.
.
Buat Chenma; kamu kecewa ya, sama chapter sebelumnya? Nggak apa – apa, kok. Tapi memang dasarnya Al mau buat ff ini tuh ringan; ada unsur slice of life-nya, jadi nggak hanya terlalu fokus ke teknik – teknik bagaimana menaklukan para seme (yang jadinya justru terkesan maksa kalau justru di paksain kayak dibentuk seperti buku panduan), tapi juga bagaimana kehidupan ringan para uke dan seme dalam pedekate 'tidak langsung' mereka..
Jadi nggak ada yang melenceng karena ide pokoknya sudah ditetapi bahkan sebelum ff ini diketik chapter awalnya~ :D
Dan mungkin setelah Chenma baca chapter ini, baru akan mengerti.. :3
Jaa, dukung, kritik, dan beri Al saran lagi, ok? *dadah*
.
.
Buat Lovexing; kamu suka adegan di chapter sebelumnya..? oh ya, kamu yang request soal para uke yang dikiranya cewek itu, 'kan? Hahaha.. ide alurmu sama dengan Al! XD
Apa? Inspirasi naik bus..? nggak dari mana – mana, kok! Ah, mungkin karena dulu Al pernah coba naik bus TJ, jadi sensasinya kebawa – bawa di ff ini~ :3 *dasarudikluAl!*
.
.
Buat Avs1105; thanks a lot buat kamu yang pembaca baru tapi suka sama ff Al! *ketjup* *dor!* pujianmu buat Al melayang, lho... dan kritikmu juga cukup buat Al ngerespon 'apa?! Jadi.. kamu..?!' *jeng!jeng!* XD
Terus soal Chanbaek dan Kaisoo yang fellsnya kurang, Al memang sengaja. Kalau kamu sadar, kamu pasti berpikir gini; 'Sulay sama Kaisoo ngenes banget pedekatenya; Chenmin sama Chanbaek miris amat ya?; Hunhan sama Kristao kurang peka! Padahal semenya ngerespon tapi ukenya nggak tahu! Payah!'; gitu nggak? :3
Nah, itu dia maksud Al. Jadi nggak semua usaha para uke itu berhasil. Ada yang gagal, dan ada yang amat sangat gagal.. hahaha.. kasihan~ *dor!*
.
.
.
.
.
.
Maaf menunggu lama.., dan inilah persembahan Al untuk semuanya yang telah bersabar menunggu...
.
.
.
.
.
.
.
La Conquista y El Conquistador
.
Screenplays!official pairing of EXO and other
.
About characters is not mine, just a fic
.
Ao Alice
.
M
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Typo/ Alternative Universe!
.
No like, don't read!
.
Summary! :
Guru – Murid; Manajer – Pelayan; Pemilik hotel – Office boy; Dokter – Suster; Dosen – Asisten dosen; Direktur – Sekretaris. Kisah penaklukan keenam orang namja. Berbagai cara mereka lakukan demi menarik perhatian sang target dan mendapatkan jiwa mereka seutuhnya. Mulai dari cara biasa dan lembut, hingga cara 'luar biasa' dan 'kasar'.
Bagaimana kisah keenam namja itu..? apakah mereka berhasil menaklukannya, atau tidak…?
Apakah mereka berhasil menaklukan sang target…?
Atau justru ditaklukan oleh sang target..?
.
.
.
.
Chapter 8 [Walkin' Out (2)]
.
.
.
A/N[0] :
#backsound music : Hug – DBSK on japanese version
Tanpa banyak kata dari Al, mari langsung ke A/N[1]~~~~~
monggo~~~ wilujeng sumping~~ :3
.
.
A/N[1]:
Thanks a lot for you who always review this fiction. :3
Al nggak tahu harus ngomong apa lagi—tapi yang pasti, terima kasih banyak buat kalian yang sudah mereview dan merespon ff ini; walaupun Al merasa pesimis tiap posting chapter barunya; takut – takut gagal, nggak sesuai dengan ide cerita awal dan buat kalian kecewa.
Kalau ada yang merasa seperti itu, Al minta maaf sebesar – besarnya... *bowing* akan sebisa mungkin ff ini dirasa cocpk buat dikonsumsi oleh kalian dan dibuat berdasarkan standar awal pembuat ff ini~~~ :D
Kali ini untuk sementara, Al nggak membalas review kalian, apalagi menuliskan daftar namanya. Tapi sungguh, tiap Al kangen dengan ff ini, pasti yang paling Al baca pertama kali adalah review dari kalian yang buat Al semangat! XD
Dan... tanpa banyak persembahan lagi, langsung saja ke cerita selanjutnya~~~ *dadah*
.
.
A/N[0] dan A/N[1] the end
.
.
.
.
.
.
Xiumin mengangkat telapak tangannya. Meminta perhatian semua karibnya. "jadi, mau bagaimana, nih..? kita pergi bergerombolan atau berpencar..?"
"itu terserah kalian. Kalian yang ikut kami," Yi xing tersenyum kecil. Lalu mengambil daftar belanjaan yang Henry mama tuliskan untuknya. Tak lupa, tangan kiri lelaki manis berdimple itu menggelayut di lengan kanan adiknya. "tapi aku dan Tao mau ke pasar swalayannya dulu. Baru mungkin nanti jalan – jalan di mall ini untuk cari restoran cepat saja buat makan malam."
Baekhyun menggembungkan sebelah pipinya dan tangannya berkacak pinggang. Menimbulkan pekikkan gemas orang – orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Lalu, matanya terbuka sedikit setelah mengingat sesuatu dan dengan sekejap kepalanya menoleh kearah Kyungsoo. "Kyung, bukankah kau bilang ingin membeli sepatu dan tas baru..?"
"um." Kyungsoo mengangguk kecil. "tapi aku belum bilang ke eomma. Dan kau tidak bawa uang di dompet 'kan, hyungie..?"
"tenang saja. Aku bawa black card punya appa. Hihihhii.." dan respon Kyungsoo adalah tatapan datar tak terbaca. Yah, Baekhyun merengek memaksa appanya untuk membuatkan black card untuknya dan Kyungsoo. Untuk keperluan mendadak, dalihnya. "terserah kau saja, hyungie."
"jaa, lalu kesimpulannya kita berpencar..? eih, tunggu. Yi xing dan Tao makan malam di sini? Kalau begitu kita janjian di sini lagi, ya." Luhan merangkul pundak Xiumin. "aku juga ingin makan malam diluar. Kau juga 'kan, Xiuxiu..?"
Tao mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Baekhyun memekik kecil dan bertepuk tangan dua kali. Meminta perhatian para uke untuk menatap kearahnya.
"jadi kesimpulannya, kita akan berpencar untuk mencari kebutuhan kita, dan dua jam setengah lagi kita kumpul di sini, ok..?"
Anggukan yang dianggap jawaban itu terlihat di sepasang binar Baekhyun. Lalu setelah berbasa – basi pamit, Baekhyun menggandeng pergelangan tangan Kyungsoo dan berjalan kearah kanan. Seingat Baekhyun, tadi ia melihat plang toko penjualan tas dan sepatu yang mengarah ke lantai dua.
Yixing dan Tao melambaikan tangan kearah Xiumin dan Luhan lalu berjalan lurus untuk pergi ke pasar swalayan yang berada di ujung sudut mall tempat mereka berada. Dan tinggallah Xiumin dan Luhan berdiam manis di sana.
Bingung ingin pergi kemana. Well, mereka hanya ikut ajakan walkin' out tanpa merencakanan akan membeli apa atau pergi ke tempat mana.
Xiumin mendengus kecil. Lalu matanya menoleh ke kanan ke kiri untuk melihat kondisi mall yang ternyata mulai tampak ramai itu. Kemudian, matanya menangkap jajaran figura besar berisi daftar – daftar movie yang tayang hari ini di bioskop.
"bagaimana kalau kita nonton saja. Daripada keluyuran tidak jelas..?" saran Xiumin pada Luhan yang sedang mengecek ponselnya. Luhan mengagguk. "baru saja aku ingin bilang begitu padamu, hyung. Kulihat di website movie, ada rekomendasi movie bagus."
Dan akhirnya, kedua uke tertua itu berjalan ke kiri, tempat bioskop berada. Saling berangkulan dan mengeluarkan joke – joke yang membuat mereka tertawa gembira. Mengabaikan tatapan kagum dan gemas dari para wanita, gadis, dan pria yang berstatus seme yang melewati mereka berdua
.
.
.
.
(dan semua itu berawal dari sekarang~ ufufufufufufu~~~~~)
.
.
.
.
Setelah mengantri untuk membeli tiket film yang ingin dua uke cantik itu tonton, akhirnya Luhan dan Xiumin duduk di ruang tunggu tempat ruangan dimana film itu akan diputar berada. Duduk sambil masih membincangkan beberapa rencana mereka untuk menghabiskan waktu berapa menit sisa menonton sebelum mereka berenam berkumpul di tempat awal.
Sesekali, mereka tak sedikit menerima cubitan gemas atau pun ajakan berfoto dari para wanita yang berpapasan dengan mereka. bahkan pria berstatus seme tampan pun tak jarang juga meminta foto—bahkan ada yang mendaratkan kecupan di pipi mereka. membuat Luhan memekik syok dan Xiumin yang menjerit kesal.
Namun begitu pria seme nakal itu meminta maaf, Xiumin dan Luhan pun kembali pada dunia mereka—bergosip ria tentang teman – teman seprofesi mereka di bar tempat mereka bekerja sambilan.
"yah, begitulah, hyung! Hahaha... oh ya, ngomong – ngomong dia—"
Tiba – tiba, tubuh Luhan merinding. Pupil matanya sedikit membesar dan bergetar kalut. Tubuhnya pun bergetar kecil, dan jantungnya berdetak kencang—indikasi jika pria cantik itu tampak seperti ketakutan. Xiumin mengerutkan dahi, bibirnya sedikit mengerucut merasa heran dengan perubahan drastis ekspresi Luhan.
Refleks, Xiumin meletakkan telapak tangannya untuk mengusap peluh dingin yang terkumpul di sisi dahi Luhan. Bertepatan dengan itu, Luhan menolehkan kepala ke kanan, menatap kearah dimana ia merasakan pandangan tajam yang terasa menusuk hingga membuatnya ketakutan amat sangat.
Lalu pupil Luhan tambah melebar.
Melihat pria berparas tampan yang dikenalnya, berdiri sendiri sambil memasukkan kedua lengannya ke kantung celana denim dengan robekan di lutut. Mata setajam harimau yang sedang mengintai mangsa tampak dari balik kacamata hitam gayanya—well, bagi siapapun yang melihatnya jika mengabaikan tatapan tajam itu, tentu semua orang akan jatuh dalam pesona pria itu.
Termasuk Luhan. Tapi tidak untuk sekarang, sebab pria itu—Sehun; menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat. Menusuk. Dan itu tepat kearahnya dan Xiumin.
"Luhan..? Luhannie..?" Xiumin merasa kesal diabaikan. Dan terlampau jengkel, Xiumin menolehkan dengan paksa kepala Luhan hingga mereka saling bertatapan dengan jarak yang bisa dibilang amat dekat. Bahkan Luhan bisa merasakan terpaan nafas Xiumin di permukaan wajahnya.
"hei! Kau mengabaikanku, Luhannie sayang! Apa sih yang kau lihat—"
"—kau siapanya Luhan..?"
.
.
(Dor!)
.
.
Sebuah suara rendah yang disertai geraman tertahan terdengar di telinga semua orang yang duduk di ruang tunggu. Semua orang sontak saja menoleh ke sumber suara yang tak jauh dari jarak mereka. melihat sesosok pria tampan dengan raut wajah datar dan dingin—menatap salah satu dari mereka yang menatap Sehun—pria itu dengan tatapan bingung dan polos.
"heh..?" Xiumin yang merasa dirinya yang ditanyai seperti itu melongo. Menunjuk dirinya.
Sehun memutar bola matanya searah jarum jam. Mendesah kasar. Lalu melirik Luhan yang sedang mengkeret canggung. "tentu saja. Kau. Kau siapanya Luhan..?"
Xiumin melongo. Lalu meringis dengan ujung bibirnya berkedut – kedut. Kelopak matanya menutup sepasang iris cantik, dan dari bibir itu terdengar tawa lirih yang sulit diartikan itu sebagai tawa apaan.
Sejujurnya, Xiumin ingin sekali menjawab : 'aku sohibnya sehidup semati! Kenapa?! Masalah buatmu..?!' dengan berapi – api. Tapi begitu kulitnya merasakan sensasi dingin yang tidak bersahabat; ditambah dengan tatapan mata yang amat – sangat – tajam, membuatnya jadi mengkerut takut.
.
.
(hell, baru pertama kali ketemu saja itu cowok langsung menodong pertanyaan keramat.. apa – apaan, nih..?!)
.
.
Hening.
Hening.
Masih hening—dengan Sehun yang mengunci tatapan mata Xiumin, Luhan yang mengkeretkan diri dengan cara saling menempelkan tubuh pada Xiumin, dan orang – orang yang mulai beranjak pergi dari sekitar mereka karena takut kena damprat pria tampan berekspresi datar tersebut.
"ah.." Xiumin membuka suara. Lalu dibawanya telapak tangan ke tengkuk dengan sedikit gemetar. "se, sepertinya aku harus ke toilet sebentar—nde, Luhannie.. j, jaa.., aku ke toilet sebentar."
Dan dengan kesepakatan sepihak, Xiumin dengan mental mengkerut disertai gerakan kaku beranjak dari bangkunya. Meninggalkan Luhan yang hanya bisa berwajah melas, syok, dan menyedihkan—bibirnya yang menganga dan matanya yang bergetar penuh emosi.
Dalam hati, Luhan berjanji akan mengurung Xiumin di kamar mandi dengan lampu yang dimatikan—selama mungkin!
Apalagi, entah kenapa Luhan tidak bisa pergi dan menyusul Xiumin yang sebenarnya ingin kabur meninggalkan dirinya hanya berduaan dengan sang atasan di tempatnya bekerja. Maka dari itu, sang rusa cantik ini hanya bisa cengengesan dan meringis canggung pada Sehun yang menatap datar dirinya.
"eh.. hehe.. heheh.. ha, halo, sajangnim.."
Tidak menjawab. Sehun menatap datar Luhan yang hanya meringis kikuk; padahal di dalam hati, rusa itu bimbang apakah harus senang karena pujaan hati yang ia kejar datang padanya; atau sedih dan takut karena tatapan datar tanpa ekspresinya.
Mengkeret, hanya bisa memanggil – manggil nama ibu dan ayahnya. hahaha... ternyata rasa takut pun bisa mengalahkan rasa fanboyingan.
Kemudian, Sehun menarik tangan kanan Luhan dengan genggaman erat.
"kita pergi dari sini." Luhan membeo sebentar. "e-eeh..?!"
Membawanya keluar dari tempat itu tanpa menghiraukan bisik – bisik tetangga dari orang – orang yang berpapasan dengan mereka.
Luhan menunduk, antara malu karena kondisi tangannya yang digenggam oleh Sehun; dan takut karena Sehun tidak mengucapkan sepatah kata apapun semenjak mereka pergi. Karenanya, Luhan hanya bisa menggigit kecil bibir bawahnya dan meremas – remas jumpsuitnya dengan telapak tangan yang berkeringat. Mata rusanya melirik ke semua arah asalkan bukan ke punggung tegap Sehun yang tampak seksi terbalutkan kemeja pendek merah marun.
Terkadang, matanya menangkap tatapan nakal para gadis yang menggoda Sehun dan dirinya—yang hanya dibalas kekehan canggung Luhan dengan sesekali melirik kearah Sehun yang masih berekspresi flat. Lalu setelah itu, Luhan menghembuskan nafas kecil dan mengerucutkan pipi merahnya yang tampak menggoda untuk dilumat semua orang yang menatapnya.
Begitu pun dengan Sehun—yang mencuri lirik tanpa sepengetahuan sang rusa kecil.
"ada apa denganmu?" tanya Sehun tiba – tiba. Tangannya sedikit mengerat mengingat mereka berada di tempat yang agak ramai. Luhan terkejut, lalu menjawab seperti anak yang tertangkap basah mencuri sandal jepit di rumah sebelah.
"e, eh..? apa..?"
"ada apa denganmu," Sehun mengulang dengan sabar. Ditariknya Luhan agar sedikit mendekat padanya supaya ia bisa melindungi office boy di tempatnya bekerja dari tabrakan orang – orang. "kau jadi pendiam."
"uh.., tidak ada apa – apa—"
"—jujur."
Luhan memelas menatap lantai mall yang ditapaki oleh sepatu – sepatu. Bibir bawahnya ia gigit kembali. Menghirup nafas dengan rakus, dan membuangnya dengan sembunyi – sembunyi. Menutup mata erat – erat dan membalas pertanyaan Sehun dengan ucapan lirih.
"kau bilang... kau tidak suka mendengar ocehanku. Kau bilang seperti itu kemarin padaku, sajangnim—kalau kau masih ingat."
Sehun mengangguk kecil. Lalu melirik lagi kearah Luhan yang memperlihatkan wajah melas seperti anak rusa yang malang. Sehun memang ingat jika ia berkata seperti itu pada Luhan; namun itu karena ia sedang bekerja, jadi membutuhkan konsentrasi yang cukup. Mungkin maksudnya supaya ia mendapatkan ketenangan, tapi justru mulutnya berkata dengan nada dan kosakata yang terdengar sinis seperti itu; jadi bukan salah Luhan juga jika dia tampak seperti anak pemurung seperti ini.
"bukan begitu." Sehun membalas. "kau tahu 'kan, kalau aku butuh konsentrasi yang cukup untuk bekerja. Itu sebabnya aku berkata begitu."
Luhan berkedip. Perasaannya saja, atau memang sepasang telingan mendengar ucapan Sehun disertai nada penyesalan..?
"o, oh.. begitu. Maaf sajangnim, aku ceroboh." Balas Luhan sambil menunduk. Menyembunyikan semu merah cantiknya yang terpoles di pipi. "aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi."
"jadi, karena kita sedang diluar; kau boleh mengoceh sesukamu." Lanjut Sehun. "aku akan mendengarkan."
Luhan terperanjat perlahan. Matanya kini menatap rupa Sehun dari belakang samping kanan. Tampak tampan dengan tengkorak rahang yang terbentuk sempurna. Membuat Luhan merasa gemas dan ingin sekali bertingkah seperti fanboy autis. Tapi karena dia sedang jaim di depan Sehun dan tempat umum, maka Luhan hanya terkikik tertahan dari punggung tangannya yang ada di depan bibirnya.
"um.. kalau begitu..., sajangnim akan membawaku kemana..?"
"aku ingin pergi membeli laptop baru, dan sekalian temani aku makan malam—" Luhan terpekik kecil—kaget. Tiba – tiba ia ingat dengan janji temannya yang lain untuk berkumpul kembali di tempat awal supaya mereka bisa makan malam bersama; selain dengan ajakan tak langsung dari Sehun tentunya.
"eh..?! ta, tapi.., aku.., sa, sajangnim; aku—"
"—tenang saja. Kau akan kuantar pulang setelahnya."
Terdiam. Lalu membuka sedikit mulutnya dan membalas dengan suara berbisik. "terserah sajangnim saja, deh."
Kini, Luhan tidak lagi canggung dengan Sehun yang berjalan bersamanya. Meskipun saat itu mereka tidak lagi membicarakan apapun. Luhan menoleh ke kiri, melihat pajangan – pajangan toko dan orang – orang yang sedang melakukan tawar menawar atau sekedar mampir ke dalam toko. Langkah kakinya tidak lagi terasa berat—justru terasa sangat ringan sampai – sampai ia seperti sedang melayang.
Dadanya berdegup kencang; tapi bukan indikasi jika ia sedang ketakutan. Belum lagi bibirnya yang melengkung ke bawah—tersenyum manis dengan rona pipi alami yang justru mempercantik dirinya yang tampak seperti manekin hidup. Luhan menyukai sensasi jantungnya berdegup kencang, pipinya yang terasa panas, dan paru – parunya yang ringan ketika menghirup oksigen. Apalagi melihat kondisi dirinya sekarang yang sedang digandeng oleh Sehun—untuk yang kesekian kalian gandengan itu tambah erat.
Membuatnya berpikir sederhana yang terdengar manis—
—dirinya yang seolah sedang berkencan dengan Sehun. Dengan telapak tangan yang bertautan dan irama langkah kaki yang terlihat senada.
Luhan, kau beruntung sekali.
.
.
.
.
Xiumin mengintip di balik dinding pintu luar kamar mandi bioskop. Matanya memicing tajam untk menangkap dua lelaki berbeda usia yang cukup jauh jaraknya. Pipi kanannya menggembung dan mulut kissablenya mengerucut.
Mengabaikan bau khas toilet lelaki dan tatapan heran dan aneh dari orang yang berlalu lalang; well, siapa sih yang tidak bingung dan merasa aneh jika kau menemukan sesosok lelaki bertampang imut sedang mengintip dari balik kusen dinding kamar mandi..?
Mengetahui bahwa sobat karibnya telah dibawa pergi paksa, Xiumin menggerum kesal. Pasalnya, tiket yang ia beli menggunakan uangnya jadi terbuang sia – sia (kecuali jika ia bersedia untuk menontonnya sendiri; tapi masalahnya Xiumin benci jika harus menonton bioskop sendirian!).
Kalau sudah begini 'kan, mau nggak mau Xiumin harus merelakan uangnya untuk membeli tiket untuk film yang tak ia tonton. Huh! ingatkan nanti untuk menagih setengah harga tiket kepada rusa genit itu!
"hah..., ngomong – ngomong, siapa sih pria yang menodongku dengan pertanyaan keramat itu, hah..?" Xiumin keluar dari persembunyiannya sambil mendumel kecil. Berkacak pinggang dan berjalan kearah pintu keluar bioskop.
Ditelinganya terdengar pekikan gemas dari para wanita dan gumaman menggoda dari pria seme. Tapi lelaki berparas imut dengan mata sipit khas orang oriental itu mengabaikannya, jual mahal untuk saat – saat ini.
Mengeratkan kepalan tangannya yang bergetar dan giginya bergemeletukkan kesal. "jangan bilang kalau pria berkulit seperti mayat itu menuduhku kalau aku adalah pacar dari si rusa genit itu..?!"
"ih!" pekiknya sebal. "enak saja aku disangka pacar tuh mahkluk absurd..! kurang ajar! aku tidak terima—"
—BUGH!—
"—AARRGGHH! AW!"
Terlonjak, lalu Xiumin membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapa yang berteriak kesakitan di belakangnya. Sepasang mata sipitnya yang bening dan berkilau mencoba mencari tahu siapa pria yang sedikit menundukan kepala dan agak membungkukkan tubuhnya. Telapak tangan Xiumin yang baru saja memakan korban jiwa karena gerakan sembarang tangannya menepuk pundaknya.
"anoo.." bisik Xiumin takut – takut. "apa kau baik – baik saja—"
"—ya, baik – baik saja kalau tanganmu itu aku borgol, Xiumin!" pria itu menegakkan tubuhnya, lalu menunjuk kasar hidungnya yang sedang berdenyut – denyut nyeri. "kalau hidungku jadi pesek; kau yang harus tanggung jawab untuk biaya operasiku, tahu!"
"MYUNGSOOOOOO...!? KYAHAHAHAHA..! AKHIRNYA AKU TIDAK LAGI JALAN – JALAN SENDIRIAN SEPERTI ORANG GILA..! THANKS A LOT GOD!" Refleks, Xiumin bergelantungan manja di pundak Myungsoo dan dengan kekuatan penuh ia menepuk pundak ppria tinggi dihadapannya. "eh tapi, hidungmu 'kan sudah pesek. (._.)"
Dan Myungsoo dengan wajah sangarnya berhasrat untuk mencekik pria imut di hadapannya dengan raut wajah (sok) tidak bersalah. Menghembuskan nafas perlahan sebanyak dua kali, lalu dengan salah satu telapak tangan dimasukkan, pria yang merupakan asisten dokter bedah itu bertanya dengan nada ogah – ogahan.
"sedang apa mahkluk abstrak sepertimu di sini..?"
"hahaha.. Myung~ kau mau kucium karena memanggilku dengan SANGAT kurang ajarnya..?" tawar Xiumin sambil tersenyum kecil dengan pipi yang dibuat merona. "bagimana..? ini tawaran langka, lho~"
Myungsoo bergidik—bukan karena tawaran Xiumin tidak menggiurkan; well, siapa sih yang tidak mau kecupan basah dari salah satu suster pria imut di rumah sakit tempat mereka bekerja?—karena ia masih ingat dengan bagaimana rupa Sungyeol jika murka dengannya.
Bagi para seme, jika ukenya sudah 'macam-macam' dalam arti negatif; maka ancamannya adalah keselamatan dan kesehatan 'adik kecil' mereka. Tak diberi asupan nutrisi itu sangat melelahkan dan terasa tidak bergairah untuk melakukan aktivitas, sobat.
.
.
(survei dibuktikan oleh pengakuan seme – seme yang dijadikan narasumber terpercaya.)
.
.
"daripada itu, apa yang kau lakukan sendirian dengan dandanan sekeren itu?" mata Xiumin memicing. Lalu dengan gerak perlahan dari bawah hingga keatas, mencoba meneliti dandanan Myungsoo yang terlihat lebih tampan dan keren.
Well, dengan kemeja denim berwarna biru muda dengan bagian lengannya digulung ke siku. Dipadukan dengan kemeja polos berwarna abu – abu agak gelap dan celana denim panjang berwarna hitam. Sepatu sneakers hitam strip merah menghiasi kakinya, bersama dengan kalung dog tag dan topi yang dipakai ala anak rapper.
Woah.. Xiumin nyaris saja terpana; bertekuk lutut karena terpesona dengan sosok lain dari Kim Myungsoo—jika tidak ingat dengan senyum rupawan nan mematikan milik Kim Jongdae; dokter tampanNYA.
.
.
(belum juga menjadi milikmu; jangan seenaknya memberi label kalau dokter tampan itu adalah milikmu, Xiumin..(=_=))
.
.
"aku? Aku ada night date dengan Sungyeol hyung, hei kau mahkluk abstrak—"
—PLAK!—
"—panggil aku dengan namaku, sialan." Sebuah tampukan di kepala belakang pada Myungsoo. Membuat si empunya kepala meringis dan mengusap bekas tampukan yang bisa dibilang cukup keras. "Aku punya nama! Kau ini!"
Secara tiba – tiba, Myungsoo mengapit pipi tembam Xiumin hingga membuat bibir kissable Xiumin yang semula mengumpat kasar menjadi manyun. Jarak wajah mereka cukup dekat dan terlihat intim (bahkan terdengar pekikan tertahan yang nadanya mengacu ke nada bahagia dan excited); dengan deru nafas masing – masing mengenai wajah sang lawan pandang.
Mata Xiumin membulat; terkesiap dengan ulah tiba – tiba teman tempatnya bekerja. Berbeda dengan Myungsoo yang hanya menatap jengah dan biasa wajah Xiumin yang berubah menjadi memerah; dalam hati pria itu tertawa evil karena sudah berhasil mengerjai pria imut dihadapannya hingga merona hebat.
"jangan berteriak dihadapanku, atau aku akan cium basah dirimu, hm.." jahil Myungsoo dengan seringai lebar. Xiumin melongo dengan ekspresi panik, lalu meronta dan mencoba melepaskan kempitan pipinya yang semakin mengerat.
"Myungsoo sialan! Lepaskan aku! Malu ih! lihat! jadi perhatian orang – orang!—"
"—Myungsoo, Xiumin..., kalian akrab sekali, ya. kalian bersaudara..?—"
"—HUUWWAAAA...?!"
Refleks, pria yang pipinya tampak seperti bakpau menurut Luhan itu mendorong bahu Myungsoo; yang kemudian disusul dengan lepasan kempitan pipi dengan senang hati. Dua pasang mata dengan ekspresi kejut yang sama menoleh ke kanan, tempat di mana beberapa langkah kaki jauhnya jarak mereka dan pria yang membuat mereka terkejut berada.
Berkedip untuk menstabilkan kejutan, lalu ekspresi berbeda mereka tampakkan pada salah satu pria yang berada di depan mereka; dengan satu wanita mungil yang menggelayut manja di lengan pria itu.
"Dokter Kim..?!" kejut mereka bersamaan.
Yang dipanggil demikian meringis ramah, mengangkat satu tangannya untuk menyapa dan langsung menghampiri dua pria dengan wajah imut dan tampan yang ia kenal. Tak lupa, gadis berambut ikal berwarna pirang dengan bandana polkadot di rambutnya juga ikut mengekor gerak si Dokter Kim.
"hai," dokter Kim; atau Chen menepuk pundak Myungsoo. "sedang apa kalian di sini? Dari jauh, aku lihat kehebohan yang ternyata itu adalah ulah kalian. Hahaha...!"
"ah.." Myungsoo dan Xiumin saling lirik. Lalu tertawa memaksa. "hahaha.. haha.."
"ngomong – ngomong," si gadis ganjen (di mata Xiumin; dan aku menyetujuinya!) menatap geli kearah Myungsoo dan Xiumin. "tadi kalian intim sekali, ya.. hehe.. kalian pasangan yang pas dan mesra ternyata. Eh! Kalian juga berani!" terdengar tepuk tangan manja mengalun di tiga pasang telinga.
Xiumin yang mendengarnya tentu telinganya memanas. Dalam hati, ia hanya bisa mengumpat kata – kata kasar juga makian yang dituju pada gadis mungil berpakaian mini dan berani. Tapi pada nyatanya, ia hanya bisa mengekspresikan kaget lalu disusul dengan tawa kecil melirih.
"kami..? pasangan..? tidak mungkin. Dia tidak cocok bersanding denganku! Hahaha..! lagipula dia," Xiumin menunjuk Myungsoo yang menatap sadis kearahnya. "sudah bertunangan yang bahkan tunangannya lebih pantas bersanding dengannya. Ne, Myungsoo..?"
"ne." Myungsoo menghembuskan nafas kecil. Menahan gejolak aneh hanya karena mendengar jika dia dikira pasangan bersama Xiumin; si cerewet namun seksi itu. Wew, memikirkannya saja sudah membuatnya panas dingin.
"eih? berarti orang ini," wanita itu dengan polosnya menunjuk Myungsoo. "sedang kencan dengan selingkuhannya, dong!"
"DENGAR YA, NOONA!" Habis sudah kesabaran Myungsoo mendengar ucapan tajam tersirat dari wanita itu. Pria itu berteriak dan menunjuk wajah sang wanita yang tampak kaget.
"AKU SUDAH PUNYA TUNANGAN YANG CUKUP BUATKU! KAMI HANYA BERSAHABAT! DARIPADA KAU; KUYAKIN KAU PUNYA BANYAK SELINGKUHAN DI TIKUNGAN MANAPUN! CIH!"
Chen, Xiumin dan beberapa orang lainnya yang mendengar amukan Myungsoo terkejut. Lalu disusul dengan lirihan isak tangis yang berasal dari wanita yang menjadi bulan – bulannan Myungsoo.
Desas – desus yang menyudutkan Myungsoo maupun gadis itu mulai terdengar. Tapi Myungsoo tidak peduli. Ia hanya menstabilkan nafas, lalu membungkuk sedikit kepada Chen dan kemudian menarik Xiumin pergi dari sana.
Di pihak Xiumin, sebenarya ia kesal karena teriakan dan ucapan hinaan Myungsoo membuat mereka menjadi perhatian orang – orang. Tapi bukan berarti ia merasa simpatik pada wanita itu, karena dalam hatinya, ia membenarkan ucapan Myungsoo. dan kemudian, sisi evilnya tertawa puas untuk menghina wanita itu.
.
.
(dasar evil kau, Xiu.. (=,=) )
.
.
"maaf, teriakanku membuat kita jadi pusat perhatian tadi." Myungsoo melepaskan gandengannya. Xiumin menggeleng dan tersenyum kecil. "tak masalah. Kau tidak suka dengan wanita seperti 'itu' `kan..? dan aku juga. Well, sejujurnya aku merasa terbantu dengan ucapan sarkastismu itu..! hihihi.."
Myungsoo tersenyum kecil. Lalu kedua telapak tangannya ia gunakan untuk mencubit gemas pipi gembul Xiumin. Membuat si empunya memekik tertahan—yang kemudian diredam oleh suara ponsel Myungsoo.
Membuka pesan itu dan membacanya, lalu tersenyum lembut sambil menatap layar ponsel yang menampilkan ketikan data yang akan ia kirim ke pengirim pesannya. Xiumin yang melihat itu hanya bisa berkedip lalu terkekeh kecil. Sambil mengusap – usap kedua pipinya, ia mencoba mengintip apa yang dilakukan oleh ponsel itu hingga sahabatnya yang semula terihat angkuh dan dingin menjadi penuh ekspresi hangat di wajahnya.
"dari Sungyeol, eoh..?"
Myungsoo mengangguk. "dia bilang jika dia sudah di tempan janjian, Xiu." lalu menatap Xiumin yang berkedip polos. "lalu tunggu apa lagi? cepat temui dia, jangan sampai acara date kalian gagal hanya karena kau masih memikirkan omongan wanita itu!"
"bukan itu.." Myungsoo bergumam dengan wajah jengah. "kalau aku pergi, kau bagaimana? aku takut kalau kau diculik dan orang – orang bilang itu semua salahku karena aku meninggalkanmu sendirian disini. Aku adalah orang terakhir yang melihatmu!" mendengar itu, Xiumin mencibir. "tenang saja. Aku akan menelpon Baekhyun dan akan menyusulnya ke tempat dia berada."
"kau yakin..?"sangsi Myungsoo. Xiumin mengangguk sambil membuka ponsel flip-flapnya. "ne. aku akan menelfon anak itu. cepatlah pergi; jangan buat Sungyeol lama menunggu! hush! hush!"
Decakan sebal keluar dari bibir Myungsoo. lalu setelah memberikan jitakan 'sayang' pada Xiumin, pria itu pergi dengan gerak lari yang sedikit tergopoh – gopoh. Dari jauh, Xiumin trsenyum dan berkacak pinggang. Setelahnya, ia menggelengkan kepala sambil berbisik mengomentari sikap sahabatnya.
Mencari kontak nomor Baekhyun. Menekan tombol dial up, dan ditempelkannya ponsel itu ke telinga. terdengar nada sambung di sana, Xiumin menunggu sambil menatap ke bawah, menatap sepatunya yang begerak – gerak kecil.
Namun semakin lama, ada sebuah bayangan gelap yang membuat penglihatannya meredup. Mendongak. Terkejut hingga responnya hanya bisa menganga kecil dan berkedip manis.
"Dokter Kim..?!"
"kau sendiri.. hh.. hh.. di sini?" Chen menghirup oksigen karena ia berlari untuk menemukan Myungsoo dan Chen. Tapi hanya ada Xiumin di hadapannya. "kemana Myungsoo..?"
"eoh..? di pergi ke tempat tunangannya janjian, Dokter Kim—"
"—panggil aku Chen hyung. kita tidak di kondisi formal, 'kan..?" Chen terkekeh ringan. Xumin terpesona sekejap, lalu tersenyum kecil dan mengangguk. "ne, C—Chen hyung.."
"ok, sayang sekali, ya. padahal aku mau minta maaf soal ucapan Marin pada Myungsoo tadi." Mengerutkan kening, Xiumin bertanya. "Marin..?" Chen mengangguk. "Marin itu wanita yang menuduh Myungsoo selingkuh denganmu tadi, Xiu."
uh.
Mendengar Chen menyebut frontal nama wanita itu saja membuat mood Xiumin merosot drastic. Menatap Chen dengan senyum yang sedikit memaksa. "oh." Chen berkedip bingung. Entah kenapa nada bicara Xiumin tadi terdeengar tidak menyenagkan.
"pergi, yuk!" ajak Chen dengan wajah ramah. tangannya terjulur ke depan. "mau.. ke mana..?" Xiumin terkejut begitu tangan Chen menarik lengannya, menyuruhnya tanpa ucapan untuk melingkarkan lengannya ke lengan Chen.
Xiumin merona kecil dan gugup. Menatap bingung wajah Chen yang justru tersenyum kecil. "h, hyung...? ta, tapi bukannya kau dan Marin sedang ber-ber-ber.." uh, menyebut kata 'berkencan' saja susah amit!
"berkencan..?" Xiumin mengangguk polos.
Ia tidak sadar, jika ternyata mereka sudah meninggalkan tempat dimana mereka bertemu tadi. Bahkan tidak sadar jika kedua lengannya meliingkar apik d lengan sang dokter muda berbakat pujaan hatinya. Chen yang mendapat anggukan itu terkikik. "tidak. Dia teman SMAku. tadi rencananya aku akan datang ke acara reunian; tapi sejak kejadian antara Marin dan Myungsoo tadi, moodku jadi turun."
Chen bercerita dengan tatapan mata yang seperti mengingat – ingat kejadian heboh sebelumnya. Xiumin mengangguk dengan mulut membentuk huruf o. "jadi, yah.. setelah aku mengantar dan memarahi Marin di tempat acara reunian, aku pergi mencari kalian untuk meminta maaf pada Myungsoo." Chen melirik sambil tersenyum ramah.
"tapi aku hanya menemukanmu yang sendirian. seperti anak hilang.. hahaha.." menggembungkan pipinya sebal, lalu memukul kecil pundak Chen. "jahatnya. Oh ya, hyung; kalau hyung tidak ikut reunian, hyung mau ke mana...?"
"kau mau pergi ke mana memangnya?" Xiumin terdiam. sambil melihat – lihat sekitar, Chen melanjutkan. "aku ikut ke mana pun kau pergi. well, setidaknya, aku dan kau tidak walkin' out sendirian di mall ini."
Xiumin tersenyum manis. lalu terkikik di balik punggung tangannya untuk menyamarkan ekspresi bahwa ia sedang senang sekali. Di dalam perutnya ada sesuatu yang membuatnya tergelitik, begitu pula dengan hatinya yang berdegup kencang.
Langkah kakinya yang semula bergerak bingung, menjadi bergerak riang dan santai. Seperti ia sedang berjaan diatas gumpalan awan bersama pujaan hatinya tercinta. Melirik kearah Chen yang sedang melihat – lihat sesuatu dari ponsel pintarnya, kemudian ia alihkan ke kanan untuk melihat – lihat pajangan – pajangan manis untuk dijual.
"hyung mau pergi ke mana, aku ikut saja."
"bagaimana kalau ke pameran otomotif di lantai tiga..? setelah itu kita ke restoran cepat saji untuk makan malam."
Sungguh, mungkin Xiumin harus meminta tolong kepada pria yang bersama Luhan karena telah menggagalkan rencana ia dengan Luan untuk menonton bioskop. Dan ia juga tak lupa untuk berterima kasih ada Myungsoo atas ucapan sarkastis pada teman reunian Chen, hingga Chen meninggalkan acara reunian dan justru kini sedang berjalan bersama dengannya.
Dengan tangan dirinya yang melingkar manis di lengan Chen yang ditutupi blazer abu – abu semi formal,
Juga dengan sensasi yang membuatnya ingin sekali berteriak jika 'adakah hari teraik lain dari semua hari terbaiknya seelan dia yang sedang berjalan berdua dengan target hatinya..?'—untuk memberi tahu kepada dunia, bahwa ia sedang dalam mood hati yang amat menggembirakan dan menyenangkan.
.
.
(Untuk Luhan dan Xiumin..., selamat 'walkin' out' berdua dengan target kalian~)
.
.
(Dan selanjutnya, siapa lagi, yaaaa~~~? :3)
.
.
[To Be Continue]
.
