiration dari lagu Monster nya Eminem ft. Rihanna n film Disney `Tangled: Story Tale

Note : Disini, saya sangat suka dengan ff teman baik saya ini (like my big sister), jika memang sudah pernah membaca dan berteman dengan teman saya, saya katakan bahwa saya sudah mendapat IJINdari teman saya untuk meremake.


Chapter 5

Malam tiba begitu cepat, menyeruakan suara malam yang mencekam. Suara gesekan ilalang dan pepohonan bercampur dengan bisikan angin serta merdunya suara Burung Hantu. Menjadi alunan musik yang tak terbayangkan, layaknya pertunjukan orchestra yang menakjubkan.

Suara-suara hewan malam itu memberitahu sosok sang Monster akan malam yang telah larut. Si Black Eyes itu kini dapat sedikit tenang, ia tak perlu bingung dimana harus bersembunyi karena tidak akan ada satu orang pun yang berani menerobos hutan saat malam. Sekalipun itu para prajurit Cyprus.

Entah bisa di katakan beruntung atau tidak. Setelah sekuat tenaga membawa Yunho yang bertubuh lebih besar darinya, dengan menyeret namja itu, Jaejoong menemukan sebuah gubuk reot yang hampir roboh. Namja cantik itu memutuskan untuk beristirahat disana dan merawat luka Yunho yang mengeluarkan cukup banyak darah.

Dan beginilah dirinya sekararang, duduk bersimpuh di dekat Yunho yang di baringkan di tanah, sementara ia merawat luka tusuk di perut namja itu dengan telaten dan lembut. Wajahnya yang cantik tak sedikit pun menampakkan lelah meski sudah berjam-jam ia menggunakan rambut perak ajaibnya untuk merawat luka Yunho.

Sorot mata hitamnya itu terasa lembut saat menatap wajah tampan Yunho yang kini tak terlalu pucat seperti saat pertama ia membaringkan tubuh jangkung itu. Jarinya yang lentik iseng menyentuh hidung mancung sang Jendral, tampak rasa ingin tahu di tatapan itu, kemudian bergeser menelisik dada bidang Yunho serta perutnya yang six pack.

Sepertinya si porselen itu bingung melihat perut kotak-kotak Yunho yang terbentuk berkat latihan fisik yang setiap hari di lakukannya.

Bagaimana caranya perut seseorang bisa seperti itu?

Sedetik kemudian Jaejoong kembali fokus pada luka di bagian kiri perut itu, mengusapnya lembut. Meski belum sempurna menutup, setidaknya darahnya telah berhenti mengalir. Cukup melegakan, ia merapikan rambutnya ke depan, dan menyisirnya dengan jari.

Memang benar apa kata orang tentang rambut ajaibnya. Surai keperakan itu sama sekali tak terlihat kotor ataupun menggumpal karena tidak di terawat. Terlebih tak ada sedikit pun bercak darah setelah menggunakannya untuk luka tusuk Yunho.

"Aagh..." rintihan lirih keluar dari bibir pucat sang Jendral, refleks mengalihkan perhatian Jaejoong dan kini menatap namja itu.

"Berbaring lah dulu, luka di perutmu belum menutup sempurna." ucapnya, menahan dada Yunho saat namja itu hendak mengangkat tubuhnya.

Namja tampan itu menurut saja, tak lepas menatap wajah mulus Jaejoong yang menatapnya polos. Bukannya merasa sakit karena luka tusuk di perutnya, ia justru senang dapat melihat namja cantik itu baik-baik saja.

"Apa kamu terluka?" tanyanya terdengar lemas, Jaejoong menggeleng kecil.

"Maaf aku sudah menusuk mu," Jaejoong terlihat menyesal.

"Kalau tidak begitu tidak akan ada jalan untuk kabur 'kan?" Yunho mengusap pipi halus Jaejoong pelan dengan telunjuknya.

"Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya bingung. Yunho menarik nafas pelan.

"Aku hanya ingin kamu selamat." jawabnya kalem.

"Tidak ada orang yang sebaik ini padaku sebelumnya," kata Jaejoong. "Kamu orang yang terlalu baik Tuan." lanjutnya tulus.

"Yunho, namaku Jung Yunho, jangan memanggil ku Tuan."

"Boleh aku bertanya Yunho?"

"Hn?"

"Kenapa kamu peduli padaku? Aku musuh mu,"

Yunho menatap ke dalam mata Black Eyes itu, rasa damai itu selalu muncul saat melihatnya.

"...entahlah, aku hanya tidak mau melihatmu lebih terluka lagi. Tidakkah kamu lelah?" Yunho menatap lembut. Jaejoong menggigit bibir bawahnya kecil.

"Aku bisa membawamu pergi jauh, jauh dari orang-orang yang akan mengganggu mu,"

"Aku terbiasa seperti ini, aku tidak pernah berpikir untuk merepotkan orang lain." kata Kiel polos, lalu melilitkan ujung rambutnya ke tangan kanannya.

"Kenapa kamu merawat luka ku?" tanya Yunho, tak lepas memperhatikan wajah Jaejoong yang sedang serius saat meletakkan tangannya yang di lilit rambut ke atas lukanya.

"Kamu orang baik, aku tidak mau orang yang baik padaku terluka karena aku," ucapnya, sejenak menatap mata Yunho dan kembali fokus pada luka namja itu.

Hening kemudian. Yunho tak begitu memikirkannya dan lebih memilih untuk memperhatikan namja cantik yang sedang menyembuhkan lukanya dengan keajaiban rambut peraknya.

Hingga namja itu memutuskan untuk memejamkan mata serta menarik nafas dalam-dalam, merasakan sentuhan lembut tangan Jaejoong di kulit perutnya.

"Terima kasih, aku belum pernah merasa senyaman ini sebelumnya," ucap Jaejoong, Yunho pun membuka matanya.

"Kamu mau tetap bersama ku?" tanyanya, namja cantik itu mengangguk polos.

"Apa aku tidak merepotkan?" sorot matanya tampak serius.

"Sedikit pun aku tidak pernah merasakan itu." Yunho menggenggam tangan kiri Jaejoong yang berada di dekatnya.

Mereka saling bertatapan dalam diam, menciptakan perasaan yang meletup-letup dan kenyamanan yang menyenangkan. Terlebih saat kedua belah bibir mereka saling bertaut, tanpa tahu siapa yang memulai. Mengalir begitu saja.

Matahari sepertinya tak sabar untuk segera menempati singgasana agungnya. Sinarnya masih terasa hangat di antara celah pepohonan tinggi, memberi sentuhan tersendiri bagi penghuni hutan. Hewan-hewan malam kini telah di gantikan oleh para hewan yang bergerak aktif sampai matahari tenggelam.

Meski udara lembab yang tak juga memudar, Yunho dan Jaejoong telah meninggalkan gubuk reyot tempat semalam mereka istirahat. And lucky them, selain luka tusuk sang Jendral yang telah hilang, namja tampan itu menemukan beberapa pakaian bekas di dalam gubuk. Memang agak lusuh, tapi setidaknya mereka membutuhkan itu untuk 'meninggalkan jejak', lagipula tidak mungkin dirinya memakai seragam abu-abunya itu. Dan menariknya, ia sengaja menyuruh Jaejoong untuk memakai pakaian wanita, yah dengan sosoknya itu tak akan ada satu orang pun yang meragukan 'kewanitaannya'.

Sudah sekitar 2 jam lamanya, Yunho dan Jaejoong membelah lebatnya hutan, sesekali berhenti sejenak saat menemukan buah atau jamur yang bisa mereka konsumsi. Sampai akhirnya mereka menemukan aliran sungai kecil dengan air yang jernih, kedua orang itu memutuskan untuk beristirahat sejenak.

"Sekitar 30 menit lagi kita akan sampai di perbatasan," Yunho duduk di sebuah batu seraya menatap sekitar. Jaejoong yang tengah membasuh wajahnya pun menengok.

"Kamu tidak mencuci muka? Airnya segar," ucapnya sambil mengusap wajahnya yang basah. Yunho yang tak sengaja melihat tanaman Addleways di samping kirinya, memetik bunga itu lalu bangkit mendekati Jaejoong.

"Ikat rambut mu, suapaya lebih mudah." katanya, meraih rambut perak Jaejoong yang tergerai lalu mengikatnya dan mengarahkannya ke depan.

"Terima kasih." Jaejoong terlihat senang mengamati bunga yang kini mengikat rambutnya. Melihatnya Yunho ikut senang, padahal hanya hal kecil, tapi dapat membuat si porselen itu senang. Like a child.

Sedetik kemudian namja tampan itu sadar jika ia melupakan sesuatu. Ia merogoh saku celana lusuhnya dan mengeluarkan kalung berliontin batu mulia berwarna biru cerah.

"Ini ku kembalikan padamu," ucapnya, Jaejoong mengangkat wajahnya, dan senyum mengembang di bibir ranumnya.

Pemuda cantik itu tampak senang saat mengamati kalungnya yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya akan melihat kalung cantik itu. Yunho mengambilnya dan membantu memakaikannya ke leher Jaejoong.

"Terima kasih~" ucapnya senang, Yunho hanya mengusap pelan kepala Jaejoong.

"Kita lanjutkan perjalanan." ujarnya, tak lupa membasuh wajahnya terlebih dahulu.

Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan perjalan, sebelum matahari semakin tinggi. Selama itulah Jaejoong menunjukkan sifat aslinya yang masih polos, ia selalu berkata apa adanya, bahkan nyaris membuat Yunho tertawa karena terlalu jujur.

Bukankah memang ia hanya seorang remaja yang akan dewasa?

Yunho dan Jaejoong masih harus menempuh bukit begitu keluar dari hutan. Sinar hangat sang mentari membuat si porselen itu berhenti melangkah dengan kepala menengadah.

"Kenapa berhenti?" tanya Yunho, sadar jika namja itu tak di sebelahnya. Jaejoong yang tengah menutup matanya pun menatap namja itu.

"Rasanya hangat, aku belum pernah merasakannya beberapa bulan ini," jawabnya polos.

"...mataharinya tidak akan kemana-kemana, ayo kita harus cepat." kata Yunho, di jawab anggukan oleh Jaejoong.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mendaki bukit dan melihat jalan setapak yang hanya cukup di lalui satu gerobak kuda besar. Untungnya tepat saat mereka turun dari bukit, sebuah gerobak pengangkut padi berjalan santai.

"Bukankah harus membayar kalau kita naik itu?" tanya Jaejoong menatap bingung Yunho yang sedang mengangkat satu tangannya memberi kode pada pemilik gerobak agar berhenti.

"Tenang saja, ada sedikit uang di saku celana ku kemarin." jawab Yunho ketika gerobak padi itu semakin dekat.

Namja tengah baya yang mengemudikan gerobak itu pun menghentikan laju kudanya tepat di depan Yunho dan Jaejoong.

"Apa kami boleh menumpang Pak?" tanya Yunho, namja berkumis itu menatap tajam.

"Darimana asal kalian?" tanyanya baik.

"Kami dari Zara" Yunho berbohong.

"Akhir-akhir ini banyak penjahat berkeliaran." namja itu memastikan jika yang menghadangnya bukan pelaku kriminal.

"Desa tempat kami tinggal sedang memanas, disana tidak aman." kata Yunho, berdusta lagi. Sementara Jaejoong kini menatap bingung namja itu.

"Kemana tujuan kalian?" tanya pria itu.

"Kami akan ke Frazer, ke salah satu Desa disana."

"Apa kalian suami-istri?" kini namja berkumis itu memperhatikan Jaejoong dari atas ke bawah.

Yunho menoleh pada namja cantik itu, lalu meraih pinggul ramping Jaejoong dan memeluknya. Si cantik itu pun otomatis menoleh dan menatap bingung.

"Ya, kami pengantin baru," jawabnya cepat. Sosok tinggi tegapnya serasi dengan figure cantik Jaejoong yang tingginya hanya sebahunya.

Sejenak Jaejoong melirik tangan besar Yunho yang berada di pinggangnya. Rasanya hangat saat tubuh mereka bersentuhan.

"...cepat naik, tapi aku berhenti di Freya." ujar namja itu akhirnya.

"Terima kasih Pak." ucap Yunho lega.

Ia membantu Jaejoong naik ke atas gerobak lalu dirinya naik kemudian. Mereka duduk di atas gundukan padi menghadap jalan saat gerobak itu berjalan perlahan.

"Suami istri itu sebutan untuk orang yang sudah menikah 'kan?" tanya Jaejoong menatap Yunho bingung, namja itu mengangguk.

"Tapi 'kan kita tidak menikah, kamu berbohong pada Tuan itu." ekspresi wajahnya terlihat lucu. Bibir seksi Yunho tertarik samar memperhatikan Jaejoong.

"Berbohong demi keselamatan, tidak ada salahnya," ia membela diri.

"Tapi tetap saja tidak baik!"

Yunho mengusap kepala Jaejoong pelan. "Maaf, aku tidak ada cara lain." ucapnya lembut. Jaejoong hanya mengangguk kecil.

Namja tampan itu melemparkan pandangannya ke depan, menikmati pemandangan bukit-bukit yang hijau serta birunya langit, sama seperti Jaejoong. Dan diam-diam menggenggam tangan si cantik itu di antara tubuh mereka.

TBC

runashine88 : oalah, maaf aku gak paham kemarin #plak XD Update!

kim & Kuminosuki : Update!

mons : apalagi kalau nonton 3D lebih seru lagi tuh! iya kasihan dia mati, padahal lumayan ganteng #plak XD em.. sebenarnya 1-2 hari, mandat dari pemilik ff mah 2 hari sekali, tapi kalau telat brarti gak sempet cz banyak kerjaan #alasan #plak XD

meybi : yu, Bingo!

nabratz : amin~ :)